Cinderella Man (2005)


Film ini cocok untuk memperkaya batin. Bukan jenis film untuk hiburan ala Die Hard, Independence Day, Indiana Jones, dsb. Film ini lebih pada bagaimana seorang lelaki melakukan segala hal yang bisa ia lakukan, dari bekerja keras sebagai kuli, bertinju hingga meremukkan tulang-tulangnya, bahkan mengemis! Hingga akhirnya dia bisa bangkit dari keterpurukan, dan bisa membeli pabrik di mana ia bekerja sebagai kuli.

Sangat menyentuh hati.

Ringkasan dikutip dari imdb.com :

During the Great Depression, a common-man hero, James J. Braddock–a.k.a. the Cinderella Man–was to become one of the most surprising sports legends in history. By the early 1930s, the impoverished ex-prizefighter was seemingly as broken-down, beaten-up and out-of-luck as much of the rest of the American populace who had hit rock bottom. His career appeared to be finished, he was unable to pay the bills, the only thing that mattered to him–his family–was in danger, and he was even forced to go on Public Relief. But deep inside, Jim Braddock never relinquished his determination. Driven by love, honor and an incredible dose of grit, he willed an impossible dream to come true. In a last-chance bid to help his family, Braddock returned to the ring. No one thought he had a shot. However Braddock, fueled by something beyond mere competition, kept winning. Suddenly, the ordinary working man became the mythic athlete. Carrying the hopes and dreams of the disenfranchised on his shoulders, Braddock rocketed through the ranks, until this underdog chose to do the unthinkable: take on the heavyweight champ of the world, the unstoppable Max Baer, renowned for having killed two men in the ring.

Summary written by Sujit R. Varma

Advertisement

Fact-based story of depression era boxing champ James J. Braddock (Russell Crowe). The film opens with Braddock winning a fight in 1928 and becoming a contender for a championship bout. The film then quickly jumps five years into the future. The depression is on and Braddock has had a series of defeats. Fighting injured, including with a broken hand, made him less of a fighter. Braddock, like many others in that era, lost everything in the stock market and scrimping by on the small fights he can get and on dock work. His wife (Renee Zellweger) would prefer he quit boxing, but knows how badly they need the money to get by with their three kids. Watering down milk just to make it do for several more days is a common occurrence. When his trainer (Paul Giamatti) manages to get him one more fight on the spur of the moment against the current #2 contender, Braddock rises to the occasion and knocks him out. His amazing comeback becomes the source of inspiration of many down-on-their-luck Americans. A series of fights later leads to the championship match against the arrogant champ, Max Baer (Craif Bierko). Baer, who had already killed two men in the ring, urges the older Braddock not to fight him. Of course, Braddock feels he has nothing more to lose and very devastating, intense fight ensues.

Contains very brutal boxing violence.


Gambar dari http://images.killermovies.com/c/cinderellaman/gallery/poster.jpg.

6 comments
div.itemactions a, div.ritemactions div.addthis_toolbox a { text-decoration: none !important; border: 0 !important; -moz-box-shadow: none !important; -webkit-box-shadow: none !important; box-shadow: none !important;; padding: 0px !important; background: none !important; }

ReviewReviewReviewReview Pelatihan Sholat Khusyu’ – Sholat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam Oct 7, ’05 3:50 AM
for everyone

Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Abu Sangkan
Buku ini ditulis oleh Abu Sangkan yang berisi langkah-langkah praktis untuk menemukan relaksasi dan meningkatkan kebahagiaan pembacanya.

Pada mulanya melihat buku ini, ada sedikit perasaan skeptis, wah buku apalagi ini? Cuma cari sensasi? Sholat khusyu’ kok pakai “juklak” segala. Tapi setelah membacanya, saya lebih menikmati sholat yang saya lakukan. Padahal apa yang dibaca dari buku ini, sebagian besar telah kita ketahui, namun anehnya, tidak kita praktekkan, sehingga saya sering mengalami “sholat dengan refleks”, sholat yang tiba-tiba kok selesai. Zikirnya juga zikir refleks. Terus terang, mencoba menikmati sholat dan zikir, pernah saya coba, dan tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang ditulis Abu Sangkan. Namun, ketika membaca buku ini, upaya untuk mendapatkan kekhusyukkan diberi dasar ayat Quran dan Hadis, sehingga lebih memantapkan hati kita untuk mencari sholat yang khusyu’.

Abu Sangkan menegaskan bahwa buku tersebut tidak menceritakan tentang bagaimana melakukan sholat yang khusyu’, karena sulit untuk mengukur derajat sholat yang demikian seperti sulitnya mengukur rasa cinta kepada seseorang. Ia mengatakan, sholat khusyu’ tidak diciptakan, tetapi didapatkan.

Hal utama yang ingin disampaikan Abu Sangkan adalah banyak umat Islam yang menjalani sholat tanpa menyadari bahwa ia benar-benar sedang berdialog dengan Tuhannya. Sholat hanyalah sesuatu yang dilakukan secara rutinitas, yang kalau ditinggalkan nerakalah balasannya. Padahal sholat lebih daripada itu, bisa kita jadikan sebuah sarana dialog batin antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tanpa adanya kesadaran secara total bahwa ketika kita sholat adalah berdialog dengan Sang Pencipta, maka dari prosesi wudhu hingga pelaksaan sholat, ritual itu akan sangat kering dan tidak membekas dalam akhlak pelaku sholat. Banyak ditemukan orang yang lalai akan sholatnya, yang sholatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.

Memahami makna bacaan sholat, bertuma’ninah dalam melakukan gerakan sholat, memahami sepenuhnya bahwa kita sedang berdialog dengan Allah SWT, meniatkan untuk menjalankan sholat yang khusyu’, meniatkan sholatnya hanya untuk Allah semata, insya Allah mendekatkan kita untuk mendapatkan sholat yang khusyu’.

Khusyu’ tidaknya sholat kita, hanya Allah sajalah yang dapat menilainya. Kita sebagai manusia hanya bisa menyem
purnakan ikhtiar. Buku ini, insya Allah, adalah satu langkah dari banyak langkah dalam upaya kita menyempurnakan ikhtiar kita agar kita mendapatkan sholat yang khusyu’.

Diterbitkan oleh wisnuwidiarta

Hi, my name is Wisnu Widiarta. I am a movie lover and love traveling especially camping and doing outdoor activities. Coding and problem solving in general are things I love as well.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.