Kembalinya Mas Parman



Dia bukan penduduk asli kampung ini. Ketika berumur hampir setahun, orang tuanya mengalami kecelakaan di tikungan, dekat balai desa. Ayah dan ibunya meninggal seketika, dan dimakamkan di TPU, satu setengah kilometer dari rumahku. Akhirnya Pak Parto dan istrinya, sepasang petani yang sudah tua dan tidak memiliki anak, memutuskan untuk memungutnya dan memberinya nama Suparman.

Kata teman-teman Mas Parman, dari kecil ia gemar menolong orang di kampung. Hampir semua warga mengenal kebaikan budinya. Mbok Inah yang setiap hari menjual kayu bakar, pernah jatuh sakit sehingga tak dapat menjualnya di pasar. Diam-diam Mas Parman mengumpulkan kayu dekat hutan jati dekat rumahnya, lalu ia jual di pasar. Uangnya dikumpulkan untuk membeli makanan Mbok Inah selama sakit. Pak Gempol pernah ditolong ketika ia memperbaiki rumahnya yang rusak. Mas Parman ikut bergotong-royong bersama teman-temannya membawa genteng, mengangkut pasir, hingga melapisi tembok dengan kapur bercampur air. Ia tak pernah mengeluh. Baginya, menolong orang selalu membuat hatinya bahagia. Ketulusan hatinya terpancar dari wajah dan tutur katanya yang bersinar bagai mentari di pagi hari. Semua orang di sekitarnya selalu merasa tentram, bagaikan embun yang mengisi rongga hati di padang yang tandus. Itulah Mas Parman, lelaki yang kupuja sekaligus kubenci dan akhirnya kubunuh ia pelan-pelan dalam hati.

Aku mengenalnya lima tahun yang lalu. Wajahnya yang tampan, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang mancung membuatku selalu merindukannya. Setelah lulus dari sebuah
perguruan tinggi negeri melalui UMPTN, Mas Parman sebagai seorang sarjana elektro, tak mau tinggal di kota. Ia kembali ke kampung ini, kampung yang telah membesarkannya. Tempat ia menghabiskan senjanya dengan meniup seruling di atas punggung kerbau ayah angkatnya. Tempat ia berenang bersama teman-temannya selepas pulang dari sekolah. Tempat ia melepaskan segala beban hidupnya, dengan merenung sambil memandangi bukit di belakang rumahnya.

Ketika listrik menjadi semakin mahal dan banyak warga yang tak mampu membayarnya, Mas Parman merancang sebuah alat untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan aliran sungai yang mengalir dari bukit. Dengan uang tabungannya dan dibantu oleh warga setempat secara bergotong-royong, 100 lebih rumah telah mendapat penerangan yang cukup memadai. Tiba-tiba kuteringat saat
pertama kali aku mengenalnya.

Sore itu, di balai desa, ada permainan simulasi P4. Waktu itu Pancasila masih diyakini oleh sebagian besar warga desa sebagai dasar negara yang terpatri dalam dada. Pak Lurah dan Pak Camat sering mendengung-dengungkan tentang P4,
terutama menjelang 1 Juni setiap tahunnya. Saat ini sebenarnya masih banyak yang yakin bahwa Pancasila merupakan kontrak batin seluruh warga Indonesia untuk meluhurkan nurani dan kemanusiaannya, agar menjadi insan
kamil yang dapat menjaga alam ini dengan baik. Namun lambat laun, seiring dengan lunturnya keteladanan para pemimpin, luntur pulalah kepercayaan itu. Mereka yang sering berteriak butir-butir Pancasila, merekalah yang justru sering memakan uang rakyat. Merekalah yang mementingkan pribadi daripada golongan. Merekalah yang mendahulukan kekuasaan daripada musyawarah untuk mufakat. Ah, sudahlah. Tak akan habis bicara masalah politik dan sejenisnya. Biarlah kukatakan pada kalian semua, saat pertama dalam hidupku yang paling indah, ketika berjumpa dengan Mas Parman.

Mas Parman, aku, Siti, dan Mas Paijo dipilih sore itu oleh Ibu Ketua Dharmawanita untuk bermain simulasi P4. Permainannya mirip permainan monopoli, ada kartu yang bisa diambil pada kolom tertentu. Di dalamnya banyak terdapat soal-soal sosial yang harus dijawab oleh pemain yang kebetulan bidaknya jatuh pada kotak untuk mengambil sebuah kartu. Terkadang isinya perintah untuk
menyanyi dan berjoget mengikuti alunan musik dangdut dari tape yang telah disediakan. Inti permainan ini adalah, warga diberi masukan nilai-nilai luhur dalam bermasyarakat sambil dihibur. Mas Parman begitu antusias mengikuti permainan itu. Hal yang paling indah adalah ketika ia harus manyanyikan lagu Kemesraan dengan diiringi permainan gitarnya yang handal. Suaranya lembut, namun menggetarkan hati semua yang mendengarnya. Malam itu, aku terbayang-bayang akan wajahnya, dan tidurku kuwarnai dengan senyum tersungging di pipi.

Semenjak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Apalagi pertemuan pemuda Karang Taruna rutin diadakan tiap sabtu sore. Kami selalu memikirkan program untuk memajukan kampung kami. Dari pemberantasan buta aksara hingga memberikan penyuluhan tentang pentingnya sanitasi dan penggunaan MCK. Biasanya, setelah pertemuan, kami berdua makan bakso di dekat rumah Pak Jarwo, yang terkenal sangat enak itu. Mungkin kedekatan kami karena kami berdua memiliki banyak kesamaan dan hobi, terutama membaca buku-buku ilmu pengetahuan. Salah satu buku Mas Parman masih kusimpan dalam lemari. Katanya, sebagai hadiah untukku. Kebahagiaan selalu kurasakan, hingga datang hari yang tak pernah kusangka-sangka itu.

Mas Parman menghilang begitu saja. Lenyap. Seperti ditelan bumi. Tak ada surat. Tak ada ucapan selamat tinggal. Ibu angkatnya tak dapat menjelaskan ke mana Mas Parman pergi. Setelah Pak Parto meninggal tahun lalu karena sakit, Mas Parman tampak tak seriang sebelumnya. Aku tak tahu apakah kepergiannya ada hubungannya dengan meninggalnya ayah angkatnya. Yang jelas, hari demi hari, aku merasa disakiti. Setelah semua kebahagiaan dan kebersamaan yang selama ini kami bagi, kini ia pergi dengan menorehkan luka di hati. Mungkin ia kawin dengan gadis lain, teman sekuliahnya dulu. Mungkin ia mendapat tawaran pekerjaan yang bagus di kota. Mungkin ia … ah jutaan mungkin telah coba kupikirkan. Apa sih susahnya mengucapkan selamat tinggal? Setidaknya itu membuatku jelas dan tenang. Kenapa ia biarkan hubungan kami menggantung seperti ini? Bukankah tindakan ini begitu
pengecut? Seperti seorang lelaki yang tak bernyali sama sekali? Hari ini setahun yang lalu, tepat di tahun ke lima kepergiannya, ia telah mati. Kubunuh Mas Parman pelan-pelan dari otakku, hingga ia meregang nyawa, tak lagi kuberi tempat di hati. Aku sendiri kini telah menikah dengan Mas Budi, teman SMAku dulu. Oh ya, seorang anak lelaki lahir empat tahun yang lalu dari rahimku. Kuberi ia nama Widi.

Pagi itu, aku berangkat ke kantorku, sebuah LSM yang bergerak di bidang kesejahteraan masyarakat. Salah satu programnya adalah memerangi tengkulak dan rentenir. Aku harus memberikan penyuluhan di desa seberang. Perjalanan ke sana harus melewati sebuah sungai yang cukup lebar. Jembatan kayu satu-satunya yang menghubungkan kedua desa, telah hancur dimakan umur. Pemerintah daerah kabupaten belum mengucurkan dana untuk memperbaikinya. Satu-satunya cara untuk menyeberang adalah dengan jasa perahu. Pak Kirtolah yang menyeberangkan perahu getek itu, dengan tali yang terhubung pada dua tiang bambu yang dipasang di kedua sisi sungai. Seribu rupiah sekali menyeberang ongkosnya.

Perahu mulai bergerak ke tengah, ketika kurasakan ada yang tidak beres. Sebuah guncangan yang cukup kuat kurasakan dari arah sebelah kiri. Rupanya sebuah batang kayu besar yang hanyut menabrak sisi perahu getek yang kami tumpangi. Aku dan Pak Kirto terpental, masuk ke dalam sungai. Kucob
a meraih sisi getek namun arus air cukup kuat. Seseorang tampak berteriak di sisi seberang
sungai dan rupanya ia melompat ke arah kami. Air memasuki rongga mulutku. Kepalaku pening, dan aku tak sadarkan diri.

Aku memuntahkan cukup banyak air dari mulutku. Seorang lelaki berusaha menekan perutku dan memberikan pernafasan bantuan kepadaku. Ketika kulihat wajahnya, kulihat wajah Mas Parman! Aku pun pingsan kembali.

“Kamu sudah baikan, Lastri?”, tanya Mas Parman.

Aku hanya terdiam, memandangi wajah dan rambutnya yang basah karena melompat ke dalam sungai untuk menyelamatkanku. Beribu perasaan berkecamuk dalam hatiku saat itu. Benci, rindu, marah, bahagia, dan kesal bercampur aduk jadi satu.

“Ya, Mas. Sudah mendingan”, jawabku pelan.

“Cobalah minum teh ini. Mungkin bisa menghangatkan badanmu.”, kata Mas Parman sambil menyodorkan segelas teh manis hangat.

Aku mencoba meminumnya perlahan, dan kurasakan kehangatan mengalir melalui kerongkongan hingga lambungku.

“Mas dari mana?”, tanyaku perlahan.

“Sudahlah Lastri, panjang ceritanya. Nanti kuceritakan. Sekarang aku antar kamu pulang dulu. Pastikan kamu mengganti bajumu agar kau tak jatuh sakit”, dalih Mas Parman.

Aku langsung menurutinya. Tangannya yang kekar membimbingku dan ia mengantarku pulang dengan sepeda motornya.

Anak dan suamiku menyambut kami di depan rumah. Mas Budi kaget setengah mati melihat kami datang berdua dengan baju basah.

“Mas, perkenalkan, ini Mas Parman. Tadi aku jatuh di sungai, dan Mas
Parman yang menolong kami.”, kataku memperkenalkan Mas Parman kepada suamiku.

“Parman”.

“Budi”.

Mereka saling berkenalan satu sama lain.

Mas Parman tersenyum, dan ia melihat Widi, anak kami.

“Ini anak kalian?”, tanya Mas Parman.

“Ya, namanya Widi. Ayo Widi salam dengan Om Parman.”, kata Mas Budi sambil membimbing anak kami untuk menyalami Mas Parman.

“Waduh pintarnya… Sudah sekolah belum?”, tanya Mas Parman.

“Beyum.. Om”, jawab anakku sambil malu-malu.

“Eh.. maaf.. Kok malah ngobrol di luar. Ayo masuk Mas Parman!”, ajak suamiku.

“Err.. maaf, bukannya saya tidak ingin bertamu, namun baju saya basah, dan saya ada keperluan di balai desa. Mungkin lain kali saya akan mampir”, tolak Mas Parman.

“Lastri, Mas pamit dulu ya”, katanya sambil memandang ke arahku.

“Iya Mas, sekali lagi terima kasih”, kataku.

“Ah, lupakanlah. Siapapun akan melakukan hal yang sama..”, kata Mas Parman.

“Mas Parman, jangan merendah. Sungguh kami merasa sangat bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada Mas Parman yang telah menyelamatkan Lastri, istri saya”, potong Mas Budi.

Pagi itu, Mas Parman begitu mengejutkanku. Aku melihatnya seperti habis melihat hantu. Benar-benar tak kusangka ia akan kembali. Aku mengawasinya hingga motornya lenyap di balik tikungan. Badai memenuhi batinku.

.oOo.


Namaku Parman. Kutinggalkan kampung halamanku sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Aku tak begitu peduli kapan tepatnya. Yang kuingat, siang itu seorang lelaki datang mendatangiku.

“Maaf, apakah Anda Parman?”, tanyanya.

“Ya, benar. Maaf, Anda siapa ya?”, tanyaku keheranan.

“Saya Firman. Orang tua saya meminta saya datang untuk menyelidiki Anda.”, katanya tanpa berkedip.

“Menyelidiki saya? Untuk apa?”, tanyaku keheranan.

“Begini.. Suatu pagi Ayah saya membaca koran dan ada berita yang menyangkut berita Anda”, jelas lelaki itu.

“Maaf.. berita apa ya?”, tanyaku masih tak mengerti.

“Berita tentang listrik swadaya masyarakat desa ini. Anda disebut-sebut sebagai pelopor kegiatan ini, dan biodata Anda dijelaskan cukup panjang lebar dalam artikel itu”, katanya.

“Lalu? Ada yang bisa saya bantu?”, tanyaku lagi.

“E.. Begini. Ayah saya teringat dengan kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu, yang menimpa orang tua Anda. Beliau tidak menyangka bahwa dalam kecelakaan tersebut Anda selamat. Ia meminta saya untuk bertemu dengan Anda. Beliau meminta saya menjelaskan kepada Anda, bahwa ada saudara Ayah anda yang masih hidup. Mungkin Anda tertarik untuk bertemu dengannya. Yah.. setelah sekian lama, mungkin Anda ingin bertemu dengan Paman Anda. Ini alamatnya. Kebetulan, Ayah saya sahabat dekat Ayah Anda”, katanya sambil menyodorkan secarik kertas berisi alamat seseorang.

“Hmm.. aku bertanya-tanya sepanjang hidupku, apakah aku memiliki saudara yang masih hidup”, kataku bergumam sambil membaca kertas itu.

“Yah jika Anda merasa penasaran dan mungkin ingin mencari tahu asal-usul Anda, saya yakin Paman Anda akan menjelaskan semuanya”, kata lelaki itu menjelaskan.

Entah kenapa aku percaya saja padanya. Aku langsung pulang, dan mengepak pakaianku. Aku harus mencari tahu asal usulku. Kuberitahu simbok kalau aku mau pergi ke kota. Mungkin lama, kataku. Aku minta doa restu padanya. Sebenarnya aku ingin memberitahu Lastri. Namun entah kenapa aku tak melakukannya. Terasa begitu berat untuk berpamitan dengannya. Yang kutahu, aku begitu penasaran dan ingin mencari tahu, siapa sebenarnya diriku dan orang tuaku.

Aku menelusuri alamat itu, dan ternyata Pamanku telah pindah. Aku menelusuri terus hingga akhirnya menemukan rumah pamanku setelah tiga minggu tinggal di kota itu. Namun sayang, paman dan bibiku telah tiada. Anak-anaknya tak ada yang mengerti cerita tentang keluargaku dengan jelas, kecuali kecelakaan itu. Akhirnya aku mencari pekerjaan di kota, dan tak terasa lima tahun berjalan dengan cepatnya. Hingga akhirnya aku begitu merindukan simbok, dan tentu saja Lastri, kekasihku. Akhirnya kuputuskan untuk kembali pulang ke kampung.

Ketika aku sampai di kampung, aku melihat segerombolan orang berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah sungai.

“Orang tenggelaaam!!! Orang tenggelaaam!!”, teriak mereka.

Aku segera turun dari motorku, dan berlari ke arah sungai. Kulihat seorang lelaki dan seorang wanita hanyut di samping sebuah perahu getek. Tanpa pikir panjang, aku melompat bersama dua orang lainnya di dekatku. Aku menyelematkan si wanita, dan mereka menyelamatkan lelaki tua itu. Kutarik tubuh wanita yang pingsan itu, dan kubawa ia ke tepi sungai. Ketika kulihat wajahnya, aku kaget bukan kepalang.

“Lastri! Lastri!! Sadar Lastri!”, teriakku sambil mengguncang tubuhnya. Kutekan perutnya, dan kuberi pernafasan buatan. Akhirnya dia tersengal, dan memuntahkan air yang tertelan ketika hanyut tadi. Perlahan ia melihat wajahku, kaget, dan akhirnya pingsan kembali. Setelah sadar, ia kuantar pulang ke rumahnya. Tak kusadari ternyata ia telah berkeluarga. Aku sempat kecewa, karena tak kusangka ia akan menikah secepat itu.
Kupikir kesibukannya di LSM akan membuatnya melupakan kehidupan berumah tangga dini. Namun ternyata aku keliru. Aku hanya bisa menggigit bibirku yang kelu. Betapa bodohnya aku. Hanya karena dikejar rasa penasaran, aku
kehilangan orang yang sa
ngat kucintai.

Aku berjalan menuju sebuah batu yang cukup besar di belakang rumahku. Batu itu memiliki permukaan yang cukup datar dan lebar, seperti meja yang terbentuk dari alam. Di
dekatnya sebuah pohon yang cukup rindang menutupinya, sehingga batu itu tak panas diduduki, meski siang hari. Aku selalu duduk di sana sambil memandang ke arah bukit ketika hatiku gelisah. Mendengar bunyi kumbang di balik pohon dan merasakan semilir angin, membuatku merasa tentram dan nyaman. Pikiranku segera jernih dalam beberapa saat biasanya. Namun tidak untuk kali ini. Perasaan galau dan kesal masih mengamuk dalam diriku. Penyesalan yang menghinggapiku begitu kokoh, sekokoh batu yang kududuki ini. Ah sudahlah.. Mungkin nasibku memang seperti ini. Panggilan simbokku untuk makan siang, membuyarkan semua lamunanku.

.oOo.


Satu minggu kemudian, ketika Parman akan pergi ke balai desa, seorang lelaki berlari ke depan rumahnya.

“Maaan!! Parmaaaaaan!!”, Toni memanggilnya.

Parman berlari ke depan menyongsongnya.

“Ada apa, Ton? Kenapa kamu lari-lari begini? Ada apa?”, tanya Parman keheranan.

“Anu Man.. anu…”, kata Toni terbata-bata.

“Anu apa?? Yang jelas dong, Ton?”, sergah Parman.

“E.. Lastri Man.. Lastri!!”, kata Toni sambil terengah-engah.

“Lastri kenapa? Bilang Ton.. cepat!!”, tanya Parman dengan penuh rasa khawatir.

“Lastri Man.. Ia dan anaknya diculik. Budi, suaminya, sedang mencarinya”, kata Toni.

“Diculik??? Siapa yang menculiknya? Apa untungnya? Untuk apa?”, tanya Parman penasaran.

“Itulah Man. Mungkin pelakunya salah satu rentenir itu. Setelah Lastri memberikan penyuluhan di desa seberang, banyak petani yang tak mau menjual hasil taninya dengan sistem ijon. Mereka marah besar peluang bisnisnya dirusak oleh pegawai LSM”, jelas Toni.

“Kurang ajar!!”, geram Parman sambil mengepalkan tinjunya.”Ayo ikut aku, Ton. Mari kita cari dia!”.

Parman mengajak Toni mencari rentenir yang dicurigai. Ia mendekati salah seorang petani yang biasa menjual hasil panennya pada rentenir. Petani itu menjelaskan bahwa ada lima rentenir yang berkuasa di daerah itu. Satu demi satu Parman mencatat alamatnya. Satu demi satu ia datangi.
Hingga akhirnya ada seorang rentenir yang mencurigakan tindak-tanduknya. Pandangannya selalu beralih-alih antara mata Parman dan sebuah ruangan terkunci di depan rumahnya. Perasaan Parman mengatakan ada sesuatu yang
tidak beres dalam rumah itu. Parman langsung berlari mencoba membuka pintu yang tampaknya terkunci itu. Dengan sekali tendang, pintu itu roboh. Parman melihat Lastri terikat tangan dan disumpal mulutnya. Anaknya, Widi, tampak ketakutan di pojok ruangan itu. Ketika Parman melepaskan ikatan Latri, tengkuk lehernya tiba-tiba terasa sakit luar biasa. Rupanya rentenir tadi memukulnya dengan tongkat yang ada di dekat tembok. Parman pingsan. Toni yang ada di luar rumah mendengar teriakan Parman. Ia menyeruak masuk, dan melihat Parman tergeletak. Si rentenir berlari, mengacungkan tongkatnya sambil berteriak ke arah Toni. Toni mengelak ke samping. Pukulan rentenir menemui ruang kosong. Toni mengambil vas dari tanah liat di dekat meja tempat ia berdiri dan melemparkannya tepat ke kening si rentenir. Darah mengalir. Lelaki tua itu jatuh berdebam di lantai. Toni membebaskan Lastri dan anaknya. Tak berapa lama kemudian, Parman sudah terbaring di puskesmas. Ia masih
pingsan.


“Mas, Mas Parman..”, bisik
Lastri di dekat Parman yang masih memejamkan matanya.

Widi berdiri di samping ibunya. Memandangi wajah Parman yang menyelamatkan mereka.

Tak berapa lama kemudian, mata Parman terbuka perlahan. Ia masih merasakan tengkuknya berdenyut nyeri.

Ia mencoba untuk duduk, namun ditahan Lastri.

“Istirahat dulu, Mas. Jangan terlalu dipaksakan”, bujuk Lastri.

“Maaf.. kan.. aku Lastri. Aku pergi tanpa pamit kepadamu.”, kata Parman terbata-bata.

“Sudahlah, Mas. Biarlah yang telah berlalu menjadi kenangan yang indah antara kita berdua.”

“Tidak… kau berhak tahu yang sebenarnya. Aku pergi mencari jati diriku. Mencari asal-usulku di kota.

Sayang.. Paman dan Bibiku telah tiada. Hanya hampa yang kutemukan. Akhirnya kuputuskan untuk mengumpulkan modal untuk kita berdua. Aku bekerja keras di sebuah perusahaan di kota, untuk kembali meminangmu, Lastri.”

“Tapi mengapa Mas tidak mengucapkan apapun? Setidaknya.. tulislah sebuah surat untukku”, isak Lastri perlahan.

“Ya, itulah kebodohan terbesar dalam hidupku. Kini aku harus hidup dengan penyesalan itu”, jawab Parman.

“Mas, ada satu hal yang ingin kuceritakan kepadamu..”, kata Lastri sambil mengusap lembut rambut Parman.

“Apa itu, Lastri? Katakanlah..”, tanya Parman penuh penasaran.

“Widi.. Widi adalah anakmu…”, jawab Lastri sambil menundukkan kepalanya.

Parman pun pingsan kembali.

Pamulang, 1 Juli 2006.
Diilhami dari sebuah kisah fiksi.

Iklan

Posted on Juli 1, 2006, in Ulasan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: