Ayat-ayat Cinta (The Movie), Berbagi Suami, dan Poligami


Saya membaca bukunya sekitar 3 tahun yang lalu. Adi, seorang sahabat, meminjami novelnya kepada saya. Jadilah buku itu aku lahap sambil naik kereta Sudimara – Dukuh Atas pagi dan sore. Terus terang, saya suka dengan cerita romantis. Apalagi romantis Islami. Review novel ini juga pernah saya tulis di sini.

Akhirnya, tanpa diduga, film ini laris keras. Saya mencoba menonton film ini, tiket habis beberapa jam ke depan. Baru minggu ketiga dapat tiket, itupun diantrikan oleh Adi dan istrinya yang hamil tua. Saya cukup puas dengan film ini. Artinya meski ada perbedaan antara novel dan filmnya, keduanya tetap saya sukai. Banyak orang yang mencibir filmnya karena perbedaannya dengan novelnya. Menurut saya, agak kurang adil membandingkan antara novel dengan film secara serta merta. Perlu dipertimbangkan mengapa keduanya berbeda. Menghasilkan karya seni secara verbal dan visual adalah dua seni yang berbeda. Sebuah novel hanya memerlukan pengarang dan imajinasinya. Lain lagi halnya dengan sebuah film menjadi tergantung banyak hal. Ada faktor sutradara, skenario, pemain, lokasi syuting, kesinambungan cerita (dua jam mesti mengalir dari awal hingga selesai), dan sebagainya. Apalagi ini cerita dakwah dengan menekankan syariah Islam yang kontroversial, yaitu poligami.

Jika Anda bertanya kepada saya tentang poligami dalam Islam, maka ini jawaban saya. Poligami adalah sebuah hukum yang halal. Menentang poligami dan menganggapnya hukum yang haram, menurut saya adalah bentuk perlawanan kepada Allah SWT. Saya tidak sependapat kepada orang yang membenci poligami lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang haram.

Namun demikian, Rasul Muhammad SAW, sebelum melakukan praktik poligami – karena perintah Allah SWT, di hatinya hanyalah Khadijah semata. Puluhan tahun beliau hidup bermonogami. Bahkah Rasulpun tidak menyukai bila putrinya dipoligami.

Seperti yang ada dalam Quran, Allah menurunkan hak berpoligami hingga maksimal empat orang. Coba lihat jaman dahulu. Lelaki menganggap wanita sebagai benda semata. Poligami lewat pernikahan atau perbudakan tidak hanya empat. Seorang lelaki mungkin bisa mendapatkan ratusan bahkan ribuan wanita. Datanglah Islam, kepada suatu budaya yang terbiasa dengan konsep poligami sesuatu yang lumrah berapapun jumlahnya. Namun dalm Islam, dibatasi maksimal hanya empat. Lebih dari itu hukumnya haram.

Kalau lebih cermat lagi, kita akan melihat ayat dalam Quran di mana lelaki dipersilakan untuk menikahi satu, dua, tiga, atau empat. Namun, kalau kita khawatir nggak bisa berbuat adil, maka satu saja itu lebih baik. Nah Allah sudah bilang, kalau takut nggak adil, mending satu aja. Kita ditantangin adil apa nggak. Di ayat lain, Allah mengatakan bahwa seberapa keras kita berusaha adil, kita nggak bakalan bisa adil. Adil tidak berarti sama dalam kuantitas. Contoh: adik yang masih sd dikasih uang jajan serebu, kakaknya yang sma juga serebu. Ini nggak adil meski jumlahnya sama. Mesti proporsional dan tidak menzalimi. Dua faktor ini susah, kalau poligami diniati untuk merasakan seks lebih dari satu wanita. Kalau niatnya murni cuma seks, maka sebenarnya poligami dengan empat wanita nggak bakalan cukup. Karena nafsu sekali direguk, seperti mereguk lautan yang asin. Nggak pernah kenyang. Begitu banyak contoh poligami yang bukannya mendekatkan diri pada Allah, tapi keluarga jadi berantakan. Nikah itu untuk kemaslahatan. Bukan untuk menghancurkan. Kalau menambah pernikahan dengan mengorbankan kualitas pernikahan sebelumnya, buat apa? Nggak banget deh menurutku. Nah contoh-contoh negatif poligami disajikan oleh Nia Di Nata dalam filmnya, Berbagi Suami. Dan itulah kasus yang banyak ditemukan di dalam masyarakat. Cuma sayangnya, poligami disajikan tidak secara berimbang. Contoh poligami yang berhasil seharusnya juga ditampilkan.

Lalu apakah dengan kasus negatif itu poligami jatuhnya haram? Poligaminya tidak, tapi menelantarkan istri dan keluarga itu yang berdosa. Apakah poligami bisa diterapkan? Pada kasus yang teramat kompleks di mana manfaat jauh lebih besar daripada mudharat, mungkin poligami bisa jadi contoh. Dalam kasus Ayat-ayat Cinta, pengarang memperkenalkan konsep poligami sebagai suatu solusi yang tidak dikejar oleh tokoh utamanya, si Fahri. Maria dalam keadaan sekarat, bisa hidup ketika mendapat cinta Fahri. Maria hidup maka ada saksi untuk Fahri, sehingga ia akan hadir untuk istri dan anaknya. Apakah Habiburahman menggambarkan indahnya poligami? Tidak! Dalam film itu, meski poligami dilakukan (baca : HALAL), tetapi kebingungan dan keabsurdan poligami digambarkan. Rendra, yang pernah mempraktekkan poligami, juga pernah mengatakan bahwa poligami
itu absurd. Pasti ada yang berubah, hubungan antara suami dengan istri pertama setelah poligami. Apalagi kita memang naturalnya, diciptakan berpasang-pasangan.

Jadi, kalau tidak ada sesuatu yang sangat mendesak, manfaat tidak lebih besar daripada mudharat, ibadah poligami sebaiknya tidak diprioritaskan. Banyak sekali kok ibadah lainnya yang lebih mulia di sisi Allah tanpa efek samping yang berbahaya. Kalau masalahnya seks, bukan pasangannya yang diganti-ganti. Seks yang hambar bisa jadi karena menunya itu-itu terus. Cinta mesti selalu dipupuk. Ganti suasana dong. Bisa berlibur, bisa berganti teknik, dsb. Komunikasi dan cinta juga mesti ditumbuhkan. Sering-seringan sms dengan kata-kata sayang, cinta, dsb. Insya Allah kehidupan seks yang memang sangat dibutuhkan kaum lelaki itu, bisa lebih menarik. Dengan hal ini, solusi poligami tidak perlu terbersit dalam otak kita, dan kita bisa konsentrasi dengan ibadah lainnya.

Banyak loh:
– sedekah
– ngaji
– sharing ilmu (nulis blog, nulis buku, ngajar, dsb)
– naik haji
– bikin lapangan kerja buat orang yang kurang skill
– senyum (membahagiakan orang lain). Memberi kesempatan orang mau belok di jalan dengan kita berhenti, insya Allah juga sedekah

Biarkan poligami yang mendatangi Anda, dan jangan mencari-cari alasan untuk poligami. Ati-ati. Nggak bener niat dan caranya, bisa jatuhnya zhalim.

Balik ke Ayat-ayat Cinta, sekali lagi, aku dah cukup puas dengan film dan novelnya. Thanx to Habiburahman dan Hanung Bramantyo yang telah memberikan gerimis di dada demi pencerahan jiwa dan upaya untuk lebih baik.

Berikutnya, aku mau review tetralogi Laskar Pelangi. Tunggu yah.

Iklan

Posted on Maret 23, 2008, in Ulasan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: