Mirip Bunda atau Mirip Ayah

MyHeritage: Look-alike MeterAncestry searchGeneology

The Mist (2007)

Film yang diangkat dari karya Stephen King si Raja Horor ini sudah lama beredar, tapi aku baru sempat menontonnya baru-baru ini. Sutradaranya Frank Darabont, yang membuat film dari karya Stephen King juga, yang menjuarai tangga film terbaik versi IMDB, Shawshank Redemption.

Skip tulisan ini kalau mau nonton filmnya tanpa terganggu.

Film ini dimulai dari munculnya kabut misterius yang melanda Maine setelah datang badai malam sebelumnya. Beberapa orang yang sedang mencari bahan makanan terjebak di sebuah supermarket. Satu demi satu penduduk kota itu mati diserang berbagai makhluk raksasa dan aneh. Orang-orang dalam supermarket itu berusaha bertahan hidup. Ada yang ingin tinggal, ada yang ingin cari bantuan keluar, ada yang ingin mencari obat untuk korban serangan, dsb. Thomas Jane yang memerankan The Punisher bermain sebagai David Drayton yang pagi itu ke kota bersama anak lelakinya dan tetangganya ke supermarket. Istrinya ditinggal di rumah sendiri. Anak lelakinya ketakutan setengah mati dan sempat akan diserang makhluk aneh. Sepanjang film, Drayton tampak seperti seorang ayah yang tegar, mencoba menyelamatkan orang-orang dari serangan makhluk, dan tidak terlihat ingin menyerah menghadapi tragedi itu.

Sampai pada suatu ketika ia memutuskan bersama beberapa orang dalam supermarket itu untuk pergi dengan mobil yang ia miliki. Mereka berpikir lebih baik keluar mengendarai mobil sampai bensinnya habis.Nah sebelum masuk mobil Drayton mengambil segenggam pistol yang jatuh di kap mobilnya, ketika Ollie salah seorang yang mau pergi bersamanya dimangsa makhluk buas. Tujuan pertama Drayton adalah ke rumahnya untuk menjemput istrinya. Kasihan, istrinya sudah tewas menjadi korban serangan makhluk ganas. Dengan hati hancur dan berkeping-keping, Drayton membawa empat orang lainnya dalam mobil termasuk anaknya yang masih kecil. Begitu bensin habis.. mereka bingung dan Drayton melihat pistol yang ia genggam. Peluru bersisa empat, dan mereka berlima. Rupanya semua sepakat untuk bunuh diri daripada dimangsa makhluk ganas itu. Drayton menembak keempat orang lainnya termasuk … anaknya yang ia cintai..
Lalu ia keluar dan berteriak di tengah kabut yang sangat tebal meminta dimangsa oleh makhluk ganas.Sayang.. yang datang justru pasukan militer AS lengkap dengan orang-orang yang berhasil dievakuasi.Drayton langsung terduduk lemas sambil menangis dan berteriak, “Lalu untuk apa mereka mati???”..

Film dengan ending yang sangat kontroversial ini pun berakhir..
Menurut saya, 95% dari awal, film ini sangat mencekam dan menegangkan. Sayang 5% sisanya tidak sesuai dengan karakter Drayton sebelumnya dan jelas berbeda dengan pandangan hidup saya yang muslim ini.(Istri mengatakan mungkin sutradaranya ingin menunjukkan betapa setiap orang memiliki titik puncak ketabahan dan MEAN TIME TO GIVE UP sendiri-sendiri).

Well, hidup selalu penuh dengan masalah. Bahkan kita tidak mungkin keluar hidup-hidup dari dunia ini.Di Al Quran banyak ayat tentang kematian:
S U R A T A L – I M R O N
3:145. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

S U R A T A L – ‘ A N K A B U T 29:57. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.Intinya, mati udah pasti. Tapi kita harus mensyukuri nyawa yang diberikan Allah SWT kepada kita.Meski cobaan datang, tidak boleh putus asa dengan rahmat Allah.

S U R A T A L – H I J R 15:55. Mereka menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”.

15:56. Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.

S U R A T A R – R U U M
30:36. Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.

30:49. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.

S U R A T F U S H I L A T
41:49. Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

Mengenai musibah:
S U R A T A L – I N S Y I R A H
94:5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
94:6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Mengenai bunuh diri:
S U R A T A N – N I S A ‘
4:29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Wah wah wah.. Quran begitu lengkap menjawab masalah dalam hidup ini. Kalau aku jadi Drayton, aku tidak akan membunuh orang lain apalagi anak. Gendeng. Kalau aku di posisi dia, bensin habis, di luar banyak monster, ya udah 4 peluru itu ditembakkan ke monsternya. Syukur monsternya mati. Kalau nggak ya sudah kita berserah diri pada Allah SWT. Menunggu sambil berdoa dan berzikir. Tidak pernah ada kamus berputus asa dengan rahmat Allah. Itulah gunanya agama sebagai petunjuk dalam hidup di dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan. Kalau mati pun tidak masalah wong semua yang bernyawa pasti mati. Yang penting amal ibadah sebelum mati bukan kapan kita mati. Pantesan banyak orang tak beragama yang membunuh diri dan orang lain karena salah berpikir atau salah mengambil pedoman dalam hidup.

Subhanallah, Islam itu indah…

Eagle Eye (2008)

Eagle Eye = Die Hard 4.0 + I, Robot.

Jika Anda sudah nonton kedua film di atas, ya Anda tidak akan mendapatkan hal baru.

Ini film summer blockbuster yang nyasar di bulan Oktober. Karena originalitasnya yang jeblok, dia gak berani dikeluarkan di bulan Juni-Juli. Sangat mengandalkan Shia LaBeouf.

Yah lumayanlah untuk sesuatu yang 15 rebu perak…

Body of Lies (2008)

Film tentang terorisme dan peran AS sebagai polisi dunia, dan alasan terorisme dilakukan oleh kaum muslim radikal digambarkan dalam film ini. Karena penuturnya AS, sudah jelas akhir film berpihak pada kemenangan CIA dan Interpol. Pasti ada pro dan kontra untuk film ini, namun dari segi pembuatan film, spesial efek dan aktingnya cukup menawan.

Sisi positif dari film ini menurutku adalah beberapa adegan membuat adrenalin dikocok-kocok dengan irama cepat dan penuh ilustrasi terorisme. Ada adegan yang dirancang dengan melibatkan ahli pembuatan ledakan agar efeknya sangat dramatis. Teroris dari kaum muslim radikal juga digambarkan karena salah mengartikan ayat tentang berjihad. Tokoh utama (Leonardo diCaprio) digambarkan bisa berbahasa Arab dan juga mengenal Quran.

Amerika sebagai polisi dunia juga digambarkan bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pelaku terorisme itu sendiri, menjadikan kabur antara pemburu dan yang diburu. Bisa jadi demi alasan membunuh terorisme, tindakan terorisme juga dilakukan. Jangan percayai siapapun, dan tipu siapapun.

Pada akhirnya kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Siapapun yang memulainya.

Sisi kurang dari film ini (awas spoiler):
Bagaimana mungkin LD yang sudah sangat profesional dalam pekerjaannya bisa jatuh cinta dengan orang di daerah di mana siapapun bisa jadi korban terorisme. Bagaimana mungkin bisa menyerahka diri demi seorang wanita? Orang yang sanggup membuat operasi tingkat tinggi menyerupai terorisme masa bisa jatuh dengan hal seremeh ini? Agak kurang masuk akal.

The Starbucks Experience

Tanggal 4 Oktober yang lalu kami sekeluarga mampir ke Gramedia Pondok Indah, dan saya memborong 4 buku. 3 untuk saya, 1 untuk istri. Saya membeli The Starbucks Experience, The Apple Way, dan Warren Buffet. Istri pengen membaca buku ketiga dari tetralogi Twilight.

Ok, saya coba review satu buku yang baru selesai pagi ini dalam perjalanan Bandung – Jakarta, naik travel Bimo dengan VW Caravell. Terus terang saya tidak begitu sering membeli kopi di Starbucks. Saya kurang begitu suka kopi, apalagi kopi kental pahit. Kalau minum kopi sukanya yang ringan-ringan saja. Nah saya lebih suka coklat. Hal lain mengapa jarang ke Starbucks karena harganya menurut saya cukup mahal untuk ukuran kantong. Yah kadang-kadang saja beli ke sana. Saya tertarik membaca buku The Starbuck Experience, pertama karena desain covernya yang menarik. Dengan logo Starbucks yang terkenal itu terletak di tengah halaman dan ada gambar kertas pelindung dari panas yang melingkar di tengah, mengingatkan kita gelas Starbucks. Catchy. Hal lain adalah saya tertarik dengan perusahaan yang sangat terkenal ini, dan pernah masuk jajaran 10 besar bareng-bareng Microsoft dan Google.

Buku ini ditulis tidak untuk mengajak Anda minum kopi di sana. Tidak. Tetapi karena keunikan bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan inilah yang mencoba ditularkan penulis kepada pembacanya.

Ada 5 hal yang dianggap penulis penting untuk kita serap dan telah dipraktekkan oleh Starbucks:
1. Lakukan dengan Cara Anda
2. Semuanya Penting (jangan remehkan detail)
3. Surprise and Delight (kejutan yang menyenangkan)
4. Terbuka terhadap Kritik
5. Leave Your Mark (ciri khas)

Salah satu hal yang mencengangkan adalah saham Starbucks sejak th 1992 telah meningkat sebesar 5000%! Buku ini enak dibaca secara penulisnya adalah konsultan, terbiasa memberikan pelatihan, dan juga seorang penyiar radio!

Hard cover dengan sampul menarik, buku setebal 233 halaman ini renyah dengan pengalaman Starbucks yang banyak diambil dari para mitra dan pelanggan yang terinspirasi dengan tujuan mulia Starbucks.


Membaca buku ini, kita terinspirasi untuk lebih melakukan tanggung jawab sosial. Bisnis tetaplah bisnis, namun peduli pada komunitas di sekitar kita dan menyumbangkan sesuatu agar dunia menjadi lebih baik, adalah pilihan yang terpuji. Setelah membaca buku ini saya mungkin tidak akan menjadi pelanggan tetap Starbucks, tetapi saya merasa berterimakasih bahwa jika kelak nanti saya memiliki bisnis sendiri, setidaknya ada bekal untuk melakukan hal positif bagi dunia.

Selamat menjadi luar biasa dengan hal biasa!

Laskar Pelangi (2008)

Sepulang mudik dari Tegal, kami merencanakan untuk menonton Laskar Pelangi. 3 dari tetralogi bukunya sudah dibaca, kini giliran filmnya keluar dan bisa dinikmati di layar perak. Soundtrack filmnya yang dibawakan Nidji sudah mulai diingat lirik reffnya oleh Rayyan. Bapak ama anaknya sama-sama doyan. Hehehe..

 
Kami menonton bersepuluh dengan teman-teman adik iparku yang kebetulan pas main ke rumah mertuaku. Setelah makan malam bersama di rumah mertua (karena kami lebaran di kampungku, jadi baru ketemu mertua Sabtu paginya).
 
Seperti menonton Ayat-ayat Cinta, saya sudah mempersiapkan secara mental untuk tidak membanding-bandingkan karya audio visual dengan karya tekstualnya. Menurut saya, jerih payah seorang sutradara, penulis skenario, produser, kamerawan, pengatur cahaya, aktor dan aktris, dan semua kru pendukung filmnya terlalu besar untuk dikomentari secara singkat “Ah, bagusan bukunya!”
 
Membaca buku tidak sama dengan menonton film. Produknya saja jelas berbeda. Minum jus jeruk berbeda dengan makan jeruknya secara langsung. Ketika minum jus jeruk, sudah tentu ada saripati yang hilang, yang mungkin ada ketika dimakan secara langsung. Namun selama esensinya sama, mestinya minum jus jeruk juga ok. Kecuali, pake gula tambahan dengan kadar tidak tepat yang justru menghancurkan pengalaman meminum jus tadi. Demikian juga dengan film. Selama esensi dari film terpenuhi, meski ada perbedaan sedikit di sana-sini, demi menghidupkan produk audio visualnya, maka saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Wajar dong, minum jus dikasih irisan jeruk dipinggir gelas untuk estetika tanpa menghilangkan rasa jeruknya?
 
Demikian juga halnya dengan Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta, yang keduanya saya katakan berhasil menunjukkan esensi dari bukunya. Menurut pendapat saya, Laskar Pelangi ditulis oleh Andrea Hirata tidak untuk menunjukkan petualangan anak-anak Laskar Pelangi di sebuah pulau di Indonesia. Tidak. Andrea Hirata ingin menunjukkan bahwa bakat, usaha, dan doa membungkam kemustahilan. Beliau juga ingin menunjukkan bahwa usaha guru untuk mendidik secara ikhlas berbuah emas. Cita-cita dan impian adalah hak setiap manusia yang perlu dikejar, meski besar badai menghadang, dan topan menerjang. Nasib tidak ditunggu dari langit, namun untuk diperjuangkan. Takdir lain lagi. Takdir adalah skenario dari Tuhan yang menghendaki manusia meneruskan atau memodifikasi ikhtiar yang sudah dilakukan dengan goal yang sama atau yang lebih baik. Untuk sampai ke Sorbonne Perancis, Ikal memperjuangkan nasibnya. Takdir Lintang berbeda dengan takdir Ikal. Meski sama-sama berjuang, Lintang harus memodifikasi goalnya yang dulu ia impi-impikan. Gagalkah Lintang? Tidak! Lintang adalah salah satu bintang yang hidup di hati Ikal yang membuatnya terus menyalakan obor impiannya. Lintang berperan di hati para Laskar Pelangi dan Ibu Muslimah. Menafkahi keluarga adalah salah satu goal yang mulia di sisi Allah SWT. Sama halnya dengan menuntut ilmu hingga ujung dunia, dari buaian hingga liang lahat.
 
Sentra dari film adaptasi Riri Riza ada pada Ikal dan Lintang. Dibuka oleh Ikal dewasa yang baru lulus dari UI dan bersiap menuju Sorbonne, ia mudik untuk memberikan kabar gembira ini pada habitatnya di Belitong. Kisah cinta monyetnya dengan A Ling dan pengalaman Lintang ke sekolah yang dihadang buaya, dan diakhiri dengan pertemuan keduanya di pantai menegaskan hal ini.
 
Yang mencuri perhatian dalam film ini adalah pemeran Mahar. Mainnya sudah natural sekali dan bisa menghayati peran Mahar yang “nyeni” dan sok eksentrik. Akting Ikranegara sebagai Kepala Sekolah SD Muhammadiyah sangat bagus. Slamet Raharjo dan Jajang C. Noer meski tidak mendapat porsi yang banyak, namun bisa memerankan tokoh Belitong dengan baik.
 
Menurut saya, film Laskar Pelangi masih bisa dibuat sekuelnya sekali lagi, mengetengahkan Ikal dan Arai semasa SMA dan kuliah, dengan judul Sang Pemimpi.
 
Two thumbs up for this movie. Cuma sayang di akhir film, hanya ada tulisan mengenai pendidikan adalah hak WNI sesuai UUD 45. Akan lebih baik kalau dijelaskan sedikit Mahar gimana, Flo gimana, dst. Jadi untuk yang tidak membaca bukunya, tahu bagaimana nasib para Laskar Pelangi selain Ikal dan Lintang. Statistik di Indonesia yang menyebutkan jumlah SD yang rusak akan lebih menggugah hati nurani pemerintah, khususnya DepDikNas untuk lebih introspeksi, tidak hanya membuat program yang tidak penting, namun lebih menyentuh ke esensi pendidikan dasar di seluruh Indonesia yang layak dan terjangkau.