Kembalinya Mas Parman (2006)

Dia bukan penduduk asli kampung ini. Ketika berumur hampir setahun, orang tuanya mengalami kecelakaan di tikungan, dekat balai desa. Ayah dan ibunya meninggal seketika, dan dimakamkan di TPU, satu setengah kilometer dari rumahku. Akhirnya Pak Parto dan istrinya, sepasang petani yang sudah tua dan tidak memiliki anak, memutuskan untuk memungutnya dan memberinya nama Suparman.

Kata teman-teman Mas Parman, dari kecil ia gemar menolong orang di kampung. Hampir semua warga mengenal kebaikan budinya. Mbok Inah yang setiap hari menjual kayu bakar, pernah jatuh sakit sehingga tak dapat menjualnya di pasar. Diam-diam Mas Parman mengumpulkan kayu dekat hutan jati dekat rumahnya, lalu ia jual di pasar. Uangnya dikumpulkan untuk membeli makanan Mbok Inah selama sakit. Pak Gempol pernah ditolong ketika ia memperbaiki rumahnya yang rusak. Mas Parman ikut bergotong-royong bersama teman-temannya membawa genteng, mengangkut pasir, hingga melapisi tembok dengan kapur bercampur air. Ia tak pernah mengeluh. Baginya, menolong orang selalu membuat hatinya bahagia. Ketulusan hatinya terpancar dari wajah dan tutur katanya yang bersinar bagai mentari di pagi hari. Semua orang di sekitarnya selalu merasa tentram, bagaikan embun yang mengisi rongga hati di padang yang tandus. Itulah Mas Parman, lelaki yang kupuja sekaligus kubenci dan akhirnya kubunuh ia pelan-pelan dalam hati.

Aku mengenalnya lima tahun yang lalu. Wajahnya yang tampan, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang mancung membuatku selalu merindukannya. Setelah lulus dari sebuah
perguruan tinggi negeri melalui UMPTN, Mas Parman sebagai seorang sarjana elektro, tak mau tinggal di kota. Ia kembali ke kampung ini, kampung yang telah membesarkannya. Tempat ia menghabiskan senjanya dengan meniup seruling di atas punggung kerbau ayah angkatnya. Tempat ia berenang bersama teman-temannya selepas pulang dari sekolah. Tempat ia melepaskan segala beban hidupnya, dengan merenung sambil memandangi bukit di belakang rumahnya.

Ketika listrik menjadi semakin mahal dan banyak warga yang tak mampu membayarnya, Mas Parman merancang sebuah alat untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan aliran sungai yang mengalir dari bukit. Dengan uang tabungannya dan dibantu oleh warga setempat secara bergotong-royong, 100 lebih rumah telah mendapat penerangan yang cukup memadai. Tiba-tiba kuteringat saat
pertama kali aku mengenalnya.

Sore itu, di balai desa, ada permainan simulasi P4. Waktu itu Pancasila masih diyakini oleh sebagian besar warga desa sebagai dasar negara yang terpatri dalam dada. Pak Lurah dan Pak Camat sering mendengung-dengungkan tentang P4,
terutama menjelang 1 Juni setiap tahunnya. Saat ini sebenarnya masih banyak yang yakin bahwa Pancasila merupakan kontrak batin seluruh warga Indonesia untuk meluhurkan nurani dan kemanusiaannya, agar menjadi insan
kamil yang dapat menjaga alam ini dengan baik. Namun lambat laun, seiring dengan lunturnya keteladanan para pemimpin, luntur pulalah kepercayaan itu. Mereka yang sering berteriak butir-butir Pancasila, merekalah yang justru sering memakan uang rakyat. Merekalah yang mementingkan pribadi daripada golongan. Merekalah yang mendahulukan kekuasaan daripada musyawarah untuk mufakat. Ah, sudahlah. Tak akan habis bicara masalah politik dan sejenisnya. Biarlah kukatakan pada kalian semua, saat pertama dalam hidupku yang paling indah, ketika berjumpa dengan Mas Parman.

Mas Parman, aku, Siti, dan Mas Paijo dipilih sore itu oleh Ibu Ketua Dharmawanita untuk bermain simulasi P4. Permainannya mirip permainan monopoli, ada kartu yang bisa diambil pada kolom tertentu. Di dalamnya banyak terdapat soal-soal sosial yang harus dijawab oleh pemain yang kebetulan bidaknya jatuh pada kotak untuk mengambil sebuah kartu. Terkadang isinya perintah untuk
menyanyi dan berjoget mengikuti alunan musik dangdut dari tape yang telah disediakan. Inti permainan ini adalah, warga diberi masukan nilai-nilai luhur dalam bermasyarakat sambil dihibur. Mas Parman begitu antusias mengikuti permainan itu. Hal yang paling indah adalah ketika ia harus manyanyikan lagu Kemesraan dengan diiringi permainan gitarnya yang handal. Suaranya lembut, namun menggetarkan hati semua yang mendengarnya. Malam itu, aku terbayang-bayang akan wajahnya, dan tidurku kuwarnai dengan senyum tersungging di pipi.

Semenjak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Apalagi pertemuan pemuda Karang Taruna rutin diadakan tiap sabtu sore. Kami selalu memikirkan program untuk memajukan kampung kami. Dari pemberantasan buta aksara hingga memberikan penyuluhan tentang pentingnya sanitasi dan penggunaan MCK. Biasanya, setelah pertemuan, kami berdua makan bakso di dekat rumah Pak Jarwo, yang terkenal sangat enak itu. Mungkin kedekatan kami karena kami berdua memiliki banyak kesamaan dan hobi, terutama membaca buku-buku ilmu pengetahuan. Salah satu buku Mas Parman masih kusimpan dalam lemari. Katanya, sebagai hadiah untukku. Kebahagiaan selalu kurasakan, hingga datang hari yang tak pernah kusangka-sangka itu.

Mas Parman menghilang begitu saja. Lenyap. Seperti ditelan bumi. Tak ada surat. Tak ada ucapan selamat tinggal. Ibu angkatnya tak dapat menjelaskan ke mana Mas Parman pergi. Setelah Pak Parto meninggal tahun lalu karena sakit, Mas Parman tampak tak seriang sebelumnya. Aku tak tahu apakah kepergiannya ada hubungannya dengan meninggalnya ayah angkatnya. Yang jelas, hari demi hari, aku merasa disakiti. Setelah semua kebahagiaan dan kebersamaan yang selama ini kami bagi, kini ia pergi dengan menorehkan luka di hati. Mungkin ia kawin dengan gadis lain, teman sekuliahnya dulu. Mungkin ia mendapat tawaran pekerjaan yang bagus di kota. Mungkin ia … ah jutaan mungkin telah coba kupikirkan. Apa sih susahnya mengucapkan selamat tinggal? Setidaknya itu membuatku jelas dan tenang. Kenapa ia biarkan hubungan kami menggantung seperti ini? Bukankah tindakan ini begitu
pengecut? Seperti seorang lelaki yang tak bernyali sama sekali? Hari ini setahun yang lalu, tepat di tahun ke lima kepergiannya, ia telah mati. Kubunuh Mas Parman pelan-pelan dari otakku, hingga ia meregang nyawa, tak lagi kuberi tempat di hati. Aku sendiri kini telah menikah dengan Mas Budi, teman SMAku dulu. Oh ya, seorang anak lelaki lahir empat tahun yang lalu dari rahimku. Kuberi ia nama Widi.

Pagi itu, aku berangkat ke kantorku, sebuah LSM yang bergerak di bidang kesejahteraan masyarakat. Salah satu programnya adalah memerangi tengkulak dan rentenir. Aku harus memberikan penyuluhan di desa seberang. Perjalanan ke sana harus melewati sebuah sungai yang cukup lebar. Jembatan kayu satu-satunya yang menghubungkan kedua desa, telah hancur dimakan umur. Pemerintah daerah kabupaten belum mengucurkan dana untuk memperbaikinya. Satu-satunya cara untuk menyeberang adalah dengan jasa perahu. Pak Kirtolah yang menyeberangkan perahu getek itu, dengan tali yang terhubung pada dua tiang bambu yang dipasang di kedua sisi sungai. Seribu rupiah sekali menyeberang ongkosnya.

Perahu mulai bergerak ke tengah, ketika kurasakan ada yang tidak beres. Sebuah guncangan yang cukup kuat kurasakan dari arah sebelah kiri. Rupanya sebuah batang kayu besar yang hanyut menabrak sisi perahu getek yang kami tumpangi. Aku dan Pak Kirto terpental, masuk ke dalam sungai. Kucoba meraih sisi getek namun arus air cukup kuat. Seseorang tampak berteriak di sisi seberang
sungai dan rupanya ia melompat ke arah kami. Air memasuki rongga mulutku. Kepalaku pening, dan aku tak sadarkan diri.

Aku memuntahkan cukup banyak air dari mulutku. Seorang lelaki berusaha menekan perutku dan memberikan pernafasan bantuan kepadaku. Ketika kulihat wajahnya, kulihat wajah Mas Parman! Aku pun pingsan kembali.

“Kamu sudah baikan, Lastri?”, tanya Mas Parman.

Aku hanya terdiam, memandangi wajah dan rambutnya yang basah karena melompat ke dalam sungai untuk menyelamatkanku. Beribu perasaan berkecamuk dalam hatiku saat itu. Benci, rindu, marah, bahagia, dan kesal bercampur aduk jadi satu.

“Ya, Mas. Sudah mendingan”, jawabku pelan.

“Cobalah minum teh ini. Mungkin bisa menghangatkan badanmu.”, kata Mas Parman sambil menyodorkan segelas teh manis hangat.

Aku mencoba meminumnya perlahan, dan kurasakan kehangatan mengalir melalui kerongkongan hingga lambungku.

“Mas dari mana?”, tanyaku perlahan.

“Sudahlah Lastri, panjang ceritanya. Nanti kuceritakan. Sekarang aku antar kamu pulang dulu. Pastikan kamu mengganti bajumu agar kau tak jatuh sakit”, dalih Mas Parman.

Aku langsung menurutinya. Tangannya yang kekar membimbingku dan ia mengantarku pulang dengan sepeda motornya.

Anak dan suamiku menyambut kami di depan rumah. Mas Budi kaget setengah mati melihat kami datang berdua dengan baju basah.

“Mas, perkenalkan, ini Mas Parman. Tadi aku jatuh di sungai, dan Mas
Parman yang menolong kami.”, kataku memperkenalkan Mas Parman kepada suamiku.

“Parman”.

“Budi”.

Mereka saling berkenalan satu sama lain.

Mas Parman tersenyum, dan ia melihat Widi, anak kami.

“Ini anak kalian?”, tanya Mas Parman.

“Ya, namanya Widi. Ayo Widi salam dengan Om Parman.”, kata Mas Budi sambil membimbing anak kami untuk menyalami Mas Parman.

“Waduh pintarnya… Sudah sekolah belum?”, tanya Mas Parman.

“Beyum.. Om”, jawab anakku sambil malu-malu.

“Eh.. maaf.. Kok malah ngobrol di luar. Ayo masuk Mas Parman!”, ajak suamiku.

“Err.. maaf, bukannya saya tidak ingin bertamu, namun baju saya basah, dan saya ada keperluan di balai desa. Mungkin lain kali saya akan mampir”, tolak Mas Parman.

“Lastri, Mas pamit dulu ya”, katanya sambil memandang ke arahku.

“Iya Mas, sekali lagi terima kasih”, kataku.

“Ah, lupakanlah. Siapapun akan melakukan hal yang sama..”, kata Mas Parman.

“Mas Parman, jangan merendah. Sungguh kami merasa sangat bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada Mas Parman yang telah menyelamatkan Lastri, istri saya”, potong Mas Budi.

Pagi itu, Mas Parman begitu mengejutkanku. Aku melihatnya seperti habis melihat hantu. Benar-benar tak kusangka ia akan kembali. Aku mengawasinya hingga motornya lenyap di balik tikungan. Badai memenuhi batinku.

.oOo.

Namaku Parman. Kutinggalkan kampung halamanku sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Aku tak begitu peduli kapan tepatnya. Yang kuingat, siang itu seorang lelaki datang mendatangiku.

“Maaf, apakah Anda Parman?”, tanyanya.

“Ya, benar. Maaf, Anda siapa ya?”, tanyaku keheranan.

“Saya Firman. Orang tua saya meminta saya datang untuk menyelidiki Anda.”, katanya tanpa berkedip.

“Menyelidiki saya? Untuk apa?”, tanyaku keheranan.

“Begini.. Suatu pagi Ayah saya membaca koran dan ada berita yang menyangkut berita Anda”, jelas lelaki itu.

“Maaf.. berita apa ya?”, tanyaku masih tak mengerti.

“Berita tentang listrik swadaya masyarakat desa ini. Anda disebut-sebut sebagai pelopor kegiatan ini, dan biodata Anda dijelaskan cukup panjang lebar dalam artikel itu”, katanya.

“Lalu? Ada yang bisa saya bantu?”, tanyaku lagi.

“E.. Begini. Ayah saya teringat dengan kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu, yang menimpa orang tua Anda. Beliau tidak menyangka bahwa dalam kecelakaan tersebut Anda selamat. Ia meminta saya untuk bertemu dengan Anda. Beliau meminta saya menjelaskan kepada Anda, bahwa ada saudara Ayah anda yang masih hidup. Mungkin Anda tertarik untuk bertemu dengannya. Yah.. setelah sekian lama, mungkin Anda ingin bertemu dengan Paman Anda. Ini alamatnya. Kebetulan, Ayah saya sahabat dekat Ayah Anda”, katanya sambil menyodorkan secarik kertas berisi alamat seseorang.

“Hmm.. aku bertanya-tanya sepanjang hidupku, apakah aku memiliki saudara yang masih hidup”, kataku bergumam sambil membaca kertas itu.

“Yah jika Anda merasa penasaran dan mungkin ingin mencari tahu asal-usul Anda, saya yakin Paman Anda akan menjelaskan semuanya”, kata lelaki itu menjelaskan.

Entah kenapa aku percaya saja padanya. Aku langsung pulang, dan mengepak pakaianku. Aku harus mencari tahu asal usulku. Kuberitahu simbok kalau aku mau pergi ke kota. Mungkin lama, kataku. Aku minta doa restu padanya. Sebenarnya aku ingin memberitahu Lastri. Namun entah kenapa aku tak melakukannya. Terasa begitu berat untuk berpamitan dengannya. Yang kutahu, aku begitu penasaran dan ingin mencari tahu, siapa sebenarnya diriku dan orang tuaku.

Aku menelusuri alamat itu, dan ternyata Pamanku telah pindah. Aku menelusuri terus hingga akhirnya menemukan rumah pamanku setelah tiga minggu tinggal di kota itu. Namun sayang, paman dan bibiku telah tiada. Anak-anaknya tak ada yang mengerti cerita tentang keluargaku dengan jelas, kecuali kecelakaan itu. Akhirnya aku mencari pekerjaan di kota, dan tak terasa lima tahun berjalan dengan cepatnya. Hingga akhirnya aku begitu merindukan simbok, dan tentu saja Lastri, kekasihku. Akhirnya kuputuskan untuk kembali pulang ke kampung.

Ketika aku sampai di kampung, aku melihat segerombolan orang berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah sungai.

“Orang tenggelaaam!!! Orang tenggelaaam!!”, teriak mereka.

Aku segera turun dari motorku, dan berlari ke arah sungai. Kulihat seorang lelaki dan seorang wanita hanyut di samping sebuah perahu getek. Tanpa pikir panjang, aku melompat bersama dua orang lainnya di dekatku. Aku menyelematkan si wanita, dan mereka menyelamatkan lelaki tua itu. Kutarik tubuh wanita yang pingsan itu, dan kubawa ia ke tepi sungai. Ketika kulihat wajahnya, aku kaget bukan kepalang.

“Lastri! Lastri!! Sadar Lastri!”, teriakku sambil mengguncang tubuhnya. Kutekan perutnya, dan kuberi pernafasan buatan. Akhirnya dia tersengal, dan memuntahkan air yang tertelan ketika hanyut tadi. Perlahan ia melihat wajahku, kaget, dan akhirnya pingsan kembali. Setelah sadar, ia kuantar pulang ke rumahnya. Tak kusadari ternyata ia telah berkeluarga. Aku sempat kecewa, karena tak kusangka ia akan menikah secepat itu.
Kupikir kesibukannya di LSM akan membuatnya melupakan kehidupan berumah tangga dini. Namun ternyata aku keliru. Aku hanya bisa menggigit bibirku yang kelu. Betapa bodohnya aku. Hanya karena dikejar rasa penasaran, aku
kehilangan orang yang sangat kucintai.

Aku berjalan menuju sebuah batu yang cukup besar di belakang rumahku. Batu itu memiliki permukaan yang cukup datar dan lebar, seperti meja yang terbentuk dari alam. Di
dekatnya sebuah pohon yang cukup rindang menutupinya, sehingga batu itu tak panas diduduki, meski siang hari. Aku selalu duduk di sana sambil memandang ke arah bukit ketika hatiku gelisah. Mendengar bunyi kumbang di balik pohon dan merasakan semilir angin, membuatku merasa tentram dan nyaman. Pikiranku segera jernih dalam beberapa saat biasanya. Namun tidak untuk kali ini. Perasaan galau dan kesal masih mengamuk dalam diriku. Penyesalan yang menghinggapiku begitu kokoh, sekokoh batu yang kududuki ini. Ah sudahlah.. Mungkin nasibku memang seperti ini. Panggilan simbokku untuk makan siang, membuyarkan semua lamunanku.

.oOo.

Satu minggu kemudian, ketika Parman akan pergi ke balai desa, seorang lelaki berlari ke depan rumahnya.

“Maaan!! Parmaaaaaan!!”, Toni memanggilnya.

Parman berlari ke depan menyongsongnya.

“Ada apa, Ton? Kenapa kamu lari-lari begini? Ada apa?”, tanya Parman keheranan.

“Anu Man.. anu…”, kata Toni terbata-bata.

“Anu apa?? Yang jelas dong, Ton?”, sergah Parman.

“E.. Lastri Man.. Lastri!!”, kata Toni sambil terengah-engah.

“Lastri kenapa? Bilang Ton.. cepat!!”, tanya Parman dengan penuh rasa khawatir.

“Lastri Man.. Ia dan anaknya diculik. Budi, suaminya, sedang mencarinya”, kata Toni.

“Diculik??? Siapa yang menculiknya? Apa untungnya? Untuk apa?”, tanya Parman penasaran.

“Itulah Man. Mungkin pelakunya salah satu rentenir itu. Setelah Lastri memberikan penyuluhan di desa seberang, banyak petani yang tak mau menjual hasil taninya dengan sistem ijon. Mereka marah besar peluang bisnisnya dirusak oleh pegawai LSM”, jelas Toni.

“Kurang ajar!!”, geram Parman sambil mengepalkan tinjunya.”Ayo ikut aku, Ton. Mari kita cari dia!”.

Parman mengajak Toni mencari rentenir yang dicurigai. Ia mendekati salah seorang petani yang biasa menjual hasil panennya pada rentenir. Petani itu menjelaskan bahwa ada lima rentenir yang berkuasa di daerah itu. Satu demi satu Parman mencatat alamatnya. Satu demi satu ia datangi.
Hingga akhirnya ada seorang rentenir yang mencurigakan tindak-tanduknya. Pandangannya selalu beralih-alih antara mata Parman dan sebuah ruangan terkunci di depan rumahnya. Perasaan Parman mengatakan ada sesuatu yang
tidak beres dalam rumah itu. Parman langsung berlari mencoba membuka pintu yang tampaknya terkunci itu. Dengan sekali tendang, pintu itu roboh. Parman melihat Lastri terikat tangan dan disumpal mulutnya. Anaknya, Widi, tampak ketakutan di pojok ruangan itu. Ketika Parman melepaskan ikatan Latri, tengkuk lehernya tiba-tiba terasa sakit luar biasa. Rupanya rentenir tadi memukulnya dengan tongkat yang ada di dekat tembok. Parman pingsan. Toni yang ada di luar rumah mendengar teriakan Parman. Ia menyeruak masuk, dan melihat Parman tergeletak. Si rentenir berlari, mengacungkan tongkatnya sambil berteriak ke arah Toni. Toni mengelak ke samping. Pukulan rentenir menemui ruang kosong. Toni mengambil vas dari tanah liat di dekat meja tempat ia berdiri dan melemparkannya tepat ke kening si rentenir. Darah mengalir. Lelaki tua itu jatuh berdebam di lantai. Toni membebaskan Lastri dan anaknya. Tak berapa lama kemudian, Parman sudah terbaring di puskesmas. Ia masih
pingsan.


“Mas, Mas Parman..”, bisik
Lastri di dekat Parman yang masih memejamkan matanya.

Widi berdiri di samping ibunya. Memandangi wajah Parman yang menyelamatkan mereka.

Tak berapa lama kemudian, mata Parman terbuka perlahan. Ia masih merasakan tengkuknya berdenyut nyeri.

Ia mencoba untuk duduk, namun ditahan Lastri.

“Istirahat dulu, Mas. Jangan terlalu dipaksakan”, bujuk Lastri.

“Maaf.. kan.. aku Lastri. Aku pergi tanpa pamit kepadamu.”, kata Parman terbata-bata.

“Sudahlah, Mas. Biarlah yang telah berlalu menjadi kenangan yang indah antara kita berdua.”

“Tidak… kau berhak tahu yang sebenarnya. Aku pergi mencari jati diriku. Mencari asal-usulku di kota.

Sayang.. Paman dan Bibiku telah tiada. Hanya hampa yang kutemukan. Akhirnya kuputuskan untuk mengumpulkan modal untuk kita berdua. Aku bekerja keras di sebuah perusahaan di kota, untuk kembali meminangmu, Lastri.”

“Tapi mengapa Mas tidak mengucapkan apapun? Setidaknya.. tulislah sebuah surat untukku”, isak Lastri perlahan.

“Ya, itulah kebodohan terbesar dalam hidupku. Kini aku harus hidup dengan penyesalan itu”, jawab Parman.

“Mas, ada satu hal yang ingin kuceritakan kepadamu..”, kata Lastri sambil mengusap lembut rambut Parman.

“Apa itu, Lastri? Katakanlah..”, tanya Parman penuh penasaran.

“Widi.. Widi adalah anakmu…”, jawab Lastri sambil menundukkan kepalanya.

Parman pun pingsan kembali.

Pamulang, 1 Juli 2006.
Diilhami dari sebuah kisah fiksi.

Kasmaran (2008)

Suara berisik jam weker membangunkan Toni tepat pukul lima pagi. Tubuhnya masih terasa pegal-pegal. Pekerjaan audit kemarin sangat melelahkannya. Ratusan lembar dokumen ia lahap dan dipelajari dengan penuh ketelitian. Pagi itu ia baru tidur selama tiga setengah jam, dan ia harus segera berangkat kembali ke kantornya di daerah Sudirman. Setelah mandi dan sholat subuh, ia mulai menyetrika pakaian kerja. Baju lengan panjang bermotif garis-garis kecil berwarna biru adalah favoritnya. Pagi itu ia menyeduh teh tarik instan dan memasak makanan instan yang dimasak dengan microwave. Setelah sarapan, tepat pukul enam ia menuju Stasiun Sudimara untuk naik kereta Sudirman Express dengan sebuah angkot berwarna putih.

“AC satu, Pak,” kata Toni sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan kepada penjaga loket.

Diambilnya kembalian tiket sebesar dua ribu perak.

“Koran Tempo, Boss?”. Seorang anak berusia 8 tahunan menjajakan koran edisi kereta api. Koran yang biasanya dijual dua ribu lima ratus perak, dibandrol cuma seribu. Toni mengambilnya satu dan menyerahkan selembar uang ribuan kepada anak kecil itu.

“Pak… sedekahnya… Pak..”. Seorang ibu berusia senja duduk di dekat peron jalur 2 mengharapkan belas kasihan orang-orang yang melewatinya. Toni tak kuasa melewati pengemis tua itu tanpa memberinya sedekah. Selembar uang ribuan yang tersisa dari pembelian tiket ia berikan kepada ibu tua tadi.

“Alhamdulillah…. makasih Pak… Banyak rezekinya ya Pak…,” kata sang pengemis sambil menangkupkan kedua tangannya.

“Aamiiin..”. Toni tersenyum sedikit lalu melangkah untuk mengambil sebuah sudut di jalur dua. Orang-orang telah berdiri menunggu kereta tiba. Ada yang mendengarkan iPod, ada yang membaca koran, ada yang bersenda gurau dengan teman-temannya, dan ada yang terkantuk-kantuk duduk di kursi tunggu yang sempit itu.Toni mulai membentangkan koran yang baru dibelinya. Matanya menyapu headlines, mencari-cari sensasi berita pagi itu. Beritanya masih seputar perselisihan rumah tangga Halimah dan Bambang. Ia merasa bosan dengan berita semacam itu. Ketika halaman dua ia buka, terdengar suara dari pengeras suara.

“Perhatian-perhatian! Jalur dua segera masuk kereta Sudirman Express. Kepada yang belum membeli tiket harap segera membelinya di loket. Pedagang asongan mohon tidak menghalangi jalan para penumpang. Hati-hati dengan barang bawaan Anda, jangan sampai tertinggal di kereta. Selamat pagi dan selamat beraktivitas.”

Setelah kereta berhenti, Toni melipat korannya dan melangkah masuk ke gerbong ketiga. Ia memilih duduk dekat pintu. Pandangannya menyapu isi gerbong yang ia naiki. Ada lelaki yang asyik berSMS dengan dopodnya, ada yang tidur sambil mendengarkan musik, namun kebanyakan membaca koran. Toni melanjutkan penjelajahan matanya ke samping kanan. Matanya terhenti pada seorang wanita cantik yang duduk di arah jam dua. Wanita itu berusia sekitar dua puluh limaan, dengan kulit putih dan hidung agak mancung. Ia tengah mendengarkan lagu melalui earphone yang ia kenakan. Handphonenya Nokia N70. Toni juga melirik jam tangan yang dikenakan wanita itu. Tampak elegan. Make upnya tidak terlalu kentara, namun wajahnya sangat khas bukan wajah asli Indonesia. Ada sedikit blush on meronakan pipinya. Ia menduga wanita itu ada darah Pakistan atau Arab. Ia tak yakin sepenuhnya. Satu hal yang pasti, wajahnya cantik sekali.

“Damn.. beautiful!” bisiknya dalam hati, lalu ia mencoba membuka kembali korannya. Hampir setiap ia berganti halaman, koran yang ia pegang ia rendahkan agar wajah manis itu kembali dilihatnya. Sesekali mata mereka beradu, dan dengan cepat Toni segera kembali membaca korannya dengan malu. Di usianya yang ke dua puluh sembilan ini, Tony sedang mengalami apa yang disebut dengan vacuum of love, alias kekosongan cinta. Dia pernah jatuh cinta dengan tiga wanita, namun semuanya kandas di tengah jalan karena perbedaan prinsip. Well, it has been a year since love left him. Dan entah kenapa ia rindu pada perasaan yang dulu. Sudah waktunya ia menikah. Dan setiap kali ia melihat wanita yang memberikan sedikit chemistry, harapannya untuk menutup kegagalan sebelumnya muncul kembali. Ia teringat pada salah seorang sahabatnya, Wisnu. Wisnu bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta, tidak jauh dari tempat Toni bekerja.

“Ton, betah amat sih lo ngejomblo?”, tanya Wisnu suatu saat di salah satu gerbong Sudirman Express.

“Betah? Siapa juga yang betah, Wis? Gue juga lagi usaha. Belum sukses aja.”

“Makanya jangan terlalu sempurna kriteria elo. Manusia itu gak ada yang sempurna, Ton!”

“Emangnya gue ngrasa malekat, apa? Ya nggak lah, Wis. Kriteria gue biasa aja. Seperti sebagian besar lelaki normal. Yang gue lihat pertama kali adalah fisik. Gue gak mau muna. Pertama dia mesti tipe gue banget. Kedua, setelah kenal dekat, gue jajaki lebih dalam kepribadiannya.”

“Mobil pribadi, rumah pribadi?” potong Wisnu sambil nyengir kuda. Padahal kuda saja mungkin tersinggung dimirip-miripkan sama Wisnu.

“Ya.. gue sih kagak nolak, kalau mertua gue emang tajir. Habis gue mesti gimana? Nolak cinta cewek gue? Kan gak mungkin, Wis? Gue mesti belajar menerima dia apa adanya. Kalau emang tajir, ya gue terima. Kalau miskin, ya gue pikir-pikir..”

“Anjrit! Matre lo ternyata!”

Berhentinya kereta di Stasiun Dukuh Atas membuyarkan lamunan Toni. Ia segera keluar dari kereta dan berjalan tepat di depan wanita cantik yang tadi duduk di depannya. Begitu sebuah metromini menjemputnya, ia segera naik dan diikuti wanita itu, yang kita sebut saja, Jane Doe. Rupanya Jane juga naik ke dalam metromini tersebut. Tiba-tiba punggung Toni merasa terdorong. Jane tersandung tangga naik dan tubuhnya terhuyung ke punggung Toni. Dengan sigap Toni menangkap kedua tangan Jane lalu menjaganya sesaat agar seimbang. Jane merasa sangat malu dengan kejadian itu dan meminta maaf.

“Maaf, saya tidak sengaja”.

“Ah tidak apa-apa”. Toni mencoba tersenyum.

Si Jane turun di halte Gedung BCA sedangkan Toni di dekat Wisma Metropolitan. Ia masih menyimpan wajah manis Jane, dan ia tidak berencana menghapusnya cepat-cepat dari kepalanya. Tepat jam lima sore, Toni mengemasi laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas punggungnya yang berwarna hitam.

“San, gue duluan ya!” pamit Toni kepada resepsionis di kantornya, Santi.

 “TT DJ, Pak. Dedi Dores,” jawab Santi.
 “Dedi Dores? Apaan tuh? Kalau TT DJ kan ati-ati di jalan. Lah Dedi Dores?” tanya Toni.
 “Dengan diiringi doa restu, Pak. Hihihi..” jawab Santi sambil cekikan.

“Oooo… kamu ada-ada saja..,” kata Toni sambil garuk-garuk kepala. Emang gatel sih, soalnya Toni memang agak jarang keramas.

 “Rhoma Irama, Pak!” sahut Santi lagi.
 “Hah? Apa lagi, tuh?” tanya Toni.
 “Penyanyi dangdut! Xixixi..” Santi tambah bahagia bisa meng-KO Toni.

“Sial! Ya udah.. pamit dulu! Assalamu ‘alaikum!” pamit Toni sambil menahan rasa malu dan rasa gelinya.

“Wa’alaikum salam. Jangan sewot, ya Pak!” kata Santi.

Toni menyeberang melalui jembatan penyeberangan dan menunggu bis yang bisa membawanya ke Stasiun Dukuh Atas. Ia melirik jam tangannya, 5 lewat 12. Tidak berapa lama kemudian ia telah turun di jembatan Dukuh Atas dan berjalan menuju ke loket stasiun. Setelah mengantongi karcis ia berjalan menuju peron di dekat penjual Pempek. Terdengar suara pengumuman dari bagian informasi.

“Kereta AC jurusan Serpong, Sudimara, dan Pondok Ranji, jam keberangkatan 17:31, keretanya masih berada di Pasar Minggu menuju Manggarai.”

Terdengar keluhan dari beberapa calon penumpang. Entah sampai kapan nasib perkeretaapian kita menjadi lebih baik. Tidak seperti di Jepang yang lewat 1 menit saja sudah merupakan dosa besar.

Toni mendengar perutnya berkeruyuk minta diisi. Ia menoleh ke belakang, dan memesan 1 porsi pempek.

“Kapal selam dong Mbak. Jangan pedes,” pinta Toni.

“Pakai mie nggak, Pak?” tanya sang penjual.

“Emm.. nggak usah deh. Tapi pake ebi.”

Tidak berapa lama kemudian kapal selam itu telah memenuhi lambung Toni. Ia memesan teh botol sosro dingin dan langsung menyedotnya. Ia ingat pesan komersial di TV, “Apapun makanannya, minumannya Teh Botol Sosro”.

Sambil menunggu kereta datang, pandangannya menyapu isi peron. Calon penumpang ada yang berdiri, memilih dvd bajakan, mengobrol, merokok sambil membaca koran, dan ada pula yang duduk setia menunggu datangnya kereta.

“Kereta Sudirman Express masuk jalur satu, penumpang harap mempersiapkan diri. Pedagang asongan harap memberi jalan, jangan menghalangi calon penumpang,” terdengar pengumuman dari pengeras suara stasiun.

Toni memasuki gerbong dengan agak berebut. Untunglah ia masih bisa mendapatkan tempat duduk. Ia mulai mengeluarkan koran yang tadi pagi ia beli. Betapa terkejutnya ia, ternyata Jane berdiri tepat di depannya sambil memegang tiang kereta di dekatnya. Toni bergegas berdiri dan mempersilakan Jane untuk duduk.

“Silakan duduk, Mbak,” kata Toni sambil berdiri.

“Terima kasih, Mas,” jawab Si Jane tersenyum dan duduk di tempat duduk Toni.

Toni berdiri dan meletakkan tas punggungnya di bagasi atas. Ia tidak menyangka kalau sore ini ia akan berada di gerbong yang sama dengan bidadari yang ia jumpai tadi pagi.

“Memang kalau sudah rezeki, tidak kemana,” kata Toni dalam hatinya.

“Mbak turun di mana?”

“Sudah punya pacar atau belum?”

“Mau nggak jadi pacar saya?” tanya Toni kepada Jane. Tentu saja dalam khayalannya. Mana mungkin Toni seberani itu. Ia tidak punya nyali, bahkan untuk menanyakan di stasiun mana Jane akan turun. Hingga mereka berdua turun di Stasiun Sudimara, tak ada percakapan yang Toni sangat harapkan. Keduanya membisu. Jane asyik mengetik SMS ketika duduk di kereta tadi, sedangkan Toni, seperti tadi pagi, mencuri pandang kepada Si Jane setiap lima menit.

Di rumah, selepas Isya, Toni berbaring di atas tempat tidurnya dan memandang langit-langit. Wajah Jane bertebaran di mana-mana. Di bantalnya, guling, korden, tembok, semuanya seolah-olah tertempel wajah Jane. Senyumnya. Wajahnya. Semuanya membuatnya ia susah tidur. Pikirannya sibuk mencari cara agar ia bisa berkomunikasi dengan Jane. Namun tak ada satupun ide yang muncul di kepalanya. Akhirnya ia mendapatkan sebuah ide gila. Ia akan memberikan sebuah surat dalam amplop tertutup dan akan ia serahkan sebelum mereka berpisah di pagi hari atau ketika pulang dari kantor. Ia akan mencoba memperkenalkan dirinya melalui surat itu. Ia tidak peduli kalau Jane langsung membuang surat itu atau membacanya dan tidak menghiraukannya. Setidaknya ia telah berusaha!

Wait wait wait… Gila apa? Menyerahkan surat secara langsung? Iya kalau diterima. Kalau nggak? Tengsin banget nih. Hmm… Toni terus berpikir dan berpikir.

“Harus aku masukkan secara diam-diam ke tas besarnya dari belakang atau pas dia duduk!” batin Toni. “Yes!! Pasti dia akan membaca suratku, tanpa aku beresiko ketahuan,” pikir Toni sambil mulai memejamkan matanya. Toni akhirnya terlelap dengan amplop putih di perutnya.

Percobaan hari pertama. Toni kesiangan. Ia naik kereta kedua. Jane sudah berangkat.

Percobaan hari kedua. Satu gerbong dengan Jane, tetapi Amplop ketinggalan.

Percobaan hari ketiga. Kereta ditiadakan. Banjir di Kampung Bandan. Toni naik bus dari Ciputat. Jane? Meneketehe.

Percobaan hari keempat. Amplop terbawa angin, jatuh di bawah peron. It was so close.

Percobaan hari kelima. Jane tidak muncul. Mungkin cuti, mungkin sakit. Dunno. Mbuh, ra’ ngerti.

Percobaan hari keenam. Toni kehilangan nyali. Toni mulai ragu dengan rencananya.

Percobaan hari ketujuh. Jane tidak membawa tas sama sekali. Toni putus asa. Ia tidak mengira rencananya akan gatot, gagal total. Padahal tadi pagi ia melangkah bak Gatotkaca yang gagah perkasa, otot kawat tulang beton. Sekarang ia merasa sendi-sendinya seperti krupuk kena kuah.

Di kantornya, Toni gelisah. Bukan geli-geli basah. Kalau itu digelitikin sambil diguyur air. Ia terus memikirkan Jane Doenya. The angel. The masterpiece. The beauty. Is this love? Or is this lust? Duh Gusti, what happen to me, aya naon?

“Ton, meeting bentar yuk. Di ruang rapat besar. Ada tamu dari PT. Effection, mau membicarakan tentang pengembangan aplikasi Akuntansi di tempat kita.” ajak Ridwan, boss Toni.

“Baik, Pak. Saya ke toilet sebentar.”

Toni membasuh wajahnya dengan air. Ia mencoba menghilangkan eskpresi wajahnya yang bete karena memikirkan Jane Doe. Tidak berapa lama kemudian Toni memasuki ruangan meeting. Tempatnya sangat cozy. Meja berbentuk persegi empat dari kayu jati, whiteboard, LCD proyektor, dan beberapa lukisan Basuki Abdullah mengisi ruangan meeting itu.

“Pak Andi, Bu Riska, kenalkan ini Toni, yang akan menemani Bapak dan Ibu dalam membahas aplikasi Akuntansi yang akan kita kembangkan,” kata Ridwan, “Toni, ini Pak Andi dan Bu Riska dari PT. Effection.”

“Andi.”

“Toni.”

“Riska.”

“… ee.. Toni,” jawab Toni gelagapan. Ia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Jane Doe adalah Riska. Riska adalah Jane Doe.

“Ibu Riska yang sering naik kereta dari Sudimara, ya?” tanya Toni berbasa-basi. Basi deh.

“I. Iya.. Pak Toni juga naik kereta, ya?” Riska balik bertanya.

“Loh.. sudah saling kenal rupanya?” Ridwan meningkahi mereka.

“Oh nggak, Pak. Kebetulan hampir setiap hari kami satu kereta.” jelas Toni.

“Wah bagus sekali kalau begitu. Bisa diskusi setiap hari dong? Pagi, Siang dan Sore?” goda Pak Andi.

“Ah Pak Andi bisa saja,” kata Jane Doe eh Riska malu-mau.

“Bisa-bisa pekerjaan kita jadi cepat selesai.” kata Ridwan sambil menepuk bahu Toni.

Tiga bulan berlalu. Riska dan Toni menjadi dekat satu sama lain. Kini Toni punya alasan untuk bercakap-cakap dengan pujaan hatinya. Mereka selalu berdua, pagi dan sore di stasiun kereta. Penjual kacang dan siomay menjadi saksi kedekatan mereka. Hingga akhirnya mereka menikah satu tahun berikutnya. Riska menjadi Ibu Rumah Tangga, berhenti dari pekerjaannya, sedangkan Toni tetap bekerja. The same company, the same transportation.

Suatu pagi, dua tahun kemudian, Toni melihat seorang wanita, duduk di arah jam tiga dari tempat duduknya. Wanita itu berusia sekitar dua puluh limaan, dengan kulit putih dan hidung agak mancung. Ia tengah mendengarkan lagu melalui earphone yang ia kenakan. Handphonenya Nokia, serinya tidak ia kenali. Toni juga melirik jam tangan yang dikenakan wanita itu. Tampak elegan. Make upnya tidak terlalu kentara, namun wajahnya sangat khas wajah asli Indonesia. Ada sedikit blush on meronakan pipinya. Ia menduga wanita itu berdarah Sunda atau Jawa. Ia tak yakin sepenuhnya. Satu hal yang pasti, wajahnya cantik sekali.

Malamnya, Toni tertidur dengan amplop putih berisi surat, ia taruh di bawah bantalnya.
Pamulang, Januari 2008.