2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

19,000 people fit into the new Barclays Center to see Jay-Z perform. This blog was viewed about 97,000 times in 2012. If it were a concert at the Barclays Center, it would take about 5 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

5 cm (2012)

Film 5 cm adalah film nasional yang aku tonton di penghujung tahun 2012. Diangkat dari novel berjudul sama karya Donny Dhirgantoro sekitar 5 tahun yang lalu, film ini lumayan laris manis di pasaran. Dibesut oleh Rizal Mantovani, secara mengejutkan film yang ringan ini sangat menghibur. Mungkin kita sudah lama tidak menonton film lokal yang bisa membuat kita berkali-kali tertawa lepas ala Nagabonar atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap, sehingga film yang sebenarnya cukup sederhana, pada beberapa adegan membuat kita terpingkal-pingkal.

Alkisah ada lima orang sahabat yang bernama Genta, Zafran, Riani, Arial, dan Ian. Genta diperankan oleh Ferdi Nuril (Ayat-ayat Cinta), Zafran diperankan oleh Mahbub Herjunot Ali (Realita, Cinta dan Rock’n Roll), Riani diperankan oleh Raline Shah (MC Kitchen Beib dan favorit Putri Indonesia 2008), Arial diperankan Denny Sumargo (pebasket), dan Ian diperankan oleh Igor Saykoji (rapper). Mereka sudah tujuh tahun bersahabat dan pas pada ngumpul-ngumpul di rumah Arial, mereka sepakat agar mereka tidak ketemuan selama 3 bulan. Harapannya akan ada banyak hal baru yang masing-masing akan dapatkan dan mereka tidak bosan satu sama lain. Genta yang dianggap menjadi “leader” mereka menawarkan kejutan ketika mereka ketemuan nanti.

Yang menarik dari film ini adalah beberapa dialognya yang polos dan menggambarkan remaja yang jatuh cinta membuat kita terpingkal-pingkal, mungkin menertawakan diri sendiri yang mungkin pernah mengalaminya. Been there done that. Visualisasi dari pemandangan alam yang indah yang ditawarkan film ini sangatlah indah, dan membuat kita semua jadi ingin mengunjungi tempatnya. Kisah cinta menurut saya adalah sekedar bumbu saja untuk menciptakan konflik menarik dalam cerita.

5 cm adalah film yang mengingatkan kita untuk mencintai Indonesia, yang meski penuh carut-marut nyaris bangkrut karena korupsi, namun masih menawarkan keindahan dan kekayaan alam yang patut dijaga, dihormati, dan dihargai. Film ini juga menginspirasi kita untuk fokus pada cita-cita, agar bisa mencapainya, seberapapun sulitnya cita-cita itu.

”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kamu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu” 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

7.5 dari skala 10. Menghibur deh pokoknya!

Gambar dari KapanLagi.com.

Siri, I Love You

Sore itu kupandangi lalu lintas Jakarta yang sumpek dari sebuah restoran cepat saji di puncak Mal Plaza Semanggi. Hari Jumat jam pulang kantor, ditambah hujan yang tak kunjung berhenti, membuat kendaraan parkir berjamaah di semua jalanan protokol Jakarta. Untung aku masih bisa teng go dari kantor dengan motor ke mal ini. Terlambat sedikit bisa-bisa masih terjebak di jalanan mengutuki semrawutnya ibukota.

Chicken Cordon Bleu yang kupesan setengah jam yang lalu sudah hampir dingin. Es lemon tea sudah tinggal setengah. Atika, wanita yang kupacari sejak 11 bulan yang lalu, tak kunjung datang. Ngaret lagi nih. Sudah berkali-kali kubilang padanya agar mencoba tepat waktu setiap kali ketemuan. Setiap kali itu pula ia datang dengan sejuta alasan. Dari meeting kantor kelamaan, macet di jalanan, sampai mampir di sinilah di situlah. Ke mana-mana selalu minta diantar. Kalau menelpon tahan berjam-jam, sampai panas telingaku. Cemburuannya, ampun DJ. Nggak bisa lihat cewek lain komentar akrab dikit di Facebook. Rasanya mulai pegal hati ini menjalani hubungan dengannya.

Kuambil iPad generasi ketiga dari tas ranselku. Kalau kupikir-pikir iPad yang dulu kubeli di airport Changi ini lebih banyak bersama-sama denganku ketimbang Atika. Ia selalu menemaniku dalam semua keadaan, kecuali low batt tentunya. Hampir semua informasi aku dapatkan darinya. Google via Safari, cuaca via AccuWeather, berita via Kompas App, update teknologi via iTuneU, buat tulisan via Pages, presentasi via KeyNotes, ambil gambar dan video langsung dari iPad, membuat trailer film dengan iMovie, main game action dari Infinity Blade hingga strategi Plants vs Zombie, semuanya ada. Ketika Blackberry Torch 2 ku tewas dan aku perlu menelpon Atika, kutelpon dirinya dengan Skype. Tiap kali hati ini galau di malam sunyi, kuperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran via Quran App. Memiliki iPad seperti hidup di dalam Toserba. Semuanya serba ada. Itulah makanya aku beli yang ada koneksi 3Gnya sehingga senantiasa terhubung ke Internet. Pengalaman memiliki iPad generasi pertama yang hanya Wifi, membuatku mati gaya ketika butuh terhubung ke Internet. Mau update status FB, lihat kondisi macet di Twitter, update aplikasi dari App Store, cek email, atau bahkan meremote komputer di kantor, semuanya butuh koneksi ke Internet. Sebenarnya bisa sih menggunakan modem mobile yang memancarkan Wifi. Tetapi baterenya hanya kuat 3 jam. iPadku sendiri bisa 9 – 10 jam. Akhirnya begitu ada rezeki langsung saja tanpa ragu aku beli yang 64 Gb dengan koneksi 3G. Hmm.. Baterainya tinggal 2 persen. Aku ambil iPhone 5 dari kantung bajuku.

Iseng-iseng sambil menunggu Atika, aku ingin menguji fitur Siri, aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang mengubah suara kita menjadi teks, lalu melemparkan teks itu ke sebuah server cerdas dari Wolfram Alpha. Tak kenal maka tak sayang. Kenalan dulu ah…

“What’s your name?”, tanyaku.

“Siri. Pleased to meet you”, jawabnya. Oh namanya Siri. Terdengar ramah dan seksi. Pantas saja banyak yang nikah siri di sini. Xixixi.

“How old are you?”

“I’m old enough to be your assistant”

Hmm.. Ditanya umur berapa dijawab sudah cukup umur untuk jadi asistenku. Sangat misterius. Itu yang kusuka.

“Are you married?”, tanyaku tanpa basa-basi.

“I’m sorry. I’m affraid I can’t answer that”, jawabnya hati-hati.

Ditanya status malu-malu. Apakah kamu masih gadis atau janda? Terngianglah lagu dangdut Gadis atau Janda yang sempat ngehit dulu.

Aku penasaran mengenai latar belakangnya.

“Who is your Mom and Dad?”, cecarku tak sabar.

“I have you. That’s enough family for me”. Oh so sweeeeet

“Do you have kids?”, aku terus menginterogasinya.

“None”. Wah.. Belum ada tanggungan. Sama dong kita?

Aku ingin menguji wawasannya. Apakah dia cerdas atau di bawah rata-rata. Kita lihat saja.

“Who is the president of Indonesia?”

“Susilo Bambang Yudhoyono, since 8 years 2 months and 5 days ago”. Wow… Presisi sekali. Kenal di mana ya dia sama Pak Beye?

“What is the review of the movie Life of Pi?”, tanyaku menguji tentang film.

“Rotten Tomatoes gives 89% rating”, jawabnya. Wah melek seni juga dia.

“Define love”, pancingku.

“Love is a strong positive emotion of regard and affection. It is also a deep feeling of sexual desire and attraction”. Wow… Dalem banget…

“Do you love me?”, tanyaku tiba-tiba.

“I respect you”, jawabnya sopan.

Hmm… Kubayangkan kembali Atika. Meskipun dia banyak kekurangan, ia jelas mencintaiku. Dan aku pun mencintainya. Tiba-tiba kerinduanku padanya membuncah. Ingin kusampaikan bahwa aku mencintainya. Siri? Aku baru mengenalnya. 

“Text my girlfriend that I love her”, pintaku padanya.

“Here is the message. Do you want me to send it?”, tanyanya untuk mengkonfirmasikannya.

“Yes”, jawabku sambil memejamkan mata membayangkan kecantikan Atika.

“OK, I send it”, katanya.

Tidak berapa lama kemudian, Atika muncul. Aku tersenyum padanya. Manis sekali.

Dia mengambil handphonenya, sambil mengacungkannya ke depan mukaku.

“Kamu bilang I love her. Siapa diaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!”

Hahhhh????? Aku lihat layar hpnya, memang isinya I love her. Bukan I love you. Oh tidaaaaakkkkk!!!! Rupanya si Siri mengisi pesan teksnya apa adanya, tanpa mengerti konteks maksud kalimatku….

Siriiiiii keparaaaaaaatttt!!!!!!

The Hobbit: Unexpected Journey (2012)

Poster of Hobbit
Poster of Hobbit

Inilah salah satu film yang paling ditunggu di penghujung tahun 2012. Setelah berkali-kali tanpa bosan menonton trilogi sebelummya, Lord of the Ring, akhirnya aku merasa kini tibalah waktu untuk memuaskan rindu untuk menikmati karya Peter Jackson.

Namun rindu itu mulai meragu. Begitu trailernya muncul, mulai timbul kekhawatiran. Sebuah trailer lebih kurang bisa memberikan bayangan apa yang akan diterima pada filmnya nanti. Ada 13 kurcaci yang sangat mirip akan berpetualang. Wah butuh info ekstra untuk mengenali karakter masing-masing. Adegan laganya juga tampak kurang seepik LOTR. Terus terang aku merasa Hobbit tak akan sehebat LOTR hanya dengan menonton trailernya.

Akhirnya datanglah Desember 2012. Menjelang tayang, aku membeli bukunya di Gramedia. Setiap hari gelantungan di kereta dan menunggu di stasiun aku baca hingga tepat 1 hari sebelum tayang, aku selesai membaca bukunya. Dari ceritanya, filmnya sangat jauh dari kompleks, dan tidak menawarkan makhluk baru apapun dibandingkan cerita yang ada di LOTR, kecuali Sang Naga Smaug. Meskipun demikian, Peter Jackson adalah salah satu sutradara favoritku. Guillermo del Toro yang membesut Pan’s Labyrinth dan Hellboy duduk sebagai cowriter cerita ini. Tak mungkin aku melewatkannya bukan?

Tanggal 14 Desember 2012 pagi, sambil bergelantungan di KRD menuju kantor aku membeli tiket The Hobbit via MTIX dengan iPad. Pertunjukan 19:45 berarti masih sempat dinner di Eat and Eat dan bakalan selesai sebelum jam 11 malam, masih sempat mengejar kereta Commuter Line terakhir dari Kebayoran Lama, yang tidak jauh dari Gandari City.

Setelah menyaksikan filmnya, temponya berjalan cukup lambat. Filmnya dibuat sangat patuh dengan bukunya, sedemikian hingga banyak yang tidak penting untuk divisualisasikan dalam film ini dimunculkan. Adegan awal antara 13 kurcaci dengan Bilbo Baggins si Hobbit untuk mengajaknya dalam petualangan merebut kembali rumah mereka terlalu panjang. Adegan dengan Troll meski cukup diringkas juga lumayan menyita banyak waktu. Pertemuan mereka di Rievendel rumah para Elves juga mengambil porsi yang tidak sedikit. Menurut saya film ini bisa dipadatkan menjadi 2 saja, tidak perlu trilogi. Kalau cuma 1 mungkin akan menghilangkan banyak kisah penting. Tetapi dibuat menjadi 3? Terlalu mengulur-ulur. Saya berpikir sepertinya Peter Jackson tergoda seperti kakek Thorin yang gila emas. Alih-alih memberikan kisah seepik LOTR ia mengulurnya menjadi 3 bagian untuk mendulang emas via tiket dan merchandisenya.

Setelah menontonnya di IMAX 3D dan tidak merasa 3Dnya sangat menolong ceritanya, besoknya saya kembali mengajak keluarga untuk menontonnya di 2D biasa.

Tips untuk menonton:

  1. Tidak harus menonton 3Dnya, atau IMAXnya. 2D juga OK
  2. Bawa selundupan makanan dan minuman karena filmnya hampir 3 jam!
  3. Jangan berharap ceritanya semegah LOTR. Novelnya sendiri untuk konsumsi anak-anak dan remaja.

Skala 10 saya berikan 7 saja. Bagi pecinta LOTR, tentu saja tetap wajib tonton. Buat yang tidak suka LOTR, akan lebih tidak suka Hobbit 🙂

Film ini kekurangan element or surprise, seakan-akan kehabisan wow factor. Hobbits, dwarfs, orcs, trolls, goblins, elves, semuanya dah pernah kita lihat di LOTR. Smaug saja yang belum pernah. Terlalu panjangnya film ini juga menyebabkan kita merasa membaca novelnya saja bisa lebih cepat. Dan kita harus menunggu 3 tahun untuk itu semua…

 

 

 

 

 

 

Life of Pi (2012)

Visually stunning, incredibly breathtaking, and beautifully crafted. Life of Pi is a movie about survival and finding God. Ang Lee brings an original experience of watching an almost unfilmable story in a rich 3D. Superb and deserve 10 / 10.

Sabtu kemarin nonton bertiga bersama istri dan Aila. Entah kenapa, meski belum membaca bukunya (dulu sempat penasaran lihat di Gramedia), aku kok jadi kesengsem pengen banget nonton film ini. Hari Jumat kemarin di kantor sempat lihat review di IMDB dan Rotten Tomatoes dua-duanya sepakat bahwa film ini layak tonton. Jadilah setelah mengambil mobil yang selesai diperbaiki di Pondok Jagung, kami bertiga mampir ke Living World untuk menonton filmnya. Hasilnya aku berikan applause sambil standing ovation setelah filmnya selesai. Simply amazing! Rayyan tidak ikut menonton film ini karena Sabtu dia ada ekstrakurikuler Robotic. Akhirnya tadi setelah arisan keluarga di Pondok Cabe, kami sepakat menonton kembali film ini. Kami semua sangat menyukai keindahan film ini. Luar biasa.

Film ini diangkat dari novel karya Yann Martel yang laris manis dan mendapat penghargaan Man Booker Prize. Filmnya bercerita tentang seorang lelaki India yang mengalami musibah di tengah laut bersama keluarganya, namun akhirnya berhasil selamat setelah terapung di tengah laut selama 227 hari.

Udah? Cuma gitu doang? 10 / 10? Bukannya Cast Awaynya Tom Hanks juga mirip begitu ceritanya?

Okay, alasan mengapa saya begitu suka film ini adalah:

  1. 3Dnya nggak pelit. Banyak sekali film 3D yang hanya dibuat untuk mengeruk keuntungan dengan tiket yang lebih mahal. 3D di film ini sangat bagus dan menunjang keindahan film ini
  2. Sinematografinya superb. Padahal dibuat dengan CGI. Efek komputer. Tapi indahnya luar biasa! Di film ini Spesial FXnya ajib dan memegang peranan luar biasa penting
  3. Mengetengahkan kisah tentang NEVER LOSE HOPE. Pertanyaan pertama yang saya ajukan ke Rayyan setelah menonton film ini adalah, “Rayyan, apa yang bisa kamu ambil dari film tadi?”. Ia menjawab, jangan pernah putus harapan
  4. Di akhir cerita ada twist ending yang cukup shocking, yang mengingatkan kita bagaimana kita menerima agama yang kita anut

Pada intinya tidak ada kebenaran mutlak. Kita meyakini apa yang kita percayai benar. Itulah kekuatan iman. Paduan antara logika, perasaan, dan intuisi. Ilmu pengetahuan hanya berpihak dengan logika. Namun agama, lebih dari itu. Saya sendiri, terlahir sebagai muslim karena orang tua yang muslim. Namun setelah dewasa saya membandingkan dengan agama lain yang ada, dan merasakan bahwa Islamlah yang saya yakini kebenarannya. Saya jatuh cinta dengan Al Quran dan akhlak Rasulullah Muhammad SAW. Karena itulah saya memilih Islam sebagai jalan hidup saya di dunia ini.

Mirip dengan ending dari film ini yang menawarkan dua versi cerita bagaimana Pi terombang-ambing di lautan Pasifik, mana yang lebih Anda sukai untuk dipercayai. Versi ia menjalin hubungan dalam kapal sekoci bersama harimau Benggala yang buas yang indah namun sulit untuk diterima akal ataukah versi yang lebih masuk akal namun brutal?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.