Pak Jokowi, Kami Memilih Bapak, tapi….


Assalamu ‘alaikum Wr. Wb..

Pak Jokowi, izinkanlah saya menuliskan sebuah tulisan yang terinspirasi dari tulisan Ustad Salim A. Fillah,  yang tulisannya bisa dibaca di sini.  Mengapa saya menulis tulisan yang sumbernya dari kubu Pak Prabowo, semata-mata karena ada banyak nasehat yang bagus  yang sangat baik dan sebenarnya tepat buat muslim siapapun yang akan memimpin Indonesia, sehingga sebagian tulisan  beliau saya kutip dan saya gabungkan dengan perasaan saya kepada Bapak dalam tulisan ini. Ada juga tulisan beliau  yang saya juga keberatan, saya bahas juga di surat ini.

Terus terang, keislaman saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Ustad Salim. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya, bila saya yang imannya masih seujung kuku ini berani-beraninya menulis tauziah kepada Pak Jokowi, yang sudah naik haji.
Apa alasan saya yang dengan lancangnya menulis tulisan ini?
1. ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan  saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).
2. Salah satu sifat Bapak yang saya sukai adalah Bapak mendengarkan rakyatnya. Karena itu saya berani bicara lewat  tulisan ini, dengan harapan Bapak sudi mendengar dengan membaca tulisan ini.

Bicara masalah haji, saya sendiri belum diberi kesempatan pergi ke Mekah, masih menabung menunggu lunas di salah satu bank Syariah  agar dapat jatah berangkat menjadi tamu Allah SWT. Ketika lunas nanti pun, tidak tahu tahun berapa bisa berangkat.  Saya berharap bila nanti cicilan haji saya sudah lunas dan Bapak yang terpilih menjadi Presiden RI,  Bapak bisa memberantas mafia haji dan Al Quran, sehingga tidak ada lagi:
1. Kitab suci dikorupsi
2. Kasus keracunan makanan di Mekah
3. Penyelewengan dana umat
4. Kuota haji diprioritaskan bagi pejabat dan keluarganya, namun rakyat diharuskan mengantri. Ayah saya yang sudah saya tabungkan hajinya,  sudah keburu meninggal dunia dipanggil Allah SWT sebelum bisa berangkat. Bapak bisa bayangkan perasaan kami dan keluarga, terutama Ibu saya  yang berharap bisa berhaji berdua, kini hilang harapan itu. Saya yakin kalau manajemen haji dibereskan, kuota haji  yang ada akan diberikan secara adil kepada seluruh rakyat, dan tidak hanya memprioritaskan pejabat saja atau yang berharta banyak. Nantinya  untuk berangkat haji tidak perlu menunggu terlalu lama. Haji diprioritaskan bagi yang belum pernah ke Mekah,  kemudian yang pernah umroh tapi belum pernah berhaji, baru kalau sudah tidak ada lagi yang belum pernah berhaji maka  dipersilakan bagi mereka yang ingin mengulang. Toh berhaji itu minimal sekali karena kewajiban telah ditunaikan.

Semoga tulisan ini berkenan di hati Bapak karena simpati saya terhadap Pak Jokowi, sebagaimana Ustad Salim simpati kepada Pak Prabowo.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Bapak, Pak Jokowi, adalah sebuah kesadaran bahwa Bapak bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Bapak ada yang menganggap Bapak lah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Bapak adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Bapak adalah “yang lebih ringan di antara dua mudharat”.

Sebagian rekan-rekan saya yang memilih Pak Prabowo keberatan dengan koalisi yang mengusung Bapak, salah satunya PDIP, yang dianggap mudharatnya tidak bisa dimaafkan. Hal-hal yang tidak dapat dimaafkan itu adalah:
1.  Masalah penghapusan kolom agama di KTP
Pertama, sebenarnya bukan hanya kubu Pak Jokowi yang mendukung penghapusan kolom agama di KTP seperti yang bisa kita baca di  http://www.sayangi.com/politik1/read/24370/bila-terpilih-jokowi-akan-hapus-kolom-agama-di-ktp
namun Rachel Maryam dan Pak Basuki, keduanya dari Gerindra (partai Pak Prabowo), juga setuju dengan penghapusan ini.  http://metro.sindonews.com/read/817789/31/penghapusan-kolom-agama-di-ktp-jangan-dipermasalahkan
Jadi seharusnya Ustad Salim dan pendukung Pak Prabowo tidak semata-mata mengatakan hanya Bapak dan Pak Kalla yang setuju dengan  penghapusan ini.

Bagaimana menurut pendapat saya? Kalau saya lihat di Internet, alasan penghapusan kolom agama di KTP itu karena banyak orang  mendapatkan diskriminasi ketika melamar pekerjaan. Orang tidak jadi diterima begitu ketahuan di KTP agamanya beda dengan yang merekrut.
Sesungguhnya hal ini tidak masuk akal, karena meskipun kolom agama dihapuskan, kalau memang majikannya rasis,
diskriminasi tetap akan terjadi. Saya berikan dua contoh:
1. Anak saya yang bernama Muhammad Rayyan Ramadhan tetap akan dianggap muslim, meski kolom agama KTPnya kosong. Kalau dia melamar  ke perusahaan yang bossnya rasis, dengan melirik nama saja sudah akan ditolak. Terbukti mengosongkan kolom agama tidak efektif  untuk menghilangkan diskriminasi.
2. Nama lengkap saya adalah Harso Ricto Murwoko Hiksma Wisnu Widiarta. Kenapa kok bisa panjang begitu? Tiga kata di depan pemberian  kakek dari Ibu saya, tiga kata di belakangnya diberikan oleh guru ayah saya. Harso Ricto Murwoko itu nama yang Jawa banget, seperti  halnya nama Bapak, Joko Widodo. Bapak saking Solo, inyong wong Tegal. Kalau Wisnu Widiarta itu seperti nama orang Hindu.  Kebetulan beberapa orang menganggap wajah saya mirip keturunan Tionghoa, meskipun saya Jawa asli. Jika saya melamar pekerjaan yang majikannya tidak suka agama Islam, maka pada waktu wawancara saya aman. Ah ini pasti orang Cina blasteran Jawa Bali. Gak mungkin  muslim. Apakah dengan menghilangkan kolom agama Islam di KTP lantas saya aman dari diskriminasi? Tidak, Pak. Hari pertama saja sudah ketahuan saya itu muslim. Pas meeting jam 15:30, saya minta izin untuk sholat Ashar kepada boss saya. Pak, saya izin sholat dulu. Mau ashar. In shaa Allah saya segera kembali setelah sholat. Nah, hari kedua saya bisa langsung dipecat dengan alasan mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan kantor. Terbukti penghapusan kolom agama untuk menghindari diskriminasi di tempat kerja,  tidak efektif.
Sekarang kita bahas, mengapa saya mau kolom agama tetap ada di KTP:
1. Saya bangga dan bersyukur agama saya Islam. Saya bangga menjadi seorang muslim. Saya tidak ada masalah mencantumkan identitas saya  sebagai seorang muslim. Saya tidak takut terkena diskriminasi dalam tempat kerja, karena yang memberi rezeki itu Allah SWT.  Ditolak di satu kantor, bukanlah kiamat. Masih banyak yang mau menerima saya sebagai seorang muslim di tempat kerja.
2. Bapak bayangkan kalau saya misalnya pergi ke sebuah daerah, misalnya ke Manado. Seandainya di sana saya mendapat musibah lalu  meninggal dunia di perjalanan, masyarakat setempat yang menemukan saya waktu akan menguburkan saya pasti akan mencari  informasi di KTP agama saya apa. Kalau agama saya Islam ya saya minta dimakamkan secara muslim.  Buat orang lain yang meninggalnya dikremasi, ya pasti pengen dikremasi. Bayangkan ketika kolom agama dihapus, bisa-bisa saya  dikremasi karena saya dianggap orang Tionghoa.
3. Waktu saya mau menikah dulu, mertua saya yang muslim tentu hanya mau menikahkan anaknya dengan sesama muslim. Nah mereka bisa tahu  segera dengan melihat KTP saya. (Sebenarnya tidak perlu juga. Wong mau masuk saja bilang Assalamu ‘alaikum, hehehe).
4. Agama dalam KTP bisa mengingatkan saya untuk menjaga integritas saya sebagai seorang muslim. Saya tidak mau dianggap agama saya  ISLAM KTP. Artinya, agama ngakunya Islam, tapi kewajiban dalam Islam tidak dipenuhi. Dengan melihat identitas di KTP ini, saya  bisa selalu diingatkan, bahwa saya itu muslim, maka menjadilah muslim yang baik.

Ok, sekarang saya punya usulan jalan tengah. Jangan hapuskan kolom agama di KTP, tapi dibuat opsional saja.
Artinya buat yang mau menuliskan agamanya apa, silakan ditulis di Kelurahan. Yang takut kena diskriminasi, pas waktu ngurus KTP,  bisa minta dikosongkan. Dengan demikian, yang ingin mencantumkan agamanya tetap senang, yang tidak mau juga senang.  Bagaimana pendapat Bapak?

Hal lain sebenarnya seperti kolom tanggal lahir bisa menimbulkan diskriminasi usia. Kolom jenis kelamin bisa menimbulkan  diskriminasi gender. Ada lho Pak orang yang cowok atau cewek gak bisa dibedakan kecuali telanjang. Nah dia bisa menghilangkan kolom gender  demi membebaskan diri dari diskriminasi gender. Terus seperti yang tadi saya sebut masalah nama anak saya. Kalau  namanya bisa mengidentifikasi muslim, dia bisa minta kolom nama dihapus karena bisa ketahuan agamanya apa.  Jadi sebenarnya yang perlu dihilangkan bukan kolom di KTP Pak. Tapi diskriminasinya. Bisa habis nanti kolom KTP dihapusin semua.  Bagaimana pendapat Bapak?

2.  Mengenai Perda Syariah. Saya tidak mengerti mengapa penolakan terhadap Perda Syariah dibebankan menjadi dosa dengan memilih Pak Jokowi  dan Pak Kalla. Mari kita kesampingkan terlebih dahulu apakah Perda Syariah itu bisa diterapkan atau tidak. Jika ada orang PDIP  menolak keras Perda Syariah, maka sebenarnya mungkin saja ada dari partai koalisi Pak Prabowo yang juga tidak setuju.  Perda Syariah sebenarnya kan produk legislatif. Artinya, belum tentu juga saudara kita dari PKS, PKB, dan lainnya akan setuju dengan  pendapat PDIP. Negara kita sudah ada aturannya, bahwa tim legislatif yang akan menentukan apakah Perda Syariah bisa diterapkan atau  tidak. Perda Syariah sunggulah kompleks. Saya sebagai muslim tidak masalah kalau Syariat Islam akan diterapkan di Indonesia sekalipun.
Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang nonmuslim? Apakah mereka harus tunduk aturan yang sama atau tidak? Berlakunya nanti  di semua propinsi atau sebagian saja? Isi Perda Syariah itu apa saja sih?
Sungguh banyak pertanyaan mengenai Perda Syariah ini, namun tergesa-gesa mengkafirkan tim Pak Jokowi dan Pak Kalla hanya gara-gara ini  sesungguhnya kurang tepat. Baik tidaknya Perda Syariah dan bisa tidaknya diterapkan selain di Aceh, kita serahkan saja pada tim  DPR/MPR yang harus membahasnya secara adil dan memikirkan kemaslahatan seluruh Rakyat Indonesia. PDIP bukan mayoritas, semua punya hak yang sama dalam membahas undang-undang ini secara adil.

3.  Pernikahan sejenis. Ini juga undang-undang yang harusnya diproduksi oleh DPR/MPR. PDIP bukanlah mayoritas. Berbeda dengan kasus Perda Syariah, pernikahan sejenis sebaiknya juga dilarang. Pernikahan sejenis itu tidak natural. Jika dilegalkan bisa memusnahkan umat manusia. Coba kalau semuanya lesbian atau homoseksual. Mana ada manusia yang akan terlahir? Karena kita diciptakan lelaki  dan perempuan untuk berpasang-pasangan melahirkan keturunan. (Hewan saja mengerti). Menurut saya, Bapak jadi Presiden atau tidak,  mohon disampaikan kepada rekan-rekan PDIP bahwa lebih penting memberikan hukuman yang super berat kepada koruptor ketimbang  memikirkan undang-undang yang zalim ini. Sekali lagi, saya heran mengapa ada orang PDIP setuju pernikahan sejenis terus  Bapak yang jadi korban? Kebetulan saja memang Bapak diusung oleh PDIP. Jadi Bapak dianggap akan sama dengan PDIP atau disetir oleh
PDIP. Saya percaya Bapak yang muslim akan ingat ayat Quran berikut:

Allah berfirman : Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [QS Al-A’raf:80-84].

Allah menggambarkan Azab yang menimpa kaum nabi Luth : “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” [Hud : 82-83]

Bahkan jika saya tidak salah kutip di Internet, dalam agama Kristen juga dilarang.

Dalam Perjanjian Baru, Roma 1:26-27, Rasul Paulus mengingatkan, bahwa praktik homoseksual adalah sebagian dari bentuk kebejatan moral dunia kafir, dari mana orang-orang kristen sebenarnya telah dibebaskan dan disucikan oleh Kristus.

Dalam Imamat 20:13 berbunyi : ”Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri”. Yang melakukannya diancam dengan hukuman mati.

Saya tahu Pak Jokowi dan Pak Kalla bukan yang menentukan undang-undang ini, namun Bapak berdua bisa memanfaatkan kharisma Bapak  untuk menyampaikan masukan kepada tim legislatif. Saya juga tahu tidak mungkin DPR/MPR meloloskan undang-undang ini, kecuali  Indonesia mau kiamat kena azab Allah SWT. Sekali lagi, saya heran kenapa ada orang nyleneh mengusulkan hal ini, lalu  dosanya ditimpakan kepada Bapak. Ini seperti Pak Jokowi numpang mobil orang lain dari Solo ke Jakarta, ada penumpang yang merokok,  Pak Jokowi yang disalahkan hanya karena satu mobil. Ini tidak adil. Memang banyak teman saya yang menyayangkan mengapa Bapak salah naik mobil. Teman saya bilang, kalau Bapak naik mobil PKS, mereka akan langsung memilih. Hehehe.. padahal semua mobil setahu saya ada masalahnya. Ada yang bau sapi, ada yang bau lumpur, ada yang bau bangunan olah raga, dst. Memang sulit naik mobil jaman sekarang  kalau tidak naik mobil sendiri. Tapi apa daya, syarat ke Istana sekarang harus naik mobil, ya Pak?

4.  Pengalaman masa lalu penjualan aset-aset bangsa. Saya juga bingung kenapa Bapak yang disalahkan. Lha wong bukan Bapak yang  menjualnya. Urusan saat ini adalah bagaimana kita sebagai negara memiliki banyak aset, termasuk kekayaan alamnya. Setahu saya  Bapak berjanji untuk membereskan korupsi, meningkatkan ekspor, dan mengurangi impor. In shaa Allah dengan hal ini, aset kita  yang dilepas lambat laun bisa kita ambil kembali. Man jadda wa jada. Optimis!

5.  Mengenai pencabutan tata izin pendirian rumah ibadah, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang  tangannya berlumuran darah ummat, saya tidak tahu yang dimaksud Ustad Salim itu detailnya bagaimana, tapi saya tetap tidak mengerti mengapa Bapak yang jadi korbannya. Kalau masalah undang-undang, sudah ada yang mengurusnya. Intinya kalau UUnya ngawur pasti tidak  akan lolos di DPR/MPR, kecuali semuanya ngawur. Kalau mengenai purna prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat, bagaimana  dengan pihak Pak Prabowo? Dulu Pak Amien Rais kan mendesak agar Pak Prabowo disidang agar jelas siapa yang salah pas kasus 1998. Sekali lagi, ini juga salah alamat kalau ditujukan kepada Bapak, karena Bapak punya track record welas asih di Solo, mengutamakan dialog,  dan tidak pernah menculik orang lain – entah korbannya hidup atau mati.
Bapak lebih suka dialog dan makan siang ketimbang pakai kekerasan. BTW, saya kepengen banget makan siang sama Bapak.  Saya yang traktir deh Pak. Saya sebenarnya juga kepengen makan siang sama Pak Prabowo, tapi terus terang saya takut. Kalau sama Bapak saya tidak takut. Bapak bisa menjadi ayah angkat saya karena ayah saya sudah meninggal.
Saya butuh belajar banyak dengan Bapak mengenai teknik komunikasi tanpa emosi. Itu ilmu yang sulit loh Pak.
Saya mau kursus sama Bapak. Oh ya, kalau Bapak butuh bantuan teknologi informasi, saya kebetulan lulusan dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Jadi kalau Bapak butuh masukan tentang IT dari saya, silakan hubungi saya Pak. In shaa Allah, jika itu  untuk Bangsa Indonesia, saya akan GRATISKAN. Saya akan sedekahkan ilmu saya untuk negara Indonesia. Saya ingin turun tangan,  bukan urun angan (seperti kata Pak Anis Baswedan). Sekedar informasi, saya suka membuat aplikasi gratis buat masyarakat Indonesia. Sudah ada aplikasi yang saya buat, lalu saya sedekahkan gratis di Internet. Pertama aplikasi SISURAT (Sistem Informasi Persuratan), alhamdulillah sudah didownload ratusan kali, dulu saya buat untuk membantu istri saya di kantornya di Departemen Pendidikan Nasional, tapi tidak jadi dipakai istri saya akhirnya saya taruh di Internet. Saya juga membuat aplikasi Posyandu gratis yang sudah diunduh  ratusan kali di seluruh Indonesia. Saya ingin memberikan sesuatu buat bangsa sebagai amal ibadah saya. Kalau saya meninggal kelak,
saya berharap saya masih dapat pahalanya dari sedekah ilmu. Nah untuk membangun Bangsa Indonesia, jika Bapak butuh masukan tentang  IT, Bapak bisa dapat konsultasi gratis dari saya. Saya tidak janji bisa selesai dalam waktu 2 minggu ya Pak, kita mesti bahas speknya  dulu. Karena saya takut kalau speknya luas, bisa jadi 2 minggu terlalu singkat. Kan software itu setidaknya harus melalui tahap:
1. Pembahasan ruang lingkup project
2. Perancangan teknis sistemnya (arsitektur, diagram alur, algoritma, basisdata, dst)
3. Pengembangan aplikasinya (programming dan unit testing)
4. Validasi program (System Integration Test dan User Acceptance Test)
5. Perbaikan kesalahan program
6. Uji coba program (piloting)
7. Implementasi
8. Evaluasi dan pengawasan
9. Manajemen Pengubahan (pengembangan ke versi berikutnya, penyempurnaan, perbaikan bugs, dsb)
Kebetulan saya pengalaman jadi Project Manager sekitar 10 tahun. Kalau Bapak kan pengalaman blusukan dan komunikasi.  Saya yakin banyak yang mau membantu Bapak di bidangnya masing-masing untuk
mewujudukan Indonesia Hebat, Indonesia Bermartabat, Indonesia Cerdas, Indonesia Berakhlak Mulia, dan Indonesia Merdeka.  Acara Gerak Cepat dan konser GBK adalah salah satu bentuk niat kami untuk bekerja bersama-sama dengan Bapak membenahi Indonesia.  Bismillah, man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, in shaa Allah akan mendapatkannya.

Kembali kepada rencana Bapak menjadi Presiden RI…

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Bapak, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia.  Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari penghargaan dan track record Bapak. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Bapak adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql (Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Jokowi, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Jokowi, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Bapak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Bapak. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Bapak. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Bapak, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Bapak, belajarlah dari mereka; hingga Bapak kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggan memangsa domba. Pak Jokowi, sekali lagi, kami memilih Bapak bukan semata karena diri pribadi Bapak. Maka pilihlah untuk membantu urusan Bapak nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Bapak di akhirat.

Tapi kalaupun Bapak tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tidak harus menjadi Presiden. Tetaplah bekerja untuk Jakarta dengan segala yang Bapak bisa, sejauh yang Bapak mampu, bersama Pak Ahok, meskipun akan sulit kalau Pak Prabowo yang jadi Presiden 🙂 Bapak bisa mati gaya.
Tapi niatkan ibadah ya Pak. Tidak jadi Presiden, yang penting bisa menginspirasikan Rakyat Indonesia untuk berubah. Untuk berhijrah.  Untuk melakukan revolusi mental. Mental korupsi menjadi mental amanah. Kalau Bapak kembali jadi Gubernur, tawaran saya untuk membangun  Jakarta melalui IT secara gratis, tetap berlaku Pak. Adalah suatu kehormatan buat saya bisa bekerja untuk negara bersama Bapak.  Bersama Pak Anis Baswedan. Bersama Pak Jusuf Kalla. Kami rindu memeras otak dan keringat buat negara bersama orang-orang hebat seperti Bapak.  Orang-orang yang ikhlas dikuyo-kuyo. Orang yang tabah difitnah dan dizalimi. Ayuk Pak, kita bangun bangsa ini. Dari Istana atau Balikota.
Tidak masalah banyak digagalkan oleh mentri dan kepala pemerintahan daerah lain. Tugas kita adalah menyempurnakan ikhtiar.  Allah SWT yang akan mencatat semua amal perbuatan kita, berhasil atau gagal. Mari kita ikhlaskan demi negara.

Sungguh Bapak terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Bapak terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Bapak berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Bapak terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Bapak. Sibuk mengingatkan Bapak tentang janji Bapak. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Bapak jika bengkok. Sibuk menuntut Bapak jika berkelit. Jika perlu kami akan turun ke jalan, menurunkan Bapak dari kursi kepresidenan, jika Bapak yang sudah duduk, lupa berdiri.  Lupa blusukan. Lupa melakukan revolusi mental, tapi malah revolusi gagal.

Inilah kami. Kami memilih Bapak, Pak Jokowi, tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Bapak, Pak Jokowi.
Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

Iklan

Posted on Juli 7, 2014, in Kontemplasi and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 40 Komentar.

  1. Tentang 1 s/d 5, seperti barang basi yg terus menerus disajikan ke publik. Indonesia adalah negara hukum, semua berdasarkan UU atau UUD. Ada mekanisme ketika membuat suatu aturan dan bisa digugat di MA atau MK. Dulu PDI-P pun pernah memimpin negeri ini, apa kekhawatiran soal agama itu terjadi? Di musim Pilpres ini agama hanya jadi barang dagangan semata. Agama ada buat dilaksanakan, misalnya memberantas korupsi dan menyejahterakan masyarakat. Koalisi Prabowo adalah koalisi para penjahat dan koruptor. Jokowi adalah harga mati.

    • Seperti terlalu didramatisir ya?

    • Mas Wisnu, catatan bagus. Cukup komprehensif dan kritis. Semoga dibaca Pak Jokowi dan Pak JK. Untuk komen Mas Oguds, agar sebanding dengan tulisan Mas Wisnu, tolong dibuatkan metode SWOT atas kedua capres itu. Jadi tidak hanya dengan kata “Koalisi Prabowo adalah koalisi para penjahat dan koruptor”.Sangat kurang lengkap dan tak berimbang kalau cuma begitu. Misalnya, dalam SWOT itu disebutkan: Apa partai Pak Jokowi dan Pak JK dan siapa partai koalisinya dan apa kebaikan dan keburukannya partai-partai (tokohnya). Siapa pula partai koaliasi Pak PS dan pak Hatta dan apa kebaikan dan keburukan tokohnya Saya kira ini penting agar ada pencerahan buat massa mengambang yang belum menentukan pilihan. Bahkan, bila SWOT itu baik dan akurat, tak mustahil saya yang simpatisan PS/Hatta akan berpindah hati. Dan ini pasti akan menjadi pendidikan politik yang mencerahkan dibanding dengan asal main hujat yang dasar faktanya hanya bersumber dari “katanya…katanya…katanya”…Wassalam.

  2. Cuman mau komentar yang bagian kolom agama saja.
    Yang rentan diskriminasi itu sebenarnya justru yang non-muslim. Contoh lo di sini menurut gw ga terlalu relevan. Warga yang agamanya kepercayaan itu sudah banyak ceritanya dipersulit saat mengurus dokumen kependudukan. Kalau dihilangkan saja IMO malah bikin orang bertanya2, kenapa sampai dikosongkan, dan akan timbul dugaan yang ke mana2.
    Soal kalau kita nanti meninggal, menurut gw bisa ditanyakan ke next of kin dari yang meninggal. Lagian kalau meninggal di luar kota jenazahnya biasanya jenazah dikembalikan ke keluarga. Soa

    • Chafid, ngerti bahwa yg lebih rentan adalah non muslim, tapi aku sendiri mengalami diskriminasi. Aku muslim, mayoritad di indonesia, dan ya, aku mengalami diskriminasi. Jadi meskipun mayoritas, masih bisa kena diskriminasi di tengah kelompok komunitas mayoritas. Kalau dikosongkan kan bisa aja aku juga muslim yg gak mau menyebutkan identitas.

      Kasus yang meninggal, kasusnya mereka gagal menemukan next of kin. Nggak ada yg bisa ditanya kecuali lihat ktp.

  3. Tentang Perda Syariah, PKS yang sekarang mengusung Prabowo juga menolak Perda berbasis Syariah ketika mengusung HNW jadi Cagub. Jadi sama, hanya beda formulasinya
    Intinya ingin pihak sebelah mendapat suara atau mengurangi suara lawan
    http://kabarnet.in/…/19/pks-tolak-perda-berbasis-syariah/

    • Ully, terima kasih atas informasinya. Semoga linknya tepercaya dan teman-teman PKS bisa konfirmasi hal ini. Sungguh tidak adil jika Pak Jokowi dan Pak Kalla diserang dengan sesuatu yang mereka juga lakukan.

  4. Tulisan menarik dan seharusnya bisa menjawab keraguan (atau bahkan ketakutan) bahwa jika Jokowi menang maka akan ada gerakan anti Islam. Menurutku, itu paranoid. Lihat saja rekam jejak tiap partai dan orang2-nya. PDIP pernah berkuasa, langsung oleh ketumnya, Megawati. Apa yg terjadi? Apa ada gelombang anti Islam dan komunisme? Ndak. Yg ada sama saja, korupsi dan mafia! Ini musuh besar kita yg nyata di depan mata dan harus kita lawan.

    Kita jangan mau jadi komoditas partai politik yg menjual agama utk raih suara kita. Jangan mau iman kita dikecoh dgn segala sesuatu yg “berbau” Islam tapi sejatinya cuma jualan politik. Lagi2, liat rekam jejak mereka. Saat beberapa tokoh “partai Islam” berkuasa di daerah, apa yg telah mereka lakukan? Mampu sejahterakan ummat? Mampu cerdaskan ummat? Bikin terobosan kebijakan yg bermanfaat utk publik?

    Mungkin ada ketakutan di sebagian org, jika ndak dukung partai Islam nanti dikira anti Islam. Malah mungkin banyak yg begitu, sebagian besar adalah korban black campaign. Jujur saya sedih lihat saudara2 muslim kita mudah sekali dipermainkan emosinya dan abaikan rasionalitasnya hanya karena isu2 anti Islam, yg belum tentu benar juga. Dan diperparah lagi dgn takfiri tanpa dasar. Lalu kemana ilmu dan akhlaknya sbg muslim? 😦

    Dan konyolnya nih… kalo sama2 mau main isu black campaign anti Islam ya. Di kubu Prabowo juga belum tentu lebih baik. Syiah itu walaupun sesat tapi tidak tolol. Tak mungkin mereka tak bermain di 2 kaki. Pasti ada lah yg “dipasang” di kubu Prabowo. Ditambah lagi isu kristenisasi dari Hasyim dkk. Ada yg permasalahkan ibu Jokowi yg katanya non muslim (padahal muslim), tapi tutup mata pada kenyataan bahwa ibu, kakak, dan adik Prabowo benar2 non muslim. Kalo mau konsisten ndak dukung yg anti Islam, seharusnya yo ndak pilih semua toh? Saya tak paham pola pikir seperti ini.

    Dan lagi… kedua kubu sama2 didukung ulama. Pasti ulama2 kita juga tidak bodoh lah. Beliau2 itu pasti paham peta politik nasional, tentu tak mau hanya pasang pengaruh di satu kubu saja. Yg mereka pikirkan bukan hanya rakyat pendukung partai, tapi ummat Islam scr keseluruhan. Tentu para ulama mulia itu tak akan diam saja jika kelak presiden terpilih akan mengancam ummat. Dan ulama2 itu tak perlu dukungan partai utk melawan. Ummat ada di belakang mereka. Dan kita juga akan membantu ulama2 kita melawan penguasa dholim. Lha wong penjajah aja bisa diusir, apalagi cuma partai.

    Seperti yg dibilang kang Mpu (oguds)… ketakutan pada PDIP terkait undang2 anti Islam itu kurang beralasan. Membuat atau menghapus UU itu ada di DPR, bukan presiden. Jika kita lihat peta koalisi, yg kuat di DPR justru kubu Prabowo. Gak tanggung2, Gerindra dkk itu menguasai 60% suara di DPR. Itu bisa ditambah kubu PKB (+9%) jika ada usulan UU yg benar2 anti Islam. Saya masih percaya di PKB ada ulama2 yg peduli ummat. Andai UU itu lolos pun, masih ada kesempatan utk menggugat dgn kekuatan suara rakyat di MK atau MA. Jadi PDIP justru lemah dlm posisi ini.

    Saya kemarin masih golput dgn sekitar 60:40 kecenderungan pada Jokowi. Belum cukup kuat utk keluar dari golput. Tapi… dgn melihat gaya kepemimpinan militeristik Prabowo dan kekuatannya di legislatif, kecenderungan saya pada Jokowi justru makin kuat. Kenapa? Jika Prabowo jadi presiden dan didukung kekuatan legislatif yg begitu dominan, ancaman kita akan kembali ke masa orde baru malah semakin kuat. Eksekutif dan legislatif yg senada seirama itu kekuatan yg besar utk benar2 bisa mengubah Indonesia. Kalo mengubah ke yg lebih baik, ndak masalah. Kalo mengubah ke yg lebih buruk? 😦

    Tendensi ke perubahan yg lebih buruk ada di kubu Prabowo. Liat saja -lagi2- rekam jejam para pendukungnya. Bukan tidak mungkin kasus2 korupsi oleh tokoh2 partai pendukung bisa tidak berlanjut dan digantung begitu saja. Kembalinya status quo berikut mafia2 beking mereka di berbagai sektor. De-amandemen UUD kembali ke UUD ’45 asli. Pelemahan atau bahkan pembubaran KPK. Plus, jika Prabowo terapkan tangan besi dgn militer, rakyat akan kesulitan utk melawan. Pers dikekang, kebebasan dibatasi, kritik tajam dihabisi, dsb, dst. Prabowo presiden maka pemerintahan kita akan jadi closed system. Mau?

    Sebaliknya, jika Jokowi jadi presiden. Kedudukan Jokowi vs Prabowo jadi saling berhadapan. Jokowi dkk di eksekutif, Prabowo dkk di legislatif. Jokowi dkk mau bikin kebijakan anti Islam? Prabowo dkk akan lawan dari DPR. Prabowo mau lindungi kawan koalisi dgn UU? Jokowi dkk akan lawan dari eksekusinya. Ini scr alami akan membuat kesetimbangan, yg satu tidak bisa berkuasa penuh di atas yg lain. Plus, kepemimpinan sipil ala Jokowi membuka peluang besar bagi rakyat utk ikut melakukan koreksi. Jokowi presiden maka pemerintahan kita akan jadi open system. Pilih mana?

    Saya sebenarnya bukan fans Jokowi. Buat saya Jokowi itu biasa saja. Dia tampak bersinar bukan krn dia bagus, tapi krn sekelilingnya buruk. Secuil aluminium di tengah kolam lumpur hitam juga akan tampak bersinar seperti perak. Kita biasa dgn pemimpin yg berjarak, penguasa dholim nan arogan, dan pemerintahan yg kurang berpihak. Begitu dilihatkan pemimpin dan pemerintahan yg sedikit lebih baik, langsung semua jadi terpesona. Saya masih ragu Jokowi mampu memimpin Indonesia. Indonesia itu besar, beragam, kompleks, dan bermasalah. Gaya pemimpin ala manajer seperti Jokowi menurut saya kurang tepat, kurang visioner. Dan memimpin DKI setidaknya 1 periode akan cukup mengasah kemampuan dan menambah pengalaman dia. Terutama utk menghadapi tekanan mafia dan asing.

    Tapi setelah saya pikir lagi, semua presiden kita juga tak pernah ideal kok. Semuanya nyaris cuma bermodal niat, niat baik. Sukarno cuma insinyur sipil jago orasi. Saya lebih kagum pada pemikiran2 Tan Malaka dan bung Hatta. Suharto cuma perwira anak petani, tak kenal dunia. Jauh jika dibandingkan dgn Jendral AH Nasution, misalnya. Megawati yg perempuan. Gus Dur yg punya kekurangan fisik. Dst. Tapi toh, suka tak suka, mereka sudah memimpin bangsa ini, terlepas prestasi dan kinerja yg sebagian dinilai buruk, tapi bangsa ini masih berdiri bahkan sempat berjaya. Sejarah membuktikan, kita bisa jatuhkan Sukarno, mampu tumbangkan Suharto, dan juga menurunkan Gus Dur, apatah lagi cuma Jokowi yg klemar-klemer gitu. So, kenapa harus takut memberikan kesempatan pada Jokowi?

    Daripada memilih Prabowo yg berkemungkinan negara ini dipimpin diktator dan jadi sarang koruptor, saya lebih memilih negara ini dipimpin sipil yg terbuka pada koreksi. Dan seperti kata Cak Nun, pilihlah yg sekiranya lebih baik, selanjutnya serahkan pada Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan pemimpin yg terbaik bagi negeri ini, siapa pun dia. Semoga Allah SWT bersama kita dan meridhoi bangsa ini. Aamiinnn…

    #akhirnyapilihjokowi 🙂

  5. Oh ya… terkait kolom agama di KTP. Kebanyakan kita masih sering berpikir utk menyelesaikan masalah tapi melupakan akar masalah yg sebenarnya. Sibuk bahas perlu apa tidak agama dicantumkan di KTP. Padahal masalah sebenarnya bukan di situ, tapi di pola pikir diskriminatif yg masih bercokol di masyarakat kita. Termasuk kalangan intelektualnya. *ya, termasuk saya* 😀

    Solusinya apa? Pendidikan. Itu yg paling utama harus kita benahi bersama. Jika pola pikir diskriminatif masih ada, maka apa pun bisa jadi bahan utk diskriminasi. Sebaliknya, jika pola pikir diskriminasi ini sudah terkikis, mau ada kolom agama apa tidak, bukan lagi jadi masalah.

    So, mari berpikir lebih komprehensif, jangan hanya terfokus pada masalah luar yg tidak substansial. Dalami masalah, cari masalah intinya, selesaikan dari situ. Insya Allah solusinya akan lebih cespleng. 🙂

    • Pola pikir seperti ini juga tercermin dlm pilpres ini. Lihat betapa banyak di antara kita meributkan hal2 sepele yg tak penting utk urusan memilih presiden. Yg makan tangan kiri lah, yg ihram terbalik lah, yg gaya cipika-cipiki, dsb. Lalu tak mau tau bahkan melupakan urusan yg lebih pantas dipikirkan. Atau mungkin hanya segitu saja kemampuan kita berpikir? 😦

  6. kalau harga mati emang sudah susah mendengarkan masukan apapun…namanya mati…ya sudah pokoknya berarti… *smile*

  7. Subhanalloh … tulisan yang mantap dan mencerahkan disajikan oleh mas Wisnu dan komentar yang luar biasa disajikan oleh mas Bee.
    Beginilah seharusnya kita berdiskusi, saling tukar pikiran tanpa harus merendahkan orang yang diajak diskusi. Seandainya para pendukung Prabowo dan pendukung Jokowi mampu berpikir jernih, niscaya pilpres 2014 akan lebih sejuk di hati dan insyaAllah menjadi kado yang indah bagi Ramadhan kita.

    • Suwun Mas Imam. Kalau kita bertindak seperti palu, maka yang lain akan tampak seperti paku. Cara yang baik adalah cara yang simpatik dan menekankan pada azas keadilan. Semoga kita semua rukun dan damai, mencoblos sesuai hati nurani kita tampa paksaan.

  8. Btw… gara2 Jokowi jadi gagal golput nih! 😀

  9. Assalamualaikum…
    tulisan Yang bagus…namun alangkah baik dan bijaksananya apabila tidak membandingkan dan juga menyindir pihak lawan seolah2 selalu saja menjadi pihak yang terdzolimi seperti sedang menonton sinetron cinta fitri toh tulisan yang ada pada blog Ustad Salim A Fillah tidak membandingkan prabowo dengan jokowi…jd alangkah bijaksananya bila tulisan anda yg banyak menyadur tulisan beliau juga .mengungkapkan kebaikan,prestasi serta harapan untuk Jokowi agar pembaca bisa lebih teryakinkan bahwa Jokowi dan para pendukung hebat dibelakangnya tidak hnya terkesan selalu didzolimi, syukur2 anda Tidak meniru tulisan sang Ustadz
    Wassalamualaikum…

    • wa ‘alaikum salam… terima kasih Mbak sudah komen di blog ini. Pada intinya ini adalah curahan hati saya kepada Pak Jokowi. Apakah saya keliru kalau membandingkam keduanya? Bila ada tulisan saya yang tidak adil atau salah, monggo dikoreksi Mbak. Saya juga manusia biasa. Bisa salah. Yang selalu benar adalah Allah SWT.

      Namun kalau mengatakan Ustad Salim tidak membandingkan antara Prabowo dan Jokowi, sepertinya tidak tepat juga. Mari kita lihat tulisan beliau:

      Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami berharap Anda akan melaksanakan setidak-tidaknya kelima hal tersebut; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga kelangsungan, menjaga akal, dan menjaga kekayaan; dengan segala perwujudannya dalam kemaslahatan bagi rakyat Indonesia. Kami memilih Anda ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP, melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat.

  10. Assalamualaikum…

    tulisan Yang bagus…namun alangkah baik dan bijaksananya apabila tidak membandingkan dan juga menyindir pihak lawan seolah2 selalu saja menjadi pihak yang terdzolimi seperti sedang menonton sinetron cinta fitri toh tulisan yang ada pada blog Ustad Salim A Fillah tidak membandingkan prabowo dengan jokowi…jd alangkah bijaksananya bila tulisan anda yg banyak menyadur tulisan beliau juga .mengungkapkan kebaikan,prestasi serta harapan untuk Jokowi agar pembaca bisa lebih teryakinkan bahwa Jokowi dan para pendukung hebat dibelakangnya tidak hnya terkesan selalu didzolimi, syukur2 anda Tidak meniru tulisan sang Ustadz

    Wassalamualaikum…

  11. saya tidak menyatakan benar atau salah….hanya ingin saja ada yang bisa menuliskan prestasi dan harapan yang baik lebih dari apa yg dituliskan Ustad yang anda sadur tulisannya, jadi tidak lagi-lagi selalu masalah terdzolimi yang dimuat seperti yang sudah2 itu2 lagi yang dimuat itu2 lagi…, karena harapan say tadi say bisa mendapatkan informasi lebih dari tulisan anda…, sehingga pembaca lebih teryakinkan Jokowi memang layak tanpa ada rasa terprovokasi
    terimakasih

    • Begini… kan tulisan ini dibuat seolah-olah saya bicara dengan Pak Jokowi. Masak ngomong sama dia ngomongin prestasinya dia? Kalau alasannya mah banyak. Salah satunya tulisan Faisal Basri yang ada di postingan sebelumnya. Monggo dilihat. Soalnya bisa jadi informasi yang didapat Ustad Salim dan pendukung Pak Prabowo lainnya tidak lengkap. Justru memang di situ poinnya. Pada dasarnya kalau sudah jatuh cinta pada Pak Prabowo memang akan selalu melihat kesalahan dan kelemahan tulisan saya. Tapi masukan saya terima dengan lapang dada, in shaa Allah kalau saya nulis lagi akan saya tambahkan harapan kepada Pak Jokowi. Masih sempat shalat istikharah nanti malam, selamat mencoblos yaa…

  12. Tulisan bagus. mencerahkan.semoga memang sesuai kenyataan apa yang disampaikan.

  13. Wisnu, tentang menolaknya PKS mengusung perda syariah sudah saya konfirmasi ke kawan saya dari PKS. Dia bilang dulu untuk menangkal tuduhan bahwa PKS akan menjalankan Syariah Islam.
    Masih banyak kok artikel tentang menolaknya PKS mengusung Perda Syariah, coba cari di Google “PKS menolak perda syariah”
    Ini malah ada link yang lebih vulgar ulasannya
    http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/03/30/18457/kok-hidayat-nurwahid-menolak-syariah-islam-tidak-melarang-miras/#sthash.M1jA5z5t.dpbs

    Komentar saya diatas juga saya masukkan ke tulisan Ustad Salim tentang “Pak Prabowo kami memilih anda tapi..”. Tapi nampaknya beliau tidak berkenan link itu diketahui orang melalui komentar dalam tulisan itu (karena dimoderasi). Entah kenapa, Wallahu alam

  14. good writing pak wisnu..sangat mencerahkan tulisannya, semoga niat pak wisnu membantu DKI atau Indonesia di IT bisa terrealisasi dan murni karena niat beramal soleh di bidang ilmu IT..two thumps up

  15. sy setuju untuk dibuat perbandingan antara dua kubu dan jangan membuat seolah pihak sebelah hanya penjahat. kl dirunut sosok dibelakang masing2 kubu jg semua menyandang koruptor.
    mari berdoa saja semoga hanya yg terbaik dan hal baik yg terjadi untuk negara ini.
    http://duniamuallaf.blogspot.com/2014/06/sebelum-anda-menjatuhkan-pilihan.html
    http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/06/22/2043312/ternyata.duta.besar.palestina.dukung.jokowi.jadi.presiden – ralat dubes palestin tdk mendukung jokowi.
    http://nasional.inilah.com/read/detail/2117321/jokowi-salah-ihram-gusti-allah-mboten-sare#.U8Bks5R_ssI – kalau sudah berhaji knp bisa sampai salah ihram dan sering makan minum dgn tangan kiri?
    https://www.facebook.com/photo.php?fbid=814430775255073&set=pcb.814433281921489&type=1
    http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/07/10/n8i1du-ini-beberapa-keanehan-quick-count-yang-menangkan-jokowi
    http://www.suaranews.com/2014/07/awas-hasil-quick-count-tipuan-megawati.html
    KEBODOHAN PRABOWO Yang Menguntungkan SAINGANNYA : 1. BODOH karna diam saja saat dihina dan di fitnah oleh jendral2 tua,padahal bukan DIA pelakunya. 2. BODOH mendirikan asrama untuk pelatihan nelayan, peternak dan petani tetapi tidak minta di ekspose oleh media. 3. BODOH membeli bisnis perusahaan kertas raksasa namun pailit yg berpotensi kerugian hingga 1 triliun hanya agar kerugian tidak ditanggung negara. 4. BODOH karna memiliki panti asuhan tetapi hanya kau biarkan fotomu terpampang di tembok usang kampung sekitar, bukan di media2 ternama. 5. BODOH memberikan kuasa hukum yang hebat demi TKW yang akan di penggal kepalanya, padahal negara diam saja. 6. BODOH karena diam saja saat no 2 menyatakan rencana mereka untuk mendukung Palestina, sementara kau beberapa tahun yg lalu DAN TIAP TAHUN sudah memberikan bantuan dana untuk Palestina tanpa diekspose, kalau saja DUBES PALESTINA tidak ngomong, sampai hari ini pasti saya tidak tahu. 7. BODOH karna kau tidak gembar gemborkan persahabatanmu dengan Maradona dan tokoh2 besar lainnya, serta bagaimana rencanamu untuk menyatakan Indonesia bukan hanya menjadi penonton World Cup, tetapi jadi peserta bahkan menjadi tuan rumah World Cup. 8. BODOH karna tidak mengekspose keberhasilnmu membawa Kopassus menjadi pasukan elit yg diakui dunia menduduki posisi ke-3 (versi Discovery Channel Military edisi 2008). pasukan elit Amerika saja masih di bawah Kopassus. BUKANKAH semua itu bisa menaikkan citramu? tetapi kenapa tidak kau lakukan itu? Bukankah itu bagian dari prestasi sosialmu? tetapi mengapa kau biarkan menguap begitu saja? Mungkin ini alasan Gus Dur menyatakan “Orang yang paling ikhlas untuk rakyat Indonesia Itu Prabowo.”
    tapi ya kl tujuan mas penulis utk mendapat kan perhatian dr satu kubu sj ya sy maklum kl tdk d buat perbandingan dan menutup fakta akan bbrp hal yg ada 🙂

  16. Wallahualam bissawab, semoga siapapun Presiden terpilih senantiasa dijaga imannya sehingga tetap istiqomah dalam menjalankan mandat dari seluruh umat yang dibebankan kepadanya… Aamiin, YRA.

  17. Pak Joko Widodo itu manusia biasa tetapi menjadi special karena jujur , merakYat, ngga sombong walaupun pejabat, lain dari pejabat yg laen itu yg menjadikan beliau special… kenapa saya bisa bilang begitu, karena saya warga solo, merasakan perkembangan dan perubahan di solo sejak beliau awal jadi walikota, sampai sekarang memimpin ibukota serta sekarang memimpin Indonesia. .. dulu awal cm mendapat suara 36, 62% tahun 2005
    http://m.detik.com/news/berita/391254/hasil-akhir-jago-pdip-unggul-pilkada-di-solo-dan-sukoharjo

    Tapi setelah 5 tahun menang yaitu tahun 2010 menang 90,09 Membuktikan rakyat percaya jokowi
    http://regional.kompas.com/read/2010/05/21/03402631/Kemenangan.Fenomenal.Jokowi-Rudy

    Di jakarta pun menang walaupun dikeroyok Banyak partai…. jokowi-AHok hanya gerindra Dan pdip. …

    Kalau buat saya memilih ngga mau calon presiden yg terlalu banyak didukung partai….. krn partai skrg gk da yg memikirkan rakyat, hanya memikirkan golongannya saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: