Weekly Photo Challenge: Grid

This week’s challenge is Grid. I don’t have to go anywhere since my living room is painted with it. 🙂


Grid
Grid

Fitur Posting Via Email

Salah satu yang saya suka dulu posting artikel di Multiply yang sudah almarhum adalah posting via email. Terkadang kita berada pada suatu kondisi di mana koneksi internet tidak dapat dilakukan, atau koneksi ke WordPress diblok, namun akses via email masih dimungkinkan. WordPress menyediakan fitur posting by email yang dapat dilakukan dengan cara berikut:

1. Buka dashboard WordPress Anda

2. Pilih kategori My Blogs di sebelah kiri

3. Klik Enable pada blog yang Anda inginkan (email khusus yang hanya boleh Anda ketahui akan dibuat untuk Anda kapanpun Anda ingin mengirimkan email untuk posting artikel)

Postingan ini juga dikirim dengan menggunakan e-mail lhoo…


	

Everest (2015)

Film yang dibesut oleh Baltasar Kormákur ini merupakan visualisasi dari kisah nyata tragedi Everest di tahun 1996 yang kisahnya bisa dibaca di sini.  Pada tanggal 10–11 Mei 1996, delapan orang terjebak dalam badai salju dan tewas di Puncak Everest ketika berusaha naik ke puncaknya.

Film ini begitu ingin saya tonton karena pernah merasakan berada di dua puncak gunung yang pernah saya singgahi (jangan ngeres dulu..). Dua puncak gunung yang saya maksudkan adalah Gunung Gede dan Gunung Rinjani. Jauh berbeda dengan gunung di Indonesia, Everest tidak bisa buat main-main, Cuy. Peluang untuk pindah ke alam barzah adalah 1 dari 4 orang pendaki. Banyak pemandu yang menolak pemula yang belum pernah mendaki puncak gunung minimal 8000 meter di tempat lain. Latihan intensif selama lebih kurang dua tahun adalah syarat yang diajukan oleh beberapa profesional yang menawarkan jasa pendampingan ke atas puncaknya. Ingin merinding betapa sulitnya Puncak Everest? Coba deh baca tulisan ini.

Kembali ke filmnya, yang membuat saya suka film ini adalah film ini diambil dengan teknologi IMAX 3D sehingga besar dan indahnya gunung ini bisa dilihat dengan jelas dan menakjubkan. Beberapa adegan akan membuat beberapa penonton ngeri-ngeri sedap membayangkan jalan di atas tangga yang disambung-sambung di atas jurang menganga.

Keira Knightley yang memerankan istri Rob Hall bermain begitu maksimal meski perannya tidak di puncak melainkan sebagai seorang istri hamil tua yang menanti pulangnya sang suami dari Puncak Everest. Drama keluarga mereka yang kehilangan anggota keluarga digambarkan dengan baik dan menyentuh.

Film ini menyajikan gambaran secara kronologis waktu bencana mulai terjadi dan bagaimana mereka menyikapi hal ini. Mendaki puncak gunung tertinggi di dunia ini benar-benar seperti melewati ladang ranjau. Salah langkah dan tanpa persiapan, bersiaplah untuk pindah alam kehidupan.

Direkomendasikan bagi para penggemar film menegangkan dan outdoor yang diilhami dari kisah nyata. Wajib buat para pendaki gunung agar kita tidak meremehkan dalam pendakian puncak gunung apapun, seberapapun tingginya.

Ada yang bertanya mengapa orang rela bayar mahal dan beresiko mati demi mencapai puncak Everest, seperti digambarkan dalam salah satu dialog dalam film itu. Buat apa coba? Menurut saya hal ini sejalan dengan teorinya Maslow. Ketika kebutuhan dasar untuk makan dan minum terpenuhi, keamanan sudah didapat, cinta dan dicintai, dihargai oleh sesama, maka kebutuhan berikutnya adalah aktualisasi diri, yaitu ketika manusia mengejar kreativitas, mencari makna dalam kehidupan, kebanggaan akan prestasi diri, dst. “What a man can be, he must be.” Para pendaki itu tahu apa yang mereka akan hadapi, dan mereka juga tahu apa yang akan mereka capai bila goal mereka terpenuhi.

Saksikan trailernya di sini.

Jake Gylenhaal lagi laris. Semalam pas midnight ada dua film yang ia mainkan. Everest dan Southpaw, tentang petinju. Pemain gaek Josh Brolin juga main di sini. Keira Knightley juga menjadi pemanis dalam film ini, tidak boleh dilewatkan aktingnya yang menawan.

Filmnya panjang, 2.5 jam. Pastikan perbekalan Anda cukup. Jangan sampai dehidrasi atau kekurangan makanan ketika menonton. Cukup di film yang terjadi tragedi, jangan di dalam gedung bioskop.

Selamat menonton.

Weekly Photo Challenge: Monochromatic

This week, share with us your monochromatic images. Be calculating and creative in choosing your subject and focal point; resist the urge to simply take a photo of something with a single color range.

A deer in Ciwidey, Bandung, Indonesia
A deer in Ciwidey, Bandung, Indonesia
Leaves on a branch, Ciwidey
Leaves and dew on a branch, Ciwidey
Situ Patenggang
Situ Patenggang

Air Terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep dan Pantai Senggigi Lombok

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian terakhir Ekspedisi Rinjani yaitu Kembali ke Sembalun.

Setelah beristirahat cukup di Base Camp Pak Nur Saat, termasuk pesan urut setelah sholat isya supaya pegelnya hilang semua, kami segera packing untuk esok paginya, jalan-jalan ke air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep dan ke pantai Senggigi. Supaya lengkap kami tidak hanya menikmati keindahan gunung Rinjani namun juga melihat keindahan air terjun dan pantainya.

Pagi hari setelah sarapan kami menuju lokasi air terjun yang dicapai hanya sekitar 30 menit dari base camp Pak Nur Saat dengan jalan kaki. Ada dua air terjun besar di sana, Sendang Gila dan Tiu Kelep. Kalau hanya untuk melihat air terjun besar Sendang Gila lebih dekat. Tiu Kelep butuh perjalanan sedikit menyeberangi sungai dan lebih ke atas. Tiu Kelep ada bagian yang cukup dalam, dan disarankan tidak berenang tanpa ditemani guide atau porter.

Air terjunnya bersih, dan satu hal yang patut diacungi jempol adalah adanya tempat sampah dekat air terjun sehingga kita bisa membuang sampah ke dalamnya tanpa harus pusing membuang ke mana. Ini patut ditiru oleh penyedia wisata di seluruh Indonesia. Jika memang tidak ingin ada yang buang sampah sembarangan, sediakanlah tempat sampah, karena tidak semua orang mau membawa sampah di dalam tasnya.

Air sungainya begitu bersih dan airnya dimanfaatkan untuk minum warga setempat. Kami sempat mengambil foto dan memasak minuman hangat setelah berendam air dingin di sana. Lelah empat hari di gunung dihapuskan oleh mandi bersama dalam semangat kekeluargaan di sini. Sangat menyenangkan sekali.

Jika Anda pergi ke Lombok dan menyukai air terjun, jangan lewatkan untuk mengunjungi kedua air terjun ini. Begitu indah dan menyenangkan. Terutama ketika menuju Tiu Kelep yang mengharuskan kita menyeberangi sungai berbatu. Tingkat kesulitannya masih bisa diatasi oleh anak-anak TK atau SD.

Setelah puas bermain air di sini kami kembali ke base camp untuk pergi ke Senggigi. Kami telah memesan hotel dua malam di sana sebelum kembali ke Jakarta. Berenang dan kuliner adalah dua hal yang kami lakukan untuk beristirahat menghilangkan lelah mendaki Rinjani.

Karena di Lombok, saya mencari ayam taliwang yang paling enak di Mataram. Setelah bertanya pada penduduk lokal, taliwang yang juicy ada di Taliwang Irama, sedangkan yang lebih kering ada di Kania. Karena kami lebih suka yang lebih juicy, akhirnya dengan bantuan Waze kami berhasil mencari rumah makan lesehan tersebut. Beberuk dan Plecing Kangkungnya segar dan nikmat. Alhamdulillah nikmatnya.

Untuk oleh-oleh setelah melihat perbandingan harga di beberapa toko, kami menuju Phonix seperti usulan teman saya yang asli Lombok. Harganya memang beda dibandingkan toko lainnya, terutama yang di Senggigi karena toko-toko itu kebanyakan memberi komisi kepada supir yang membawa turis ke sana. Saya membeli dodol rumput laut, terasi lombok, kacang mede yang enak sekali, baju batik tenun motif rangrang untuk saya, istri, dan mom tercinta. Beberapa kaos Lombok juga saya beli di sana. Hehehe mumpung ke Lombok 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berenang di hotel

Pemandangan di pantai

Selesailah sudah ekspedisi Rinjani yang diakhiri dengan jalan-jalan nikmat di Lombok. Insya Allah jika ada rezeki dan kesempatan ingin berlibur bersama keluarga di sini.

Selesai