Prompt #108 – Karma

“Rara, cepat pakai sepatumu. Nanti kamu terlambat ke sekolah!”
“Baik, Ma!”, jawab anakku sambil mengambil sepatunya.
Aku selalu menyembunyikan perasaaanku setiap kali melihat senyumnya yang manis. Persis seperti senyum ayahnya. Matanya yang tenang dan menghanyutkan adalah duplikat yang sempurna. Hati ini selalu sesak bila teringat hari ketika ayahnya pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Kalimat terakhirnya masih terngiang-ngiang di kepalaku.

“Rina, maafkan aku. Aku harus pergi. Tak adil untukmu bila aku tetap di sini, sementara hatiku bersama Lidya. Ikhlaskan diriku. Kudoakan semoga engkau mendapat cinta yang lain.”

Img1
Benny hanya menunduk dan mengatakannya dengan terbata-bata sementara air mata mengalir di kedua pelupuk mataku. Kuelus lembut perutku yang membesar, tepat seminggu sebelum Rara lahir.

Aku begitu mencintainya. Dan itulah dosa terbesarku. Mencintai begitu besar seseorang yang pada akhirnya justru mengkhianatiku. Tiga pasang kaus kaki yang kami beli bersama masih ada di lemari, memberikan perasaan sesak yang tak kalah hebat. Sepasang sendal jepit kesukaannya selalu mengingatkanku akan cinta kami yang membara. Aku ingin membakar semua miliknya yang tertinggal, namun tak kuasa melakukannya. Aku takut perasaan rindu dan kenangan itu akan ikut musnah ditelan api untuk selamanya. Dilema ini terus aku rasakan dan tak pernah hilang.

Waktu berlalu dengan cepat. Kini Rara berusia 18 tahun. Semuanya telah kuceritakan padanya agar ia tahu siapa ayahnya. Ia kini tahu semua alasan air mataku yang sering tumpah ketika bermain bersamanya. Setelah 18 tahun berlalu, aku tak jua bisa mengerti kenapa aku tak sanggup melupakan Benny.

Suara dering telepon genggamku membuyarkan lamunanku. Wajah cantik Rara muncul di layar iPhoneku dan segera kutekan tombol hijau.

“Mah, aku di kantor polisi dekat rumah kita. Mamah jangan marah ya. Mamah diminta datang ke sini. Sekarang.”, kata Rara,

Kuparkir mobilku di kantor polisi dekat rumah kami. Setengah berlari aku mencari anakku dengan bertanya kepada beberapa petugas yang kutemui.

“Maaf, apakah Ibu adalah orang tua Caraphernelia Sukmawati?”, tanya seorang petugas polisi.
“Benar, Bu. Saya Ibunya Rara.”, kataku tergesa.
“Anak Ibu menjadi tersangka pembunuhan berencana atas Ibu Lidya.”
“Apaaaa? Raraa apa benar kata Ibu petugas ini?!!”, tanyaku tidak percaya.
Rara tersenyum manis.
“Mah, aku cuma ingin Ayah tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh seseorang yang dicintai. Dulu ia meninggalkan kita, dan Mamah tak pernah bisa melupakan Ayah. Kini aku cuma ingin Ayah merasakan bagaimana bila istri yang ia cintai meninggalkannya”, jelasnya dengan senyum tetap menghiasai wajahnya. Senyum khas Benny.
Tiba-tiba dunia gelap. Duniaku runtuh.


 

Tulisan ini dibuat sebagai kontribusi Monday Flash Fiction dengan tema Caraphernelia. Jumlah kata tepat 400 buah. Gambar free royalti, diunduh dari sini.

#FF Kamis – Menang Tender

white

“Mah, alhamdulillah project Papah goal, Mah! Project yang sudah lama Papah harapkan!”, teriak Toni pada istrinya via telepon.

Istrinya tetap bergeming, meneteskan air mata. Tanpa suara.

“Mah, mengapa diam saja? Mengapa kau menangis, Mah? Harusnya Mamah gembira!”, lanjut Toni tak habis pikir.

“Bertahun-tahun kita berusaha agar project ini bisa kita dapatkan dengan susah payah. Setelah kita dapatkan kenapa engkau tidak turut bahagia, Mah?”, tanya Toni dengan suara bergetar.

“Bu Toni, sabar ya. Insya Allah Bapak khusnul khatimah”, kata Pak RW.

“Wahai Toni bin Fulan, kendaraan menuju surga sudah siap. Apakah engkau siap?”, sebuah suara membimbing Toni ke arah cahaya putih.

Prompt#107 – Dompet Simalakama

“Bang! Bang! Stop bentar Bang!” kataku pada Abang Gojek yang kunaiki.

Aku turun nyaris melompat dari motor dan segera berlari beberapa meter di belakang motor. Kupungut dompet dari jalan yang terkena cipratan lumpur beceknya jalanan.

dompet

Sesampainya di rumah kulihat-lihat isi dompet yang baru kutemukan tadi.

“Dompet siapa itu, Wan?”, tanya ibuku dari sofa.

“Nggak tahu, Bu. Nemu tadi di jalan. Ada uangnya banyak bener nih”, jawabku.

“Kembalikan pada yang punya ya, Nak. Insya Allah itu lebih baik bagimu. Semoga Allah SWT membalas amal perbuatanmu”, nasihat Ibuku seperti biasa.

“Insya Allah, Bu. Ini lagi cari informasi dari dalam dompet ini. Semoga lengkap surat-suratnya.”

Keesokan harinya aku pamit pada Ibu untuk mengembalikan dompet yang jatuh kemarin.

“Assalamu ‘alaikum!”.

“Wa ‘alaikum salam!”

Seorang gadis cantik keluar dan membuka pintu pagar untukku.

“Mau mencari siapa, Mas?”, tanyanya lembut. Matanya begitu indah. Gelagapan aku tak menyangka ada makhluk secantik ini. Semoga bukan siluman, Ya Allah.

“Ee.. maaf, Mbak. Apa ini rumah Pak Suryomenggolo Jalmowono?”, tanyaku salah tingkah.

“Oh benar, Mas.. ini memang rumah beliau, Ayah saya. Ada yang bisa dibantu?”, tanyanya penuh keingintahuan.

“Saya menemukan dompet Bapak yang terjatuh”.

“Oh ya Allah.. benar.. kemarin Bapak kehilangan dompetnya. Alhamdulillah ketemu. Mari masuk dulu Mas. Bapak kebetulan ada di rumah. Ayo masuk dulu, Mas!” katanya bersemangat penuh kegembiraan.

Sejak saat itu aku dekat dengan Fiona, anak Pak Suryo. Benar-benar rezeki anak sholeh. Nemu dompet dapat pacar. Alhamdulillah, rejeki memang nggak ke mana.

“Say, mau nggak kukenalkan dengan Ibuku?”, tanyaku.

“Mau dong, Mas. Aku justru khawatir kau tak mau mengenalkanku pada orangtuamu”, jawabnya manja. Jantungku empot-empotan.

“Bu, ini Fiona. Fiona, ini ibuku.”

Keduanya bersalaman lalu mereka berdua mengobrol di ruang tamu. Begitu akrab. Hatiku berwarna-warni.

“Tante, ini foto kami sekeluarga”, kata Fiona sambil menunjukkan foto keluarganya dari iPhonenya.

“Masya Allah! Fiona… ayahmu…. adalah ayah Iwan juga…”, teriaknya tergagap.


Cerita yang mengandung tepat 300 kata di atas ditulis sebagai partisipasi Flash Fiction di link ini. Tulisan ini adalah tulisan perdana, terinspirasi dari rajinnya Om Jampang mengikuti gaya penulisan jaman ini yang serba cepat, serba ringkas, dan serba unik. Semoga istiqomah 🙂

 

Kondangan Tanpa Mempelai

Beberapa menit yang lalu, setelah membayar seporsi sate padang Ajo Ramon di depan Pasar Santa, saya memesan GO-JEK untuk membawa saya ke Stasiun Palmerah. Saya lirik foto pengemudinya di aplikasi, sebut saja Tono, berbadan cukup gempal dan berewokan. Mirip Syeh Puji. 

Telepon genggam saya tidak lama kemudian berdering dengan ring tone Mission Impossible edisi Banana Minion.

“Pak, saya sudah di Pasar Santa”, katanya.

“Saya di depan Sate Padang Ajo Ramon, Mas. Ke sini ya!”, jawab saya.

Tak lama kemudian ia muncul tanpa mengenakan jaket kebesaran Gojek yang berwarna hijau itu. Tanp disangka wajahnya tidak mirip dengan yang ada di foto dan tubuhnya jauh lebih kecil. 

“Loh, kok beda dengan di foto Mas?”, tanya saya.

“Saya anaknya Pak Tono, Pak.”

“Loh.. Bapaknya ke mana?”

“Beliau sakit Pak. Demam karena kehujanan dan biasanya ambil sewa malam. Saya menggantikan beliau.”

Entah kenap di titik itu saya tidak melihat seseorang melanggar aturan perusahaan Gojek. Saya yakin manajemen Gojek tidak akan mengizinkan ID pengemudi digunakan oleh orang lain, meski itu anak kandungnya. Jika ada masalah, reputasi Gojek dipertaruhkan oleh orang yang mungkin tidak layak menjadi pengemudi Gojek karena untuk menjadi pengemudi atas nama perusahaan besar seperti ini pasti ada pelatihan dan syaratnya. Saya bisa menolak order kali ini dan bisa mengancam untuk melaporkannya kepada pihak manajemen Gojek. Entah kenapa nurani saya melihatnya sebagai seorang anak yang berbakti dan mencoba menyambung hidup untuk sedikit membantu dapur ibunya dan membeli obat untuk ayahnya. Saya teringat diri saya waktu SMA dulu. Mulai bekerja mencari uang tambahan buat kos dan makan dengan memberikan les kepada anak SD. Kuliah dulu nyambi ngajar Visual Basic di Nurul Fikri Mampang, dekat si pengemudi ini tinggal.

“Pak, saya tidak tahu jalan ke sana”

“Sudah gak papa. Kita pakai Waze saja.”

“Bisa ya, Pak?”

“Iya..saya juga tidak terlalu hapal.”

Suara Septi dalam Bahasa Indonesia mulai cerewet memberi tahu kapan mesti belok kanan dan kiri. 

Tiba-tiba di lampu merah depan Bundaran Senayan seorang polisi menghentikan kami. 

“Mas, ini jalur cepat. Harusnya ambil sebelah kiri di jalur lambat. Parkir dulu motornya di depan lalu masuk ke kantor dulu”, kata Polisi tadi.

Saya menunggui motor sementara anak itu masuk pos. Beberapa waktu kemudian dia muncul.

“Ditilang, Mas?”, tanya saya penuh selidik.

“Nggak Pak. Kondangan saja”.

Oh ini toh istilah lain dari salam tempel atau damai itu indah.. Kondangan tapi tanpa mempelai.

“Kena berapa?”, tanya saya.

“Tadinya dia sebutkan semua pasal pelanggaran saya Pak. Lalu dia bilang bayar saya seratus ribu, nanti dibantu. Saya keluarkan dompet saya, dan saya bilang kalau baru keluar, dan cuma ada 35 ribu rupiah. Saya gak percaya semuanya diambil Pak. Saya minta maaf ya Pak. Karena saya gak tahu jalan Bapak jadi terhambat seperti ini”, katanya dengan penuh hormat dan penyesalan.

Dinamika ibukota. Semua butuh uang. Ada yang berusaha dengan cara membantu orang lain, dan ada juga yang menyusahkan orang lain. Semua akan mendapatkan balasannya.

Diam-diam saya kagum kepadanya. Tidak ada umpatan. Tidak ada makian. Tetap berusaha melayani saya sebaik mungkin. Kami pun melanjutkan perjalanan. Mbak Septi kembali memberikan navigasi. Seandainya dia tahu masalah ini, dia mungkin akan minta maaf memberikan kami petunjuk untuk mobil, bukan untuk motor. Kami memaafkanmu, Septi. It is Ok.

Sesampainya di Stasiun Palmerah dia berkata dengan senyumnya, “Jadi 12 ribu rupiah Pak!”

Saya berikan uang 50 ribu rupiah, “Mas, kembalinya ambil untuk tips.”

Dia menolak, “Jangan, Pak! Tidak usah, ini salah saya”.

“Ambillah, Mas. Tidak apa-apa. Salam saja untuk Bapak, bilang semoga cepat sembuh.”

Dia begitu berterima kasih dan mendoakan saya untuk berhati-hati saat melangkahkan kaki menuju tangga stasiun.

Saya teringat QS Al Fatir ayat 2 yang tadi pagi dibahas di salah satu group WA saya.

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ketika langkah kaki saya menaiki anak tangga, saya doakan ia menjadi anak sholeh yang berbakti kepada orangtuanya sembari memberikan bintang 5 kepada Pak Tono dengan pesan : Semoga cepat sembuh, ya Pak.