Prompt #108 – Karma

“Rara, cepat pakai sepatumu. Nanti kamu terlambat ke sekolah!” “Baik, Ma!”, jawab anakku sambil mengambil sepatunya. Aku selalu menyembunyikan perasaaanku setiap kali melihat senyumnya yang manis. Persis seperti senyum ayahnya. Matanya yang tenang dan menghanyutkan adalah duplikat yang sempurna. Hati ini selalu sesak bila teringat hari ketika ayahnya pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Kalimat terakhirnyaLanjutkan membaca “Prompt #108 – Karma”

#FF Kamis – Menang Tender

“Mah, alhamdulillah project Papah goal, Mah! Project yang sudah lama Papah harapkan!”, teriak Toni pada istrinya via telepon. Istrinya tetap bergeming, meneteskan air mata. Tanpa suara. “Mah, mengapa diam saja? Mengapa kau menangis, Mah? Harusnya Mamah gembira!”, lanjut Toni tak habis pikir. “Bertahun-tahun kita berusaha agar project ini bisa kita dapatkan dengan susah payah. Setelah kitaLanjutkan membaca “#FF Kamis – Menang Tender”

Prompt#107 – Dompet Simalakama

“Bang! Bang! Stop bentar Bang!” kataku pada Abang Gojek yang kunaiki. Aku turun nyaris melompat dari motor dan segera berlari beberapa meter di belakang motor. Kupungut dompet dari jalan yang terkena cipratan lumpur beceknya jalanan. Sesampainya di rumah kulihat-lihat isi dompet yang baru kutemukan tadi. “Dompet siapa itu, Wan?”, tanya ibuku dari sofa. “Nggak tahu,Lanjutkan membaca “Prompt#107 – Dompet Simalakama”

Kondangan Tanpa Mempelai

Beberapa menit yang lalu, setelah membayar seporsi sate padang Ajo Ramon di depan Pasar Santa, saya memesan GO-JEK untuk membawa saya ke Stasiun Palmerah. Saya lirik foto pengemudinya di aplikasi, sebut saja Tono, berbadan cukup gempal dan berewokan. Mirip Syeh Puji.  Telepon genggam saya tidak lama kemudian berdering dengan ring tone Mission Impossible edisi BananaLanjutkan membaca “Kondangan Tanpa Mempelai”