Weekly Photo Challenge: Abstract

This week’s challenge is Abstract. Two week’s ago I captured these pics in front of my office, and put an effect using Toon Camera in my iPhone. And hey, hope it’s not too late to say Happy Earth Day 🙂

This post is also my contribution for the forth week’s Sally D’s Mobile Photography Challenge: Abstraction.

Evernote Camera Roll 20160424 175222
A Tree
Evernote Camera Roll 20160424 214840
A small wood and a leaf – make a TEN

#FFKamis – Kebaya Pertama

Suara dering telepon mengagetkan Rina di kamarnya.

“Hai Tamara! Apa kabar?”
“Baik, Rin! Eh elo jadi kan datang di Metro TV pagi ini?”
“Jadi doong.. Eh gue baru mau pake kebaya nih buat syuting.”
“Oke kalau gituu.. ketemu di sana yaa, Cyiin?”
“Okeeee.. byeeeee!” tutup Rina.

Rina memilih bra,  celana dalam, dan kebaya bermotif batik yang dia beli secara online. Kebaya ini adalah kebaya pertama yang ia pakai seumur hidupnya.

Sesampainya di studio TV, seorang lelaki memberikan sebuah map berisi naskah yang harus ia pelajari.

“Rinaldi Indrawan?” tanyanya ragu.
“Iya, Mas. Panggil saja saya Rina,” kata Rina sambil tersipu malu.

Img1


Tulisan fiksi ini ditulis sebagai bentuk kontribusi #FFKamis dengan topik Kebaya. Jumlah kata harus tepat 100, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Gambar diambil dari sini.

 

 

5 Tips Hidup Produktif di Era Digital

Hidup di era digital seperti saat ini berbeda dengan era satu hingga dua dekade yang lalu. Sekarang semua serba tersentuh kemajuan teknologi. Dulu untuk membayar harus menggunakan uang tunai, lalu muncullah kartu kredit dan kartu debit, dan sekarang menggunakan teknologi NFC tanpa harus digesek, cukup disentuhkan saja. Dulu untuk membaca koran harus menunggu loper koran datang dan bahkan harus berebut jika ada berita yang menarik. Sekarang koran datang sendiri melalui smart phone yang kita punya.

 

Teknologi menyerbu seluruh sendi kehidupan manusia dan tidak bisa dihindari. Pertanyaannya adalah apakah kita bisa memanfaatkan teknologi digital ini untuk menambah produktivitas atau justru malah terlena dininabobokan olehnya?

Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi mengenai tips pemanfaatan aplikasi dan teknologi digital dalam kehidupan kita, selain aplikasi sosial media, seperti Facebook, Twitter, Path, dan sebagainya. Berikut ini adalah 5 hal yang dapat meningkatkan produktivitas kita dalam kehidupan yang serba digital:

  1. Gunakan aplikasi yang menunjang produktivitas dalam ponsel pintar kita

Ada ratusan ribu aplikasi yang tersedia di toko aplikasi baik yang berbayar maupun yang gratis yang bisa kita manfaatkan. Aplikasi yang harus kita pasang tergantung pada kebutuhan dan gaya hidup kita sehari-hari. Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi yang sangat berguna dalam kebutuhan sehari-hari.

ux-787980_1280

Anda butuh personal assistant untuk mengingatkan meeting, kapan harus bayar tagihan, janji makan malam, dan kebutuhan dapur yang harus dibeli malam nanti? Coba pakai Wunderlist. Aplikasi lain yang juga bisa dilirik untuk pengguna iOS dan Android adalah Trello atau Any.do.

Anda butuh catatan nomor rekening tujuan transfer rutin atau nomor paspor sekeluarga? Risalah meeting? Catatan kuliah? Gunakan Evernote. Sekali disimpan dalam satu media, otomatis akan dapat diakses dari Web atau platform lainnya.

Butuh mengakses berkas di PC atau Laptop? Simpan dokumen penting di Cloud dengan aplikasi Dropbox agar dapat diakses juga dari ponsel kita. Alternatif lainnya adalah Google Drive atau One Drive dari Microsoft.

Aplikasi IF yang dikembangkan oleh IFTTT (If This Then That) adalah aplikasi yang bisa mengotomasi suatu pekerjaan yang dipicu oleh kejadian lainnya. Misalnya, ketika saya sampai di stasiun Rawa Buntu, tolong otomatis kirimkan SMS ke istri saya yang mengatakan bahwa “Papah sudah sampai di stasiun”. Jika sekarang turun hujan di luar kantor, tolong email saya. Tolong postingkan otomatis semua status Facebook saya yang mengandung tagar #twitter ke akun Twitter saya. Ketika saya keluar rumah, otomatis jalankan aplikasi Waze dan matikan lampu rumah.

  1. Gunakan uang digital secara tepat dan ekonomis

Ada banyak uang digital yang ada di pasaran. BCA, Mandiri, BRI, dan beberapa bank lain mengeluarkan kartu berbasis teknologi NFC dengan jalan menyentuhkan kartu ke mesin pembacanya. Institusi lain seperti PT. KAI juga mengeluarkan kartu yang bisa digunakan untuk membayar perjalanan kereta Commuter Line. Jaringan bioskop XXI juga menyediakan fitur yang sama sehingga orang yang akan nonton bisa membayar tanpa membawa uang tunai. Bahkan Telkomsel ikut bermain dalam e-money dengan stiker NFCnya, TCash. Pertanyaannya adalah produk mana yang layak diprioritaskan? Apakah semua bisa kita ambil atau hanya produk tertentu saja? Di samping kartu, beberapa bank juga mengeluarkan metode pembayaran melalui aplikasi dalam ponsel yang bisa digunakan untuk melakukan pembayaran di merchant, seperti Sakuku dari BCA dan Rekening Ponsel dari CIMB Niaga.

gears-384744_640

Uang digital tidak selikuid uang tunai. Dengan uang tunai Anda dapat membayar Mbok Jamu yang menjajakan jamunya di rumah Anda, namun tidak dengan uang digital yang diterima oleh merchant yang sudah bekerja sama dengan institusi yang mengeluarkan medianya. Pastikan Anda memilih uang digital yang didukung oleh banyak merchant sehingga uang Anda bisa mudah digunakan. Contohnya, memiliki uang digital yang bisa digunakan untuk membayar tol, belanja di supermarket atau restoran, busway, parkir, dan perjalanan kereta adalah lebih bijak daripada menggunakan uang digital yang hanya bisa digunakan untuk membayar perjalanan kereta saja, misalnya.

Manfaatkan promosi yang ada dengan uang digital tertentu. Memanfaatkan promosi untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan siang, menonton film, dan sebagainya adalah salah satu bentuk penghematan dan pemanfaatan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Selalu monitor di sosial media atau situs terkait dengan institusi penerbit uang digital apakah ada promo yang sedang berlangsung atau tidak.

  1. Gunakan aplikasi petunjuk arah untuk bepergian

Hidup di kota besar harus pintar-pintar menyiasati kemacetan. Anda boleh hapal seluk beluk jalan yang akan Anda lewati, namun kemacetan tidak pernah diduga. Manfaatkan informasi yang diperoleh secara gotong-royong atau istilahnya crowdsourcing. Aplikasi seperti Waze dan Google Maps memanfaatkan kontribusi informasi yang diberikan semua penggunanya, sehingga kita selalu tahu mesti lewat mana dari satu titik ke titik lainnya. Menggunakan aplikasi petunjuk arah dalam kehidupan serba cepat ini menjadi sesuatu hal yang wajib kita miliki. Pastikan Anda memiliki ponsel dengan fitur GPS.

navigation-1048294_640

  1. Gunakan aplikasi transportasi yang murah dan mudah

Untuk mengatasi kemacetan Jakarta, aplikasi transportasi seperti GO-JEK, Grab, dan Uber menjadi favorit untuk mengantarkan kita ke tujuan dengan cepat dan murah. Aplikasi ini mempertemukan antara penyedia jasa dan pengguna jasa dengan bantuan teknologi. GO-JEK bahkan memperluas bisnisnya dengan pengantaran barang, pembelian makanan, pijat, dan sebagainya.

  1. Sesuaikan fitur ponsel dengan gaya hidup Anda

Ada begitu banyak model dan merk ponsel di pasaran. Sebelum Anda membelinya, di samping mencari sesuai anggaran Anda, pastikan fitur terbaik yang ditawarkan oleh modelnya mendukung gaya hidup kita. Kalau hanya butuh sms dan menelpon saja, lebih baik memilih generasi ponsel low end, yang murah meriah. Jika suka fotografi, pastikan kamera ponselnya menghasilkan gambar yang tajam dan jelas. Pasang pula aplikasi untuk mengoptimalkan hobi Anda sesuai gaya hidup, misalnya:

ios-1091302_640

  • Snapseed dari Google atau PhotosopMix dari Adobe untuk menyunting gambar
  • Endomondo atau Heiaheia! untuk membantu kita memonitor olahraga yang kita lakukan
  • Noom Coach: Weight Loss untuk memantau kalori yang kita makan dan kegiatan kita sehari-hari agar membantu kita menurunkan berat badan
  • Aplikasi Mobile Banking dari bank favorit Anda
  • Aplikasi untuk menyaring telepon masuk seperti Who’s Call yang memanfaatkan crowdsourcing juga, sehingga telepon dari telemarketing atau penipu bisa diblokir dan diidentifikasi dengan mudah

banner-1071783_640

Selamat mengoptimalkan ponsel cerdas yang Anda miliki, tetaplah menjalin hubungan sosial dengan keluarga dan sahabat Anda, dan rangkullah era digital dengan bijaksana!


 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Konten Viral “Digital Lifestyle” supported by Indihome. Gambar artikel diunduh dari sini.
 rockingmama

#FF Kamis – Inem yang Bawel

“Mar, rumahmu mati lampu, gak?” tanya Inem.

“Sekarang? Nggak tuh Nem. Nyala kok.” jawab Marni.

“Kamu mah enak. Rumah lega. Viewnya keren. Lah aku? Mana sempit, panas pula!” gerutu Inem. “Apa yang salah coba? Rumah gelap terus. AC mati. Bisa mati aku lama-lama.”

“Sabar saja Nem. Kita harus bersyukur apa yang diberikan kepada kita. Jangan mengeluh terus.”

“Ah kamu ngomong enak. Rumah adem. Terang. Coba gantian sama aku. Baru kamu bisa ngrasain penderitaanku.”

Tiba-tiba beberapa orang mendekati Inem dan Marni.

“Yaa siiiin…”

“Ssssttt… ada yang kirim doa buat kita, Nem. Jangan ngomong dulu yaa.. “ kata Marni dari liang kuburnya.


 

Tulisan ini dibuat sebagai partisipasi untuk #FFKamis dengan topik “ROH”, dengan batasan tepat mengandung 100 kata. Lihat cerita lainnya di sini.

Prompt #109 – Suatu Hari di Kembara Kala

Img2

“Selamat datang di Stasiun Kembara Kala. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang penjual tiket kereta.

“Satu tiket Mas.” jawab Kelana.

“Tujuan?”

“Kota Tegal, 23 tahun lalu, posisi latlong 6°52’01.9″S 109°08’33.4″E, pukul 16:00 WIB.”

“Satu kali jalan, atau return?

“Satu kali jalan saja. Nanti tiket kembali saya beli dari sana.”

Kelana sengaja meminta kedatangan di Stasiun Tegal jam 4 sore karena ia tahu tempat penjual ketupat glabed favoritnya buka setelah waktu Ashar. Perjalanan waktu selama itu akan menghabiskan energi yang tidak sedikit. Rasa mual yang timbul akan dia lawan dengan sepiring ketupat glabed dengan sate kerang pedas dan secangkir teh tawar hangat.

Kelana duduk di peron 1, di samping seorang lelaki tua berusia sekitar 70 tahunan.

“Mau pergi ke mana, Mas?” tanya lelaki tua itu.

“23 tahun yang lalu, ke Tegal, Pak. Bapak sendiri mau ke mana?”

“Kemarin sore, Mas. Ke sini juga. Pukul 17:00.”

“Loh? Ada apa kalau boleh tahu?”

“Hehehe.. Saya kemarin malam marah kepada istri saya, dan saya sangat menyesalinya. Saya akan kembali ke kemarin sore, lalu pulang ke rumah, dan akan saya ubah reaksi saya pada kekhilafan dia.”

“Ohh.. begitu. Bapak pasti sangat mencintai istri Bapak. Rela pergi ke masa lalu hanya karena ingin memperbaiki kesalahan kecil seperti itu.”

“Ya, saya sangat mencintainya. Saya sudah berusaha sedapat mungkin untuk tidak perlu menggunakan jasa kereta api Kembara Kala ini. Tapi saya tidak bisa tidur semalaman mendengarkan ia menangis terisak sampai pagi. Mas sendiri jauh-jauh kembali ke masa lalu untuk apa?”

“Saya ingin mengucapkan isi hati saya kepada seorang wanita yang saya cintai, namun tak pernah saya berani untuk mengutarakan cinta kepadanya. Ia akhirnya menikahi sahabat saya sendiri karena mengira saya tak pernah punya rasa kepadanya. Padahal saya baru tahu setelah sama-sama punya keluarga, bahwa ia juga mencintai saya.”

“Jika kau kembali, dan ia akhirnya jatuh cinta padamu, maka kehidupannya di masa kini dan kehidupanmu dengan keluargamu akan berbeda. Apakah kau sungguh-sungguh ingin melakukannya?”

“Saya tak peduli Pak. Saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri yang begitu pengecut untuk menyatakan cinta kepadanya. Saya tidak ingin merana seumur hidup saya.”

“Ingat pesan saya, tidak ada cinta yang sempurna. Yang ada adalah seseorang yang cukup sempurna untuk kita cintai.”

Kelana terdiam dan terperangah. Tak pernah ia memikirkan hal ini. Sesungguhnya ia cukup bahagia dengan istri dan anaknya. Mungkin ia hanya merasa jenuh atau merasa bisa lebih bahagia bila ia bisa hidup bersama dengan cinta pertamanya.

“Bapak benar. Saya terlalu emosi. Perasaan ini timbul setelah saya bertengkar dengan istri saya lalu tanpa sengaja wanita yang saya cintai di masa lalu bertemu di mal secara tidak sengaja. Dari perbincangan kami, saya mengetahui bahwa ternyata dia juga pernah ada hati sama saya.”

Kelana meremas tiket yang sudah ia beli dan ia robek-robek hingga kecil-kecil lalu ia buang di tempat sampah.

“Baik, Pak. Terima kasih banyak atas nasihatnya. Saya pamit dulu.”

Setelah Kelana pergi lelaki tua itu terkekeh sendiri di kursi peron 1 itu.

Dalam hatinya ia membatin, “Baru kali ini aku bicara dengan diriku sendiri yang lebih muda. Untungnya aku tidak keras kepala.”


Tulisan ini dibuat sebagai bentuk partisipasi Monday Flash Fiction ini.