#FFKamis – Terlambat

appointment-18319_1280

“Se.. selamat pa.. eh.. si.. siang Pak!” kata Sunyoto ketakutan.

“SIANG! Jam berapa ini?” hardik Anwar, atasan Sunyoto.

“Jam sebelas Pak..”

“Alasan apalagi yang akan kamu buat hari ini?”

“Ee.. anu Pak.. keponakan istri saya masuk rumah sakit, saya terpaksa mengantarnya dulu karena orang tuanya berhalangan.”

“Kemarin nenekmu, sekarang keponakan. Besok siapa lagi?”

“Harapannya semua sehat Pak.”

“Banyak kali alasanmu, To! Ya sudah, antarkan dokumen ini segera!”

“Baik, Pak. Siap laksanakan!”

Tiba-tiba Riana masuk.

“Kamu kenapa? Terlambat juga?”

“Ee.. iya Pak.. saya sudah terlambat datang bulan. Terakhir kita lakukan, saya lupa minum pil..”

Anwar senewen. Semua karyawan hari itu diliburkan.


Tulisan fiksi ini dibuat sebagai kontribusi FF Kamis minggu ini dengan topik “Terlambat“. Jumlah kata tepat 100 buah. Gambar free royalty diunduh dari sini.

Ulasan Buku “BLOGGING: HAVE FUN AND GET THE MONEY”

Semalam saya mencoba mencari buku yang ditulis oleh Carolina Ratri ini di Toko Buku Gunung Agung Senayan City. Ketika datang ke sana bukunya ternyata belum masuk. Dari pencarian di komputer, buku ini tidak dapat ditemukan, baik dengan menggunakan judul maupun pengarang.

IMG_5453

Menurut pramuniaga yang melayani saya dengan penuh kasih sayang antusias, kecepatan sebuah buku masuk ke tiap gerai buku berbeda-beda. Menurut hukum fisika, kecepatan sebuah benda berbanding lurus dengan jarak tempuh dan berbanding terbalik dengan waktu tempuh. Jika waktu tempuh pengiriman buku lama karena macet atau ban kempes, maka kecepatan masuknya buku ini bisa rendah juga. Walah ini kok malah membahas pelajaran fisika, ya?

OK, kembali ke laptop.  Saya termasuk orang yang kalau udah kebelet pengen sesuatu, harus kejadian. Jadi meski semalam saya gagal membawa pulang buku Blogging: Have Fun and Get the Money (BHFGM) ini, saya harus mendapatkannya hari ini. Padahal pagi tadi saya harus berada di German Center BSD yang jaraknya jauh dari kantor untuk keperluan BCP, dan baru sore kembali ke kantor di Senayan. Kalau mau beli buku langsung berarti harus menunggu pulang kantor dan bermacet-macet ria ke toko buku lain, misal Gramedia Plaza Semanggi atau Gramedia Pondok Indah. Hmm.. sayang waktu terbuang percuma hanya untuk mendapatkan buku ini di tangan. Mau tidak mau harus pintar-pintar memanfaatkan teknologi di era digital seperti yang pernah saya tulis sebelumnya.

Dari dalam kereta Commuter Line arah Stasiun Palmerah, saya langsung Googling mencari info telepon Gramedia Plaza Semanggi.

IMG_5462

Langsung saya telepon dan memastikan stok bukunya tersedia. Alhamdulillah, ada! Satu stok bahkan disimpan ke Customer Service agar dipastikan saya mendapatkan buku ini. Maklum ini buku masih hot, dan para blogger atau mereka yang ingin terjun ke dunia blogging bisa kalap ingin mendapatkan buku ini. Saya tentu saja tidak mau kehabisan.

Ketika berjalan menuju gedung kantor saya bekerja, langsung saya buka aplikasi GOJEK, pilih Go Mart, kemudian memasukkan Gramedia Semanggi.
IMG_5465

Setelah selesai menekan tombol ORDER, wajah kurir GOJEK muncul di layar HP saya.

IMG_5466

Sembari menunggu buku, saya melanjutkan pekerjaan saya, menghadiri meeting, membalas e-mail, dan sebagainya. Tidak lama kemudian buku yang saya tunggu-tunggu akhirnya hadir juga. Alhamdulillah!

Senyum manis Abang Gojek
Senyum manis Abang GOJEK menyerahkan buku yang diidam-idamkan!

Setelah jam kerja berakhir langsung saya buka plastik pembungkusnya dengan perlahan dan penuh kehati-hatian agar tidak menggores cover buku yang cantik ini. Sebelum membaca saya coba membuka-buka halamannya untuk melihat kualitas kertas, font tulisan yang digunakan, ilustrasi gambar dalam buku, dan tentu saja daftar isi.

Inilah komentar saya dari sekilas pandang untuk mendapatkan kesan pertama, apakah buku ini tampak meyakinkan atau tidak. Sebagai seorang penulis buku yang bukunya pernah hadir di Gramedia dan Gunung Agung, saya tentu saja tertarik untuk membandingkan dengan buku yang pernah saya tulis dulu tentang dunia pemrograman beberapa tahun yang lalu, setidaknya dari segi fisik, bukan dari konten.

  1. Cover Buku
    Gambar ilustrasi cukup OK, menggambarkan seluk beluk dunia blogging. Judulnya ditulis dalam Bahasa Inggris, yang mencoba memberikan efek keren dan gaul, namun memiliki drawback juga. Pembaca yang tidak teliti dan melihat di rak buku dan menghindari buku asing, akan mengira ini buku yang menggunakan Bahasa Inggris. Coba bandingkan bila judulnya Asyiknya Ngeblog dan Dapat Duit! Saya rasa masih dapat efek gaulnya dan konsisten dengan isi bukunya yang memang menggunakan Bahasa Indonesia.
  2. Font yang digunakan enak dilihat, konsisten dengan pembagian seksi buku, termasuk penggunaan bahasa asing.
  3. Gambar ilustrasi mayoritas tetap jelas dilihat, meski sudah dicetak dalam bentuk buku. Biasanya ketika kita menulis buku di komputer, gambar ilustrasi memang jelas. Namun ketika dicetak gambarnya kabur. Penulis rupanya cukup teliti dalam memastikan gambar tetap enak dilihat meski ukurannya kecil.

Sampai tahap ini, saya merasa yakin (believe) dengan buku ini, meski baru sekilas. Percayalah, jika sering membaca buku, Anda akan mudah memutuskan untuk terus membaca atau tidak meski hanya melihat sekilas (padahal buku yang saya baca gak banyak-banyak amat hahahahahahahahahahahaha….Hush! Cukup menertawakan diri saya, kita fokus lagi ke buku ini).

Dari sisi konten penulis mengawali dengan cukup baik mengenai mengapa kita harus blogging, apa saja manfaatnya, dan ajakan blogging yang menghasilkan keuntungan secara finansial. Di bab pertama ini penulis mengajak kita blogging for fun hingga bisa mendapatkan banyak keuntungan, tanpa melupakan blogging for living with heart.

Di chapter 2, saya mendapatkan banyak sekali tips bagaimana kuatnya blog personal kita jika topik yang dibahas mengerucut pada topik tertentu. Istilahnya penulis adalah blog ber-niche. Jujur saya sudah mulai ngeblog dari jaman Friendster (duh ketahuan deh tuanya), Multiply jaya hingga sekarat dan mati, sampai akhirnya mengekspor kontennya ke WordPress ini. Dari dulu sampai sekarang hingga akhirnya saya baca buku ini, saya sempat tidak peduli dengan blog yang isinya mengerucut seperti ini. Saya hanya peduli bahwa saya akan berbagi apapun yang saya pikir bermanfaat atau apapun yang secara pribadi saya sukai. Ternyata dengan memiliki blog yang fokus topiknya akan memiliki banyak manfaat, misalnya lebih mudah dijadikan tambang uang, lebih mudah menjaring pembaca yang loyal, dan tentu saja membuat kita lebih fokus dalam menulis. Chapter 2 ini ditutup dengan gong yang sangat kuat, tips dasar SEO (Search Engine Optimization) alias bagaimana blog kita bisa dioptimalkan agar peringkat blog kita menjadi maksimal ketika dicari dari mesin pencari, misalnya Google.

Di chapter 3 kita diajak untuk meningkatkan kualitas kita dalam menulis. Berbagai tips menulis yang jarang kita dengar diberikan di sini.

Di chapter 4 penulis membahas mengenai Job Review, yaitu order ngeblog berbayar dari seseorang atau perusahaan sesuai pesanan. Aih indahnya ketika fase ini bisa kita dapatkan. Jangan kedip ketika baca bab ini. Eh.. gak mungkin ya kalau gak kedip? Maksud saya fokus baca di bagian ini karena banyak harta karun buat kita dapat penghasilan dari blogging. Ingat-ingat ya, chapter 4!

Di chapter 5, penulis menampilkan hasil wawancara dengan para blogger yang punya pengalaman mendulang uang dari blognya. Banyak tips penting dibagikan di sini. Highlight yang penting dan implementasikan!

Pada chapter 6, penulis membahas tentang cara mendapatkan uang dengan Ad Sense dan afiliasi dengan blog e-commerce macam Amazon, Lazada, dan Bilna. Ini jurus baru yang pernah saya endus di blog langganan saya, namun baru kali ini dipreteli jeroannya oleh penulis. Penting untuk disimak!

Terakhir, pada chapter 7, penulis memberikan tips untuk merawat blog yang kita kelola dengan memeriksa ada tidaknya pranala yang terputus, selalu terus meremajakan isinya, terus belajar agar materinya bertambah, dan terus berbagi kepada pembaca. Terakhir kita diminta bersilaturahim dengan sesama blogger, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Kesan saya terhadap buku yang memiliki 245 halaman ini adalah sangat positif! Saya merekomendasikan buku ini kepada siapa saja yang suka ngeblog, khususnya mereka yang ingin blognya bisa mendatangkan keuntungan, terutama secara finansial. Buku ini akan saya baca secara lebih mendalam lagi untuk membantu saya merapikan dan menyiapkan blog saya agar lebih menarik dan bisa mendatangkan keuntungan selain kepuasan pribadi. Jika ada yang mau pinjam buku ini, akan saya tolak mentah-mentah. Saya akan memintanya untuk membeli langsung di toko buku, karena buku ini akan bermanfaat dijadikan referensi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Ini bukan masalah pelit atau tidak, tapi memang buku ini terlalu sayang untuk tidak dimiliki.

Prompt #113 – Sepotong Cinta dalam Sekuntum Mawar Peach

Perfect fresh orange rose

“Selamat Siang Pak Agus. Boleh minta izin untuk wawancara?”

“Siang. Anda siapa?” tanya Agus setengah kaget di tempatnya beristirahat di siang yang cukup panas itu.

“Saya Randi dari Jawa Pos tertarik dengan kisah Bapak. Kalau Bapak tidak berkeberatan saya ingin memuat kisah Bapak di kolom khusus media kami.”

“Baiklah. Saya mulai dari mana ya?”

“Terserah Pak Agus saja, nanti kalau ada yang ingin saya tanyakan akan langsung saya tanya saja.”

“Ceritanya bermula bertahun-tahun yang lalu, ketika saya dan Yunita sedang mendapat pelajaran mengarang dari guru Bahasa Indonesia ketika kami masih duduk di bangku SMA. Karangan kami berdua menjadi karangan terbaik di kelas waktu itu. Selama satu bulan penuh karangan kami dipasang di majalah dinding sekolah dan menjadi pembicaraan semua murid dan guru. Sejak saat itu saya bertambah dekat dengannya dan mulai berpacaran. Setahun setelah lulus SMA kami berdua menikah dan dikarunia seorang anak. Dua tahun kemudian Yunita mulai bekerja, dan sejak saat itu masalah mulai timbul.”

“Apakah ada keterlibatan orang ketiga, Pak?” sela Randi.

“Oh tidak. Justru Yunita sangat setia kepada saya. Dia mulai sakit-sakitan. Dokter sampai kebingungan mendiagnosa penyakitnya. Saya bolak-balik mencari pengobatan alternatif berbulan-bulan. Puluhan kota sudah saya datangi. Akhirnya Allah SWT memiliki kehendak lain. Istri saya dipanggilNya dalam usia yang masih muda.”

“Saya mendapat kabar bahwa Bapak mengunjungi makam Yunita setiap hari Jumat sore. Apakah benar?”

“Benar Mas. Saya begitu mencintainya. Meski hubungan kami bisa diibaratkan bagai dongeng semusim, namun kesetiaan dia yang begitu besar tidak akan pernah bisa saya lupakan. Saya selalu bawa sekuntum mawar berwarna peach kesukaannya dulu. Makamnya selalu saya bersihkan. Doa selalu saya panjatkan agar ia diampuni dari segala dosa dan diterima semua amal ibadahnya.”

“Setiap minggu, Pak? 52 kali dalam setahun?” tanya Randi.

“Iya, Mas. Setiap minggu saya tidak pernah absen. Sebagaimana dia tak pernah absen ketika dia melayani saya.”

“Apa kenangan indah bersamanya sewaktu Yunita masih hidup, Pak?” tanya Randi.

Agus terdiam sejenak. Tampak di sudut matanya ada setitik air mata menunjukkan kesedihannya yang mendalam.

“Saya pernah kesulitan modal untuk dagang. Yunita tanpa ragu menawarkan seluruh perhiasan dan tanah warisan dari ayahnya untuk dijual untuk menambah modal saya. Nyaris saya masuk hotel prodeo difitnah rekan dagang saya, namun dia yang meyakinkan banyak orang bahwa saya tidak bersalah. Dia bagaikan purnama yang sempurna bagi hidup saya. Namun Allah SWT lebih menyayanginya, sehingga dia kembali pada Sang Pencipta mendahului saya.”

Randi dapat merasakan betapa besar cinta Agus kepada Yunita. Ia mulai mencoret-coret di buku kecil yang ia bawa.

“Oh ada tamu rupanya?” seorang wanita cantik muncul dari dalam rumah.

“Oh.. Bu.. ini kenalkan Mas Randi, wartawan dari Jawa Pos,” kata Agus memperkenalkan.

Randi menatap Agus. Kebingungan.

“Ini istri kedua saya. Setahun setelah Yunita pergi, saya menikah lagi dengan Riana.”

“Saya ambil minum dulu ke dalam ya Mas” ijin Riana pada Agus.

“Istri ketiga saya sedang mengantar anak Yunita belanja di mal.”

“Ja.. jadi Mas Agus sekarang berpoligami?”

“Ya, Mas.”

Randi sontak menjadi salah tingkah. Ia bingung artikel apa yang ia mesti tulis. Suami yang begitu mencintai istrinya atau contoh lelaki yang sukses berpoligami.


Tulisan ini adalah kontribusi untuk Prompt #113 : Tiga untuk Seratus Tiga Belas. Untuk lebih rincinya, silakan baca di sini. Gambar diambil dari sini.

Sally D’s Mobile Photography Challenge: Nature (a Few Waterfalls Scenes from my Travels)

This Monday’s challenge is Nature. Sally’s posting is about her beach scenes from her travels, mine is about waterfall. I like beach but like waterfall more 🙂 The weather usually cooler. Beach is usually hot and sunny. Jakarta is hot, that’s why I prefer waterfall which usually located in higher land, with cooler weather.

You can feel the real power of water under the waterfall. Gravity and water are great combination to provide power and beauty at the same time. Every waterfall has its own tale and signature. With someone you love, you can create a romantic atmosphere near it.

Reader, do you have a special experience with any waterfall?

Among these shots, which scene you like most?

21782_10205247782766895_2944177327807750298_n
Curug Nangka
996045_10201576745393255_1932734134_n
Curug Bidadari
1386008_10201576745033246_288885536_n
Curug Bidadari
1452325_10201576715512508_485373324_n
Curug Bidadari
1655559_10202184197059167_1333382602_o
Curug Bidadari
10390572_10203646117046253_2258968958404587956_n
Curug Cibeureum
10603435_10203646116766246_2714310379117273632_n
Curug Cibeureum
11187192_10205274835843205_7595258519243745573_o
Curug Nangka
11990640_10206194725359868_6470463542930090688_n
Tiu Kelep
12238496_10206569178880972_7422879790629789666_o
Curug Cidahu
12247828_10206569184401110_2727640235178966576_o
Curug Cidahu
247574_1977889199672_301361_n
Small Waterfall
252806_1977889919690_611600_n
Curug @ Gunung Bunder
253771_1977890319700_7689336_n
Curug Ngumpet
279871_2126360751368_1120183_o
Guci Waterfall