Review Kumpulan Cerpen DUNIA SUKAB

Sudah lama sekali saya baru bisa menyelesaikan sebuah buku. Padahal ada beberapa buku yang saya beli, namun selalu terhenti di tengah jalan. Penyebabnya ada beberapa. Di antaranya:
– kehilangan motivasi karena merasa kok tulisannya tidak seperti yang diharapkan
– beli bukunya dulu mungkin karena lapar mata
– gangguan telepon pintar, saking pintarnya membuat kita semakin bodoh. Baru mau melanjutkan sudah buka Facebook. Youtube. Whatsapp. Google. Dari bangun tidur, ke kamar mandi, sarapan, di Gojek menuju stasiun, menunggu kereta, gelantungan di kereta, di Gojek ke kantor, di sela-sela jam kantor, makan siang, pas di Gojek ke stasiun, menunggu kereta, gelantungan di kereta, di Gojek ke rumah, di kamar mandi, sambil makan malam, dan sebelum tidur. Coba bayangkan! Terus kapan bisa bacanya???

Ada yang senasib dengan saya? Ayo ngaku! Hahaha.. Saya sepertinya menderita penyakit nomophobia. Akhirnya saya bertekad mengurangi melirik iPhone, terutama di stasiun dan di kereta. Di manapun bisa membaca dengan enak, harus dipaksakan untuk membaca. Menyelesaikan yang dulu telah dimulai. Dan saat ini yang saya selesaikan adalah kumpulan cerpen salah satu cerpenis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma.

Img2

Dari mana saya kenal tulisan beliau? Ceritanya begini. Almarhum ayah saya yang meninggal dunia empat tahun lalu, dulu adalah pelanggan Kompas yang setia. Saya paling suka dengan Kompas Minggu karena ada TTS dan cerpennya. Setiap kali saya baca tulisan beliau, saya suka. Dia terkadang pandai bermain mild twist dan sering menulis simbolisasi akan kehidupan sosial yang terjadi di Indonesia. Cerpennya banyak yang berisi kritikan sosial atau protes atau sekedar menggambarkan apa yang ia rasakan dalam melihat carut marutnya dunia Indonesia, politik, dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Siapa itu Sukab? Baca nih asal-usul kenapa Sukab begitu melegenda.

Tanpa membawa-bawa teori, saya menjadi geli, karena tokoh fiktif ini rupa-rupanya lebih eksis ketimbang banyak manusia beneran, yang berdarah dan berdaging, tapi kehadiranya tidak pernah eksistensial, sehingga kemungkinan besar tidak pernah diperbincangkan oleh siapapun dalam konteks apapun seumur hidupnya. Padahal, dalam fiksi pun sukab bukanlah nama seorang tokoh. Sukab hanyalah sembarang nama yang saya pasangkan kepada setiap tokoh, sekedar karena saya malas “mengarang”, menyesuai-nyesuaikan nama dengan karakter tokoh supaya meyakinkan, dan lain sebagainya. Setiap kali saya kesulitan mencari nama, saya pasang saja nama Sukab. “Toh sama-sama fiktif ini,” pikir saya, “kenapa harus susah-susah cari nama?”

Membaca cerpen Seno, kita akan merasakan pekikan suara kritikan wong cilik, yang menembus penjuru tanah air, bukan melalui demo dan kekerasan, namun dalam bentuk sastra. Ia akan menghunjam batin dan nurani kita, sehingga kita bisa mulai untuk bergerak. Mulai untuk bersikap. Atau bahkan mulai untuk bertindak. Itulah kekuatan pikiran, rasa, dan tulisan Seno. Hati yang peka, nurani yang halus, akan merasakan ketidakadilan, keputusasaan, kesewenang-wenangan, dan pemberontakan yang diungkapkan Seno melalui karakter yang ia ciptakan. Salah satu bunglonnya ya itu, Sukab.

Kumpulan cerpen setebal 230 halaman ini berisi tiga bagian:
– Dunia Sukab 1 (delapan cerpen)
– Dunia Sukab 2 (enam cerpen)
– Dunia Sukab 3 (tiga cerpen).

Cerpen-cerpen itu pernah dipublikasikan dalam berbagai harian maupun majalah yang terentang dari tahun 1985 hingga tahun 2014. Kejadian kerusuhan 1998, di mana saya juga merasakannya, diwakili oleh cerpen-cerpen yang ditulis Seno seputar kejadian itu. Penyiksaan orang yang salah tangkap yang dulu jadi trend, ikut menjadi salah satu tema cerpennya.

Buat kamu yang suka cerpen, terutama penuh dengan kritik sosial politik, saya rekomendasikan untuk membaca buku ini!

Saya memberikan 8 skala 10.

Berkemah di Situ Gunung

Halo, outdoor lovers! Kali ini saya akan berbagi pengalaman berkemah di tempat baru buat kami, di Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Seperti biasa saya akan ndongeng, cerita ngalor-ngidul selama kami melakukan perjalanan, so bear with me aja lah ya.

Oh ya, buat kalian yang baru pertama kali mampir dan pengen kepo pengalaman berkemah saya sebelumnya, monggo dibaca di pranala berikut ini:
1. Ranca Upas Ciwidey, Bandung,
2. Sukamantri, Bogor
3. Gunung Lembu, Purwakarta
4. Cipamingkis, Bogor
5. Guci, Tegal
6. Tambang Ayam, Anyer
7. Cidahu, Sukabumi

Berangkat dari Serpong hari Jum’at (12 Mei 2017) sekitar jam 11 siang. Akhirnya berhenti untuk sholat Jum’at dan makan siang dulu di Masjid Al Madinah sebelah Rumah Sehat Dompet Dhuafa di daerah Parung, Bogor. Masjidnya bagus, cukup luas dengan bentuk memanjang, dan toiletnya wangi banget! Ah keputusan tepat untuk singgah dan sholat di masjid ini.

Kami berangkat meninggalkan masjid untuk menuju Sukabumi sekitar pukul 2 siang. Berhenti untuk sholat ashar, sholat maghrib, dan makan nasi goreng kambing dengan total istirahat sekitar dua jam. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 8 malam. Itu berarti total di jalan dari Parung ke Sukabumi sekitar 4 jam, sudah termasuk kemacetan di beberapa titik di Sukabumi.

Buat kamu-kamu yang males kena macet atau tidak ada kendaraan pribadi, saya sarankan bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Paledang Bogor yang berdekatan dengan Stasiun Bogor. Ada kereta ekonomi AC dan juga eksekutif Pangrango. Turun saja di Stasiun Cisaat, lalu sewa angkot ke lokasi. Memang kalau berkemah rempong ala kami agar ribet juga kalau sewa angkot. Bawaannya banyak. Tenda tidur dua (salah satunya turbo tent yang segede gaban), satu tenda payung untuk masak, flysheet, alas tenda, dua kompor, dua kasur pompa, bantal, selimut, jaket, pakaian ganti, berbagai bahan makanan seperti kentang, mie, sosis, roti, dan alat makan seperti mangkok, piring, gelas, dan sebagainya. Lebih cocok backpackeran kalau mau naik kereta api.

Img4.jpg
Kereta Pangrango

Nah karena sampai di sana sudah malam dan banyak perabotan yang kami bawa, akhirnya kami putuskan malam itu tidak langsung berkemah di area wisata. Untungnya, sekitar 10 meter sebelum pintu masuk ada penginapan, Villa Cemara. Dari salah satu teman pencinta outdoor, kabarnya villa ini pemiliknya cukup ramah (Ibu Tuti), dan memang benar adanya. Buat kalian yang ingin menikmati indahnya Situ Gunung dan Curug Sawer tanpa ingin berkemah, bisa memilih untuk menginap di sini. Saya sarankan untuk booking sebelum datang, karena bisa saja penuh. Untung saja waktu itu kami masih mendapatkan dua kamar kosong di rumah bata. Dua kamar kosong yang tersisa berisi masing-masing tiga dan dua tempat tidur dengan kamar mandi di dalam. Air panas tersedia lho. Biaya menginap di kamar dengan tiga tempat tidur pada malam itu adalah 500 ribu semalam dan yang dua kamar 300 ribu semalam. Karena kami berlima bersama asisten RT, saya mengambil kedua kamar itu, agar kata anak pertama kami, saya dan istri bisa mendapatkan quality time. Hahaha.. dasar bocah kelas 2 SMP sekarang udah ngerti aja.. Sebenarnya bisa sih kami menginap dalam 1 kamar berlima dengan menggelar kasur pompa, namun ya itu.. saya dan istri tidak bisa mendapatkan “quality time”. 

Kebetulan kami juga membawa Wifi Portable dengan Kartu XL dengan kekuatan sinyal yang sangat kuat. Maklum saja di dekat situ ada tower XL. Sinyal Telkomsel kurang begitu kuat di daerah Situ Gunung. Jadi malam itu kami tetap bisa berkomunikasi dengan Whatsapp secara nyaman.

Pagi setelah sarapan kami bersiap-siap dengan memasukkan semua perabotan lenong ke dalam mobil, lalu pergi ke tempat wisata.

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM
Ini tiket masuk di pintu gerbang
WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.26 AM
Tarif sesuai Peraturan Pemerintah RI
WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM (1)
Nah, tarif 29 ribu, namun kami bayar 35 ribu

Meski bandrol tertulis 29 ribu rupiah, namun kami diharuskan membayar 35 ribu rupiah dengan alasan untuk uang kebersihan dan sebagainya. Well, baiklah. Kami berlima hanya empat yang harus bayar, Aila yang masih kelas 1 SD gratis.

Setelah urusan administrasi beres, kami segera bergegas menuju danau. Dari pintu gerbang jaraknya sekitar 700 meter. Bisa naik ojek ke sana, namun kami memutuskan untuk berjalan kaki membakar kalori sambil menikmati sejuknya alam.

Perjalanan menuju danau berbatu-batu seperti terlihat pada gambar di atas. Anak saya yang kelas 1 SD sangat menikmati perjalanan dan tidak memberatkan dia sama sekali.

Begitu sampai di danau, kami semua takjub akan keindahan alam ciptaan Ilahi. Begitu sempurna. Lanjutkan membaca “Berkemah di Situ Gunung”

Review Film The Hatton Garden Job (2017) aka One Last Heist

Film ini sedang tayang di CGV dengan judul One Last Heist. Pada awalnya cukup membingungkan karena ketika saya cari di IMDB film ini tidak ditemukan! Ternyata masuk ke Indonesia filmnya berganti judul. Hal ini memang kerap terjadi kok. Misalnya film terbaru dari franchise Pirates of Caribbean di Amerika lebih dikenal dengan Dead Man Tell No Tales, sementara di Indonesia populer dengan Salazar’s Revenge.
Film yang berdurasi 93 menit ini dibuat berdasarkan kisah nyata perampokan dengan nilai terbesar sepanjang sejarah Inggris, sekitar 200 juta poundsterling. Yang menjadi pusat perhatian masyarakat pada perampokan yang terjadi di April 2015 ini adalah para pelakunya yang sudah uzur. Empat perampok uzur yang ditemani seorang perampok muda bekerja sama untuk mengejar renjana mereka, membobol bank sekali lagi sebelum mati. Alih-alih bertaubat, mereka justru bergairah dengan adrenalin dan kesempatan untuk membobol bank sekali lagi. Jangan ditiru ya pembaca! Boleh tiru semangatnya, namun bukan pada kejahatannya.
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.01 PM.png
Film yang disutradarai oleh Ronnie Thompson ini sebenarnya menawarkan premis thriller yang menarik, namun porsi terbesar justru pada persiapan perampokan, bukan pada perampokan itu sendiri. Beberapa adegan dalam film mengundang tawa penonton dengan humor khas Inggris.
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.15 PM
Ada beberapa hal yang kalau kita pikirkan bisa kita bawa pulang:
1. Untuk melakukan prestasi yang hebat, usia bukanlah halangan
2. Dalam merencanakan sesuatu, rencanakanlah dengan matang. Jika perlu buat beberapa rencana cadangan, jika rencana utama mengalami kendala
3. Hargailah orang yang lebih tua, karena mereka menjalani hidup lebih lama daripada kita dengan segala pengalamannya
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.41 PM
Berikut ini adalah para pelaku aslinya:
Screen Shot 2017-05-20 at 7.59.44 PM
Dan yang ini adalah trailernya:
Selamat menonton!

FfKamis – Sayang Anak

“Pak, dua minggu lagi harus membayar uang pendaftaran kuliah,” kata Ani lewat telepon.

“Sabar ya, Nduk. Doakan Bapak bisa segera transfer ya!” jawabku seadanya.

Jadi pengemudi ojek daring mendapatkan uang jutaan dalam waktu singkat adalah hal yang mustahil. Tapi aku tak boleh menyerah. Tuhan Maha Kaya. Anakku harus jadi orang besar!

Batas waktu pembayaran datang juga. Tuhan Maha Mendengar doa hamba-Nya.

“Bapaaaak… uangnya sudah kubayarkan! Terima kasih banyak ya Pak. Aku bisa kuliah!”

“Belajar yang baik ya, Nduk!” 

Telepon genggamku berbunyi. Sebuah sms masuk.

Terima kasih atas ginjal barunya ya Pak. Bapak telah menyelamatkan nyawa ayah saya.

Pinggangku terasa nyeri.

——————

Flash fiction ini adalah kontribusi FfKamis dengan topik BARU, mengandung tepat 100 kata. 

5 Alasan Kudu Nonton Guardians of Galaxy Vol. 2 dan The Autopsy of Jane Doe

Akhirnya setelah menunggu sekitar tiga tahun, sekuel Guardians of Galaxy tayang juga dengan sukses dan lumayan heboh. Film ini bukan sekedar film superhero biasa. Pada intinya apa yang dijual di Fast Furious 8, di sini juga menjadi tema sentral, yaitu KELUARGA.

Alasan kenapa kamu harus nonton film ini, adalah:

  1. Ada REUNI KELUARGA. Ada anak yang bertemu dengan ayah kandungnya, dan ada yang bertemu dengan saudaranya, ada juga yang tadinya dianggap penjahat namun dikenang sebagai orang yang terdekat dalam hidupnya.
  2. Lagu-lagu klasik yang menghiasi film ini sangat keren dan enak dinikmati, terutama Fathers and Son karya Yusuf Islam yang dulu dikenal sebagai Cat Stevens. Adegannya sangat pas diiringi lagu ini. Mengharukan.
  3. Humornya benar-benar nonstop dari awal hingga akhir. Siapkan perut kamu agar tidak kram selama nonton!
  4. Visual FXnya dijamin keren abis. Delapan perusahaan visual FX dikerahkan untuk mengerjakan semua visual FX yang keren abis. Lihat saja Groot yang jadi super unyu di film ini setelah berkorban di film pertama.
  5. Ada bonus adegan tambahan setelah film berakhir. Ada L I M A. Jangan buru-buru pulang yaa..

James Gunn sebagai sutradara berhasil dengan baik mengolah emosi penonton, dari bahagia, tercengang, hingga sedih. Semua digabungkan dengan pas dan tidak membosankan. Alurnya cepat, penonton dibuat menunggu dan penasaran dengan adegan berikutnya.

Saya menonton film ini hingga 3 kali di bioskop, sekali karena dapat tiket gratis 🙂

Filmnya panjang, jangan lupa bawa cemilan dan cemolan sebelum nonton ya!

Naaaah… sekarang kita ngomongin film horor. Buat kamu pencinta film horor, The Autopsy of Jane Doe jangan dilewatkan. Nih coba lihat trailernya:

Ceritanya, ada pembunuhan di sebuah rumah, dengan empat jenazah. Tiga ditemukan tewas secara brutal, satu ditemukan telanjang bulat tanpa luka terkubur setengah badan di lantai dasar. Nah Tommy yang diperankan Brian Cox (Red, X-Men 2) dan anaknya Austin yang diperankan Emile Hirsch (Into the Wild, Milk) mendapatkan kiriman jenazah wanita tak dikenal yang kalau di sini disebut si Fulanah, di sana dikenal dengan Jane Doe.

Mulanya autopsi berjalan dengan lancar di rumah mereka yang memang dilengkapi fasilitas krematorium dan autopsi ini. Namun berbagai keanehan muncul dan meneror mereka. Apakah mereka berhasil mencari tahu siapa gerangan si Jane Doe itu?

Film ini berhasil membuat para penonton merasa ngeri dengan suasana ruangan autopsi itu sendiri. Bayangkan kalian berada di rumah besar, di ruangan bawah tanahnya ada ruang autopsi, hanya berdua saja mengautopsi jenazah di dalam keadaan hujan badai di luar sana. Penonton selalu  dibuat penasaran apa lagi yang akan muncul berikutnya..

Sangat fresh idenya, tidak boleh dilewatkan buat pencinta horor. Visual FXnya bagus, membuat kita bergidik dan ngeri melihat proses autopsinya. Musiknya begitu mencekam, sangat cocok dengan adegannya yang membuat kita mengkeret di kursi.

Beda banget deh sama Conjuring dan Insidious! 8/10 aku kasih.