Finding Neverland (2004)

Film ini diinspirasikan dari secuil kehidupan J.M. Barrie ketika ia melahirkan cerita anak-anak yang cukup termasyhur, Peter Pan. Aku sendiri nonton salah satu film yang bercerita tentang Peter Pan, Hook, yang dimainkan oleh Robin Williams dan Dustin Hoffman.

Film ini diperankan oleh Johny Depp yang memerankan Barrie, dan juga Dustin Hoffman! Diceritakan bagaimana hancurnya pernikahan Barrie ketika ia justru berhasil menciptakan cerita yang akhirnya menjadi legenda.

Film ini sangat menginspirasikan kita bagaimana menghidupkan hidup dengan imajinasi.

Voces inocentes (2004)

Diangkat dari kisah nyata, kisah seorang anak lelaki berusia 11 tahun yang harus ikut dalam perang di El Salvador tahun 1980. Dia harus memilih apakah jadi tentara belia mendukung pemerintah atau mendukung pasukan gerilya.
Jadi mengingatkan perang di Aceh. Cuma di sini jauh lebih kejam, anak kecil dipaksa angkat senjata. Dan dieksekusi di kepala dalam usia 10-12 tahun.

Begitu mengharukan…

Humor Berbahasa Jawa

Alkisah di sebuah perusahaan besar di kawasan Keprabon, tengah melakukan beberapa tes wawancara untuk ” tidak” menerima calon karyawan baru, tentu saja salah satu prasyaratnya adalah harus berbahasa EJD (Ejaan Jawa yg nDaksempurna).

Bagi yang tidak memahaminya nggih nyuwun sewu … (mohon mangap)
Boso Jawi … Meniko

G : Kowe nduwe omah opo ora…..?
a : dereng….
G : Wah kowe ora iso ketompo nang kene
a : Lho kok ngaten……..?
G : Mengko kowe mesthi ngajukne utang nang perusahaan.
a : Ah.. mboten kok, Sak janipun tiyang sepuh kuloniku sampun sugih.
G : Yo malah ora ketompo
a : Lho kok ngaten…..?
G : Mengko kowe kerjo mung nggo hiburan, nongkrang nongkrong ae.

G : Kowe nduwe motor opo ora….?
b : Mboten.
G : Ora ketompo
b : Lho kok mboten ketompo ?
G : Mengko kowe mesthi njaluk bantuan kredit.
b : Sak janipun gadhah, ning tasih ten kampung, gampil mangke kulo beto ngriki.
G : Wah malah ra ketompo….
b : lho kok ngoten
G : Tempat parkire wis ra cukup.

G : Kowé wis lulus sarjana tenan…..?
c : sampun pak….
G : Ora ketompo, kéné iki golék sing SMA aé, luwih manutan lan bén mbayaré murah c : Sak janipun kulo tasih badhe skripsi G : Malah ora ketompo…..
c : Lho kados pundi to….?
G : Mengko kow é kerjo mung ngetik skripsi, lék wis lulus mesti golék kerjo neng perusahaan liyo.

G : Kowé seneng guyon opo ora ?
d : Mboten pak, kulo serius n ék nyambut gawé.
G: Ra ketompo…..
d : waa……kok ngoten?
G : Engko konco koncomu lan anak buahmu podho stress.
d : Sak jané nggih sekedhik sekedhik seneng guyon.
G : Malah ora ketompo.
d : Lho kok……
G : Engko kowé mung email emailan sing
lucu…….

G : Kowé mau mréné numpak opo ?
e : Nitih mobil
G : Kowé ora ketompo
e : Sebabipun ?
G : Saiki BBM mundhak terus, mengko kowé njaluk mundhak bayar terus e : Wo, kulo wau namung mboncèng, kok G : Tambah ora ketompo e : Lho, lha kok … ?
G : Mengko mung gawéné mboncéng mobil kantor.
Ngrusuhi !

G : Anakmu akèh opo sithik ?
f : Kathah pak
G : Kowé ora ketompo
f : Sebabipun ?
G : Nyambut gawemu ora jenjem, mung mikir gawe uanaaaaaak terus f : Lha wong namung anak adopsi, kok.
G : Tambah ora ketompo
f : Lho, lha kok … ?
G : Gawé anak baé aras2en, opo manèh nyambut gawé

G : Kowé wis ngerti gawéyanmu durung ?
h : Dèrèng
G : Kowé ora ketompo
h : Sebabipun ?
G : Arep nyambut gaw é kok ora ngerti gaweyané ?
h : Oo, nèk damelan niku mpun ngertos kok G : Tambah ora ketompo h : Lho, lha kok … ?
G : Kowé rak mung arep keminter, to ?

G : Kowe ngerti kahanan kantor k éné durung
k : Dèrèng
G : Kowé ora ketompo
k : Sebabipun ?

G : Arep nyambut gaw é kok ora ngerti kantoré ?
k : Wo, sekedhik2 mpun ngertos kok
G : Tambah ora ketompo
k : Lho, lha kok … ?
G : Kowé senengané ngudhal-udhal wewadi kantor, to ?

G : Kowé kerep loro ?
m : Mboten
G : Kowé ora ketompo
m : Sebabipun ?
G : Mesthi kerep mbolos, wong arang2 gering
m : Wah, sakjanipun nggih asring
G : Tambah ora ketompo m : Lho, lha kok … ?

G : Kantor iki ora nompo karyawan pileren.

G : Kowé biso main Internét ?
n : mBoten
G : Kowé ora ketompo
n : Sebabipun ?
G : Perusahaan ora nompo BI (Buta Internet)
n : Wah, sakjanipun nggih saged
G : Tambah ora ketompo n : Lho, lha kok … ?

G : Mesthi ora bakal nyambut gawé, kakèhan dolanan Internet, to?
Ngenték-entekké pulsa !

G : Kowe waras opo ora?
o : Lha, kulo nggih waras to Pak.
G : Ra ketompo…….
o : Kenging nopo …..?
G : Mengko kowe mesthi ora krasan neng kene.
o : Niku rumiyin Pak, sakmeniko sampun rodo edan.
G : Malah ra ketompo……
o : Pripun to niki….?
G : Mengko aku duwe saingan……….

Isra Mi’raj

Republika Online | http://www.republika.co.id

Jumat, 26 Agustus 2005

Perjalanan Menuju Kesempurnaan

Bila perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi “puncak” perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.

Di sebuah kebun anggur terlihat seorang lelaki dengan kedua kaki penuh luka. Ia tampak begitu kelelahan. Dari wajah tampannya terpancar gurat-gurat kesedihan yang mendalam. Dengan mata berkaca-kaca ia berguman, “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi orang lemah, dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan?

Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka itu semua tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun melainkan atas perkenan-Mu”.

Siapakah lelaki itu? Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Fragmen ini terjadi tatkala Beliau bersembunyi di sebuah kebun anggur milik Uthbah bin Rabi’ah untuk menghindari kejaran orang-orang Bani Tsaqif. Mereka mengejar-ngejar dan melempari Rasul setelah beliau mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah. Peristiwa ini terjadi pada tahun-tahun terakhir dakwah Rasulullah SAW di Mekah.

Beberapa buku Shirah Nabawiyah mengungkapkan bahwa masa itu adalah masa paling sulit dan menyedihkan dalam kehidupan beliau. Betapa tidak, orang-orang kafir Quraisy semakin menampakkan permusuhannya pada Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka pun telah menghalalkan segala macam cara untuk menghentikan dakwah beliau.

Sebelum peristiwa Tha’if, ada beberapa rangkaian peristiwa menyedihkan yang dialami Rasulullah SAW. Pertama, pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib. Pemboikotan ini, yang hampir membuat kaum Muslimin mati kelaparan, berlangsung selama tiga tahun. Setelah nestapa itu berlalu terjadi peristiwa kedua, yaitu meninggalnya dua “pelindung” Rasulullah SAW dari kalangan manusia. Mereka adalah Abu Thalib; paman yang selalu melindungi dan menjaga beliau dari intimidasi kaum kafir Quraisy, serta Siti Khadijah; seorang wanita mulia tempat Rasul bersandar, serta berbagi suka dan duka.

Meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah tak pelak menjadi pukulan bagi Rasulullah SAW. Perlawanan dan penolakan orang-orang kafir semakin keras. Salah satunya adalah peristiwa pengusiran yang dilakukan penduduk Tha’if. Demikian beratnya beban yang dipikul, Rasul pun harus “curhat” kepada Allah karena merasa tidak mampu membimbing mereka menuju cahaya Islam.

Hiburan dari Allah SWT
Dalam situasi tertekan ini, Allah SWT “menghibur” Rasulullah SAW dengan memperjalankannya ke langit melalui peristiwa Isra Mi’raj. Isra Mi’raj adalah perjalanan spektakuler yang pernah dilakukan manusia. Betapa tidak, Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam hari dan dalam waktu yang amat singkat dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dari Al-Aqsa, Beliau naik ke langit melalui beberapa tingkat, menuju Baitul Makmur, Sidratul Muntaha (tempat tiada berbatas), Arasy (takhta Allah), hingga Beliau menerima wahyu langsung dari Allah SWT tanpa perantaraan Jibril.

Isra Mi’raj terjadi pada 27 Rajab, tepatnya satu tahun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Dalam QS Al-Isra [17] ayat pertama difirmankan, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Isra Mi’raj tidak sekadar perjalanan “hiburan” bagi Rasul. Isra Mi’raj adalah perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience, seperti dikutip Azyumardi Azra, mengungkapkan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. “Isra Mi’raj,” tulisnya, “Benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh dunia gaib”.

Bila perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju Al-Khalik. Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Perjalanan ini, menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf.

Menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting peristiwa Isra Mi’raj terjadi tatkala Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah”; “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja”. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”. Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Ungkapan bersejarah ini kemudian diabadikan sebagai bacaan shalat.

Sebagai pribadi berakhlak mulia, Rasulullah SAW sangat menjauhi sikap egois. Beliau ingin ucapan salam dan “undangan” Allah tersebut dirasakan segenap umatnya. Beliau kembali ke bumi dengan membawa salam keselamatan dari Allah SWT lewat perintah shalat. Inilah kado spesial dari Allah SWT bagi orang-orang beriman.

Prof Seyyed Hussein Nasr dalam buku Muhammad Kekasih Allah (Mizan, 1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang kita lakukan sehari-hari. “Shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman,” demikian ungkapan sebuah hadis.

Sabar dan shalat

Andai kita tarik garis merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.

Ketiga hal ini terangkum dengan sangat indah dalam Alquran, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 45-46). Wallahu a’lam bish-shawab. (Ems)

Keikhlasan dalam Paparan Al-Quran

 

Judul Buku : Keikhlasan dalam Paparan Al-Quran
Judul Asli : Sincerity Described in The Qur’an
Pengarang : Harun Yahya
Penerjemah : Aminah Mustari, Irsan Hamdani
Penyunting : Dadi M. Hasan Basri
Tebal : 220 halaman (tinggi 19 cm)
Penerbit :PT Senayan Abadi

Buku ini berisi tentang definisi orang yang benar menurut Al Quran, tipu daya setan untuk menghancurkan keikhlasan orang-orang yang beriman, cara-cara memperoleh keikhlasan, dan menghindari sikap-sikap yang mengurangi keikhlasan. Buku ini ditulis dengan harapan dapat mengingatkan mereka yang gagal menjalani hidup mereka hanya untuk keridhaan Allah, bahwa semua usaha mereka akan sia-sia.

Keikhlasan berarti
memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi
atau balasan apapun
Harun Yahya mengawali bukunya dengan kriteria orang yang sukses hidup di dunia menurut Quran, yaitu :

…bukanlah kerja keras, bukan kelelahan, bukan pula mencapai penghormatan atau cinta dari orang lain yang disebut sebagai kriteria keunggulan, melainkan keyakinan mereka akan Islam, amal baik yang mereka kerjakan untuk mendapatkan keridhaan Allah, dan niat baik mereka yang terpelihara dalam hati…

Hal ini ditegaskan dalam Al Quran pada surat Al Hajj [22] ayat 37:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Lalu apa definisi keikhlasan menurut beliau? Keikhlasan berarti memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi atau balasan apapun. Seseorang yang ikhlas akan berpaling kepada Allah dengan hatinya dan hanya ingin mendapatkan ridha-Nya atas setiap perbuatan, langkah, ucapan, dan doanya. Jadi, ia benar-benar yakin kepada Allah dan mencari kebajikan semata.
Setelah dipikirkan secara seksama, ternyata umur keikhlasan dalam suatu amal ibadah tidaklah kekal. Boleh jadi seseorang ikhlas dalam beribadah, namun ibadahnya dihancurkan oleh riya di kemudian hari. Riya bisa terjadi langsung, bisa juga bertahun-tahun kemudian setelah ibadahnya sudah lama dilakukan. Hal ini bisa terjadi karena setan selalu membisikkan dorongan ke dalam hati manusia agar melakukan riya. Hal ini juga diingatkan oleh Allah SWT dalam Al Baqarah [2] ayat 264 :

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Harun Yahya memberikan beberapa poin penting dalam bab II yaitu:
· Berpaling kepada Allah dengan penyesalan dan keikhlasan dalam niat dan perbuatan, tidak hanya di saat sulit, namun dalam setiap detik kehidupan
· Percaya kepada Allah dengan menunjukan pengabdian yang tinggi
· Selalu berusaha memurnikan keikhlasan
· Berikhtiar berjamaah dan melakukan perbuatan baik secara istiqomah
Pada bab III Harun Yahya menjelaskan bagaimana setan berupaya sekuat tenaga agar manusia tidak beribadah atau membangkang secara langsung kepada Allah. Sesuai dengan tingkat keimanan manusia yang digodanya, setan menggunakan berbagai cara. Untuk manusia yang paling lemah imannya, mereka dapat dengan mudah dibujuk untuk meninggalkan perintah Allah dan melakukan laranganNya. Namun bagi manusia yang lebih tinggi tingkatan keimanannya, bujukan untuk serta merta meninggalkan perintah Allah dapat dengan mudah ditepis. Cara yang digunakan setan adalah menghancurkan ibadah mereka dengan godaan takabur (sombong), ujub (berbangga diri), dan riya (pamer).
Pada bab IV, beliau menjelaskan cara-cara memperoleh keikhlasan yaitu:
· Menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan tidak takut kepada selain Allah
· Berjuang sekuat-kuatnya demi keridhaan Allah
· Mengharapkan balasan hanya dari Allah
· Membebaskan diri dari perkataan orang lain dan hanya mencari ridha Allah
· Menguatkan hati nurani
· Memahami bahwa dunia ini hanya sementara
· Memikirkan kematian dan hari pembalasan
Pada bab V, beliau memaparkan cara untuk menghindari sikap-sikap yang mengurangi keikhlasan yaitu:
· Menghilangkan kejahatan hawa nafsu dan tidak tertipu padanya
· Lebih menyukai jiwa mukmin lainnya daripada jiwanya sendiri
· Menghalau kekikiran dan kecemburuan dengan cara berpikir selalu tentang akhirat
· Menyingkirkan kesombongan
· Menahan diri dari kemunafikan
· Meninggalkan ambisi untuk memperoleh kekuasaan dan jabatan
Harun Yahya memaparkan tentang keikhlasan dalam buku ini dengan diperkuat ayat-ayat Al Quran, dan cukup banyak mengutip dari buku-buku karya Badiuzzaman Said Nursi. Tampak sekali bahwa Badiuzzaman adalah orang yang sangat berarti bagi Harun Yahya. Bab terakhir, ada bab esktra yang berisikan runtuhnya teori evolusi yang mendasari banyak keangkuhan manusia dalam menerima kebenaran akan proses penciptaan Allah SWT. Buku ini akan membuat anda teringat kembali akan amalan-amalan yang telah diperbuat, dan anda akan terkejut, bahwa (mungkin) banyak sekali ibadah-ibadah, yang kurang nilai keikhlasannya, atau bahkan tidak ikhlas sama sekali. Selamat becermin.

 

Batman Begins (2005)

Batman Begins besutan sutradara Christopher Nolan benar-benar beda dari Batman-Batman pendahulunya, Batman, Batman Returns, Batman Beyond, dan Batman and Robin. Batman ini lebih memiliki karakter cerita yang kuat, dan menceritakan latar belakang Bruce Wayne menjadi Batman. Bener-bener Begins!

Mobilnya keren, lebih “rasional” ketimbang film pendahulunya yang komik banget. Bintangnya bertaburan aktor-aktor kuat macam Liam Neeson (belakangan doi selalu jadi mentor), Gary Oldman (biasanya jadi penjahat utama, tumben jadi pembantu aja kayak di Harry Potter), Katie Holmes (calon Mrs Cruise yang baru), Michael Caine (cocok banget jadi Alfred).

Untuk yang ingin melihat foto-foto dan sebagainya, klik di sini.

Udah nonton? Film ini sekarang jadi nomer 111 dari 250 film terbaik spanjang masa, versi us.imdb.com (internet movie database).

Kesalahan Fatal dalam Buku Harun Yahya

Rekan-rekan Muslim dan Muslimah, saya mendapat email ini dari teman kantor saya, jika ada yang punya pendapat, mohon reply dan berikan komentar anda. Saya sendiri terus-terang cukup terkejut dengan pendapat ini, karena saya adalah salah seorang penggemar buku-buku Harun Yahya.


BEBERAPA KESALAHAN FATAL DI DALAM BUKU HARUN YAHYA

Oleh :

Abu Hudzaifah al-Atsari

Manusia tidak dapat lepas dari kesalahan, sedangkan kewajiban setiap Muslim adalah saling mengingatkan di dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Harun Yahya –saddadahullahu– adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah. Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan tentang Islam. Kami tidak menutup mata dari mashlahat yang beliau berikan bagi ummat di dalam membela Islam dan membantah faham-faham materialistis saintifis. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.

Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya, diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi) yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam babThe Real Essence of Matter”. Perlu saya tambahkan di sini, walaupun Harun Yahya melakukan kesalahan serius di dalam perkara aqidah, namun saya tidak pernah menvonisnya sebagai Ahlul Bid’ah, terlebih-lebih menvonisnya sebagai kafir, nas’alullaha salamah waafiyah. Sebab, bukanlah hak saya untuk melakukan vonis semacam ini, namun hal ini adalah hak para ulama dan ahlul ilmi yang mutamakkin (mumpuni). Saya di sini hanya ingin menunjukkan beberapa kesalahan yang beliau lakukan sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

Harun Yahya –saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di dalam “Where is God?(Dimana Tuhan) pada halaman 175, sebagai berikut :

“The basic mistake of those who deny God is shared by many people who in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about “where” God is. Most of them think that God is up in the “sky”. They tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with “worldly affairs” once in a while. Or perhaps that He does not intervene at all: He created the universe and then left it to itself and people are left to determine their fates for themselves. Still others have heard that in the Qur’an it is written that God is everywhere” but they cannot perceive what this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and other beliefs that are unable to make clear “where” God is (and maybe deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of God. What is this prejudice?”

Yang artinya adalah :

Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap Tuhan. Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan takhayul mengenaidimanakahTuhan itu berada. Mayoritas mereka beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas ”Langit”. Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur ”urusan dunia” sesekali waktu. Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali. Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ”ada di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar. Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun diraba. Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu menjelaskan ”dimanakah” Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi. Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??”

Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189) :

“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all.

Yang artinya :

Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pastiberada di mana-manadan meliputi segala sesuatu.”

Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud. Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Harun Yahya –saddadahullahu– menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil :

”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)

Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala sakaratul maut, yaitu :

”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Te
tapi
kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)

Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun kamu berada), beliau berkata : “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)

Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut :

“That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts….”

Yang artinya :

“Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”

Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah. Sungguh, keseluruhan bab yang berjudul “The real essence of Matter” benar-benar diselaraskan dengan filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya. Yang apabila diringkaskan keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu :

“That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION”

Yang artinya :

“Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”

Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193 :

“As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the “external world has no materialistic reality and that it is a collection of images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people usually do not include, or rather do not want to include, everything in the concept of the “external world”.

Yang artinya :

Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “duni
a luar”.”

Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.

Sebagai kesimpulan, di sini saya akan meringkaskan poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :

1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.

2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.

3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istiwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.

Demikianlah sebagian kecil yang dapat saya tuliskan tentang beberapa kesalahan fatal di dalam buku-buku Harun Yahya –saddadahullahu-, dan apa yang saya tuliskan di sini bukanlah menunjukkan hanya ini sajalah kesalahan beliau, namun yang saya tuliskan di sini hanyalah sebagian kecil saja dari kesalahan-kesalahan yang bersifat aqidah yang terdapat pada beliau. Tulisan ini lebih banyak diadopsi dari tulisan al-Akh Abu Jibrin al-Birithani yang meluangkan waktunya menyusun beberapa kekeliruan aqidah Harun Yahya.

Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRC (International Research Center) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya.

Wallahu a’lam bish showab.

Sumber : http://dear.to/abusalma