Independence Day: Resurgence (2016)

Independence Day : Resurgence tidak membawa senyum lebar untuk penggemar film pertamanya. Sekuel yang dibuat 20 tahun setelah kesuksesan yang pertama ini tidak memberi kepuasan mendalam jika tidak bisa dikatakan tumpul dari sisi kekuatan dan inovasi cerita.
Daya tarik Will Smith yang sangat kharismatik, menghibur, dan mempesona penonton hilang di sekuel ini karena diceritakan ia telah tiada.


Kecanggihan teknologi yang diperkenalkan di sini hasil dari penelitian teknologi alien yang datang dulu tidak banyak membantu. Kesan wah dari besarnya pesawat alien dan kehancuran dunia memang khas Rolland Emmerich, namun isinya tidak bernas.


Bahkan pertempuran pesawat di angkasa dalam Guardian of Galaxy masih lebih rapi dan menghibur.


Pidato Bill Pullman masih menggetarkan, namun sayangnya tidak menolong film ini untuk mendebarkan hati penonton.


Hadirnya Liam Hemsworth yang ditujukan untuk menarik penonton muda tidak begitu berhasil mendongkrak kesuksesan film ini (bolehlah sebagai daya pikat buat penonton wanita).

Jeff Goldblum menjadi spesialis aktor utama film sekuel yang ditinggalkan aktor utamanya (Jurassic Park dan ID 4).

Jika Anda penggemar ID4, jangan bawa ekspektasi tinggi menonton film ini.

Ada adegan kissing yang dipaksakan alias miskin chemistry, jadi cocok untuk 13 tahun ke atas, bukan anak SD atau lebih muda.

Filmnya 2 jam, cemilan dan cemolan dianjurkan.

Rating : 6.5/10.

Pendakian ke Gunung Lembu di Purwakarta

Week end minggu lalu saya mengajak anak saya yang duduk di kelas 1 SMP, tetangga di rumah, dan tiga kolega untuk hiking ke Gunung Lembu di Purwakarta.

Evernote Camera Roll 20160529 034949
Tatang, Rayyan, Me, Gandi, Azhari, dan Nanang Zi

Perjalanan kami dimulai dari Senayan sekitar pukul 9 pagi dan baru sampai di base camp sekitar pukul 3 sore karena macet di Cikampek dan berhenti untuk makan siang dan sholat di RM Ciganea sekitar 1,5 jam. Tentu saja kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk makan di tempat ini karena saya dan sekeluarga sudah sering makan di RM Ciganea baik yang ada di rest area Bandung – Jakarta maupun yang ada di BSD. Menu favorit saya adalah ayamnya yang gurih, yang konon dicampur air kelapa sebelum digoreng, dan ikan bilis goreng kering.


Dari sini saya menggunakan aplikasi Google Maps dengan destinasi Gunung Lembu. Kami diarahkan untuk belok kanan di Pasar Anyar Sukatani. Dari sini jalan cukup sempit sehingga kalau berpapasan dengan mobil lain harus bergantian. Jarak dari pasar hingga basecamp lebih kurang sekitar 12 km dengan kondisi menanjak dan sesekali turunan tajam.

Setelah sampai kami segera menyiapkan tas keril dan memasukkan air serta peralatan lainnya. Di basecamp ini sudah disediakan parkir motor dan mobil. Untuk mobil dikenakan 10 ribu bila tidak menginap dan 15 ribu bila menginap.

Saya langsung melapor dan diterima dengan ramah oleh Pak Syamsudin. Saya isi buku tamu dan meninggalkan informasi berupa nomor telepon dan jumlah anggota yang akan naik. Per orangnya dikenakan 10 ribu rupiah. Harga yang cukup murah dan bersahabat.

Evernote Camera Roll 20160529 035745
Bersama Pak Syamsudin di Base Camp Gunung Lembu

Setelah siap kami segera menuju Pos 1 melalui pintu gerbang dengan spanduk selamat datang.

Evernote Camera Roll 20160529 040314
Medannya tidak jauh sebenarnya, namun sudut elevasinya sekitar 45 derajat dengan kondisi licin bila hujan. Nyamuk hutan juga perlu diwaspadai sehingga membawa lotion anti nyamuk sangat disarankan. Menggunakan tongkat gunung cukup membantu untuk melangkah. Jangan menyerah sebelum mencapai Pos 1.

Menjelang sampai pos 1 hujan turun cukup lebat, dan mengingat waktu sudah mendekati maghrib kami memutuskan untuk mendirikan tenda dekat warung dan rumah pohon di pos 1. Pemandangannya bagus, mengarah ke waduk Jatiluhur.

Evernote Camera Roll 20160529 040423
Setelah makan malam, sekitar pukul sembilan kami mulai tidur. Saya terbangun sekitar pukul 3 pagi menikmati terang bulan dan keindahan lampu Sukabumi dan lampu tambak sungai yang mengalir ke waduk Jatiluhur. Keindahan yang luar biasa dan kesempatan kita mengagungkan kekuasaan Ilahi.

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan, agar kamu mendapat petunjuk,” – (QS.16:15)

Udara di sini tidak sedingin Ciwidey – Bandung atau Guci – Tegal. Suhunya lebih kurang sama dengan di Sukamantri – Bogor, atau Cidahu – Sukabumi. Tidak panas juga, sehingga cukup nyaman untuk camping tanpa perlu jaket dingin.

Wisata Gunung Lembu ini menurut penjual di pos 1 ini baru mulai digalakkan sekitar dua tahun terakhir. Sebagian besar wisatawan datang dari Jakarta. Wisatawan asing yang pernah datang di antaranya dari Jerman, Jepang, Korea, dan Inggris.

Sinyal di Pos 1 ini tidak terlalu bagus. Internet sangat sulit, menelpon sesekali bisa. Komunikasi di daerah ini tergantung provider telko Anda.

Hal yang jarang dibahas di tulisan catatan perjalanan pendakian Gunung Lembu ini adalah:
– Di Pos 1 ini ada sumber mata air. Jadi jangan takut untuk kehabisan air jika nge-camp di sini
– Ada dua warung indomie dengan minuman botol, kelapa muda, dengan balai-balai untuk istirahat. Jadi tidak perlu terlalu banyak membawa cadangan air minum untuk dibawa dari bawah. Lebih menghemat tenaga, bukan? Semangkuk indomie cuma bayar goceng!
– Ada rumah pohon dari bambu yang bisa digunakan untuk selfie dan mengambil gambar waduk Jatiluhur yang indah

Pagi harinya setelah sarapan dan berdoa kami bergerak ke Pos 2. Kami bawa barang berharga dan meninggalkan keril dan tenda di Pos 1. Perjalanan pagi itu sangat menyenangkan karena cuaca sangat cerah. Burung berkejaran di angkasa, beberapa hewan melata dari golongan mollusca seperti cacing berkepala palu dan kelabang raksasa sesekali tampak melewati bebatuan di kaki kami. Saya selalu mengingatkan rombongan di belakang agar jangan sampai mereka terinjak. Kita tidak ingin sebagai tamu menyakiti hewan-hewan yang tidak bersalah yang menjadi tuan rumah gunung ini.

Perjalanan ke Pos 2 tidak semengerikan dari  base camp ke Pos 1. Ada beberapa bonus berupa jalan landai atau menurun. Ini bagian yang disukai pendaki untuk mengambil nafas hehehe..

me2
Bidikan Azhari – Jalan menanjak
WhatsApp-Image-20160530 (2)
Bidikan Azhari – di Pos 2

Ada dua petilasan keramat yang harus dihormati namun tidak dikultuskan agar tidak jatuh ke dosa syirik. Minta hanya kepada Allah SWT, jangan ke tempat keramat. Jaga akidah jangan sampai rusak.

Tidak berapa lama kemudian kami sampai di Pos 3 dan puncak Gunung Lembu di mana tenda bisa didirikan meski jumlahnya tidak sebanyak di Pos 1 (atau di Rompang Ceria).

WhatsApp-Image-20160529 (2)
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan? Dikasih pemandangan indah, harus dijaga ya!
WhatsApp-Image-20160531 (3)
Puncak Lembu 792 MDPL
WhatsApp-Image-20160531
Senangnya berfoto bersama anak naik gunung bersama
IMG_6036
Indahnya Waduk Jatiluhur dari Puncak Lembu
IMG_6035
Berdua bersama Rayyan

 

 

IMG_6034
Indahnya Indonesiaku

Tips mendaki Gunung Lembu

  • Gunung Lembu relatif mudah dinaiki oleh siapa saja, dari usia 10 tahun ke atas mestinya tidak mengalami masalah yang berarti
  • Olah raga jalan atau lari seminggu dua kali selama sebulan akan membantu memperkuat stamina
  • Istirahat yang cukup di malam sebelumnya juga penting untuk melewati tanjakan terutama di Pos 1
  • Tidak perlu bawa makanan dan minuman terlalu banyak karena di setiap pos ada warung indomie dan berbagai minuman, termasuk kelapa muda segar
  • Bawa lotion anti nyamuk, lebih baik yang semprot karena lebih mudah dipakai
  • Tongkat gunung lumayan membantu jika ada
  • Gunakan sendal gunung atau sepatu gunung yang tidak licin. Berhati-hati mendaki jika habis turun hujan
  • Matikan HP bila hujan. Di kuartal awal tahun 2016 ada seorang anak SMP meninggal dunia membawa HP tanpa alas kaki dalam keadaan hujan di dekat puncak. Beberapa orang temannya tidak tersambar karena HP dalam keadaan mati
  • Jangan remehkan gunung serendah apapun. Kesombongan menyebabkan kelengahan, dan kelengahan sumber malapetaka
  • Sebagai tamu, jangan kotori bebatuan dan pepohonan dengan guratan atau tulisan apapun. Jaga keindahan alam dengan tidak merusak dan meninggalkan sampah apapun
  • Membawa kompor kecil dan alat masak bisa menghemat dan memakan sesuai selera kita, namun tidak mandatori karena ada warung

Bonus: jika memungkinkan pulang dari sini bisa singgah ke tempat wisata Resort Tirta Kahuripan yang memiliki edgeless swimming pool di atas awan. Baca ulasannya di artikel selanjutnya. Stay tuned!

Ip Man 3 (2015)

Film ketiga dari serial Ip Man yang dibintangi oleh Donny Yen ini tayang menjelang akhir tahun di bioskop Indonesia.

Cerita kali ini berkaitan dengan usaha Guru Ip Man melindungi sekolah di mana anaknya belajar dari preman yang dibayar untuk memaksa kepala sekolah untuk menjualnya. Yang menarik adalah tokoh antagonis yang jadi boss besar preman ini adalah Mike Tyson. Meski adegannya tidak lama, namun pertarungannya cukup menarik untuk dilihat. Wing Chun vs Tinju. Sebuah strategi jitu dengan memasukkan Mike Tyson dalam film ini untuk mendongkrak penjualan di negara-negara barat, khususnya Amerika.

Selain itu Ip Man juga bertemu dengan Bruce Li waktu masih muda, ketika ingin jadi muridnya. Sesuai kisah aslinya, Bruce Li memang murid Ip Man.

Tokoh lokal yang jadi seteru Ip Man kali ini adalah sesama orang tua murid di sekolah. Penarik riksaw yang jago Wing Chun ini mengklaim menjadi yang terbaik sebagai pewaris Wing Chun. Hasil akhirnya sudah bisa ditebak siapa yang menang.

Nilai tambah film ini bukan melulu pada adegan laganya. Kisah drama menyentuh yang memperlihatkan istri Ip Man yang sakit keras juga menjadi pelajaran bahwa superhero itu sangat baik terhadap istrinya. Berlaku lemah lembut dan berusaha yang terbaik demi istrinya. Ia juga menjadi tokoh yang dicintai anaknya.

Jika dikaitkan dengan ajaran Islam, ada setidaknya dua contoh akhlak terpuji yang diperintahkan Rasulullah SAW dan digambarkan dengan baik dalam film ini.

Pertama, berlaku lemah lembut terhadap istri. Hal ini sejalan dengan hadis berikut: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku….” (HR. Tirmidzi)

Kedua, berlaku rendah hati kepada musuh. Ip Man meski jagoan selalu merendahkan dirinya di depan orang-orang, terutama musuhnya. Ini adalah perilaku tawadhu. “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak

menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (Shahih, HR Muslim no. 2588).

Dari film ini kita diingatkan untuk berlaku yang terbaik kepada istri kita dan menjadi orang yang tawadhu atau rendah hati alias tidak meremehkan orang lain.

Kegesitan Donny Yen di film ini agak sedikit lebih rendah dibandingkan film pendahulunya. Apakah ini disengaja agar lebih manusiawi atau memang faktor usia, hanya Tuhan dan Donny Yen yang tahu. Meski demikian film ini tetap enak ditonton buat para pencinta film aksi.

Score 8/10.

 

Weekly Photo Challenge: Victory

In your photo this week, focus on the win, the victory — that moment of glory and pride you’ll remember forever.

Three months ago, me and my colleagues went to Mount Rinjani (3726 m above sea level, second highest mountain in Indonesia) for trekking. This was my second trekking after trekking at Mount Gede (2958 m above sea level).

Around 2:00 AM in the morning, in the middle of cold and windy weather we must woke up and prepare everything for summit attack. Some of my colleagues couldn’t continue to reach the summit for several reasons. It took me 9 hours to tell my self to continue, to not balking from our goal. It was really-really hard. The ground was sandy and forcing me to step back by gravity. But the summit is right in front of my eyes. Take little steps. Stop when you almost running out of breath. Continue with baby steps but just don’t stop. Finally I cried there, remembering my belated father who was love trekking too, and thanking Allah SWT for giving me enough power to reach the summit.

Here is my victory moment…

Syukur Alhamdulillah
Syukur Alhamdulillah

Everest (2015)

Film yang dibesut oleh Baltasar Kormákur ini merupakan visualisasi dari kisah nyata tragedi Everest di tahun 1996 yang kisahnya bisa dibaca di sini.  Pada tanggal 10–11 Mei 1996, delapan orang terjebak dalam badai salju dan tewas di Puncak Everest ketika berusaha naik ke puncaknya.

Film ini begitu ingin saya tonton karena pernah merasakan berada di dua puncak gunung yang pernah saya singgahi (jangan ngeres dulu..). Dua puncak gunung yang saya maksudkan adalah Gunung Gede dan Gunung Rinjani. Jauh berbeda dengan gunung di Indonesia, Everest tidak bisa buat main-main, Cuy. Peluang untuk pindah ke alam barzah adalah 1 dari 4 orang pendaki. Banyak pemandu yang menolak pemula yang belum pernah mendaki puncak gunung minimal 8000 meter di tempat lain. Latihan intensif selama lebih kurang dua tahun adalah syarat yang diajukan oleh beberapa profesional yang menawarkan jasa pendampingan ke atas puncaknya. Ingin merinding betapa sulitnya Puncak Everest? Coba deh baca tulisan ini.

Kembali ke filmnya, yang membuat saya suka film ini adalah film ini diambil dengan teknologi IMAX 3D sehingga besar dan indahnya gunung ini bisa dilihat dengan jelas dan menakjubkan. Beberapa adegan akan membuat beberapa penonton ngeri-ngeri sedap membayangkan jalan di atas tangga yang disambung-sambung di atas jurang menganga.

Keira Knightley yang memerankan istri Rob Hall bermain begitu maksimal meski perannya tidak di puncak melainkan sebagai seorang istri hamil tua yang menanti pulangnya sang suami dari Puncak Everest. Drama keluarga mereka yang kehilangan anggota keluarga digambarkan dengan baik dan menyentuh.

Film ini menyajikan gambaran secara kronologis waktu bencana mulai terjadi dan bagaimana mereka menyikapi hal ini. Mendaki puncak gunung tertinggi di dunia ini benar-benar seperti melewati ladang ranjau. Salah langkah dan tanpa persiapan, bersiaplah untuk pindah alam kehidupan.

Direkomendasikan bagi para penggemar film menegangkan dan outdoor yang diilhami dari kisah nyata. Wajib buat para pendaki gunung agar kita tidak meremehkan dalam pendakian puncak gunung apapun, seberapapun tingginya.

Ada yang bertanya mengapa orang rela bayar mahal dan beresiko mati demi mencapai puncak Everest, seperti digambarkan dalam salah satu dialog dalam film itu. Buat apa coba? Menurut saya hal ini sejalan dengan teorinya Maslow. Ketika kebutuhan dasar untuk makan dan minum terpenuhi, keamanan sudah didapat, cinta dan dicintai, dihargai oleh sesama, maka kebutuhan berikutnya adalah aktualisasi diri, yaitu ketika manusia mengejar kreativitas, mencari makna dalam kehidupan, kebanggaan akan prestasi diri, dst. “What a man can be, he must be.” Para pendaki itu tahu apa yang mereka akan hadapi, dan mereka juga tahu apa yang akan mereka capai bila goal mereka terpenuhi.

Saksikan trailernya di sini.

Jake Gylenhaal lagi laris. Semalam pas midnight ada dua film yang ia mainkan. Everest dan Southpaw, tentang petinju. Pemain gaek Josh Brolin juga main di sini. Keira Knightley juga menjadi pemanis dalam film ini, tidak boleh dilewatkan aktingnya yang menawan.

Filmnya panjang, 2.5 jam. Pastikan perbekalan Anda cukup. Jangan sampai dehidrasi atau kekurangan makanan ketika menonton. Cukup di film yang terjadi tragedi, jangan di dalam gedung bioskop.

Selamat menonton.

Menuju Puncak Rinjani

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari Ekspedisi ke Rinjani, bagian pertama bisa dilihat di sini, dan bagian ke dua dapat dibaca di sini.

14 Agustus 2015 02:00 WITA

Pukul dua dini hari, Oniel dan Marvin sudah bersemangat berkeliling tenda berteriak sahuur-sahurr.. membangunkan tim untuk persiapan Summit Attack. Pak Kumis sudah menyiapkan roti bakar untuk disantap sebelum berangkat. Tas kecil yang sudah kami siapkan sebelum tidur kami ambil dan diisi kebutuhan kami. Air nomor satu. Saya membawa kurma dan snicker untuk di jalan. Jaket tebal segera dipakai, buff dipasang menutupi hidung dan leher untuk mencegah dingin, kupluk saya pakai untuk menutupi telinga dan kepala. Trekking pole aku sambar dan kamera HP + kamera Action aku masukkan ke tas. Looking good.

Setelah membaca doa dan briefing dipimpin Kombes Dadang, kami bergerak dengan head lamp menyinari jalan yang gelap dan dihembus angin dingin. Perjalanan menuju puncak dibagi menjadi tiga bagian:

  • Bagian awal terdiri atas tanah berpasir dan kerikil di mana setiap kita naik dua langkah gravitasi menarik kita kembali satu langkah
  • Bagian tengah tanahnya relatif lebih padat dan tidak terlalu terjal, bonus setelah perjuangan di sepertiga pertama yang sangat melelahkan
  • Bagian ketiga adalah bagian tersulit di mana banyak pendaki yang balik kanan di sini. Medannya mirip dengan sepertiga pertama, namun beberapa batu ukurannya lebih besar. Naik dua langkah, selangkah turun kembali.

Menjelang fajar menyingsing saya mengambil tayammum dan sholat subuh di tengah deru angin dingin. Saya ingin melihat sunrise, namun kewajiban harus ditegakkan. Jangan sampai kita menjadi hamba sunrise 🙂 Setelah sholat kami terus bergerak karena puncak masih jauh. Kecepatan saya berjalan tidak secepat Oniel, Marvin, dan Nanang. Tapi semangat tidak boleh putus.

Febru matanya kemasukan pasir kuarsa dan lumayan mengganggu pemandangan ke depan. Karena dia sudah pernah mencicipi Puncak Rinjani dia memutuskan untuk kembali ke base camp. Andra yang sempat kram kakinya turun bersama Febru. Pak Yakob yang kelaparan karena salah memasukkan tisue dianggap roti. Karena beliau dulu juga sudah pernah ke puncak akhirnya turun juga.

Saya berjalan pelan bersama Saeng, Erik, dan Dadang. Erik merasa kelelahan dan dia ingin turun. Dadang dan Saeng sempat memikirkan kemungkinan untuk turun juga, namun saya merasa tanggung untuk pulang sekarang. Puncak sudah menggapai di depan mata. Usaha untuk turun hampir sama melelahkannya dengan naik. Saya memutuskan untuk terus. Akhirnya Saeng dan Dadang menemani saya ke puncak, Erik turun ke base camp. Terkadang ketika lelah kami istirahat sebentar sambil menikmati indahnya alam. Saat ini saya begitu sadar bahwa keindahan Rinjani di foto masih kalah ketika dilihat langsung. Udaranya yang sejuk, warna yang begitu indah dipandang mata, semuanya menimbulkan rasa syukur kepada Ilahi atas karunia bumi pertiwi yang indah ini.

Perjalanan begitu panjang, angin begitu kencang, otot lelah terguncang. Tiga langkah jalan, saya mengambil nafas. Memandang puncak, maju lagi. Teringat akan almarhum ayah yang meninggal tahun 2013 yang lalu. Beliau dulu wadalah pencinta alam dan mendaki banyak gunung di usia mudanya. Jika aku bisa mencapai puncak, keberhasilan ini akan kudedikasikan untuk beliau. Doa kupanjatkan terus pada Ilahi. Mohon diberi kekuatan dan keselamatan sampai puncak.

Mendekati puncak aku berpapasan dengan Oniel dan Nanang. Marvin entah lewat mana tak berpapasan dengannya. Akhirnya setelah berjalan dan diselingi istirahat sekitar 8 jam sampailah ke puncak.

Syukur Alhamdulillah
Syukur Alhamdulillah
Donny, Me, Saeng, dan Dadang
Donny, Me, Saeng, dan Dadang

Tidak terasa saya menangis terharu. Lelah begitu panjang dan kebahagiaan bisa mencapai puncak, ingatan kepada almarhum ayah, semua bercampur aduk menjadi satu. Tidak peduli saya dianggap pendaki cengeng. Biarlah orang berkata apa. Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak dalam dada. Saya ingin menumpahkan segalanya. Lelah dan bahagia. Dan kerinduan pada ayahanda.

Donny Ari Surya juga menyampaikan perasaannya ketika mencapai puncak:

Inilah sambutan Kombes Dadang di atas Puncak Rinjani:

Beginilah pemandangan ketika turun:

Ketika turun kami hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam termasuk berhenti istirahat di beberapa tempat untuk makan kurma dan snicker. Di beberapa tempat kami juga mengambil foto. Saya tidak tergoda untuk mengambil eidelweiss karena pendaki sejati tidak mengambil apapun kecuali foto, tidak meninggalkan apapun kecuali jejak dan kenangan.

Begitu sampai saya langsung minum pocari dua botol langsung dari sachet yang saya bawa dari rumah. Badan alhamdulillah terasa segar dan langsung disambut mie goreng telur ceplok Pak Kumis. Nikmat sekali.

Karena waktu untuk ke danau Segara Anak sudah tidak ada karena menurut porter agak berbahaya jalan malam ke sana, akhirnya diputuskan kami tidak jadi ke Segara Anak, langsung turun kembali ke Plawangan Sembalun, tidak jadi dari Plawangan Senaru. Untung sekali kami mengambil jalan ini karena sepatu saya juga jebol ketika menuju pos 1 Sembalun.

Malam itu kami beristirahat di Plawangan Sembalun yang kedua kali sebelum besok mengucapkan selamat tinggal kepada Rinjani. Tempat indah karunia Ilahi yang begitu mempesona. Kewajiban kita untuk menjaga kebersihannya. Semoga dibuat tempat sampah untuk menampung sampah di Plawangan Sembalun atau Senaru, sehingga memudahkan pengumpulan sampah untuk dibawa kembali turun ke bawah. Bintang begitu indah. Semua menjadi saksi kebahagiaan kami mencapai puncak Rinjani. Malam ini kami harus cukup istirahat agar besok bisa pulang lebih awal menuju Sembalun.

Bersambung

Menuju Plawangan Sembalun – Kaki Rinjani

Tulisan ini merupakan bagian kedua, sambungan dari postingan sebelumnya yang merupakan Bagian Pertama.

Salah satu hal yang paling indah adalah sarapan pagi di Pos 2 karena matahari belum terik dan bisa berfoto dengan latar belakang Gunung Rinjani, 3726 mdpl. Sewaktu kami pulang dan melewati pos 2 pas tengah hari bolong, semua orang hanya berkonsentrasi pada air dan berteduh di bawah tenda atau fly sheet. Sulit menikmati keindahan sabana dengan latar belakang mayestik dengan suhu panas menyengat dan kekurangan air. Bila kekurangan air, pastikan isi kantong air Anda (botol, hydro water, dsb) di sini.

Berikut ini adalah video penampakan Pos 2 di pagi hari:

Setelah kami selesai packing, kami melanjutkan perjalanan melewati sabana dengan tujuan ke arah pos 3. Pada awalnya jalanan agak mendatar dan tanjakan tidak berasa. Namun setelah pos 3, mental para pendaki harus disiapkan karena di sinilah letak perjuangan sebelum puncak.

Inilah penampakan sabana yang indah dan sulit ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tujuh bukit penyesalan. Sebenarnya ini tergantung dari kita. Mau dikasih nama bukit rasa syukur, bukit tantangan, atau bukit yang pasti berakhir, itu semua tergantung kita. Bagaimana cara pandang kita saja. Yang jelas, kalau naik gunung kita harus bermental positif. Setiap kami kelelahan, saya dan Donny Ari Surya dan Saeng, saling menguatkan. Kami saling meneriakkan kata-kata penuh semangat. Dari man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya), Inna ma’al usri yusraa (sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan), tidak ada bukit yang menyentuh langit (setiap bukit pasti ada ujungnya), dan sebagainya. Setiap kali kami saling mengingatkan dengan kata-kata positif, seakan kami mendapat suntikan energi untuk maju lagi. Salah satu hal yang biasa saya lakukan kalau lari pagi di kompleks perumahan juga saya terapkan. Agar tidak sering berhenti kalau berlari, saya melihat sesuatu yang mencolok sekitar 50 – 100 meter di depan dan mengatakan pada diri sendiri, ayo lari lagi sampai tiang yang ada spanduk merahnya itu. Demikian seterusnya saya menipu otak bahwa saya sedang tidak menuju goal yang sangat sulit, namun goal sederhana setiap waktunya. Pada saat menanjak, saya melihat satu pohon kecil, saya bilang ayo jalan terus, istirahat di pohon kecil itu. Istirahat sebentar atur nafas, baru melanjutkan lagi mencari mile stone berikutnya.

Hal seperti ini kadang memang ada ujiannya. Pernah dulu pas lari di kompleks mengatakan saya akan istirahat sebentar di mobil merah di depan sana. Eh pas mau sampai, mobilnya jalan. Masak harus mengejar? Pas mau naik di bukit penye.. eh bukit rasa syukur, tidak ada pohon yang cukup dekat untuk beristirahat. Ya sudah jalan sekuatnya saja hahaha..

Ada satu hal yang saya lupa waktu berjalan ke Pos 3, yaitu melakukan pemanasan. Hasilnya di tengah jalan saya mengalami kram. Alhamdulillah waktu itu membawa krim luar untuk memanaskan otot sehingga tidak lama bisa kembali berjalan. Lesson learn: jangan lupa melakukan pemanasan sebelum memulai pendakian. Best practice: bawa selalu krim pemanas favorit Anda dan selalu siap di kantong celana.

Sesampainya di Plawangan Sembalun, satu kemenangan, satu kepuasan, satu kebahagiaan dirasakan oleh semua pendaki. Perjuangan dari base camp hingga pos 2, dari pos 2 hingga pos 3, dan dari pos 3 hingga bukit yang aduhai, digantikan dengan kepuasan tak terkira melihat awan berarak ditiup angin di bawah kaki para pendaki. Awan yang dulu kami lihat dengan cara menengadahkan kepala, kini bisa kami lihat dengan cara sebaliknya.

Berdiri di atas awan
Berdiri di atas awan

Persis di atas pertigaan Plawangan Sembalun, ada penjual minuman dingin yang dihargai gila-gilaan. Pulpy orange kecil, mizone, pocari, coca-cola kaleng kecil dihargai 40 ribu rupiah. Bir bintang yang haram itu dibandrol 90 ribu rupiah, yang membuat para bule-bule tertawa mendengar tawaran gila itu. Namun tetap saja ada yang membelinya sebagai hadiah kecil atas separuh kemenangan sebelum puncak itu.

Minuman berharga fantastis
Minuman berharga fantastis

Mari kita lihat slideshow indahnya pemandangan ketika sampai di Plawangan Sembalun. Hadiah setengah perjuangan sebelum Puncak.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jika Anda penasaran dengan tim kami yang ingin merayakan kemenangan kecil ini, mari silakan dilihat kecentilan kami berpose melupakan penat dan asam laktat yang menyerang seluruh urat-urat.

Setelah makan malam kami bersiap tidur untuk mempersiapkan setengah perjuangan berikutnya yaitu ke puncak. Pukul 2 pagi nanti kami akan mencoba summit attack. Keril ditinggal di tenda, hanya membawa makanan kecil dan minuman. Angin sudah bertiup kencang dengan bunyi menderu. Di luar tenda tanpa jaket kami akan kedingingan. Tempat nyaman hanya di dalam tenda. Pastikan tenda yang dipakai mampu menangani suhu dingin. Jangan gunakan summer tent di Plawangan. Sengsara.

Sekitar pukul dua pagi dengan kondisi masih mengantuk dan lelah kami bangun untuk menuju puncak. Beberapa orang tampak sudah menuju puncak dari kilatan lampu senter di punggung Rinjani. Kami berdoa sebelum berangkat dan membawa perbekalan seperlunya. Saya membawa sebotol air, kamera HP, Sony Action Camera, kurma, lotion anti kram, selimut kertas anti hipothermia, dan snicker. Kamera DSLR tidak perlu dibawa. Tentu saja trekking pole wajib hukumnya untuk meringankan lutut dan membantu naik atau turun nanti.

Dan perjalanan menuju puncak Rinjani dimulai….

Bersambung