Prompt #123: Suara Ketukan di dalam Gudang

Jam menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Suara ketukan membangunkan diriku. Dalam keadaan mata masih sangat berat kubangun perlahan dari tempat tidur. Istriku masih lelap dalam tidurnya. Kupakai sandal dan perlahan beranjak menuju pintu kamar. Suara halus detik jam dinding terdengar jelas. Ketukan tadi tidak terdengar lagi. Kulangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Kuteguk dengan cepat air dingin yang baru kuambil dari dalam kulkas. Aku bertanya-tanya siapa yang malam-malam begini mengetuk dinding dari luar. Kusingkap tirai jendela di dekat dapur dan mengintip keluar. Tidak ada siapapun di luar. Langit terlihat gelap. Tak ada bintang ataupun bulan.

“Mungkin hanya mimpi saja” batinku seraya berjalan kembali ke kamar tidur.

Persis begitu kusentuh pegangan pintu kamar, suara ketukan itu terdengar kembali. Halus, namun masih bisa kudengar. Suara itu sepertinya berasal dari gudang dekat dapur. Kulangkahkan kaki perlahan menuju sumber suara tadi. Kubuka pintu gudang yang gelap gulita. Hawa dingin dan bau tidak enak tercium hidungku. Kuraba dinding di sebelah kanan mencari tombol lampu. Begitu kunyalakan tiba-tiba bola lampunya putus. Jantungku kaget setengah mati. Segera aku keluar dari gudang itu menuju dapur untuk mencari lampu senter. Begitu senter sudah di tangan, segera kulangkahkan kaki kembali ke gudang.

Bau busuk ini mungkin berasal dari bangkai tikus yang mati. Sudah terbayang besok aku harus mengeluarkan dan memindahkan banyak barang untuk mencari bangkai menyebalkan itu. Ketukan itu terdengar lagi. Kini aku yakin ketukan itu berasal dari balik lemari kayu di depanku. Bau busuk makin menyengat hidungku. Kubuka lemari itu perlahan dan tiba-tiba seekor tikus melompat ke mukaku.

“Arggh!!! Tikus sialan!!!” teriakku histeris.

Kubanting pintu lemari dengan kencang karena refleks. Tiba-tiba bulu kudukku merinding. Ada yang tidak beres. Kudengar suara pelan di belakangku.

“Pak.. maafkan saya Pak.”

Kubalikkan badan dan kulihat sesosok pria yang kukenal bermuka pucat seputih mayat.

“Parto? Kamu ngapain di sini?” tanyaku pada supirku yang sudah dua hari ini tidak masuk kerja.

“Saya tadi yang mengetuk dinding Pak. Saya minta maaf membangunkan Bapak. Tapi saya mesti pulang, Pak.”

“Apa yang terjadi, To?”

“Saya diracun Ibu Pak. Saya merasa bersalah mengkhianati Bapak selama ini. Ketika saya ingin menghentikan kegilaan kami, Ibu meracuni kopi saya. Dan tubuh saya ditanam di tembok di balik lemari ini. Tolong kuburkan saya secara layak, Pak” kata Parto menghiba.

“Kurang ajar! Kalau kau masih hidup aku sendiri yang akan membunuhmu, To. Dasar lelaki tak tahu diuntung!” makiku dengan penuh amarah.

Aku segera keluar gudang itu untuk membangunkan istriku. Ternyata selama ini aku ditipu habis-habisan. Senter kupegang erat di tangan kanan. Amarahku begitu menggelegak. Napasku tersengal-sengal. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Senter di tanganku terjatuh. Begitu akan kuambil, aku jatuh terjerembab.

Aku melihat bayangan istriku berdiri di depan pintu kamar.

“Maafkan aku Mas. Aku telah mengkhianatimu selama ini. Namun aku sudah tidak tahan lagi menjadi istrimu. Semua air minum sudah kububuhi racun yang sama dengan yang telah kuberikan pada Mas Parto. Kalian akan memiliki banyak waktu untuk bicara. Di gudang rumah ini” kata istriku perlahan.

Keesokan harinya aku dan Parto mulai tinggal berdampingan di dalam dinding di balik lemari dalam gudang laknat itu.

Img1


Fiksi ini adalah salah satu bentuk kontribusi Monday Flash Fiction dengan tema di Gudang. Tulisan di MS Word berjumlah tepat 500 kata, sementara di WP dikenali sebanyak 499 kata. Gambar di ambil dari sini.