Weekly Photo Challenge: Ornate

Me wearing Sasambo
Me wearing Sasambol

This week’s challenge is Ornate.

or·nate
ôrˈnāt/
adjective
made in an intricate shape or decorated with complex patterns.

For this challenge I show you Sasambo and Lombok’s handicraft that has ornate design.

MATARAM – Lombok Island located in West Nusa Tenggara (NTB) has a distinct batik named as sasambo. Sasambo derives from three big tribes in Lombok. Sa from Sasak tribe, Sam for Samawa tribe (Samawa is people from Sumbawa) and Bo from Bojo tribe (Bojo is people from Bima).

The pattern of Sasambo is traditional house from Sasak, Samawa, and Bojo. It also portrays the picture of red pepper and lizards, the local animal from Lombok.

Air Terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep dan Pantai Senggigi Lombok

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian terakhir Ekspedisi Rinjani yaitu Kembali ke Sembalun.

Setelah beristirahat cukup di Base Camp Pak Nur Saat, termasuk pesan urut setelah sholat isya supaya pegelnya hilang semua, kami segera packing untuk esok paginya, jalan-jalan ke air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep dan ke pantai Senggigi. Supaya lengkap kami tidak hanya menikmati keindahan gunung Rinjani namun juga melihat keindahan air terjun dan pantainya.

Pagi hari setelah sarapan kami menuju lokasi air terjun yang dicapai hanya sekitar 30 menit dari base camp Pak Nur Saat dengan jalan kaki. Ada dua air terjun besar di sana, Sendang Gila dan Tiu Kelep. Kalau hanya untuk melihat air terjun besar Sendang Gila lebih dekat. Tiu Kelep butuh perjalanan sedikit menyeberangi sungai dan lebih ke atas. Tiu Kelep ada bagian yang cukup dalam, dan disarankan tidak berenang tanpa ditemani guide atau porter.

Air terjunnya bersih, dan satu hal yang patut diacungi jempol adalah adanya tempat sampah dekat air terjun sehingga kita bisa membuang sampah ke dalamnya tanpa harus pusing membuang ke mana. Ini patut ditiru oleh penyedia wisata di seluruh Indonesia. Jika memang tidak ingin ada yang buang sampah sembarangan, sediakanlah tempat sampah, karena tidak semua orang mau membawa sampah di dalam tasnya.

Air sungainya begitu bersih dan airnya dimanfaatkan untuk minum warga setempat. Kami sempat mengambil foto dan memasak minuman hangat setelah berendam air dingin di sana. Lelah empat hari di gunung dihapuskan oleh mandi bersama dalam semangat kekeluargaan di sini. Sangat menyenangkan sekali.

Jika Anda pergi ke Lombok dan menyukai air terjun, jangan lewatkan untuk mengunjungi kedua air terjun ini. Begitu indah dan menyenangkan. Terutama ketika menuju Tiu Kelep yang mengharuskan kita menyeberangi sungai berbatu. Tingkat kesulitannya masih bisa diatasi oleh anak-anak TK atau SD.

Setelah puas bermain air di sini kami kembali ke base camp untuk pergi ke Senggigi. Kami telah memesan hotel dua malam di sana sebelum kembali ke Jakarta. Berenang dan kuliner adalah dua hal yang kami lakukan untuk beristirahat menghilangkan lelah mendaki Rinjani.

Karena di Lombok, saya mencari ayam taliwang yang paling enak di Mataram. Setelah bertanya pada penduduk lokal, taliwang yang juicy ada di Taliwang Irama, sedangkan yang lebih kering ada di Kania. Karena kami lebih suka yang lebih juicy, akhirnya dengan bantuan Waze kami berhasil mencari rumah makan lesehan tersebut. Beberuk dan Plecing Kangkungnya segar dan nikmat. Alhamdulillah nikmatnya.

Untuk oleh-oleh setelah melihat perbandingan harga di beberapa toko, kami menuju Phonix seperti usulan teman saya yang asli Lombok. Harganya memang beda dibandingkan toko lainnya, terutama yang di Senggigi karena toko-toko itu kebanyakan memberi komisi kepada supir yang membawa turis ke sana. Saya membeli dodol rumput laut, terasi lombok, kacang mede yang enak sekali, baju batik tenun motif rangrang untuk saya, istri, dan mom tercinta. Beberapa kaos Lombok juga saya beli di sana. Hehehe mumpung ke Lombok 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berenang di hotel

Pemandangan di pantai

Selesailah sudah ekspedisi Rinjani yang diakhiri dengan jalan-jalan nikmat di Lombok. Insya Allah jika ada rezeki dan kesempatan ingin berlibur bersama keluarga di sini.

Selesai

Kembali ke Sembalun

Tulisan ini adalah bagian keempat dari Expedisi ke Rinjani. Bagian ketiga bisa dilihat di sini. Setelah lelah turun dari puncak Rinjani, kami beristirahat dan tidur pulas sampai pagi. Paginya setelah sholat subuh saya berkeliling mengambil gambar Segara Anak di pagi hari dan keindahan Plawangan Sembalun yang terletak di atas awan itu.

Satu hal yang saya prihatin adalah banyaknya sampah di Plawangan Sembalun. Seharusnya ada tempat sampah diletakkan di sana sehingga memudahkan untuk mengumpulkan sampah dan dibawa turun. Akan lebih baik jika ada pos petugas untuk komunikasi di bawah dan adanya MCK yang cukup bersih untuk menjaga sanitasi dan keindahan di Plawangan Sembalun itu sendiri. Saya bungkus beberapa sampah plastik untuk dibawa turun. Semoga pemerintah daerah sana lebih memperhatikan masalah kebersihan di Plawangan Sembalun ini.

Pemandangan menuju Sembalun

Karena kami tidak ke Danau Segara Anak, kami turun kembali ke Sembalun melalui bukit kenangan yang menawarkan keindahan luar biasa. Negeri ini begitu indah, patut disyukuri dan dijaga kelestariannya.

Kami istirahat di setiap pos. Di pos 2 kami mengantri untuk mengisi botol dengan air dari mata air di sana. Lumayan untuk bekal perjalanan sampai ke bawah. Setelah pos 1 kami melihat penjual semangka yang manis dan terenak yang pernah saya rasakan (karena dimakan dalam keadaan lapar dan haus hehehe). Minum sebotol minuman mineral yang dijual di sana. Alhamdulillah nikmatnya.

Sampai di Sembalun mobil pick up siap menjemput kami ke Senaru, base camp Pak Nur Saat. Akhirnya kami kembali bisa menikmati segarnya mandi air bersih, gosok gigi, keramas, dan wanginya sampo serta sabun mandi. Alhamdulillah. Pengalaman yang luar biasa. Keesokan harinya kami berencana mengunjungi air terjun Sendang Gila dan Tuk Kelep yang konon begitu indah. Sore ini saya dan teman-teman menikmati makan siang buatan Chef Bu Saat dengan sambalnya yang lezat.

Marilah kita nikmati slideshow yang diambil dari kamera Marvin:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bersambung

Menuju Puncak Rinjani

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari Ekspedisi ke Rinjani, bagian pertama bisa dilihat di sini, dan bagian ke dua dapat dibaca di sini.

14 Agustus 2015 02:00 WITA

Pukul dua dini hari, Oniel dan Marvin sudah bersemangat berkeliling tenda berteriak sahuur-sahurr.. membangunkan tim untuk persiapan Summit Attack. Pak Kumis sudah menyiapkan roti bakar untuk disantap sebelum berangkat. Tas kecil yang sudah kami siapkan sebelum tidur kami ambil dan diisi kebutuhan kami. Air nomor satu. Saya membawa kurma dan snicker untuk di jalan. Jaket tebal segera dipakai, buff dipasang menutupi hidung dan leher untuk mencegah dingin, kupluk saya pakai untuk menutupi telinga dan kepala. Trekking pole aku sambar dan kamera HP + kamera Action aku masukkan ke tas. Looking good.

Setelah membaca doa dan briefing dipimpin Kombes Dadang, kami bergerak dengan head lamp menyinari jalan yang gelap dan dihembus angin dingin. Perjalanan menuju puncak dibagi menjadi tiga bagian:

  • Bagian awal terdiri atas tanah berpasir dan kerikil di mana setiap kita naik dua langkah gravitasi menarik kita kembali satu langkah
  • Bagian tengah tanahnya relatif lebih padat dan tidak terlalu terjal, bonus setelah perjuangan di sepertiga pertama yang sangat melelahkan
  • Bagian ketiga adalah bagian tersulit di mana banyak pendaki yang balik kanan di sini. Medannya mirip dengan sepertiga pertama, namun beberapa batu ukurannya lebih besar. Naik dua langkah, selangkah turun kembali.

Menjelang fajar menyingsing saya mengambil tayammum dan sholat subuh di tengah deru angin dingin. Saya ingin melihat sunrise, namun kewajiban harus ditegakkan. Jangan sampai kita menjadi hamba sunrise 🙂 Setelah sholat kami terus bergerak karena puncak masih jauh. Kecepatan saya berjalan tidak secepat Oniel, Marvin, dan Nanang. Tapi semangat tidak boleh putus.

Febru matanya kemasukan pasir kuarsa dan lumayan mengganggu pemandangan ke depan. Karena dia sudah pernah mencicipi Puncak Rinjani dia memutuskan untuk kembali ke base camp. Andra yang sempat kram kakinya turun bersama Febru. Pak Yakob yang kelaparan karena salah memasukkan tisue dianggap roti. Karena beliau dulu juga sudah pernah ke puncak akhirnya turun juga.

Saya berjalan pelan bersama Saeng, Erik, dan Dadang. Erik merasa kelelahan dan dia ingin turun. Dadang dan Saeng sempat memikirkan kemungkinan untuk turun juga, namun saya merasa tanggung untuk pulang sekarang. Puncak sudah menggapai di depan mata. Usaha untuk turun hampir sama melelahkannya dengan naik. Saya memutuskan untuk terus. Akhirnya Saeng dan Dadang menemani saya ke puncak, Erik turun ke base camp. Terkadang ketika lelah kami istirahat sebentar sambil menikmati indahnya alam. Saat ini saya begitu sadar bahwa keindahan Rinjani di foto masih kalah ketika dilihat langsung. Udaranya yang sejuk, warna yang begitu indah dipandang mata, semuanya menimbulkan rasa syukur kepada Ilahi atas karunia bumi pertiwi yang indah ini.

Perjalanan begitu panjang, angin begitu kencang, otot lelah terguncang. Tiga langkah jalan, saya mengambil nafas. Memandang puncak, maju lagi. Teringat akan almarhum ayah yang meninggal tahun 2013 yang lalu. Beliau dulu wadalah pencinta alam dan mendaki banyak gunung di usia mudanya. Jika aku bisa mencapai puncak, keberhasilan ini akan kudedikasikan untuk beliau. Doa kupanjatkan terus pada Ilahi. Mohon diberi kekuatan dan keselamatan sampai puncak.

Mendekati puncak aku berpapasan dengan Oniel dan Nanang. Marvin entah lewat mana tak berpapasan dengannya. Akhirnya setelah berjalan dan diselingi istirahat sekitar 8 jam sampailah ke puncak.

Syukur Alhamdulillah
Syukur Alhamdulillah
Donny, Me, Saeng, dan Dadang
Donny, Me, Saeng, dan Dadang

Tidak terasa saya menangis terharu. Lelah begitu panjang dan kebahagiaan bisa mencapai puncak, ingatan kepada almarhum ayah, semua bercampur aduk menjadi satu. Tidak peduli saya dianggap pendaki cengeng. Biarlah orang berkata apa. Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak dalam dada. Saya ingin menumpahkan segalanya. Lelah dan bahagia. Dan kerinduan pada ayahanda.

Donny Ari Surya juga menyampaikan perasaannya ketika mencapai puncak:

Inilah sambutan Kombes Dadang di atas Puncak Rinjani:

Beginilah pemandangan ketika turun:

Ketika turun kami hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam termasuk berhenti istirahat di beberapa tempat untuk makan kurma dan snicker. Di beberapa tempat kami juga mengambil foto. Saya tidak tergoda untuk mengambil eidelweiss karena pendaki sejati tidak mengambil apapun kecuali foto, tidak meninggalkan apapun kecuali jejak dan kenangan.

Begitu sampai saya langsung minum pocari dua botol langsung dari sachet yang saya bawa dari rumah. Badan alhamdulillah terasa segar dan langsung disambut mie goreng telur ceplok Pak Kumis. Nikmat sekali.

Karena waktu untuk ke danau Segara Anak sudah tidak ada karena menurut porter agak berbahaya jalan malam ke sana, akhirnya diputuskan kami tidak jadi ke Segara Anak, langsung turun kembali ke Plawangan Sembalun, tidak jadi dari Plawangan Senaru. Untung sekali kami mengambil jalan ini karena sepatu saya juga jebol ketika menuju pos 1 Sembalun.

Malam itu kami beristirahat di Plawangan Sembalun yang kedua kali sebelum besok mengucapkan selamat tinggal kepada Rinjani. Tempat indah karunia Ilahi yang begitu mempesona. Kewajiban kita untuk menjaga kebersihannya. Semoga dibuat tempat sampah untuk menampung sampah di Plawangan Sembalun atau Senaru, sehingga memudahkan pengumpulan sampah untuk dibawa kembali turun ke bawah. Bintang begitu indah. Semua menjadi saksi kebahagiaan kami mencapai puncak Rinjani. Malam ini kami harus cukup istirahat agar besok bisa pulang lebih awal menuju Sembalun.

Bersambung

Jalan-jalan ke Lombok dan Mendaki Puncak Rinjani

Setelah kurang dari dua tahun lalu saya dan teman-teman pencinta alam di kantor naik Gunung Gede, kami mencoba untuk mendaki Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa ikut pendakian ke Gunung Ceremai dan Gunung Pangrango.

Setelah memesan tiket sekitar bulan Maret 2015, maksudnya supaya memastikan tiket sudah di tangan, kami pun merencanakan perjalanan ke sana. Diskusi via WhatsApp dan email kami lakukan untuk membahas:

  • Tanggal keberangkatan
  • Posisi base camp dan jumlah porter yang akan disewa untuk membawa tenda, membawa logistik, dan memasak untuk kami di sana
  • Rute yang akan ditempuh karena menuju puncak ada beberapa rute dengan perbedaan kondisi alam dan tingkat kesulitan
  • Barang-barang yang akan dibawa termasuk jumlah tas (keril, tas untuk ke puncak, dan untuk jalan-jalan di pantai)

Setelah beberapa kali diskusi dan bertukar informasi dari internet akhirnya diputuskan kami akan terbang pada tanggal 12 Agustus 2015 ke Lombok dan kembali di 18 Agustus 2015.

Posisi base camp dipilih di rumah Pak Nur Saat yang terletak di Senaru. Kami memutuskan untuk menyewa 4-5 porter untuk membawa perbekalan dan untuk memasak di puncak.

Peta Rinjani (Gambar dari http://semuthitam.org/?p=214)
Peta Rinjani

Rencananya adalah:

  • Sampai di basecamp sekitar jam 16:00 WITA
  • Mulai jalan pukul 23:00 WITA dari Sembalun (tidak lewat pos 1, karena lebih singkat meski rute lebih menantang)
  • Camping di pos 2 sekitar pukul 01:00 dini hari
  • Sarapan di pos 2, lalu jalan ke Plawangan Sembalun
  • Makan siang di Plawangan Sembalun, istirahat, lalu jam 2 pagi Summit Attack
  • Turun ke Danau Segara Anak dan menginap di sana
  • Besoknya ke Plawangan Senaru dan turun ke Senaru
  • Jalan-jalan di Senggigi

Sayang karena kelelahan muncak dan waktu tidak cukup ke danau, akhirnya kami kembali menginap di Plawangan Sembalun dan besoknya turun ke Sembalun lagi dan ke basecamp di Senaru dengan mobil pick up.

Berikut adalah foto-foto dan video hasil perjalanan ke sana.

Di Bandara Soekarno Hatta

Malam sebelum berangkat saya pesan taksi Blue Bird dengan tujuan bandara. Dari Serpong rute terdekat adalah via Tangerang tanpa lewat tol baru. Saya tidak berani pesan Uber atau pesan taksi mendadak kalau akan pergi ke bandara. Terlalu beresiko karena bisa terlambat. Teman-teman yang lain ada yang naik damri dan bahkan ojek 🙂 Dadang yang kesiangan bangun nyaris tertinggal pesawat. Donny Ari Surya yang mengalami kemacetan di daerah Ciputat juga sempat ketar-ketir tertinggal pesawat. Alhamdulillah semuanya bisa kumpul boarding on time. Setiap mau pergi biasanya saya agak tegang sehingga kurang tidur. Jam 2 pagi baru bisa tidur dan bangun jam setengah lima. Kelelahan ini membuat kinerja saya cukup rendah karena malamnya langsung mendaki. Jangan ditiru ya.. selalulah cukup tidur sebelum mendaki untuk menghemat tenaga.

Di Pesawat dan di Bandara Lombok Praya

Menjelang pukul 12 waktu setempat kami tiba di Lombok Praya dan langsung mengambil tas keril yang harus masuk bagasi karena terlalu besar. Cuaca cukup terik dan mobil ELF sudah siap menjemput kami menuju base camp Pak Nur Saat di Senaru. Kami mampir makan siang di sebuah restoran tidak jauh dari bandara. Karena kelaparan makanan tadi tandas dalam waktu cepat. Setelah sholat dzuhur dan ashar di jamak, kami menuju Senaru.

Tiba di Lombok dan menuju Basecamp Pak Nur Saat Senaru

Pak Nursaat menyambut kami dengan sangat ramah dan penuh canda tawa. Istrinya memasak dengan penuh cinta dan selalu menjadi rebutan para pendaki yang singgah di tempatnya. Biasanya dia memasak sayur sawi atau sup, ayam goreng potong, mie goreng, udang cabe, dan sambal dadaknya yang khas Lombok. Maknyus tenan. All you can eat cuma dibandrol 13 ribu rupiah. Makan sampai kenyang. Kami bebas mandi di kedua toilet yang tersedia di sana meski harus mengantri. Pak Nur Saat mengandalkan penjualan makanan dan minuman serta kaos yang ada di sana. Dia mempersilakan kita untuk bernegosiasi langsung dengan para porter dan tidak menjadi calo. Sungguh keikhlasan dan ketulusan terpancar dari wajah dan senyumnya. Sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mendaki ke Rinjani dengan biaya yang sangat terjangkau. Jangan bandingkan dengan base camp lainnya yang berjuta-juta per orang yang mentargetkan para bule manca negara. Dengan kesederhanaan ini justru kami seperti merasakan rumah yang tak pernah kami miliki. Seolah kami tidak berada di tanah asing. Karena di mana ada kehangatan dan keramahan di situlah kita menemukan makna rumah. Untuk transportasi, makan, dan biaya porter sebelas orang hanya patungan sekitar 600 ribu rupiah saja selama lima hari di sana.

Akhirnya, malam pun tiba. Sekitar pukul sebelas malam, kami bersebelas dan porter dibawa ke Sembalun dengan mobil pick up selama lebih kurang satu jam.

Setelah berdoa kami berangkat menuju pos 2 langsung, mengambil rute singkat namun cukup menantang. Memang lebih berat, tetapi jauh lebih pendek daripada melalui pos 1 yang lebih landai. Udara cukup dingin, mungkin sekitar 15-18 derajat celcius. Dua plastik tolak angin aku minum untuk menghangatkan badan. Hydro bag milikku bocor sehingga airnya harus dibuang agar tidak membanjiri tas. Mesti beli hydro bag yang anti bocor nih. Penting.

Sampai di pos 2 Andra dan Febru memasak air untuk jahe dan cereal. Lumayan menghangatkan badan sebelum bobo. Akhirnya setelah tidur hanya 2 jam kemarin, aku bisa tertidur pulas sampai pagi menjelang.

Pos 2 Sembalun, 13 Agustus 2015

Pagi hari setelah subuh kami berfoto di sana berlatar belakang Rinjani yang menjulang tinggi. Para porter memasak sarapan pagi yang memuaskan rasa lapar kami. Menunya nasi goreng dengan buah nanas. Maknyus.

Setelah sarapan kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos 3 menuju Plawangan Sembalun. Perjalanan melintasi sabana dan bukit curam yang dikenal dengan Bukit Penyesalan. Tujuh bukit penyesalan adalah ciri khas Gunung Rinjani di Lombok Nusa Tenggara Barat. Mengapa dinamakan seperti itu? Karena pendaki Rinjani setelah pos 3 Pada Balong harus melewati tujuh bukit tersebut sebelum mencapai Plawangan Sembalun. Dan jalur tersebut sangat menyiksa raga pendaki, tujuh bukit yang harus dilalui yang kesemuanya adalah tanjakan berat! Maka pos 3 digunakan pendaki untuk mengumpulkan stamina dan mental sebelum melewati tujuh bukit penyesalan.

Bersambung