Prompt #132: Wanita-wanitaku

Orang bilang aku playboy. Suka gonta-ganti pacar. Persetan omongan orang. Kalau sudah tidak cocok, untuk apa hubungan diteruskan? Kamu juga gitu, kan? Begitu hubungan sudah tidak produktif, au revoir.

Biar wajah pas-pasan gini, sudah puluhan wanita aku kencani. Setiap kali aku jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan mereka, aku pelajari sifat mereka berdasarkan zodiaknya masing-masing. Izinkan aku menceritakan beberapa kisah cintaku, kawan.

Rini anaknya spontan, berani, dinamis dan selalu penuh inisiatif. Lahir di awal April, ia berzodiak Aries. Kami bertemu di sebuah acara gathering di daerah Bekasi. Dia yang menembak aku terlebih dahulu. Sayang ibunya kurang menyetujui hubungan kami. Aku dianggap kurang mapan untuk menjadi suaminya. Hanya delapan bulan kami berhubungan. Menyakitkan.

Diana beda lagi. Dia benar-benar gadis Cancer. Sensitif dan posesif, tapi setia. Dia paling takut dikhianati. Aku sangat menyayanginya. Aku bahkan berpikir untuk serius menikahinya. Kami jadian setelah ia putus dengan mantannya setelah berpacaran empat tahun lebih. Hatinya hancur saat itu, namun aku berjuang keras untuk mengembalikan kehidupannya yang sempat galau dan terpuruk. Setelah berpacaran empat bulan penuh dengan perjuangan, mantannya minta balikan lagi. Saking sayangnya, aku ikhlaskan dia kembali dengan mantannya. Biarlah pengorbananku menjadi saksi keikhlasan cintaku kepadanya.

img2

Setelah luka hatiku sembuh aku dekat dengan Leoni, wanita Scorpio. Anaknya tangguh, gaul, dan aktif di organisasi. Kepercayaan dirinya sangat tinggi. Di antara lainnya, Leonilah yang paling sensual. Aku benar-benar tersihir dengan kecantikannya. Wawasannya luas dan bukan jenis wanita yang lemah dan menggantungkan pada pasangannya. Ini yang aku suka juga darinya. Sangat mandiri. Hampir semua film yang ia sukai, aku juga menyukainya. Hidup kami penuh warna dan diselimuti pelangi selama dua tahun berturut-turut. Tapi seperti kata Maroon 5, even the sun sets in paradise.

Bencana ini dimulai ketika aku dipindah tugaskan ke Surabaya. Kami menjalani hubungan jarak jauh Jakarta – Surabaya sekitar 5 bulan lamanya. Perubahan ini sangat terasa bagi kami berdua. Jika biasanya kami bertemu hampir setiap minggu, kini hanya satu bulan sekali. Dulunya aku bisa melihatnya langsung tiap malam Minggu, kini hanya mengandalkan Whatsapp via gawai kami. Dia sering mengatakan kalau mulai tidak kuat menjalani hubungan kami.

Suatu malam ia mendadak muncul di Surabaya. Ia begitu rindu kepadaku. Dari bandara dia langsung menuju tempat kosku. Di sana ia mendapatiku sedang berciuman dengan seorang wanita dari tempat kerja baruku yang baru kudekati sebulan setelah aku dipindahkan ke sana.

“Tidaaaaak!!!! Teganya kau padaku, Rama!” teriaknya histeris.

“Maafkan aku, Leoni. Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” kataku berkilah.

“Aku tidak terima perlakuanmu ini. Akan kubuat dirimu menderita!!” teriaknya sambil menghambur keluar.

Seminggu kemudian aku kembali ke Jakarta untuk menemuinya di vila milik saudaranya. Ia tampak lebih tegar sekarang.

“Leoni, maafkan aku. Kejadian malam itu tidak aku sengaja. Kami hanya terbawa suasana,” kataku membuka percakapan sambil menyantap makan malam yang telah ia sediakan.

“Aku tak menyangka kau tega melakukan itu, Rama.”

“Berikanlah aku kesempatan kedua.”

“Maaf, Rama. Aku tidak bisa. Hatiku terlalu sakit.”

Tiba-tiba pandanganku kabur. Aku jatuh tidak sadarkan diri. Ketika bangun tubuhku terikat dalam sebuah kotak kayu. Ribuan kalajengking beracun menari-nari di atas tubuhku.

Dia benar-benar seorang wanita Scorpio sejati.


Kisah fiksi ini ditulis sebagai kontribusi Monday Flash Fiction dengan topik Zodiak. Jumlah kata 498 kata dari 500 kata yang diperbolehkan. Gambar dari Pixabay.

Prompt #130 dan #131: Perempuan Horor

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah meninggal dunia Pak Ramdani tadi malam.” Suara marbot mesjid mengagetkan Budi yang sedang duduk di depan teras sambil menikmati pisang goreng buatan istrinya.

“Bu, Pak Ramdani meninggal dunia.”
“Wah.. mendadak sekali ya. Kemarin saya lihat ada perempuan berbaju merah datang ke rumahnya. Beliau tampak sehat-sehat saja lho, Pak.”
“Apa? Perempuan berbaju merah? Pak Tino bulan lalu mengatakan kalau sebelum Pak Toto meninggal, ada perempuan berbaju merah juga datang ke rumahnya sehari sebelumnya.”

img1
“Ah, itu hanya kebetulan saja mungkin Pak. Jangan dihubung-hubungkan. Itu sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa. Bapak jangan percaya takhayul.”
“Iya sih Bu. Cuma kok aneh saja, bisa kebetulan begitu.”
“Makanya Bapak jangan lupa berolahraga dan selalu memakan makanan sehat. Ingat umur, Pak!”
“Iya, Bu. Nanti Bapak akan lebih banyak berolahraga.”

Sore itu hujan baru turun membasahi bumi. Sudah lama hujan tak turun dari langit. Bau khas yang menyenangkan ini terasa menentramkan hati Budi. Ia dongakkan kepalanya ke langit, bulan purnama mulai muncul. Ia sendiri saja di rumah. Ina, istrinya, tadi pamit untuk pergi berbelanja. Sekitar pukul setengah delapan malam istrinya tiba membawa beberapa barang belanjaan. Setelah makan malam dan berbincang-bincang, mereka masuk ke kamar tidur.

“Pak, tadi aku belanja lingerie, lho. Aku coba ya, Pak.” kode Ina sambil tersenyum genit. Budi menatap istrinya dengan balutan lingerie merah yang seksi itu.
“Me.. merah?” tanya Budi tergagap.
“Iya Pak.. Bapak suka, kan?”
“Biasanya kamu suka warna pink?”
“Iya Pak. Ganti suasana.” kata Ina sambil meredupkan lampu.

Mereka berciuman penuh gairah. Ina mengambil posisi di atas sambil terus melumat bibir Budi.

“Ahhh!!!” tiba-tiba Budi berteriak kesakitan. Ia merasakan darah di mulutnya. Istrinya seketika berubah wujud bagaikan hantu yang mengerikan. Kini dadanya terasa sakit. Penyakit jantungnya mulai kumat. Nafasnya mulai tersengal. Semuanya berubah menjadi gelap gulita. Ina hanya menyeringai menyaksikan suaminya mati perlahan dalam pelukannya.

img2


Flash fiction ini merupakan gabungan prompt #130, Perempuan yang Lewat di depan Rumah dan prompt #131, Horror! Jumlah kata 300 buah mengikuti batasan di Prompt #130, meski di prompt #131 bisa sampai 400 buah kata. Tadinya mau kirim yang 130 lebih dahulu, namun prompt terbaru terlanjur keluar. Jadi akhirnya digabungkan menjadi satu.

Prompt 128: Hubungi Romlah

img1

“Bu, saya mau minta tolong.” kata Amran perlahan.
“Apa masalahmu?” tanya seorang wanita di depannya sambil mengunyah sirih.
“Saya jatuh cinta dengan teman sekantor saya. Tapi saya takut ditolak, Bu. Ibu bisa bantu saya?”
“Mudah itu. Kamu bawa fotonya?”
“Saya bawa. Ada di hp saya.” Amran menyerahkan iPhonenya kepada dukun pelet itu.

Tak berapa lama kemudian dupa di depannya sudah menyala. Bau khas yang aneh itu menyergap hidungnya.
“Maaf, Mas. Tunggu sebentar di luar ya. Bu Romlah butuh konsentrasi. Mari saya antar.” kata asistennya.

Amran menunggu di luar sambil duduk di kursi memandang ke luar. Malam sangat gelap. Jantungnya berdegup kencang.

“Mas, dipanggil Ibu ke dalam sekarang.”
Amran masuk dan langsung duduk bersila di depan Romlah.
“Nak Amran, cinta lewat pelet seperti ini akan pudar. Tiap orang berbeda-beda. Kalau mau saya bisa siapkan pelet kuat untuk mengunci hatinya.”
“Tidak perlu Bu. Seiring berjalannya waktu saya yakin bisa membuatnya jatuh cinta.” tolak Amran dengan yakin.
“Baiklah. Ini ada jamu yang harus kamu minum tepat pukul 12 malam selama satu minggu berturut-turut. Rayuanmu akan mengena di hatinya.”

Sebelum pulang, asistennya menyerahkan sebuah kartu nama sambil berkata, “Mas, jika butuh masukan apapun, hubungi Bu Romlah di nomor ini ya.”

Amran pulang. Ia lakukan semua ritual yang diperintahkan dengan patuh.
Hari Jumat berikutnya, Amran nekad mengajak Intan untuk kencan di luar.
Sejak saat itu hubungan mereka bertambah lengket. Jamunya kebetulan sudah habis. Ia merasa harus menemui dukun itu lagi.
Diambilnya kartu nama yang berisi nomor telepon sang dukun.

“Bu Romlah, saya Amran. Jamunya habis Bu. Bisa minta lagi?”
“Bisa. Datang saja ke alamat yang ada di kartu itu. Saya tunggu jam 11 malam setelah praktik ya.”
“Baik, Bu. Jam 11 malam nanti saya sudah di sana.” kata Amran sambil menutup teleponnya.

Ruang tunggu praktik sudah sepi. Amran dipersilakan masuk ke dalam oleh asistennya.
Ia melihat Bu Romlah sedang duduk di sofa mengenakan baju tipis dan seksi. Ia duduk di sebelahnya.

“Bagaimana, Mas. Jamunya tokcer atau tidak?” tanya Romlah.
“Mantap, Bu. Intan langsung bertekuk lutut. Terima kasih atas semua bantuannya.”

Keduanya berbincang-bincang tentang banyak hal. Tak terasa sudah pukul dua pagi.
Romlah semakin dekat duduknya mendekati Amran. Tiba-tiba Romlah memagut Amran.
Amran tak kuasa menolak. Ia sambut ciuman membara itu dengan tak kalah buas.
Mereka bercinta semalaman hingga kelelahan di ranjang dekat ruang praktik Romlah.
Amran seperti lupa kepada Intan. Lupa pada jamu yang ia pesan. Lupa segalanya.
Ia hanya ingat betapa seksi tubuh dukun itu dan betapa hebat dia di atas ranjang.
Paginya ia terbangun karena silau matahari. Jam menunjukkan pukul 10 di hari Sabtu yang cerah itu. Sesosok wanita yang ia kenal tersenyum kepadanya.

“Intan? Kenapa kau ada di sini?”
“Aku anak bungsu Bu Romlah, Mas. Sudah lama Ibu menjanda. Aku rela melepaskan hubungan kita demi Ibu, Mas.”

Amran lemas teringat jamu yang ia minum setiap malam. Jamu yang selalu membuatnya teringat dengan kartu nama dengan tulisan Hubungi Romlah yang dicetak tebal itu.


Flash fiction mingguan kali ini bertemakan Hubungi Romlah. Jumlah kata 476 buah, dari maksimum 500 kata yang diizinkan. Gambar dari sini.

Prompt #123: Suara Ketukan di dalam Gudang

Jam menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Suara ketukan membangunkan diriku. Dalam keadaan mata masih sangat berat kubangun perlahan dari tempat tidur. Istriku masih lelap dalam tidurnya. Kupakai sandal dan perlahan beranjak menuju pintu kamar. Suara halus detik jam dinding terdengar jelas. Ketukan tadi tidak terdengar lagi. Kulangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Kuteguk dengan cepat air dingin yang baru kuambil dari dalam kulkas. Aku bertanya-tanya siapa yang malam-malam begini mengetuk dinding dari luar. Kusingkap tirai jendela di dekat dapur dan mengintip keluar. Tidak ada siapapun di luar. Langit terlihat gelap. Tak ada bintang ataupun bulan.

“Mungkin hanya mimpi saja” batinku seraya berjalan kembali ke kamar tidur.

Persis begitu kusentuh pegangan pintu kamar, suara ketukan itu terdengar kembali. Halus, namun masih bisa kudengar. Suara itu sepertinya berasal dari gudang dekat dapur. Kulangkahkan kaki perlahan menuju sumber suara tadi. Kubuka pintu gudang yang gelap gulita. Hawa dingin dan bau tidak enak tercium hidungku. Kuraba dinding di sebelah kanan mencari tombol lampu. Begitu kunyalakan tiba-tiba bola lampunya putus. Jantungku kaget setengah mati. Segera aku keluar dari gudang itu menuju dapur untuk mencari lampu senter. Begitu senter sudah di tangan, segera kulangkahkan kaki kembali ke gudang.

Bau busuk ini mungkin berasal dari bangkai tikus yang mati. Sudah terbayang besok aku harus mengeluarkan dan memindahkan banyak barang untuk mencari bangkai menyebalkan itu. Ketukan itu terdengar lagi. Kini aku yakin ketukan itu berasal dari balik lemari kayu di depanku. Bau busuk makin menyengat hidungku. Kubuka lemari itu perlahan dan tiba-tiba seekor tikus melompat ke mukaku.

“Arggh!!! Tikus sialan!!!” teriakku histeris.

Kubanting pintu lemari dengan kencang karena refleks. Tiba-tiba bulu kudukku merinding. Ada yang tidak beres. Kudengar suara pelan di belakangku.

“Pak.. maafkan saya Pak.”

Kubalikkan badan dan kulihat sesosok pria yang kukenal bermuka pucat seputih mayat.

“Parto? Kamu ngapain di sini?” tanyaku pada supirku yang sudah dua hari ini tidak masuk kerja.

“Saya tadi yang mengetuk dinding Pak. Saya minta maaf membangunkan Bapak. Tapi saya mesti pulang, Pak.”

“Apa yang terjadi, To?”

“Saya diracun Ibu Pak. Saya merasa bersalah mengkhianati Bapak selama ini. Ketika saya ingin menghentikan kegilaan kami, Ibu meracuni kopi saya. Dan tubuh saya ditanam di tembok di balik lemari ini. Tolong kuburkan saya secara layak, Pak” kata Parto menghiba.

“Kurang ajar! Kalau kau masih hidup aku sendiri yang akan membunuhmu, To. Dasar lelaki tak tahu diuntung!” makiku dengan penuh amarah.

Aku segera keluar gudang itu untuk membangunkan istriku. Ternyata selama ini aku ditipu habis-habisan. Senter kupegang erat di tangan kanan. Amarahku begitu menggelegak. Napasku tersengal-sengal. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Senter di tanganku terjatuh. Begitu akan kuambil, aku jatuh terjerembab.

Aku melihat bayangan istriku berdiri di depan pintu kamar.

“Maafkan aku Mas. Aku telah mengkhianatimu selama ini. Namun aku sudah tidak tahan lagi menjadi istrimu. Semua air minum sudah kububuhi racun yang sama dengan yang telah kuberikan pada Mas Parto. Kalian akan memiliki banyak waktu untuk bicara. Di gudang rumah ini” kata istriku perlahan.

Keesokan harinya aku dan Parto mulai tinggal berdampingan di dalam dinding di balik lemari dalam gudang laknat itu.

Img1


Fiksi ini adalah salah satu bentuk kontribusi Monday Flash Fiction dengan tema di Gudang. Tulisan di MS Word berjumlah tepat 500 kata, sementara di WP dikenali sebanyak 499 kata. Gambar di ambil dari sini.

Prompt #113 – Sepotong Cinta dalam Sekuntum Mawar Peach

Perfect fresh orange rose

“Selamat Siang Pak Agus. Boleh minta izin untuk wawancara?”

“Siang. Anda siapa?” tanya Agus setengah kaget di tempatnya beristirahat di siang yang cukup panas itu.

“Saya Randi dari Jawa Pos tertarik dengan kisah Bapak. Kalau Bapak tidak berkeberatan saya ingin memuat kisah Bapak di kolom khusus media kami.”

“Baiklah. Saya mulai dari mana ya?”

“Terserah Pak Agus saja, nanti kalau ada yang ingin saya tanyakan akan langsung saya tanya saja.”

“Ceritanya bermula bertahun-tahun yang lalu, ketika saya dan Yunita sedang mendapat pelajaran mengarang dari guru Bahasa Indonesia ketika kami masih duduk di bangku SMA. Karangan kami berdua menjadi karangan terbaik di kelas waktu itu. Selama satu bulan penuh karangan kami dipasang di majalah dinding sekolah dan menjadi pembicaraan semua murid dan guru. Sejak saat itu saya bertambah dekat dengannya dan mulai berpacaran. Setahun setelah lulus SMA kami berdua menikah dan dikarunia seorang anak. Dua tahun kemudian Yunita mulai bekerja, dan sejak saat itu masalah mulai timbul.”

“Apakah ada keterlibatan orang ketiga, Pak?” sela Randi.

“Oh tidak. Justru Yunita sangat setia kepada saya. Dia mulai sakit-sakitan. Dokter sampai kebingungan mendiagnosa penyakitnya. Saya bolak-balik mencari pengobatan alternatif berbulan-bulan. Puluhan kota sudah saya datangi. Akhirnya Allah SWT memiliki kehendak lain. Istri saya dipanggilNya dalam usia yang masih muda.”

“Saya mendapat kabar bahwa Bapak mengunjungi makam Yunita setiap hari Jumat sore. Apakah benar?”

“Benar Mas. Saya begitu mencintainya. Meski hubungan kami bisa diibaratkan bagai dongeng semusim, namun kesetiaan dia yang begitu besar tidak akan pernah bisa saya lupakan. Saya selalu bawa sekuntum mawar berwarna peach kesukaannya dulu. Makamnya selalu saya bersihkan. Doa selalu saya panjatkan agar ia diampuni dari segala dosa dan diterima semua amal ibadahnya.”

“Setiap minggu, Pak? 52 kali dalam setahun?” tanya Randi.

“Iya, Mas. Setiap minggu saya tidak pernah absen. Sebagaimana dia tak pernah absen ketika dia melayani saya.”

“Apa kenangan indah bersamanya sewaktu Yunita masih hidup, Pak?” tanya Randi.

Agus terdiam sejenak. Tampak di sudut matanya ada setitik air mata menunjukkan kesedihannya yang mendalam.

“Saya pernah kesulitan modal untuk dagang. Yunita tanpa ragu menawarkan seluruh perhiasan dan tanah warisan dari ayahnya untuk dijual untuk menambah modal saya. Nyaris saya masuk hotel prodeo difitnah rekan dagang saya, namun dia yang meyakinkan banyak orang bahwa saya tidak bersalah. Dia bagaikan purnama yang sempurna bagi hidup saya. Namun Allah SWT lebih menyayanginya, sehingga dia kembali pada Sang Pencipta mendahului saya.”

Randi dapat merasakan betapa besar cinta Agus kepada Yunita. Ia mulai mencoret-coret di buku kecil yang ia bawa.

“Oh ada tamu rupanya?” seorang wanita cantik muncul dari dalam rumah.

“Oh.. Bu.. ini kenalkan Mas Randi, wartawan dari Jawa Pos,” kata Agus memperkenalkan.

Randi menatap Agus. Kebingungan.

“Ini istri kedua saya. Setahun setelah Yunita pergi, saya menikah lagi dengan Riana.”

“Saya ambil minum dulu ke dalam ya Mas” ijin Riana pada Agus.

“Istri ketiga saya sedang mengantar anak Yunita belanja di mal.”

“Ja.. jadi Mas Agus sekarang berpoligami?”

“Ya, Mas.”

Randi sontak menjadi salah tingkah. Ia bingung artikel apa yang ia mesti tulis. Suami yang begitu mencintai istrinya atau contoh lelaki yang sukses berpoligami.


Tulisan ini adalah kontribusi untuk Prompt #113 : Tiga untuk Seratus Tiga Belas. Untuk lebih rincinya, silakan baca di sini. Gambar diambil dari sini.

Prompt #109 – Suatu Hari di Kembara Kala

Img2

“Selamat datang di Stasiun Kembara Kala. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang penjual tiket kereta.

“Satu tiket Mas.” jawab Kelana.

“Tujuan?”

“Kota Tegal, 23 tahun lalu, posisi latlong 6°52’01.9″S 109°08’33.4″E, pukul 16:00 WIB.”

“Satu kali jalan, atau return?

“Satu kali jalan saja. Nanti tiket kembali saya beli dari sana.”

Kelana sengaja meminta kedatangan di Stasiun Tegal jam 4 sore karena ia tahu tempat penjual ketupat glabed favoritnya buka setelah waktu Ashar. Perjalanan waktu selama itu akan menghabiskan energi yang tidak sedikit. Rasa mual yang timbul akan dia lawan dengan sepiring ketupat glabed dengan sate kerang pedas dan secangkir teh tawar hangat.

Kelana duduk di peron 1, di samping seorang lelaki tua berusia sekitar 70 tahunan.

“Mau pergi ke mana, Mas?” tanya lelaki tua itu.

“23 tahun yang lalu, ke Tegal, Pak. Bapak sendiri mau ke mana?”

“Kemarin sore, Mas. Ke sini juga. Pukul 17:00.”

“Loh? Ada apa kalau boleh tahu?”

“Hehehe.. Saya kemarin malam marah kepada istri saya, dan saya sangat menyesalinya. Saya akan kembali ke kemarin sore, lalu pulang ke rumah, dan akan saya ubah reaksi saya pada kekhilafan dia.”

“Ohh.. begitu. Bapak pasti sangat mencintai istri Bapak. Rela pergi ke masa lalu hanya karena ingin memperbaiki kesalahan kecil seperti itu.”

“Ya, saya sangat mencintainya. Saya sudah berusaha sedapat mungkin untuk tidak perlu menggunakan jasa kereta api Kembara Kala ini. Tapi saya tidak bisa tidur semalaman mendengarkan ia menangis terisak sampai pagi. Mas sendiri jauh-jauh kembali ke masa lalu untuk apa?”

“Saya ingin mengucapkan isi hati saya kepada seorang wanita yang saya cintai, namun tak pernah saya berani untuk mengutarakan cinta kepadanya. Ia akhirnya menikahi sahabat saya sendiri karena mengira saya tak pernah punya rasa kepadanya. Padahal saya baru tahu setelah sama-sama punya keluarga, bahwa ia juga mencintai saya.”

“Jika kau kembali, dan ia akhirnya jatuh cinta padamu, maka kehidupannya di masa kini dan kehidupanmu dengan keluargamu akan berbeda. Apakah kau sungguh-sungguh ingin melakukannya?”

“Saya tak peduli Pak. Saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri yang begitu pengecut untuk menyatakan cinta kepadanya. Saya tidak ingin merana seumur hidup saya.”

“Ingat pesan saya, tidak ada cinta yang sempurna. Yang ada adalah seseorang yang cukup sempurna untuk kita cintai.”

Kelana terdiam dan terperangah. Tak pernah ia memikirkan hal ini. Sesungguhnya ia cukup bahagia dengan istri dan anaknya. Mungkin ia hanya merasa jenuh atau merasa bisa lebih bahagia bila ia bisa hidup bersama dengan cinta pertamanya.

“Bapak benar. Saya terlalu emosi. Perasaan ini timbul setelah saya bertengkar dengan istri saya lalu tanpa sengaja wanita yang saya cintai di masa lalu bertemu di mal secara tidak sengaja. Dari perbincangan kami, saya mengetahui bahwa ternyata dia juga pernah ada hati sama saya.”

Kelana meremas tiket yang sudah ia beli dan ia robek-robek hingga kecil-kecil lalu ia buang di tempat sampah.

“Baik, Pak. Terima kasih banyak atas nasihatnya. Saya pamit dulu.”

Setelah Kelana pergi lelaki tua itu terkekeh sendiri di kursi peron 1 itu.

Dalam hatinya ia membatin, “Baru kali ini aku bicara dengan diriku sendiri yang lebih muda. Untungnya aku tidak keras kepala.”


Tulisan ini dibuat sebagai bentuk partisipasi Monday Flash Fiction ini.

Prompt #110 – Surga Dunia

liburan

“Dina, mau tidak bertemu Ibu?”, tanya Ian kepada putrinya pada suatu hari libur setelah mereka selesai sarapan.
“Bukankah.. Ibu sudah lama di surga, Yah?”
“Karena izin Tuhan, kita bisa bertemu kembali dengan Ibumu.”
“Benarkah? Ayah tidak sedang berbohong, kan?”
“Tidak, sayang. Mari kita temui Ibu di Rumah Sakit.”
“Horeeeee!!! Aku kangen sekali sama Ibu!!” teriak Dina gembira.

Tidak berapa lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah sakit tidak jauh dari rumah mereka. Seorang suster menyambut mereka dengan ramah.

“Selamat datang di Rumah Sakit Surga Dunia. Apakah Anda Bapak Ian?”
“Benar, Mbak. Apakah Istri saya sudah bisa ditemui?”
“Sudah bisa Pak. Silakan berjalan lurus mengikuti koridor ini, istri Bapak ada di kamar 666.”
“Terima kasih, Mbak. Dina, ayo kita temui ibumu.”

Ian menggandeng anaknya setengah berlari menuju kamar istrinya.

Tepat di depan kamar bertuliskan angka 666, Ian membuka pintunya perlahan. Ia melihat seorang wanita berambut panjang memandang ke jendela luar. Perlahan ia membalikkan badannya dan memberikan senyuman manis kepada Ian dan Dina.

“Diana…,” Ian berkata perlahan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Ibuuuuuuuuuuuuuuu!!!!” teriak Dina menghambur ke arah Diana.
“Dinaa..,” Diana terisak perlahan.

Bulir air mata menitik di pipi Ian langsung disekanya hingga tak sempat jatuh di pipi.

“Aku kangen Ibu. Aku pikir Ibu sudah pergi ke surga.” kata Dina dengan terbata.
“Ibu memang di surga. Nama rumah sakit ini adalah Surga Dunia. Benar, kan? Kamu tidak nakal kan, selama Ibu di sini?”
“Tidak, Bu..” Dina menggeleng sambil terus memeluk Diana, “Dina patuh sama Ayah dan selalu rajin belajar.”
Rindunya tumpah.

Sementara Dina dan Diana bercakap-cakap melepaskan kerinduan, Ian keluar dari kamar menemui Suster Rita.

“Mbak, tolong rahasiakan identitas Dian, adik kandung istri saya. Anak saya tidak tahu kalau yang ia temui adalah bibinya.”
“Baik, Pak. Bapak puas kan dengan hasil operasi plastiknya?”
Ian mengedipkan matanya sambil mengacungkan dua jempolnya.


 

Tulisan ini adalah flash fiction untuk berpartisipasi dalam Prompt #110 – Liburan Bersama Ayah. Baca rinciannya di sini.