Arsip Blog

Mengetuk Nurani Melalui Film Drone (2017)

Film terbaru yang diimpor Indonesia Entertainment Group berjudul Drone yang dibintangi oleh Sean Bean (Lord of The Rings, Game of Throne). Film ini mengingatkan pada film serupa, Eye in the Sky (Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman). Meskipun temponya tidak secepat Eye in the Sky, Drone tetap mengingatkan kita akan arti kemanusiaan.

drone.jpg

Drone di kedua film di atas bukanlah drone yang menyenangkan. Kita mungkin sehari-hari familiar dengan drone untuk mengambil video atau foto kegiatan outdoor. Drone dalam film ini digunakan untuk memantau dan jika perlu membunuh sasaran tertentu, baik akan mencelakai orang tidak berdosa di sekitarnya atau tidak. Para korban tak berdosa yang sering disebut collateral damage, membuat kita berpikir, sesungguhnya kita tengah mencegah korban jiwa yang lebih besar dengan cara yang baik atau tidak. Teroris sering berkilah bahwa korban sipil yang terjadi akibat aksi mereka adalah collateral damage, demi menghentikan kezhaliman yang lebih besar. Di sini kita bertanya, sebenarnya pelaku penembak dengan drone ini berprinsip sama dengan teroris atau tidak? Jika untuk mengatasnamakan pembasmian teroris lalu memakan korban rakyat jelata yang tak berdosa, maka apakah kita tidak sekejam teroris itu sendiri? Mengapa kita tidak mengambil langkah yang lebih jantan? Tantang langsung, dan usir yang tidak berkepentingan, agar tidak menjadi korban tak berdosa.

drone_control

Sean Bean berperan sebagai seorang kontraktor CIA yang mengendalikan drone untuk menjadi algojo dari jarak jauh. Cukup mengendalikan joy stick dan kamera resolusi tinggi, siapapun yang harus mati, akan dibumihanguskan dari jarak jauh, dari ruangan berAC, kursi empuk, dan kantor yang nyaman.

Bagaimana apabila rudal yang kita tembakkan secara tidak sengaja, membunuh orang yang tak bersalah? Apa perasaan kita, kalau korban tak berdosanya adalah anak atau pasangan hidup kita? Paginya masih bercengkerama, sorenya hanya menemukan serpihan tubuhnya?

Img3

Bagaimana apabila korbannya anak sekaligus pasangan kita, dan kita tahu siapa yang melakukannya? Akankah kita akan membalas dendam kesumat ini secara penumpahan darah ataukah menghancurkan kehidupan rumah tangganya seperti halnya dengan pelaku yang menghancurkan kehidupan kita?

Img5

Sean Bean yang berperan sebagai Neil Wistin bermain sangat bagus dan menjiwai perannya sebagai pilot drone, yang akan jauh lebih memukau seandainya saja deretan para penulis dan sutradaranya, Jason Borque, membuat cerita yang lebih ringkas sebelum klimaksnya datang. Bagian introduksi tokoh antagonis berjalan cukup lambat, dan agak membuat penonton geregetan, kapan ketegangan itu tiba. Konflik rumah tangga yang dihadapi Wistin juga kurang bisa digali akhirnya akan ke mana.

Pembaca yang budiman, jika Anda adalah orang yang bertugas menekan tombol neraka di bumi, dan berpotensi membunuh manusia tak bersalah, akankah Anda melakukan hal ini atas nama perlindungan terhadap kemanusiaan?

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Film seperti Eye in the Sky dan Drone adalah film yang mencoba mengingatkan sisi kemanusiaan kita, akankah kita bertindak menghalalkan segala cara asalkan tujuan kita benar? Boleh merampok asal untuk memberi makan keluarga? Film ini menyindir kehidupan kita, agar kita berani jujur terhadap diri sendiri dan nurani, apakah kita sedang menegakkan kebenaran, atau justru menumbuhsuburkan dendam yang akhirnya kontraproduktif dengan tujuan kita mencegah terorisme.

Selamat menonton dan berkontemplasi!

Iklan

Independence Day: Resurgence (2016)

Independence Day : Resurgence tidak membawa senyum lebar untuk penggemar film pertamanya. Sekuel yang dibuat 20 tahun setelah kesuksesan yang pertama ini tidak memberi kepuasan mendalam jika tidak bisa dikatakan tumpul dari sisi kekuatan dan inovasi cerita. 
Daya tarik Will Smith yang sangat kharismatik, menghibur, dan mempesona penonton hilang di sekuel ini karena diceritakan ia telah tiada. 


Kecanggihan teknologi yang diperkenalkan di sini hasil dari penelitian teknologi alien yang datang dulu tidak banyak membantu. Kesan wah dari besarnya pesawat alien dan kehancuran dunia memang khas Rolland Emmerich, namun isinya tidak bernas. 


Bahkan pertempuran pesawat di angkasa dalam Guardian of Galaxy masih lebih rapi dan menghibur. 


Pidato Bill Pullman masih menggetarkan, namun sayangnya tidak menolong film ini untuk mendebarkan hati penonton. 


Hadirnya Liam Hemsworth yang ditujukan untuk menarik penonton muda tidak begitu berhasil mendongkrak kesuksesan film ini (bolehlah sebagai daya pikat buat penonton wanita). 

Jeff Goldblum menjadi spesialis aktor utama film sekuel yang ditinggalkan aktor utamanya (Jurassic Park dan ID 4). 

Jika Anda penggemar ID4, jangan bawa ekspektasi tinggi menonton film ini.

Ada adegan kissing yang dipaksakan alias miskin chemistry, jadi cocok untuk 13 tahun ke atas, bukan anak SD atau lebih muda.

Filmnya 2 jam, cemilan dan cemolan dianjurkan. 

Rating : 6.5/10.

Everest (2015)

Film yang dibesut oleh Baltasar Kormákur ini merupakan visualisasi dari kisah nyata tragedi Everest di tahun 1996 yang kisahnya bisa dibaca di sini.  Pada tanggal 10–11 Mei 1996, delapan orang terjebak dalam badai salju dan tewas di Puncak Everest ketika berusaha naik ke puncaknya.

Film ini begitu ingin saya tonton karena pernah merasakan berada di dua puncak gunung yang pernah saya singgahi (jangan ngeres dulu..). Dua puncak gunung yang saya maksudkan adalah Gunung Gede dan Gunung Rinjani. Jauh berbeda dengan gunung di Indonesia, Everest tidak bisa buat main-main, Cuy. Peluang untuk pindah ke alam barzah adalah 1 dari 4 orang pendaki. Banyak pemandu yang menolak pemula yang belum pernah mendaki puncak gunung minimal 8000 meter di tempat lain. Latihan intensif selama lebih kurang dua tahun adalah syarat yang diajukan oleh beberapa profesional yang menawarkan jasa pendampingan ke atas puncaknya. Ingin merinding betapa sulitnya Puncak Everest? Coba deh baca tulisan ini.

Kembali ke filmnya, yang membuat saya suka film ini adalah film ini diambil dengan teknologi IMAX 3D sehingga besar dan indahnya gunung ini bisa dilihat dengan jelas dan menakjubkan. Beberapa adegan akan membuat beberapa penonton ngeri-ngeri sedap membayangkan jalan di atas tangga yang disambung-sambung di atas jurang menganga.

Keira Knightley yang memerankan istri Rob Hall bermain begitu maksimal meski perannya tidak di puncak melainkan sebagai seorang istri hamil tua yang menanti pulangnya sang suami dari Puncak Everest. Drama keluarga mereka yang kehilangan anggota keluarga digambarkan dengan baik dan menyentuh.

Film ini menyajikan gambaran secara kronologis waktu bencana mulai terjadi dan bagaimana mereka menyikapi hal ini. Mendaki puncak gunung tertinggi di dunia ini benar-benar seperti melewati ladang ranjau. Salah langkah dan tanpa persiapan, bersiaplah untuk pindah alam kehidupan.

Direkomendasikan bagi para penggemar film menegangkan dan outdoor yang diilhami dari kisah nyata. Wajib buat para pendaki gunung agar kita tidak meremehkan dalam pendakian puncak gunung apapun, seberapapun tingginya.

Ada yang bertanya mengapa orang rela bayar mahal dan beresiko mati demi mencapai puncak Everest, seperti digambarkan dalam salah satu dialog dalam film itu. Buat apa coba? Menurut saya hal ini sejalan dengan teorinya Maslow. Ketika kebutuhan dasar untuk makan dan minum terpenuhi, keamanan sudah didapat, cinta dan dicintai, dihargai oleh sesama, maka kebutuhan berikutnya adalah aktualisasi diri, yaitu ketika manusia mengejar kreativitas, mencari makna dalam kehidupan, kebanggaan akan prestasi diri, dst. “What a man can be, he must be.” Para pendaki itu tahu apa yang mereka akan hadapi, dan mereka juga tahu apa yang akan mereka capai bila goal mereka terpenuhi.

Saksikan trailernya di sini.

Jake Gylenhaal lagi laris. Semalam pas midnight ada dua film yang ia mainkan. Everest dan Southpaw, tentang petinju. Pemain gaek Josh Brolin juga main di sini. Keira Knightley juga menjadi pemanis dalam film ini, tidak boleh dilewatkan aktingnya yang menawan.

Filmnya panjang, 2.5 jam. Pastikan perbekalan Anda cukup. Jangan sampai dehidrasi atau kekurangan makanan ketika menonton. Cukup di film yang terjadi tragedi, jangan di dalam gedung bioskop.

Selamat menonton.

Cara Saya Menikmati Film (Apa Saja)

Tulisan ini saya buat setelah berulang kali mendengar komentar teman yang frustrasi setelah menonton sebuah film yang menurut saya berbobot, menarik, berkualitas, atau minimal ada sesuatu yang bisa kita ambil di dalamnya. Saya berusaha tidak memberikan akhir cerita dari film yang saya ambil contohnya di bawah ini. Jika Anda sangat sensitif, skip saja tulisan ini.

“Bro, udah nonton film Whiplash?”
“Udah.. kagak suka saya film itu.. akhirnya kok nggantung gitu…”

“Bro udah nonton film English Patient?”
“Ah ngantuk.. ngomong doang…”

“Eh.. Truman Show udah nonton?”
“Ah filmnya aneh.. lima menit aku tonton trus ku tinggal pergi..”

“Birdman udah liat?”
“Eh itu endingnya kok enggak jelas sih? Sebenarnya dia itu ke atas atau ke bawah?”

Tapi kalau film action, komentarnya hampir seragam..

“Transformers udah nonton?”
“Gileee keren abisss!!”

“Kingsman udah nonton?”
“Wah seru bingits!”

Saya tahu bahwa setiap orang punya kesukaan filmnya sendiri-sendiri. Ada yang gak suka drama, gak suka horor, gak suka India, Korea, Thailand, dst. Ada yang sudah mencoba film drama tapi masih gak ngerti juga, dan bingung kenapa ada orang yang menghargainya. Dipuji kritikus di Rotten Tomatoes (RT) atau IMDB, tetapi ternyata kok filmnya biasa saja.

Saya akan mencoba menjelaskan mengapa saya bisa menikmati film drama, dan hampir selalu bisa sependapat dengan mayoritas para kritikus di RT. Berikut ini adalah algoritma saya ketika mau menonton sebuah film pada umumnya:

1. Cek filmnya di Rotten Tomatoes atau IMDB, atau minimal tonton trailernya

Misal saya mau menonton Birdman. Langsung Google: Rotten Tomatoes Birdman

Birdman

Birdman

Kalau dilihat di Tomatometer, film Birdman mendapat rating kritikus CERTIFIED FRESH. Artinya para kritikus film yang memberikan acungan jempol dan menyukai film Birdman di atas 60%. Jika kurang dari 60% masuk kategori ROTTEN alias busuk. Apakah FRESH pasti “bagus” dan “ROTTEN pasti “jelek”? Seringnya demikian dalam sudut pandang tertentu, meski tidak selalu. Kritikus sendiri ada yang berbeda pendapat. Contoh di atas menunjukkan bahwa ada sekitar 7% yang tidak menyukai film ini. Namun mayoritas kritikus menyukainya. Ini salah satu indikasi bahwa ada sesuatu yang menarik bagi para kritikus film, orang-orang yang setiap hari kerjanya mengulas film, yang jelas tidak bisa dipandang remeh. Kalau filmnya dianggap busuk maka gambarnya tomat hijau pecah seperti dilempar ke tembok.

Kita lihat gambar popcorn merah di bagian Audience Score, artinya dilihat dari para penonton awam yang memberikan ulasannya di situs ini. Popcorn merah artinya penonton awam suka. Kalau tidak suka gambarnya popcorn hijau yang tumpah.

Mari kita lihat contoh film yang dianggap buruk atau tidak menarik:

KKN

KKN

Per Februari 2015, ada lebih dari 2.5 juta film yang tersimpan di IMDB. Film terus diproduksi tiap hari. Semakin lama, ide baru yang menarik semakin berharga. Saya melihat kecenderungan bahwa semakin unik suatu film, semakin sulit mencari film yang sejenis yang sebelumnya beredar, maka filmnya semakin FRESH (idenya segar) di RT. Semakin klise sebuah film, terlalu banyak film serupa yang sebelumnya diputar, maka semakin ROTTEN (busuk atau membosankan) dia. Maka untuk bisa memahami mekanisme ini, jam terbang nonton Anda sangat penting. Jika Anda melihat sebuah film yang menurut Anda menarik namun dinilai busuk oleh para kritikus, mungkin film serupa jarang Anda tonton sebelumnya. Kalau hal ini terjadi, mungkin rating dari penonton awam akan membantu (popcorn meter). Biasanya rating sebelah kanan lebih menunjukkan rata-rata kepuasan penonton awam terhadap suatu film. Jika keduanya tinggi maka semua sepakat filmnya menarik, dan layak untuk ditonton. Jika rating kritikus tinggi namun rating penonton rendah, biasanya gagasannya menarik tapi eksekusinya tidak umum atau melelahkan penonton pada umumnya. Jika kritikus memandang rendah tapi penonton memberi rating tinggi, biasanya filmnya klise atau sudah banyak yang serupa, namun eksekusinya menarik hati penonton pada umumnya. Dan jika kritikus dan penonton sama-sama memberikan nilai rendah seperti halnya film TMNT di atas, maka film ini bisa dihindari atau jika Anda terpaksa harus menontonnya karena alasan tertentu, siapkan ekspektasi Anda. Yakinkan dalam hati, saya mau menonton yang dicap jelek. Saya mempersiapkan diri saya untuk tidak kecewa. Sering kali seseorang mengatakan JELEK setelah menonton sebuah film dikarenakan ekspektasi sebelum menonton dengan setelah menonton terdapat jurang yang cukup lebar. Intinya, untuk mengurangi efek kejutan seperti ini, biasakan sebelum menonton sebuah film kita lihat dahulu ratingnya di Rotten Tomatoes atau IMDB. Jika Anda tidak terlalu khawatir dengan trailer sebuah film, menonton trailernya di Youtube mungkin bisa membantu sekilas apa yang bakalan Anda dapatkan sebelum menonton filmnya. Seiring bertambahnya jam terbang film Anda, Anda akan hampir selalu benar dalam memprediksi kualitas sebuah film hanya dengan melihat trailernya.

2. Lihat portfolio orang yang terlibat dalam filmnya

Terkadang sebuah film diputar di bioskop kita, sementara di Amerika sendiri belum diputar. Hal ini biasanya dikarenakan sebuah film diprediksi meledak di pasaran sehingga negara yang pembajakannya tinggi didahulukan agar banyak orang sudah menontonnya di bioskop, dan bukan mendapatkan salinan bajakannya. Tanggal tayang sebuah film di berbagai negara bisa dilihat di IMDB.COM. Jika kasus ini yang terjadi, kita bisa memprediksi sebuah film dari:

  • Siapa dalangnya. Dalang di sini berarti sutradara, produser, atau penulis naskah cerita aslinya. Lihat sutradaranya pernah membintangi film apa saja. Ini bisa dilihat di IMDB. Jika sutradaranya pernah membuat film yang kita sukai, maka besar pula kemungkinan kita juga akan menyukainya. Produser atau penulis naskah cerita juga bisa memberikan petunjuk filmnya layak tonton atau tidak. Biasanya kalau sutradaranya masuk dalam daftar favorit, saya tidak segan-segan untuk menontonnya. Masing-masing sutradara punya ciri khasnya masing-masing. Coba lihat kecenderungan para sutradara film dalam membuat sebuah film sehingga meninggalkan ciri khas khusus di sini.
  • Siapa para aktor dan aktrisnya. Jika tidak ada yang terkenal (dengan asumsi Anda cukup mengenal banyak aktor dan aktris), maka belum tentu filmnya bagus. Periksa lagi aktor/aktris utamanya pernah membintangi film apa saja. Aktor kaliber kelas Meryl Streep tidak akan memainkan film kacangan. Dia dan agennya pasti pilah-pilih film untuk diperankan.

3. Untuk film drama, cobalah membayangkan Anda menjadi karakter utamanya

Untuk film aksi atau film dengan visual efek, you can say it is all about you. Anda boleh memaki kalau visual efeknya hancur-hancuran. Anda boleh menggerutu kalau aksinya cemen atau sangat buruk. Itu sudah resiko pembuat filmnya. Anda ingin dihibur dan dimanjakan oleh sutradaranya. Jika ada film perang terus actionnya memble, wajar Anda kecewa. Jika Anda menonton film visual efeknya sangat kentara buatan komputer, Anda akan mudah mencibirnya. Intinya pembuat film lebih bertanggungjawab untuk memuaskan Anda. Untuk menghibur Anda. Namun menurut saya, berbeda halnya dengan film drama. Untuk film drama, it is all about the character or the story telling. Film drama itu dibuat agar kita bisa menyelami perasaan karakter utamanya atau bagaimana sebuah cerita digulirkan. Jika ia mengalami sesuatu yang tragis, kita diajak ikut sedih bersamanya. Kita diajak berempati. Kita diajak berdiskusi, seandainya kita jadi dia, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita lebih kuat? Atau lebih lemah? Film seperti ini mungkin tidak menghibur kita, namun memberikan pelajaran dalam kehidupan bagi kita. Kita diajak berpikir. Kita diajak berkontemplasi. Saya sedih kalau mendengar orang yang mengatakan: ah saya tidak suka nonton yang membuat saya berpikir. Waduh.. kita kan dikaruniai otak untuk berpikir. Film itu jenisnya banyak. Tidak semua ditujukan untuk menghibur. Ada film yang ditujukan untuk kita berpikir, untuk belajar dalam kehidupan, untuk mengenal sejarah, budaya, perasaan manusia, dan seterusnya. Semakin kaya kita akan perbendaharaan emosi, budaya, sejarah, dan perasaan manusia, kita akan semakin menghargai sesama. Kita akan mudah bertoleransi kepada sesama. Terkadang kita disentil atau disindir tentang hubungan kita dengan orang tua, pasangan hidup, anak, atau sesama kita. Lewat film drama lah biasanya ini semua kita dapatkan.

Dalam film Birdman, kita diajak menyelami menjadi seorang aktor tua yang dulu mudanya sukses sebagai superhero, kini mempertaruhkan segalanya untuk bisa kembali diterima dalam dunia hiburan melalui panggung Broadway. Castingnya kebetulan tepat sekali. Michael Keaton adalah aktor gaek yang dulu membintangi Batman, dan kini mencoba kembali tampil dengan kualitas akting yang lebih prima.

Dalam film Life is Beautiful, Roberto Benigni mengajarkan cinta kasih seorang Ayah yang begitu besar kepada anaknya hingga ia mengorbankan hidupnya.

Dalam film Whiplash, kita melihat bagaimana seseorang mengejar renjananya begitu keras sehingga ia mengorbankan cinta dan waktunya demi karis sepenuhnya. Kita juga melihat seseorang yang begitu ingin orang lain mengejar renjananya semaksimal mungkin dengan mengorbankan hubungan sesama manusia untuk saling menghargai dan menghormati.

Dalam film The Grand Budapest Hotel kita belajar tentang nilai-nilai persahabatan yang dijunjung tinggi hingga akhir hayat.

Dan seterusnya, dan seterusnya…

4. Menonton film (drama) butuh kesabaran

Cara penuturan sebuah film, antara seorang sutradara dengan sutradara lainnya berbeda-beda. Ada yang di awal temponya lambat, berangsur cepat ke belakang, ada yang konstan lambat, ada yang suka temponya cepat, ada yang menyukai twist atau kejutan di belakang, dan seterusnya. Jika kita yakin sebuah film mendapatkan rating tinggi dari kritikus, pastikan Anda siapkan semangkok kesabaran dalam menontonnya.

Kita lihat Truman Show contohnya. Jika Anda tidak sabar, dalam 5 menit mungkin Anda matikan DVDnya atau ganti channel TV Kabel atau Anda tinggalkan bioskopnya. Birdman juga demikian. Di awal tampaknya tidak menarik, namun seiring berjalannya waktu, kita melihat karakter utamanya bagaimana, dan konflik apa yang sedang ia hadapi. Memento besutan Christopher Nolan menggunakan alur mundur maju yang sangat kompleks, di mana Anda mungkin harus menonton lebih dari sekali untuk memahaminya, atau menggunakan DVD dan memajumundurkan filmnya. Quentin Tarrantino di film Pulp Fiction juga menggunakan alur maju mundur yang tidak biasa, yang akan membingungkan buat penonton yang tidak fokus atau tidak sabaran.

5. Menonton film butuh fokus

Selain kesabaran, Anda juga harus fokus untuk menikmati sepenuhnya karya seni. Itulah mengapa menonton di bioskop lebih menarik daripada menonton di rumah yang banyak gangguannya. Semakin kompleks sebuah film, semakin dibutuhkan kefokusan dalam menontonnya.

6. Belajar ikhlas menerima akhir sebuah film

Jika Anda menonton Basic Instinct, adegan terakhirnya yang menggantung harus bisa Anda terima secara ikhlas. Adegan film menggantung tidak mengharuskan kita mengatakan PASTI AKAN ADA SEKUELNYA. Bisa ya, bisa tidak. Namun kita harus belajar menerima dengan ikhlas akhir sebuah film atau bagaimana sutradara mengakhiri filmnya. Fokus pada apa yang ingin disampaikan sutradaranya, bukan pada sekedar bagaimana film berakhir. Film drama adalah film untuk belajar. It is about the message that is being conveyed by the director. It is about the main character. It is not about you, Dear Audience! Jangan terlalu dipusingkan dengan bagaimana film berakhir, namun fokus pada pesan apa yang ingin disampaikan sutradaranya. Film adalah dongeng adalah sebuah tutur sebuah kisah. Dalangnya pasti punya maksud dalam menuturkan kisahnya itu. Itulah yang wajib kita cari, wajib kita pikirkan, wajib kita renungkan. Keindahan atau harta karun dari hikmah sebuah film jauh lebih berharga daripada akhir sebuah film. Memang ada film yang endingnya memuaskan, tapi ada juga yang menggantung. Untuk yang menggantung, ada yang memang sutradaranya mengembalikan kepada kita, akhirnya mau bagaimana. Apakah akhirnya A atau B, tergantung kita aliran optimis atau pesimis. Tergantung kita ingin cerita itu berakhir bagaimana. Inilah film yang sutradaranya melibatkan kita menentukan akhir ceritanya. Sebut saja film Shutter Island karya Martin Scorsese yang memberikan akhir yang ambigu. Apakah Leonardo waras atau gila. Tentu saja beberapa petunjuk diberikan dalam film untuk kita temukan. Lihat saja film Inception karya Nolan, apakah Leonardo bermimpi sepanjang film, atau sadar di akhir film. Para sineas film itu menikmati karyanya diperdebatkan dan dipergunjingkan di media sosial oleh banyak penggemarnya. Semakin ramai dibicarakan dan diperdebatkan, semakin senang sutradaranya. Peluang filmnya makin laku makin besar. Intinya, nikmati proses sebuah film, cari hikmah dan pesan yang ingin disampaikan, dan ikhlas menerima akhir filmnya. Jangan berikan nilai akhir yang rendah hanya karena akhir filmnya tidak sesuai dengan yang Anda inginkan. Berikan nilai sesuai dengan the whole experience, termasuk nilai yang terkandung di dalamnya.

Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata Kong Fu Tse (Confusius) :

Everything has its own beauty, but not everyone sees it

Selamat menonton, selamat menjadi penonton cerdas.

Exodus (2014) – Kisah Nabi Musa yang Miskin Mukjizat

Akhirnya setelah “cuti menulis” selama lebih kurang dua bulan karena satu dan lain hal, kini saatnya kembali berbagi apa yang saya rasakan setelah menonton film Exodus (2014) besutan Ridley Scott yang berjaya dengan banyak film, salah satunya Gladiator yang dibintangi Russell Crowe.

Sewaktu kecil, saya menonton film The Ten Commandments yang dibuat pada tahun 1956, dan merasa bahwa film ini lebih patuh dan lebih menggambarkan isi kitab suci daripada versi yang sekarang. Untuk membahas tentang film ini dari sudut pandang Alquran (karena saya muslim), dan setahu saya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Injil, maka saya ingatkan bahwa tulisan berikut ini bisa mengganggu buat Anda yang belum menontonnya. (Spoiler Warning yaa…)

Musa dalam Exodus tidak menggunakan tongkat panjang seperti di Quran, namun justru membawa pedang. Musa digambarkan layaknya jenderal perang yang jago main pedang. Dalam film tidak ada adegan Musa mendapat mukjizat melempar tongkat menjadi ular yang memakan ular-ular milik penyihir Firaun.

QS Al Qashash (28:31)

dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.

Ayat berikutnya, 32, juga tidak ada di dalam film

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Tidak ada adegan Musa membunuh manusia sebelum ia melarikan diri dari Memphis seperti di ayat 15

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Di surat Al A’raaf 160:

Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.

Ini juga tidak ada sama sekali. Tongkat yang menjadi perantara mukjizat dari Allah, tidak digambarkan di film sama sekali. Hanya untuk menggembala hewan ternak.

Harun, yang seharusnya menjadi juru bicara Musa, hanya tampak bagai asisten belaka di film ini.

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku”.  (Al Qashash : 34)

Dan yang paling parah adalah kisah populer Musa membelah lautan. Dalam film ini, Tuhan tidak bicara apapun kepada Musa, Musa hanya melihat ada meteor jatuh, paginya laut surut. Jadi mukjizat Musa membelah lautan atas izin Allah dan dilihat kaumnya agar percaya kepada Musa, tidak digambarkan. Laut digambarkan surut, seolah-olah ini peristiwa alam biasa.

Padahal jelas dalam Al Baqarah (2:50):

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.

Saya tidak mengerti dari mana keempat penulis cerita Exodus ini mendapatkan ilham untuk menggambarkan kisah mulia Nabi Musa yang berulang-ulang diceritakan dalam Al Quran. Musa digambarkan frustasi dengan Tuhannya, berteriak tanpa rasa hormat, jauh seperti yang ada dalam Quran. Musa dalam Quran digambarkan sangat santun.

Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  (Al Qashash : 16)

Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”.  (Al Qashash : 17)

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.  (Al Qashash : 21)

Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”. (Al Qashash : 22)

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Al Qashash : 24)

Lihat, betapa santunnya Musa yang diceritakan dalam Al Quran. Berbeda dengan karakter yang dimainkan oleh Christian Bale. Musa digambarkan pemarah, jago tempur, dan tidak sopan terhadap Tuhannya.

Well, orang bisa berkata, ini kan cuma hiburan. Sayangnya, hiburan ini kalau sepenuhnya fiksi, sah-sah saja. Kisah yang diceritakan yang harusnya dari agama, justru diselewengkan. Buat kita yang merujuk pada kitab suci yang kita percayai, seharusnya tidak ada masalah. Namun akan menjadi bahaya ketika orang-orang yang belum membaca kitab suci, atau anak-anak, menonton film ini. Tanpa filter yang kuat dan kemampuan analisis yang kritis, kita bisa menganggap bahwa Musa hanyalah dongeng belaka dengan Tuhan yang tidak tahu sebenarnya ada atau tidak, atau hanya karangan Musa belaka. Mukjizat diberikan Tuhan kepada nabi pilihanNya bukan sembarangan. Mukjizat diberikan agar manusia biasa tahu bahwa ada kekuatan superpower di belakangnya. Agar manusia sadar bahwa mereka hanyalah ciptaan Tuhan semata, dan punya kewajiban untuk mematuhi Tuhan agar hidupnya selamat di dunia (dan kelak di akhirat). Nabi adalah superhero wakil Tuhan di muka bumi. Kalau kelebihan superhero dicabut, maka dia hanya manusia belaka, yang tidak punya kemampuan meyakinkan sesama manusia lainnya. Bahkan mereka yang melihat dengan jelas kekuatan superpower ini saja berteriak ini cuma sihir. Apalagi yang tidak menunjukkan apa-apa.

Kesimpulannya, film Exodus adalah film dengan visual efek canggih yang lebih banyak fiksinya daripada patuh kepada kitab suci, yang seharusnya menjadi landasan ceritanya. Kalau mau fiksi, sekalian ngawur seperti Lord of The Ring atau Hobbit. Jangan buat cerita agama tapi miskin pesan. Kisah kebaikan Nabi Musa dalam Al Quran agar manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi yang tidak membuat kerusakan kurang tersampaikan. Yang ditekankan justru mengenai Musa melawan perbudakan, yang ujung-ujungnya hanya masalah HAM. Padahal inti ceritanya bukan hanya masalah membebaskan Bani Israil dari jajahan Firaun, namun membebaskan manusia dari menghamba ke manusia lainnya, yaitu hanya patuh kepada Allah SWT, Tuhan Maha Pencipta. Firaun yang kejam justru digambarkan lemah dan patut dikasihani. Kena azab malah hidup pula. Sebagai film agama, bisa dikatakan film ini gagal total untuk mencapai hal tersebut. Ini mungkin kisah Nabi Musa yang hidup di alam mimpi para penulis ceritanya. Atau mungkin mereka mencoba menuliskan ulang sejarah dengan visual efek canggih agar berkesan nyata. Ah seandainya saja Tony Scott, saudara kandung Ridley Scott yang sudah mati bunuh diri itu bisa bercerita tentang alam kubur, mungkin kisahnya akan berbeda 🙂

Silakan kalau menonton, namun tetap kritis!

Exodus

Exodus

The Book of Life (2014)

Film ini menurut saya adalah film animasi terbaik 2014 sampai saat ini. Masih menunggu Big Hero 6 yang juga mau tayang, apakah bisa mengalahkan atau tidak. Produser film ini adalah sineas kawakan favorit saya, Guillermo del Toro, yang memikat penonton melalui film Pan’s Labyrinth (El Laberinto del Fauno), Hellboy, Mimic, Hobbit, dan Pacific Rim. Dari film ini dan Hellboy, saya bisa menyimpulkan del Toro memang orangnya romantis. Adegan Hellboy yang jatuh cinta dan Manolo di film ini yang jatuh cinta dengan Maria, luar biasa memikat.

Tadinya agak ragu dengan poster filmnya. Kok too colorful? Setelah melirik rating di IMDB dan Rotten Tomatoes peringkatnya meyakinkan, langsung nonton bersama anak-anak. Hasilnya, saya beri rating max. 10/10.

[Awas di bawah ini ada sedikit sinopsis yang mungkin mengandung spoiler. Tapi tenang, akhir cerita tidak akan dibeberkan di sini]

Film ini menceritakan tentang legenda di Mexico, bahwa penguasa surga dan neraka bertaruh untuk bertukar tempat. Taruhannya mengenai tiga anak kecil, dua lelaki dan seorang perempuan, bernama Manolo, Joaqin, dan Maria. Xibalba penguasa neraka menjagokan Joaqin akan menikahi Maria, sementara La Muerte menjagokan Manolo. Manolo lahir dari keluarga matador, di mana membunuh banteng adalah martabat dan harga diri. Sayangnya, Manolo berhanti Rinto. Dia suka musik dan tidak suka kekerasan. Satu hal yang membuat stress ayahnya. Sementara itu Joaqin adalah putra pahlawan setempat yang tewas di tangan Chakal, bandit kejam yang suka menyerang San Angel. Maria sendiri merupakan seorang anak wanita yang sayang kepada hewan dan cenderung memberontak. Sampai-sampai karena ulahnya, Maria disuruh ayahnya sekolah ke Spanyol dan berpisah dengan kedua sahabatnya.

Beberapa tahun kemudian, Maria pulang, sementara Manolo dan Joaqin sudah dewasa. Manolo dilatih ayahnya menjadi seorang matador handal, sementara Joaqin berprestasi dengan menjadi pahlawan di kotanya melawan angkara murka dengan kekuatannya. Manolo dan Joaqin bersaing keras untuk merebut cinta Maria. Hingga salah satu dari mereka harus mati karenanya.

Siapakah yang mati di film ini? Siapakah yang berhasil menikahi Maria? Tonton film ini bersama keluarga.

Terus terang film ini sangat-sangat menghibur. Alasan saya begitu menyukai film ini adalah:

  1. Lagunya begitu indah, seksi ala Spanyol, dan sangat romantis. Lagu-lagunya sebagian besar dikarang oleh Gustavo Santaolalla, peraih 2 Oscar, Babel dan Brokeback Mountain. Golden Globe jangan dibilang. Pokoknya magnifico dan esplendido!
  2. Humornya banyaaak.. bikin ngakak dan menghibur sepanjang film! Sutradaranya turut menulis skenarionya yaitu Jorge R. Gutierrez. Kocak abis!
  3. Gambar hasil special FX dari REEL FX benar-benar mengagumkan. Colorful dan begitu indah!
  4. Temponya pas, tidak lambat dan selalu menarik di tiap adegan!

Manolo disulihsuarakan oleh Diego Luna (The Terminal, Y Tu Mama Tambien), Maria oleh Zoe Zaldana (The Terminal dan Avatar), sementara Joaqin oleh Channing Tatum (White House Down, 21 Jump Street). Xibalba disuarakan oleh Ron Pearlman (Hellboy)!

Mau lihat trailernya?

Mau denger lagunya yang asyik?

Nih liriknya:

I Love You Too Much
Diego Luna & Gustavo Santaolalla

I love you too much
to leave without you loving me back
I love you too much
heaven’s my witness and this is a fact

I know I belong
when I sing this song
There’s love above love and it’s ours
’cause I love you too much

I live for your touch
I whisper your name night after night
I love you too much
There’s only one feeling and I know its right

I know I belong
when I sing this song
There’s love above love and it’s ours
’cause I love you too much

Heaven knows your name and I’ve been praying
to have you come here by my side
Without you a part of me is missing
Just to make you my whole life will fly

I know I belong
when I sing this song
There’s love above love and it’s ours
’cause I love you too much

I love…. you too much
I love you too much
Heaven’s my witness and this is a fact
You live in my soul
Your heart is my gold
There’s love above love but its mine ’cause I love you
There’s love above love and it’s yours cause I love you
There’s love above love and it’s ours if you love me as much

Eh mau yang versi Spanyolnya?

Te Amo y Más
Diego Luna & Gustavo Santaolalla

Te amo y más de lo que puedes imaginar
Te amo además como nunca nadie jamás lo hará.
En esta canción, va mi corazón
Amor más que amor es el nuestro y te lo vengo a dar

Te miró y más, y más y más te quiero mirar
Te amo y sabrás puro sentimiento y no hay nada más
Y sueno llegar a tu alma tocar
Amor más que amor es el nuestro y te lo vengo a dar

Ruego a Dios tenerte a mi lado
Y entonces poderte abrazar
Si no estas aquí algo falta
Yo por ti pelearé hasta el final

Y sueno llegar a tu alma tocar
Amor más que amor es el nuestro y te lo vengo a dar

Te aaaaamo y más!
Te amo y sabrás como nadie yo te amara
En esta canción yo veo quien soy
Amor más que amor es el mío y lo siento
Amor más que amor es el tuyo y presiento
Amor más que amos es el nuestro
Si tu me… lo das

Meski ini semua umur, namun kebudayaan bukan dari Indonesia. Selepas film saya berdiskusi dengan Rayyan, anak saya yang kelas 6, untuk membahas mana nilai-nilai yang baik yang bisa diambil dan mana yang buruk yang harus kita saring. Berdiskusi seperti ini penting karena dia harus belajar menganalisis apa yang dia alami, lalu mengambil hikmah terbaik, dan tidak asal meniru walau kulitnya menarik.

Film ini JOZZ GANDOZZ, sangat menghibur, dan gue banget. 10/10.

 

 

Fury (2014)

Fury

Film perang dunia kedua sudah lama tidak muncul di gedung bioskop. Ditulis dan disutradarai oleh David Ayer (menulis Training Day, Fast and Furious, SWAT, U-571, dan End of Watch), film ini juga dibintangi oleh aktor papan atas, Brad Pitt. Suami Angelina Jolie ini berperan sebagai Don ‘Wardaddy’ Collier, menjadi boss di tank yang ia anggap sebagai rumahnya sendiri. Anak buahnya juga lumayan terkenal, dari Shia LaBeouf (Transformers), Logan Lerman (Percy Jackson), Michael Pena (End of Watch), dan Jon Bernthal (Walking Dead).

Berdurasi 134 menit, film ini tidak membuat penontonnya bosan, karena disamping banyak sekali adegan tempur dari sudut pandang sebuah tank, ada juga drama yang menggambarkan betapa kejamnya perang. Brad Pitt sangat menjiwai perannya dan berhasil menjadi pemimpin yang disegani anak buahnya.

Adegan pertempurannya cukup realistis dan memiliki visual efek yang hebat. Kita seolah-olah berada di tengah medan pertempuran yang terjadi. Buat pecinta film perang seperti Band of Brothers dan Saving Private Ryan, film ini tidak boleh dilewatkan, mengingat keunikannya, yaitu pertempuran dari dalam tank. Film ini penuh dengan adegan perang yang meyakinkan, jangan bawa anak di bawah umur.

8/10.

 

Iron Man 3 (2013)

Film pamungkas yang menutup trilogi Iron Man digarap oleh Shane Black yang sukses menulis cerita untuk Lethal Weapon dan sekuelnya. ini benar-benar tidak boleh dilewatkan buat pecinta film Superhero. Jon Favreau yang sebelumnya menjadi sutradara kini bertindak sebagai produser dan bodyguard Tony Stark, Happy Hogan.

Iron Man digambarkan lebih manusiawi, lebih Tony Stark, daripada baju bajanya yang canggih. Lawan kali ini digambarkan cukup sangar, The Mandarin. Teknologi baju super Iron Man digambarkan lebih canggih dan lebih banyak dari sebelumnya. Banyak kejutan-kejutan kecil yang membuat film ini terus membuat penasaran hingga akhir cerita. Meskipun demikian 3Dnya menurut saya biasa saja. Artinya tidak terlalu signifikan untuk menikmati film dengan durasi 2 jam lebih sedikit ini.

Jangan lupa di akhir credit title cerita ada adegan singkat antara Tony Stark dengan salah satu tokoh Avengers! Film ini disukai Rotten Tomatoes yang menyebutkan salah satu film terbaik Marvel! Saya memberikan nilai 8 skala 10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

The Impossible (2012)

Semalam nonton bersama keluarga film yang diangkat dari kisah nyata tentang tsunami di tahun 2004. Ceritanya berkisah tentang sebuah keluarga, suami, istri, dan 3 orang anak lelaki yang berlibur ke Thailand. Ketika tsunami terjadi mereka semua sedang di kolam renang tidak jauh dari pantai. Mereka berlima tersapu ombak dan terpisah satu sama lain. Film ini menceritakan bagaimana mereka berlima akhirnya bisa dipersatukan kembali melalui perjuangan dan harapan.

Film ini berbeda dengan  film fiksi yang dibintangi Matt Damon, Here After, yang juga diawali tsunami di Thailand. Here After lebih kompleks dan terdiri atas beberapa cerita pararel yang saling berkaitan. The Impossible ceritanya lebih sederhana, namun karena dibangun dari kisah nyata, kita bisa ikut merasakan jika seolah-olah berada pada posisi mereka. Dihantam ombak, ditimpa bangunan, tertusuk dahan kayu, terkena pecahan kaca, terhimpit mobil, paru-paru kemasukan lumpur, dan sebagainya. Lolos dari tsunami peluangnya sangat kecil. Sekeluarga terdiri dari 5 orang dan semuanya selamat, mendekati mustahil, The Impossible. Namun bagi kita yang beriman, tidak ada yang mustahil dalam rencana Allah SWT. Ada hikmah di balik setiap tragedi.

Dari film ini kita mendapat pelajaran bahwa dalam kondisi bencana, kita diuji apakah kita masih peduli pada sesama atau hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita belajar untuk tidak egois dan mementingkan sesama daripada kepentingan diri sendiri. Dan kita semua belajar mempersiapkan hari kematian kita masing-masing, agar setiap detiknya senantiasa bermakna.

Film The Impossible menghadirkan kualitas akting prima dari Ewan Mc Gregor dan Naomi Watts yang menjadi orang tua dalam keluarga tersebut. Tom Holland (Billy Elliot) yang berperan sebagai anak pertama mereka juga menunjukkan kualitas akting prima.

Sebuah film yang sangat mengharukan dan mengajarkan kepada kita untuk peduli pada sesama serta menghargai setiap detik sisa umur kita.

Recommended for family, 7 / 10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

5 cm (2012)

Film 5 cm adalah film nasional yang aku tonton di penghujung tahun 2012. Diangkat dari novel berjudul sama karya Donny Dhirgantoro sekitar 5 tahun yang lalu, film ini lumayan laris manis di pasaran. Dibesut oleh Rizal Mantovani, secara mengejutkan film yang ringan ini sangat menghibur. Mungkin kita sudah lama tidak menonton film lokal yang bisa membuat kita berkali-kali tertawa lepas ala Nagabonar atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap, sehingga film yang sebenarnya cukup sederhana, pada beberapa adegan membuat kita terpingkal-pingkal.

Alkisah ada lima orang sahabat yang bernama Genta, Zafran, Riani, Arial, dan Ian. Genta diperankan oleh Ferdi Nuril (Ayat-ayat Cinta), Zafran diperankan oleh Mahbub Herjunot Ali (Realita, Cinta dan Rock’n Roll), Riani diperankan oleh Raline Shah (MC Kitchen Beib dan favorit Putri Indonesia 2008), Arial diperankan Denny Sumargo (pebasket), dan Ian diperankan oleh Igor Saykoji (rapper). Mereka sudah tujuh tahun bersahabat dan pas pada ngumpul-ngumpul di rumah Arial, mereka sepakat agar mereka tidak ketemuan selama 3 bulan. Harapannya akan ada banyak hal baru yang masing-masing akan dapatkan dan mereka tidak bosan satu sama lain. Genta yang dianggap menjadi “leader” mereka menawarkan kejutan ketika mereka ketemuan nanti.

Yang menarik dari film ini adalah beberapa dialognya yang polos dan menggambarkan remaja yang jatuh cinta membuat kita terpingkal-pingkal, mungkin menertawakan diri sendiri yang mungkin pernah mengalaminya. Been there done that. Visualisasi dari pemandangan alam yang indah yang ditawarkan film ini sangatlah indah, dan membuat kita semua jadi ingin mengunjungi tempatnya. Kisah cinta menurut saya adalah sekedar bumbu saja untuk menciptakan konflik menarik dalam cerita.

5 cm adalah film yang mengingatkan kita untuk mencintai Indonesia, yang meski penuh carut-marut nyaris bangkrut karena korupsi, namun masih menawarkan keindahan dan kekayaan alam yang patut dijaga, dihormati, dan dihargai. Film ini juga menginspirasi kita untuk fokus pada cita-cita, agar bisa mencapainya, seberapapun sulitnya cita-cita itu.

”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kamu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu” 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

7.5 dari skala 10. Menghibur deh pokoknya!

Gambar dari KapanLagi.com.