Pendakian ke Gunung Lembu di Purwakarta

Week end minggu lalu saya mengajak anak saya yang duduk di kelas 1 SMP, tetangga di rumah, dan tiga kolega untuk hiking ke Gunung Lembu di Purwakarta.

Evernote Camera Roll 20160529 034949
Tatang, Rayyan, Me, Gandi, Azhari, dan Nanang Zi

Perjalanan kami dimulai dari Senayan sekitar pukul 9 pagi dan baru sampai di base camp sekitar pukul 3 sore karena macet di Cikampek dan berhenti untuk makan siang dan sholat di RM Ciganea sekitar 1,5 jam. Tentu saja kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk makan di tempat ini karena saya dan sekeluarga sudah sering makan di RM Ciganea baik yang ada di rest area Bandung – Jakarta maupun yang ada di BSD. Menu favorit saya adalah ayamnya yang gurih, yang konon dicampur air kelapa sebelum digoreng, dan ikan bilis goreng kering.


Dari sini saya menggunakan aplikasi Google Maps dengan destinasi Gunung Lembu. Kami diarahkan untuk belok kanan di Pasar Anyar Sukatani. Dari sini jalan cukup sempit sehingga kalau berpapasan dengan mobil lain harus bergantian. Jarak dari pasar hingga basecamp lebih kurang sekitar 12 km dengan kondisi menanjak dan sesekali turunan tajam.

Setelah sampai kami segera menyiapkan tas keril dan memasukkan air serta peralatan lainnya. Di basecamp ini sudah disediakan parkir motor dan mobil. Untuk mobil dikenakan 10 ribu bila tidak menginap dan 15 ribu bila menginap.

Saya langsung melapor dan diterima dengan ramah oleh Pak Syamsudin. Saya isi buku tamu dan meninggalkan informasi berupa nomor telepon dan jumlah anggota yang akan naik. Per orangnya dikenakan 10 ribu rupiah. Harga yang cukup murah dan bersahabat.

Evernote Camera Roll 20160529 035745
Bersama Pak Syamsudin di Base Camp Gunung Lembu

Setelah siap kami segera menuju Pos 1 melalui pintu gerbang dengan spanduk selamat datang.

Evernote Camera Roll 20160529 040314
Medannya tidak jauh sebenarnya, namun sudut elevasinya sekitar 45 derajat dengan kondisi licin bila hujan. Nyamuk hutan juga perlu diwaspadai sehingga membawa lotion anti nyamuk sangat disarankan. Menggunakan tongkat gunung cukup membantu untuk melangkah. Jangan menyerah sebelum mencapai Pos 1.

Menjelang sampai pos 1 hujan turun cukup lebat, dan mengingat waktu sudah mendekati maghrib kami memutuskan untuk mendirikan tenda dekat warung dan rumah pohon di pos 1. Pemandangannya bagus, mengarah ke waduk Jatiluhur.

Evernote Camera Roll 20160529 040423
Setelah makan malam, sekitar pukul sembilan kami mulai tidur. Saya terbangun sekitar pukul 3 pagi menikmati terang bulan dan keindahan lampu Sukabumi dan lampu tambak sungai yang mengalir ke waduk Jatiluhur. Keindahan yang luar biasa dan kesempatan kita mengagungkan kekuasaan Ilahi.

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan, agar kamu mendapat petunjuk,” – (QS.16:15)

Udara di sini tidak sedingin Ciwidey – Bandung atau Guci – Tegal. Suhunya lebih kurang sama dengan di Sukamantri – Bogor, atau Cidahu – Sukabumi. Tidak panas juga, sehingga cukup nyaman untuk camping tanpa perlu jaket dingin.

Wisata Gunung Lembu ini menurut penjual di pos 1 ini baru mulai digalakkan sekitar dua tahun terakhir. Sebagian besar wisatawan datang dari Jakarta. Wisatawan asing yang pernah datang di antaranya dari Jerman, Jepang, Korea, dan Inggris.

Sinyal di Pos 1 ini tidak terlalu bagus. Internet sangat sulit, menelpon sesekali bisa. Komunikasi di daerah ini tergantung provider telko Anda.

Hal yang jarang dibahas di tulisan catatan perjalanan pendakian Gunung Lembu ini adalah:
– Di Pos 1 ini ada sumber mata air. Jadi jangan takut untuk kehabisan air jika nge-camp di sini
– Ada dua warung indomie dengan minuman botol, kelapa muda, dengan balai-balai untuk istirahat. Jadi tidak perlu terlalu banyak membawa cadangan air minum untuk dibawa dari bawah. Lebih menghemat tenaga, bukan? Semangkuk indomie cuma bayar goceng!
– Ada rumah pohon dari bambu yang bisa digunakan untuk selfie dan mengambil gambar waduk Jatiluhur yang indah

Pagi harinya setelah sarapan dan berdoa kami bergerak ke Pos 2. Kami bawa barang berharga dan meninggalkan keril dan tenda di Pos 1. Perjalanan pagi itu sangat menyenangkan karena cuaca sangat cerah. Burung berkejaran di angkasa, beberapa hewan melata dari golongan mollusca seperti cacing berkepala palu dan kelabang raksasa sesekali tampak melewati bebatuan di kaki kami. Saya selalu mengingatkan rombongan di belakang agar jangan sampai mereka terinjak. Kita tidak ingin sebagai tamu menyakiti hewan-hewan yang tidak bersalah yang menjadi tuan rumah gunung ini.

Perjalanan ke Pos 2 tidak semengerikan dari  base camp ke Pos 1. Ada beberapa bonus berupa jalan landai atau menurun. Ini bagian yang disukai pendaki untuk mengambil nafas hehehe..

me2
Bidikan Azhari – Jalan menanjak
WhatsApp-Image-20160530 (2)
Bidikan Azhari – di Pos 2

Ada dua petilasan keramat yang harus dihormati namun tidak dikultuskan agar tidak jatuh ke dosa syirik. Minta hanya kepada Allah SWT, jangan ke tempat keramat. Jaga akidah jangan sampai rusak.

Tidak berapa lama kemudian kami sampai di Pos 3 dan puncak Gunung Lembu di mana tenda bisa didirikan meski jumlahnya tidak sebanyak di Pos 1 (atau di Rompang Ceria).

WhatsApp-Image-20160529 (2)
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan? Dikasih pemandangan indah, harus dijaga ya!
WhatsApp-Image-20160531 (3)
Puncak Lembu 792 MDPL
WhatsApp-Image-20160531
Senangnya berfoto bersama anak naik gunung bersama
IMG_6036
Indahnya Waduk Jatiluhur dari Puncak Lembu
IMG_6035
Berdua bersama Rayyan

 

 

IMG_6034
Indahnya Indonesiaku

Tips mendaki Gunung Lembu

  • Gunung Lembu relatif mudah dinaiki oleh siapa saja, dari usia 10 tahun ke atas mestinya tidak mengalami masalah yang berarti
  • Olah raga jalan atau lari seminggu dua kali selama sebulan akan membantu memperkuat stamina
  • Istirahat yang cukup di malam sebelumnya juga penting untuk melewati tanjakan terutama di Pos 1
  • Tidak perlu bawa makanan dan minuman terlalu banyak karena di setiap pos ada warung indomie dan berbagai minuman, termasuk kelapa muda segar
  • Bawa lotion anti nyamuk, lebih baik yang semprot karena lebih mudah dipakai
  • Tongkat gunung lumayan membantu jika ada
  • Gunakan sendal gunung atau sepatu gunung yang tidak licin. Berhati-hati mendaki jika habis turun hujan
  • Matikan HP bila hujan. Di kuartal awal tahun 2016 ada seorang anak SMP meninggal dunia membawa HP tanpa alas kaki dalam keadaan hujan di dekat puncak. Beberapa orang temannya tidak tersambar karena HP dalam keadaan mati
  • Jangan remehkan gunung serendah apapun. Kesombongan menyebabkan kelengahan, dan kelengahan sumber malapetaka
  • Sebagai tamu, jangan kotori bebatuan dan pepohonan dengan guratan atau tulisan apapun. Jaga keindahan alam dengan tidak merusak dan meninggalkan sampah apapun
  • Membawa kompor kecil dan alat masak bisa menghemat dan memakan sesuai selera kita, namun tidak mandatori karena ada warung

Bonus: jika memungkinkan pulang dari sini bisa singgah ke tempat wisata Resort Tirta Kahuripan yang memiliki edgeless swimming pool di atas awan. Baca ulasannya di artikel selanjutnya. Stay tuned!

Sally D’s Mobile Photography Challenge: Nature (a Few Waterfalls Scenes from my Travels)

This Monday’s challenge is Nature. Sally’s posting is about her beach scenes from her travels, mine is about waterfall. I like beach but like waterfall more 🙂 The weather usually cooler. Beach is usually hot and sunny. Jakarta is hot, that’s why I prefer waterfall which usually located in higher land, with cooler weather.

You can feel the real power of water under the waterfall. Gravity and water are great combination to provide power and beauty at the same time. Every waterfall has its own tale and signature. With someone you love, you can create a romantic atmosphere near it.

Reader, do you have a special experience with any waterfall?

Among these shots, which scene you like most?

21782_10205247782766895_2944177327807750298_n
Curug Nangka
996045_10201576745393255_1932734134_n
Curug Bidadari
1386008_10201576745033246_288885536_n
Curug Bidadari
1452325_10201576715512508_485373324_n
Curug Bidadari
1655559_10202184197059167_1333382602_o
Curug Bidadari
10390572_10203646117046253_2258968958404587956_n
Curug Cibeureum
10603435_10203646116766246_2714310379117273632_n
Curug Cibeureum
11187192_10205274835843205_7595258519243745573_o
Curug Nangka
11990640_10206194725359868_6470463542930090688_n
Tiu Kelep
12238496_10206569178880972_7422879790629789666_o
Curug Cidahu
12247828_10206569184401110_2727640235178966576_o
Curug Cidahu
247574_1977889199672_301361_n
Small Waterfall
252806_1977889919690_611600_n
Curug @ Gunung Bunder
253771_1977890319700_7689336_n
Curug Ngumpet
279871_2126360751368_1120183_o
Guci Waterfall

Jalan-jalan ke De Ranch dan Sari Ater

Setelah menginap di Hotel Jayakarta, kami pindah ke villa di Lembang, dekat De Ranch. Tiga hari dua malam cuma bayar 750 ribu, dengan kapasitas untuk 10 orang. Villanya lengkap dengan kompor gas dan peralatan masak, serta cuma sekitar 1.5 km dari De Ranch. Dapat info ini dari teman kantor.

bandung (147 of 192)

Tempatnya lumayan asri, banyak tanaman. Ada rumah panggung yang berisi banyak kasur, baik di ruang tamu depan TV maupun kamar utama. Kami lebih suka rame-rame di depan TV karena bisa ngobrol dan bercanda bersama.

bandung (149 of 192)

Dengan menggunakan aplikasi Waze mencari alamat ini dari Hotel Jayakarta tidaklah sulit. Sesampai di sana tinggal menelpon penunggu villa lalu dijemput. Sampai di sana menjelang maghrib langsung packing dan bebersih.

Makan malam kami malas keluar karena belum mengenal medan di sana seperti apa. Akhirnya daripada pusing cari makan pake Go Food dari Gojek. Yay! Malam itu perut kenyang tanpa harus keluar rumah atau memasak.

Pagi setelah sholat subuh saya segera mengambil jaket windbreaker dan sneaker untuk olahraga pagi sambil melihat sekeliling.

Pagi itu saya berjalan lebih kurang sekitar 7 km pulang pergi untuk melihat pusat Lembang di mana ada pasar Lembang dan kuliner untuk sarapan pagi. Setelah membeli sejumlah makanan untuk sarapan saya tenteng semua bahan makanan layaknya seorang pemburu yang membawa hasil buruannya kepada keluarganya di rumah. Tidak lupa memperkenalkan enaknya tahu Tauhid yang uempuk dan uenak.

Menurut saya, tahu Tauhid lebih enak daripada tahu susu yang saya beli di Rest Area setelah keluar Bandung. Lebih gurih dan lembut.

Setelah sarapan kami bersiap mengunjungi De Ranch yang dekat letaknya dari villa.

 

bandung (163 of 192)
Aila mencoba naik kuda poni

Tarif masuk ke De Ranch hanya 10 ribu bisa ditukar dengan susu atau yoghurt senilai lebih kurang 3000-3500 rupiah.

Berkunjung ke De Ranch sebaiknya di pagi hari atau sore hari karena pada siang hari matahari bersinar sangat terik. Pastikan membawa sun block agar tidak terpapar sinar mentari yang menyengat.

Setelah puas bermain di sana kami makan siang di Mang Engking cabang Lembang dan sorenya mandi di Sari Ater.

bandung (182 of 192)

Menurut saya makanannya masih lebih enak Mang Engking yang di Depok UI. Kalau viewnya lumayan asri dan hawanya sejuk tanpa AC. Enak sekali buat leyeh-leyeh siang hari sambil tiduran di sini.

Setelah kenyang kami menuju Sari Ater untuk mencoba mandi air panas.

bandung (185 of 192)
Air panas

Secara keseluruhan pemandian Air Panas Guci Tegal Jawa Tengah lebih bagus daripada Sari Ater ini. Airnya lebih hangat dan tidak terlalu bau belerang.

Overall, perjalanan ke Lembang ini menyenangkan. Tempatnya dingin, cocok untuk berlibur keluarga yang tinggal di daerah panas macam Jakarta dan sekitarnya.

Bagaimana pengalaman Anda ketika ke Lembang?

Weekly Photo Challenge: Warmth

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Warmth.”

Warmth of Joy
Warmth of Joy

Last week, during my visit to my home town, Tegal, Java, Indonesia, I went to the beach PAI (Pantai Alam Indah) with my kids. When they were playing with sands, I captured some pictures there. This one showing the warmth that sparks from the kids who were playing there. It is the warmth of joy.

Here is the other pics from the journey: