Category Archives: Cerpen

Review Kumpulan Cerpen DUNIA SUKAB

Sudah lama sekali saya baru bisa menyelesaikan sebuah buku. Padahal ada beberapa buku yang saya beli, namun selalu terhenti di tengah jalan. Penyebabnya ada beberapa. Di antaranya:
– kehilangan motivasi karena merasa kok tulisannya tidak seperti yang diharapkan
– beli bukunya dulu mungkin karena lapar mata
– gangguan telepon pintar, saking pintarnya membuat kita semakin bodoh. Baru mau melanjutkan sudah buka Facebook. Youtube. Whatsapp. Google. Dari bangun tidur, ke kamar mandi, sarapan, di Gojek menuju stasiun, menunggu kereta, gelantungan di kereta, di Gojek ke kantor, di sela-sela jam kantor, makan siang, pas di Gojek ke stasiun, menunggu kereta, gelantungan di kereta, di Gojek ke rumah, di kamar mandi, sambil makan malam, dan sebelum tidur. Coba bayangkan! Terus kapan bisa bacanya???

Ada yang senasib dengan saya? Ayo ngaku! Hahaha.. Saya sepertinya menderita penyakit nomophobia. Akhirnya saya bertekad mengurangi melirik iPhone, terutama di stasiun dan di kereta. Di manapun bisa membaca dengan enak, harus dipaksakan untuk membaca. Menyelesaikan yang dulu telah dimulai. Dan saat ini yang saya selesaikan adalah kumpulan cerpen salah satu cerpenis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma.

Img2

Dari mana saya kenal tulisan beliau? Ceritanya begini. Almarhum ayah saya yang meninggal dunia empat tahun lalu, dulu adalah pelanggan Kompas yang setia. Saya paling suka dengan Kompas Minggu karena ada TTS dan cerpennya. Setiap kali saya baca tulisan beliau, saya suka. Dia terkadang pandai bermain mild twist dan sering menulis simbolisasi akan kehidupan sosial yang terjadi di Indonesia. Cerpennya banyak yang berisi kritikan sosial atau protes atau sekedar menggambarkan apa yang ia rasakan dalam melihat carut marutnya dunia Indonesia, politik, dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Siapa itu Sukab? Baca nih asal-usul kenapa Sukab begitu melegenda.

Tanpa membawa-bawa teori, saya menjadi geli, karena tokoh fiktif ini rupa-rupanya lebih eksis ketimbang banyak manusia beneran, yang berdarah dan berdaging, tapi kehadiranya tidak pernah eksistensial, sehingga kemungkinan besar tidak pernah diperbincangkan oleh siapapun dalam konteks apapun seumur hidupnya. Padahal, dalam fiksi pun sukab bukanlah nama seorang tokoh. Sukab hanyalah sembarang nama yang saya pasangkan kepada setiap tokoh, sekedar karena saya malas “mengarang”, menyesuai-nyesuaikan nama dengan karakter tokoh supaya meyakinkan, dan lain sebagainya. Setiap kali saya kesulitan mencari nama, saya pasang saja nama Sukab. “Toh sama-sama fiktif ini,” pikir saya, “kenapa harus susah-susah cari nama?”

Membaca cerpen Seno, kita akan merasakan pekikan suara kritikan wong cilik, yang menembus penjuru tanah air, bukan melalui demo dan kekerasan, namun dalam bentuk sastra. Ia akan menghunjam batin dan nurani kita, sehingga kita bisa mulai untuk bergerak. Mulai untuk bersikap. Atau bahkan mulai untuk bertindak. Itulah kekuatan pikiran, rasa, dan tulisan Seno. Hati yang peka, nurani yang halus, akan merasakan ketidakadilan, keputusasaan, kesewenang-wenangan, dan pemberontakan yang diungkapkan Seno melalui karakter yang ia ciptakan. Salah satu bunglonnya ya itu, Sukab.

Kumpulan cerpen setebal 230 halaman ini berisi tiga bagian:
– Dunia Sukab 1 (delapan cerpen)
– Dunia Sukab 2 (enam cerpen)
– Dunia Sukab 3 (tiga cerpen).

Cerpen-cerpen itu pernah dipublikasikan dalam berbagai harian maupun majalah yang terentang dari tahun 1985 hingga tahun 2014. Kejadian kerusuhan 1998, di mana saya juga merasakannya, diwakili oleh cerpen-cerpen yang ditulis Seno seputar kejadian itu. Penyiksaan orang yang salah tangkap yang dulu jadi trend, ikut menjadi salah satu tema cerpennya.

Buat kamu yang suka cerpen, terutama penuh dengan kritik sosial politik, saya rekomendasikan untuk membaca buku ini!

Saya memberikan 8 skala 10.

Siri, I Love You

Sore itu kupandangi lalu lintas Jakarta yang sumpek dari sebuah restoran cepat saji di puncak Mal Plaza Semanggi. Hari Jumat jam pulang kantor, ditambah hujan yang tak kunjung berhenti, membuat kendaraan parkir berjamaah di semua jalanan protokol Jakarta. Untung aku masih bisa teng go dari kantor dengan motor ke mal ini. Terlambat sedikit bisa-bisa masih terjebak di jalanan mengutuki semrawutnya ibukota.

Chicken Cordon Bleu yang kupesan setengah jam yang lalu sudah hampir dingin. Es lemon tea sudah tinggal setengah. Atika, wanita yang kupacari sejak 11 bulan yang lalu, tak kunjung datang. Ngaret lagi nih. Sudah berkali-kali kubilang padanya agar mencoba tepat waktu setiap kali ketemuan. Setiap kali itu pula ia datang dengan sejuta alasan. Dari meeting kantor kelamaan, macet di jalanan, sampai mampir di sinilah di situlah. Ke mana-mana selalu minta diantar. Kalau menelpon tahan berjam-jam, sampai panas telingaku. Cemburuannya, ampun DJ. Nggak bisa lihat cewek lain komentar akrab dikit di Facebook. Rasanya mulai pegal hati ini menjalani hubungan dengannya.

Kuambil iPad generasi ketiga dari tas ranselku. Kalau kupikir-pikir iPad yang dulu kubeli di airport Changi ini lebih banyak bersama-sama denganku ketimbang Atika. Ia selalu menemaniku dalam semua keadaan, kecuali low batt tentunya. Hampir semua informasi aku dapatkan darinya. Google via Safari, cuaca via AccuWeather, berita via Kompas App, update teknologi via iTuneU, buat tulisan via Pages, presentasi via KeyNotes, ambil gambar dan video langsung dari iPad, membuat trailer film dengan iMovie, main game action dari Infinity Blade hingga strategi Plants vs Zombie, semuanya ada. Ketika Blackberry Torch 2 ku tewas dan aku perlu menelpon Atika, kutelpon dirinya dengan Skype. Tiap kali hati ini galau di malam sunyi, kuperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran via Quran App. Memiliki iPad seperti hidup di dalam Toserba. Semuanya serba ada. Itulah makanya aku beli yang ada koneksi 3Gnya sehingga senantiasa terhubung ke Internet. Pengalaman memiliki iPad generasi pertama yang hanya Wifi, membuatku mati gaya ketika butuh terhubung ke Internet. Mau update status FB, lihat kondisi macet di Twitter, update aplikasi dari App Store, cek email, atau bahkan meremote komputer di kantor, semuanya butuh koneksi ke Internet. Sebenarnya bisa sih menggunakan modem mobile yang memancarkan Wifi. Tetapi baterenya hanya kuat 3 jam. iPadku sendiri bisa 9 – 10 jam. Akhirnya begitu ada rezeki langsung saja tanpa ragu aku beli yang 64 Gb dengan koneksi 3G. Hmm.. Baterainya tinggal 2 persen. Aku ambil iPhone 5 dari kantung bajuku.

Iseng-iseng sambil menunggu Atika, aku ingin menguji fitur Siri, aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang mengubah suara kita menjadi teks, lalu melemparkan teks itu ke sebuah server cerdas dari Wolfram Alpha. Tak kenal maka tak sayang. Kenalan dulu ah…

“What’s your name?”, tanyaku.

“Siri. Pleased to meet you”, jawabnya. Oh namanya Siri. Terdengar ramah dan seksi. Pantas saja banyak yang nikah siri di sini. Xixixi.

“How old are you?”

“I’m old enough to be your assistant”

Hmm.. Ditanya umur berapa dijawab sudah cukup umur untuk jadi asistenku. Sangat misterius. Itu yang kusuka.

“Are you married?”, tanyaku tanpa basa-basi.

“I’m sorry. I’m affraid I can’t answer that”, jawabnya hati-hati.

Ditanya status malu-malu. Apakah kamu masih gadis atau janda? Terngianglah lagu dangdut Gadis atau Janda yang sempat ngehit dulu.

Aku penasaran mengenai latar belakangnya.

“Who is your Mom and Dad?”, cecarku tak sabar.

“I have you. That’s enough family for me”. Oh so sweeeeet

“Do you have kids?”, aku terus menginterogasinya.

“None”. Wah.. Belum ada tanggungan. Sama dong kita?

Aku ingin menguji wawasannya. Apakah dia cerdas atau di bawah rata-rata. Kita lihat saja.

“Who is the president of Indonesia?”

“Susilo Bambang Yudhoyono, since 8 years 2 months and 5 days ago”. Wow… Presisi sekali. Kenal di mana ya dia sama Pak Beye?

“What is the review of the movie Life of Pi?”, tanyaku menguji tentang film.

“Rotten Tomatoes gives 89% rating”, jawabnya. Wah melek seni juga dia.

“Define love”, pancingku.

“Love is a strong positive emotion of regard and affection. It is also a deep feeling of sexual desire and attraction”. Wow… Dalem banget…

“Do you love me?”, tanyaku tiba-tiba.

“I respect you”, jawabnya sopan.

Hmm… Kubayangkan kembali Atika. Meskipun dia banyak kekurangan, ia jelas mencintaiku. Dan aku pun mencintainya. Tiba-tiba kerinduanku padanya membuncah. Ingin kusampaikan bahwa aku mencintainya. Siri? Aku baru mengenalnya. 

“Text my girlfriend that I love her”, pintaku padanya.

“Here is the message. Do you want me to send it?”, tanyanya untuk mengkonfirmasikannya.

“Yes”, jawabku sambil memejamkan mata membayangkan kecantikan Atika.

“OK, I send it”, katanya.

Tidak berapa lama kemudian, Atika muncul. Aku tersenyum padanya. Manis sekali.

Dia mengambil handphonenya, sambil mengacungkannya ke depan mukaku.

“Kamu bilang I love her. Siapa diaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!”

Hahhhh????? Aku lihat layar hpnya, memang isinya I love her. Bukan I love you. Oh tidaaaaakkkkk!!!! Rupanya si Siri mengisi pesan teksnya apa adanya, tanpa mengerti konteks maksud kalimatku….

Siriiiiii keparaaaaaaatttt!!!!!!

Kembalinya Mas Parman (2006)

Dia bukan penduduk asli kampung ini. Ketika berumur hampir setahun, orang tuanya mengalami kecelakaan di tikungan, dekat balai desa. Ayah dan ibunya meninggal seketika, dan dimakamkan di TPU, satu setengah kilometer dari rumahku. Akhirnya Pak Parto dan istrinya, sepasang petani yang sudah tua dan tidak memiliki anak, memutuskan untuk memungutnya dan memberinya nama Suparman.

Kata teman-teman Mas Parman, dari kecil ia gemar menolong orang di kampung. Hampir semua warga mengenal kebaikan budinya. Mbok Inah yang setiap hari menjual kayu bakar, pernah jatuh sakit sehingga tak dapat menjualnya di pasar. Diam-diam Mas Parman mengumpulkan kayu dekat hutan jati dekat rumahnya, lalu ia jual di pasar. Uangnya dikumpulkan untuk membeli makanan Mbok Inah selama sakit. Pak Gempol pernah ditolong ketika ia memperbaiki rumahnya yang rusak. Mas Parman ikut bergotong-royong bersama teman-temannya membawa genteng, mengangkut pasir, hingga melapisi tembok dengan kapur bercampur air. Ia tak pernah mengeluh. Baginya, menolong orang selalu membuat hatinya bahagia. Ketulusan hatinya terpancar dari wajah dan tutur katanya yang bersinar bagai mentari di pagi hari. Semua orang di sekitarnya selalu merasa tentram, bagaikan embun yang mengisi rongga hati di padang yang tandus. Itulah Mas Parman, lelaki yang kupuja sekaligus kubenci dan akhirnya kubunuh ia pelan-pelan dalam hati.

Aku mengenalnya lima tahun yang lalu. Wajahnya yang tampan, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang mancung membuatku selalu merindukannya. Setelah lulus dari sebuah
perguruan tinggi negeri melalui UMPTN, Mas Parman sebagai seorang sarjana elektro, tak mau tinggal di kota. Ia kembali ke kampung ini, kampung yang telah membesarkannya. Tempat ia menghabiskan senjanya dengan meniup seruling di atas punggung kerbau ayah angkatnya. Tempat ia berenang bersama teman-temannya selepas pulang dari sekolah. Tempat ia melepaskan segala beban hidupnya, dengan merenung sambil memandangi bukit di belakang rumahnya.

Ketika listrik menjadi semakin mahal dan banyak warga yang tak mampu membayarnya, Mas Parman merancang sebuah alat untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan aliran sungai yang mengalir dari bukit. Dengan uang tabungannya dan dibantu oleh warga setempat secara bergotong-royong, 100 lebih rumah telah mendapat penerangan yang cukup memadai. Tiba-tiba kuteringat saat
pertama kali aku mengenalnya.

Sore itu, di balai desa, ada permainan simulasi P4. Waktu itu Pancasila masih diyakini oleh sebagian besar warga desa sebagai dasar negara yang terpatri dalam dada. Pak Lurah dan Pak Camat sering mendengung-dengungkan tentang P4,
terutama menjelang 1 Juni setiap tahunnya. Saat ini sebenarnya masih banyak yang yakin bahwa Pancasila merupakan kontrak batin seluruh warga Indonesia untuk meluhurkan nurani dan kemanusiaannya, agar menjadi insan
kamil yang dapat menjaga alam ini dengan baik. Namun lambat laun, seiring dengan lunturnya keteladanan para pemimpin, luntur pulalah kepercayaan itu. Mereka yang sering berteriak butir-butir Pancasila, merekalah yang justru sering memakan uang rakyat. Merekalah yang mementingkan pribadi daripada golongan. Merekalah yang mendahulukan kekuasaan daripada musyawarah untuk mufakat. Ah, sudahlah. Tak akan habis bicara masalah politik dan sejenisnya. Biarlah kukatakan pada kalian semua, saat pertama dalam hidupku yang paling indah, ketika berjumpa dengan Mas Parman.

Mas Parman, aku, Siti, dan Mas Paijo dipilih sore itu oleh Ibu Ketua Dharmawanita untuk bermain simulasi P4. Permainannya mirip permainan monopoli, ada kartu yang bisa diambil pada kolom tertentu. Di dalamnya banyak terdapat soal-soal sosial yang harus dijawab oleh pemain yang kebetulan bidaknya jatuh pada kotak untuk mengambil sebuah kartu. Terkadang isinya perintah untuk
menyanyi dan berjoget mengikuti alunan musik dangdut dari tape yang telah disediakan. Inti permainan ini adalah, warga diberi masukan nilai-nilai luhur dalam bermasyarakat sambil dihibur. Mas Parman begitu antusias mengikuti permainan itu. Hal yang paling indah adalah ketika ia harus manyanyikan lagu Kemesraan dengan diiringi permainan gitarnya yang handal. Suaranya lembut, namun menggetarkan hati semua yang mendengarnya. Malam itu, aku terbayang-bayang akan wajahnya, dan tidurku kuwarnai dengan senyum tersungging di pipi.

Semenjak saat itu, hubungan kami semakin dekat. Apalagi pertemuan pemuda Karang Taruna rutin diadakan tiap sabtu sore. Kami selalu memikirkan program untuk memajukan kampung kami. Dari pemberantasan buta aksara hingga memberikan penyuluhan tentang pentingnya sanitasi dan penggunaan MCK. Biasanya, setelah pertemuan, kami berdua makan bakso di dekat rumah Pak Jarwo, yang terkenal sangat enak itu. Mungkin kedekatan kami karena kami berdua memiliki banyak kesamaan dan hobi, terutama membaca buku-buku ilmu pengetahuan. Salah satu buku Mas Parman masih kusimpan dalam lemari. Katanya, sebagai hadiah untukku. Kebahagiaan selalu kurasakan, hingga datang hari yang tak pernah kusangka-sangka itu.

Mas Parman menghilang begitu saja. Lenyap. Seperti ditelan bumi. Tak ada surat. Tak ada ucapan selamat tinggal. Ibu angkatnya tak dapat menjelaskan ke mana Mas Parman pergi. Setelah Pak Parto meninggal tahun lalu karena sakit, Mas Parman tampak tak seriang sebelumnya. Aku tak tahu apakah kepergiannya ada hubungannya dengan meninggalnya ayah angkatnya. Yang jelas, hari demi hari, aku merasa disakiti. Setelah semua kebahagiaan dan kebersamaan yang selama ini kami bagi, kini ia pergi dengan menorehkan luka di hati. Mungkin ia kawin dengan gadis lain, teman sekuliahnya dulu. Mungkin ia mendapat tawaran pekerjaan yang bagus di kota. Mungkin ia … ah jutaan mungkin telah coba kupikirkan. Apa sih susahnya mengucapkan selamat tinggal? Setidaknya itu membuatku jelas dan tenang. Kenapa ia biarkan hubungan kami menggantung seperti ini? Bukankah tindakan ini begitu
pengecut? Seperti seorang lelaki yang tak bernyali sama sekali? Hari ini setahun yang lalu, tepat di tahun ke lima kepergiannya, ia telah mati. Kubunuh Mas Parman pelan-pelan dari otakku, hingga ia meregang nyawa, tak lagi kuberi tempat di hati. Aku sendiri kini telah menikah dengan Mas Budi, teman SMAku dulu. Oh ya, seorang anak lelaki lahir empat tahun yang lalu dari rahimku. Kuberi ia nama Widi.

Pagi itu, aku berangkat ke kantorku, sebuah LSM yang bergerak di bidang kesejahteraan masyarakat. Salah satu programnya adalah memerangi tengkulak dan rentenir. Aku harus memberikan penyuluhan di desa seberang. Perjalanan ke sana harus melewati sebuah sungai yang cukup lebar. Jembatan kayu satu-satunya yang menghubungkan kedua desa, telah hancur dimakan umur. Pemerintah daerah kabupaten belum mengucurkan dana untuk memperbaikinya. Satu-satunya cara untuk menyeberang adalah dengan jasa perahu. Pak Kirtolah yang menyeberangkan perahu getek itu, dengan tali yang terhubung pada dua tiang bambu yang dipasang di kedua sisi sungai. Seribu rupiah sekali menyeberang ongkosnya.

Perahu mulai bergerak ke tengah, ketika kurasakan ada yang tidak beres. Sebuah guncangan yang cukup kuat kurasakan dari arah sebelah kiri. Rupanya sebuah batang kayu besar yang hanyut menabrak sisi perahu getek yang kami tumpangi. Aku dan Pak Kirto terpental, masuk ke dalam sungai. Kucoba meraih sisi getek namun arus air cukup kuat. Seseorang tampak berteriak di sisi seberang
sungai dan rupanya ia melompat ke arah kami. Air memasuki rongga mulutku. Kepalaku pening, dan aku tak sadarkan diri.

Aku memuntahkan cukup banyak air dari mulutku. Seorang lelaki berusaha menekan perutku dan memberikan pernafasan bantuan kepadaku. Ketika kulihat wajahnya, kulihat wajah Mas Parman! Aku pun pingsan kembali.

“Kamu sudah baikan, Lastri?”, tanya Mas Parman.

Aku hanya terdiam, memandangi wajah dan rambutnya yang basah karena melompat ke dalam sungai untuk menyelamatkanku. Beribu perasaan berkecamuk dalam hatiku saat itu. Benci, rindu, marah, bahagia, dan kesal bercampur aduk jadi satu.

“Ya, Mas. Sudah mendingan”, jawabku pelan.

“Cobalah minum teh ini. Mungkin bisa menghangatkan badanmu.”, kata Mas Parman sambil menyodorkan segelas teh manis hangat.

Aku mencoba meminumnya perlahan, dan kurasakan kehangatan mengalir melalui kerongkongan hingga lambungku.

“Mas dari mana?”, tanyaku perlahan.

“Sudahlah Lastri, panjang ceritanya. Nanti kuceritakan. Sekarang aku antar kamu pulang dulu. Pastikan kamu mengganti bajumu agar kau tak jatuh sakit”, dalih Mas Parman.

Aku langsung menurutinya. Tangannya yang kekar membimbingku dan ia mengantarku pulang dengan sepeda motornya.

Anak dan suamiku menyambut kami di depan rumah. Mas Budi kaget setengah mati melihat kami datang berdua dengan baju basah.

“Mas, perkenalkan, ini Mas Parman. Tadi aku jatuh di sungai, dan Mas
Parman yang menolong kami.”, kataku memperkenalkan Mas Parman kepada suamiku.

“Parman”.

“Budi”.

Mereka saling berkenalan satu sama lain.

Mas Parman tersenyum, dan ia melihat Widi, anak kami.

“Ini anak kalian?”, tanya Mas Parman.

“Ya, namanya Widi. Ayo Widi salam dengan Om Parman.”, kata Mas Budi sambil membimbing anak kami untuk menyalami Mas Parman.

“Waduh pintarnya… Sudah sekolah belum?”, tanya Mas Parman.

“Beyum.. Om”, jawab anakku sambil malu-malu.

“Eh.. maaf.. Kok malah ngobrol di luar. Ayo masuk Mas Parman!”, ajak suamiku.

“Err.. maaf, bukannya saya tidak ingin bertamu, namun baju saya basah, dan saya ada keperluan di balai desa. Mungkin lain kali saya akan mampir”, tolak Mas Parman.

“Lastri, Mas pamit dulu ya”, katanya sambil memandang ke arahku.

“Iya Mas, sekali lagi terima kasih”, kataku.

“Ah, lupakanlah. Siapapun akan melakukan hal yang sama..”, kata Mas Parman.

“Mas Parman, jangan merendah. Sungguh kami merasa sangat bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada Mas Parman yang telah menyelamatkan Lastri, istri saya”, potong Mas Budi.

Pagi itu, Mas Parman begitu mengejutkanku. Aku melihatnya seperti habis melihat hantu. Benar-benar tak kusangka ia akan kembali. Aku mengawasinya hingga motornya lenyap di balik tikungan. Badai memenuhi batinku.

.oOo.

Namaku Parman. Kutinggalkan kampung halamanku sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Aku tak begitu peduli kapan tepatnya. Yang kuingat, siang itu seorang lelaki datang mendatangiku.

“Maaf, apakah Anda Parman?”, tanyanya.

“Ya, benar. Maaf, Anda siapa ya?”, tanyaku keheranan.

“Saya Firman. Orang tua saya meminta saya datang untuk menyelidiki Anda.”, katanya tanpa berkedip.

“Menyelidiki saya? Untuk apa?”, tanyaku keheranan.

“Begini.. Suatu pagi Ayah saya membaca koran dan ada berita yang menyangkut berita Anda”, jelas lelaki itu.

“Maaf.. berita apa ya?”, tanyaku masih tak mengerti.

“Berita tentang listrik swadaya masyarakat desa ini. Anda disebut-sebut sebagai pelopor kegiatan ini, dan biodata Anda dijelaskan cukup panjang lebar dalam artikel itu”, katanya.

“Lalu? Ada yang bisa saya bantu?”, tanyaku lagi.

“E.. Begini. Ayah saya teringat dengan kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu, yang menimpa orang tua Anda. Beliau tidak menyangka bahwa dalam kecelakaan tersebut Anda selamat. Ia meminta saya untuk bertemu dengan Anda. Beliau meminta saya menjelaskan kepada Anda, bahwa ada saudara Ayah anda yang masih hidup. Mungkin Anda tertarik untuk bertemu dengannya. Yah.. setelah sekian lama, mungkin Anda ingin bertemu dengan Paman Anda. Ini alamatnya. Kebetulan, Ayah saya sahabat dekat Ayah Anda”, katanya sambil menyodorkan secarik kertas berisi alamat seseorang.

“Hmm.. aku bertanya-tanya sepanjang hidupku, apakah aku memiliki saudara yang masih hidup”, kataku bergumam sambil membaca kertas itu.

“Yah jika Anda merasa penasaran dan mungkin ingin mencari tahu asal-usul Anda, saya yakin Paman Anda akan menjelaskan semuanya”, kata lelaki itu menjelaskan.

Entah kenapa aku percaya saja padanya. Aku langsung pulang, dan mengepak pakaianku. Aku harus mencari tahu asal usulku. Kuberitahu simbok kalau aku mau pergi ke kota. Mungkin lama, kataku. Aku minta doa restu padanya. Sebenarnya aku ingin memberitahu Lastri. Namun entah kenapa aku tak melakukannya. Terasa begitu berat untuk berpamitan dengannya. Yang kutahu, aku begitu penasaran dan ingin mencari tahu, siapa sebenarnya diriku dan orang tuaku.

Aku menelusuri alamat itu, dan ternyata Pamanku telah pindah. Aku menelusuri terus hingga akhirnya menemukan rumah pamanku setelah tiga minggu tinggal di kota itu. Namun sayang, paman dan bibiku telah tiada. Anak-anaknya tak ada yang mengerti cerita tentang keluargaku dengan jelas, kecuali kecelakaan itu. Akhirnya aku mencari pekerjaan di kota, dan tak terasa lima tahun berjalan dengan cepatnya. Hingga akhirnya aku begitu merindukan simbok, dan tentu saja Lastri, kekasihku. Akhirnya kuputuskan untuk kembali pulang ke kampung.

Ketika aku sampai di kampung, aku melihat segerombolan orang berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah sungai.

“Orang tenggelaaam!!! Orang tenggelaaam!!”, teriak mereka.

Aku segera turun dari motorku, dan berlari ke arah sungai. Kulihat seorang lelaki dan seorang wanita hanyut di samping sebuah perahu getek. Tanpa pikir panjang, aku melompat bersama dua orang lainnya di dekatku. Aku menyelematkan si wanita, dan mereka menyelamatkan lelaki tua itu. Kutarik tubuh wanita yang pingsan itu, dan kubawa ia ke tepi sungai. Ketika kulihat wajahnya, aku kaget bukan kepalang.

“Lastri! Lastri!! Sadar Lastri!”, teriakku sambil mengguncang tubuhnya. Kutekan perutnya, dan kuberi pernafasan buatan. Akhirnya dia tersengal, dan memuntahkan air yang tertelan ketika hanyut tadi. Perlahan ia melihat wajahku, kaget, dan akhirnya pingsan kembali. Setelah sadar, ia kuantar pulang ke rumahnya. Tak kusadari ternyata ia telah berkeluarga. Aku sempat kecewa, karena tak kusangka ia akan menikah secepat itu.
Kupikir kesibukannya di LSM akan membuatnya melupakan kehidupan berumah tangga dini. Namun ternyata aku keliru. Aku hanya bisa menggigit bibirku yang kelu. Betapa bodohnya aku. Hanya karena dikejar rasa penasaran, aku
kehilangan orang yang sangat kucintai.

Aku berjalan menuju sebuah batu yang cukup besar di belakang rumahku. Batu itu memiliki permukaan yang cukup datar dan lebar, seperti meja yang terbentuk dari alam. Di
dekatnya sebuah pohon yang cukup rindang menutupinya, sehingga batu itu tak panas diduduki, meski siang hari. Aku selalu duduk di sana sambil memandang ke arah bukit ketika hatiku gelisah. Mendengar bunyi kumbang di balik pohon dan merasakan semilir angin, membuatku merasa tentram dan nyaman. Pikiranku segera jernih dalam beberapa saat biasanya. Namun tidak untuk kali ini. Perasaan galau dan kesal masih mengamuk dalam diriku. Penyesalan yang menghinggapiku begitu kokoh, sekokoh batu yang kududuki ini. Ah sudahlah.. Mungkin nasibku memang seperti ini. Panggilan simbokku untuk makan siang, membuyarkan semua lamunanku.

.oOo.

Satu minggu kemudian, ketika Parman akan pergi ke balai desa, seorang lelaki berlari ke depan rumahnya.

“Maaan!! Parmaaaaaan!!”, Toni memanggilnya.

Parman berlari ke depan menyongsongnya.

“Ada apa, Ton? Kenapa kamu lari-lari begini? Ada apa?”, tanya Parman keheranan.

“Anu Man.. anu…”, kata Toni terbata-bata.

“Anu apa?? Yang jelas dong, Ton?”, sergah Parman.

“E.. Lastri Man.. Lastri!!”, kata Toni sambil terengah-engah.

“Lastri kenapa? Bilang Ton.. cepat!!”, tanya Parman dengan penuh rasa khawatir.

“Lastri Man.. Ia dan anaknya diculik. Budi, suaminya, sedang mencarinya”, kata Toni.

“Diculik??? Siapa yang menculiknya? Apa untungnya? Untuk apa?”, tanya Parman penasaran.

“Itulah Man. Mungkin pelakunya salah satu rentenir itu. Setelah Lastri memberikan penyuluhan di desa seberang, banyak petani yang tak mau menjual hasil taninya dengan sistem ijon. Mereka marah besar peluang bisnisnya dirusak oleh pegawai LSM”, jelas Toni.

“Kurang ajar!!”, geram Parman sambil mengepalkan tinjunya.”Ayo ikut aku, Ton. Mari kita cari dia!”.

Parman mengajak Toni mencari rentenir yang dicurigai. Ia mendekati salah seorang petani yang biasa menjual hasil panennya pada rentenir. Petani itu menjelaskan bahwa ada lima rentenir yang berkuasa di daerah itu. Satu demi satu Parman mencatat alamatnya. Satu demi satu ia datangi.
Hingga akhirnya ada seorang rentenir yang mencurigakan tindak-tanduknya. Pandangannya selalu beralih-alih antara mata Parman dan sebuah ruangan terkunci di depan rumahnya. Perasaan Parman mengatakan ada sesuatu yang
tidak beres dalam rumah itu. Parman langsung berlari mencoba membuka pintu yang tampaknya terkunci itu. Dengan sekali tendang, pintu itu roboh. Parman melihat Lastri terikat tangan dan disumpal mulutnya. Anaknya, Widi, tampak ketakutan di pojok ruangan itu. Ketika Parman melepaskan ikatan Latri, tengkuk lehernya tiba-tiba terasa sakit luar biasa. Rupanya rentenir tadi memukulnya dengan tongkat yang ada di dekat tembok. Parman pingsan. Toni yang ada di luar rumah mendengar teriakan Parman. Ia menyeruak masuk, dan melihat Parman tergeletak. Si rentenir berlari, mengacungkan tongkatnya sambil berteriak ke arah Toni. Toni mengelak ke samping. Pukulan rentenir menemui ruang kosong. Toni mengambil vas dari tanah liat di dekat meja tempat ia berdiri dan melemparkannya tepat ke kening si rentenir. Darah mengalir. Lelaki tua itu jatuh berdebam di lantai. Toni membebaskan Lastri dan anaknya. Tak berapa lama kemudian, Parman sudah terbaring di puskesmas. Ia masih
pingsan.


“Mas, Mas Parman..”, bisik
Lastri di dekat Parman yang masih memejamkan matanya.

Widi berdiri di samping ibunya. Memandangi wajah Parman yang menyelamatkan mereka.

Tak berapa lama kemudian, mata Parman terbuka perlahan. Ia masih merasakan tengkuknya berdenyut nyeri.

Ia mencoba untuk duduk, namun ditahan Lastri.

“Istirahat dulu, Mas. Jangan terlalu dipaksakan”, bujuk Lastri.

“Maaf.. kan.. aku Lastri. Aku pergi tanpa pamit kepadamu.”, kata Parman terbata-bata.

“Sudahlah, Mas. Biarlah yang telah berlalu menjadi kenangan yang indah antara kita berdua.”

“Tidak… kau berhak tahu yang sebenarnya. Aku pergi mencari jati diriku. Mencari asal-usulku di kota.

Sayang.. Paman dan Bibiku telah tiada. Hanya hampa yang kutemukan. Akhirnya kuputuskan untuk mengumpulkan modal untuk kita berdua. Aku bekerja keras di sebuah perusahaan di kota, untuk kembali meminangmu, Lastri.”

“Tapi mengapa Mas tidak mengucapkan apapun? Setidaknya.. tulislah sebuah surat untukku”, isak Lastri perlahan.

“Ya, itulah kebodohan terbesar dalam hidupku. Kini aku harus hidup dengan penyesalan itu”, jawab Parman.

“Mas, ada satu hal yang ingin kuceritakan kepadamu..”, kata Lastri sambil mengusap lembut rambut Parman.

“Apa itu, Lastri? Katakanlah..”, tanya Parman penuh penasaran.

“Widi.. Widi adalah anakmu…”, jawab Lastri sambil menundukkan kepalanya.

Parman pun pingsan kembali.

Pamulang, 1 Juli 2006.
Diilhami dari sebuah kisah fiksi.

Kasmaran (2008)

Suara berisik jam weker membangunkan Toni tepat pukul lima pagi. Tubuhnya masih terasa pegal-pegal. Pekerjaan audit kemarin sangat melelahkannya. Ratusan lembar dokumen ia lahap dan dipelajari dengan penuh ketelitian. Pagi itu ia baru tidur selama tiga setengah jam, dan ia harus segera berangkat kembali ke kantornya di daerah Sudirman. Setelah mandi dan sholat subuh, ia mulai menyetrika pakaian kerja. Baju lengan panjang bermotif garis-garis kecil berwarna biru adalah favoritnya. Pagi itu ia menyeduh teh tarik instan dan memasak makanan instan yang dimasak dengan microwave. Setelah sarapan, tepat pukul enam ia menuju Stasiun Sudimara untuk naik kereta Sudirman Express dengan sebuah angkot berwarna putih.

“AC satu, Pak,” kata Toni sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan kepada penjaga loket.

Diambilnya kembalian tiket sebesar dua ribu perak.

“Koran Tempo, Boss?”. Seorang anak berusia 8 tahunan menjajakan koran edisi kereta api. Koran yang biasanya dijual dua ribu lima ratus perak, dibandrol cuma seribu. Toni mengambilnya satu dan menyerahkan selembar uang ribuan kepada anak kecil itu.

“Pak… sedekahnya… Pak..”. Seorang ibu berusia senja duduk di dekat peron jalur 2 mengharapkan belas kasihan orang-orang yang melewatinya. Toni tak kuasa melewati pengemis tua itu tanpa memberinya sedekah. Selembar uang ribuan yang tersisa dari pembelian tiket ia berikan kepada ibu tua tadi.

“Alhamdulillah…. makasih Pak… Banyak rezekinya ya Pak…,” kata sang pengemis sambil menangkupkan kedua tangannya.

“Aamiiin..”. Toni tersenyum sedikit lalu melangkah untuk mengambil sebuah sudut di jalur dua. Orang-orang telah berdiri menunggu kereta tiba. Ada yang mendengarkan iPod, ada yang membaca koran, ada yang bersenda gurau dengan teman-temannya, dan ada yang terkantuk-kantuk duduk di kursi tunggu yang sempit itu.Toni mulai membentangkan koran yang baru dibelinya. Matanya menyapu headlines, mencari-cari sensasi berita pagi itu. Beritanya masih seputar perselisihan rumah tangga Halimah dan Bambang. Ia merasa bosan dengan berita semacam itu. Ketika halaman dua ia buka, terdengar suara dari pengeras suara.

“Perhatian-perhatian! Jalur dua segera masuk kereta Sudirman Express. Kepada yang belum membeli tiket harap segera membelinya di loket. Pedagang asongan mohon tidak menghalangi jalan para penumpang. Hati-hati dengan barang bawaan Anda, jangan sampai tertinggal di kereta. Selamat pagi dan selamat beraktivitas.”

Setelah kereta berhenti, Toni melipat korannya dan melangkah masuk ke gerbong ketiga. Ia memilih duduk dekat pintu. Pandangannya menyapu isi gerbong yang ia naiki. Ada lelaki yang asyik berSMS dengan dopodnya, ada yang tidur sambil mendengarkan musik, namun kebanyakan membaca koran. Toni melanjutkan penjelajahan matanya ke samping kanan. Matanya terhenti pada seorang wanita cantik yang duduk di arah jam dua. Wanita itu berusia sekitar dua puluh limaan, dengan kulit putih dan hidung agak mancung. Ia tengah mendengarkan lagu melalui earphone yang ia kenakan. Handphonenya Nokia N70. Toni juga melirik jam tangan yang dikenakan wanita itu. Tampak elegan. Make upnya tidak terlalu kentara, namun wajahnya sangat khas bukan wajah asli Indonesia. Ada sedikit blush on meronakan pipinya. Ia menduga wanita itu ada darah Pakistan atau Arab. Ia tak yakin sepenuhnya. Satu hal yang pasti, wajahnya cantik sekali.

“Damn.. beautiful!” bisiknya dalam hati, lalu ia mencoba membuka kembali korannya. Hampir setiap ia berganti halaman, koran yang ia pegang ia rendahkan agar wajah manis itu kembali dilihatnya. Sesekali mata mereka beradu, dan dengan cepat Toni segera kembali membaca korannya dengan malu. Di usianya yang ke dua puluh sembilan ini, Tony sedang mengalami apa yang disebut dengan vacuum of love, alias kekosongan cinta. Dia pernah jatuh cinta dengan tiga wanita, namun semuanya kandas di tengah jalan karena perbedaan prinsip. Well, it has been a year since love left him. Dan entah kenapa ia rindu pada perasaan yang dulu. Sudah waktunya ia menikah. Dan setiap kali ia melihat wanita yang memberikan sedikit chemistry, harapannya untuk menutup kegagalan sebelumnya muncul kembali. Ia teringat pada salah seorang sahabatnya, Wisnu. Wisnu bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta, tidak jauh dari tempat Toni bekerja.

“Ton, betah amat sih lo ngejomblo?”, tanya Wisnu suatu saat di salah satu gerbong Sudirman Express.

“Betah? Siapa juga yang betah, Wis? Gue juga lagi usaha. Belum sukses aja.”

“Makanya jangan terlalu sempurna kriteria elo. Manusia itu gak ada yang sempurna, Ton!”

“Emangnya gue ngrasa malekat, apa? Ya nggak lah, Wis. Kriteria gue biasa aja. Seperti sebagian besar lelaki normal. Yang gue lihat pertama kali adalah fisik. Gue gak mau muna. Pertama dia mesti tipe gue banget. Kedua, setelah kenal dekat, gue jajaki lebih dalam kepribadiannya.”

“Mobil pribadi, rumah pribadi?” potong Wisnu sambil nyengir kuda. Padahal kuda saja mungkin tersinggung dimirip-miripkan sama Wisnu.

“Ya.. gue sih kagak nolak, kalau mertua gue emang tajir. Habis gue mesti gimana? Nolak cinta cewek gue? Kan gak mungkin, Wis? Gue mesti belajar menerima dia apa adanya. Kalau emang tajir, ya gue terima. Kalau miskin, ya gue pikir-pikir..”

“Anjrit! Matre lo ternyata!”

Berhentinya kereta di Stasiun Dukuh Atas membuyarkan lamunan Toni. Ia segera keluar dari kereta dan berjalan tepat di depan wanita cantik yang tadi duduk di depannya. Begitu sebuah metromini menjemputnya, ia segera naik dan diikuti wanita itu, yang kita sebut saja, Jane Doe. Rupanya Jane juga naik ke dalam metromini tersebut. Tiba-tiba punggung Toni merasa terdorong. Jane tersandung tangga naik dan tubuhnya terhuyung ke punggung Toni. Dengan sigap Toni menangkap kedua tangan Jane lalu menjaganya sesaat agar seimbang. Jane merasa sangat malu dengan kejadian itu dan meminta maaf.

“Maaf, saya tidak sengaja”.

“Ah tidak apa-apa”. Toni mencoba tersenyum.

Si Jane turun di halte Gedung BCA sedangkan Toni di dekat Wisma Metropolitan. Ia masih menyimpan wajah manis Jane, dan ia tidak berencana menghapusnya cepat-cepat dari kepalanya. Tepat jam lima sore, Toni mengemasi laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas punggungnya yang berwarna hitam.

“San, gue duluan ya!” pamit Toni kepada resepsionis di kantornya, Santi.

 “TT DJ, Pak. Dedi Dores,” jawab Santi.
 “Dedi Dores? Apaan tuh? Kalau TT DJ kan ati-ati di jalan. Lah Dedi Dores?” tanya Toni.
 “Dengan diiringi doa restu, Pak. Hihihi..” jawab Santi sambil cekikan.

“Oooo… kamu ada-ada saja..,” kata Toni sambil garuk-garuk kepala. Emang gatel sih, soalnya Toni memang agak jarang keramas.

 “Rhoma Irama, Pak!” sahut Santi lagi.
 “Hah? Apa lagi, tuh?” tanya Toni.
 “Penyanyi dangdut! Xixixi..” Santi tambah bahagia bisa meng-KO Toni.

“Sial! Ya udah.. pamit dulu! Assalamu ‘alaikum!” pamit Toni sambil menahan rasa malu dan rasa gelinya.

“Wa’alaikum salam. Jangan sewot, ya Pak!” kata Santi.

Toni menyeberang melalui jembatan penyeberangan dan menunggu bis yang bisa membawanya ke Stasiun Dukuh Atas. Ia melirik jam tangannya, 5 lewat 12. Tidak berapa lama kemudian ia telah turun di jembatan Dukuh Atas dan berjalan menuju ke loket stasiun. Setelah mengantongi karcis ia berjalan menuju peron di dekat penjual Pempek. Terdengar suara pengumuman dari bagian informasi.

“Kereta AC jurusan Serpong, Sudimara, dan Pondok Ranji, jam keberangkatan 17:31, keretanya masih berada di Pasar Minggu menuju Manggarai.”

Terdengar keluhan dari beberapa calon penumpang. Entah sampai kapan nasib perkeretaapian kita menjadi lebih baik. Tidak seperti di Jepang yang lewat 1 menit saja sudah merupakan dosa besar.

Toni mendengar perutnya berkeruyuk minta diisi. Ia menoleh ke belakang, dan memesan 1 porsi pempek.

“Kapal selam dong Mbak. Jangan pedes,” pinta Toni.

“Pakai mie nggak, Pak?” tanya sang penjual.

“Emm.. nggak usah deh. Tapi pake ebi.”

Tidak berapa lama kemudian kapal selam itu telah memenuhi lambung Toni. Ia memesan teh botol sosro dingin dan langsung menyedotnya. Ia ingat pesan komersial di TV, “Apapun makanannya, minumannya Teh Botol Sosro”.

Sambil menunggu kereta datang, pandangannya menyapu isi peron. Calon penumpang ada yang berdiri, memilih dvd bajakan, mengobrol, merokok sambil membaca koran, dan ada pula yang duduk setia menunggu datangnya kereta.

“Kereta Sudirman Express masuk jalur satu, penumpang harap mempersiapkan diri. Pedagang asongan harap memberi jalan, jangan menghalangi calon penumpang,” terdengar pengumuman dari pengeras suara stasiun.

Toni memasuki gerbong dengan agak berebut. Untunglah ia masih bisa mendapatkan tempat duduk. Ia mulai mengeluarkan koran yang tadi pagi ia beli. Betapa terkejutnya ia, ternyata Jane berdiri tepat di depannya sambil memegang tiang kereta di dekatnya. Toni bergegas berdiri dan mempersilakan Jane untuk duduk.

“Silakan duduk, Mbak,” kata Toni sambil berdiri.

“Terima kasih, Mas,” jawab Si Jane tersenyum dan duduk di tempat duduk Toni.

Toni berdiri dan meletakkan tas punggungnya di bagasi atas. Ia tidak menyangka kalau sore ini ia akan berada di gerbong yang sama dengan bidadari yang ia jumpai tadi pagi.

“Memang kalau sudah rezeki, tidak kemana,” kata Toni dalam hatinya.

“Mbak turun di mana?”

“Sudah punya pacar atau belum?”

“Mau nggak jadi pacar saya?” tanya Toni kepada Jane. Tentu saja dalam khayalannya. Mana mungkin Toni seberani itu. Ia tidak punya nyali, bahkan untuk menanyakan di stasiun mana Jane akan turun. Hingga mereka berdua turun di Stasiun Sudimara, tak ada percakapan yang Toni sangat harapkan. Keduanya membisu. Jane asyik mengetik SMS ketika duduk di kereta tadi, sedangkan Toni, seperti tadi pagi, mencuri pandang kepada Si Jane setiap lima menit.

Di rumah, selepas Isya, Toni berbaring di atas tempat tidurnya dan memandang langit-langit. Wajah Jane bertebaran di mana-mana. Di bantalnya, guling, korden, tembok, semuanya seolah-olah tertempel wajah Jane. Senyumnya. Wajahnya. Semuanya membuatnya ia susah tidur. Pikirannya sibuk mencari cara agar ia bisa berkomunikasi dengan Jane. Namun tak ada satupun ide yang muncul di kepalanya. Akhirnya ia mendapatkan sebuah ide gila. Ia akan memberikan sebuah surat dalam amplop tertutup dan akan ia serahkan sebelum mereka berpisah di pagi hari atau ketika pulang dari kantor. Ia akan mencoba memperkenalkan dirinya melalui surat itu. Ia tidak peduli kalau Jane langsung membuang surat itu atau membacanya dan tidak menghiraukannya. Setidaknya ia telah berusaha!

Wait wait wait… Gila apa? Menyerahkan surat secara langsung? Iya kalau diterima. Kalau nggak? Tengsin banget nih. Hmm… Toni terus berpikir dan berpikir.

“Harus aku masukkan secara diam-diam ke tas besarnya dari belakang atau pas dia duduk!” batin Toni. “Yes!! Pasti dia akan membaca suratku, tanpa aku beresiko ketahuan,” pikir Toni sambil mulai memejamkan matanya. Toni akhirnya terlelap dengan amplop putih di perutnya.

Percobaan hari pertama. Toni kesiangan. Ia naik kereta kedua. Jane sudah berangkat.

Percobaan hari kedua. Satu gerbong dengan Jane, tetapi Amplop ketinggalan.

Percobaan hari ketiga. Kereta ditiadakan. Banjir di Kampung Bandan. Toni naik bus dari Ciputat. Jane? Meneketehe.

Percobaan hari keempat. Amplop terbawa angin, jatuh di bawah peron. It was so close.

Percobaan hari kelima. Jane tidak muncul. Mungkin cuti, mungkin sakit. Dunno. Mbuh, ra’ ngerti.

Percobaan hari keenam. Toni kehilangan nyali. Toni mulai ragu dengan rencananya.

Percobaan hari ketujuh. Jane tidak membawa tas sama sekali. Toni putus asa. Ia tidak mengira rencananya akan gatot, gagal total. Padahal tadi pagi ia melangkah bak Gatotkaca yang gagah perkasa, otot kawat tulang beton. Sekarang ia merasa sendi-sendinya seperti krupuk kena kuah.

Di kantornya, Toni gelisah. Bukan geli-geli basah. Kalau itu digelitikin sambil diguyur air. Ia terus memikirkan Jane Doenya. The angel. The masterpiece. The beauty. Is this love? Or is this lust? Duh Gusti, what happen to me, aya naon?

“Ton, meeting bentar yuk. Di ruang rapat besar. Ada tamu dari PT. Effection, mau membicarakan tentang pengembangan aplikasi Akuntansi di tempat kita.” ajak Ridwan, boss Toni.

“Baik, Pak. Saya ke toilet sebentar.”

Toni membasuh wajahnya dengan air. Ia mencoba menghilangkan eskpresi wajahnya yang bete karena memikirkan Jane Doe. Tidak berapa lama kemudian Toni memasuki ruangan meeting. Tempatnya sangat cozy. Meja berbentuk persegi empat dari kayu jati, whiteboard, LCD proyektor, dan beberapa lukisan Basuki Abdullah mengisi ruangan meeting itu.

“Pak Andi, Bu Riska, kenalkan ini Toni, yang akan menemani Bapak dan Ibu dalam membahas aplikasi Akuntansi yang akan kita kembangkan,” kata Ridwan, “Toni, ini Pak Andi dan Bu Riska dari PT. Effection.”

“Andi.”

“Toni.”

“Riska.”

“… ee.. Toni,” jawab Toni gelagapan. Ia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Jane Doe adalah Riska. Riska adalah Jane Doe.

“Ibu Riska yang sering naik kereta dari Sudimara, ya?” tanya Toni berbasa-basi. Basi deh.

“I. Iya.. Pak Toni juga naik kereta, ya?” Riska balik bertanya.

“Loh.. sudah saling kenal rupanya?” Ridwan meningkahi mereka.

“Oh nggak, Pak. Kebetulan hampir setiap hari kami satu kereta.” jelas Toni.

“Wah bagus sekali kalau begitu. Bisa diskusi setiap hari dong? Pagi, Siang dan Sore?” goda Pak Andi.

“Ah Pak Andi bisa saja,” kata Jane Doe eh Riska malu-mau.

“Bisa-bisa pekerjaan kita jadi cepat selesai.” kata Ridwan sambil menepuk bahu Toni.

Tiga bulan berlalu. Riska dan Toni menjadi dekat satu sama lain. Kini Toni punya alasan untuk bercakap-cakap dengan pujaan hatinya. Mereka selalu berdua, pagi dan sore di stasiun kereta. Penjual kacang dan siomay menjadi saksi kedekatan mereka. Hingga akhirnya mereka menikah satu tahun berikutnya. Riska menjadi Ibu Rumah Tangga, berhenti dari pekerjaannya, sedangkan Toni tetap bekerja. The same company, the same transportation.

Suatu pagi, dua tahun kemudian, Toni melihat seorang wanita, duduk di arah jam tiga dari tempat duduknya. Wanita itu berusia sekitar dua puluh limaan, dengan kulit putih dan hidung agak mancung. Ia tengah mendengarkan lagu melalui earphone yang ia kenakan. Handphonenya Nokia, serinya tidak ia kenali. Toni juga melirik jam tangan yang dikenakan wanita itu. Tampak elegan. Make upnya tidak terlalu kentara, namun wajahnya sangat khas wajah asli Indonesia. Ada sedikit blush on meronakan pipinya. Ia menduga wanita itu berdarah Sunda atau Jawa. Ia tak yakin sepenuhnya. Satu hal yang pasti, wajahnya cantik sekali.

Malamnya, Toni tertidur dengan amplop putih berisi surat, ia taruh di bawah bantalnya.
Pamulang, Januari 2008.

Santiku Sayang Santiku Pulang (2011)

Santi menyuapkan potongan siomaynya yang terakhir ke dalam mulutnya. Ia ambil selembar tisu di depannya dan menyeka ujung mulutnya. Aku masih tak menyentuh piringku dari tadi. Kupandangi wajahnya yang cantik. Lama sekali.

“Mas, kita harus mengakhiri hubungan kita”, Santi memecah kebisuan di antara kami.

“Santi.. Apa tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku? Aku tahu aku telah menyakiti hatimu. Tapi setelah hubungan kita selama ini, tidakkah kau mau memaafkanku sepenuhnya?”, pintaku sayu sambil menatap matanya.

“Sayangnya aku tak dapat memaafkanmu. Setidaknya untuk saat ini. Aku pamit. Selamat tinggal, Mas!”, Santi berdiri dari kursinya, menatap mataku sejenak, lalu pergi meninggalkanku keluar dari restoran favorit kami. Di sinilah kami bertemu untuk pertama kalinya secara tak sengaja dan di sini pulalah aku kehilangan cintanya.

Satu tahun yang lalu sahabat dekatku, Budi, berulang tahun dan mengajakku dan teman kantornya makan di restoran ini. Santi, salah satu koleganya, mengenakan kaos pink, rambutnya dikuncir, dan mengenakan kacamata. Senyumnya, kawan, aah manis sekali. Ketika Budi memperkenalkan semua temannya termasuk Santi, hatiku berdegup kencang ketika menyalaminya. Aku duduk berseberangan dengannya dan bercakap-cakap untuk pertama kalinya.

Minggu depannya aku main ke rumahnya. Demikian juga malam minggu demi malam minggu berikutnya. Teman-teman kosku mulai protes karena aku tak lagi kluyuran bersama mereka. Jodi protes karena selama ini aku yang paling getol menemaninya menonton film-film di bioskop, kini aku selalu mengajak Santi nomat sepulang kantor. Randy yang biasa kuajak hunting foto untuk melampiaskan hobi fotografi kami, tak lagi pernah kuajak. Akhirnya dia mencari partner lain untuk berburu objek foto. Aku sendiri punya objek baru. Setiap aku dan Santi pergi jalan-jalan aku menjadikannya sebagai objek foto. Wajahnya yang fotogenic, membuatku tergila-gila mengolah Canon kesayanganku untuk mengabadikan kecantikannya. Tak perlu banyak sentuhan olah digital, fotonya selalu dipuji di account facebookku.

Hal yang kusuka darinya selain kecantikan lahiriahnya adalah kebaikan hatinya. Ia aktif dalam kegiatan sosial. Dari palang merah, bakti sosial ke panti jompo dan panti asuhan, hingga menyelenggarakan kegiatan untuk mencerdaskan anak-anak tak bersekolah dengan mengajarkan berbagai hal dasar untuk bekal di masa depan. Aku sering menemani kegiatannya sambil menjadi seksi dokumentasi untuk acara yang ia ikuti. Jadi aku bisa mengasah kemampuan fotografiku sambil tetap dekat bersamanya. Mengabadikan senyumnya dalam bentuk digital yang tersimpan rapi dalam kartu memoriku.

Aku begitu mencintainya sehingga perpisahan di restoran favorit kami menghancurkan diriku. Memang kuakui aku salah, kawan. Tapi semua orang pasti pernah berbuat salah. Aku kedapatan menonton film bersama mantan pacarku, Windi. Aku tak sengaja bertemu Windi dalam sebuah acara, dan kenangan indah kami bersemi kembali. Aku mencoba menjelaskan padanya bahwa aku hanya menemaninya menonton film, tidak lebih.

Ribuan sms kukirimkan tanpa dibalas. Telpon selalu diputuskan. Ia tak lagi mau menemuiku. Aku dihapus dari daftar kontaknya. Yahoo accountnya tak pernah aktif. Sepertinya ia mengatur agar aku tak lagi bisa melihatnya online. Aku hanya bisa tahu dia keluar dari Yahoo tanpa aku bisa sempat berbincang-bincang dengannya. Semua pesanku di YMnya hanya menjadi pesan offline tak terbalas.

Aku mulai murung. Tak bergairah lagi pergi dari kamar kosku. Semua ajakan teman-temanku aku tolak. Aku menyalahkan diriku sendiri atas kebodohanku. Tidak seharusnya aku mengkhianati kepercayaan Santi padaku. Dua bulan lamanya aku tak dapat menghubunginya. Kupasang semua fotonya yang kucetak di tembok di belakang laptopku untuk membunuh rindu dalam dada ini. Coba kawan, bila hal ini memimpamu, apa lagi yang bisa kau lakukan?

Siang itu matahari bersinar terik sekali. Kuambil jaket dan helm lalu kubawa motorku ke restoran kesukaan kami. Aku begitu rindu padanya, sehingga aku berharap jika aku makan di restoran itu, dan ia merasakan hal yang sama dan pergi ke sana, kami bisa bertemu untuk memulai kembali segalanya. Aku ingin dia tahu hidupku hancur tanpa dirinya, dan berjanji tak akan mengulangi kebodohan yang sama untuk kedua kalinya. Aku mampir ke sebuah toko bunga untuk membeli setangkai mawar peach kesukaannya juga sebatang coklat favoritnya, isi almond.

Di tikungan dekat restoran aku mendengar suara keras sekali. Sebuah truk menghantam sebuah motor hingga terpental. Aku melihat korbannya parah sekali. Digotong-gotong oleh beberapa orang. Semoga ia selamat, doaku dalam hati. Aku terus melanjutkan perjalananku ke restoran yang sudah dekat. Kuparkir motorku dekat tukang tahu bulat, lalu kumasuk dan memesan siomay. Menu favoritnya. 1 jam lebih aku di sana. Dia tak datang. Kubuka iPhoneku dan kulihati semua foto-fotonya. Kulihat jam, pintu masuk, fotonya, begitu terus hingga 3 jam. Akhirnya aku menyerah pulang.

Kulakukan hal ini setiap Sabtu sore. Sudah kulakukan selama 6 bulan, tanpa absen! Aku selalu duduk di meja yang sama pertama kali kami bertemu. Meja yang paling tersembunyi, jarang dipilih pengunjung, namun sangat kami sukai.

Sabtu sore ini aku sudah duduk di meja favorit kami. Sudah satu jam aku amati pintu masuk restoran itu. Tiba-tiba Santi masuk. Sendirian. YESSSSSSSSS!!!!!!!!!!!!!!! Kawan, keajaiban bersama orang yang sabar. Man shabara zhafira, kata orang Arab. Yang bersabar ia akan beruntung. Sabar subur, kata orang Jawa. Hmm.. Benar sekali. Ia menuju mejaku dan tersenyum manis sekali.

“Mas, aku kangen kamu”, katanya.

Ingin kupeluk dirinya. Aku tak dapat berkata-kata.

“Santi, maafkan aku. Aku pun rindu sekali padamu..”, kataku perlahan.

“Mas, aku juga salah. Aku terlalu marah kepadamu sehingga aku tak memedulikanmu untuk kembali padaku. Maukah kau juga memaafkanku dan kita kembali bersama? Selamanya?”, sambil ia tersenyum manis.

“Tentu saja sayang. Aku tak akan mengulang kebodohanku. Aku janji aku kan selalu bersamamu dan setia kepadamu”, kataku dengan yakin.

Beberapa hari kemudian, aku masuk ke kamar Jodi. Laptopnya terbuka, ia masih tidur. Iseng kubaca facebooknya. Ia menulis sesuatu di wallku.

Sob, kuharap kamu bahagia di sana bersama Santi. Selamanya.

Di bawahnya ada komentar Randy.

Jod, tragis banget ya? Setelah kecelakaan motor 8 bulan yang lalu, kini giliran Santi nyusul kena demam berdarah. Semoga mereka bersama kembali sekarang.

Aku tercekat. Kulihat tubuhku masih mengenakan jaket. Kuraba kepalaku, basah oleh darah. Lamat-lamat kudengar lagu mp3 kesukaanku dari laptop si Jodi. Lagu The Man Who Can’t Be Moved sedang dimainkan di Real Playernya.

..cause if one day you wake up and find that you’re missing me, and your heart starts to wonder where on this earth I could be, thinkin’ maybe you’ll come back here to the place that we’d meet, and you’d see me waiting for you on the corner of the street..
Serpong, akhir Februari 2011.