Kasmaran (2008)


Suara berisik jam weker membangunkan Toni tepat pukul lima pagi. Tubuhnya masih terasa pegal-pegal. Pekerjaan audit kemarin sangat melelahkannya. Ratusan lembar dokumen ia lahap dan dipelajari dengan penuh ketelitian. Pagi itu ia baru tidur selama tiga setengah jam, dan ia harus segera berangkat kembali ke kantornya di daerah Sudirman. Setelah mandi dan sholat subuh, ia mulai menyetrika pakaian kerja. Baju lengan panjang bermotif garis-garis kecil berwarna biru adalah favoritnya. Pagi itu ia menyeduh teh tarik instan dan memasak makanan instan yang dimasak dengan microwave. Setelah sarapan, tepat pukul enam ia menuju Stasiun Sudimara untuk naik kereta Sudirman Express dengan sebuah angkot berwarna putih.

“AC satu, Pak,” kata Toni sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan kepada penjaga loket.

Diambilnya kembalian tiket sebesar dua ribu perak.

“Koran Tempo, Boss?”. Seorang anak berusia 8 tahunan menjajakan koran edisi kereta api. Koran yang biasanya dijual dua ribu lima ratus perak, dibandrol cuma seribu. Toni mengambilnya satu dan menyerahkan selembar uang ribuan kepada anak kecil itu.

“Pak… sedekahnya… Pak..”. Seorang ibu berusia senja duduk di dekat peron jalur 2 mengharapkan belas kasihan orang-orang yang melewatinya. Toni tak kuasa melewati pengemis tua itu tanpa memberinya sedekah. Selembar uang ribuan yang tersisa dari pembelian tiket ia berikan kepada ibu tua tadi.

“Alhamdulillah…. makasih Pak… Banyak rezekinya ya Pak…,” kata sang pengemis sambil menangkupkan kedua tangannya.

“Aamiiin..”. Toni tersenyum sedikit lalu melangkah untuk mengambil sebuah sudut di jalur dua. Orang-orang telah berdiri menunggu kereta tiba. Ada yang mendengarkan iPod, ada yang membaca koran, ada yang bersenda gurau dengan teman-temannya, dan ada yang terkantuk-kantuk duduk di kursi tunggu yang sempit itu.Toni mulai membentangkan koran yang baru dibelinya. Matanya menyapu headlines, mencari-cari sensasi berita pagi itu. Beritanya masih seputar perselisihan rumah tangga Halimah dan Bambang. Ia merasa bosan dengan berita semacam itu. Ketika halaman dua ia buka, terdengar suara dari pengeras suara.

“Perhatian-perhatian! Jalur dua segera masuk kereta Sudirman Express. Kepada yang belum membeli tiket harap segera membelinya di loket. Pedagang asongan mohon tidak menghalangi jalan para penumpang. Hati-hati dengan barang bawaan Anda, jangan sampai tertinggal di kereta. Selamat pagi dan selamat beraktivitas.”

Setelah kereta berhenti, Toni melipat korannya dan melangkah masuk ke gerbong ketiga. Ia memilih duduk dekat pintu. Pandangannya menyapu isi gerbong yang ia naiki. Ada lelaki yang asyik berSMS dengan dopodnya, ada yang tidur sambil mendengarkan musik, namun kebanyakan membaca koran. Toni melanjutkan penjelajahan matanya ke samping kanan. Matanya terhenti pada seorang wanita cantik yang duduk di arah jam dua. Wanita itu berusia sekitar dua puluh limaan, dengan kulit putih dan hidung agak mancung. Ia tengah mendengarkan lagu melalui earphone yang ia kenakan. Handphonenya Nokia N70. Toni juga melirik jam tangan yang dikenakan wanita itu. Tampak elegan. Make upnya tidak terlalu kentara, namun wajahnya sangat khas bukan wajah asli Indonesia. Ada sedikit blush on meronakan pipinya. Ia menduga wanita itu ada darah Pakistan atau Arab. Ia tak yakin sepenuhnya. Satu hal yang pasti, wajahnya cantik sekali.

“Damn.. beautiful!” bisiknya dalam hati, lalu ia mencoba membuka kembali korannya. Hampir setiap ia berganti halaman, koran yang ia pegang ia rendahkan agar wajah manis itu kembali dilihatnya. Sesekali mata mereka beradu, dan dengan cepat Toni segera kembali membaca korannya dengan malu. Di usianya yang ke dua puluh sembilan ini, Tony sedang mengalami apa yang disebut dengan vacuum of love, alias kekosongan cinta. Dia pernah jatuh cinta dengan tiga wanita, namun semuanya kandas di tengah jalan karena perbedaan prinsip. Well, it has been a year since love left him. Dan entah kenapa ia rindu pada perasaan yang dulu. Sudah waktunya ia menikah. Dan setiap kali ia melihat wanita yang memberikan sedikit chemistry, harapannya untuk menutup kegagalan sebelumnya muncul kembali. Ia teringat pada salah seorang sahabatnya, Wisnu. Wisnu bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta, tidak jauh dari tempat Toni bekerja.

“Ton, betah amat sih lo ngejomblo?”, tanya Wisnu suatu saat di salah satu gerbong Sudirman Express.

“Betah? Siapa juga yang betah, Wis? Gue juga lagi usaha. Belum sukses aja.”

“Makanya jangan terlalu sempurna kriteria elo. Manusia itu gak ada yang sempurna, Ton!”

“Emangnya gue ngrasa malekat, apa? Ya nggak lah, Wis. Kriteria gue biasa aja. Seperti sebagian besar lelaki normal. Yang gue lihat pertama kali adalah fisik. Gue gak mau muna. Pertama dia mesti tipe gue banget. Kedua, setelah kenal dekat, gue jajaki lebih dalam kepribadiannya.”

“Mobil pribadi, rumah pribadi?” potong Wisnu sambil nyengir kuda. Padahal kuda saja mungkin tersinggung dimirip-miripkan sama Wisnu.

“Ya.. gue sih kagak nolak, kalau mertua gue emang tajir. Habis gue mesti gimana? Nolak cinta cewek gue? Kan gak mungkin, Wis? Gue mesti belajar menerima dia apa adanya. Kalau emang tajir, ya gue terima. Kalau miskin, ya gue pikir-pikir..”

“Anjrit! Matre lo ternyata!”

Berhentinya kereta di Stasiun Dukuh Atas membuyarkan lamunan Toni. Ia segera keluar dari kereta dan berjalan tepat di depan wanita cantik yang tadi duduk di depannya. Begitu sebuah metromini menjemputnya, ia segera naik dan diikuti wanita itu, yang kita sebut saja, Jane Doe. Rupanya Jane juga naik ke dalam metromini tersebut. Tiba-tiba punggung Toni merasa terdorong. Jane tersandung tangga naik dan tubuhnya terhuyung ke punggung Toni. Dengan sigap Toni menangkap kedua tangan Jane lalu menjaganya sesaat agar seimbang. Jane merasa sangat malu dengan kejadian itu dan meminta maaf.

“Maaf, saya tidak sengaja”.

“Ah tidak apa-apa”. Toni mencoba tersenyum.

Si Jane turun di halte Gedung BCA sedangkan Toni di dekat Wisma Metropolitan. Ia masih menyimpan wajah manis Jane, dan ia tidak berencana menghapusnya cepat-cepat dari kepalanya. Tepat jam lima sore, Toni mengemasi laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas punggungnya yang berwarna hitam.

“San, gue duluan ya!” pamit Toni kepada resepsionis di kantornya, Santi.

 “TT DJ, Pak. Dedi Dores,” jawab Santi.
 “Dedi Dores? Apaan tuh? Kalau TT DJ kan ati-ati di jalan. Lah Dedi Dores?” tanya Toni.
 “Dengan diiringi doa restu, Pak. Hihihi..” jawab Santi sambil cekikan.

“Oooo… kamu ada-ada saja..,” kata Toni sambil garuk-garuk kepala. Emang gatel sih, soalnya Toni memang agak jarang keramas.

 “Rhoma Irama, Pak!” sahut Santi lagi.
 “Hah? Apa lagi, tuh?” tanya Toni.
 “Penyanyi dangdut! Xixixi..” Santi tambah bahagia bisa meng-KO Toni.

“Sial! Ya udah.. pamit dulu! Assalamu ‘alaikum!” pamit Toni sambil menahan rasa malu dan rasa gelinya.

“Wa’alaikum salam. Jangan sewot, ya Pak!” kata Santi.

Toni menyeberang melalui jembatan penyeberangan dan menunggu bis yang bisa membawanya ke Stasiun Dukuh Atas. Ia melirik jam tangannya, 5 lewat 12. Tidak berapa lama kemudian ia telah turun di jembatan Dukuh Atas dan berjalan menuju ke loket stasiun. Setelah mengantongi karcis ia berjalan menuju peron di dekat penjual Pempek. Terdengar suara pengumuman dari bagian informasi.

“Kereta AC jurusan Serpong, Sudimara, dan Pondok Ranji, jam keberangkatan 17:31, keretanya masih berada di Pasar Minggu menuju Manggarai.”

Terdengar keluhan dari beberapa calon penumpang. Entah sampai kapan nasib perkeretaapian kita menjadi lebih baik. Tidak seperti di Jepang yang lewat 1 menit saja sudah merupakan dosa besar.

Toni mendengar perutnya berkeruyuk minta diisi. Ia menoleh ke belakang, dan memesan 1 porsi pempek.

“Kapal selam dong Mbak. Jangan pedes,” pinta Toni.

“Pakai mie nggak, Pak?” tanya sang penjual.

“Emm.. nggak usah deh. Tapi pake ebi.”

Tidak berapa lama kemudian kapal selam itu telah memenuhi lambung Toni. Ia memesan teh botol sosro dingin dan langsung menyedotnya. Ia ingat pesan komersial di TV, “Apapun makanannya, minumannya Teh Botol Sosro”.

Sambil menunggu kereta datang, pandangannya menyapu isi peron. Calon penumpang ada yang berdiri, memilih dvd bajakan, mengobrol, merokok sambil membaca koran, dan ada pula yang duduk setia menunggu datangnya kereta.

“Kereta Sudirman Express masuk jalur satu, penumpang harap mempersiapkan diri. Pedagang asongan harap memberi jalan, jangan menghalangi calon penumpang,” terdengar pengumuman dari pengeras suara stasiun.

Toni memasuki gerbong dengan agak berebut. Untunglah ia masih bisa mendapatkan tempat duduk. Ia mulai mengeluarkan koran yang tadi pagi ia beli. Betapa terkejutnya ia, ternyata Jane berdiri tepat di depannya sambil memegang tiang kereta di dekatnya. Toni bergegas berdiri dan mempersilakan Jane untuk duduk.

“Silakan duduk, Mbak,” kata Toni sambil berdiri.

“Terima kasih, Mas,” jawab Si Jane tersenyum dan duduk di tempat duduk Toni.

Toni berdiri dan meletakkan tas punggungnya di bagasi atas. Ia tidak menyangka kalau sore ini ia akan berada di gerbong yang sama dengan bidadari yang ia jumpai tadi pagi.

“Memang kalau sudah rezeki, tidak kemana,” kata Toni dalam hatinya.

“Mbak turun di mana?”

“Sudah punya pacar atau belum?”

“Mau nggak jadi pacar saya?” tanya Toni kepada Jane. Tentu saja dalam khayalannya. Mana mungkin Toni seberani itu. Ia tidak punya nyali, bahkan untuk menanyakan di stasiun mana Jane akan turun. Hingga mereka berdua turun di Stasiun Sudimara, tak ada percakapan yang Toni sangat harapkan. Keduanya membisu. Jane asyik mengetik SMS ketika duduk di kereta tadi, sedangkan Toni, seperti tadi pagi, mencuri pandang kepada Si Jane setiap lima menit.

Di rumah, selepas Isya, Toni berbaring di atas tempat tidurnya dan memandang langit-langit. Wajah Jane bertebaran di mana-mana. Di bantalnya, guling, korden, tembok, semuanya seolah-olah tertempel wajah Jane. Senyumnya. Wajahnya. Semuanya membuatnya ia susah tidur. Pikirannya sibuk mencari cara agar ia bisa berkomunikasi dengan Jane. Namun tak ada satupun ide yang muncul di kepalanya. Akhirnya ia mendapatkan sebuah ide gila. Ia akan memberikan sebuah surat dalam amplop tertutup dan akan ia serahkan sebelum mereka berpisah di pagi hari atau ketika pulang dari kantor. Ia akan mencoba memperkenalkan dirinya melalui surat itu. Ia tidak peduli kalau Jane langsung membuang surat itu atau membacanya dan tidak menghiraukannya. Setidaknya ia telah berusaha!

Wait wait wait… Gila apa? Menyerahkan surat secara langsung? Iya kalau diterima. Kalau nggak? Tengsin banget nih. Hmm… Toni terus berpikir dan berpikir.

“Harus aku masukkan secara diam-diam ke tas besarnya dari belakang atau pas dia duduk!” batin Toni. “Yes!! Pasti dia akan membaca suratku, tanpa aku beresiko ketahuan,” pikir Toni sambil mulai memejamkan matanya. Toni akhirnya terlelap dengan amplop putih di perutnya.

Percobaan hari pertama. Toni kesiangan. Ia naik kereta kedua. Jane sudah berangkat.

Percobaan hari kedua. Satu gerbong dengan Jane, tetapi Amplop ketinggalan.

Percobaan hari ketiga. Kereta ditiadakan. Banjir di Kampung Bandan. Toni naik bus dari Ciputat. Jane? Meneketehe.

Percobaan hari keempat. Amplop terbawa angin, jatuh di bawah peron. It was so close.

Percobaan hari kelima. Jane tidak muncul. Mungkin cuti, mungkin sakit. Dunno. Mbuh, ra’ ngerti.

Percobaan hari keenam. Toni kehilangan nyali. Toni mulai ragu dengan rencananya.

Percobaan hari ketujuh. Jane tidak membawa tas sama sekali. Toni putus asa. Ia tidak mengira rencananya akan gatot, gagal total. Padahal tadi pagi ia melangkah bak Gatotkaca yang gagah perkasa, otot kawat tulang beton. Sekarang ia merasa sendi-sendinya seperti krupuk kena kuah.

Di kantornya, Toni gelisah. Bukan geli-geli basah. Kalau itu digelitikin sambil diguyur air. Ia terus memikirkan Jane Doenya. The angel. The masterpiece. The beauty. Is this love? Or is this lust? Duh Gusti, what happen to me, aya naon?

“Ton, meeting bentar yuk. Di ruang rapat besar. Ada tamu dari PT. Effection, mau membicarakan tentang pengembangan aplikasi Akuntansi di tempat kita.” ajak Ridwan, boss Toni.

“Baik, Pak. Saya ke toilet sebentar.”

Toni membasuh wajahnya dengan air. Ia mencoba menghilangkan eskpresi wajahnya yang bete karena memikirkan Jane Doe. Tidak berapa lama kemudian Toni memasuki ruangan meeting. Tempatnya sangat cozy. Meja berbentuk persegi empat dari kayu jati, whiteboard, LCD proyektor, dan beberapa lukisan Basuki Abdullah mengisi ruangan meeting itu.

“Pak Andi, Bu Riska, kenalkan ini Toni, yang akan menemani Bapak dan Ibu dalam membahas aplikasi Akuntansi yang akan kita kembangkan,” kata Ridwan, “Toni, ini Pak Andi dan Bu Riska dari PT. Effection.”

“Andi.”

“Toni.”

“Riska.”

“… ee.. Toni,” jawab Toni gelagapan. Ia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Jane Doe adalah Riska. Riska adalah Jane Doe.

“Ibu Riska yang sering naik kereta dari Sudimara, ya?” tanya Toni berbasa-basi. Basi deh.

“I. Iya.. Pak Toni juga naik kereta, ya?” Riska balik bertanya.

“Loh.. sudah saling kenal rupanya?” Ridwan meningkahi mereka.

“Oh nggak, Pak. Kebetulan hampir setiap hari kami satu kereta.” jelas Toni.

“Wah bagus sekali kalau begitu. Bisa diskusi setiap hari dong? Pagi, Siang dan Sore?” goda Pak Andi.

“Ah Pak Andi bisa saja,” kata Jane Doe eh Riska malu-mau.

“Bisa-bisa pekerjaan kita jadi cepat selesai.” kata Ridwan sambil menepuk bahu Toni.

Tiga bulan berlalu. Riska dan Toni menjadi dekat satu sama lain. Kini Toni punya alasan untuk bercakap-cakap dengan pujaan hatinya. Mereka selalu berdua, pagi dan sore di stasiun kereta. Penjual kacang dan siomay menjadi saksi kedekatan mereka. Hingga akhirnya mereka menikah satu tahun berikutnya. Riska menjadi Ibu Rumah Tangga, berhenti dari pekerjaannya, sedangkan Toni tetap bekerja. The same company, the same transportation.

Suatu pagi, dua tahun kemudian, Toni melihat seorang wanita, duduk di arah jam tiga dari tempat duduknya. Wanita itu berusia sekitar dua puluh limaan, dengan kulit putih dan hidung agak mancung. Ia tengah mendengarkan lagu melalui earphone yang ia kenakan. Handphonenya Nokia, serinya tidak ia kenali. Toni juga melirik jam tangan yang dikenakan wanita itu. Tampak elegan. Make upnya tidak terlalu kentara, namun wajahnya sangat khas wajah asli Indonesia. Ada sedikit blush on meronakan pipinya. Ia menduga wanita itu berdarah Sunda atau Jawa. Ia tak yakin sepenuhnya. Satu hal yang pasti, wajahnya cantik sekali.

Malamnya, Toni tertidur dengan amplop putih berisi surat, ia taruh di bawah bantalnya.
Pamulang, Januari 2008.

Iklan

Posted on November 28, 2011, in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. endingnya yang bener-bener bikin shock..

  2. Maaf komentar di atas harusnya untuk posting “Kembalinya Mas Parman”. Saya buka dua Page tadi. 🙂

  3. Iya Pak itu komen buat Mas Parman.
    Kalau yang ini endingnya tidak bisa ditebak, tergantung orangnya. kalau nekat dan beruntung si, ya bisa dapet dua.. hehehe
    Tulisan Pak Wis bagus. kalau ada waktu bikin novel aja Pak.

  4. Hehehe.. cerpen itu terinspirasi dari film Superman Returns. Udah baca 2 cerpen saya yang lain? Kasih response juga ya.

    Untuk novel, butuh komitmen jangka panjang. But will think about it, yes, why not?
    Insya Allah Mir.

  5. hahaha.. ingat kisah nyata tmn saya, cinta dlm kereta.. dan 2 kali.. malah ampe nikah juga.. dua2nya!!

    klo di cerpen ini sih saya ga tau apa mksd tdr dg amplop lg.. bisa saja diserahkan ke Riska yg isinya memberitahu Riska hal yg pernah ingin dilakukannya thdp Riska namun gatot.. atau diserahkan ke wanita itu untuk sekadar uji “nyali”.. :p

    • Yupe.. Akhir cerita ini memang punya banyak ending alternatives. Semua dikembalikan ke pembaca masing-masing untuk mengakhiri ceritanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: