Category Archives: Kontemplasi

Berbuat Baiklah, Meski Pada Akhirnya Semua Orang Akan Menyesal

Saya punya teori. Boleh percaya boleh tidak. Tapi saya yakin semua orang akan menyesal. Terutama dalam kepercayaan yang saya anut sebagai seorang muslim. Loh kok? Semua orang? Bukannya yang jahat saja? Tidak. Yang baik juga.

regret

Ok kita kembali kepada Al Qur’an, Al An’am ayat 31.

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.

Coba kita lihat lagi di Al Fajr 15-26.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,

dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut,

dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.

Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”.

Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya.

dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.

Nah, di Surat Saba juga disebutkan di ayat 31-33.

Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya”. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”.

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”.

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Bagaimana dengan orang yang baik? Mari kita simak cerita salah satu sahabat Rasul berikut seperti yang ada di artikel islami tentang penyesalan ini.

Hari itu ada seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jika ada sahabat meninggal dunia, Rasulullah pasti menyempatkan diri mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, Rasulullah menyempatkan diri singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musbah itu. Begitupun terhadap keluarga sahabat yang satu ini.

Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”

Sang istri yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”

Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah lagi.

Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…. Andaikata yang masih baru… Andaikata semuanya….’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai….”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian agar tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan hanya istri almarhum saja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai. “Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya. Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan pahala amal shalihnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya adalah andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.”

Semua anggota keluarga itu sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran saja.

Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat Subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suaminya membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang tengah dikenakannya dan diberikan kepada si lelaki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”

“Kemudian, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” tanya sang istri lagi.

Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingkatkah engkau ketika pada suatu waktu suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberi hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda pula.’”

Sekarang, semua anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka ketika akan menjelang wafatnya. Kelapangan telah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk menolong dan memberi.

Nah, sekarang tinggal pilih. Penyesalan mana yang kita inginkan? Menyesal karena tidak berbuat baik sama sekali, ataukah menyesal karena kurang banyak berbuat baik?

Setiap kali kita akan memasukkan uang ke kotak masjid, mari kita bayangkan, akankah kita menyesal melewatkannya? Akankah kita menyesal hanya uang seribuan yang kita masukkan, sementara minuman kopi kita berkali-kali lipat?

Setiap kali kita ada teman yang kesusahan, akankah kita meminta maaf tidak dapat menolongnya, ataukah kita menyesal hanya sedikit yang kita bisa bantu?

Setiap kali adzan terdengar, akankah kita menyesal tidak datang memenuhi panggilanNya, ataukah kita menyesal terlambat datang, ataukah menyesal tidak sholat sunnah rawatib? Bayangkan ketika kita di alam kubur dan diperlihatkan pahala sholat kita, sementara sholat sunnah sering kita tinggalkan. Menyesalkah kita?

Setiap kali ada kesempatan untuk berbuat baik, akankah kita menyesal tidak melakukannya, ataukah menyesal kurang banyak yang bisa kita lakukan?

Tulisan ini ditujukan untuk diri sendiri, semoga tidak menyesal dalam kepedihan, namun menyesal dalam kebahagiaan.

Semoga ada manfaatnya.

Iklan

10 Tanda-tanda Kamu Keracunan Pokemon GO

Game PokemonGo sedang mewabah di seluruh dunia. Aplikasi yang sudah diinstal di lebih dari 5 persen seluruh device Android di Amerika hanya dalam waktu 3 hari sejak peluncurannya ini mulai mewabah ke Eropa. Bahkan Asia sebagai benua yang belum resmi diluncurkannya game ini, sudah menggila di mana-mana. Aplikasi installernya di Android mudah ditemukan di Internet. Para pengguna iOS menggunakan ID App Store di negara yang sudah meluncurkan dengan banyak cara kreatif. Konon di Asia Tenggara baru Indonesia yang gamenya jalan, lengkap dengan Pokestopnya. Negara jiran, Malaysia dan Singapur bisa memainkan game ini namun tanpa pokestop.

Terlepas dari kontroversi baik buruknya aplikasi PokemonGo bagi Anda, ada 10 tanda-tanda Anda mulai keracunan PokemonGo.

Inilah tanda-tandanya.

#1 – Kamu mulai merayu pasangan untuk mengenakan PokeBra

“Cin, malam ini pakailah bra hadiah dariku yang seksi ini…”

Caution: bisa dilempar PokeBall sama istri tercinta.

Img4

PokeBra

#2 – Pesan GoJek hanya untuk keliling Jakarta untuk mengunjungi PokeStop dan menangkap Pokemon. “Bang, ke Monas, tapi pelan-pelan aja ya Bang. Jangan kuatir nanti saya kasih tips”, rayuan pada Abang Gojeknya.

WhatsApp-Image-20160721

#3 – Sholat jama’ah di Masjid agar sekalian dapat free items dari PokeStop.

Luruskan niat woy.. Kalau gak main, tetaplah sholat jama’ah di masjid.

#4 – Di tempat parkir mal rela berdiri berjam-jam selama lure atau umpan Pokemon disebar di Pokestop.

 

pokemon

#5 – Jarang nge-Gym di fitness center lagi tapi malah ngadu Pokemon di Gym-gym

tarung

#6 – Yang biasanya mager, ngojeg ke stasiun, sekarang rajin jalan kaki. Semua itu demi telur pokemon bisa menetas…

egg

#7 – Jadi nambah frekuensi ke toilet karena nglewatin Pokestop yang sering dilure, padahal baru 5 menit yang lalu buang air kecil

Img6

#8 – Lebih milih foto bareng Pokemon ketimbang ama pasangan

dion

#9 – Apa-apa jadi keliatannya Pokemon. Padahal mirip doang.

rokuemon

#10 – Becandanya menjurus Pokemon. Padahal modus.

WhatsApp-Image-20160722 (1)

Nah, buat kamu yang mainin game ini, ayo ngaku berapa level tingkat keracunan kamu terhadap game ini? Hitung aja dari 10 gejala di atas ada berapa yang cocok. Jujur yaaa..

Buat kalian yang tidak tahu satu atau lebih istilah di atas menunjukkan kalau kalian berarti tidak keracunan game ini.

Share tingkat keracunan kalian di komentar yaaa…!

 

Ritual Lebaran ala Inyong de La Ortega

Setiap keluarga muslim memiliki tradisi lebaran yang berbeda-beda, namun tetap satu yang sama, yaitu merayakan pada tanggal 1 Syawal. Sebagai seorang Ortega alias Orang Tegal Asli, berikut inilah kebiasaan bertahun-tahun yang biasa saya dan keluarga lakukan.

Mudik hari kedua Lebaran. Dulu jamannya mudik naik kereta atau bis jaman kuliah atau belum punya kendaraan, saya biasa mudik seminggu sebelum lebaran. Tapi setelah membawa kendaraan sendiri dan merasakan macetnya mudik dua hingga tiga kali lipat durasi mudik normal, saya memilih lebaran hari pertama di Jakarta. Kebetulan saudara dari ayah banyak yang tinggal di Bekasi.

11154746_10205155531900681_6291920890372167557_o

Keluarga istri dari Ibu di Pondok Cabe. Jadi hari pertama setelah sholat Ied di kompleks perumahan (sekaligus jadi tukang foto DKM Masjid), kami bersilaturahim ke Pondok Cabe, Legoso (keluarga ayah mertua), dilanjutkan ke Bekasi. Capek memang, tapi puas kalau bisa menyambung silaturahim dari orang tua kami.

11018411_10205813970001222_2783941833899786137_n

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”

Nah setelah beres urusan silaturahim di hari pertama, baru hari kedua lebaran jalan ke Tegal. Secara statistik sepuluh tahun terakhir hari kedua lebaran ini jalanan sampai ke Tegal lancar jaya. Menurut saya mudik itu adalah silaturahim. Silaturahim tidak harus pada hari H, jika ternyata harus bermacet ria. Kita jadi berkontribusi pada pemborosan bahan bakar dan polusi udara. Belum kalau harus membatalkan puasa. Sulit untuk buang air kecil atau besar. Padahal pakaian kita harus bersih kalau mau sholat. Saya tidak menyalahkan mereka yang memilih bermacet ria demi mengejar momen hari pertama lebaran di kampung halaman. Mudik adalah pilihan. Menghindari macet adalah pilihan yang saya ambil untuk mudik lebaran.

Kuliner Lebaran

Lebaran tanpa ketupat sepertinya kurang afdhol. Baik di Jakarta maupun di Tegal ketupat selalu siap. Di Jakarta karena kami bukan keluarga tukang masak tapi tukang makan, jadinya ketupat dan aneka lauknya kita outsource. Istri sudah punya langganan di kantornya yang bisa membuat ketupat lembut dan sayur besan ala Betawi yang mirip lodeh dengan sayur terubuk.

Hayo siapa yang belum tahu terubuk? Ini gambarnya.

Screen Shot 2016-07-06 at 12.55.12 AM

Terubuk alias Saccharum edule Hasskarl

Tampilannya setelah dimasak adalah seperti ini:

terubuk

Asli, enak banget!

Nah, kalau di Tegal, ini yang biasa saya cicipi untuk melepas rindu.

Kupat Glabed

Screen Shot 2016-07-06 at 1.20.34 AM

Harganya murah dan nikmat! Ingin tahu resepnya? Coba tengok di sini. Yang saya suka tempatnya di depan Masjid Agung Tegal, khas Randugunting.

Sate Kambing Muda Balibul

Screen Shot 2016-07-06 at 1.25.36 AM

Balibul merupakan singkatan dari bawah lima bulan. Artinya kambing muda, yang berarti dagingnya super empuk. Langganan saya biasanya di Pasar Senggol Pak Gendhut, Tirus, Sari Mendho, atau di Lebaksiu. Gulai kambingnya juga uenak tenan. Dinikmati sambil nyuruput teh poci gula batu.

Apa lagi?

1. Sate ayam Farad Sidjan. Lokasi di depan Stasiun Tegal
2. Warung Makan Moro Tresno di Pasar Senggol, dekat Alun-alun / Masjid Agung Tegal (ada sauto – soto pakai  tauco, nasi lengko, nasi gule, sop buntut, dan asem-asem, dan sate kambing –> One stop shopping, cocok kalau sebentar di Tegal. Satu warung banyak pilihan kuliner)
3. Kupat Glabed, yang enak ada di dekat Masjid Agung atau di dekat Sate Ayam Farad Sidjan, di depan Stasiun Tegal, atau di Randu Gunting
4. Sauto Amir, di daerah Tegal Wangi, Kab. Tegal
5. Es Sagwan, di Jalan AR Hakim

Oleh-oleh Khas Tegal

Apa saja sih oleh-oleh khas Tegal?

-Laktopia, mirip bakpia, cari di Jalan Veteran, atau daerah Paweden
-Kacang bogares dan pilus
-Krupuk anthor
-Telur asin (nggak cuma Brebes yang punya telor asin)
-Bawang merah ukuran besar (di Guci)
-Tahu Aci

Tempat Wisata di Tegal

Langganan saya adalah Guciku di Pemandian Air Panas Guci di Kabupaten Tegal dan Pantai Alam Indah di Kota Tegal.

Screen Shot 2016-07-06 at 1.37.56 AM

8-pai

Pantai Alam Indah

Nah, mumpung Lebaran, izinkan saya mengucapkan:

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1437H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Kalau kamu sendiri ritual lebarannya ngapain aja?

Kondangan Tanpa Mempelai

Beberapa menit yang lalu, setelah membayar seporsi sate padang Ajo Ramon di depan Pasar Santa, saya memesan GO-JEK untuk membawa saya ke Stasiun Palmerah. Saya lirik foto pengemudinya di aplikasi, sebut saja Tono, berbadan cukup gempal dan berewokan. Mirip Syeh Puji. 

Telepon genggam saya tidak lama kemudian berdering dengan ring tone Mission Impossible edisi Banana Minion.

“Pak, saya sudah di Pasar Santa”, katanya.

“Saya di depan Sate Padang Ajo Ramon, Mas. Ke sini ya!”, jawab saya.

Tak lama kemudian ia muncul tanpa mengenakan jaket kebesaran Gojek yang berwarna hijau itu. Tanp disangka wajahnya tidak mirip dengan yang ada di foto dan tubuhnya jauh lebih kecil. 

“Loh, kok beda dengan di foto Mas?”, tanya saya.

“Saya anaknya Pak Tono, Pak.”

“Loh.. Bapaknya ke mana?”

“Beliau sakit Pak. Demam karena kehujanan dan biasanya ambil sewa malam. Saya menggantikan beliau.”

Entah kenap di titik itu saya tidak melihat seseorang melanggar aturan perusahaan Gojek. Saya yakin manajemen Gojek tidak akan mengizinkan ID pengemudi digunakan oleh orang lain, meski itu anak kandungnya. Jika ada masalah, reputasi Gojek dipertaruhkan oleh orang yang mungkin tidak layak menjadi pengemudi Gojek karena untuk menjadi pengemudi atas nama perusahaan besar seperti ini pasti ada pelatihan dan syaratnya. Saya bisa menolak order kali ini dan bisa mengancam untuk melaporkannya kepada pihak manajemen Gojek. Entah kenapa nurani saya melihatnya sebagai seorang anak yang berbakti dan mencoba menyambung hidup untuk sedikit membantu dapur ibunya dan membeli obat untuk ayahnya. Saya teringat diri saya waktu SMA dulu. Mulai bekerja mencari uang tambahan buat kos dan makan dengan memberikan les kepada anak SD. Kuliah dulu nyambi ngajar Visual Basic di Nurul Fikri Mampang, dekat si pengemudi ini tinggal.

“Pak, saya tidak tahu jalan ke sana”

“Sudah gak papa. Kita pakai Waze saja.”

“Bisa ya, Pak?”

“Iya..saya juga tidak terlalu hapal.”

Suara Septi dalam Bahasa Indonesia mulai cerewet memberi tahu kapan mesti belok kanan dan kiri. 

Tiba-tiba di lampu merah depan Bundaran Senayan seorang polisi menghentikan kami. 

“Mas, ini jalur cepat. Harusnya ambil sebelah kiri di jalur lambat. Parkir dulu motornya di depan lalu masuk ke kantor dulu”, kata Polisi tadi.

Saya menunggui motor sementara anak itu masuk pos. Beberapa waktu kemudian dia muncul.

“Ditilang, Mas?”, tanya saya penuh selidik.

“Nggak Pak. Kondangan saja”.

Oh ini toh istilah lain dari salam tempel atau damai itu indah.. Kondangan tapi tanpa mempelai.

“Kena berapa?”, tanya saya.

“Tadinya dia sebutkan semua pasal pelanggaran saya Pak. Lalu dia bilang bayar saya seratus ribu, nanti dibantu. Saya keluarkan dompet saya, dan saya bilang kalau baru keluar, dan cuma ada 35 ribu rupiah. Saya gak percaya semuanya diambil Pak. Saya minta maaf ya Pak. Karena saya gak tahu jalan Bapak jadi terhambat seperti ini”, katanya dengan penuh hormat dan penyesalan.

Dinamika ibukota. Semua butuh uang. Ada yang berusaha dengan cara membantu orang lain, dan ada juga yang menyusahkan orang lain. Semua akan mendapatkan balasannya.

Diam-diam saya kagum kepadanya. Tidak ada umpatan. Tidak ada makian. Tetap berusaha melayani saya sebaik mungkin. Kami pun melanjutkan perjalanan. Mbak Septi kembali memberikan navigasi. Seandainya dia tahu masalah ini, dia mungkin akan minta maaf memberikan kami petunjuk untuk mobil, bukan untuk motor. Kami memaafkanmu, Septi. It is Ok.

Sesampainya di Stasiun Palmerah dia berkata dengan senyumnya, “Jadi 12 ribu rupiah Pak!”

Saya berikan uang 50 ribu rupiah, “Mas, kembalinya ambil untuk tips.”

Dia menolak, “Jangan, Pak! Tidak usah, ini salah saya”.

“Ambillah, Mas. Tidak apa-apa. Salam saja untuk Bapak, bilang semoga cepat sembuh.”

Dia begitu berterima kasih dan mendoakan saya untuk berhati-hati saat melangkahkan kaki menuju tangga stasiun.

Saya teringat QS Al Fatir ayat 2 yang tadi pagi dibahas di salah satu group WA saya.

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ketika langkah kaki saya menaiki anak tangga, saya doakan ia menjadi anak sholeh yang berbakti kepada orangtuanya sembari memberikan bintang 5 kepada Pak Tono dengan pesan : Semoga cepat sembuh, ya Pak.

  

Tak Kan Pernah Sama

Pengajian Ustad Nuzul Dzikri.

Apakah sama orang yang berilmu dengan orang tak berilmu? Tak akan pernah sama..

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar : 9)

Sudah fitrah manusia melakukan sesuatu yang menguntungkan buat kita. Termasuk ketika kita mengaji, kita beribadah, kalau tahu itu menguntungkan, pasti akan kita lakukan. Dan tahu tidaknya menguntungkan itu karena kita menuntut ilmu.

Sudah fitrah manusia jika ingin pergi ke suatu tempat yang kita ingini kita ingin segera sampai. Jika kita semua ingin ke surga sudah tentu kita akan menyiapkan segala sesuatunya untuk segera ke sana.

Jika seseorang jatuh cinta kepada orang lain, maka jika orang yang ia cintai mengirimkan surat, sudah fitrahnya kita akan segera buka surat cinta itu. Allah SWT telah mengirimkan surat cintanya berupa Kitab Al Quran, Ar Rahmah. Cintakah kita pada Allah? Sudahkah kita baca surat cinta dari Allah? Sudahkah kita paham maknanya? Jika kita nggak ngerti, sudahkah kita bertanya kepada yang ngerti? Cintakah kita pada Allah SWT? Sudah hapalkah   Asmaul Husna? Sudah berapa tahun kita menjadi hamba Allah? Padahal siapa yang menghapal keseluruhan 99 nama Allah dan mengerti makna dan mengimplementasikan konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari akan dijamin masuk surga. Sudah berapa lama jadi umat Rasul? Apa makanan kesukaan beliau? Katanya cinta? Kok gak kepo?

Kita bisa bilang kita cinta pada Allah SWT namun cinta butuh bukti. Jangan sampai mulut kita berkata cinta namun didustakan Allah di hadapanNya kelak.

Salah satu tolak ukur kecintaan kita pada Allah SWT adalah seberapa dekat kita dengan Al Quran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Al Mujadilah : 11

Sudah berapa banyak persiapan kita belajar untuk akherat kita? Apakah cuma mengandalkan khutbah Jum’at? Apakah cuma Youtube sekali-sekali? Kalau untuk sukses di dunia belajar 6 tahun ilmu dunia saja susah sekali, bagaimana untuk ilmu akherat yang lamanya tak terhingga?

Dari Abu Umama, Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa pergi ke masjid dan ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya maka pahala baginya adalah seperti orang yang naik haji yang sempurna hajinya.”

Pertanyaan: bolehkan seorang ustazah mengambil kuliah sampai s3 dan memberikan tauziah ilmu agama dengan menelantarkan suami dan anaknya meski suaminya ridho?

Jawab:

Islam agama yang proporsional. Prioritaskan yang fardhu ‘ain ketimbang yang fardhu kifayah. Pendidikan Anak jangan diserahkan sepenuhnya kepada pondokan atau pesantren saja atau apalagi kepada pembantu. Ibu rumah tangga adalah pemimpin bagi anak dan urusan rumah tangga yang nanti akan ditanya oleh Allah SWT mengenai tanggungjawabnya. Urusan pesantren harus melihat kesiapan anak. Jangan pukul rata kepada semua anak karena belum tentu si anak ridho. Bahkan bisa merasa dibuang.. Kalau cocok silakan namun harus dikomunikasikan dengan anak, jangan korbankan anak karena obsesi orang tua.

Weekly Photo Challenge: Trio

Trio

Trio Seashells

A seashell or sea shell, also known simply as a shell, is a hard, protective outer layer created by an animal that lives in the sea. The shell is part of the body of the animal. Empty seashells are often found washed up on beaches by beachcombers. The shells are empty because the animal has died and the soft parts have been eaten by another animal or have rotted out or change a new home, perhaps?

Those shells are located inside my table in the living room as accessories. We see the beauty of the shape while realizing that living organisms has dwelt those solid shells for a period of time.

Just like our body, our shell of our soul, someday we will leave it, we don’t know when. Our skeleton will remain six feet under, our soft tissues will be gone, and our soul will return to The Creator.

Every soul will taste death, and you will only be given your [full] compensation on the Day of Resurrection. So he who is drawn away from the Fire and admitted to Paradise has attained [his desire]. And what is the life of this world except the enjoyment of delusion.

 

Img2.jpg

Qur’an, Ali Imran:185.

 

Allah Maha Baik

Pengajian malam ini bersama Aa Gym di Masjid Daarut Tauhid.
Selalulah berprasangka baik kepada Allah SWT.  

 Contoh:

Ada ajudan yg selalu berpikir semua yg terjadi adalah yang terbaik dari Allah SWT. Suatu ketika raja sedang berburu jempolnya digigit sampai buntung ama macan. Ajudan bilang ini pasti yang terbaik. Raja kesal ajudan dimasukkan ke dalam penjara. Beberapa waktu kemudian Raja berburu lagi tapi tertangkap suku kanibal. Pas mau dipersembahkan raja ketahuan buntung jempolnya lalu dilepas karena dianggap cacat. Saat itulah raja menyadari buntungnya jempolnya adalah yang terbaik dari Allah. Dia kembali ke istana mengeluarkan ajudanny dan mengaku salah. Dia bertanya bagusnya apa buatmu masuk penjara? Ajudannya bilang kalau gak di penjara ia akan menemani raja dan mati dibunuh suku kejam itu.

Alhamdulillah kita jadi manusia.
Coba jadi penguin. Jadi lelaki nungguin telor tiga bulan. Coba jadi nyamuk. Cari nafkah jiwanya selalu terancam. Belum makan kadang sudah mati. Udah makan dikejar karena dendam.

Fa bi ayyi alaa i rabbi kumaa tukadzdzibaan.. Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan.

Termasuk waktu kejadian dulu gonjang-ganjing Aa nikah lagi. Kejadian itu justru menambah kedekatan Aa dengan Allah SWT. Kota di mana DT sedang dibangun masjid yang bagus. Bisnis lebih profesional dst.

Contoh lain ttg permainan sepakbola. Masalah goal mah biasa. Itu masalah takdir. Yang indah adalah bagaimana para pemain memiliki koordinasi tinggi, kombinasi tekanan darah, adrenalin, jantung, motorik, dst. Itulah keindahan yang sebenarnya.

Alkisah ada orang kaya yang tanahnya luas, tinggal sepetak milik kakek miskin. Si kaya hidupnya sengsara karena mikirin rumah kecil itu. Pas dikunjungi si kakek lagi bersyukur alhamdulillah. Diucapkan salam sama si kaya, si kakek menjawab salam sambil alhamdulillah. Karena berarti dia memiliki telinga yg bisa mendengar. Bersyukur bisa melihat tamunya. Akhirnya si kaya sadar kesengsaraannya karena ia kufur nikmat.

Meskipun hujan, datang ke majelis taklim insya Allah banyak manfaatnya. Malaikat datang mengampuni dosa-dosa, sesuatu yang mungkin tidak didapat ketika kita hanya baca via internet, radio, dan remote distance learning lainnya.

Menuju Puncak Rinjani

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari Ekspedisi ke Rinjani, bagian pertama bisa dilihat di sini, dan bagian ke dua dapat dibaca di sini.

14 Agustus 2015 02:00 WITA

Pukul dua dini hari, Oniel dan Marvin sudah bersemangat berkeliling tenda berteriak sahuur-sahurr.. membangunkan tim untuk persiapan Summit Attack. Pak Kumis sudah menyiapkan roti bakar untuk disantap sebelum berangkat. Tas kecil yang sudah kami siapkan sebelum tidur kami ambil dan diisi kebutuhan kami. Air nomor satu. Saya membawa kurma dan snicker untuk di jalan. Jaket tebal segera dipakai, buff dipasang menutupi hidung dan leher untuk mencegah dingin, kupluk saya pakai untuk menutupi telinga dan kepala. Trekking pole aku sambar dan kamera HP + kamera Action aku masukkan ke tas. Looking good.

Setelah membaca doa dan briefing dipimpin Kombes Dadang, kami bergerak dengan head lamp menyinari jalan yang gelap dan dihembus angin dingin. Perjalanan menuju puncak dibagi menjadi tiga bagian:

  • Bagian awal terdiri atas tanah berpasir dan kerikil di mana setiap kita naik dua langkah gravitasi menarik kita kembali satu langkah
  • Bagian tengah tanahnya relatif lebih padat dan tidak terlalu terjal, bonus setelah perjuangan di sepertiga pertama yang sangat melelahkan
  • Bagian ketiga adalah bagian tersulit di mana banyak pendaki yang balik kanan di sini. Medannya mirip dengan sepertiga pertama, namun beberapa batu ukurannya lebih besar. Naik dua langkah, selangkah turun kembali.

Menjelang fajar menyingsing saya mengambil tayammum dan sholat subuh di tengah deru angin dingin. Saya ingin melihat sunrise, namun kewajiban harus ditegakkan. Jangan sampai kita menjadi hamba sunrise 🙂 Setelah sholat kami terus bergerak karena puncak masih jauh. Kecepatan saya berjalan tidak secepat Oniel, Marvin, dan Nanang. Tapi semangat tidak boleh putus.

Febru matanya kemasukan pasir kuarsa dan lumayan mengganggu pemandangan ke depan. Karena dia sudah pernah mencicipi Puncak Rinjani dia memutuskan untuk kembali ke base camp. Andra yang sempat kram kakinya turun bersama Febru. Pak Yakob yang kelaparan karena salah memasukkan tisue dianggap roti. Karena beliau dulu juga sudah pernah ke puncak akhirnya turun juga.

Saya berjalan pelan bersama Saeng, Erik, dan Dadang. Erik merasa kelelahan dan dia ingin turun. Dadang dan Saeng sempat memikirkan kemungkinan untuk turun juga, namun saya merasa tanggung untuk pulang sekarang. Puncak sudah menggapai di depan mata. Usaha untuk turun hampir sama melelahkannya dengan naik. Saya memutuskan untuk terus. Akhirnya Saeng dan Dadang menemani saya ke puncak, Erik turun ke base camp. Terkadang ketika lelah kami istirahat sebentar sambil menikmati indahnya alam. Saat ini saya begitu sadar bahwa keindahan Rinjani di foto masih kalah ketika dilihat langsung. Udaranya yang sejuk, warna yang begitu indah dipandang mata, semuanya menimbulkan rasa syukur kepada Ilahi atas karunia bumi pertiwi yang indah ini.

Perjalanan begitu panjang, angin begitu kencang, otot lelah terguncang. Tiga langkah jalan, saya mengambil nafas. Memandang puncak, maju lagi. Teringat akan almarhum ayah yang meninggal tahun 2013 yang lalu. Beliau dulu wadalah pencinta alam dan mendaki banyak gunung di usia mudanya. Jika aku bisa mencapai puncak, keberhasilan ini akan kudedikasikan untuk beliau. Doa kupanjatkan terus pada Ilahi. Mohon diberi kekuatan dan keselamatan sampai puncak.

Mendekati puncak aku berpapasan dengan Oniel dan Nanang. Marvin entah lewat mana tak berpapasan dengannya. Akhirnya setelah berjalan dan diselingi istirahat sekitar 8 jam sampailah ke puncak.

Syukur Alhamdulillah

Syukur Alhamdulillah

Donny, Me, Saeng, dan Dadang

Donny, Me, Saeng, dan Dadang

Tidak terasa saya menangis terharu. Lelah begitu panjang dan kebahagiaan bisa mencapai puncak, ingatan kepada almarhum ayah, semua bercampur aduk menjadi satu. Tidak peduli saya dianggap pendaki cengeng. Biarlah orang berkata apa. Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak dalam dada. Saya ingin menumpahkan segalanya. Lelah dan bahagia. Dan kerinduan pada ayahanda.

Donny Ari Surya juga menyampaikan perasaannya ketika mencapai puncak:

Inilah sambutan Kombes Dadang di atas Puncak Rinjani:

Beginilah pemandangan ketika turun:

Ketika turun kami hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam termasuk berhenti istirahat di beberapa tempat untuk makan kurma dan snicker. Di beberapa tempat kami juga mengambil foto. Saya tidak tergoda untuk mengambil eidelweiss karena pendaki sejati tidak mengambil apapun kecuali foto, tidak meninggalkan apapun kecuali jejak dan kenangan.

Begitu sampai saya langsung minum pocari dua botol langsung dari sachet yang saya bawa dari rumah. Badan alhamdulillah terasa segar dan langsung disambut mie goreng telur ceplok Pak Kumis. Nikmat sekali.

Karena waktu untuk ke danau Segara Anak sudah tidak ada karena menurut porter agak berbahaya jalan malam ke sana, akhirnya diputuskan kami tidak jadi ke Segara Anak, langsung turun kembali ke Plawangan Sembalun, tidak jadi dari Plawangan Senaru. Untung sekali kami mengambil jalan ini karena sepatu saya juga jebol ketika menuju pos 1 Sembalun.

Malam itu kami beristirahat di Plawangan Sembalun yang kedua kali sebelum besok mengucapkan selamat tinggal kepada Rinjani. Tempat indah karunia Ilahi yang begitu mempesona. Kewajiban kita untuk menjaga kebersihannya. Semoga dibuat tempat sampah untuk menampung sampah di Plawangan Sembalun atau Senaru, sehingga memudahkan pengumpulan sampah untuk dibawa kembali turun ke bawah. Bintang begitu indah. Semua menjadi saksi kebahagiaan kami mencapai puncak Rinjani. Malam ini kami harus cukup istirahat agar besok bisa pulang lebih awal menuju Sembalun.

Bersambung

Menuju Plawangan Sembalun – Kaki Rinjani

Tulisan ini merupakan bagian kedua, sambungan dari postingan sebelumnya yang merupakan Bagian Pertama.

Salah satu hal yang paling indah adalah sarapan pagi di Pos 2 karena matahari belum terik dan bisa berfoto dengan latar belakang Gunung Rinjani, 3726 mdpl. Sewaktu kami pulang dan melewati pos 2 pas tengah hari bolong, semua orang hanya berkonsentrasi pada air dan berteduh di bawah tenda atau fly sheet. Sulit menikmati keindahan sabana dengan latar belakang mayestik dengan suhu panas menyengat dan kekurangan air. Bila kekurangan air, pastikan isi kantong air Anda (botol, hydro water, dsb) di sini.

Berikut ini adalah video penampakan Pos 2 di pagi hari:

Setelah kami selesai packing, kami melanjutkan perjalanan melewati sabana dengan tujuan ke arah pos 3. Pada awalnya jalanan agak mendatar dan tanjakan tidak berasa. Namun setelah pos 3, mental para pendaki harus disiapkan karena di sinilah letak perjuangan sebelum puncak.

Inilah penampakan sabana yang indah dan sulit ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tujuh bukit penyesalan. Sebenarnya ini tergantung dari kita. Mau dikasih nama bukit rasa syukur, bukit tantangan, atau bukit yang pasti berakhir, itu semua tergantung kita. Bagaimana cara pandang kita saja. Yang jelas, kalau naik gunung kita harus bermental positif. Setiap kami kelelahan, saya dan Donny Ari Surya dan Saeng, saling menguatkan. Kami saling meneriakkan kata-kata penuh semangat. Dari man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya), Inna ma’al usri yusraa (sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan), tidak ada bukit yang menyentuh langit (setiap bukit pasti ada ujungnya), dan sebagainya. Setiap kali kami saling mengingatkan dengan kata-kata positif, seakan kami mendapat suntikan energi untuk maju lagi. Salah satu hal yang biasa saya lakukan kalau lari pagi di kompleks perumahan juga saya terapkan. Agar tidak sering berhenti kalau berlari, saya melihat sesuatu yang mencolok sekitar 50 – 100 meter di depan dan mengatakan pada diri sendiri, ayo lari lagi sampai tiang yang ada spanduk merahnya itu. Demikian seterusnya saya menipu otak bahwa saya sedang tidak menuju goal yang sangat sulit, namun goal sederhana setiap waktunya. Pada saat menanjak, saya melihat satu pohon kecil, saya bilang ayo jalan terus, istirahat di pohon kecil itu. Istirahat sebentar atur nafas, baru melanjutkan lagi mencari mile stone berikutnya.

Hal seperti ini kadang memang ada ujiannya. Pernah dulu pas lari di kompleks mengatakan saya akan istirahat sebentar di mobil merah di depan sana. Eh pas mau sampai, mobilnya jalan. Masak harus mengejar? Pas mau naik di bukit penye.. eh bukit rasa syukur, tidak ada pohon yang cukup dekat untuk beristirahat. Ya sudah jalan sekuatnya saja hahaha..

Ada satu hal yang saya lupa waktu berjalan ke Pos 3, yaitu melakukan pemanasan. Hasilnya di tengah jalan saya mengalami kram. Alhamdulillah waktu itu membawa krim luar untuk memanaskan otot sehingga tidak lama bisa kembali berjalan. Lesson learn: jangan lupa melakukan pemanasan sebelum memulai pendakian. Best practice: bawa selalu krim pemanas favorit Anda dan selalu siap di kantong celana.

Sesampainya di Plawangan Sembalun, satu kemenangan, satu kepuasan, satu kebahagiaan dirasakan oleh semua pendaki. Perjuangan dari base camp hingga pos 2, dari pos 2 hingga pos 3, dan dari pos 3 hingga bukit yang aduhai, digantikan dengan kepuasan tak terkira melihat awan berarak ditiup angin di bawah kaki para pendaki. Awan yang dulu kami lihat dengan cara menengadahkan kepala, kini bisa kami lihat dengan cara sebaliknya.

Berdiri di atas awan

Berdiri di atas awan

Persis di atas pertigaan Plawangan Sembalun, ada penjual minuman dingin yang dihargai gila-gilaan. Pulpy orange kecil, mizone, pocari, coca-cola kaleng kecil dihargai 40 ribu rupiah. Bir bintang yang haram itu dibandrol 90 ribu rupiah, yang membuat para bule-bule tertawa mendengar tawaran gila itu. Namun tetap saja ada yang membelinya sebagai hadiah kecil atas separuh kemenangan sebelum puncak itu.

Minuman berharga fantastis

Minuman berharga fantastis

Mari kita lihat slideshow indahnya pemandangan ketika sampai di Plawangan Sembalun. Hadiah setengah perjuangan sebelum Puncak.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jika Anda penasaran dengan tim kami yang ingin merayakan kemenangan kecil ini, mari silakan dilihat kecentilan kami berpose melupakan penat dan asam laktat yang menyerang seluruh urat-urat.

Setelah makan malam kami bersiap tidur untuk mempersiapkan setengah perjuangan berikutnya yaitu ke puncak. Pukul 2 pagi nanti kami akan mencoba summit attack. Keril ditinggal di tenda, hanya membawa makanan kecil dan minuman. Angin sudah bertiup kencang dengan bunyi menderu. Di luar tenda tanpa jaket kami akan kedingingan. Tempat nyaman hanya di dalam tenda. Pastikan tenda yang dipakai mampu menangani suhu dingin. Jangan gunakan summer tent di Plawangan. Sengsara.

Sekitar pukul dua pagi dengan kondisi masih mengantuk dan lelah kami bangun untuk menuju puncak. Beberapa orang tampak sudah menuju puncak dari kilatan lampu senter di punggung Rinjani. Kami berdoa sebelum berangkat dan membawa perbekalan seperlunya. Saya membawa sebotol air, kamera HP, Sony Action Camera, kurma, lotion anti kram, selimut kertas anti hipothermia, dan snicker. Kamera DSLR tidak perlu dibawa. Tentu saja trekking pole wajib hukumnya untuk meringankan lutut dan membantu naik atau turun nanti.

Dan perjalanan menuju puncak Rinjani dimulai….

Bersambung

Belajar Berenang

Setelah bertahun-tahun ingin belajar berenang, alhamdulillah setelah mengambil kursus di sini, dalam 4 kali pertemuan, Sabtu-Minggu-Sabtu-Minggu, akhirnya mengerti juga teknik berenang dengan gaya dada. Selama ini sebenarnya sudah bisa meluncur ke ujung namun nafasnya selalu berantakan, dan ngos-ngosan. Baru setelah dibimbing Mas Kurniawan, instruktur renang yang melatihku, akhirnya bisa mengatur nafas dengan baik.

Yang membedakan materi renang yang diajarkan dengan materi renang dari pelatih lain adalah masalah survival. Di sini murid tidak difokuskan untuk menguasai gaya tertentu, tetapi bagaimana bisa bertahan selama mungkin di air. Gaya dada dipilih karena pertimbangannya paling sedikit usaha yang dilakukan,  karena fokus pada tangan, meluncur, dan kaki secara berulang-ulang. Peserta renang diajak untuk betah di air, meskipun dalam. Dalam empat pertemuan saja, saya banyak sekali mendapatkan ilmu. Izinkan saya untuk berbagi apa yang sudah saya pelajari dalam empat pertemuan yang digaransi uang kembali bila kita tidak bisa berenang, atau diganti dua pertemuan tambahan.

Pertemuan pertama sebelum mulai dilakukan sessi wawancara. Saya ditanya mengenai motivasi mengapa belajar berenang. Saya jawab karena sunnah rasul.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i).

Panjang ceritanya mengapa sudah setua ini baru belajar berenang. Tapi saya tidak pernah mau putus asa. Saya harus bisa berenang. Jika saya mau berusaha sekuat tenaga. Man jadda wa jada. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkannya. Mas Kurniawan mengatakan bahwa motivasi saya cukup baik untuk belajar berenang. Motivasi bisa merupakan katalis untuk kita bisa belajar dan tidak mudah menyerah. Setelah menanyakan berbagai hal, dijelaskan bahwa kursus berenang ini adalah survival atau bertahan hidup. Bayangkan bila kapal karam, bantuan tercepat datang dua jam, bagaimana caranya bertahan selama mungkin di air, tanpa kehabisan nafas. Inilah goal dari latihan berenang ini.

Pertemuan pertama masuk ke kolam dangkal. Diajari untuk mengambil konsep dasar berenang : ambil nafas dengan mulut, buang dengan hidung. Kita diminta berdiri, ambil nafas, tenggelamkan kepala ke dalam air, buang semua nafas dengan hidung, naik lagi, ambil nafas dengan mulut, buang dengan hidung. Hal ini dilakukan per siklus yaitu diulang selama 10 kali. Latihan dilakukan dengan 5 siklus tanpa henti. Setelah itu diajarkan konsep buoyancy. Semakin banyak lemak dan gendut, buoyancynya cenderung positif, artinya lebih mudah mengambang di air. Yang menarik di pertemuan ini adalah kita diajarkan masuk ke dasar kolam dengan jalan mengambil nafas lalu buang sebagian sebelum masuk ke dalam air. Ternyata dengan demikian bisa dengan mudah ke bawah kolam. Jika nafas tidak dibuang maka paru-paru akan penuh udara dan kita berat sekali untuk masuk ke dalam air karena ditolak oleh air untuk mengapung. Setelah itu diajari juga mengambil nafas lalu buang perlahan sambil mengapung saja di permukaan air.

Pertemuan berikutnya mengulang yang diajarkan pada pertemuan pertama, sambil belajar meluncur, belok, dan kembali lagi. Mulailah gaya dada diajarkan. Masuk ke kolam dalam mulai diperkenalkan. Masuk ke dalam kolam dengan nafas dibuang sebagian, masuk ke paling dasar, jongkok seperti gaya bersiap aba-aba, lalu ketika nafas mau habis, menolak ke atas untuk mengambil nafas. Setelah itu diajarkan juga ambil nafas, masuk ke dalam kolam dalam, tangan dikembangkan seperti huruf T, badan akan terangkat, sesaat sebelum keluar dari air buang nafas sedikit, kepakkan kedua tangan untuk mengeluarkan kepala, ambil nafas, lalu masuk kembali. Lakukan 1 siklus. Sempat panik karena takut tenggelam, untung bisa diraih pelatih. Inilah pentingnya belajar berenang di kolam dalam dengan pengawasan tim profesional. Tapi ini tidak menjadikan trauma, namun saya anggap sebagai proses belajar.

Pada pertemuan ketiga goalnya adalah bisa berenang dengan gaya dada hingga ke ujung kolam. Sulit sekali karena reflek saya adalah berenang dengan gaya katak. Masuk air ke mulut sudah biasa hehehe.. Namun pantang menyerah. Setiap sebelum mulai berenang saya berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi kemudahan dalam belajar.

Radhitu billahi rabba.. wa bil islami diina wa bil Muhammadin Nabiyya Warasullah Rabbi zidni ilma, war zuqni fahma….

Menjelang akhir sesi ketiga saya ditantang untuk gaya dada tepi ke tepi.. Mental saya belum siap.

Pertemuan terakhir, tadi pagi, saya memutuskan untuk fokus di kolam dangkal, memperbaiki nafas, dan memastikan bisa dari tepi ke tepi kolam dangkal tanpa berhenti di tengah-tengah, nafas tidak terengah-engah, menggunakan kaki hanya sekali, tangan sekali, meluncur sekali. Alhamdulillah akhirnya bisa bolak-balik tanpa berhenti di tengah. Saatnya mencoba di kolam dalam. Pertama saya tidak ada keberanian sama sekali untuk mencoba. Akhirnya saya pemanasan dulu. Saya masuk ke dasar kolam, naik ke atas, saya lakukan beberapa kali. Saya mencoba nyaman di bawah sana. Lalu saya mencoba gaya survival, masuk buat T, buang nafas sedikit sesaat sebelum keluar, kepakkan tangan, ambil nafas, dan seterusnya. Lalu saya mencoba meluncur dari tepi ke tepi siku-siku lainnya. Barulah setelah itu saya punya keberanian untuk mencoba dari tepi ke tepi di kolam dalam. Bismillah.. alhamdulilah setelah menenangkan diri dan membiasakan di kolam dalam, timbullah keberanian itu, dan akhirnya bisa bolak-balik dengan gaya dada di kolam dalam. Saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kefahaman dalam berenang ini. Saya juga berterima kasih sekali kepada Mas Kurniawan yang sabar dan terus memberikan semangat dalam melatih berenang. Saya tidak menyangka bahwa akhirnya saya bisa juga. Meski usia sudah hampir 40 tahun, saya tidak malu belajar berenang karena saya ingin sekali bisa.

Jika Anda belum bisa berenang, percayalah, tidak perlu waktu lama untuk belajar, kalau niat kita benar-benar kuat.

If you want to learn to swim, you have throw your self in the water. -Bruce Lee-

Tips belajar berenang:

– Pilih guru profesional. Belajar harus didampingi orang yang ahli agar bisa menjaga kita dan memberikan rasa nyaman
– Gunakan kacamata renang agar mata tidak perih
– Gunakan sun block sebelum berenang untuk mencegah iritasi, pakai ulang setiap jam. Lebih baik jika menggunakan pakaian renang agar tidak belang kulitnya