Menanti Wahana Baru di Dunia Fantasi di Penghujung 2019

Sabtu kemarin saya, istri, dan anak kedua kami berjalan-jalan ke Dunia Fantasi di Taman Impian Jaya Ancol. Theme Park yang sudah saya kunjungi sejak kecil ini selalu membawa kenangan nostalgia, terutama ketika masa kuliah dulu bersama teman sekampus. Acara ini terselenggara atas undangan Dunia Fantasi dalam acara Blogger Day 2019.

Cukup lama saya tidak mengunjungi tempat wisata ini bersama keluarga. Setiap kali saya datang, selalu ada kegembiraan yang terasa bersama keluarga. Bercanda bersama. Makan dan minum bersama. Saling melempar teka-teki sambil mengantri wahana. Hal-hal kecil menggembirakan yang jarang kami rasakan karena saling sibuk dengan kegiatan masing-masing kini menjadi begitu terasa.

Berjalan dari satu wahana ke wahana lain juga menyehatkan badan karena membakar kalori yang selama ini tertumpuk dari kurangnya aktivitas sehari-hari. Jelas sekali bahwa berekreasi ke Dunia Fantasi menyehatkan jasmani dan rohani kita.

Aila dan Mamah berdua

Yang menarik dari kunjungan kami ke Dufan kali ini adalah adanya cluster baru bernama Dunia Kartun, di mana ada beberapa wahana yang tidak bisa digunakan anak-anak, kini ada versi anak-anaknya.

Dunia Kartun Dufan

Yang sudah dibuka sejak Juni 2019 kemarin adalah wahana berikut:

Wahana Dunia Kartun

Yang akan dibuka di akhir tahun ini ada dua, yaitu:

Haunted House dan Fantastique

Yang menarik dari Haunted House:

Haunted Coaster

Konon, akan ada tiga roller coaster berpenumpang 20 orang di Haunted Coaster ini. Wahana dalam ruangan tercepat se-Indonesia ini bakal mengocok adrenalin kita. Tracknya akan terpanjang se-Asia Tenggara. Sepertinya seru banget, dan gak sabar menunggu Desember ini.

Pengalaman kami bertiga kemarin dari pukul 10 pagi hingga pukul 8 malam sangat memuaskan. Tempat sholat dan tempat makan banyak, sehingga meski bermain, kita tetap bisa asyik beribadah dan tidak kelaparan. Simak video keseruan kami kemarin berikut ini.

Video Keseruan Wisnu Family

Ini beberapa foto yang kami abadikan.

Zig Zag alias Bom Bom Car
Turbo Drop
Para Layang
Karavel
Pintu Masuk Karavel
Baling-baling
Ontang-anting

Acara pertunjukan Color of Kingdom yang dekat dengan Hello Kitty show, akan digantikan dengan cerita baru yaitu Magic Unicorn dalam waktu dekat ini.

Color of Kingdom

Selain Dunia Kartun kami juga berbasah ria di Arung Jeram, lagu legendaris di Istana Boneka, menikmati Bianglala melihat Jakarta Utara di malam hari, dan juga serunya Dynamic Motion Simulator yang memutar Mysterious Island.

Di Istana Boneka
Sebelum naik Arung Jeram
Film DMS
Istana Boneka
Indahnya Dufan

In syaa Allah Desember ini kami ingin sekali menjajal keseruan wahana baru Dufan! Yuk ketemuan di sana!

Listrik Gundala (2019) Menyengat Bioskop Nusantara

Semalam menonton Gundala, film tentang superhero Indonesia yang diangkat dari komik karya Harya Suraminata (Hasmi). Film yang dibesut oleh Joko Anwar ini menjadi pembuka waralaba sinematik Jagad Bumi Langit.

Saya mencoba tidak menuliskan hal-hal yang bisa mengganggu Anda yang belum menonton film ini. Meski demikian, untuk pengalaman yang maksimal silakan baca ulasan ini setelah Anda menontonnya.

——————————————————————————

Film dibuka dengan Sancaka kecil yang kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu berdekatan. Sancaka yang akhirnya menjadi gelandangan itu akhirnya menjadi jago bela diri setelah dibantu seorang gelandangan lain yang menolongnya dari kekerasan di jalanan.

Dari kecil, petir sepertinya selalu mengincar Sancaka, sesuatu yang ia takuti namun akhirnya justru menjadi kekuatan dirinya. Ia juga tak pernah bisa hidup tenang bila melihat ketidakadilan di depan matanya.

Musuh bebuyutan Sancaka kali ini adalah Pengkor yang memiliki masa depan kelam. Orang tuanya mati difitnah, rumahnya dibakar, dan ia menjadi cacat karenanya. Pengkor muda terbiasa mengerahkan kawan-kawan sependeritaannya untuk melawan dan membasmi orang-orang yang merundung mereka. Akhirnya ia tumbuh dewasa menjadi mafia yang menguasai kejahatan terorganisasi. Bront Palarae, aktor Malaysia langganan Joko Anwar, memerankan karakter Pengkor dengan baik. Film ini juga menjadi reuninya dengan Tara Basro dan Asmara Abigail sejak Pengabdi Setan.

Masalah nasional timbul ketika Pengkor menyebarkan bencana yang bisa menimbulkan rusaknya generasi yang terlahir dari ibu-ibu yang sedang hamil. Sancaka yang menjadi satpam itu membantu pemerintah yang sedang berusaha mengatasi bencana nasional ini.

Di film ini, superhero wanita yang diperkenalkan adalah Sari Asih yang dibintangi Pevita Pearce. Inilah foto-foto yang menggambarkan rencana besar waralaba Jagad Bumi Langit ini.

Beberapa catatan setelah menonton film ini:

  • Adegan awal film memberikan gambaran yang bagus mengenai Sancaka kecil. Namun jika ditambahkan karakternya ketika remaja dan pra dewasa, akan lebih membuat kita mengenal karakter Sancaka lebih kuat
  • Visual FX yang berjumlah 683 shot memang lumayan. Anggaran sekitar 30 milyar ini ya sesuai lah dengan apa yang didapat. Ingat anggaran Avengers itu trilyunan. Kita tidak bisa membandingkannya karena tidak adil. Masih bisa ditingkatkan lagi kok untuk selanjutnya
  • Akting para pemainnya cukup mumpuni, termasuk adanya tokoh anak-anak yang sudah pintar bermain peran
  • Di bagian tengah banyaknya penjahat asuhan Pengkor agak mengganggu jalan cerita agar tidak terlalu “ramai”. Beberapa penjahat ini kurang berperan besar, malah ada yang mengganggu dan bisa dibuang dari film tanpa filmnya terganggu jalan ceritanya
  • Beberapa humor yang muncul di film juga patut diapresiasi karena menambahkan unsur hiburan
  • Pendekatan aksi laga jarak dekat sudah saya duga akan lebih banyak dipilih Joko Anwar layaknya The Raid yang digarap Gareth Evans. Memang koreografi dan pengambilan gambar adegan laganya tidak segahar The Raid yang berdarah-darah itu. Mungkin juga ini strategi Joko Anwar agar lebih banyak penonton yang bisa menikmatinya di bioskop
  • Secara umum saya menyukai film ini. Saya berikan 8/10 sebagai film pembuka superhero Indonesia ini. Semoga banyak sutradara hebat lain yang mau menyutradarai film lainnya sehingga banyak film berkualitas muncul dengan tonal berbeda namun tetap terintegrasi dan menghibur penontonnya

Selamat menonton film yang berdurasi 123 menit ini, selamat kepada Joko Anwar dan semua kru film Gundala.

Nanjak ke Gunung Munara dan Gunung Gede

Dalam waktu seminggu, saya mendaki dua gunung berbeda. Dua minggu lalu saya mengajak anak yang masih kelas 4 SD untuk trekking ke Situs Gunung Munara di dekat Rumpin. Buat saya dan anak saya yang SMA kelas 2, ini perjalanan kami yang kedua. Perjalanan sebelumnya pernah saya tuliskan di Ekspedisi Gunung Munara. Tapi buat si kecil dan istri, ini adalah pengalaman mereka yang pertama kali. Saya sengaja mengajak si kecil untuk mengenal dunia trekking. Rencana berikutnya akan saya ajak ke gunung lainnya, insya Allah. Perjalanan kali ini juga ditemani oleh Mas Heru, rekan dari sesama pengguna Quora.

Video Perjalanan ke Munara

Alhamdulillah setelah sempat masuk angin karena sarapan seadanya, Aila si kecil, bisa disemangati untuk melanjutkan perjalanan. Kakaknya dan Mas Heru kami persilakan untuk jalan duluan, dan kami menyusul.

Setelah sempat menikmati Pop Mi dan rujak buah, semangat kami bertambah, dan makin semangat jalan menuju puncak. Sungguh menyenangkan bisa kembali ke Situs Gunung Munara ini untuk pemanasan sebelum ke Gunung Gede.

Makan rujak buah segar sekali!
Di puncak bersama istri dan anak

Seminggu berikutnya, saya dan anak pertama, Rayyan, beserta 18 orang lainnya nanjak ke Gunung Gede via Gunung Putri dan turun melalui jalur yang sama. Dulu saya dan teman kantor nanjak via Cibodas dan turun di Putri sekitar beberapa tahun yang lalu. Sekarang baru pertama kali nanjak dari Putri dan lumayan menantang juga jalurnya.

Trailer Perjalanan

Perjalanan dimulai dari Senayan, sekitar pukul 11 malam dengan menggunakan sebuah Elf carteran dan sebuah Grand Max. Penumpang naik Elf, kerilnya diletakkan di Grand Max. Kami tiba di basecamp Gunung Putri (dekat terminal) sekitar pukul 2:30 pagi dini hari karena agak macet yang disebabkan karena ada perbaikan jalan sebelum Puncak.

Sebelum berangkat

Setelah sampai, ada insiden dengan hilangnya dua tas milik dua orang anggota kami. Kami tidak tahu siapa yang mengambilnya, kedua tas ini raib ketika kami baru pada bangun tidur setelah sampai di basecamp. Untung saja teman-teman yang lain bisa meminjamkan semua barang yang hilang dan mereka tetap bisa naik. Di sini memang rasa persahabatan dan kekompakan tim diuji.

Di basecamp

Tidak ada yang berani mandi karena suhu bak mandi sudah seperti es batu mencair. Setelah sarapan yang disediakan Ibu pemilik base camp, kami mulai nanjak sekitar jam 7:45 pagi. Briefing diberikan oleh Oniel dan kami berdoa bersama sebelum bergerak ke Pos 1.

Berdua bersama Rayyan

Enaknya nanjak dari Putri, setiap pos dan pos bayangan ada warung yang menjual Pop Mi, semangka, gorengan, energen, kopi, dan minuman mineral. Tidak perlu takut kehabisan bekal, asal bawa uang secukupnya. Air mineral 600 cc dibandrol 15 ribu, Pop Mi 15 ribu, energen/kopi 7 ribu, dan gorengan unyu 2 ribuan.

Sampai di Surken sudah waktu ashar. Kami disambut kabut yang dingin. Kami berjalan menuju tenda yang sudah disiapkan oleh porter.

Sampai di Surken

Malamnya setelah makan kami tidur, dan bangun pukul 4:30 untuk menuju puncak Gede. Meski masih mengantuk namun kami tetap semangat menuju puncak.

Beramai-ramai berfoto bersama
Gembira di puncak

Suhu yang dingin saya lawan dengan pop mi yang hangat dan tersedia di Puncak Gede 🙂

Sebelum turun kami berfoto bersama dengan seluruh tim.

Berfoto bersama di pagi yang cerah

Alhamdulillah kami sampai di Senayan dengan selamat sekitar pukul 9 malam. Setelah unloading barang-barang, kami berpamitan satu sama lain untuk kembali ke rumah masing-masing.

Gede, kau selalu kami rindu!

Berkemah (lagi) di Curug Cipamingkis dengan Suasana Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman kantor memutuskan untuk berkemah di Curug Cipamingkis. Ada beberapa keluarga yang ikut, total sekitar 30-an orang, dengan berbagai usia. Ini adalah kunjungan kami yang kedua, setelah kunjungan bersama mertua sebelumnya yang pernah saya bahas di artikel tentang Curug Cipamingkis ini dua tahun lalu. Kali ini tiap orang harus membayar 60 ribu rupiah untuk menginap semalam (sewa lahan), berenang di dua kolam renang, dan ke air terjun.

Acara kali ini dihadiri beberapa keluarga teman saya di kantor dan di Quora. Total ada sekitar 30-an orang yang memeriahkan acara kali ini.

Ada banyak perubahan yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Warung tenda yang masih beratapkan kayu kini sudah diganti yang lebih resmi dengan atap baja ringan.

Sebelah kiri, dua tahun lalu, masih terpisah per warung. Kini sudah menyambung dengan toilet umum di tengah

Begini penampakan warung yang terletak di samping water park buat anak-anak.

Warung dan Water Park

Di samping warung dan di tepi sungai, dulu masih bisa mendirikan tenda persis di tepi sungai tanpa harus menyeberang. Sekarang harus menyeberang sungai. Di tempat saya mendirikan tenda kini menjadi lahan parkir berbatu koral yang dipecah-pecah, dan di tepi sungai diberi villa berbentuk tenda dalam tiga warna.

Perbedaan yang cukup signifikan

Berikut penampilan lebih dekat ketiga villa yang berwarna ngejreng dan beratap seperti tenda itu.

Saat kami ke sana, air sungai masih kering karena sudah cukup lama tidak hujan. Meskipun demikian pasokan air untuk mandi dan kolam renang sangat aman.

Sungai dan Jembatan Cinta di Cipamingkis

Saya dan Dony Alpha membawa masing-masing lima tenda untuk dipergunakan kawan lain yang belum memiliki tenda. Tenda berbagai jenis warna dan ukuran semuanya bisa digunakan dengan baik untuk tidur. Mau lihat penampakannya?

Tenda Beramai-ramai dan Keceriaan Anak-anak

Inilah penampakan tenda-tenda kami.

Mau lihat kolam renangnya seperti apa? Nih monggo…

Kolam renang baru di Curug Cipamingkis

Meskipun dingin, tapi lama-lama tubuh kita akan menyesuaikan kok. Saya sendiri sengaja membawa baju renang one piece agar tidak terlalu dingin. Sangat menyenangkan dan bisa mengisi waktu dengan olahraga ketika berkemah di Curug Cipamingkis ini.

Setelah sorenya berenang, malamnya ibu-ibu memasak dan anak-anak menonton film, bermain Nintendo Switch, dan bermain board games.

Menonton film bersama

Ibu-ibu memasak, dipimpin oleh Mbak Sum dari keluarga Ridwan yang sudah terkenal pembuat nasi kebuli enak.

Tenda tidak perlu boring. Dengan sedikit sentuhan lampu, bisa menyegarkan suasana menjadi lebih meriah
Memasak di depan tenda kerlap-kerlip

Bagaimana dengan keseruan lainnya?

Kami juga berfoto di rumah pohon dan air terjun. Secara ringkas, trailer version dari acara ini bisa dilihat di video berikut.

Video Trailer Camping Bareng

Oh ya, meski masih tidak ada sinyal semua provider, tapi ada Wifi di dekat kantor Pos Depan Cipamingkis. Silakan serahkan gadget Anda, nanti password wifinya diisikan 🙂 Gratis kok.

Demikian yang bisa saya sampaikan kali ini mengenai kunjungan kedua ke Curug Cipamingkis. Sangat menyenangkan sekali karena yang ikut sangat ramai dan semua berpartisipasi dalam menyemarakkan acara seru ini. Board game dari Splendor, Exploding Kitten, Donuts for Go Nuts, hingga Werewolf semuanya dimainkan dengan semangat.

Saya merekomendasikan tempat ini untuk berlibur bersama keluarga dan menyatu dengan alam.

5 Alasan Harus Nonton Parasite (2019)

Kemarin pagi saya baca cuitan dari Om Joko Anwar, beliau menyarankan pencinta film untuk menonton film Parasite yang judul aslinya Gisaengchung. Setelah melihat peringkatnya di Rotten Tomatoes mencapai 98% dari sisi kritikus, saya langsung cari bioskop yang memutarnya. Apalagi film ini juga memenangkan film terbaik di Canness Film Festival dengan meraih Palme d’Or.

Film Korea pertama yang meraih penghargaan Palme d’Or

Ternyata Joon-ho Bong yang menyutradarai film ini juga menyutradarai film The Host (2006) yang juga dibintangi aktor yang sama, Kang-ho Song. 13 tahun lalu saya terkesima melihat film Korea dengan visual efek yang ciamik dan cerita yang tidak umum. Dua tiket langsung saya beli di CGV dekat kantor untuk menontonnya bersama istri.

Premis singkatnya:

Ada sebuah keluarga yang hidup miskin, terdiri atas suami istri dan dua anak pra dewasa.

Keluarga Kim yang miskin

Ketika si anak lelaki mendapat kesempatan menjadi guru privat seorang anak dari keluarga kaya raya, ia memikirkan cara bagaimana saudara perempuannya bisa bekerja juga di keluarga tersebut.

Lama-lama mereka sekeluarga merencanakan plot licik agar semuanya bisa bekerja di keluarga kaya itu, dan menjadi parasit yang tak terlihat bagi mereka, terutama para pekerja yang ada agar bisa mereka gantikan. Namun ada sebuah fakta mengejutkan yang bisa menghancurkan rencana keluarga jahat itu.

Ada setidaknya lima alasan, mengapa kamu harus menonton film yang keren ini:

1. Film ini memiliki unsur yang bertolak belakang. Ada komedi dan ada tragedi. Ada kelembutan dan ada kebrutalan. Ada kemiskinan dan ada kemewahan. Ada kesederhanaan dan ada ketamakan. Coba film apa yang pernah kamu tonton yang mengandung tema kontradiksi seperti itu:

2. Komedinya mengocok perut, benar-benar menghibur kita dari awal hingga pertengahan

3. Ketegangan yang muncul di tengah film benar-benar bisa membuat kita berteriak. Sangat menegangkan dan tak dapat diduga sama sekali

4. Film yang sederhana ini benar-benar tak terpikirkan oleh kita idenya. Begitu orisinal dan menyegarkan para pencinta film!

5. Kekuatan akting dari para pemainnya membuat kita begitu percaya dengan pendalaman karakter mereka. Kita akan peduli dengan para tokohnya.

Nah cinephile, tunggu apa lagi? Segera tonton film keren dari Korea ini. Dijamin tak akan mengecewakan!

Poster film Parasite

Saya memberi nilai 8.5/10 untuk film ini!

Inilah trailer dari film Parasite:

Quora World Meetup Tangerang Selatan di Tandon Ciater – 22 Juni 2019

Hari Sabtu yang lalu, tepat tanggal 22 Juni 2019, saya menjadi host untuk acara Quora World Meetup 2019 tahunan resmi yang diakui oleh Quora International. Setiap tahunnya, Quora International memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mengadakan pertemuan pada pekan Quora World Meetup, di setiap kotanya. Asal memenuhi kuota 10 orang dan melaporkan kepada Quora kita akan melakukan pertemuan pada batas tanggal waktu yang ditentukan mereka, maka pertemuan itu menjadi resmi diakui oleh Quora International.

Tahun lalu acaranya berlangsung di Sarinah dan Galeri Nasional, yang sebelumnya pernah saya tuliskan di Quora World Meetup 2018. Nah, tahun ini saya ingin menyehatkan para Quorawan dan Quorawati. Awalnya saya hanya ingin bertemu sapa dengan mereka lalu main Board Game sepuasnya. Namun tempat yang tersedia kalau tidak di kafe ya restoran. Padahal kalau di sana ada komitmen uang dan tempatnya pun terbatas. Akhirnya saya punya ide untuk mengadakan di Tandon Ciater. Alasannya adalah:

  • Tandon Ciater hanya perlu membayar parkir kendaraan. Tak ada biaya masuk apapun;
  • Belum banyak orang Tangerang Selatan yang tahu fasilitas umum yang bisa digunakan untuk bersosialisasi dan berolahraga ini;
  • Ada rumah Blandongan di dalam area tandon yang bisa dipinjam untuk berkumpul dan bermain board games (paling patungan ala kadarnya untuk uang kebersihan dan listrik);
  • Sebelum bertemu, semua peserta bisa berolahraga berjalan kaki sejauh 2-3 putaran untuk memperlancar peredaran darah, dan mengingatkan Quorawan bahwa jawaban sehat didapatkan dari badan yang sehat;
  • Akhirnya sekitar satu setengah bulan sebelumnya, saya membuat pertanyaan di Quora tentang Meetup ini. Tak diduga antusiasme rekan-rekan di Quora begitu besar. Dokter Sandra dan dokter Alrein menyatakan kesanggupannya untuk datang. Bahkan dokter Sandra bersedia berbagi informasi bagaimana melakukan CPR jika diperlukan sewaktu-waktu di rumah kita. Pembicara lainnya saya minta Winner Wijaya, sutradara muda yang berhasil membuat film dokumenter Ojek Lusi (Lumpur Sidoarjo) yang memenangkan penghargaan dan nominasi Piala Citra, untuk ikut berbagi pengalamannya.

Setelah Quora International menerima proposal dari kami, akhirnya saya mengirimkan informasi alamat sebagai koordinator untuk menerima merchandise dari Quora. Beberapa minggu kemudian, merchandise berupa bendera Quora World Meetup, gelas stainless steel, stiker, label, dan poster saya terima.

Akhirnya tibalah hari-H yang dinanti-nanti. Kami berkumpul jam 7:45 pagi di Tandon Ciater, saling berkenalan, lalu melakukan pemanasan sebelum berjalan bersama-sama mengelilingi tandon.

Setelah berfoto bersama, kami berjalan mengelilingi tandon sambil berfoto-foto di beberapa titik. Rayner Wijaya, adik Winner, membawa drone untuk mengabadikan Tandon Ciater dari angkasa. Hingga tulisan ini ditulis videonya belum saya dapatkan, sehingga akan disusulkan nanti bila telah tersedia.

Memulai acara Quora World Meetup di Tandon Ciater Tangerang Selatan

Setelah selesai berjalan mengelilingi Tandon Ciater, karena matahari semakin menyengat, akhirnya dari rencana tiga putaran, kami memutuskan untuk menyudahi hanya dua putaran saja. Waktu bertambah karena banyak sesi foto-foto yang dilakukan selama memutari tandon.

Setelah memasukkan semua barang-barang ke dalam Rumah Blandongan Tandon Ciater, kami segera melakukan sesi perkenalan satu sama lain.

Setelah perkenalan satu sama lain, acara pertama adalah pemberian informasi mengenai teknik CPR oleh dr Sandra Suryadana.

Hal yang ditekankan oleh beliau adalah CCC ABC:

  • Clear the area
  • Check for consciousness
  • Call for Help
  • Air way
  • Breath
  • Circulation
Pemberian materi Teknik CPR oleh dr Sandra Suryadana

Setelah pemberian materi dan praktik, Winner Wijaya memberikan sedikit pengalamannya bagaimana ia membuat film dokumenter Ojek Lusi.

Setelah itu saatnya kami bermain Board Games! Saya, Oliver, Aldio, dan Sherly menjadi Game Master untuk mengajari rekan-rekan bermain Board Game. William Mamudi mengajarkan cara bermain Bridge. Saya sendiri menjadi Moderator untuk Game Werewolf yang terkenal.

Selain gelas dari Quora, Freddy menyumbangkan 10 mug bertuliskan Quora yang bagus sekali. Saya langsung membuat program kecil untuk mengundi yang beruntung. Terima kasih banyak ya Freddy!

Mug Quora

Setelah acara selesai, kami memberikan kenang-kenangan kepada Bapak Sutikno selaku pengurus Tandon Ciater berupa kaos Quora.

Pemberian kenang-kenangan kepada Bapak Sutikno

Berikut ini adalah ringkasan video kompilasi yang dibuat Winner dan adiknya Rayner.

Terima kasih banyak kepada Bapak Sutikno dan jajaran yang telah memberikan kesempatan kepada kami, Quorawan dan Quorawati yang berkumpul di Tangerang Selatan untuk bisa bersilaturahmi satu sama lain. Semoga kemesraan dan keceriaan ini terus mengingatkan kami semua pentingnya berbagi ilmu, melalui platform Quora atau dalam kehidupan kami sehari-hari.

Sampai jumpa di pertemuan Quora selanjutnya!

Jalan-jalan ke Museum Macan

Minggu lalu setelah pemilu, saya dan Aila meluangkan waktu di hari libur dengan mengunjungi Museum Macan. Apa sih Museum Macan itu? Apa ada macannya? Bukan!

Macan ternyata singkatan dari Modern and Contemporary Art in Nusantara. Lokasinya terletak di Gedung AKR Tower Level MM, Jl. Perjuangan No.5, RT.11/RW.10, Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11530.

peta_macan

Tampak di Google Maps

wisma_akr

Tampak dari luar

Gedung yang dimiliki oleh salah satu orang terkaya di Indonesia ini, Pak Haryanto Adikoesoemo, tidak selalu buka. Jika ada pameran, dan biasanya diselenggarakan setahun tiga kali, maka museum ini bisa menerima pengunjung.

Harga tanda masuk dibandrol 50 ribu untuk orang dewasa, 40 ribu untuk lansia dan pelajar, sementara anak-anak seharga 30 ribu rupiah. Menurut saya, dengan jumlah item yang dipamerkan pada tanggal 21 April 2019 kemarin, harganya masih terasa cukup mahal, karena menurut saya hanya sedikit yang bisa dilihat.

Museum ini buka dari jam 10 pagi hingga jam 7 malam, Senin tutup. Tiket masuk hanya dijual hingga pukul 6 sore. Berikut ini adalah dokumentasi yang saya ambil waktu ke sana bersama Aila.

Gambar di atas diambil di instalasi karya Yayoi Kusama – Infinity Mirrored Room.

Pengunjung diberi waktu 30 detik untuk mengambil gambar dan mengantri seperti gambar di atas. Memang menarik, tetapi tidak cukup waktu untuk menikmati lebih lama lagi.

Beberapa karya yang dipamerkan lainnya adalah sebagai berikut:

Di dalam ruangan yang lantainya ditutupi oleh daun-daunan ini, pengunjung diminta melepaskan alas kaki sehingga kita seolah-olah bermain di kala kecil tanpa mengenakan sandal.

Di sudut ruangan ada gundukan tanah yang diberi beberapa balon untuk berfoto. Di bagian tengah kanan ada meja yang bisa dipakai pengunjung untuk menggambar di atas kertas dengan stempel dan aksesoris lainnya.

Berfoto dan menggambar

Di bagian lain dari museum ini juga ada pameran miniatur bangunan dari kayu yang meski tidak banyak namun lumayan menarik.

Di lantai atas, saat itu sedang dipamerkan beberapa lukisan dengan ciri khas matanya yang hitam.

Lukisan karya Jeihan Sukmantoro ini dibuat ketika ia tinggal di Cicadas, kawasan timur Bandung. Pelukis yang lahir di tahun 1938 ini jebolan ITB. Lukisan-lukisan ini dipamerkan hingga tanggal 26 Mei 2019, jadi kalian masih sempat untuk melihatnya.

Demikianlah kunjungan singkat saya dan Aila yang cukup penasaran dengan Museum Macan ini. Pada dasarnya karya seni ini cukup menarik untuk disimak, namun dengan sedikitnya materi yang dipamerkan, harga tiket masuknya memang terasa agak mahal. Jika dibandrol 50 persennya mungkin akan lebih menarik minat pengunjung awam untuk menikmati karya seni ini.

Oh ya, di bagian depan museum juga ada toko cenderamata yang menawarkan banyak barang menarik.

Selamat berkunjung dan menikmati karya seni, ya!