Board Game War of the Words Rule Book

In this posting, I will share the War of the Words rule book and a game play sample.

Rule Book Cover
The Background Story
Letter Card – to form a word
Example of playing a word using four Letter Cards

You need 6 coins to purchase F and 2 coins to purchase E or T. If you decide to sell F, get 4 coins from the coins supply. Get 1 coin by selling E or T. If you play FEET, you will get score 4 + 1 + 1 + 1 = 7 victory points. If you can play a word from the mission : FALTER / ELOQUENT / EFFACE / TENABLE, you will get additional score after you calculate the total word score and special card abilities. Those words actually are part of words which is used in SAT (Scholastic Achievement Test) and can be found in this site.

The blank card can substitute any letter, and once pronounced as E it will always be E until you return it to the supply

In above scenario, the score will be 4 + 1 + 0 + 1 = 6 VP.

Card Letters Distribution
Score Tracker
There are 50 Special Cards in total
Coins : to purchase Letter and Special Cards
Playing FEET and TRIPLE WORD SCORE

In above scenario, the score will be (4 + 1 + 1 + 1) x 3 = 21. You may purchase an open Special Card with the cost written on the card, or you may take one randomly from the top of the Special Card deck at cost 5 coins.

Always remember:

  1. Green can be used permanently
  2. Blue and Red can be used only once
  3. You cannot play the same special cards on the same turn (must be unique per turn)

Additional explanations:

Special CardAdditional Information
You may swap one or more letters from the supplyYou may return one or more letters from your hand to the letters deck (bottom) and get the same amount from the top of the deck.
Your adjectives have two more scoreUsing this special card, if you play word HOT, you will get 4 + 1 + 1 + 2 = 9 VP.
You may keep three more lettersWhen you start the game, you can only purchase and keep maximum 6 letters on your hand. With this special card, you may purchase and keep until 9 letters or more if you have more than one special card.
Exchange Letters from two players (up to 5 letters)Two players can be two other players beside you, or you can exchange with another player. Three people A, B, and C. Using this special card, you (A) may exchange letters up to 5 letters belong to B and C. A may exchange with B or C as well.
You may cancel an effect of one special card against youIf another player try to use RED Special Card to you, you can block their effect using this card. Both special cards, the red and the blue must be returned to the bottom of the special card.
Game Setup and Game Play
You may need a paper and pencil to track all the words which have been played or a Mobile Phone (using notes)
Sometimes, you don’t like the letters or special cards in the marketplace. You may refresh those available in the market with new ones with several coins

For two people, try to use 200 total scores. For three or four people, for short game you may decide together to use 100 as winning condition. To play longer, use 300, 400, or 500 instead.

Sample of a 2 people game play (Rayyan and Aila):

  • Rayyan and Aila, each take 5 coins, 3 random letters from the top of letter deck, and 1 special card from special card deck
  • Rayyan has A, T, R and Double Word Score
  • Aila has N, P, A and Get One Letter Free from the Market Place
  • Rayyan purchases ‘P’ from the market place, with 5 coins. X now have A, T, R, and P. Rayyan must end his turn since no coins left and after purchase letters, you cannot play any words
  • Aila plays word : P A N and get 3 + 1 + 1 in total 5 VP. She moves her cube to 5. Aila also use her special card to get T from the market place. She returns the Special Card back to the bottom of SP deck
  • Rayyan plays P A R T and decides to use the Double Word Score and he scores 2 x (4 + 1 + 1 + 1) = 2 x 7 = 14 VP and moves his cube to 14
  • When one of them reaches 200, the game is over and the player who has the highest VP is the winner
Last Page

If you have other questions or any suggestions, please feel free to drop them in the comments below.

Board Game: War of the Words

Hi everybody!

This posting will be dedicated to announce and discuss about my first board game : War of the Words. This game was elected as one of 20 official board games which eligible to be displayed in Essen Spiel 2019 Board Game Yearly Exhibition in Germany.

I will update the components, rule book, and the mechanic of the game soon! Consider this posting as a teaser 🙂

Read the story here.

Menanti Wahana Baru di Dunia Fantasi di Penghujung 2019

Sabtu kemarin saya, istri, dan anak kedua kami berjalan-jalan ke Dunia Fantasi di Taman Impian Jaya Ancol. Theme Park yang sudah saya kunjungi sejak kecil ini selalu membawa kenangan nostalgia, terutama ketika masa kuliah dulu bersama teman sekampus. Acara ini terselenggara atas undangan Dunia Fantasi dalam acara Blogger Day 2019.

Cukup lama saya tidak mengunjungi tempat wisata ini bersama keluarga. Setiap kali saya datang, selalu ada kegembiraan yang terasa bersama keluarga. Bercanda bersama. Makan dan minum bersama. Saling melempar teka-teki sambil mengantri wahana. Hal-hal kecil menggembirakan yang jarang kami rasakan karena saling sibuk dengan kegiatan masing-masing kini menjadi begitu terasa.

Berjalan dari satu wahana ke wahana lain juga menyehatkan badan karena membakar kalori yang selama ini tertumpuk dari kurangnya aktivitas sehari-hari. Jelas sekali bahwa berekreasi ke Dunia Fantasi menyehatkan jasmani dan rohani kita.

Aila dan Mamah berdua

Yang menarik dari kunjungan kami ke Dufan kali ini adalah adanya cluster baru bernama Dunia Kartun, di mana ada beberapa wahana yang tidak bisa digunakan anak-anak, kini ada versi anak-anaknya.

Dunia Kartun Dufan

Yang sudah dibuka sejak Juni 2019 kemarin adalah wahana berikut:

Wahana Dunia Kartun

Yang akan dibuka di akhir tahun ini ada dua, yaitu:

Haunted House dan Fantastique

Yang menarik dari Haunted House:

Haunted Coaster

Konon, akan ada tiga roller coaster berpenumpang 20 orang di Haunted Coaster ini. Wahana dalam ruangan tercepat se-Indonesia ini bakal mengocok adrenalin kita. Tracknya akan terpanjang se-Asia Tenggara. Sepertinya seru banget, dan gak sabar menunggu Desember ini.

Pengalaman kami bertiga kemarin dari pukul 10 pagi hingga pukul 8 malam sangat memuaskan. Tempat sholat dan tempat makan banyak, sehingga meski bermain, kita tetap bisa asyik beribadah dan tidak kelaparan. Simak video keseruan kami kemarin berikut ini.

Video Keseruan Wisnu Family

Ini beberapa foto yang kami abadikan.

Zig Zag alias Bom Bom Car
Turbo Drop
Para Layang
Karavel
Pintu Masuk Karavel
Baling-baling
Ontang-anting

Acara pertunjukan Color of Kingdom yang dekat dengan Hello Kitty show, akan digantikan dengan cerita baru yaitu Magic Unicorn dalam waktu dekat ini.

Color of Kingdom

Selain Dunia Kartun kami juga berbasah ria di Arung Jeram, lagu legendaris di Istana Boneka, menikmati Bianglala melihat Jakarta Utara di malam hari, dan juga serunya Dynamic Motion Simulator yang memutar Mysterious Island.

Di Istana Boneka
Sebelum naik Arung Jeram
Film DMS
Istana Boneka
Indahnya Dufan

In syaa Allah Desember ini kami ingin sekali menjajal keseruan wahana baru Dufan! Yuk ketemuan di sana!

Listrik Gundala (2019) Menyengat Bioskop Nusantara

Semalam menonton Gundala, film tentang superhero Indonesia yang diangkat dari komik karya Harya Suraminata (Hasmi). Film yang dibesut oleh Joko Anwar ini menjadi pembuka waralaba sinematik Jagad Bumi Langit.

Saya mencoba tidak menuliskan hal-hal yang bisa mengganggu Anda yang belum menonton film ini. Meski demikian, untuk pengalaman yang maksimal silakan baca ulasan ini setelah Anda menontonnya.

——————————————————————————

Film dibuka dengan Sancaka kecil yang kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu berdekatan. Sancaka yang akhirnya menjadi gelandangan itu akhirnya menjadi jago bela diri setelah dibantu seorang gelandangan lain yang menolongnya dari kekerasan di jalanan.

Dari kecil, petir sepertinya selalu mengincar Sancaka, sesuatu yang ia takuti namun akhirnya justru menjadi kekuatan dirinya. Ia juga tak pernah bisa hidup tenang bila melihat ketidakadilan di depan matanya.

Musuh bebuyutan Sancaka kali ini adalah Pengkor yang memiliki masa depan kelam. Orang tuanya mati difitnah, rumahnya dibakar, dan ia menjadi cacat karenanya. Pengkor muda terbiasa mengerahkan kawan-kawan sependeritaannya untuk melawan dan membasmi orang-orang yang merundung mereka. Akhirnya ia tumbuh dewasa menjadi mafia yang menguasai kejahatan terorganisasi. Bront Palarae, aktor Malaysia langganan Joko Anwar, memerankan karakter Pengkor dengan baik. Film ini juga menjadi reuninya dengan Tara Basro dan Asmara Abigail sejak Pengabdi Setan.

Masalah nasional timbul ketika Pengkor menyebarkan bencana yang bisa menimbulkan rusaknya generasi yang terlahir dari ibu-ibu yang sedang hamil. Sancaka yang menjadi satpam itu membantu pemerintah yang sedang berusaha mengatasi bencana nasional ini.

Di film ini, superhero wanita yang diperkenalkan adalah Sari Asih yang dibintangi Pevita Pearce. Inilah foto-foto yang menggambarkan rencana besar waralaba Jagad Bumi Langit ini.

Beberapa catatan setelah menonton film ini:

  • Adegan awal film memberikan gambaran yang bagus mengenai Sancaka kecil. Namun jika ditambahkan karakternya ketika remaja dan pra dewasa, akan lebih membuat kita mengenal karakter Sancaka lebih kuat
  • Visual FX yang berjumlah 683 shot memang lumayan. Anggaran sekitar 30 milyar ini ya sesuai lah dengan apa yang didapat. Ingat anggaran Avengers itu trilyunan. Kita tidak bisa membandingkannya karena tidak adil. Masih bisa ditingkatkan lagi kok untuk selanjutnya
  • Akting para pemainnya cukup mumpuni, termasuk adanya tokoh anak-anak yang sudah pintar bermain peran
  • Di bagian tengah banyaknya penjahat asuhan Pengkor agak mengganggu jalan cerita agar tidak terlalu “ramai”. Beberapa penjahat ini kurang berperan besar, malah ada yang mengganggu dan bisa dibuang dari film tanpa filmnya terganggu jalan ceritanya
  • Beberapa humor yang muncul di film juga patut diapresiasi karena menambahkan unsur hiburan
  • Pendekatan aksi laga jarak dekat sudah saya duga akan lebih banyak dipilih Joko Anwar layaknya The Raid yang digarap Gareth Evans. Memang koreografi dan pengambilan gambar adegan laganya tidak segahar The Raid yang berdarah-darah itu. Mungkin juga ini strategi Joko Anwar agar lebih banyak penonton yang bisa menikmatinya di bioskop
  • Secara umum saya menyukai film ini. Saya berikan 8/10 sebagai film pembuka superhero Indonesia ini. Semoga banyak sutradara hebat lain yang mau menyutradarai film lainnya sehingga banyak film berkualitas muncul dengan tonal berbeda namun tetap terintegrasi dan menghibur penontonnya

Selamat menonton film yang berdurasi 123 menit ini, selamat kepada Joko Anwar dan semua kru film Gundala.

Nanjak ke Gunung Munara dan Gunung Gede

Dalam waktu seminggu, saya mendaki dua gunung berbeda. Dua minggu lalu saya mengajak anak yang masih kelas 4 SD untuk trekking ke Situs Gunung Munara di dekat Rumpin. Buat saya dan anak saya yang SMA kelas 2, ini perjalanan kami yang kedua. Perjalanan sebelumnya pernah saya tuliskan di Ekspedisi Gunung Munara. Tapi buat si kecil dan istri, ini adalah pengalaman mereka yang pertama kali. Saya sengaja mengajak si kecil untuk mengenal dunia trekking. Rencana berikutnya akan saya ajak ke gunung lainnya, insya Allah. Perjalanan kali ini juga ditemani oleh Mas Heru, rekan dari sesama pengguna Quora.

Video Perjalanan ke Munara

Alhamdulillah setelah sempat masuk angin karena sarapan seadanya, Aila si kecil, bisa disemangati untuk melanjutkan perjalanan. Kakaknya dan Mas Heru kami persilakan untuk jalan duluan, dan kami menyusul.

Setelah sempat menikmati Pop Mi dan rujak buah, semangat kami bertambah, dan makin semangat jalan menuju puncak. Sungguh menyenangkan bisa kembali ke Situs Gunung Munara ini untuk pemanasan sebelum ke Gunung Gede.

Makan rujak buah segar sekali!
Di puncak bersama istri dan anak

Seminggu berikutnya, saya dan anak pertama, Rayyan, beserta 18 orang lainnya nanjak ke Gunung Gede via Gunung Putri dan turun melalui jalur yang sama. Dulu saya dan teman kantor nanjak via Cibodas dan turun di Putri sekitar beberapa tahun yang lalu. Sekarang baru pertama kali nanjak dari Putri dan lumayan menantang juga jalurnya.

Trailer Perjalanan

Perjalanan dimulai dari Senayan, sekitar pukul 11 malam dengan menggunakan sebuah Elf carteran dan sebuah Grand Max. Penumpang naik Elf, kerilnya diletakkan di Grand Max. Kami tiba di basecamp Gunung Putri (dekat terminal) sekitar pukul 2:30 pagi dini hari karena agak macet yang disebabkan karena ada perbaikan jalan sebelum Puncak.

Sebelum berangkat

Setelah sampai, ada insiden dengan hilangnya dua tas milik dua orang anggota kami. Kami tidak tahu siapa yang mengambilnya, kedua tas ini raib ketika kami baru pada bangun tidur setelah sampai di basecamp. Untung saja teman-teman yang lain bisa meminjamkan semua barang yang hilang dan mereka tetap bisa naik. Di sini memang rasa persahabatan dan kekompakan tim diuji.

Di basecamp

Tidak ada yang berani mandi karena suhu bak mandi sudah seperti es batu mencair. Setelah sarapan yang disediakan Ibu pemilik base camp, kami mulai nanjak sekitar jam 7:45 pagi. Briefing diberikan oleh Oniel dan kami berdoa bersama sebelum bergerak ke Pos 1.

Berdua bersama Rayyan

Enaknya nanjak dari Putri, setiap pos dan pos bayangan ada warung yang menjual Pop Mi, semangka, gorengan, energen, kopi, dan minuman mineral. Tidak perlu takut kehabisan bekal, asal bawa uang secukupnya. Air mineral 600 cc dibandrol 15 ribu, Pop Mi 15 ribu, energen/kopi 7 ribu, dan gorengan unyu 2 ribuan.

Sampai di Surken sudah waktu ashar. Kami disambut kabut yang dingin. Kami berjalan menuju tenda yang sudah disiapkan oleh porter.

Sampai di Surken

Malamnya setelah makan kami tidur, dan bangun pukul 4:30 untuk menuju puncak Gede. Meski masih mengantuk namun kami tetap semangat menuju puncak.

Beramai-ramai berfoto bersama
Gembira di puncak

Suhu yang dingin saya lawan dengan pop mi yang hangat dan tersedia di Puncak Gede 🙂

Sebelum turun kami berfoto bersama dengan seluruh tim.

Berfoto bersama di pagi yang cerah

Alhamdulillah kami sampai di Senayan dengan selamat sekitar pukul 9 malam. Setelah unloading barang-barang, kami berpamitan satu sama lain untuk kembali ke rumah masing-masing.

Gede, kau selalu kami rindu!

Berkemah (lagi) di Curug Cipamingkis dengan Suasana Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman kantor memutuskan untuk berkemah di Curug Cipamingkis. Ada beberapa keluarga yang ikut, total sekitar 30-an orang, dengan berbagai usia. Ini adalah kunjungan kami yang kedua, setelah kunjungan bersama mertua sebelumnya yang pernah saya bahas di artikel tentang Curug Cipamingkis ini dua tahun lalu. Kali ini tiap orang harus membayar 60 ribu rupiah untuk menginap semalam (sewa lahan), berenang di dua kolam renang, dan ke air terjun.

Acara kali ini dihadiri beberapa keluarga teman saya di kantor dan di Quora. Total ada sekitar 30-an orang yang memeriahkan acara kali ini.

Ada banyak perubahan yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Warung tenda yang masih beratapkan kayu kini sudah diganti yang lebih resmi dengan atap baja ringan.

Sebelah kiri, dua tahun lalu, masih terpisah per warung. Kini sudah menyambung dengan toilet umum di tengah

Begini penampakan warung yang terletak di samping water park buat anak-anak.

Warung dan Water Park

Di samping warung dan di tepi sungai, dulu masih bisa mendirikan tenda persis di tepi sungai tanpa harus menyeberang. Sekarang harus menyeberang sungai. Di tempat saya mendirikan tenda kini menjadi lahan parkir berbatu koral yang dipecah-pecah, dan di tepi sungai diberi villa berbentuk tenda dalam tiga warna.

Perbedaan yang cukup signifikan

Berikut penampilan lebih dekat ketiga villa yang berwarna ngejreng dan beratap seperti tenda itu.

Saat kami ke sana, air sungai masih kering karena sudah cukup lama tidak hujan. Meskipun demikian pasokan air untuk mandi dan kolam renang sangat aman.

Sungai dan Jembatan Cinta di Cipamingkis

Saya dan Dony Alpha membawa masing-masing lima tenda untuk dipergunakan kawan lain yang belum memiliki tenda. Tenda berbagai jenis warna dan ukuran semuanya bisa digunakan dengan baik untuk tidur. Mau lihat penampakannya?

Tenda Beramai-ramai dan Keceriaan Anak-anak

Inilah penampakan tenda-tenda kami.

Mau lihat kolam renangnya seperti apa? Nih monggo…

Kolam renang baru di Curug Cipamingkis

Meskipun dingin, tapi lama-lama tubuh kita akan menyesuaikan kok. Saya sendiri sengaja membawa baju renang one piece agar tidak terlalu dingin. Sangat menyenangkan dan bisa mengisi waktu dengan olahraga ketika berkemah di Curug Cipamingkis ini.

Setelah sorenya berenang, malamnya ibu-ibu memasak dan anak-anak menonton film, bermain Nintendo Switch, dan bermain board games.

Menonton film bersama

Ibu-ibu memasak, dipimpin oleh Mbak Sum dari keluarga Ridwan yang sudah terkenal pembuat nasi kebuli enak.

Tenda tidak perlu boring. Dengan sedikit sentuhan lampu, bisa menyegarkan suasana menjadi lebih meriah
Memasak di depan tenda kerlap-kerlip

Bagaimana dengan keseruan lainnya?

Kami juga berfoto di rumah pohon dan air terjun. Secara ringkas, trailer version dari acara ini bisa dilihat di video berikut.

Video Trailer Camping Bareng

Oh ya, meski masih tidak ada sinyal semua provider, tapi ada Wifi di dekat kantor Pos Depan Cipamingkis. Silakan serahkan gadget Anda, nanti password wifinya diisikan 🙂 Gratis kok.

Demikian yang bisa saya sampaikan kali ini mengenai kunjungan kedua ke Curug Cipamingkis. Sangat menyenangkan sekali karena yang ikut sangat ramai dan semua berpartisipasi dalam menyemarakkan acara seru ini. Board game dari Splendor, Exploding Kitten, Donuts for Go Nuts, hingga Werewolf semuanya dimainkan dengan semangat.

Saya merekomendasikan tempat ini untuk berlibur bersama keluarga dan menyatu dengan alam.

5 Alasan Harus Nonton Parasite (2019)

Kemarin pagi saya baca cuitan dari Om Joko Anwar, beliau menyarankan pencinta film untuk menonton film Parasite yang judul aslinya Gisaengchung. Setelah melihat peringkatnya di Rotten Tomatoes mencapai 98% dari sisi kritikus, saya langsung cari bioskop yang memutarnya. Apalagi film ini juga memenangkan film terbaik di Canness Film Festival dengan meraih Palme d’Or.

Film Korea pertama yang meraih penghargaan Palme d’Or

Ternyata Joon-ho Bong yang menyutradarai film ini juga menyutradarai film The Host (2006) yang juga dibintangi aktor yang sama, Kang-ho Song. 13 tahun lalu saya terkesima melihat film Korea dengan visual efek yang ciamik dan cerita yang tidak umum. Dua tiket langsung saya beli di CGV dekat kantor untuk menontonnya bersama istri.

Premis singkatnya:

Ada sebuah keluarga yang hidup miskin, terdiri atas suami istri dan dua anak pra dewasa.

Keluarga Kim yang miskin

Ketika si anak lelaki mendapat kesempatan menjadi guru privat seorang anak dari keluarga kaya raya, ia memikirkan cara bagaimana saudara perempuannya bisa bekerja juga di keluarga tersebut.

Lama-lama mereka sekeluarga merencanakan plot licik agar semuanya bisa bekerja di keluarga kaya itu, dan menjadi parasit yang tak terlihat bagi mereka, terutama para pekerja yang ada agar bisa mereka gantikan. Namun ada sebuah fakta mengejutkan yang bisa menghancurkan rencana keluarga jahat itu.

Ada setidaknya lima alasan, mengapa kamu harus menonton film yang keren ini:

1. Film ini memiliki unsur yang bertolak belakang. Ada komedi dan ada tragedi. Ada kelembutan dan ada kebrutalan. Ada kemiskinan dan ada kemewahan. Ada kesederhanaan dan ada ketamakan. Coba film apa yang pernah kamu tonton yang mengandung tema kontradiksi seperti itu:

2. Komedinya mengocok perut, benar-benar menghibur kita dari awal hingga pertengahan

3. Ketegangan yang muncul di tengah film benar-benar bisa membuat kita berteriak. Sangat menegangkan dan tak dapat diduga sama sekali

4. Film yang sederhana ini benar-benar tak terpikirkan oleh kita idenya. Begitu orisinal dan menyegarkan para pencinta film!

5. Kekuatan akting dari para pemainnya membuat kita begitu percaya dengan pendalaman karakter mereka. Kita akan peduli dengan para tokohnya.

Nah cinephile, tunggu apa lagi? Segera tonton film keren dari Korea ini. Dijamin tak akan mengecewakan!

Poster film Parasite

Saya memberi nilai 8.5/10 untuk film ini!

Inilah trailer dari film Parasite: