Nobar Film Korea Fabricated City di Starium CGV Grand Indonesia

Semalam saya mendapat kesempatan bersama Gilang dari NontonJKT menghadiri Premiere film Korea yang sedang ngehit di negeri ginseng itu. Konon penontonnya sudah mencapai dua juta orang. Angka yang lumayan tinggi, bukan?

fabricated_city_poster

Acara ini diselenggarakan di auditorium terbaru di CGV Grand Indonesia yang sanggup menampung 500 orang. Tempat yang dulunya merupakan SphereX kini berevolusi menjadi Starium yang sudah dilengkapi dengan tata suara Dolby Atmos. Layarnya memiliki sudut pandang terluas dengan ukuran 22.3 x 12.5 meter dengan bentuk melengkung agar tetap memberikan kenyamanan bagi penonton di manapun ia duduk. Auditorium ini jelas head to head dengan IMAX XXI yang memiliki spek serupa.

starium

Film yang berdurasi 126 menit ini akan mulai ditayangkan serentak di CGV mulai tanggal 1 Maret 2017. Jangan lupa cemilan dan cemolan untuk menemani Anda menikmati aksi Ji Chang-wook yang mendebarkan (terutama buat kaum hawa yang gak kuat melihat jagoannya muncul di layar).

img_1189

Film ini sebenarnya idenya sederhana, namun story tellingnya yang menarik, membuat kita  believe dengan premisnya dan menanti adegan selanjutnya. Ji Chang-wook yang dulu bermain di K2 sekarang memainkan peran Kwon Yoo, mantan atlit nasional taekwondo yang sekarang pengangguran. Kegiatannya sehari-hari adalah bermain game online, di mana ia menjadi leader atau sering disebut captain dan selalu membuat tim mereka menang.

jichangwook-cjent-1

Bencana terjadi ketika suatu pagi ia ditangkap di rumahnya dengan tuduhan memperkosa dan membunuh seseorang lengkap dengan berbagai bukti yang meyakinkan. Ia dipenjara seumur hidup di penjara dengan keamanan ekstra ketat. Di penjara ia selalu dipukuli dan dirundung oleh sesama napi di sana. Berhasilkah ia keluar dari penjara untuk membersihkan namanya? Saksikan trailernya berikut ini.

Beberapa hal yang membuat saya menyukai film ini adalah:

  1. Aksi laga dan kebut-kebutannya gak cemen
  2. Sang sutradara pintar memainkan emosi penonton sehingga penonton tetap antusias menanti adegan selanjutnya
  3. Ada humor yang diselipkan di sana-sini sehingga menambah hiburan
  4. Ada adegan mengharukan yang dimainkan dengan baik oleh Chang-wook

fullsizephoto804391

Film ini menunjukkan bahwa film-film Korea tidak kalah dengan film Holywood dari sisi teknologi dan kualitas cerita. Semoga film Indonesia bisa menyusul ke tingkat kemajuan yang sama.

foto-ji-chang-wook-2017

Saya memberikan rating 8/10 untuk film yang menghibur ini. Saksikan di bioskop CGV terdekat Anda, mulai 1 Maret 2017.

#FFKamis-Pemimpin Jagoanku

Img1.jpg

“Kamu mau nyoblos siapa, Run?” tanya Bobi pada Harun.

“Jelas nomor empat lah!” jawab Harun bangga.

“Kenapa? Pemimpin itu harus seiman dengan kita, Run!” tanya Bobi sengit.

“Ya idealnya sih begitu. Tapi kalau ada yang lebih bagus, ada perkecualian lah!”

“Ingat Run, kalau perintah ini saja kamu langgar, bagaimana dengan perintah lainnya!”

“Bukankah sesuatu itu jika tidak diserahkan pada ahlinya hasilnya akan hancur berantakan?”

“Betul, tapi yang nomor satu kan belum tentu tidak ahli? Kita harus berprasangka baik, dong!”

“Pokoknya nomor empat harga mati!!”

“Nomor satu lebih layak!!”

Keesokan harinya mereka tidak tampak di semua TPS karena sibuk saling mencoblos.


Flash Fiction Kamis ini bertemakan PEMIMPIN, dengan tepat 100 buah kata. Gambar dari Pixabay.

#FFKamis – Penyanyi Dangdutku

“Nem, kamu punya koleksi Ridho Rhoma, nggak?” tanya Siti.

“Gak punya, Sit. Idolaku mah cuma penyanyi dangdut sekitaran kampung kita.”

“Ah kamu mah nggak greget! Masak andalanmu cuma penyanyi kelas kampung? Aku punya koleksi Ridho Rhoma, Rita Sugiarto, Inul Daratista, dan Cita Citata di kamarku, Nem. Kapan pun aku ingin mendengar suara mereka, tinggal aku setel pake VCD Player!”

“Sombong kali kau, Sit! Nanti aku tunjukkan koleksiku yang pastinya jauh lebih dahsyat dari punyamu!” gerutu Inem sambil mengeluyur pulang.

Malamnya Inem memandang dengan bahagia koleksi idola kelas kampungnya.

img2“Siti, koleksiku adalah pita suara penyanyi idolaku. VCD? Mana greget?” katanya bangga.


Kisah fiksi ini adalah kontribusi #FFKamis dengan topik IDOLA. Gambar dari Pixabay. Jumlah kata tepat 100 buah kata.

#FfKamis: Tuhan, Jangan Kau Tolong Aku

Dadang memandang ke luar jendela pesawat yang ia naiki. Awan gelap dengan sesekali petir menyambar.

“Mohon sabuk pengaman dikenakan kembali karena cuaca di luar sedang kurang baik.”

Dua pramugari cantik lalu lalang memeriksa sabuk pengaman semua orang.

Tiba-tiba pesawat menukik drastis ke lautan lepas diiringi teriakan para penumpang.

Semua gelap.

Ketika terbangun, Dadang memandang seorang wanita cantik di dekatnya.

“Siapa saja yang selamat?” tanya Dadang perlahan.

“Hanya kita berdua yang beruntung, Pak.”

“Di mana kita berada?”

“Kita terdampar di sebuah pulau terpencil di Samudra Pasifik. Semua penumpang lainnya tewas.”

Dadang berdoa dalam hati semoga tidak ada seorangpun yang menyelamatkan mereka.


___________________

Flash Fiction Kamis ini mengandung tepat 100 kata dengan topik Keberuntungan.

WPC: Repurpose

This week’s challenge is Repurpose.

Show us something that you’ve recycled or repurposed, or an object for which you’ve discovered a clever new use.

This challenge is quite tricky. Not that trivial to find a sample of a repurpose thing, unless you go to a museum or antiques shop.

One day after lunch I went to a supermarket next to my office and find this. I like the idea that I couldn’t resist to take the picture. It was a clock that will most suitable to be placed in a kitchen.

I think it is a smart of repurposing silverware into something else beautiful and smart useful objects, at least in an aesthetical way. Don’t you think?

img_3514

#FFKamis – Om Ultah Om!

Lusa Riana ulang tahun. Aku masih belum tahu hadiah apa yang paling tepat kuberikan kepadanya. Koleksi lingerie Victoria Secret sudah sering aku belikan. iPhone 7 plus dan iPad Mini generasi terbaru juga sudah. Tas jangan ditanya. Itu adalah hadiah tiap bulan. Mengapa sekarang begitu sulit mencari ide hadiah ulang tahun?

img2

Tiba-tiba iPhoneku berbunyi. Riana menelpon.

“Om, lusa kita jadi ketemu di hotel biasa?”

“Tentu jadi, Sayang! Jam 20:00 malam ya?”

“Ok!”

Tiba-tiba iPhoneku berbunyi kembali. Yane menelpon.

“Om, lusa bisa kan menemaniku ke Bandung?”

“Bisa dong, Sayang! Kita berangkat pagi jam 6 ya. Soalnya malam Om ada meeting di Jakarta.”

Huff, nyaris saja!


Kisah fiksi 100 kata ini sebagai kontribusi FFKamis yang sedang berulang tahun yang ke-4. Happy Bday, MFF! Gambar dari Pixabay.

WPC: Graceful

This week’s challenge is Graceful.

I took the pic from a mangrove reservation site in north Jakarta few weeks back.


I took a pray inside a mosque that is built on top of this water. So tranquil, peaceful, and graceful.

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

And We send down from the cloud water abounding in good, then We cause to grow thereby gardens and the grain that is reaped..
Quran : 50: 9.

Jalan-jalan ke Wisata Hutan Bakau di PIK

Wisata ini saya pilih untuk memperkenalkan kepada Aila dan Rayyan ekosistem hutan bakau di Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara. Merekalah generasi muda yang terancam budaya kecanduan gawai dan mager yang harus diajak untuk bergerak dan menikmati alam agar mereka tahu bahwa kelangsungan alam ini ada di tangan mereka. 
Pendidikan tidak hanya cukup dituturkan namun juga perlu dipraktekkan. Kalori terbakar, udara segar memenuhi paru-paru kita, dan kecintaan pada alam sebagai rasa syukur kepada Tuhan bisa bertambah.

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan? 

Bandingkan dengan hijaunya Singapur yang kebanyakan adalah artifisial atau buatan. Jakarta penuh wisata alam yang asri dan asli. Tarifnya juga relatif sangat murah.

Dari Serpong tempat ini berjarak sekitar 30 km dan perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Begitu keluar tol Pantai Indah Kapuk, sekitar lima menit sudah sampai.

Setelah membayar tiket yang cukup murah, kami mampir sejenak untuk sholat Dzuhur di Masjid Al Hikmah.

Masjid yang lantai dan dindingnya serba kayu ini terletak di atas air dan dikelilingi hutan bakau. Sungguh adem dan nyaman sekali.


Saya berjalan memutari masjid ini dan mengambil gambar hutan bakau yang indah.


Setelah shalat kami mengeksplorasi semua tempat di sana sambil berjalan membakar kalori. Para pengunjung di hari Minggu ini cukup ramai. Banyak muda-mudi jaman sekarang yang memanfaatkan untuk berfoto selfie atau sekedar berdua-duaan. Mereka merasa tempat itu adalah milik mereka berdua dan tak peduli terkadang membuat risih pengunjung lainnya.


Gambar di atas diambil di dekat tempat istirahat berpayung warna-warni dan kandang monyet.


Hati-hati bila dekat kandangnya karena ia bisa mengambil hp kita!

Sungguh disayangkan tempat indah ini menarik biaya satu setengah juta rupiah bagi mereka yang membawa kamera DSLR meski tidak untuk photo prewedding. Atur saja sehari maksimal tiga photo prewedding, gratiskan saja. Yang lain bebas membawa kamera DSLR untuk mengambil gambar alam dan photo keluarga. Di sini kita kalah telak dengan Singapur. Di mana saja di luar, kita dibebaskan mengambil gambar.


Wisata air yang tersedia juga cukup merogoh kantung kita. 


Di dekat jembatan kayu masih banyak terlihat sampah botol plastik. Mohon jangan buang sampah sembarangan karena sudah banyak tempat sampah yang disediakan.


Jembatan kayu yang tidak boleh dinaiki lebih dari lima orang ini kadang masih suka dilanggar pengunjung yang datang.


Foto berempat di dekat jembatan kayu.


Tempat menginap berupa vila dari kayu ini juga disewakan untuk pengunjung. Jika ingin merasakan tinggal di tempat dengan nuansa alam jauh dari keramaian, solusi ini bisa dipilih.


Berikut ini adalah peta tempat yang bisa diakses.



Pemandangan di sana cukup indah dan menyejukkan mata kita.



Tempat ini bisa lebih ditingkatkan lagi dari sisi permainan anak, tempat makan tepi hutan bakau yang romantis, dan hal positif lain yang lebih bisa mengajak partisipasi aktif pengunjung daripada sekedar mengambil gambar.

Satu hal positif lainnya adalah wisata kuliner seputar PIK yang beragam dan menarik!

Selamat berwisata, Sobs!

#Prompt 135: Antara Aku, Kau, dan Dia

Namanya Bagus. Kelahiran Semarang. Aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu di sebuah rumah makan. Aku masih bekerja di sana sebagai pramusaji. Ia adalah pelanggan tetapku. Setiap makan siang ia selalu datang sekitar pukul 12:15 siang. Menu kesukaannya adalah soto ayam dan tempe mendoan. Akhirnya aku tertarik padanya.

Kencan pertama kami adalah di Plaza Senayan XXI. Ia mengajakku menonton film romantis. Aku tidak begitu peduli dengan filmnya. Aku hanya teringat betapa lembut kata-katanya. Betapa manis senyumannya. Kokoh genggaman tangannya. Hari terindah hidupku setelah bertahun-tahun tak pernah kurasakan kebaikan seorang lelaki.

Setelah tiga bulan kami berpacaran, Bagus mengajakku ke tepi pantai Ancol. Ia mengajakku menikah di bawah tangan. Lagi-lagi aku hanya tersenyum menuruti sihir sorotan matanya. Ia tidak menjanjikan janji surga seperti kebanyakan lelaki sebelumnya. Hatiku yang kering kerontang sebelum pertemuan kami, kini bagaikan oase yang indah dan bukan sebatas fatamorgana belaka.

Suatu sore, setelah kami bercinta di Hotel Mulia Senayan yang megah itu, ia menawariku pekerjaan. Pekerjaan yang akan membuat kami lebih sering bertemu. Tidak seperti sekarang harus mencuri-curi waktu, karena Bagus sudah berumah tangga. Tapi aku tak peduli. Aku hanya tahu kami saling mencintai satu sama lain. Titik. Dan kini ia menawariku pekerjaan agar aku selalu dekat dengannya. Aku tak peduli dengan besar gaji yang ia tawarkan. Selama kami bisa selalu bertemu, itu sudah lebih dari cukup.

Aku dibawa ke rumahnya di daerah Kemang. Banyak sekali rumah megah kulihat dekat rumahnya. Hatiku berdegup kencang memikirkan pertemuan pertamaku dengan istrinya. Apakah akan terjadi pertumpahan darah? Perang dunia ketiga? Aksi bela rumah tangga? Entahlah. Bagus memintaku untuk tetap tenang dan memintaku berpura-pura bahwa kami tidak saling kenal. Ia juga memintaku berbicara dengan logat Jawa yang kental. Berpura-pura belum lama datang ke Jakarta, tidak ada pengalaman di kota lain, dan seterusnya. Semua permintaannya aku turuti. Demi cinta kami.

“Mah, ini pembantu yang kubicarakan kemarin. Marni adalah tetangga kampung teman sekantorku,” kata Bagus pada istrinya.

“Halo, selamat datang! Saya Fiona,” sambut istrinya dengan senyum hangat. Cantik sekali.

“Saya Marni, dari Pemalang, Bu,” jawabku.

“Saya sudah siapkan kamar di atas untukmu Marni. Anggap saja rumah sendiri ya. Dibetah-betahkan. Kami sungguh berterima kasih atas kesediaan Marni untuk membantu keluarga kami.”

“Baik Bu, terima kasih.”

Aku cukup berhasil menjadi perempuan lugu demi Bagus. Fiona tidak mencurigaiku sama sekali. Kalian tentu bertanya-tanya bagaimana hubungan cinta kami. Bagus mempertahankan hubungan cinta kami hampir tiap malam. Jam setengah dua pagi ia akan naik ke kamarku dan kami melepaskan hasrat kami di sana. Meski hubungan kami hanya sesaat setiap malamnya, itu sudah lebih dari cukup.

Suatu malam Fiona memanggilku dari kamarnya.

“Marni, tolong pijit punggung saya. Sepertinya saya kelelahan.”

“Baik, Bu.”

Kami bercakap-cakap dengan akrab, layaknya dua orang sahabat kental. Dari masalah sinetron, gosip ibu-ibu tetangga, hingga menu masakan sehari-hari.

Tiba-tiba Fiona mencium lembut bibirku. Aku merasa bingung. Ada yang bergetar dalam dadaku. Ada perasaan aneh yang menjalar di seluruh kulitku.

“Teruskan,” tiba-tiba Bagus muncul mengenakan piyama.

love-triangle-494178_1280

Sejak malam itu kami mengeksplorasi cinta bersama. Tidak ada yang tahu. Seluruh dunia hanya tahu, aku adalah Marni, pembantu dari Jawa yang rajin bekerja.


Cerita ini adalah kontribusi untuk Prompt #135, dengan topik Hubungan Sesaat. Jumlah kata tidak lebih dari 500. Gambar dari Pixabay.

 

#FFKamis – Gawaiku Canduku

Sunardi tertawa terbahak-bahak memegang sebuah gawai di tangannya.“Apa yang lucu, Nardi?” tanya Parto di sampingnya.

“Ini.. video bayi di Youtube. Lucu!

Tak lama kemudian Sunardi mengomel.

“Dasar politikus gila. Ustad gila. Pejabat gila. Semua menista sesama.”

“Sabar tho Di. Kok tadi ketawa sekarang marah?”

Tak berapa lama kemudian Sunardi terdiam. Jari-jemarinya asyik memainkan gawai yang dipegangnya. Terdengar suara lucu seperti suara balita.

“I love you. I love you.”

Sunardi terus memainkan candu yang seakan tak bisa lepas dari tangannya.

Berbagai nada lucu terdengar silih berganti.

“Suster, pasien Sunardi sudah minum obat?” tanya Parto pada perawat dekat Sunardi.

“Belum, Dok.”

__________________________

Tulisan fiksi ini dibuat sebagai kontribusi Flash Fiction 100 kata tiap hari Kamis dengan topik minggu ini : Candu.