Category Archives: Ulasan

5 Hal Mengapa Spiderman Homecoming Seru Banget untuk Ditonton

Spiderman ke-6 ini adalah reboot yang kedua dari franchise Spiderman. Setelah tiga Spiderman pertama yang dibesut Sam Raimi sukses besar, film keempatnya batal dipiloti oleh beliau. Kata rumor sih ada ketidakcocokan deadline yang diminta produser sehingga Raimi mengundurkan diri dari kursi sutradara. Walhasil semua kru lainnya ikutan solider dengan Sam Raimi, sehingga akhirnya direboot. Sayang, film berikutnya yang dibintangi Andrew Garfield tidak sesukses sebelumnya. Begitu Marvel diakuisisi Disney dan MCU (Marvel’s Cinematic Universe) sukses besar, maka Avengers ketinggalan Spiderman. Akhirnya Sony yang memegang hak filmnya bekerja sama dengan Disney untuk mereboot dengan tokoh Spiderman baru, tokoh termuda dibandingkan lainnya, yaitu Tom Holland. Hal ini merupakan hal yang bagus karena kontrak Spiderman bisa memakan waktu lebih dari 1 dekade, sehingga Holland yang muda ini masih akan tetap OK memerankan Spiderman bahkan hingga 10 tahun yang akan datang.

Berikut ini mengapa reboot kedua kali Spiderman masih tetap asoy untuk dinikmati para moviegoers, khususnya superhero movies fans (tenang, no major spoiler).

Pertama – Filmnya kocak abis! Dari awal hingga akhir, bahkan hingga dua extra scenes after credit, filmnya masih aja ngocol! Nggak selucu Guardians of Galaxy, tapi lebih lucu sedikit dari Ant Man dan sebelas dua belas dengan Avengers. Nggak konyol juga kaya DeadPool.

Spiderman Homecoming

Kedua – Super Villainnya keren! Michael Keaton yang pernah menjadi Batman dan memerankan tokoh dalam Bird Man, kini benar-benar menjadi manusia burung, Vulture. Gadgetnya malah kelihatan lebih bad ass ketimbang punya  Falcon (Avengers).

Vulture

Ketiga – Kostum Spiderman baru kali dalam sepanjang sejarah Spiderman difilmkan, memiliki fitur paling canggih, thank’s to Mas Tony Stark yang penampakannya kali ini sangat menunjang film Spiderman. Iron Man masih menjadi mentor yang melihat potensi Peter Parker untuk menjadi superhero yang masih mencari jatidirinya.

Spiderman Gadget

Keempat – Manusiawi namun tetap orisinil! Setelah Christopher Nolan membesut trilogi Batman yang dark dan manusiawi, kini film Superhero diarahkan ke sana semua. Spiderman kali ini pun tidak tinggal kalah dibentuk dengan pendekatan yang sama. Bagaimana ABG tiba-tiba punya kekuatan super dan merasa penting, seringkali jadi bumerang dengan tindakannya yang justru menimbulkan masalah. Ia tidak sempurna, banyak kerusakan yang justru dibuatnya alih-alih membuat dunia menjadi lebih baik. Film ini menggambarkannya dengan baik, tanpa bercerita hal yang sama dengan dua seri pendahulunya. Ini yang membuat filmnya terasa fresh, dan tidak membosankan. Bahkan cewek-cewek yang naksir dia juga dibuat semanusiawi mungkin. Terasa believable!

Tom Holland as Spiderman

Kelima – Ada twist tak diduga di sepertiga akhir film. Kejutan ini benar-benar tidak disangka penonton, dan menambah menarik story telling yang dibesut oleh Jon Watts dan juga menjadi co writernya. Film ini juga langsung masuk daftar 245 film terbaik sepanjang sejarah versi IMDB!

Poster

Tips menonton film yang durasinya sekitar 2 jam seperempat:

  • Bawa logistik buat menemani nonton
  • Pipis sebelum masuk bioskop
  • Jangan pulang setelah selesai, karena ada dua extra scenes setelah film berakhir

Film ini saya beri rating 8/10. Recommended! Kalau kamu sudah nonton, ceritakan kesanmu tanpa memberikan spoiler di kolom komentar yaaa…

Hemat Listrik dengan Teknologi

Masih ingat tulisan saya tentang saklar otomatis yang bisa mengontrol kapan harus diputus misal untuk charging hp dsb?

Nah sekarang teknologi untuk lampu luar agar otomatis menyala pada malam hari tidak lagi perlu timer. Sekarang sudah ada fitting lampu yang memiliki sensor cahaya, yang otomatis menyala ketika maghrib dan mati di pagi hari. Solusi ini bisa dipakai ketika mudik lebaran atau keluar kota.

Nah untuk toilet, gunakan lampu dengan sensor gerak. Dia otomatis akan menyala jika gelap dan ada gerakan. 


Keduanya dibandrol sekitar 70 ribuan ketika postingan ini ditulis di Ace Hw.

Semoga bermanfaat.

Review Novel (dan Film) Critical Eleven

Saya tertarik membaca novelnya setelah film ini diputar di bioskop. Sebagai seorang penggemar film, saya lebih suka membaca bukunya terlebih dahulu, lalu langsung nonton filmnya. Film dan novel adalah dua media berbeda, jadi saya tidak suka menghakimi semua film pasti lebih jelek dari bukunya. Menurut saya, tidaklah adil membandingkan kedua media tersebut, karena tidak apple to apple. Saya lebih suka menilai apakah jiwa dari novelnya tersampaikan di filmnya. Ada perbedaan di sana sini wajar, karena kita menonton film yang audio visual, dibandingkan novel yang hanya murni tekstual. Hanya karena tidak seindah imajinasi kita, apa filmnya patut dicaci maki? Nggak fair menurut saya.

Img2

JW Eagan Quotes

Film yang menurut saya cukup baik menggambarkan jiwa novelnya adalah Disclosurenya Michael Chrichton dan Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Yang gagal menurut saya adalah The Chambernya John Grisham. Balik ke Critical Eleven, saya mesti nonton dulu filmnya sebelum bisa berkomentar lebih lanjut. (Updated: saya sudah menonton filmnya, dan menurut saya, filmnya lebih menarik daripada novelnya dari sisi pesan yang ingin disampaikan! Ngambeknya Anya digambarkan secara proporsional dan tidak bertele-tele seperti di novel. Akting Reza Rahardian dan Adinia Wirasti cukup meyakinkan penonton. Latar belakang musik dan sinematografi sangat mendukung, terutama masa-masa di Amerika. Acungan jempol untuk Monty Tiwa yang sukses berat menyutradarai bersama Robert Ronny dan ikut menulis skenarionya. Beberapa penyesuaian cerita dilakukan dari apa yang ada di novelnya, dan membuat filmnya berasa lebih natural dan plausible. 8 skala 10 deh filmnya!).

Novel yang saya beli sampulnya bukan yang pesawat terbang, namun adegan Reza Rahardian memeluk Adinia Wirasti dari belakang di Amerika. Waktu saya intip di bagian awal bukunya, ternyata ini sudah cetakan kedua puluh! Luar biasa. Ini adalah novel Ika Natassa yang pertama saya baca. Novel setebal 335 halaman ini tidak butuh lama untuk membuat saya terus membacanya. Setiap menunggu kereta dan bergelantungan di commuter line saya selalu melahapnya, ditambah waktu malam dan hari libur.

Terus terang, judulnya lumayan catchy. Critical Eleven. Dalam dunia penerbangan, dikenal sebuah istilah yakni Critical Eleven, 11 menit paling kritis di dalam pesawat. Dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing — karena secara statistik, 80% kecelakaan pesawat, umumnya terjadi dalam rentang waktu 11 menit ini.

Di cerita ini, Critical Eleven menggambarkan 11 menit penting di momen pertemuan pertama, di mana 3 menit pertama bersifat kritis karena saat itulah kesan pertama mulai terbentuk, lalu ada 8 menit sebelum berpisah — saat ketika senyum, melihat tindak tanduknya, dan ekspresi wajah orang tersebut, menjadi pertanda apakah itu akan menjadi awal suatu hubungan atau hanya sekadar akhir dari pertemuan tidak ada artinya.

Ale (dalam filmnya diperankan oleh Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta – Sydney. Saat pertemuan terjadi, 3 menit pertama Anya mulai terpikat, 7 jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan dan tawa satu sama lain, sampailah pada 8 menit sebelum berpisah. Sejak pertemuan itu berakhir, dalam hatinya, Ale yakin bahwa dia begitu menginginkan Anya. Dan dari peristiwa berkesan itu, Ale dan Anya menjalin hubungan dan melanjutkannya dalam sebuah mahligai pernikahan.

Kehidupan begitu indah dalam kehidupan mereka berdua, hingga sebuah musibah besar menimpa keluarga kecil mereka. Di titik ini Anya dan Ale diuji kesabaran, komitmen, dan pengorbanan mereka untuk menentukan apakah mitsaqon ghalidzha ini perlu dipertahankan atau disudahi.

Saya merasa bahwa istilah Critical Eleven ini tidak hanya masa sebelas menit yang paling menentukan dalam pertemuan dua orang manusia, namun juga dalam 11 tahun awal pernikahan. Setiap keluarga, memiliki badainya masing-masing. Dan badai terbesar, biasanya diuji dalam masa awal pernikahan. Tiga tahun di awal pernikahan dan delapan tahun berikutnya, biasanya bisa menentukan apakah pernikahannya cukup matang atau rapuh.

Dalam novel ini, cinta Anya dan Ale diuji. Ini masalah komitmen dan masalah apa yang kita butuhkan dalam hidup ini. Ketika masalah terjadi, apakah kita termasuk yang mendiamkannya dan berharap masalahnya beres sendiri, melibatkan orang ketiga, atau bersikap layaknya dua orang dewasa untuk mendiskusikannya dari hati ke hati mencari solusinya bersama.

Penuturan sudut pandang dalam novel ini mengingatkan saya pada novel Pada Sebuah Kapalnya N.H. Dini. Bedanya kalau N.H. Dini membagi sudut pandang tokoh utama lelaki dan wanita dalam dua bagian besar. Bagian awal sudut pandang sang wanita, dan bagian kedua akhir sudut pandang sang pria. Critical Eleven membagi sudut pandangnya secara bergantian. Dalam satu bab, Ika bisa bercerita dalam sudut pandang Anya, Ale, lalu balik ke Anya lagi, dan seterusnya. Terkadang kita bingung, ini yang lagi bicara siapa ya? Anya atau Ale. Pada saat itu saya terpaksa membalik halaman untuk mengetahuinya.

Ika menceritakan kisahnya terkadang menggunakan Bahasa Inggris (bahkan kalimat pertama dalam novel ini dituliskan dalam Bahasa Inggris), which is fine by me, namun ada orang yang memandang sinis : apakah Bahasa Indonesia tidak cukup ekspresif untuk mewakili seluruh penceritaan kisahnya? Menurut saya sah-sah saja, dan terkadang ada istilah yang memang lebih pas ketika diucapkan dalam Bahasa Inggris. Bukannya mau sok-sokan enggres, tapi di samping asyik, kadang lebih pas, karena Bahasa Inggris cukup ekspresif. Dalam beberapa huruf dan kata yang lebih sedikit bisa mewakili padanannya dalam Bahasa Indonesia. Tentu Ika memilih cara seperti ini bukan karena sok enggres dan tidak cinta Bahasa Indonesia. So please, give her a break!

Setiap pengarang memiliki ciri khas dalam bertutur. Saya suka Andrea Hirata karena dia jago mengocok perut pembacanya sekaligus bisa membuat kita menitikkan air mata. Pengalamannya yang luas selama di luar negeri dan kehidupannya yang keras membuatnya kaya dalam bertutur dan mengombang-ambingkan emosi kita. Ika Natassa memiliki wawasan cukup luas, humoris, dan gaul. Ini tergambarkan dalam penuturan kisahnya. Ada banyak one liner atau kutipan yang asyik atau lucu untuk kita resapi dalam hati, kita kenang, kita tertawakan, dan kita amini.

“The best thing for being sad,” replied Merlin, beginning to puff and blow, “is to learn something. That’s the only thing that never fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder of your veins, you may miss your only love, you may see the world about you devastated by evil lunatics, or know your honour trampled in the sewers of baser minds. There is only one thing for it then — to learn. Learn why the world wags and what wags it. (T.H. White)

In life, there are no heroes and villains, only various states of compromise.

In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than anything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that.

I’m starting to speak to myself in the third-person. This is not healthy. (Anya)

Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts. (Albert Einstein)

Membaca novel ini, bagi mereka yang belum menikah bisa mulai membayangkan bahwa pernikahan bukan hanya nikmatnya saja. Tetapi badainya juga hadir satu paket. Dalam hal ini keimanan dan kepercayaan pada Tuhan YME sangatlah penting. Bukan hanya sekedar beriman, namun takwa yang sebenar-benarnya takwa juga penting untuk menghadapi badai ini. Beberapa tokoh dalam cerita, meski muslim, digambarkan minum alkohol dan tidak sholat. Ada review yang mempertanyakan hal ini. Muslim kok digambarkannya tidak begitu taat sih? Menurut saya, justru banyak kok di masyarakat kita yang muslim namun belum menjalankan syariah agama secara benar. Karena mungkin belum cukup belajar agama lebih dalam. Dan ini potret Jakarta dan juga negara kita. Kita ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Ika tidak menulis tokoh yang sangat tinggi akhlaknya, namun mencoba mengambil salah satu contoh yang ada di masyarakat sekarang. Kalau ingin tokohnya sangat baik dalam agama, coba baca novelnya Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy), yang biasanya tokohnya anak pondok, novelnya Mbak Helvy Tiana Rosa, dsb.

Novel ini agak terasa bertele-tele di bagian 2/3 menjelang berakhir. Penderitaan tokoh utama kok sepertinya berlarut-larut dan tidak kunjung dicari solusinya. Mungkin Ika merasa jika terlalu mudah konfliknya terasa ringan dan terlalu mudah untuk diceritakan. Namun efeknya adalah jika kompleksitasnya tidak rumit, malah seperti dibuat-buat dan bikin pembacanya geregetan. Mungkin kalau masalahnya dibuat lebih rumit dan berpotensi menimbulkan simalakama, akan lebih bisa diterima pembaca.

Kesimpulannya, secara keseluruhan saya menyukai novelnya. Akan lebih menarik jika kompleksitas masalah agak ditambah atau novelnya lebih diringkas. Saya akan mencoba membaca novel lain karangan Ika untuk lebih mengenal signaturenya.

Saya memberi nilai 7.5 skala 10. Cocok buat jomblo yang mau (baca: sudah kepengen banget) nikah (agar punya bayangan kalau nantinya gak jomblo lagi dan menikah), mereka yang sudah berumah tangga, maupun yang mengenang rumah tangganya. Membaca novel ini membuat saya ingin berbuat lebih untuk pasangan saya di rumah, bahwa cinta itu harus selalu dipupuk, jangan hanya take it for granted. Pernikahan adalah komitmen, komunikasi sangatlah penting dalam menyelesaikan masalah. Eskalasi kepada Tuhan YME juga sangat krusial agar kita tidak merasa dunia mau kiamat.

Terkadang, kita tidak pernah tahu bahwa kita memiliki sesuatu sampai kita kehilangannya.

 

Review Kumpulan Cerpen DUNIA SUKAB

Sudah lama sekali saya baru bisa menyelesaikan sebuah buku. Padahal ada beberapa buku yang saya beli, namun selalu terhenti di tengah jalan. Penyebabnya ada beberapa. Di antaranya:
– kehilangan motivasi karena merasa kok tulisannya tidak seperti yang diharapkan
– beli bukunya dulu mungkin karena lapar mata
– gangguan telepon pintar, saking pintarnya membuat kita semakin bodoh. Baru mau melanjutkan sudah buka Facebook. Youtube. Whatsapp. Google. Dari bangun tidur, ke kamar mandi, sarapan, di Gojek menuju stasiun, menunggu kereta, gelantungan di kereta, di Gojek ke kantor, di sela-sela jam kantor, makan siang, pas di Gojek ke stasiun, menunggu kereta, gelantungan di kereta, di Gojek ke rumah, di kamar mandi, sambil makan malam, dan sebelum tidur. Coba bayangkan! Terus kapan bisa bacanya???

Ada yang senasib dengan saya? Ayo ngaku! Hahaha.. Saya sepertinya menderita penyakit nomophobia. Akhirnya saya bertekad mengurangi melirik iPhone, terutama di stasiun dan di kereta. Di manapun bisa membaca dengan enak, harus dipaksakan untuk membaca. Menyelesaikan yang dulu telah dimulai. Dan saat ini yang saya selesaikan adalah kumpulan cerpen salah satu cerpenis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma.

Img2

Dari mana saya kenal tulisan beliau? Ceritanya begini. Almarhum ayah saya yang meninggal dunia empat tahun lalu, dulu adalah pelanggan Kompas yang setia. Saya paling suka dengan Kompas Minggu karena ada TTS dan cerpennya. Setiap kali saya baca tulisan beliau, saya suka. Dia terkadang pandai bermain mild twist dan sering menulis simbolisasi akan kehidupan sosial yang terjadi di Indonesia. Cerpennya banyak yang berisi kritikan sosial atau protes atau sekedar menggambarkan apa yang ia rasakan dalam melihat carut marutnya dunia Indonesia, politik, dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Siapa itu Sukab? Baca nih asal-usul kenapa Sukab begitu melegenda.

Tanpa membawa-bawa teori, saya menjadi geli, karena tokoh fiktif ini rupa-rupanya lebih eksis ketimbang banyak manusia beneran, yang berdarah dan berdaging, tapi kehadiranya tidak pernah eksistensial, sehingga kemungkinan besar tidak pernah diperbincangkan oleh siapapun dalam konteks apapun seumur hidupnya. Padahal, dalam fiksi pun sukab bukanlah nama seorang tokoh. Sukab hanyalah sembarang nama yang saya pasangkan kepada setiap tokoh, sekedar karena saya malas “mengarang”, menyesuai-nyesuaikan nama dengan karakter tokoh supaya meyakinkan, dan lain sebagainya. Setiap kali saya kesulitan mencari nama, saya pasang saja nama Sukab. “Toh sama-sama fiktif ini,” pikir saya, “kenapa harus susah-susah cari nama?”

Membaca cerpen Seno, kita akan merasakan pekikan suara kritikan wong cilik, yang menembus penjuru tanah air, bukan melalui demo dan kekerasan, namun dalam bentuk sastra. Ia akan menghunjam batin dan nurani kita, sehingga kita bisa mulai untuk bergerak. Mulai untuk bersikap. Atau bahkan mulai untuk bertindak. Itulah kekuatan pikiran, rasa, dan tulisan Seno. Hati yang peka, nurani yang halus, akan merasakan ketidakadilan, keputusasaan, kesewenang-wenangan, dan pemberontakan yang diungkapkan Seno melalui karakter yang ia ciptakan. Salah satu bunglonnya ya itu, Sukab.

Kumpulan cerpen setebal 230 halaman ini berisi tiga bagian:
– Dunia Sukab 1 (delapan cerpen)
– Dunia Sukab 2 (enam cerpen)
– Dunia Sukab 3 (tiga cerpen).

Cerpen-cerpen itu pernah dipublikasikan dalam berbagai harian maupun majalah yang terentang dari tahun 1985 hingga tahun 2014. Kejadian kerusuhan 1998, di mana saya juga merasakannya, diwakili oleh cerpen-cerpen yang ditulis Seno seputar kejadian itu. Penyiksaan orang yang salah tangkap yang dulu jadi trend, ikut menjadi salah satu tema cerpennya.

Buat kamu yang suka cerpen, terutama penuh dengan kritik sosial politik, saya rekomendasikan untuk membaca buku ini!

Saya memberikan 8 skala 10.

Berkemah di Situ Gunung

Halo, outdoor lovers! Kali ini saya akan berbagi pengalaman berkemah di tempat baru buat kami, di Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Seperti biasa saya akan ndongeng, cerita ngalor-ngidul selama kami melakukan perjalanan, so bear with me aja lah ya.

Oh ya, buat kalian yang baru pertama kali mampir dan pengen kepo pengalaman berkemah saya sebelumnya, monggo dibaca di pranala berikut ini:
1. Ranca Upas Ciwidey, Bandung,
2. Sukamantri, Bogor
3. Gunung Lembu, Purwakarta
4. Cipamingkis, Bogor
5. Guci, Tegal
6. Tambang Ayam, Anyer
7. Cidahu, Sukabumi

Berangkat dari Serpong hari Jum’at (12 Mei 2017) sekitar jam 11 siang. Akhirnya berhenti untuk sholat Jum’at dan makan siang dulu di Masjid Al Madinah sebelah Rumah Sehat Dompet Dhuafa di daerah Parung, Bogor. Masjidnya bagus, cukup luas dengan bentuk memanjang, dan toiletnya wangi banget! Ah keputusan tepat untuk singgah dan sholat di masjid ini.

Kami berangkat meninggalkan masjid untuk menuju Sukabumi sekitar pukul 2 siang. Berhenti untuk sholat ashar, sholat maghrib, dan makan nasi goreng kambing dengan total istirahat sekitar dua jam. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 8 malam. Itu berarti total di jalan dari Parung ke Sukabumi sekitar 4 jam, sudah termasuk kemacetan di beberapa titik di Sukabumi.

Buat kamu-kamu yang males kena macet atau tidak ada kendaraan pribadi, saya sarankan bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Paledang Bogor yang berdekatan dengan Stasiun Bogor. Ada kereta ekonomi AC dan juga eksekutif Pangrango. Turun saja di Stasiun Cisaat, lalu sewa angkot ke lokasi. Memang kalau berkemah rempong ala kami agar ribet juga kalau sewa angkot. Bawaannya banyak. Tenda tidur dua (salah satunya turbo tent yang segede gaban), satu tenda payung untuk masak, flysheet, alas tenda, dua kompor, dua kasur pompa, bantal, selimut, jaket, pakaian ganti, berbagai bahan makanan seperti kentang, mie, sosis, roti, dan alat makan seperti mangkok, piring, gelas, dan sebagainya. Lebih cocok backpackeran kalau mau naik kereta api.

Img4.jpg

Kereta Pangrango

Nah karena sampai di sana sudah malam dan banyak perabotan yang kami bawa, akhirnya kami putuskan malam itu tidak langsung berkemah di area wisata. Untungnya, sekitar 10 meter sebelum pintu masuk ada penginapan, Villa Cemara. Dari salah satu teman pencinta outdoor, kabarnya villa ini pemiliknya cukup ramah (Ibu Tuti), dan memang benar adanya. Buat kalian yang ingin menikmati indahnya Situ Gunung dan Curug Sawer tanpa ingin berkemah, bisa memilih untuk menginap di sini. Saya sarankan untuk booking sebelum datang, karena bisa saja penuh. Untung saja waktu itu kami masih mendapatkan dua kamar kosong di rumah bata. Dua kamar kosong yang tersisa berisi masing-masing tiga dan dua tempat tidur dengan kamar mandi di dalam. Air panas tersedia lho. Biaya menginap di kamar dengan tiga tempat tidur pada malam itu adalah 500 ribu semalam dan yang dua kamar 300 ribu semalam. Karena kami berlima bersama asisten RT, saya mengambil kedua kamar itu, agar kata anak pertama kami, saya dan istri bisa mendapatkan quality time. Hahaha.. dasar bocah kelas 2 SMP sekarang udah ngerti aja.. Sebenarnya bisa sih kami menginap dalam 1 kamar berlima dengan menggelar kasur pompa, namun ya itu.. saya dan istri tidak bisa mendapatkan “quality time”. 

Kebetulan kami juga membawa Wifi Portable dengan Kartu XL dengan kekuatan sinyal yang sangat kuat. Maklum saja di dekat situ ada tower XL. Sinyal Telkomsel kurang begitu kuat di daerah Situ Gunung. Jadi malam itu kami tetap bisa berkomunikasi dengan Whatsapp secara nyaman.

Pagi setelah sarapan kami bersiap-siap dengan memasukkan semua perabotan lenong ke dalam mobil, lalu pergi ke tempat wisata.

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM

Ini tiket masuk di pintu gerbang

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.26 AM

Tarif sesuai Peraturan Pemerintah RI

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM (1)

Nah, tarif 29 ribu, namun kami bayar 35 ribu

Meski bandrol tertulis 29 ribu rupiah, namun kami diharuskan membayar 35 ribu rupiah dengan alasan untuk uang kebersihan dan sebagainya. Well, baiklah. Kami berlima hanya empat yang harus bayar, Aila yang masih kelas 1 SD gratis.

Setelah urusan administrasi beres, kami segera bergegas menuju danau. Dari pintu gerbang jaraknya sekitar 700 meter. Bisa naik ojek ke sana, namun kami memutuskan untuk berjalan kaki membakar kalori sambil menikmati sejuknya alam.

Perjalanan menuju danau berbatu-batu seperti terlihat pada gambar di atas. Anak saya yang kelas 1 SD sangat menikmati perjalanan dan tidak memberatkan dia sama sekali.

Begitu sampai di danau, kami semua takjub akan keindahan alam ciptaan Ilahi. Begitu sempurna.

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.38.38 AM

Ada rakit yang bisa digunakan dengan tarif 15 ribu per orang

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.38.36 AM

Mentari baru saja naik dari peraduannya – begitu indah dipandang mata

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.20.13 AM (1)

Pepohonan begitu menghijau tampak asri dipandang mata

Ada toilet dekat danau, jadi jangan kuatir kalau nature calls semua aman 🙂 Warung makanan dan gorengan juga banyak. Termasuk cinderamata juga dijual di situ. Oh  ya dilarang berkemah di sekitar danau. Jangan coba-coba kalau tidak mau diusir hehehe..

Pada awalnya saya berpikir, kenapa sih gak boleh bikin tenda dekat danau? Kan viewnya bagus. Setelah dipikirkan kembali, bayangkan jika ada 100 tenda yang ada di sekitar danau. Maka bila ada yang pagi-pagi sakit perut dan toilet penuh, maka akan banyak ditemui ranjau di rumput dekat danau. Ini sangat mengesalkan bila kamu menginjaknya, kan? Belum lagi kalau malamnya membakar api unggun, maka bekas sisa pembakaran akan mengotori daerah dekat danau. Keputusan yang baik juga sih kalau dipikir-pikir.

Oh ya, gambar di atas ada gambar Pak Miftah, orang tua yang mengenakan ikat kepala. Dia yang mengoperasikan rakit bambu dengan tarif 15 ribu per orang. Kalau mengambil foto di atas rakitnya, kasihlah barang sedikit uang untuk keluarganya.

Nah, pulangnya kami mengambil mobil di Vila Cemara, lalu memarkir mobil di dalam tempat wisata untuk mendirikan tenda. Kalau tidak salah ada sekitar 5 atau 6 camping ground dengan 6 pintu toilet untuk tiap lokasinya. Lahannya bukan luas seperti di Ranca Upas atau di Sukamantri, namun bertingkat-tingkat atau berterasering. Berikut ini adalah penampakan tenda yang kami buat.

Kami membawa dua kasur pompa sehingga punggung tidak sakit. Dingin-dingin empuk hehehe.. Kalau mau pasang listrik, tinggal bayar 100 ribu, dapat lampu penerangan, dan extension. Saya sendiri bawa beberapa kabel extension termasuk lampu USB. Kalau malas masak, bisa order dari warung bawah. Kalau kesulitan membawa perabotan, ada porter kok.

Saya mendapat bantuan dari Mas Yandi yang bisa dihubungi di 0856-60-99-77-17. Silakan hubungi dia kalau mau berkunjung ke Situ Gunung, dia akan bantu semuanya. Saya sangat terbantukan dengan pelayanan dia selama di sana. Mau pisang goreng panas di pagi hari, tinggal SMS, langsung datang. Mau api unggun, tinggal sms, udah tersedia. Asyik deh, berasa di hotel bintang semilyar hehehe..

WhatsApp Image 2017-05-23 at 4.00.27 PM

Yandi – 0858-6099-7717

Ada makanan apa aja sih di sana? Banyak kok. Jangan kuatir. Seblak, karedok, nasgor, pisgorcokju, dsb.

Malamnya kami makan malam dan membaca buku ditemani api unggun.

WhatsApp Image 2017-05-23 at 4.16.40 PM

Suasana sangat hening, syahdu, dan ada kesempatan untuk menjalin hubungan dengan anggota keluarga. Tidak hanya mal, mal, dan mal.

Pagi harinya, setelah packing, kami mengunjungi wisata air terjun Curug Sawer yang jauhnya sekitar 2 km. Jalannya naik turun, menantang buat mereka yang tidak pernah olah raga. Tapi tenang saja, jika malas jalan dan keringetan, ada jasa ojek sampai ke air terjun seharga 35 ribu per orang. Kalau kami memilih jalan ke sana sambil menikmati udara segar dari pepohonan yang menghijau. Kalau bisa pakai sepatu outdoor agar tidak lecet kena batu.

situgunung-71

Gimana? Udah ngebet belum wisata ke Situ Gunung? Asyik yaaa..

Gini. Kalau alasan gak punya tenda, bisa sewa, bisa pinjam.
Kalau alasan gak punya mobil atau takut macet, bisa naik kereta. Tol langsung ke Sukabumi sedang digarap. Jangan kuatir ya.
Kalau gak suka berkemah tapi ingin ke sana, bisa nginap di villa.
Kalau gak mau nginep, bisa datang pagi sekali, pulang sore. Tapi disarankan menginap, karena danau itu cakep banget pas sunrise.
Tips:

  • Usahakan menginap, minimal semalam
  • Suhu tidak terlalu dingin, tidak membawa jaket hangat tidak apa-apa. Selimut tetap lah
  • Tidak ada nyamuk, namun membawa lotion anti nyamuk bisa berguna untuk mengusir hewan atau serangga kecil lain
  • Warung banyak, mau masak sendiri bisa, mau makan di warung bisa
  • Pakai sepatu hiking lebih asyik daripada pakai sendal jepit ke air terjun
  • Bawa kamera, karena pemandangannya ciamik

Have fun ya!

Review Film The Hatton Garden Job (2017) aka One Last Heist

Film ini sedang tayang di CGV dengan judul One Last Heist. Pada awalnya cukup membingungkan karena ketika saya cari di IMDB film ini tidak ditemukan! Ternyata masuk ke Indonesia filmnya berganti judul. Hal ini memang kerap terjadi kok. Misalnya film terbaru dari franchise Pirates of Caribbean di Amerika lebih dikenal dengan Dead Man Tell No Tales, sementara di Indonesia populer dengan Salazar’s Revenge.
Film yang berdurasi 93 menit ini dibuat berdasarkan kisah nyata perampokan dengan nilai terbesar sepanjang sejarah Inggris, sekitar 200 juta poundsterling. Yang menjadi pusat perhatian masyarakat pada perampokan yang terjadi di April 2015 ini adalah para pelakunya yang sudah uzur. Empat perampok uzur yang ditemani seorang perampok muda bekerja sama untuk mengejar renjana mereka, membobol bank sekali lagi sebelum mati. Alih-alih bertaubat, mereka justru bergairah dengan adrenalin dan kesempatan untuk membobol bank sekali lagi. Jangan ditiru ya pembaca! Boleh tiru semangatnya, namun bukan pada kejahatannya.
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.01 PM.png
Film yang disutradarai oleh Ronnie Thompson ini sebenarnya menawarkan premis thriller yang menarik, namun porsi terbesar justru pada persiapan perampokan, bukan pada perampokan itu sendiri. Beberapa adegan dalam film mengundang tawa penonton dengan humor khas Inggris.
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.15 PM
Ada beberapa hal yang kalau kita pikirkan bisa kita bawa pulang:
1. Untuk melakukan prestasi yang hebat, usia bukanlah halangan
2. Dalam merencanakan sesuatu, rencanakanlah dengan matang. Jika perlu buat beberapa rencana cadangan, jika rencana utama mengalami kendala
3. Hargailah orang yang lebih tua, karena mereka menjalani hidup lebih lama daripada kita dengan segala pengalamannya
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.41 PM
Berikut ini adalah para pelaku aslinya:
Screen Shot 2017-05-20 at 7.59.44 PM
Dan yang ini adalah trailernya:
Selamat menonton!

5 Alasan Kudu Nonton Guardians of Galaxy Vol. 2 dan The Autopsy of Jane Doe

Akhirnya setelah menunggu sekitar tiga tahun, sekuel Guardians of Galaxy tayang juga dengan sukses dan lumayan heboh. Film ini bukan sekedar film superhero biasa. Pada intinya apa yang dijual di Fast Furious 8, di sini juga menjadi tema sentral, yaitu KELUARGA.

Alasan kenapa kamu harus nonton film ini, adalah:

  1. Ada REUNI KELUARGA. Ada anak yang bertemu dengan ayah kandungnya, dan ada yang bertemu dengan saudaranya, ada juga yang tadinya dianggap penjahat namun dikenang sebagai orang yang terdekat dalam hidupnya.
  2. Lagu-lagu klasik yang menghiasi film ini sangat keren dan enak dinikmati, terutama Fathers and Son karya Yusuf Islam yang dulu dikenal sebagai Cat Stevens. Adegannya sangat pas diiringi lagu ini. Mengharukan.
  3. Humornya benar-benar nonstop dari awal hingga akhir. Siapkan perut kamu agar tidak kram selama nonton!
  4. Visual FXnya dijamin keren abis. Delapan perusahaan visual FX dikerahkan untuk mengerjakan semua visual FX yang keren abis. Lihat saja Groot yang jadi super unyu di film ini setelah berkorban di film pertama.
  5. Ada bonus adegan tambahan setelah film berakhir. Ada L I M A. Jangan buru-buru pulang yaa..

James Gunn sebagai sutradara berhasil dengan baik mengolah emosi penonton, dari bahagia, tercengang, hingga sedih. Semua digabungkan dengan pas dan tidak membosankan. Alurnya cepat, penonton dibuat menunggu dan penasaran dengan adegan berikutnya.

Saya menonton film ini hingga 3 kali di bioskop, sekali karena dapat tiket gratis 🙂

Filmnya panjang, jangan lupa bawa cemilan dan cemolan sebelum nonton ya!

Naaaah… sekarang kita ngomongin film horor. Buat kamu pencinta film horor, The Autopsy of Jane Doe jangan dilewatkan. Nih coba lihat trailernya:

Ceritanya, ada pembunuhan di sebuah rumah, dengan empat jenazah. Tiga ditemukan tewas secara brutal, satu ditemukan telanjang bulat tanpa luka terkubur setengah badan di lantai dasar. Nah Tommy yang diperankan Brian Cox (Red, X-Men 2) dan anaknya Austin yang diperankan Emile Hirsch (Into the Wild, Milk) mendapatkan kiriman jenazah wanita tak dikenal yang kalau di sini disebut si Fulanah, di sana dikenal dengan Jane Doe.

Mulanya autopsi berjalan dengan lancar di rumah mereka yang memang dilengkapi fasilitas krematorium dan autopsi ini. Namun berbagai keanehan muncul dan meneror mereka. Apakah mereka berhasil mencari tahu siapa gerangan si Jane Doe itu?

Film ini berhasil membuat para penonton merasa ngeri dengan suasana ruangan autopsi itu sendiri. Bayangkan kalian berada di rumah besar, di ruangan bawah tanahnya ada ruang autopsi, hanya berdua saja mengautopsi jenazah di dalam keadaan hujan badai di luar sana. Penonton selalu  dibuat penasaran apa lagi yang akan muncul berikutnya..

Sangat fresh idenya, tidak boleh dilewatkan buat pencinta horor. Visual FXnya bagus, membuat kita bergidik dan ngeri melihat proses autopsinya. Musiknya begitu mencekam, sangat cocok dengan adegannya yang membuat kita mengkeret di kursi.

Beda banget deh sama Conjuring dan Insidious! 8/10 aku kasih.

8 Alasan Kamu Wajib Nonton Fast Furious 8

Setelah dua tahun lamanya sejak Fast Furious 7 yang membawa keharuan buat para penggemar Mas Paul Walker yang meninggalkan dunia karena musibah kecelakaan, banyak yang berspekulasi franchise Fast Furious akan berakhir. Banyak penggemar FF yang merasa bahwa tanpa Paul Walker, FF adalah sayur asem tanpa kuah. Vin Diesel kacang polongnya, Paul Walker yang nyegerin. Bagaikan rawon tanpa kluweknya. Bagaikan bubur ayam tanpa ayamnya. Lah ini malah ngomongin makanan. Intinya ya wahai pembaca yang budiman, tanpa Paul Walker mau ngapain lagi sih? Ini udah TUJUH lohhh… udah banyak. Mau ngapain lagi? Si Paul udah tiada, mau maksa? Itu bayangan beberapa penggemar FF, khususon saya sendiri. Udahlah gaes, cukup yaa…

Dan setelah duka itu berakhir, semangat untuk meneruskan franchise terus menyala..

Pas screening, Mas Vin berujar:

“I just want you to know, there wasn’t a second we made this movie, not a minute . . . not a day that went by that we weren’t thinking about our brother Pablo and how to bring him into the movie and how to represent him and to make something that he will be proud of,” he said. “Pablo, I hope you are proud tonight.”

Mbak Michele Rodriguez juga melemparkan pernyataan berikut ini:

She was saying : it was incredibly difficult filming without him. “I think that’s a big reason why we went dark on this one and why it’s not all fun and games,” she said. “But at the end of the day, the big picture of it all is that this has become a global monster that’s kind of letting in the 99 percent through the backdoor into Hollywood that never really created anything for them in the action-movie realm.” She added, “It was hard to move on without him. He is the essence of why we were excited to come on board because he kept that childhood excitement about that realm and following through in what we were doing. He’s a big part of the family, but at the end of the day, we have a big responsibility, and it’s a global one so we gotta keep on trucking.”

Ketika saya melihat trailernya diluncurkan, saya agak terkesiap kaget. Wheladalah.. kok kayaknya seru nih.. Coba tengok video berikut yang sudah dilirik lebih dari 16 juta kali…

Nah inilah 8 alasan kamu wajib nonton Fast and Furious 8: The Fate of the Furious

1 – Adegan laganya EDAN-EDANAN

Kapan lagi melihat mobil dihajar wrecking ball segede gaban di jalanan? Kapan lagi lihat hujan mobil dari gedung bertingkat? Kapan lagi lihat mobil kejar-kejaran dengan KAPAL SELAM? Ini bukan pempek yaaa.. KAPAL SELAM BENERAAAAN…

Img6

2 – Adegan laga berebut simpati antara Statham dan The Rock yang banyak ditunggu penggemar, kembali hadir! Mereka saling ngeledek, membuat bahagia penonton yang ngakak di beberapa adegan.

Img7

Deckard: Do you really believe you can beat me in a straight-up old fashioned fist fight?

Hobbs: Let me tell you something. Me and you. One on one. No one else around. I will beat your ass like a Cherokee drum.

Deckard: Maybe one day we’ll find out.

Hobbs: Oh, you better hope that day never comes.

3 – Antagonisnya diperankan wanita cantik peraih Oscar, Charlize Theron!

Img8

Nah lo! Ngapain Dom nyium dia??? Gimana Letty? Gak ngamuk tuh? Eittss.. nonton sendiri yaaa biar tahu jawabannya!

4 – Roman, yang diperankan Tyrese Gibson, kembali ngocol dan bikin film jadi segar!

Img9

5 – Untuk pertama kalinya dalam sejarah franchise FF, Dom melawan timnya sendiri

Img10

Kata kunci Dom adalah FAMILY. Bagaimana mungkin dia meninggalkan keluarganya sendiri? Bagaimana mungkin sang pemimpin mengkhianati yang dipimpinnya? WHY OH WHY?

6 – Ada DUA pemeran GAME of THRONE yang ikut dalam pesta aksi kali ini. Masih ingat, kan?

Img11

sama siapa lagi?

Img12

Lumayan, GoT membawa rezeki buat para pemainnya. Gak nonton Game of Throne? Nonton gih!

7 – Sutradaranya sangat menjanjikan!

Mas F. Gary Gray ini bukan sembarangan orang loh! Dia pernah menyutradarai film The Italian Job, A Man Apart, dan The Negotiator! Ia juga pernah bekerja sama dengan Vin Diesel, Statham, Charlize Theron, dan Dwayne Johnson! Chemistry mereka sudah lama terbangun dan ini menjamin proyek mereka berjalan dengan mulus. Enam penghargaan pernah dia sabet, sebagian besar sebagai Best Director. Jadi, yakin aja film ini gak kacangan!

Img13

8 – Ada satu tambahan anggota keluarga yang bergabung dengan Dom Family. Siapa dia? The cutest role, ever! Penasaran? Tonton yaaa di bioskop kesayangan Anda!

Tips:
– Pipis sebelum nonton. Filmnya panjang. Adegannya seru. Jangan sampai terlambat atau kehilangan adegan. Pipis di toilet, jangan pake pispot.
– Bawa logistik yang cukup. 2 jam 16 menit tanpa minum, cemilan, atau cemolan, bakal bikin garing.
– Tidak ada adegan tambahan setelah film berakhir. Jadi kalau gak doyan membaca semua kru yang berjasa dalam pembuatan film ini, langsung pulang aja. Jangan nginep.
– Film ini ada adegan ciumannya, sebaiknya jangan membawa anak kecil. Apalagi anak tetangga.
– Kalau ada adegan lucu, ketawanya jangan kenceng-kenceng. Kasihan sebelahnya. Eh tapi aku ngakaknya juga kenceng ding.. gak papa deh.. xixixi

Met nonton yaaaa!

5 Hal Positif dari film The Last Word (2017)

Nonton film ini semalam atas undangan dari Mbak Angela Ponggeng, Movie Distribution and Marketing Indonesia Entertainment Group di CGV Grand Indonesia. Saya sangat senang mendapat kesempatan menonton film yang berisi harta karun. Harta apa sih? Pesan moral yang bagus, yang bisa memotivasi diri kita agar lebih baik. Ada banyak jenis film, dari yang hanya buat seru-seruan gak ada isinya, tapi menghibur, sampai ke film yang bisa memberikan pencerahan hidup kita. Kamu tipe apa? Penikmat film asal “rame”, atau bisa menerima segala macam bentuk film yang beragam? Saya sendiri suka hampir semua genre film. Bring it on. Semakin aneh, semakin unik, semakin nge-twist, saya makin suka.

Img2

Film The Last Word termasuk film yang bila kita serius nikmati, akan membawa pesan yang sangat-sangat dalam. Film ini menceritakan tentang Harriet Lauler (diperankan Shirley MacLaine, saudara perempuan Warren Beatty), seorang wanita usia lanjut yang sempat meraih kesuksesan sebagai pebisnis di bidang periklanan yang kesepian. Ia mencoba bunuh diri dengan pendekatan OD, namun gagal. Ketika anggurnya tumpah di meja makan membasahi koran, tak sengaja ia melihat tulisan obituari orang lain yang baru meninggal. Ia membayangkan dirinya yang mati, namun ia tak dapat menemukan hal-hal positif yang dapat dituliskan untuknya. Akhirnya ia mencoba meminta Anne Sherman (diperankan Amanda Seyfried), wartawan “Bristol Gazette”, yang biasa menulis obituari, untuk menuliskan obituarinya selagi ia masih bernafas!

Img3

Ternyata menuliskan obituari buat seseorang yang masih hidup macam Harriet yang control freak dan menyebalkan ini bukan pekerjaan trivial. Dari mantan suami, kolega, anak, dan semua temannya tidak ada yang memberikan komentar positif akan kehidupan Harriet.

Dari sinilah titik balik kehidupan Harriet dimulai. Ia tahu bahwa obituari yang bagus harus berisi tentang kenangan indah keluarga dan koleganya terhadap dirinya. Ia juga harus punya pengaruh positif dalam kehidupan seseorang dan ia harus punya sesuatu yang positif yang menggambarkan dirinya untuk dikenang selamanya. Nah di sinilah kita harus belajar. Usia seseorang tak pernah kita ketahui. Kita tak tahu kapan harus pergi meninggalkan dunia ini. Obituari apakah yang kita inginkan orang tulis ketika kita meninggal nanti? This is the very JLEB moment for each of us. Kita mau dikenang sebagai orang yang baik? Jahat? Tidak amanah? Menyebalkan? Adakah legacy yang kita tinggalkan buat masyarakat? Adakah ilmu yang bermanfaat? Banyakkah manfaat kita buat sesama? Film bergenre drama komedi ini seakan menampar kita, woy sampai detik ini kamu nyebelin apa ngangenin sih orangnya? Apakah kamu mau menunggu jadi renta baru mau taubat?

Img4

Harriet akhirnya mendapatkan realita pahit sebagai titik tolak dalam hidupnya untuk mencoba mengisi sisa hidupnya dengan kenangan yang indah. Berhasilkah dia untuk mendapatkannya di akhir hidupnya? Ataukah justru dia semakin terpuruk dan tenggelam dalam kesinisan perangainya?

Film dengan durasi 108 menit ini tidak hanya menampilkan sisi drama, namun juga komedi. Beberapa adegan akan membuat kita terbahak atau tersenyum dan seakan sesekali menertawakan diri kita sendiri.

Ada setidaknya 5 hal positif yang bisa saya bawa pulang setelah menonton film ini:

1 – Jangan takut mengambil resiko

Salah satu favorit quotes dalam film ini adalah:

“Are you willing to take a risk to do something stupid?”  …. or…..

“Are you willing to take a risk to do something great?”

2 – Hidup adalah saat kita menuliskan cerita yang akan dibaca orang lain ketika kita mati kelak

Tuliskan jalan cerita hidup kita sepositif mungkin, mulai sekarang, jangan menunggu tua.

3 – Beranilah untuk gagal

Jangan takut gagal, karena dari kegagalan kita belajar. Belajar menjadi lebih baik, belajar mencari cara lain untuk mencapai mimpi kita, dan belajar keluar dari zona nyaman.

4 – Bersikaplah santun kepada sesama

Mengumpat dan berkata yang buruk akan menimbulkan aura negatif. Berkata sopan dan baik lebih mulia untuk menyampaikan hal yang sama daripada memilih kata-kata kotor yang menyakiti orang lain.

5 – Pada akhirnya, bukan harta yang membuat kita bahagia, namun orang terdekat kita, yaitu keluarga

Harriet mencoba bunuh diri di usia tua jauh dari suami dan anak kandungnya. Semua terjadi karena pilihan hidupnya. Akankah kita membiarkan kita berlaku semaunya asal kita happy? Mentang-mentang : ini diri saya kok. Saya ya emang begini. Ini alasan saja sebenarnya agar kita tidak mengubah tingkah laku buruk kita. Jangan dong ah. Kalau buruk ya kita perbaiki. Bisa kok, meski sulit di awalnya.

Saksikan film yang tayang di CGV dan Cinemaxx mulai Rabu depan, 19 April 2017, sebagai tontonan alternatif selain film seru yang  mulai tayang pada hari ini, The Fate of The Furious. Film horor asyik, film kebut-kebutan juga asyik. Tapi hidup kita bukan cuma yang asyik-asyik. Kita butuh pencerahan dalam hidup, untuk meningkatkan kualitas hidup kita.

Selamat menonton!

Review Film Labuan Hati

Semalam kami mendapatkan kesempatan untuk nobar film terbaru Lola Amaria, Labuan Hati. Terima kasih kepada Gilang dari NontonJKT atas undangan nontonnya.


Film ini menawarkan pemandangan spektakuler baik di dataran tinggi maupun di bawah laut di kawasan Labuan Bajo, NTT. Namun sayang konflik yang ditulis Titien Wattimena kurang plausible, cenderung dipaksakan. Kita ingat film 5 cm dulu memang dibuat untuk mengenalkan keindahan Gunung Semeru, namun cerita dan konfliknya mengalir renyah untuk diikuti. Film ini jelas terlihat untuk mempopulerkan wisata di Labuan Bajo, namun cerita yang ditempelkan cenderung memaksakan. Konflik di antara ketiga wanita yang baru bertemu demi seorang lelaki diving master terasa kurang masuk akal.
Layakkah untuk ditonton? Jelas. Jangan terlalu fokus dengan ceritanya. Lihat pemandangan alam yang digeber spektakuler. Alam yang ditunjukkan begitu mengagumkan. Tidak mengherankan Labuan Bajo menjadi lirikan turis lokal maupun mancanegara. Saya harus membuat rencana ke sana nih.. Amazing!


Gambar dari Lepirate.com

Ramon yang bermain sebagai Mahesa sang Dive Master menunjukkan latihan intensifnya untuk menurunkan berat badan dan mengambil sertifikasi menyelam yang lebih tinggi membuat iri penonton.


Gambar dari Bintang.com

Dari sisi akting, Kelly Tandiono (Bia) bermain lebih natural daripada Nadine Chandrawinata (Indi) dan Ully Triani (Maria).
Dari sisi sudut pandang saya sebagai lelaki, Nadine jelas keluar sebagai pemenang (subyektif ini mah) wkwkwkwk..
Overall 6.8 / 10.