Category Archives: Ulasan

Camping di TNGP Cibodas

Minggu lalu kami sekeluarga pergi berkemah di Cibodas Golf Camping Ground dekat Cimacan. Lokasinya setelah Puncak Pass kalau dari Jakarta. Kalau mau ke sini pakai angkutan umum, naik saja elf atau bis dari Bogor, arah Cianjur. Nanti tinggal turun di pertigaan Cibodas, naik angkot sekitar 2 km ke Taman Nasional Gede Pangrango.

Img7

Ridwan, teman saya sekantor juga membawa keluarganya untuk camping bersama. Winny Marlina, teman blogger lama, ikutan bersama juga. Sayang dua temannya tidak bisa ikutan karena ada aktivitas dadakan terkait pekerjaan.

Ini kali ketiga saya datang ke TNGP. Pertama kali bersama rekan-rekan sekantor untuk mendaki Gunung Gede sekitar empat tahun silam. Yang kedua, tadinya mau naik ke Pangrango namun karena ada sesuatu hal, kami hanya trekking ke Curug Cibeureum sekitar dua tahun yang lalu. Nah kali ini kami membawa keluarga, dan ingin mengenalkan indahnya kawasan TNGP Cibodas, sambil camping dan trekking ke air terjun Cibeureum.

Berkemah di Cibodas Golf Camping Ground sangat direkomendasikan. Mengapa?

Read the rest of this entry

Iklan

Review Film Pengabdi Setan (2017)

Impian Joko Anwar untuk membesut film Pengabdi Setan puluhan tahun silam tercapai sudah. Inilah film horor yang menginspirasikan dirinya untuk membuat film. Sutradara yang terkenal dengan Pintu Terlarangnya ini merayu Rapi Film yang memiliki hak ciptanya agar diperkenankan menjadi sutradaranya. Akhirnya film yang juga dibiayai oleh CJ Entertainment ini tayang juga di bioskop.

Beberapa teman saya mengatakan, film asli Pengabdi Setan yang dibintangi Ruth Pelupessy dan HM Damsjik dulu adalah salah satu film menakutkan di masa kecil mereka. Saya sendiri sudah menonton versi lamanya dan penasaran dengan versi Joko Anwar ini.

Dibandingkan film dulunya, film yang dibesut Mas Joko ini cukup berbeda. Meski intinya sama namun beberapa detail diubah, termasuk ada twist ending di film ini, tipikal Joko Anwar. Lebih kurang konon ada setidaknya 9 hal yang berbeda antara film dulu dengan remake-nya ini. Apa saja? Ah nanti malah spoiler. Pokoknya kalau kamu dulu sudah pernah nonton, jangan takut bosen nonton filmnya karena bedaaaaaaaa…

Kisahnya sebenernya sederhana. Ada sebuah keluarga muslim yang jauh dari ajaran agama, terdiri dari sepasang suami istri dan empat orang anak. Sang Ibu sedang sakit keras, dan beberapa anggota keluarga sering menjumpai penampakan di kamar ibunya. Ketika ibunya meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan, masalah mereka justru semakin bertambah pelik. Teror makhlus halus yang menyerupai ibunya muncul terus-menerus. Berhasilkah mereka melawan makhluk gaib ini? Saksikan sendiri ya di bioskop kesayangan Anda!

Img1

Terus terang saya menyukai film ini. Bahkan ini film Joko Anwar yang paling menarik menurut saya. Castingnya penuh wajah segar tapi aktingnya bagus-bagus! Menurut Joko Anwar, castingnya gak sembarangan. Tiap karakter memiliki 30-40 orang kandidat. Hasilnya memang terlihat luar biasa. Anak-anak keluarga itu, dari yang remaja sampai ke yang paling kecil, mainnya bagus dan natural. Endi Arfian yang blasteran Jawa Jerman bisa memerankan peran untuk usianya dengan pas.

Img2

Adik yang paling bungsu yang paling nggemesin. Mainnya natural sekali. Namanya M. Adhiyat. Baru kelas 1 SD tapi sudah main film dengan bagus.

Img3

Dari sisi setting dan properti semuanya dibuat sesuai jamannya di tahun 80-an. Sangat teliti dan rinci, seperti kostum, gaya rambut, aksesoris rumah, dan transportasi umumnya.

Faktor horornya sendiri ada setidaknya dua jump scares yang membuat saya berteriak di bioskop. Karakter dan pendalaman cerita dibeberkan perlahan dan kengerian dibangun dari awal hingga puncaknya. Joko Anwar terlihat sangat serius dan bisa dibilang cukup berhasil membuat penonton ketakutan.

Meskipun film ini wajib ditonton bagi mereka para pencinta horor, film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Ada beberapa plot hole yang tampak di sana-sini dan ending yang terlalu luas untuk diinterpretasikan, kecuali sebagai sinyal akan adanya sequel.

Dua anak bungsu keluarga ini yang diperankan oleh Nasar Annuz dan M. Adhiyat bisa menghidupkan film dengan baik

Secara overall saya beri nilai 8/10. Puas!! Lebih seram dari Gerbang Neraka dan Jaelangkung yang dibesut Mantovani.

Review Film Firegate a.k.a Gerbang Neraka

Rizal Mantovani kembali menghasilkan film horor berbalut petualangan dalam film yang ia besut, yang berjudul Firegate atau Gerbang Neraka. Film ini terlihat dibuat dengan cukup ambisius dari jajaran pemain utamanya, Reza Rahadian (Habibie dan Ainun), Julie Estelle (Headshot), dan Dwi Sasono (Pocong) – serta aktor gaek yang sedang naik daun, Ray Sahetapy (The Raid). Penggunaan bintang tenar dan digunakannya CGI di banyak adegan, menunjukkan keseriusan Rizal dengan film yang mulai digarap di 2016 tahun lalu, sekaligus harapan mendulang rupiah dalam pemasukan tiket.

Img1

Jajaran pemain dan kreator – sumber Bintang.com

Ide ceritanya sendiri bukan semata-mata fiksi, namun dari penelitian arkaelogi yang benar-benar terjadi di situs Gunung Padang, Cianjur. Temuan sementara tim yang dipimpin Danny Hilman Natawidjaja, geolog di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, itu menunjukkan bahwa Gunung Padang adalah selimut yang menutupi sebuah bangunan tempat pemujaan purba berupa punden berundak. Punden itu terkubur akibat suatu bencana besar yang melumat penduduknya.

Jelas sekali film ini berusaha tidak mengekor dengan film horor yang banyak beredar di pasaran, yang biasanya mengandalkan legenda urban masyarakat atau tipikal rumah berhantu yang biasa jadi andalan film horor barat besutan James Wan. Rizal, dalam sebuah wawancara dengan Kompas menegaskan hal ini.

“Kami dapat inspirasinya dari Gunung Padang di Jawa Barat, itu adalah sebuah situs (berbentuk piramida) yang masih ditutup oleh pohon-pohon, tapi sejak sepuluh tahun yang lalu ini sudah mulai dilakukan penyelidikan,” ucap Rizal.

“Setelah dicek ternyata ada bangunan di dalam ini (Gunung Padang) ini secara fakta. Diambil sampelnya ternyata disitu ditemukan benda-benda dan bahan-bahan buatan manusia, jadi bukan alami, setelah dicek oleh tim arkeologi Indonesia, ternyata itu lama sekali, akhirnya cek di Amerika, itu ternyata sangat tua sekali, bahkan lebih tua dari Piramida Mesir,” tambahnya menjelaskan.

Film Gerbang Neraka atau Firegate ini berkisah tentang Tomo Gunadi (Reza Rahadian) seorang wartawan tabloid mistis yang ditugaskan meliput Piramida Gunung Padang.  Tomo yang tadinya memandang sebelah mata akhirnya harus bekerja sama dengan paranormal bernama Guntur Samudra (Dwi Sasono) dalam mengungkapkan misteri situs tersebut.

Arni Kumalasari (Julie Estelle) kepala tim arkeologi yang ditunjuk Presiden Indonesia, setelah profesor Theo Wirawan mengalami kematian misterus, pada awalnya menolak kehadiran serta bantuan dari Tomo maupun Guntur. Arni yang selalu percaya dengan ilmu pengetahuan dan menolak segala sesuatu yang berbau klenik akhirnya harus mengakui bahwa terlalu banyak kejadian mistis yang terjadi di situs itu yang membawa korban jiwa.

Pada saat ketiganya menemukan fakta bahwa piramida ini adalah ‘penjara’ untuk sebuah kekuatan kuno yang bisa menghancurkan dunia. Mau tidak mau ketiga orang yang mempunyai latar belakang dan tujuan berbeda ini harus bekerjasama untuk mencegah malapetaka sebelum terlambat.

Img3

Dari sisi akting, Reza jelas sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia bermain prima seperti biasanya sebagai seorang wartawan bagus yang kehilangan idealismenya, dan mengejar berita semata-mata demi uang. Julie Estelle bermain agak kaku dan kurang luwes sebagai seorang ilmuwan yang tidak percaya dunia klenik. Dwi Sasono dengan gaya khasnya, menjadi paranormal yang memiliki ilmu kanuragan, tanpa kehilangan sense of humor, seperti yang biasa ia perankan di film lainnya.

Dari sisi cerita, masih banyak yang bisa diperkuat sebenarnya. Jika dibandingkan The Mummy-nya Brendan Frasser, sangat jelas apa yang diingkan Mummy ketika bangkit. Mengapa mummy membunuhi korbannya, dan seterusnya, penonton diajak menikmati tanpa harus menerka-nerka mengapa begini dan mengapa begitu. Juga dari sisi penyelesaian, terasa sang aktor tahu begitu saja bagaimana mengakhiri potensi bencananya, tanpa rujukan apapun, tidak seperti The Mummy, yang merujuk pada buku suci yang ditemukan.

Dari sisi spesial FX, masih perlu suntikan dana agar semua tampak natural dan tidak terlalu terlihat fake.

Img4.jpg

Namun demikian, film garapan Legacy Pictures ini patut diacungi jempol karena mencoba tampil beda dan tidak mau membebek film lainnya yang hanya itu-itu saja dalam dunia horor. Ke depannya, kualitas cerita dan story telling, ditambah CGI yang mumpuni akan membuat film kita tidak kalah dengan film buatan luar negeri.

Saya memberi nilai 7 skala 10 secara umum, selamat menikmati di bioskop kesayangan Anda, mulai 20 September 2017.

Review Film Escape Room (2017)

IEG kembali hadir menayangkan film terbaru di CGV dan Cinemaxx di Jakarta dengan film berjudul Escape Room. Film yang dibesut oleh Will Wernick ini berdurasi 81 menit.

Img1

Ceritanya cukup sederhana, namun menegangkan. Enam sahabat setelah merayakan pesta ulang tahun salah satu dari mereka, mencoba permainan baru yang membuat penasaran. Mereka ditantang untuk masuk ke sebuah ruangan, tanpa boleh membawa handphone dan dompet, memecahkan teka-teki agar bisa keluar dari ruangan.

Img2

Pada awalnya mereka dituntun ke dalam ruangan dalam keadaan ditutup matanya dengan kain. Setelah mereka membuka tutup mata, mereka terbagi dalam beberapa kamar terpisah, ada yang sendiri, ada juga yang berpasangan. Kecerdasan mereka dituntut agar dapat memecahkan semua teka-teki dalam waktu 1 jam.

Escape-Room-movie

Ketegangan tiba-tiba memuncak setelah satu demi satu mereka mendapatkan ajalnya dengan mengenaskan. Berhasilkah mereka keluar dari ruangan yang misterius itu? Ataukah kesemuanya terpaksa harus menyerahkan nyawa dengan sia-sia?

Film ini sebenarnya sangat menjanjikan begitu mereka berada dalam ruangan yang terisolasi. Penonton dipaksa terpaku dan merasakan ketegangan yang mereka rasakan dalam memecahkan masalah sambil bertahan hidup. Agak disayangkan di bagian akhir film ini terasa agak dipaksakan dan terburu-buru. Seandainya endingnya dibuat lebih jelas, film ini akan menjadi film suspence thriller yang cukup enak dinikmati.

Karena ada adegan kekerasan dan ciuman, sebaiknya hanya ditonton bagi yang usianya minimal 17 tahun. Jangan bawa anak di bawah umur ya, gaes!

Yang jelas, film ini membuat saya ingin mencoba Escape Room yang sudah mulai menjamur di Jakarta.

Beranikah Anda mencoba?

Edit:

Akhirnya saya mencoba Escape Room Pandora di Teraskota BSD. Seru juga ya permainannya! Dalam waktu satu jam kita diharuskan memecahkan beberapa teka-teki agar bisa keluar dengan sukses.

Wisata ke Keraton Solo dan Candi Borobudur

Setelah mengalami hari yang penuh petualangan dan silaturahim, paginya kami check out dari hotel untuk mengeksplorasi Solo sebelum mengunjungi Yogyakarta.

Kuliner pilihan kami sebelum ke Yogya adalah soto langganan Pak Jokowi, Soto Gading. Judulnya penasaran hehehe. Seistimewa apakah sotonya. Buat saya, rasanya biasa saja, mirip soto Kudus yang biasa saya santap dekat Blok M. Beginilah penampakannya.

Setelah makan soto, kami mengunjungi Keraton Solo sebelum ke Jogja. Untuk ke sana harus mengenakan sepatu. Jika mengenakan sandal harus dilepas. Jadi kami nyeker masuk ke sana hahaha..

Banyak pohon rindang di pelataran keraton, sehingga lumayan memberikan kesan adem. Mungkin di sinilah para raja berkejaran dengan para selirnya di kala senggang. Sungguh romantis membayangkannya. Seandainya saya yang jadi raja, maka… tiba-tiba lamunan saya sirna berada di dekat istri. Memang ini kejadian magis hahaha..

Di dalam museum di sekitar keraton banyak terdapat pusaka dan senjata yang dipamerkan. Kereta kuda dan gendongan buat permaisuri juga ada. Di beberapa tempat aura mistis dan bau debu terasa mendominasi atmosfir ruangan. Bisa dibayangkan jika berada di sini antara jam 12 malam hingga pukul 4 pagi, berpakaian serba hitam, tanpa alas kaki, berjalan sendiri ambil menyentuh berbagai ornamen benda yang dipamerkan. Musik Conjuring dinyalakan dari smartphone sambil membakar dupa. Berapa kira-kira peluang kita akan menjumpai sesuatu yang gaib? Hiiiy….

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sambil mendengarkan video klip Yogyakarta dari KLA Project, saya mengarahkan Waze ke hotel kami akan menginap di daerah Kaliurang. Sampai di hotel sekitar waktu maghrib. Setelah check in, kami beristirahat sejenak setelah mandi dan sholat. Saya buka Foursquare untuk mencari tempat makanan di sekitar hotel yang peringkatnya cukup tinggi. Ada beberapa alternatif makanan, dan akhirnya kami memilih Crabbys, secara kami berempat suka dengan seafood.

Terus terang harganya lumayan terjangkau, misal jika dibandingkan Holy Crab di Jakarta yang harganya selangit. Tapi cara masaknya mirip, ala Louisiana atau Cajun. Cuma kami lebih suka bumbu tradisional, macam saos padang atau asam manis. Yang paling suka adalah kepiting asap yang makannya dibungkus daun. Well, ini masalah selera sih. Untuk balik lagi kayaknya enggak, bukan karena kapok, tetapi ya itu, lebih suka asap atau tradisional. Bumbunya lebih nendang di lidah kami.

Setelah makan, sebelum ke hotel kami mencoba mampir ke Malioboro pas malam minggu, dan rupanya keputusan yang cukup keliru, karena macet luar biasa. Kami cuma berharap bisa segera pergi dari jalan itu, tanpa sempat berhenti, karena Malioboro jadi lautan manusia. It is a big big no deh bawa mobil sama keluarga pas malam minggu.

Keesokan harinya kami check out dan segera menuju Borobudur. Di tengah perjalanan kami mampir di sebuah warung kecil, dengan nama Soto Pojok, yang ternyata luar biasa enak dan murah di daerah Muntilan. 10 skala 10! Puas dan nikmat! Brongkos dan Sotonya amazing. Tempe mendoannya uenak banget!!

Tidak jauh dari sini kami sampai di Borobodur. Akan banyak sekali penjual cindera mata dan kaos yang menawarkan barang dagangan begitu kita turun mobil. Saran saya, jangan beli kaos di awal. Beli kaos ketika pulang, karena lebih murah! Gunakan topi dan kacamata bila hari terik.

IMG_4990

Berikut ini sedikit movie di Borobudur:

Ini kali kedua saya menginjakkan kaki ke Candi Borobudur. Sebelumnya duluuuu banget pas waktu SD. Sengaja ke sini ingin melihat perubahan yang ada, misalnya adanya museum di sekitar candi. Mengajak anak-anak ke sini agar mereka mengetahui kekayaan budaya nasional, tidak hanya dari buku IPS. Ke Singapura dan Malaysia sudah, masa ke Borobudur yang notabene warisan nenek moyang negeri sendiri kok belum.

Dari Borobudur kami mampir kembali ke Simpang Lima Semarang untuk bertemu dengan teman SD saya dulu, Eko. Sungguh senang perjalanan yang singkat ini bisa bersilaturahim dengan banyak teman dan saudara. Sebelum kembali ke Jakarta, kami singgah ke Tegal terlebih dahulu.

Perjalanan singkat ini membawa banyak kesan yang mendalam buat anggota keluarga. Saya ingin menekankan pentingnya silaturahim dan menghargai kekayaan budaya bangsa.

Ada tips dan pengalaman di Jawa? Bagi dong di komen bawah ini..

 

 

 

Jalan-jalan ke Jawa Tengah

Sekitar 10 Agustus 2017 silam, kami sekeluarga pulang kampung ke Tegal untuk mengantar Mom berangkat ke tanah suci via embarkasi Solo. Kebetulan, seorang sepupu dari almarhum ayahku juga minta dibawakan laptop yang dibeli di Jakarta via Tokopedia. Ya sudah, sekali merengkuh dayung, tiga hari capeknya gak ilang-ilang. Hehehe.. Maksudnya sekali jalan, dapat kesempatan silaturahim juga, secara belum pernah bertemu secara langsung dengan mereka.

Img1

Perjalanan menuju Tegal cukup lancar, meski tol Cikampek masih banyak pembangunan. Sampai di Tegal pagi hari, aku langsung bobo membayar tidur yang kurang semalaman.

Sorenya acara pelepasan para calon jemaah haji dari desa kampung halaman, dimulai. Alhamdulillah begitu banyak yang berdatangan ke rumah Mom untuk mendoakan beliau. Semoga beliau menjadi hajjah mabruroh… aamiin Yaa Rabb..

DGRH9602.jpg

Setelah berdoa bersama di masjid bersama segenap pengurus masjid, warga setempat, dan keluarga calon jemaah haji, kami semua berangkat ke Kantor Pemda Kab. Tegal di Slawi untuk berangkat dengan bus bersama-sama sesuai kloter masing-masing.

AYMU2288

Setelah selesai mengantar Mom di pendopo kabupaten, kami berempat melanjutkan perjalanan dari Slawi ke Tegal, sebelum mengarah ke Solo. Seperti ritual setiap mudik, mencicipi kuliner di Warung Senggol dekat Masjid Agung Tegal tidak dilupakan.

GRTV2630

Sate Kambing Muda yang Maknyuss

LCCG5964

Sup Kaki Kambing yang AMAZING

Read the rest of this entry

Mengetuk Nurani Melalui Film Drone (2017)

Film terbaru yang diimpor Indonesia Entertainment Group berjudul Drone yang dibintangi oleh Sean Bean (Lord of The Rings, Game of Throne). Film ini mengingatkan pada film serupa, Eye in the Sky (Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman). Meskipun temponya tidak secepat Eye in the Sky, Drone tetap mengingatkan kita akan arti kemanusiaan.

drone.jpg

Drone di kedua film di atas bukanlah drone yang menyenangkan. Kita mungkin sehari-hari familiar dengan drone untuk mengambil video atau foto kegiatan outdoor. Drone dalam film ini digunakan untuk memantau dan jika perlu membunuh sasaran tertentu, baik akan mencelakai orang tidak berdosa di sekitarnya atau tidak. Para korban tak berdosa yang sering disebut collateral damage, membuat kita berpikir, sesungguhnya kita tengah mencegah korban jiwa yang lebih besar dengan cara yang baik atau tidak. Teroris sering berkilah bahwa korban sipil yang terjadi akibat aksi mereka adalah collateral damage, demi menghentikan kezhaliman yang lebih besar. Di sini kita bertanya, sebenarnya pelaku penembak dengan drone ini berprinsip sama dengan teroris atau tidak? Jika untuk mengatasnamakan pembasmian teroris lalu memakan korban rakyat jelata yang tak berdosa, maka apakah kita tidak sekejam teroris itu sendiri? Mengapa kita tidak mengambil langkah yang lebih jantan? Tantang langsung, dan usir yang tidak berkepentingan, agar tidak menjadi korban tak berdosa.

drone_control

Sean Bean berperan sebagai seorang kontraktor CIA yang mengendalikan drone untuk menjadi algojo dari jarak jauh. Cukup mengendalikan joy stick dan kamera resolusi tinggi, siapapun yang harus mati, akan dibumihanguskan dari jarak jauh, dari ruangan berAC, kursi empuk, dan kantor yang nyaman.

Bagaimana apabila rudal yang kita tembakkan secara tidak sengaja, membunuh orang yang tak bersalah? Apa perasaan kita, kalau korban tak berdosanya adalah anak atau pasangan hidup kita? Paginya masih bercengkerama, sorenya hanya menemukan serpihan tubuhnya?

Img3

Bagaimana apabila korbannya anak sekaligus pasangan kita, dan kita tahu siapa yang melakukannya? Akankah kita akan membalas dendam kesumat ini secara penumpahan darah ataukah menghancurkan kehidupan rumah tangganya seperti halnya dengan pelaku yang menghancurkan kehidupan kita?

Img5

Sean Bean yang berperan sebagai Neil Wistin bermain sangat bagus dan menjiwai perannya sebagai pilot drone, yang akan jauh lebih memukau seandainya saja deretan para penulis dan sutradaranya, Jason Borque, membuat cerita yang lebih ringkas sebelum klimaksnya datang. Bagian introduksi tokoh antagonis berjalan cukup lambat, dan agak membuat penonton geregetan, kapan ketegangan itu tiba. Konflik rumah tangga yang dihadapi Wistin juga kurang bisa digali akhirnya akan ke mana.

Pembaca yang budiman, jika Anda adalah orang yang bertugas menekan tombol neraka di bumi, dan berpotensi membunuh manusia tak bersalah, akankah Anda melakukan hal ini atas nama perlindungan terhadap kemanusiaan?

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Film seperti Eye in the Sky dan Drone adalah film yang mencoba mengingatkan sisi kemanusiaan kita, akankah kita bertindak menghalalkan segala cara asalkan tujuan kita benar? Boleh merampok asal untuk memberi makan keluarga? Film ini menyindir kehidupan kita, agar kita berani jujur terhadap diri sendiri dan nurani, apakah kita sedang menegakkan kebenaran, atau justru menumbuhsuburkan dendam yang akhirnya kontraproduktif dengan tujuan kita mencegah terorisme.

Selamat menonton dan berkontemplasi!

5 Hal Mengapa Spiderman Homecoming Seru Banget untuk Ditonton

Spiderman ke-6 ini adalah reboot yang kedua dari franchise Spiderman. Setelah tiga Spiderman pertama yang dibesut Sam Raimi sukses besar, film keempatnya batal dipiloti oleh beliau. Kata rumor sih ada ketidakcocokan deadline yang diminta produser sehingga Raimi mengundurkan diri dari kursi sutradara. Walhasil semua kru lainnya ikutan solider dengan Sam Raimi, sehingga akhirnya direboot. Sayang, film berikutnya yang dibintangi Andrew Garfield tidak sesukses sebelumnya. Begitu Marvel diakuisisi Disney dan MCU (Marvel’s Cinematic Universe) sukses besar, maka Avengers ketinggalan Spiderman. Akhirnya Sony yang memegang hak filmnya bekerja sama dengan Disney untuk mereboot dengan tokoh Spiderman baru, tokoh termuda dibandingkan lainnya, yaitu Tom Holland. Hal ini merupakan hal yang bagus karena kontrak Spiderman bisa memakan waktu lebih dari 1 dekade, sehingga Holland yang muda ini masih akan tetap OK memerankan Spiderman bahkan hingga 10 tahun yang akan datang.

Berikut ini mengapa reboot kedua kali Spiderman masih tetap asoy untuk dinikmati para moviegoers, khususnya superhero movies fans (tenang, no major spoiler).

Pertama – Filmnya kocak abis! Dari awal hingga akhir, bahkan hingga dua extra scenes after credit, filmnya masih aja ngocol! Nggak selucu Guardians of Galaxy, tapi lebih lucu sedikit dari Ant Man dan sebelas dua belas dengan Avengers. Nggak konyol juga kaya DeadPool.

Spiderman Homecoming

Kedua – Super Villainnya keren! Michael Keaton yang pernah menjadi Batman dan memerankan tokoh dalam Bird Man, kini benar-benar menjadi manusia burung, Vulture. Gadgetnya malah kelihatan lebih bad ass ketimbang punya  Falcon (Avengers).

Vulture

Ketiga – Kostum Spiderman baru kali dalam sepanjang sejarah Spiderman difilmkan, memiliki fitur paling canggih, thank’s to Mas Tony Stark yang penampakannya kali ini sangat menunjang film Spiderman. Iron Man masih menjadi mentor yang melihat potensi Peter Parker untuk menjadi superhero yang masih mencari jatidirinya.

Spiderman Gadget

Keempat – Manusiawi namun tetap orisinil! Setelah Christopher Nolan membesut trilogi Batman yang dark dan manusiawi, kini film Superhero diarahkan ke sana semua. Spiderman kali ini pun tidak tinggal kalah dibentuk dengan pendekatan yang sama. Bagaimana ABG tiba-tiba punya kekuatan super dan merasa penting, seringkali jadi bumerang dengan tindakannya yang justru menimbulkan masalah. Ia tidak sempurna, banyak kerusakan yang justru dibuatnya alih-alih membuat dunia menjadi lebih baik. Film ini menggambarkannya dengan baik, tanpa bercerita hal yang sama dengan dua seri pendahulunya. Ini yang membuat filmnya terasa fresh, dan tidak membosankan. Bahkan cewek-cewek yang naksir dia juga dibuat semanusiawi mungkin. Terasa believable!

Tom Holland as Spiderman

Kelima – Ada twist tak diduga di sepertiga akhir film. Kejutan ini benar-benar tidak disangka penonton, dan menambah menarik story telling yang dibesut oleh Jon Watts dan juga menjadi co writernya. Film ini juga langsung masuk daftar 245 film terbaik sepanjang sejarah versi IMDB!

Poster

Tips menonton film yang durasinya sekitar 2 jam seperempat:

  • Bawa logistik buat menemani nonton
  • Pipis sebelum masuk bioskop
  • Jangan pulang setelah selesai, karena ada dua extra scenes setelah film berakhir

Film ini saya beri rating 8/10. Recommended! Kalau kamu sudah nonton, ceritakan kesanmu tanpa memberikan spoiler di kolom komentar yaaa…

Hemat Listrik dengan Teknologi

Masih ingat tulisan saya tentang saklar otomatis yang bisa mengontrol kapan harus diputus misal untuk charging hp dsb?

Nah sekarang teknologi untuk lampu luar agar otomatis menyala pada malam hari tidak lagi perlu timer. Sekarang sudah ada fitting lampu yang memiliki sensor cahaya, yang otomatis menyala ketika maghrib dan mati di pagi hari. Solusi ini bisa dipakai ketika mudik lebaran atau keluar kota.

Nah untuk toilet, gunakan lampu dengan sensor gerak. Dia otomatis akan menyala jika gelap dan ada gerakan. 


Keduanya dibandrol sekitar 70 ribuan ketika postingan ini ditulis di Ace Hw.

Semoga bermanfaat.

Review Novel (dan Film) Critical Eleven

Saya tertarik membaca novelnya setelah film ini diputar di bioskop. Sebagai seorang penggemar film, saya lebih suka membaca bukunya terlebih dahulu, lalu langsung nonton filmnya. Film dan novel adalah dua media berbeda, jadi saya tidak suka menghakimi semua film pasti lebih jelek dari bukunya. Menurut saya, tidaklah adil membandingkan kedua media tersebut, karena tidak apple to apple. Saya lebih suka menilai apakah jiwa dari novelnya tersampaikan di filmnya. Ada perbedaan di sana sini wajar, karena kita menonton film yang audio visual, dibandingkan novel yang hanya murni tekstual. Hanya karena tidak seindah imajinasi kita, apa filmnya patut dicaci maki? Nggak fair menurut saya.

Img2

JW Eagan Quotes

Film yang menurut saya cukup baik menggambarkan jiwa novelnya adalah Disclosurenya Michael Chrichton dan Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Yang gagal menurut saya adalah The Chambernya John Grisham. Balik ke Critical Eleven, saya mesti nonton dulu filmnya sebelum bisa berkomentar lebih lanjut. (Updated: saya sudah menonton filmnya, dan menurut saya, filmnya lebih menarik daripada novelnya dari sisi pesan yang ingin disampaikan! Ngambeknya Anya digambarkan secara proporsional dan tidak bertele-tele seperti di novel. Akting Reza Rahardian dan Adinia Wirasti cukup meyakinkan penonton. Latar belakang musik dan sinematografi sangat mendukung, terutama masa-masa di Amerika. Acungan jempol untuk Monty Tiwa yang sukses berat menyutradarai bersama Robert Ronny dan ikut menulis skenarionya. Beberapa penyesuaian cerita dilakukan dari apa yang ada di novelnya, dan membuat filmnya berasa lebih natural dan plausible. 8 skala 10 deh filmnya!).

Novel yang saya beli sampulnya bukan yang pesawat terbang, namun adegan Reza Rahardian memeluk Adinia Wirasti dari belakang di Amerika. Waktu saya intip di bagian awal bukunya, ternyata ini sudah cetakan kedua puluh! Luar biasa. Ini adalah novel Ika Natassa yang pertama saya baca. Novel setebal 335 halaman ini tidak butuh lama untuk membuat saya terus membacanya. Setiap menunggu kereta dan bergelantungan di commuter line saya selalu melahapnya, ditambah waktu malam dan hari libur.

Terus terang, judulnya lumayan catchy. Critical Eleven. Dalam dunia penerbangan, dikenal sebuah istilah yakni Critical Eleven, 11 menit paling kritis di dalam pesawat. Dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing — karena secara statistik, 80% kecelakaan pesawat, umumnya terjadi dalam rentang waktu 11 menit ini.

Di cerita ini, Critical Eleven menggambarkan 11 menit penting di momen pertemuan pertama, di mana 3 menit pertama bersifat kritis karena saat itulah kesan pertama mulai terbentuk, lalu ada 8 menit sebelum berpisah — saat ketika senyum, melihat tindak tanduknya, dan ekspresi wajah orang tersebut, menjadi pertanda apakah itu akan menjadi awal suatu hubungan atau hanya sekadar akhir dari pertemuan tidak ada artinya.

Ale (dalam filmnya diperankan oleh Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta – Sydney. Saat pertemuan terjadi, 3 menit pertama Anya mulai terpikat, 7 jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan dan tawa satu sama lain, sampailah pada 8 menit sebelum berpisah. Sejak pertemuan itu berakhir, dalam hatinya, Ale yakin bahwa dia begitu menginginkan Anya. Dan dari peristiwa berkesan itu, Ale dan Anya menjalin hubungan dan melanjutkannya dalam sebuah mahligai pernikahan.

Kehidupan begitu indah dalam kehidupan mereka berdua, hingga sebuah musibah besar menimpa keluarga kecil mereka. Di titik ini Anya dan Ale diuji kesabaran, komitmen, dan pengorbanan mereka untuk menentukan apakah mitsaqon ghalidzha ini perlu dipertahankan atau disudahi.

Saya merasa bahwa istilah Critical Eleven ini tidak hanya masa sebelas menit yang paling menentukan dalam pertemuan dua orang manusia, namun juga dalam 11 tahun awal pernikahan. Setiap keluarga, memiliki badainya masing-masing. Dan badai terbesar, biasanya diuji dalam masa awal pernikahan. Tiga tahun di awal pernikahan dan delapan tahun berikutnya, biasanya bisa menentukan apakah pernikahannya cukup matang atau rapuh.

Dalam novel ini, cinta Anya dan Ale diuji. Ini masalah komitmen dan masalah apa yang kita butuhkan dalam hidup ini. Ketika masalah terjadi, apakah kita termasuk yang mendiamkannya dan berharap masalahnya beres sendiri, melibatkan orang ketiga, atau bersikap layaknya dua orang dewasa untuk mendiskusikannya dari hati ke hati mencari solusinya bersama.

Penuturan sudut pandang dalam novel ini mengingatkan saya pada novel Pada Sebuah Kapalnya N.H. Dini. Bedanya kalau N.H. Dini membagi sudut pandang tokoh utama lelaki dan wanita dalam dua bagian besar. Bagian awal sudut pandang sang wanita, dan bagian kedua akhir sudut pandang sang pria. Critical Eleven membagi sudut pandangnya secara bergantian. Dalam satu bab, Ika bisa bercerita dalam sudut pandang Anya, Ale, lalu balik ke Anya lagi, dan seterusnya. Terkadang kita bingung, ini yang lagi bicara siapa ya? Anya atau Ale. Pada saat itu saya terpaksa membalik halaman untuk mengetahuinya.

Ika menceritakan kisahnya terkadang menggunakan Bahasa Inggris (bahkan kalimat pertama dalam novel ini dituliskan dalam Bahasa Inggris), which is fine by me, namun ada orang yang memandang sinis : apakah Bahasa Indonesia tidak cukup ekspresif untuk mewakili seluruh penceritaan kisahnya? Menurut saya sah-sah saja, dan terkadang ada istilah yang memang lebih pas ketika diucapkan dalam Bahasa Inggris. Bukannya mau sok-sokan enggres, tapi di samping asyik, kadang lebih pas, karena Bahasa Inggris cukup ekspresif. Dalam beberapa huruf dan kata yang lebih sedikit bisa mewakili padanannya dalam Bahasa Indonesia. Tentu Ika memilih cara seperti ini bukan karena sok enggres dan tidak cinta Bahasa Indonesia. So please, give her a break!

Setiap pengarang memiliki ciri khas dalam bertutur. Saya suka Andrea Hirata karena dia jago mengocok perut pembacanya sekaligus bisa membuat kita menitikkan air mata. Pengalamannya yang luas selama di luar negeri dan kehidupannya yang keras membuatnya kaya dalam bertutur dan mengombang-ambingkan emosi kita. Ika Natassa memiliki wawasan cukup luas, humoris, dan gaul. Ini tergambarkan dalam penuturan kisahnya. Ada banyak one liner atau kutipan yang asyik atau lucu untuk kita resapi dalam hati, kita kenang, kita tertawakan, dan kita amini.

“The best thing for being sad,” replied Merlin, beginning to puff and blow, “is to learn something. That’s the only thing that never fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder of your veins, you may miss your only love, you may see the world about you devastated by evil lunatics, or know your honour trampled in the sewers of baser minds. There is only one thing for it then — to learn. Learn why the world wags and what wags it. (T.H. White)

In life, there are no heroes and villains, only various states of compromise.

In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than anything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that.

I’m starting to speak to myself in the third-person. This is not healthy. (Anya)

Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts. (Albert Einstein)

Membaca novel ini, bagi mereka yang belum menikah bisa mulai membayangkan bahwa pernikahan bukan hanya nikmatnya saja. Tetapi badainya juga hadir satu paket. Dalam hal ini keimanan dan kepercayaan pada Tuhan YME sangatlah penting. Bukan hanya sekedar beriman, namun takwa yang sebenar-benarnya takwa juga penting untuk menghadapi badai ini. Beberapa tokoh dalam cerita, meski muslim, digambarkan minum alkohol dan tidak sholat. Ada review yang mempertanyakan hal ini. Muslim kok digambarkannya tidak begitu taat sih? Menurut saya, justru banyak kok di masyarakat kita yang muslim namun belum menjalankan syariah agama secara benar. Karena mungkin belum cukup belajar agama lebih dalam. Dan ini potret Jakarta dan juga negara kita. Kita ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Ika tidak menulis tokoh yang sangat tinggi akhlaknya, namun mencoba mengambil salah satu contoh yang ada di masyarakat sekarang. Kalau ingin tokohnya sangat baik dalam agama, coba baca novelnya Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy), yang biasanya tokohnya anak pondok, novelnya Mbak Helvy Tiana Rosa, dsb.

Novel ini agak terasa bertele-tele di bagian 2/3 menjelang berakhir. Penderitaan tokoh utama kok sepertinya berlarut-larut dan tidak kunjung dicari solusinya. Mungkin Ika merasa jika terlalu mudah konfliknya terasa ringan dan terlalu mudah untuk diceritakan. Namun efeknya adalah jika kompleksitasnya tidak rumit, malah seperti dibuat-buat dan bikin pembacanya geregetan. Mungkin kalau masalahnya dibuat lebih rumit dan berpotensi menimbulkan simalakama, akan lebih bisa diterima pembaca.

Kesimpulannya, secara keseluruhan saya menyukai novelnya. Akan lebih menarik jika kompleksitas masalah agak ditambah atau novelnya lebih diringkas. Saya akan mencoba membaca novel lain karangan Ika untuk lebih mengenal signaturenya.

Saya memberi nilai 7.5 skala 10. Cocok buat jomblo yang mau (baca: sudah kepengen banget) nikah (agar punya bayangan kalau nantinya gak jomblo lagi dan menikah), mereka yang sudah berumah tangga, maupun yang mengenang rumah tangganya. Membaca novel ini membuat saya ingin berbuat lebih untuk pasangan saya di rumah, bahwa cinta itu harus selalu dipupuk, jangan hanya take it for granted. Pernikahan adalah komitmen, komunikasi sangatlah penting dalam menyelesaikan masalah. Eskalasi kepada Tuhan YME juga sangat krusial agar kita tidak merasa dunia mau kiamat.

Terkadang, kita tidak pernah tahu bahwa kita memiliki sesuatu sampai kita kehilangannya.