Accidentally in Vacation Part 3 at The Paseban

Hari Jumat kemarin, pas long weekend, kami sekeluarga mendapatkan serendipity. Jadi ceritanya gini. Seminggu sebelumnya, saya lumayan galau, mau ke mana pas liburan panjang itu. Ada beberapa pilihan yang terlintas di pikiran, yaitu:

  • Berkemah bersama K3I bersama teman kantor, Dony Alpha  di BuPer Cijalu, Purwakarta
  • Camping di Ranca Upas, Ciwidey seperti yang sudah pernah kami lakukan sebelumnya
  • Camping di Curug Panjang, daerah Mega Mendung bersama teman kantor, Marvin Sigar
  • Camping di Sawarna
Persiapan Packing
Persiapan Camping

Setelah packing dan melakukan beberapa pertimbangan, saya ingin menghindari tol Cikampek, yang saat ini sering macet karena pembangunan, apalagi pas liburan panjang. Jadi Cijalu dan Ranca Upas saya coret dari pilihan. Sawarna menarik, karena kami belum pernah sejauh itu berpetualang. Namun memikirkan hawa yang panas untuk berkemah (di pinggir pantai) dan jauhnya perjalanan, bisa 5-8 jam perjalanan, dengan kondisi jalan yang mungkin kurang begitu bagus, akhirnya Sawarna saya coret untuk saat ini. Dengan longsornya daerah Puncak dan ditutupnya jalur Gunung Mas sampai Ciloto, saya berpikir seharusnya volume kendaraan akan berkurang karena yang akan ke Puncak dan Cianjur akan mengambil jalur Jonggol. Jadi saya putuskan untuk camping di Curug Panjang.

Lanjutkan membaca Accidentally in Vacation Part 3 at The Paseban

Camping di TNGP Cibodas

Minggu lalu kami sekeluarga pergi berkemah di Cibodas Golf Camping Ground dekat Cimacan. Lokasinya setelah Puncak Pass kalau dari Jakarta. Kalau mau ke sini pakai angkutan umum, naik saja elf atau bis dari Bogor, arah Cianjur. Nanti tinggal turun di pertigaan Cibodas, naik angkot sekitar 2 km ke Taman Nasional Gede Pangrango.

Img7

Ridwan, teman saya sekantor juga membawa keluarganya untuk camping bersama. Winny Marlina, teman blogger lama, ikutan bersama juga. Sayang dua temannya tidak bisa ikutan karena ada aktivitas dadakan terkait pekerjaan.

Ini kali ketiga saya datang ke TNGP. Pertama kali bersama rekan-rekan sekantor untuk mendaki Gunung Gede sekitar empat tahun silam. Yang kedua, tadinya mau naik ke Pangrango namun karena ada sesuatu hal, kami hanya trekking ke Curug Cibeureum sekitar dua tahun yang lalu. Nah kali ini kami membawa keluarga, dan ingin mengenalkan indahnya kawasan TNGP Cibodas, sambil camping dan trekking ke air terjun Cibeureum.

Berkemah di Cibodas Golf Camping Ground sangat direkomendasikan. Mengapa?

Lanjutkan membaca Camping di TNGP Cibodas

Berkemah di Situ Gunung

Halo, outdoor lovers! Kali ini saya akan berbagi pengalaman berkemah di tempat baru buat kami, di Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Seperti biasa saya akan ndongeng, cerita ngalor-ngidul selama kami melakukan perjalanan, so bear with me aja lah ya.

Oh ya, buat kalian yang baru pertama kali mampir dan pengen kepo pengalaman berkemah saya sebelumnya, monggo dibaca di pranala berikut ini:
1. Ranca Upas Ciwidey, Bandung,
2. Sukamantri, Bogor
3. Gunung Lembu, Purwakarta
4. Cipamingkis, Bogor
5. Guci, Tegal
6. Tambang Ayam, Anyer
7. Cidahu, Sukabumi

Berangkat dari Serpong hari Jum’at (12 Mei 2017) sekitar jam 11 siang. Akhirnya berhenti untuk sholat Jum’at dan makan siang dulu di Masjid Al Madinah sebelah Rumah Sehat Dompet Dhuafa di daerah Parung, Bogor. Masjidnya bagus, cukup luas dengan bentuk memanjang, dan toiletnya wangi banget! Ah keputusan tepat untuk singgah dan sholat di masjid ini.

Kami berangkat meninggalkan masjid untuk menuju Sukabumi sekitar pukul 2 siang. Berhenti untuk sholat ashar, sholat maghrib, dan makan nasi goreng kambing dengan total istirahat sekitar dua jam. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 8 malam. Itu berarti total di jalan dari Parung ke Sukabumi sekitar 4 jam, sudah termasuk kemacetan di beberapa titik di Sukabumi.

Buat kamu-kamu yang males kena macet atau tidak ada kendaraan pribadi, saya sarankan bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Paledang Bogor yang berdekatan dengan Stasiun Bogor. Ada kereta ekonomi AC dan juga eksekutif Pangrango. Turun saja di Stasiun Cisaat, lalu sewa angkot ke lokasi. Memang kalau berkemah rempong ala kami agar ribet juga kalau sewa angkot. Bawaannya banyak. Tenda tidur dua (salah satunya turbo tent yang segede gaban), satu tenda payung untuk masak, flysheet, alas tenda, dua kompor, dua kasur pompa, bantal, selimut, jaket, pakaian ganti, berbagai bahan makanan seperti kentang, mie, sosis, roti, dan alat makan seperti mangkok, piring, gelas, dan sebagainya. Lebih cocok backpackeran kalau mau naik kereta api.

Img4.jpg
Kereta Pangrango

Nah karena sampai di sana sudah malam dan banyak perabotan yang kami bawa, akhirnya kami putuskan malam itu tidak langsung berkemah di area wisata. Untungnya, sekitar 10 meter sebelum pintu masuk ada penginapan, Villa Cemara. Dari salah satu teman pencinta outdoor, kabarnya villa ini pemiliknya cukup ramah (Ibu Tuti), dan memang benar adanya. Buat kalian yang ingin menikmati indahnya Situ Gunung dan Curug Sawer tanpa ingin berkemah, bisa memilih untuk menginap di sini. Saya sarankan untuk booking sebelum datang, karena bisa saja penuh. Untung saja waktu itu kami masih mendapatkan dua kamar kosong di rumah bata. Dua kamar kosong yang tersisa berisi masing-masing tiga dan dua tempat tidur dengan kamar mandi di dalam. Air panas tersedia lho. Biaya menginap di kamar dengan tiga tempat tidur pada malam itu adalah 500 ribu semalam dan yang dua kamar 300 ribu semalam. Karena kami berlima bersama asisten RT, saya mengambil kedua kamar itu, agar kata anak pertama kami, saya dan istri bisa mendapatkan quality time. Hahaha.. dasar bocah kelas 2 SMP sekarang udah ngerti aja.. Sebenarnya bisa sih kami menginap dalam 1 kamar berlima dengan menggelar kasur pompa, namun ya itu.. saya dan istri tidak bisa mendapatkan “quality time”. 

Kebetulan kami juga membawa Wifi Portable dengan Kartu XL dengan kekuatan sinyal yang sangat kuat. Maklum saja di dekat situ ada tower XL. Sinyal Telkomsel kurang begitu kuat di daerah Situ Gunung. Jadi malam itu kami tetap bisa berkomunikasi dengan Whatsapp secara nyaman.

Pagi setelah sarapan kami bersiap-siap dengan memasukkan semua perabotan lenong ke dalam mobil, lalu pergi ke tempat wisata.

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM
Ini tiket masuk di pintu gerbang
WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.26 AM
Tarif sesuai Peraturan Pemerintah RI
WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM (1)
Nah, tarif 29 ribu, namun kami bayar 35 ribu

Meski bandrol tertulis 29 ribu rupiah, namun kami diharuskan membayar 35 ribu rupiah dengan alasan untuk uang kebersihan dan sebagainya. Well, baiklah. Kami berlima hanya empat yang harus bayar, Aila yang masih kelas 1 SD gratis.

Setelah urusan administrasi beres, kami segera bergegas menuju danau. Dari pintu gerbang jaraknya sekitar 700 meter. Bisa naik ojek ke sana, namun kami memutuskan untuk berjalan kaki membakar kalori sambil menikmati sejuknya alam.

Perjalanan menuju danau berbatu-batu seperti terlihat pada gambar di atas. Anak saya yang kelas 1 SD sangat menikmati perjalanan dan tidak memberatkan dia sama sekali.

Begitu sampai di danau, kami semua takjub akan keindahan alam ciptaan Ilahi. Begitu sempurna.

Lanjutkan membaca Berkemah di Situ Gunung

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Berkemah di Cipamingkis – Bogor

Pengen liburan berkesan bersama teman atau keluarga yang terjangkau dan menarik? Yuk camping ceria di Cipamingkis Bogor! Rekreasi asyik itu tidak harus ke luar negeri, lho. Di Indonesia, begitu banyak tempat wisata menarik yang mudah dan murah dijangkau.

Berikut ini saya sampaikan lima alasan mengapa kamu yang tinggal di kawasan Jabodetabek harus berkemah di sini.

Alasan #1 – Dekat dari Jakarta

Di mana sih Cipamingkis ini? Tempat wisata ini terletak di Desa Wargajaya, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Lat Longnya adalah 6° 38′ 24.65″ S  107° 0′ 41.40″ E. Untuk navigasi ke sana bisa menggunakan Waze atau Google Maps, dengan destinasi Curug Cipamingkis. Dari Depok lebih kurang 60 km. Tidak jauh, kan?

Img2

Alasan #2 – Murah Meriah

Tarif masuk tanpa menginap cuma 10 ribu rupiah saja. Kalau menginap 31 ribu per orang dewasa. Parkir motor 2000 rupiah, dan mobil 4000 rupiah. Boleh membawa tenda sendiri atau menyewa dari mereka. Tinggal bilang mau kapasitas berapa orang, akan langsung didirikan, diberi matras dan fly sheet. Kapasitas empat orang cukup membayar 150 ribu semalam. Saya sendiri sudah memiliki 4 tenda sehingga ketika berkemah di sini dengan total 15 orang, saya tinggal mendirikan tenda dan fly sheet.

Mobil atau Motor bisa diparkir di samping tenda. Jadi tidak perlu kesulitan membawa barang untuk dibawa keluar masuk mobil. Listrik kalau mau bisa sewa. Saya sendiri membawa kasur pompa dan menggunakan pompa listrik dengan ikut memompa di warung terdekat.

Alasan #3 – Fasilitas Lengkap

Di sekitar tenda banyak warung yang bisa melayani tamu untuk makan dan minum 24 jam! Dari minuman susu jahe, teh, hingga kopi semua siap! Anda membawa sendiri? Bisa minta air panas. Indomie telur siap, dengan berbagai rasa. Nasi putih dan nasi goreng ada. Gorengan tinggal comot.

cipamingkis (6 of 125)
Warung Makan Berjejer
WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.03.30 PM
Memompa kasur tiup di warung

Toilet? Ada 12 pintu. Tinggal pilih saja. Kalau sudah membayar untuk menginap tidak lagi perlu bayar 2000 rupiah per ke kamar mandi.

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.03.29 PM (1)
12 pintu toilet jongkok dengan ember dan air yang mengucur 24 jam nonstop

Musholla? Lengkap dengan sajadah, sarung, dan mukena.

Alasan #4 – Banyak Instagrammable Spot

Ada beberapa spot yang bagus untuk dijadikan tempat selfie:

  • Air terjun

waterfall-1

 

  • Patung kuda

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.21.32 PM

  • Geladak kapal di atas sungai

cipamingkis (65 of 125)

  • Rumah Pohon

cipamingkis (115 of 125)

Alasan #5 – Cocok untuk Segala Usia

Banyak tempat wisata yang hanya cocok untuk pendaki gunung. Tempat ini cocok untuk segala usia. Kami menginap di sini total 14 orang, 9 dewasa, 3 anak, dan 2 balita. Berkemah melatih anak untuk mandiri, tidak takut dengan alam luas, terbiasa menghadapi segala cuaca, memecahkan masalah bersama secara gotong-royong, mengikatkan hubungan batin sesama anggota keluarga, mensyukuri karunia Ilahi akan keindahan alam dan berusaha terus menjaganya, dan banyak lagi alasan positif lainnya.

Nah, tunggu apa lagi? Ayoooo jangan mager! Cuma butuh niat aja kok buat ke sana.

Tips ke sana:

  • Jangan lupa bawa perlengkapan camping jika punya, jika tidak bisa sewa
  • Membawa kompor portable dan bahan makanan akan lebih menghemat
  • Membawa kendaraan dengan CC besar akan membantu karena banyak tanjakan terjal (30 derajat)
  • Lampu tenda akan membantu menghemat listrik (bohlam usb, dsb)
  • Payung dan jas hujan sebaiknya dibawa
  • Sendal gunung akan membantu ke air terjun, jangan sandal jepit biasa
  • Karena tidak ada sinyal provider saat tulisan ini ditulis di area camping, pastikan orang rumah atau keluarga tahu agar tidak khawatir. Semoga provider telko segera memberi akses buat warga setempat dan pengunjung yang datang.

Selamat berlibur dan terima kasih sudah mampir di sini. Oh ya kalau ada pertanyaan jangan ragu tanyakan di kolom komentar di bawah, ya!

Kembali ke Sembalun

Tulisan ini adalah bagian keempat dari Expedisi ke Rinjani. Bagian ketiga bisa dilihat di sini. Setelah lelah turun dari puncak Rinjani, kami beristirahat dan tidur pulas sampai pagi. Paginya setelah sholat subuh saya berkeliling mengambil gambar Segara Anak di pagi hari dan keindahan Plawangan Sembalun yang terletak di atas awan itu.

Satu hal yang saya prihatin adalah banyaknya sampah di Plawangan Sembalun. Seharusnya ada tempat sampah diletakkan di sana sehingga memudahkan untuk mengumpulkan sampah dan dibawa turun. Akan lebih baik jika ada pos petugas untuk komunikasi di bawah dan adanya MCK yang cukup bersih untuk menjaga sanitasi dan keindahan di Plawangan Sembalun itu sendiri. Saya bungkus beberapa sampah plastik untuk dibawa turun. Semoga pemerintah daerah sana lebih memperhatikan masalah kebersihan di Plawangan Sembalun ini.

Pemandangan menuju Sembalun

Karena kami tidak ke Danau Segara Anak, kami turun kembali ke Sembalun melalui bukit kenangan yang menawarkan keindahan luar biasa. Negeri ini begitu indah, patut disyukuri dan dijaga kelestariannya.

Kami istirahat di setiap pos. Di pos 2 kami mengantri untuk mengisi botol dengan air dari mata air di sana. Lumayan untuk bekal perjalanan sampai ke bawah. Setelah pos 1 kami melihat penjual semangka yang manis dan terenak yang pernah saya rasakan (karena dimakan dalam keadaan lapar dan haus hehehe). Minum sebotol minuman mineral yang dijual di sana. Alhamdulillah nikmatnya.

Sampai di Sembalun mobil pick up siap menjemput kami ke Senaru, base camp Pak Nur Saat. Akhirnya kami kembali bisa menikmati segarnya mandi air bersih, gosok gigi, keramas, dan wanginya sampo serta sabun mandi. Alhamdulillah. Pengalaman yang luar biasa. Keesokan harinya kami berencana mengunjungi air terjun Sendang Gila dan Tuk Kelep yang konon begitu indah. Sore ini saya dan teman-teman menikmati makan siang buatan Chef Bu Saat dengan sambalnya yang lezat.

Marilah kita nikmati slideshow yang diambil dari kamera Marvin:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bersambung

Menuju Puncak Rinjani

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari Ekspedisi ke Rinjani, bagian pertama bisa dilihat di sini, dan bagian ke dua dapat dibaca di sini.

14 Agustus 2015 02:00 WITA

Pukul dua dini hari, Oniel dan Marvin sudah bersemangat berkeliling tenda berteriak sahuur-sahurr.. membangunkan tim untuk persiapan Summit Attack. Pak Kumis sudah menyiapkan roti bakar untuk disantap sebelum berangkat. Tas kecil yang sudah kami siapkan sebelum tidur kami ambil dan diisi kebutuhan kami. Air nomor satu. Saya membawa kurma dan snicker untuk di jalan. Jaket tebal segera dipakai, buff dipasang menutupi hidung dan leher untuk mencegah dingin, kupluk saya pakai untuk menutupi telinga dan kepala. Trekking pole aku sambar dan kamera HP + kamera Action aku masukkan ke tas. Looking good.

Setelah membaca doa dan briefing dipimpin Kombes Dadang, kami bergerak dengan head lamp menyinari jalan yang gelap dan dihembus angin dingin. Perjalanan menuju puncak dibagi menjadi tiga bagian:

  • Bagian awal terdiri atas tanah berpasir dan kerikil di mana setiap kita naik dua langkah gravitasi menarik kita kembali satu langkah
  • Bagian tengah tanahnya relatif lebih padat dan tidak terlalu terjal, bonus setelah perjuangan di sepertiga pertama yang sangat melelahkan
  • Bagian ketiga adalah bagian tersulit di mana banyak pendaki yang balik kanan di sini. Medannya mirip dengan sepertiga pertama, namun beberapa batu ukurannya lebih besar. Naik dua langkah, selangkah turun kembali.

Menjelang fajar menyingsing saya mengambil tayammum dan sholat subuh di tengah deru angin dingin. Saya ingin melihat sunrise, namun kewajiban harus ditegakkan. Jangan sampai kita menjadi hamba sunrise 🙂 Setelah sholat kami terus bergerak karena puncak masih jauh. Kecepatan saya berjalan tidak secepat Oniel, Marvin, dan Nanang. Tapi semangat tidak boleh putus.

Febru matanya kemasukan pasir kuarsa dan lumayan mengganggu pemandangan ke depan. Karena dia sudah pernah mencicipi Puncak Rinjani dia memutuskan untuk kembali ke base camp. Andra yang sempat kram kakinya turun bersama Febru. Pak Yakob yang kelaparan karena salah memasukkan tisue dianggap roti. Karena beliau dulu juga sudah pernah ke puncak akhirnya turun juga.

Saya berjalan pelan bersama Saeng, Erik, dan Dadang. Erik merasa kelelahan dan dia ingin turun. Dadang dan Saeng sempat memikirkan kemungkinan untuk turun juga, namun saya merasa tanggung untuk pulang sekarang. Puncak sudah menggapai di depan mata. Usaha untuk turun hampir sama melelahkannya dengan naik. Saya memutuskan untuk terus. Akhirnya Saeng dan Dadang menemani saya ke puncak, Erik turun ke base camp. Terkadang ketika lelah kami istirahat sebentar sambil menikmati indahnya alam. Saat ini saya begitu sadar bahwa keindahan Rinjani di foto masih kalah ketika dilihat langsung. Udaranya yang sejuk, warna yang begitu indah dipandang mata, semuanya menimbulkan rasa syukur kepada Ilahi atas karunia bumi pertiwi yang indah ini.

Perjalanan begitu panjang, angin begitu kencang, otot lelah terguncang. Tiga langkah jalan, saya mengambil nafas. Memandang puncak, maju lagi. Teringat akan almarhum ayah yang meninggal tahun 2013 yang lalu. Beliau dulu wadalah pencinta alam dan mendaki banyak gunung di usia mudanya. Jika aku bisa mencapai puncak, keberhasilan ini akan kudedikasikan untuk beliau. Doa kupanjatkan terus pada Ilahi. Mohon diberi kekuatan dan keselamatan sampai puncak.

Mendekati puncak aku berpapasan dengan Oniel dan Nanang. Marvin entah lewat mana tak berpapasan dengannya. Akhirnya setelah berjalan dan diselingi istirahat sekitar 8 jam sampailah ke puncak.

Syukur Alhamdulillah
Syukur Alhamdulillah
Donny, Me, Saeng, dan Dadang
Donny, Me, Saeng, dan Dadang

Tidak terasa saya menangis terharu. Lelah begitu panjang dan kebahagiaan bisa mencapai puncak, ingatan kepada almarhum ayah, semua bercampur aduk menjadi satu. Tidak peduli saya dianggap pendaki cengeng. Biarlah orang berkata apa. Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak dalam dada. Saya ingin menumpahkan segalanya. Lelah dan bahagia. Dan kerinduan pada ayahanda.

Donny Ari Surya juga menyampaikan perasaannya ketika mencapai puncak:

Inilah sambutan Kombes Dadang di atas Puncak Rinjani:

Beginilah pemandangan ketika turun:

Ketika turun kami hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam termasuk berhenti istirahat di beberapa tempat untuk makan kurma dan snicker. Di beberapa tempat kami juga mengambil foto. Saya tidak tergoda untuk mengambil eidelweiss karena pendaki sejati tidak mengambil apapun kecuali foto, tidak meninggalkan apapun kecuali jejak dan kenangan.

Begitu sampai saya langsung minum pocari dua botol langsung dari sachet yang saya bawa dari rumah. Badan alhamdulillah terasa segar dan langsung disambut mie goreng telur ceplok Pak Kumis. Nikmat sekali.

Karena waktu untuk ke danau Segara Anak sudah tidak ada karena menurut porter agak berbahaya jalan malam ke sana, akhirnya diputuskan kami tidak jadi ke Segara Anak, langsung turun kembali ke Plawangan Sembalun, tidak jadi dari Plawangan Senaru. Untung sekali kami mengambil jalan ini karena sepatu saya juga jebol ketika menuju pos 1 Sembalun.

Malam itu kami beristirahat di Plawangan Sembalun yang kedua kali sebelum besok mengucapkan selamat tinggal kepada Rinjani. Tempat indah karunia Ilahi yang begitu mempesona. Kewajiban kita untuk menjaga kebersihannya. Semoga dibuat tempat sampah untuk menampung sampah di Plawangan Sembalun atau Senaru, sehingga memudahkan pengumpulan sampah untuk dibawa kembali turun ke bawah. Bintang begitu indah. Semua menjadi saksi kebahagiaan kami mencapai puncak Rinjani. Malam ini kami harus cukup istirahat agar besok bisa pulang lebih awal menuju Sembalun.

Bersambung

Menuju Plawangan Sembalun – Kaki Rinjani

Tulisan ini merupakan bagian kedua, sambungan dari postingan sebelumnya yang merupakan Bagian Pertama.

Salah satu hal yang paling indah adalah sarapan pagi di Pos 2 karena matahari belum terik dan bisa berfoto dengan latar belakang Gunung Rinjani, 3726 mdpl. Sewaktu kami pulang dan melewati pos 2 pas tengah hari bolong, semua orang hanya berkonsentrasi pada air dan berteduh di bawah tenda atau fly sheet. Sulit menikmati keindahan sabana dengan latar belakang mayestik dengan suhu panas menyengat dan kekurangan air. Bila kekurangan air, pastikan isi kantong air Anda (botol, hydro water, dsb) di sini.

Berikut ini adalah video penampakan Pos 2 di pagi hari:

Setelah kami selesai packing, kami melanjutkan perjalanan melewati sabana dengan tujuan ke arah pos 3. Pada awalnya jalanan agak mendatar dan tanjakan tidak berasa. Namun setelah pos 3, mental para pendaki harus disiapkan karena di sinilah letak perjuangan sebelum puncak.

Inilah penampakan sabana yang indah dan sulit ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tujuh bukit penyesalan. Sebenarnya ini tergantung dari kita. Mau dikasih nama bukit rasa syukur, bukit tantangan, atau bukit yang pasti berakhir, itu semua tergantung kita. Bagaimana cara pandang kita saja. Yang jelas, kalau naik gunung kita harus bermental positif. Setiap kami kelelahan, saya dan Donny Ari Surya dan Saeng, saling menguatkan. Kami saling meneriakkan kata-kata penuh semangat. Dari man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya), Inna ma’al usri yusraa (sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan), tidak ada bukit yang menyentuh langit (setiap bukit pasti ada ujungnya), dan sebagainya. Setiap kali kami saling mengingatkan dengan kata-kata positif, seakan kami mendapat suntikan energi untuk maju lagi. Salah satu hal yang biasa saya lakukan kalau lari pagi di kompleks perumahan juga saya terapkan. Agar tidak sering berhenti kalau berlari, saya melihat sesuatu yang mencolok sekitar 50 – 100 meter di depan dan mengatakan pada diri sendiri, ayo lari lagi sampai tiang yang ada spanduk merahnya itu. Demikian seterusnya saya menipu otak bahwa saya sedang tidak menuju goal yang sangat sulit, namun goal sederhana setiap waktunya. Pada saat menanjak, saya melihat satu pohon kecil, saya bilang ayo jalan terus, istirahat di pohon kecil itu. Istirahat sebentar atur nafas, baru melanjutkan lagi mencari mile stone berikutnya.

Hal seperti ini kadang memang ada ujiannya. Pernah dulu pas lari di kompleks mengatakan saya akan istirahat sebentar di mobil merah di depan sana. Eh pas mau sampai, mobilnya jalan. Masak harus mengejar? Pas mau naik di bukit penye.. eh bukit rasa syukur, tidak ada pohon yang cukup dekat untuk beristirahat. Ya sudah jalan sekuatnya saja hahaha..

Ada satu hal yang saya lupa waktu berjalan ke Pos 3, yaitu melakukan pemanasan. Hasilnya di tengah jalan saya mengalami kram. Alhamdulillah waktu itu membawa krim luar untuk memanaskan otot sehingga tidak lama bisa kembali berjalan. Lesson learn: jangan lupa melakukan pemanasan sebelum memulai pendakian. Best practice: bawa selalu krim pemanas favorit Anda dan selalu siap di kantong celana.

Sesampainya di Plawangan Sembalun, satu kemenangan, satu kepuasan, satu kebahagiaan dirasakan oleh semua pendaki. Perjuangan dari base camp hingga pos 2, dari pos 2 hingga pos 3, dan dari pos 3 hingga bukit yang aduhai, digantikan dengan kepuasan tak terkira melihat awan berarak ditiup angin di bawah kaki para pendaki. Awan yang dulu kami lihat dengan cara menengadahkan kepala, kini bisa kami lihat dengan cara sebaliknya.

Berdiri di atas awan
Berdiri di atas awan

Persis di atas pertigaan Plawangan Sembalun, ada penjual minuman dingin yang dihargai gila-gilaan. Pulpy orange kecil, mizone, pocari, coca-cola kaleng kecil dihargai 40 ribu rupiah. Bir bintang yang haram itu dibandrol 90 ribu rupiah, yang membuat para bule-bule tertawa mendengar tawaran gila itu. Namun tetap saja ada yang membelinya sebagai hadiah kecil atas separuh kemenangan sebelum puncak itu.

Minuman berharga fantastis
Minuman berharga fantastis

Mari kita lihat slideshow indahnya pemandangan ketika sampai di Plawangan Sembalun. Hadiah setengah perjuangan sebelum Puncak.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jika Anda penasaran dengan tim kami yang ingin merayakan kemenangan kecil ini, mari silakan dilihat kecentilan kami berpose melupakan penat dan asam laktat yang menyerang seluruh urat-urat.

Setelah makan malam kami bersiap tidur untuk mempersiapkan setengah perjuangan berikutnya yaitu ke puncak. Pukul 2 pagi nanti kami akan mencoba summit attack. Keril ditinggal di tenda, hanya membawa makanan kecil dan minuman. Angin sudah bertiup kencang dengan bunyi menderu. Di luar tenda tanpa jaket kami akan kedingingan. Tempat nyaman hanya di dalam tenda. Pastikan tenda yang dipakai mampu menangani suhu dingin. Jangan gunakan summer tent di Plawangan. Sengsara.

Sekitar pukul dua pagi dengan kondisi masih mengantuk dan lelah kami bangun untuk menuju puncak. Beberapa orang tampak sudah menuju puncak dari kilatan lampu senter di punggung Rinjani. Kami berdoa sebelum berangkat dan membawa perbekalan seperlunya. Saya membawa sebotol air, kamera HP, Sony Action Camera, kurma, lotion anti kram, selimut kertas anti hipothermia, dan snicker. Kamera DSLR tidak perlu dibawa. Tentu saja trekking pole wajib hukumnya untuk meringankan lutut dan membantu naik atau turun nanti.

Dan perjalanan menuju puncak Rinjani dimulai….

Bersambung