Category Archives: Lain-lain

Nobar The Last Word (2017)

Besok malam film The Last Word akan tayang Premiere khusus undangan saja.

Saya memiliki dua tiket gratis bagi siapapun yang berminat nonton di CGV Grand Indonesia besok malam jam 18:30.

Film bergenre drama komedi ini dibintangi Amanda Seyfried dan Shirley MacLaine.


Saksikan trailernya di https://youtu.be/AthlyFc79T0

Oh ya kalau tertarik gabung nobar, share artikel ini di Facebook status kalian (publik akses) atau Twitter atau Instagram ya.. share link status kalian di komentar di bawah ini dengan email dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Ceritanya bagaimana seorang penulis obituari diminta menuliskan kehidupan seorang wanita tua yang ngeselin dan begitu banyak yang membencinya. Seru kan?

See you there!

Update: quota sudah habis 🙂

Nobar Labuan Hati Bersama NontonJkt

Film-film yang Kutonton bersama NontonJkt akan mengadakan acara nonton bareng film Nadine Chandrawinata yang terbaru, Labuan Hati.

Img3

Untuk mengetahui sinopsisnya, intip di sini, ya.

Eh ada 4-10 tiket gratis nih buat nobar, besok tanggal 7 April 2017 di Blok M Square XXI, jam 19:00. Cara mendapatkannya mudah,  share link artikel ini di Fesbuk (akses publik) , Twitter, atau Instagram kamu dan bagikan link postingan kamu di komentar di bawah ini, beserta email atau nomor HP untuk dihubungi. Kalau lebih dari 1 orang, setiap orang wajib melakukan hal ini ya. Siapa cepat dia dapat!

Ayo, kita ramaikan film Indonesia!

Review Game: Human Resource Machine

TomorrowCorporation telah sukses meluncurkan game Human Resource Machine di iOS setelah sukses meluncurkannya di Linux dan Windows via Steam. 


Game ini ditujukan buat mereka yang suka teka-teki, tantangan berupa problem solving, cocok yang suka matematika atau pemrograman.

Ada tiga profile berbeda yang bisa digunakan dalam permainan ini, artinya ada tiga orang yang bisa bermain dalam device yang sama.


Ada 37 level yang disediakan dalam game ini. Inilah level-level yang ada:


Tujuan game ini sangat sederhana. Kita memiliki serangkaian paket dengan label atau angka yang datang melalui IN conveyor belt. Tugas kita adalah memproses paket yang datang sedemikian rupa sehingga kita bisa meletakkan paket yang telah diproses ke conveyor belt OUT. 

Setiap level kita diberikan instruksi untuk membaca paket, meletakkan paket, atau memanipulasinya.


Game ini sangat menantang karena meskipun secara programming tugasnya mudah, namun terbatasnya fungsi yang bisa digunakan dalam setiap levelnya membuat kening kita berkerut untuk mencari solusinya.

Nantinya program kita dikatakan baik apabila bisa menyelesaikan tugas dengan benar apalagi bila solusinya lebih sedikit dan lebih ringkas daripada versi yang umum dimasukkan oleh para pengguna lainnya.

Ayo, buruan dibeli selagi harganya masih goceng di Apple Store. Versi Steamnya sekitar 90 ribu rupiah.

Pembaca, tertarikkah? Jika tidak, game apa yang sedang Anda mainkan sekarang? Share ya siapa tahu saya bakal memainkannya juga.

Saksikan trailernya di https://m.youtube.com/watch?v=428R_oEjGGI&autoplay=1

10 Tanda-tanda Kamu Keracunan Pokemon GO

Game PokemonGo sedang mewabah di seluruh dunia. Aplikasi yang sudah diinstal di lebih dari 5 persen seluruh device Android di Amerika hanya dalam waktu 3 hari sejak peluncurannya ini mulai mewabah ke Eropa. Bahkan Asia sebagai benua yang belum resmi diluncurkannya game ini, sudah menggila di mana-mana. Aplikasi installernya di Android mudah ditemukan di Internet. Para pengguna iOS menggunakan ID App Store di negara yang sudah meluncurkan dengan banyak cara kreatif. Konon di Asia Tenggara baru Indonesia yang gamenya jalan, lengkap dengan Pokestopnya. Negara jiran, Malaysia dan Singapur bisa memainkan game ini namun tanpa pokestop.

Terlepas dari kontroversi baik buruknya aplikasi PokemonGo bagi Anda, ada 10 tanda-tanda Anda mulai keracunan PokemonGo.

Inilah tanda-tandanya.

#1 – Kamu mulai merayu pasangan untuk mengenakan PokeBra

“Cin, malam ini pakailah bra hadiah dariku yang seksi ini…”

Caution: bisa dilempar PokeBall sama istri tercinta.

Img4

PokeBra

#2 – Pesan GoJek hanya untuk keliling Jakarta untuk mengunjungi PokeStop dan menangkap Pokemon. “Bang, ke Monas, tapi pelan-pelan aja ya Bang. Jangan kuatir nanti saya kasih tips”, rayuan pada Abang Gojeknya.

WhatsApp-Image-20160721

#3 – Sholat jama’ah di Masjid agar sekalian dapat free items dari PokeStop.

Luruskan niat woy.. Kalau gak main, tetaplah sholat jama’ah di masjid.

#4 – Di tempat parkir mal rela berdiri berjam-jam selama lure atau umpan Pokemon disebar di Pokestop.

 

pokemon

#5 – Jarang nge-Gym di fitness center lagi tapi malah ngadu Pokemon di Gym-gym

tarung

#6 – Yang biasanya mager, ngojeg ke stasiun, sekarang rajin jalan kaki. Semua itu demi telur pokemon bisa menetas…

egg

#7 – Jadi nambah frekuensi ke toilet karena nglewatin Pokestop yang sering dilure, padahal baru 5 menit yang lalu buang air kecil

Img6

#8 – Lebih milih foto bareng Pokemon ketimbang ama pasangan

dion

#9 – Apa-apa jadi keliatannya Pokemon. Padahal mirip doang.

rokuemon

#10 – Becandanya menjurus Pokemon. Padahal modus.

WhatsApp-Image-20160722 (1)

Nah, buat kamu yang mainin game ini, ayo ngaku berapa level tingkat keracunan kamu terhadap game ini? Hitung aja dari 10 gejala di atas ada berapa yang cocok. Jujur yaaa..

Buat kalian yang tidak tahu satu atau lebih istilah di atas menunjukkan kalau kalian berarti tidak keracunan game ini.

Share tingkat keracunan kalian di komentar yaaa…!

 

Jalan-jalan ke Lombok dan Mendaki Puncak Rinjani

Setelah kurang dari dua tahun lalu saya dan teman-teman pencinta alam di kantor naik Gunung Gede, kami mencoba untuk mendaki Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa ikut pendakian ke Gunung Ceremai dan Gunung Pangrango.

Setelah memesan tiket sekitar bulan Maret 2015, maksudnya supaya memastikan tiket sudah di tangan, kami pun merencanakan perjalanan ke sana. Diskusi via WhatsApp dan email kami lakukan untuk membahas:

  • Tanggal keberangkatan
  • Posisi base camp dan jumlah porter yang akan disewa untuk membawa tenda, membawa logistik, dan memasak untuk kami di sana
  • Rute yang akan ditempuh karena menuju puncak ada beberapa rute dengan perbedaan kondisi alam dan tingkat kesulitan
  • Barang-barang yang akan dibawa termasuk jumlah tas (keril, tas untuk ke puncak, dan untuk jalan-jalan di pantai)

Setelah beberapa kali diskusi dan bertukar informasi dari internet akhirnya diputuskan kami akan terbang pada tanggal 12 Agustus 2015 ke Lombok dan kembali di 18 Agustus 2015.

Posisi base camp dipilih di rumah Pak Nur Saat yang terletak di Senaru. Kami memutuskan untuk menyewa 4-5 porter untuk membawa perbekalan dan untuk memasak di puncak.

Peta Rinjani (Gambar dari http://semuthitam.org/?p=214)

Peta Rinjani (Gambar dari sini)

Rencananya adalah:

  • Sampai di basecamp sekitar jam 16:00 WITA
  • Mulai jalan pukul 23:00 WITA dari Sembalun (tidak lewat pos 1, karena lebih singkat meski rute lebih menantang)
  • Camping di pos 2 sekitar pukul 01:00 dini hari
  • Sarapan di pos 2, lalu jalan ke Plawangan Sembalun
  • Makan siang di Plawangan Sembalun, istirahat, lalu jam 2 pagi Summit Attack
  • Turun ke Danau Segara Anak dan menginap di sana
  • Besoknya ke Plawangan Senaru dan turun ke Senaru
  • Jalan-jalan di Senggigi

Sayang karena kelelahan muncak dan waktu tidak cukup ke danau, akhirnya kami kembali menginap di Plawangan Sembalun dan besoknya turun ke Sembalun lagi dan ke basecamp di Senaru dengan mobil pick up.

Berikut adalah foto-foto dan video hasil perjalanan ke sana.

Di Bandara Soekarno Hatta

Malam sebelum berangkat saya pesan taksi Blue Bird dengan tujuan bandara. Dari Serpong rute terdekat adalah via Tangerang tanpa lewat tol baru. Saya tidak berani pesan Uber atau pesan taksi mendadak kalau akan pergi ke bandara. Terlalu beresiko karena bisa terlambat. Teman-teman yang lain ada yang naik damri dan bahkan ojek 🙂 Dadang yang kesiangan bangun nyaris tertinggal pesawat. Donny Ari Surya yang mengalami kemacetan di daerah Ciputat juga sempat ketar-ketir tertinggal pesawat. Alhamdulillah semuanya bisa kumpul boarding on time. Setiap mau pergi biasanya saya agak tegang sehingga kurang tidur. Jam 2 pagi baru bisa tidur dan bangun jam setengah lima. Kelelahan ini membuat kinerja saya cukup rendah karena malamnya langsung mendaki. Jangan ditiru ya.. selalulah cukup tidur sebelum mendaki untuk menghemat tenaga.

Di Pesawat dan di Bandara Lombok Praya

Menjelang pukul 12 waktu setempat kami tiba di Lombok Praya dan langsung mengambil tas keril yang harus masuk bagasi karena terlalu besar. Cuaca cukup terik dan mobil ELF sudah siap menjemput kami menuju base camp Pak Nur Saat di Senaru. Kami mampir makan siang di sebuah restoran tidak jauh dari bandara. Karena kelaparan makanan tadi tandas dalam waktu cepat. Setelah sholat dzuhur dan ashar di jamak, kami menuju Senaru.

Tiba di Lombok dan menuju Basecamp Pak Nur Saat Senaru

Pak Nursaat menyambut kami dengan sangat ramah dan penuh canda tawa. Istrinya memasak dengan penuh cinta dan selalu menjadi rebutan para pendaki yang singgah di tempatnya. Biasanya dia memasak sayur sawi atau sup, ayam goreng potong, mie goreng, udang cabe, dan sambal dadaknya yang khas Lombok. Maknyus tenan. All you can eat cuma dibandrol 13 ribu rupiah. Makan sampai kenyang. Kami bebas mandi di kedua toilet yang tersedia di sana meski harus mengantri. Pak Nur Saat mengandalkan penjualan makanan dan minuman serta kaos yang ada di sana. Dia mempersilakan kita untuk bernegosiasi langsung dengan para porter dan tidak menjadi calo. Sungguh keikhlasan dan ketulusan terpancar dari wajah dan senyumnya. Sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mendaki ke Rinjani dengan biaya yang sangat terjangkau. Jangan bandingkan dengan base camp lainnya yang berjuta-juta per orang yang mentargetkan para bule manca negara. Dengan kesederhanaan ini justru kami seperti merasakan rumah yang tak pernah kami miliki. Seolah kami tidak berada di tanah asing. Karena di mana ada kehangatan dan keramahan di situlah kita menemukan makna rumah. Untuk transportasi, makan, dan biaya porter sebelas orang hanya patungan sekitar 600 ribu rupiah saja selama lima hari di sana.

Akhirnya, malam pun tiba. Sekitar pukul sebelas malam, kami bersebelas dan porter dibawa ke Sembalun dengan mobil pick up selama lebih kurang satu jam.

Setelah berdoa kami berangkat menuju pos 2 langsung, mengambil rute singkat namun cukup menantang. Memang lebih berat, tetapi jauh lebih pendek daripada melalui pos 1 yang lebih landai. Udara cukup dingin, mungkin sekitar 15-18 derajat celcius. Dua plastik tolak angin aku minum untuk menghangatkan badan. Hydro bag milikku bocor sehingga airnya harus dibuang agar tidak membanjiri tas. Mesti beli hydro bag yang anti bocor nih. Penting.

Sampai di pos 2 Andra dan Febru memasak air untuk jahe dan cereal. Lumayan menghangatkan badan sebelum bobo. Akhirnya setelah tidur hanya 2 jam kemarin, aku bisa tertidur pulas sampai pagi menjelang.

Pos 2 Sembalun, 13 Agustus 2015

Pagi hari setelah subuh kami berfoto di sana berlatar belakang Rinjani yang menjulang tinggi. Para porter memasak sarapan pagi yang memuaskan rasa lapar kami. Menunya nasi goreng dengan buah nanas. Maknyus.

Setelah sarapan kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos 3 menuju Plawangan Sembalun. Perjalanan melintasi sabana dan bukit curam yang dikenal dengan Bukit Penyesalan. Tujuh bukit penyesalan adalah ciri khas Gunung Rinjani di Lombok Nusa Tenggara Barat. Mengapa dinamakan seperti itu? Karena pendaki Rinjani setelah pos 3 Pada Balong harus melewati tujuh bukit tersebut sebelum mencapai Plawangan Sembalun. Dan jalur tersebut sangat menyiksa raga pendaki, tujuh bukit yang harus dilalui yang kesemuanya adalah tanjakan berat! Maka pos 3 digunakan pendaki untuk mengumpulkan stamina dan mental sebelum melewati tujuh bukit penyesalan.

Bersambung

Camping di Ranca Upas – Ciwidey – Bandung

Libur panjang Nyepi kemarin kami habiskan dengan berkemah di Ranca Upas, Ciwidey, Bandung. Tadinya mau camping bersama rekan kantor, Dony Alpha, yang sudah pernah ke sana duluan beberapa waktu lalu. Sayang anak-anaknya sedang sakit, jadi terpaksa batal ke Ciwidey. Karena sudah direncanakan akhirnya kami tetap berkemah, berlima minus istri yang mendapat tugas ke luar kota selama tiga hari. Malam sebelum keberangkatan, istri tercinta belanja makanan untuk dimasak selama camping. Tadinya mau sharing juga sama keluarga Dony, namun karena ada force majeur, bekalnya jadi terasa berlimpah 🙂

Bekal Makanan

Bekal Makanan

Saya, Rayyan, Aila, Angga (adik istri), dan Mbak Saroh bangun pukul 4 pagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya, seperti sholat, sarapan, dan memasukkan barang-barang ke mobil. Apa saja yang kami bawa ke sana?

  • Tenda untuk 5 orang merk Turbo Tent, beli di Ace Hw. Pengen tahu speknya?
  • Kompor gas portable, beli di Ace Hw juga, dengan 4 kaleng gas dari Lotte Mart, sekalengnya sekitar 10 ribuan
  • Piring, gelas, mangkok, dan sendok buat piknik
  • Teflon buat menggoreng, panci kecil untuk masak indomie
  • Poci tanah liat dengan gula batu untuk ngeteh di suhu dingin 🙂
  • Beberapa bed cover dan pakaian antidingin berupa jaket tebal untuk menghangatkan badan
  • Aqua galon dan pompanya. Selama 3 hari 2 malam, untuk minum dan masak kami menghabiskan sekitar 3/4 galon. Ada Alfamart dekat Ranca Upas, sekitar 4 km dari BuPer. Jadi kalau membutuhkan cemilan, kopi, stmj, indomie, senter, kaos, sandal, dsb, bisa ke sini. Butuh cash? Bisa pakai BCA Tunai di situ. Nggak punya BCA? Pastikan mengambil uang di daerah Soreang, mumpung masih banyak ATM
  • Alat bantu penerangan. Kami membawa 1 lampu emergency yang ada di rumah yang biasa digunakan kalau mati listrik, 1 senter besar, 2 senter kecil, 1 lampu badai dengan baterai, dan 1 head lamp. Berguna kalau mau pipis ke WC atau mengambil barang di dalam tenda di malam hari
  • Terpal dan tambang untuk membuat bivak. Semakin lebar semakin baik.
  • Berbagai alat masak untuk menanak nasi, dsb
  • Pakaian ganti, kupluk, long john, dan pakaian renang (ada kolam air panas lho)

Apa saja yang kami tidak bawa dan kami harap membawanya?

  • Meja lipat kecil untuk makanan. Sebenarnya sudah disiapkan di garasi, tetapi karena barang-barang sudah masuk, tidak jadi dibawa karena bingung membawanya 🙂
  • Alas duduk dari plastik. Ruang vestibule di depan tenda bisa diberi alas duduk dari plastik ini untuk menampung barang-barang atau tambahan 1 orang. Kami membawa tikar lipat yang agak rentan terhadap air, jadi tidak bisa untuk duduk.
  • Keset untuk membersihkan kaki sebelum masuk tenda (akhirnya beli di Alfamart seharga 11 ribuan)
  • Ember dan gayung. Sebenarnya di depan Alfamart jual, namun maghrib sudah tutup. Jadi batal beli. Ember berguna untuk mencuci piring atau peralatan masak lainnya, membasuh kaki, dsb
  • Radio/TV dengan batere. Ketika hari sepi, mendengarkan musik atau berita sangat menghibur. Untung tetangga membawa radio sehingga kami bisa ikut terhibur
  • 1 tambahan kompor. Menggunakan 1 kompor portable untuk memasak air, nasi, dan lauk pauk untuk 5 orang, terasa sangat lama. Kalau misalnya ada 2 kompor, satu bisa untuk memasak nasi dan lainnya bisa memasak indomie atau lauk pauk lainnya.

Walhasil pukul 6 pagi berangkat dari rumah menuju tol Serpong, JORR, Cikunir, Cikampek, Cipularang, dan keluar di Kopo. Sempat berhenti satu jam untuk berbagai keperluan di Rest Area Cikampek.

Setelah keluar tol Kopo, kami merasa hari itu jalanan cukup macet ditambah ada kampanye PKS. Tapi kami menikmati saja perjalanan ini. Sampai Soreang sekitar pukul 1 siang. Kami memutuskan untuk sholat dan makan siang di Restoran Mawar di daerah Soreang. Ikan Gurame Saus Kacangnya dan Karedok Leuncanya maknyus!

Setelah makan dan sholat kami langsung menuju perkemahan Ranca Upas yang mulai mendung. Kami harus tiba sebelum hujan turun. Tidak berapa lama perjalanan yang menanjak itu akhirnya sampailah sudah. Berlima untuk 3 hari 2 malam dan mobil kami membayar 125 ribu rupiah. Karena berlima akhirnya kami menyewa satu tenda lagi dengan alasnya untuk dua malam sebesar 200 ribu rupiah. Petugas di sana membantu memasangkan tenda kami dan tenda sewaan, termasuk sebuah terpal untuk dijadikan bivak tempat berteduh ketika memasak di dekat tenda. Memiliki tenda sendiri benar-benar menghemat biaya untuk keperluan tenda.

Pagi hari setelah subuh, saya berjalan-jalan membawa kamera untuk mengambil gambar pemandangan di sekitar tenda sambil mengumpulkan beberapa informasi untuk dibagikan kepada anggota keluarga lainnya.  Nah sekarang kita lihat fasilitas-fasilitas yang ada di sana.

Fasilitas yang ada di Buper ini adalah:

  • Paint Ball (cocok kalau jumlah pesertanya banyak – dijamin seru karena perangnya bernuansa hutan)
  • Outbound (flying fox, rumah pohon, bungee trampolin, jembatan burma, dsb juga cocok kalau pesertanya banyak)
  • Kolam renang air panas (tiketnya 15 ribu per orang. Sayang tempat bilasnya sedikit, padahal yang datang banyak)
  • Penangkaran rusa (bisa membeli wortel seharga 5000 untuk diberi makan ke rusanya)
  • Sewa sepeda gunung (20 ribu per jam – asyik bisa membakar kalori memutari kompleks yang luas ini)
  • Trekking ke bukit

Dari pintu masuk yang ada tiketnya, di sebelah kiri sering digunakan untuk motocross. Saya sempat mengambil gambar aksi motor dan mobil offroad yang berlaga di situ.

Setelah puas menonton mereka berlaga, saya dan Rayyan menyewa sepeda dan membakar kalori selama hampir satu jam, naik tanjakan yang melelahkan namun sangat mengasyikkan!

Melihat-lihat pemandangan sekitar tempat camping adalah salah satu cara untuk memanfaatkan waktu di sana. Berikut ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di tempat Berenang air panas dan beberapa tempat lainnya.

Kesan waktu mengunjungi kolam renang adalah airnya tidak kotor, lumayan lah. Airnya hangat, tidak panas, jadi tidak menyakiti kulit. Sayang tempat bilasnya kurang banyak. Dan waktu itu perosotannya sedang diperbaiki sehingga mengurangi potensi fun yang ada. Untuk perusahaan atau outbond dengan banyak peserta, Ranca Upas menjadi salah satu pilihan yang menarik.

Bagi Aila, yang paling menyenangkan di sini selain berenang di air panas adalah memberi makan rusa. Untuk melihat rusa tidak perlu membayar. Jika ingin memberi makan, bias membeli wortel seharga 5000 per plastiknya.

Di hari ketiga, setelah sarapan dan saying good bye ke rusa-rusa yang lucu, kami menyempatkan diri ke Situ Patenggang yang tidak jauh dari buper ini. Keluar tinggal belok kanan dalam waktu lima belas menit sudah sampai. Kami juga sempat mengambil foto di perkebunan the Walini yang menghijau.

Tidak jauh dari Walini, sampailah kami ke Situ Patenggang. Tempatnya sangat indah, apalagi kalau dikunjungi bersama kekasih hati. Berikut ini adalah hasil jepretan di sana.

Singkat cerita, liburan yang menyenangkan bersama keluarga tidak harus di hotel mewah berbintang lima. Berkemah di bawah jutaan bintang mensyukuri ciptaan Tuhan lebih bermakna. Berkemah melatih anak-anak hidup berdampingan dengan alam, melatih kemandirian, menguatkan fisik, dan banyak hal positif lainnya.

Berkemah di Ranca Upas Ciwidey merupakan pilihan yang menarik buat anak-anak karena ada fasilitas penangkaran rusa dan kolam renang air panas. Di sekitar buper juga ada tempat wisata Kawah Putih (yang in shaa Allah akan dikunjungi di lain waktu), kebun teh Walini, dan Situ Patenggang yang menawarkan keindahan alam.

Pembaca, apakah punya kandidat tempat berkemah yang menarik untuk Keluarga lainnya? Bagikan di komentar ya..

Samsung Galaxy Gift

Samsung Gift

Samsung Gift

Para pengguna Samsung Galaxy S4 dan beberapa seri Samsung lainnya bisa menginstall aplikasi Samsung Galay Gift ini. Idenya cukup cerdas. Samsung bekerja sama dengan beberapa merchant seperti Burger King, Pancious, Chatime, dsb. Mereka membagikan ratusan hadiah gratis. Pengguna cukup redeem ketika voucher ini dibroadcast. Jika cukup cepat bisa mendapatkannya. Hadiahnya ada yang bernilai 500 ribu, 300 ribu, dsb. Pengguna Samsung senang, merchant senang karena produknya diiklankan, dan Samsung juga terkenal karena dibicarakan dari mulut ke mulut atau diiklankan via social media.

Pernah dalam satu hari saya mendapat dua hadiah sekaligus. Yummy. Hari ini saya kembali mendapat hadiah BK, dan saya ingin membaginya dengan rekan-rekan di kantor. Syaratnya mudah, cukup menjawab pertanyaan di bawah ini melalui komentar di blog ini, lalu share URL postingan ini di FB, dan tag saya.

Pertanyaannya sederhana, untuk mengenang pendiri Samsung yang perusahannya menjadi sukses sekali saat ini, apa weton lahir pendiri Samsung? Misal: Jumat Kliwon, Rabu Pon, atau apa?

Jawaban yang memenuhi syarat di atas akan mendapatkan gift di atas, ditunggu paling lambat jam 11:59 siang ini 🙂

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 180,000 times in 2013. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 8 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Pendakian Perdana ke Gunung Gede

Pada tanggal 9 November 2013 yang lalu saya dan 11 teman kantor pergi mendaki Gunung Gede. Mungkin buat rekan-rekan pembaca hal ini bukan sesuatu yang ajaib. Tapi buat saya di usia menjelang 40 tahun, berat badan overweight, dan bukan penggemar olah raga, hal ini cukup sesuatu banget 🙂

Sebenarnya pada awalnya tidak pernah terlintas untuk mendaki gunung. Saya dan kolega saya, Doni Alpha, menyukai petualangan outdoor, namun paling banter camping ceria. Pengalaman camping saya bisa dibaca di sini dan di sini. Suatu siang ketika ingin mengajak rekan lain untuk pergi camping, dia mengajak kami untuk sekalian hiking. Tentu saja tawaran ini langsung kami sambar. Ketika bertanya lebih rinci ternyata hiking ke Gunung Gede!!! Haaaaaaah??? Kami sontak saling berpandangan satu sama lain. Naik gunung????? Haaaaaaaaah??? Terus terang buat saya pribadi naik gunung tidak ada bayangan sama sekali. Almarhum ayah dulu sering naik gunung dan beliau tidak pernah mengajak anaknya untuk ikut serta. Karena sudah kepalang basah ingin camping, akhirnya kami membulatkan tekad untuk ikut. Kebetulan dua bulan terakhir ini kami ikut fitness dekat kantor, sehingga kami mulai berlatih untuk mempersiapkan diri naik gunung.

Latihan fisik yang kami lakukan adalah cardio, khususnya elliptical training, untuk melatih daya tahan (endurance) dan pernafasan. Saya juga berjalan di treadmill dengan elevasi maksimal dengan membawa beban. Terakhir sebelum berangkat saya berjalan dari rumah ke stasiun Rawa Buntu dan kembali ke rumah sekitar 15 km dengan kecepatan 4 – 5 km / jam dengan membawa tas gunung.

Sebelum berangkat tentu saja kami menyiapkan barang-barang perbekalan untuk dibawa. Karena belum berpengalaman jadi pendekatannya adalah sebanyak mungkin yang penting dibawa 🙂 Tentu saja ini pendekatan yang kurang bijaksana.

Menurut saya yang wajib di bawa adalah:

  1. Tas Gunung. Pastikan tidak terlalu besar. Kebetulan saya punya tas gunung yang lama tidak dipakai di gudang, volumenya 75 liter. Untuk ke Gunung Gede seharusnya sekitar 40-50 liter sudah cukup. Karena ingin menghemat jadi saya paksakan menggunakan tas tersebut. Ternyata barang yang masuk juga akhirnya ikut banyak dan menghambat proses pendakian. Setelah pos 1, saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa porter untuk membawakan tas saya. Total berat badan dan tas gunung sekitar 1 kuintal. Bukan berat yang ringan untuk pemula naik gunung. Jika saya paksakan membawa tas gunung itu sendiri saya akan tertinggal jauh di belakang dengan resiko kemalaman atau cedera pundak. Menentukan volume tas dan beratnya sudah merupakan strategi tersendiri. Saran saya, jangan bawa terlalu besar dan isinya jangan terlalu berat agar kita mudah untuk mendaki. Pilih tas yang ada pemisah di bagian belakang agar ada udara masuk sehingga tidak membuat panas punggung. Untuk mengantisipasi hujan, pastikan lengkapi tas dengan rain cover yang sesuai volume tasnya.
  2. Sleeping bag. Kantung tidur ini wajib dibawa bila akan menginap di gunung. Ada banyak sekali kantung tidur di pasaran, sebaiknya kalau suhunya rendah (di Gunung Gede suhunya bisa mencapai 5 derajat C), bahannya pilih yang dari polar, atau pastikan ketahanan suhunya menyesuaikan dengan suhu tempat kita akan menginap. Saya mengambil kantung tidur dari Ace Hardware yang bisa menahan hingga suhu titik beku. Karena harganya relatif murah maka sleeping bagnya jadi besar dan berat, sekitar 1.6 kg. Nah yang paling tepat kalau ada anggaran, cari yang ringan (di bawah 1 kg), volume kecil, dan tahan suhu rendah.
  3. Matras. Matras yang baik sebaiknya yang bisa digunakan untuk membentuk kerangka berbentuk silinder di dalam tas punggungnya. Jadi matras bisa membentuk tas punggung agar lebih kompak. Matras berguna menjaga suhu tubuh agar sleeping bag tidak langsung menyentuh tanah atau alas tenda.
  4. Untuk alas kaki ada dua pendapat, yang satu menyukai sandal gunung, yang lain sepatu gunung. Buat saya lebih suka menggunakan sepatu gunung yang melindungi mata kaki dan bila suhu dingin lebih hangat. Pastikan solnya cukup menggigit agar tidak licin sewaktu turun gunungnya.
  5. Baju hangat untuk menginap saya pilih long john two pieces. Baru mengenakan jaket tebal hangat, sarung tangan, kaus kaki, dan celana panjang lapangan. Baru masuk sleeping bag. Suhu 5 derajat di lembah Surya Kencana bisa diatasi dengan baik.
  6. Senter saya menggunakan head lamp, yang diikat di kepala, sehingga kalau berjalan tangan kita bebas.
  7. Jas hujan saya membawa ponco dan juga yang two piece. Kebetulan punya dari Eiger yang biasa saya pakai naik motor. Sangat membantu waktu di puncak yang beresiko hujan namun terkena angin dingin. Kalau menggunakan baju hangat, beresiko basah. Akhirnya saya pakai two piece di puncak yang bisa menahan dingin sekaligus mengantisipasi hujan.
  8. Alat makan. Untuk piring saya gantikan dengan tupperware kecil (bisa diisi mie gelas) dan sendok garpu yang menyatu dengan swiss army.

Hal-hal lain yang menurut saya penting namun opsional adalah:

  1. Tongkat gunung. Waktu turun sangat membantu menahan cedera lutut karena bisa memindahkan berat badan dan tas hingga 40%
  2. Tempat air minum yang bisa menampung sekitar 1 – 2 liter, ditaruh di tas dan ada selang untuk meminumnya.
  3. Buff Headwear, berguna untuk menutup hidung dari debu atau udara dingin, menahan radiasi panas di tengkuk, menahan panas di kepala, dan sebagainya
  4. Kompas untuk mengetahui arah mata angin. Kalau Gunung Gede rutenya sudah sangat jelas, sehingga tanpa kompas pun sebenarnya peluang tersesat kecil. Namun bila gunungnya tidak semudah Gunung Gede, kompas akan sangat membantu kalau kita tersesat atau untuk menunjukkan arah kiblat
  5. Topi gunung atau topi rusia sangat membantu menahan panas, mencegah terkena duri, dan melindungi dari suhu rendah

Ok sekarang kita bicara tentang perjalanan. Setelah izin pendakian diurus oleh Marvin dan Melky, kami berdua belas menggunakan tiga mobil menuju villa milik Marvin di daerah Cibodas pada Jumat malam sepulang kantor. Sampai di villa kami melakukan repacking agar mudah dan enak dibawa paginya. Selesai packing sekitar jam 2 pagi, tidur, bangun lagi jam 4 pagi untuk persiapan mandi, sarapan, dan sholat. Setelah berdoa kami berangkat menuju Cibodas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Sebelum Naik

Sebelum Naik

Peta Gede Pangrango

Peta Gede Pangrango

Kami mulai naik dari Cibodas sekitar jam 7 pagi menuju Kandang Batu. Perjalanan mulai menunjukkan tangga yang bagaikan tak berakhir… Menuju pos 1 kami melewati Telaga Biru di sebelah kiri lalu melewati rawa Gayonggong yang memiliki jembatan. Jembatan ini dibuat karena rawa sering digenangi air dan akhirnya dibuat untuk mempermudah melewati rawa ini.

Jembatan di Rawa Gayonggong

Jembatan di Rawa Gayonggong

Telaga Biru yang kami temui begitu indah, dan ada ikan besar berenang, sepertinya ikan mas. Entah siapa yang meletakkan ikan tersebut di sana.

Di Telaga Hijau

Di Telaga Biru

Karena Air Terjun Cibeureum tidak sejalur dengan arah pendakian kami memutuskan tidak mampir ke sana. Kami berencana untuk mampir sewaktu turun ke bawah. Di pos 1 beban yang saya bawa semakin merepotkan. Kalau saya tetap memaksakan diri untuk membawa beban ini saya khawatir akan menjadi paling belakang dan ditemani sweeper. Akhirnya saya meminta Dadang untuk mencari porter untuk membawakan tas gunung saya yang terlalu berat dan terlalu besar. Seperti orang pindahan, kata porternya. Hahaha. Maklum pemula di gunung, jadi masih tidak paham mengenai pentingnya membawa tas gunung yang kompak dan tidak berat. Belakangan saya menyadari keputusan saya untuk membawa porter adalah keputusan yang sangat tepat. Saya bisa mendaki dengan kecepatan penuh, konsentrasi mengambil video dan gambar, dan bisa sampai di puncak waktu masih terang. Teman-teman lain yang kewalahan membawa tas gunungnya tidak sempat berfoto karena sampai sudah maghrib dan gelap.

Setelah berjalan lama akhirnya sampailah di air panas, yang konon suhunya mencapai 70 derajat C. Di sinilah untungnya menggunakan sepatu anti air 🙂 Kalau tidak berhati-hati kaki bisa melepuh. Sebelah kanan juga jurang menganga, jadi pastikan hati-hati dan merapat di kiri. Sweeper kami menggunakan sepatu biasa dan kakinya terendam air panas, sol sepatunya langsung copot. Dia harus membuang sepatunya dan pinjam sendal teman.

Air Panas

Air Panas

Pukul 10:35 sampailah saya di Kandang Batu. Di sana ada tiga teman yang sudah sampai dan kami beristirahat sekitar 1 jam karena menunggu teman yang lainnya. Tepat pukul 11:45 siang kami berangkat menuju Kandang Badak dan sampai dalam tempo kurang dari 1 jam. Di sana saya beristirahat sekaligus sholat Dzuhur dan Ashar dijamak. Setelah makan nasi uduk dari penjual yang lalu lalang dengan harga 10 robu rupiah, saya melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Setelah beberapa lama sampailah saya di Tanjakan Setan. Dinamakan Tanjakan Setan karena jalannya cukup terjal sehingga dibantu tali dan pancang beton. Sebenarnya ada jalan alternatif yang berupa tangga mendaki, namun sepertinya tidak menantang kalau tidak mencoba Tanjakan Setan ini. Ternyata jalan setelah Tanjakan Setan ini justru semakin berat sampai ke puncak. Namun semua lelah musnah begitu melihat keindahan puncak ciptaan Allah SWT…

Di depan Puncak Pangrango

Di depan Puncak Pangrango

Setelah puas berfoto di puncak, rombongan pertama segera menuju lembah Alun-alun Surya Kencana untuk mendirikan tenda. Ternyata jarak dari puncak ke Surya Kencana lumayan jauh juga, dan harus berhati-hati agar tidak jatuh. Lebih kurang satu jam kami sampai ke bawah dan langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda yang cukup terlindung dari kencangnya angin.

Surya Kencana

Surya Kencana

Setelah tenda selesai didirikan, saya berganti pakaian, mengganti kaos yang basah, memakai long john, jaket tebal, sarung tangan, dsb. Setelah makan malam yang dimasakkan oleh porter, saya sholat maghrib dan isya lalu tidur meringkuk dalam kantung tidur yang hangat. Angin bertiup kencang, suhu mencapai 5 derajat C.Paginya kami berfoto-foto di Alun-alun Surya Kencana, mengambil air minum dari mata air, lalu turun menuju Gunung Putri. Karena lelah, kami tidak jadi naik ke puncak lagi pada pagi harinya untuk mengambil sunrise. Insya Allah lain kali kalau mencoba Pangrango, akan menginap di Badak, lalu mengambil foto sunrise di puncak.Alhamdulillah selama naik hingga turun tidak turun hujan sama sekali, bahkan gerimis pun tidak. Sesampainya di desa Sukatani, Cipanas, kami mampir di warung makan untuk makan siang dan melepas lelah. Saya memesan air panas dicampur air garam untuk kaki saya di dalam ember. Alhamdulillah terasa nikmaaat!!Kami mencarter angkot untuk mengantar kami kembali ke Cibodas mengambil mobil yang kami parkir di sana. Kami pulang dengan bahagia karena bertambah pengalaman yang luar biasa. Jadi ketagihan untuk mendaki gunung lainnya. Insya Allah tahun depan mau mencoba Gunung Papandayan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ingin melihat trailer dari perjalanan kami? Tengok saja di sini:

Pernah naik gunung? Ceritakan pengalamanmu di komentar ya…

Foto-foto Final Lomba Baca Puisi Dari Negeri Poci 4 dan Peluncuran Antologi Puisi Negeri Abal-abal

Berikut ini adalah foto-foto final  Lomba Baca Puisi Dari Negeri Poci 4 dan Peluncuran Antologi Puisi Negeri Abal-abal di Pendopo Kota Tegal 10 Maret 2013 lalu.

Dalam bentuk slideshow:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.