Jalan-jalan ke Lombok dan Mendaki Puncak Rinjani


Setelah kurang dari dua tahun lalu saya dan teman-teman pencinta alam di kantor naik Gunung Gede, kami mencoba untuk mendaki Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa ikut pendakian ke Gunung Ceremai dan Gunung Pangrango.

Setelah memesan tiket sekitar bulan Maret 2015, maksudnya supaya memastikan tiket sudah di tangan, kami pun merencanakan perjalanan ke sana. Diskusi via WhatsApp dan email kami lakukan untuk membahas:

  • Tanggal keberangkatan
  • Posisi base camp dan jumlah porter yang akan disewa untuk membawa tenda, membawa logistik, dan memasak untuk kami di sana
  • Rute yang akan ditempuh karena menuju puncak ada beberapa rute dengan perbedaan kondisi alam dan tingkat kesulitan
  • Barang-barang yang akan dibawa termasuk jumlah tas (keril, tas untuk ke puncak, dan untuk jalan-jalan di pantai)

Setelah beberapa kali diskusi dan bertukar informasi dari internet akhirnya diputuskan kami akan terbang pada tanggal 12 Agustus 2015 ke Lombok dan kembali di 18 Agustus 2015.

Posisi base camp dipilih di rumah Pak Nur Saat yang terletak di Senaru. Kami memutuskan untuk menyewa 4-5 porter untuk membawa perbekalan dan untuk memasak di puncak.

Peta Rinjani (Gambar dari http://semuthitam.org/?p=214)

Peta Rinjani (Gambar dari sini)

Rencananya adalah:

  • Sampai di basecamp sekitar jam 16:00 WITA
  • Mulai jalan pukul 23:00 WITA dari Sembalun (tidak lewat pos 1, karena lebih singkat meski rute lebih menantang)
  • Camping di pos 2 sekitar pukul 01:00 dini hari
  • Sarapan di pos 2, lalu jalan ke Plawangan Sembalun
  • Makan siang di Plawangan Sembalun, istirahat, lalu jam 2 pagi Summit Attack
  • Turun ke Danau Segara Anak dan menginap di sana
  • Besoknya ke Plawangan Senaru dan turun ke Senaru
  • Jalan-jalan di Senggigi

Sayang karena kelelahan muncak dan waktu tidak cukup ke danau, akhirnya kami kembali menginap di Plawangan Sembalun dan besoknya turun ke Sembalun lagi dan ke basecamp di Senaru dengan mobil pick up.

Berikut adalah foto-foto dan video hasil perjalanan ke sana.

Di Bandara Soekarno Hatta

Malam sebelum berangkat saya pesan taksi Blue Bird dengan tujuan bandara. Dari Serpong rute terdekat adalah via Tangerang tanpa lewat tol baru. Saya tidak berani pesan Uber atau pesan taksi mendadak kalau akan pergi ke bandara. Terlalu beresiko karena bisa terlambat. Teman-teman yang lain ada yang naik damri dan bahkan ojek 🙂 Dadang yang kesiangan bangun nyaris tertinggal pesawat. Donny Ari Surya yang mengalami kemacetan di daerah Ciputat juga sempat ketar-ketir tertinggal pesawat. Alhamdulillah semuanya bisa kumpul boarding on time. Setiap mau pergi biasanya saya agak tegang sehingga kurang tidur. Jam 2 pagi baru bisa tidur dan bangun jam setengah lima. Kelelahan ini membuat kinerja saya cukup rendah karena malamnya langsung mendaki. Jangan ditiru ya.. selalulah cukup tidur sebelum mendaki untuk menghemat tenaga.

Di Pesawat dan di Bandara Lombok Praya

Menjelang pukul 12 waktu setempat kami tiba di Lombok Praya dan langsung mengambil tas keril yang harus masuk bagasi karena terlalu besar. Cuaca cukup terik dan mobil ELF sudah siap menjemput kami menuju base camp Pak Nur Saat di Senaru. Kami mampir makan siang di sebuah restoran tidak jauh dari bandara. Karena kelaparan makanan tadi tandas dalam waktu cepat. Setelah sholat dzuhur dan ashar di jamak, kami menuju Senaru.

Tiba di Lombok dan menuju Basecamp Pak Nur Saat Senaru

Pak Nursaat menyambut kami dengan sangat ramah dan penuh canda tawa. Istrinya memasak dengan penuh cinta dan selalu menjadi rebutan para pendaki yang singgah di tempatnya. Biasanya dia memasak sayur sawi atau sup, ayam goreng potong, mie goreng, udang cabe, dan sambal dadaknya yang khas Lombok. Maknyus tenan. All you can eat cuma dibandrol 13 ribu rupiah. Makan sampai kenyang. Kami bebas mandi di kedua toilet yang tersedia di sana meski harus mengantri. Pak Nur Saat mengandalkan penjualan makanan dan minuman serta kaos yang ada di sana. Dia mempersilakan kita untuk bernegosiasi langsung dengan para porter dan tidak menjadi calo. Sungguh keikhlasan dan ketulusan terpancar dari wajah dan senyumnya. Sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mendaki ke Rinjani dengan biaya yang sangat terjangkau. Jangan bandingkan dengan base camp lainnya yang berjuta-juta per orang yang mentargetkan para bule manca negara. Dengan kesederhanaan ini justru kami seperti merasakan rumah yang tak pernah kami miliki. Seolah kami tidak berada di tanah asing. Karena di mana ada kehangatan dan keramahan di situlah kita menemukan makna rumah. Untuk transportasi, makan, dan biaya porter sebelas orang hanya patungan sekitar 600 ribu rupiah saja selama lima hari di sana.

Akhirnya, malam pun tiba. Sekitar pukul sebelas malam, kami bersebelas dan porter dibawa ke Sembalun dengan mobil pick up selama lebih kurang satu jam.

Setelah berdoa kami berangkat menuju pos 2 langsung, mengambil rute singkat namun cukup menantang. Memang lebih berat, tetapi jauh lebih pendek daripada melalui pos 1 yang lebih landai. Udara cukup dingin, mungkin sekitar 15-18 derajat celcius. Dua plastik tolak angin aku minum untuk menghangatkan badan. Hydro bag milikku bocor sehingga airnya harus dibuang agar tidak membanjiri tas. Mesti beli hydro bag yang anti bocor nih. Penting.

Sampai di pos 2 Andra dan Febru memasak air untuk jahe dan cereal. Lumayan menghangatkan badan sebelum bobo. Akhirnya setelah tidur hanya 2 jam kemarin, aku bisa tertidur pulas sampai pagi menjelang.

Pos 2 Sembalun, 13 Agustus 2015

Pagi hari setelah subuh kami berfoto di sana berlatar belakang Rinjani yang menjulang tinggi. Para porter memasak sarapan pagi yang memuaskan rasa lapar kami. Menunya nasi goreng dengan buah nanas. Maknyus.

Setelah sarapan kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos 3 menuju Plawangan Sembalun. Perjalanan melintasi sabana dan bukit curam yang dikenal dengan Bukit Penyesalan. Tujuh bukit penyesalan adalah ciri khas Gunung Rinjani di Lombok Nusa Tenggara Barat. Mengapa dinamakan seperti itu? Karena pendaki Rinjani setelah pos 3 Pada Balong harus melewati tujuh bukit tersebut sebelum mencapai Plawangan Sembalun. Dan jalur tersebut sangat menyiksa raga pendaki, tujuh bukit yang harus dilalui yang kesemuanya adalah tanjakan berat! Maka pos 3 digunakan pendaki untuk mengumpulkan stamina dan mental sebelum melewati tujuh bukit penyesalan.

Bersambung

Iklan

Posted on Agustus 24, 2015, in Fotografi, Lain-lain, Tips, Ulasan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 19 Komentar.

  1. kalo di gunung kenapa jadi cakep-cakep ya hehehe….

  2. Asliii kereeen wisnuu pengalamannya ,mendaki rinjani dan foto2ny super kereen gunung nya yg keren tapi yee heheee

  3. itu laki semua kak?? jomblo kah.. 😀

  4. kereeennnnn,…. salam kenal dari wong banyumas

  1. Ping-balik: Menuju Plawangan Sembalun – Kaki Rinjani | Untold Contemplation

  2. Ping-balik: Menuju Puncak Rinjani | Untold Contemplation

  3. Ping-balik: Weekly Photo Challenge: Optimistic | Untold Contemplation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: