Ekspedisi ke Gunung Munara

Sebelum saya mendongeng, tonton dulu yuk trailernya berikut ini:

Bagaimana? Seru kaaan?

Nah.. ceritanya, selepas pendakian saya dan teman kantor beberapa bulan lalu ke Gunung Lembu di Purwakarta, saya meminta Gandhi untuk mencari petualangan berikutnya yang ada di seputar Jakarta via internet. Dapatlah dia Gunung Munara yang berlokasi di sekitar Rumpin – Bogor ini. Lokasinya dekat sekali dari tempat tinggal kami di daerah Tangerang Selatan. Hanya sekitar 1 jam seperempat dari BSD City, Tangerang Selatan.

Img2

Selain Gandhi, saya juga mengajak kolega petualang outdoor, Dony Alpha untuk ikutan dalam keseruan ini. Tidak disangka-sangka ternyata sekeluarga pula dia ajak. Luar biasa.

udadony

Putrinya yang paling kecil berusia 4 tahun! Si kecil digendong naik turun oleh ayahnya. Top daddy! Putri kedua masih kelas 2 SD, naik dan turun gunung tanpa mengeluh sama sekali. Sangat menginspirasikan bagi keluarga lain bahwa kegiatan outdoor bisa dinikmati seluruh anggota keluarga. Ingin mencoba?

Selain mengajak Gandhi dan Dony, saya mengajak seorang blogger yang belum pernah saya temui secara langsung, yaitu Winny, yang juga mengajak teman-temannya yaitu Riza, Yoshi, dan Bijo, yang juga belum pernah saya temui secara langsung meski sering ngobrol di dunia maya. Saya juga mengajak Andra dan Rizal tetangga di kompleks rumah, selain anak lelaki saya, Rayyan. Kegiatan ini bagus untuk bonding antara saya dan anak sehingga komunikasi tetap bagus dan membiasakan aktivitas positif sehingga tidak melulu bermain gawai.

Untuk pergi ke sana, saya menggunakan bantuan Waze dengan tujuan Situs Gunung Munara, yang membawa saya sekitar 1 jaman dari Rawa Buntu BSD. Jalan ke sana masih ada yang rusak (sekitar 15 – 25 persen dari keseluruhan perjalanan).

rusak

Ketika kalian sudah melihat plang Situs Gunung Munara, masuklah ke gang yang hanya muat satu mobil itu. Untungnya sangat jarang orang menggunakan mobil ke sana. Kebanyakan menggunakan sepeda motor ke sana.

Sesampai di ujung gang, ada lahan untuk parkir yang hanya muat sekiat 4 – 6 mobil saja. Untungnya kami datang ketika masih sepi sehingga tiga mobil bisa parkir dengan mudah. Biaya parkir 3 mobil dan 9 orang dewasa adalah 115 ribu rupiah.

loket

Pastikan nanti tidak perlu membayar apapun lagi ketika pulang. Jangan mau dipungut lagi, karena tidak bagus untuk pariwisata juga.

munara (6 of 15)
Penitipan helm, barang, wc, dan jajanan

Untuk menuju kaki Gunung Munara kami berjalan menyeberangi jembatan dan berjalan di samping sungai. Banyak warga setempat yang memanfaatkan air sungai ini untuk mandi.

papan
Petunjuk arah sangat membantu agar kami tidak tersesat
walk
Menuju kaki gunung
river
Sungai yang menyegarkan mata
bridge2
Menyeberangi jembatan

Perjalanan menuju pos 1 lumayan membuat kami berkeringat. Seru sekali bercanda bersama rekan seperjalanan, sambil menceritakan pengalaman kami sebelumnya. Kami saling bertukar pengalaman sehingga membuat kami menjadi semakin mengenal satu sama lain. Hal ini yang membuat olahraga ini menjadi sangat menyehatkan karena selain bergerak secara fisik kami juga bersosialisasi dan menguatkan arti persahabatan.

pos1
Istirahat sejenak di dekat Pos 1
warung
Jajanan lengkap di sepanjang perjalanan. Jangan takut kelaparan atau kehausan
wefie1
Wefie bersama sambil menikmati keindahan alam
rayyan
Rayyan beristirahat sejenak
pos2
Indahnya Indonesiaku
keamanan
Pos 3 – Membayar 5000 rupiah per orang untuk uang keamanan dan kebersihan
me
Menikmati keindahan
landscape1
Panorama View di tengah perjalanan
munara (5 of 15)
Batu belah dari bawah

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tips mendaki batu belah:

  1. Sebaiknya tidak punya phobia terhadap ketinggian. Jika punya foto-foto saja di bawahnya
  2. Sepatu gunung akan lebih baik daripada sandal gunung
  3. Sebaiknya mendaki satu persatu, jangan beramai-ramai menggunakan tali karena sepertinya tidak kuat untuk digunakan beramai-ramai
  4. Jangan mendaki pada saat hujan, karena bahaya petir dan licin
  5. Puncak batu belah hanya nyaman diduduki empat orang. Sebaiknya bergantian dengan orang lain setelah mengambil foto secukupnya

Sekitar 10 menit dari Batu Belah kita dapat mencapai puncak Gunung Munara, yaitu Batu Bintang. Ada spot yang bagus untuk berfoto namun harus sangat berhati-hati.

me2
Ini asli serem hehehe

Setelah turun saya mengambil beberapa gambar dengan tele yang tidak saya bawa naik karena berat hehehe… Berikut ini adalah gambar-gambar yang saya ambil dengan lensa 70-200 mm f2.8.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan inilah film pendek yang saya buat dengan iMovie dari iPhone bisa memberikan gambaran lengkap perjalanan kami.

Kesimpulan:

Gunung Munara bisa dijadikan alternatif wisata hiking terjangkau yang menyehatkan dan menyenangkan. Jika ada pertanyaan silakan ditanyakan di kolom komentar di bawah ya!

Ada pengalaman menarik di Gunung Munara atau gunung lainnya? Bagi cerita kalian ya!

Pendakian ke Gunung Lembu di Purwakarta

Week end minggu lalu saya mengajak anak saya yang duduk di kelas 1 SMP, tetangga di rumah, dan tiga kolega untuk hiking ke Gunung Lembu di Purwakarta.

Evernote Camera Roll 20160529 034949
Tatang, Rayyan, Me, Gandi, Azhari, dan Nanang Zi

Perjalanan kami dimulai dari Senayan sekitar pukul 9 pagi dan baru sampai di base camp sekitar pukul 3 sore karena macet di Cikampek dan berhenti untuk makan siang dan sholat di RM Ciganea sekitar 1,5 jam. Tentu saja kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk makan di tempat ini karena saya dan sekeluarga sudah sering makan di RM Ciganea baik yang ada di rest area Bandung – Jakarta maupun yang ada di BSD. Menu favorit saya adalah ayamnya yang gurih, yang konon dicampur air kelapa sebelum digoreng, dan ikan bilis goreng kering.


Dari sini saya menggunakan aplikasi Google Maps dengan destinasi Gunung Lembu. Kami diarahkan untuk belok kanan di Pasar Anyar Sukatani. Dari sini jalan cukup sempit sehingga kalau berpapasan dengan mobil lain harus bergantian. Jarak dari pasar hingga basecamp lebih kurang sekitar 12 km dengan kondisi menanjak dan sesekali turunan tajam.

Setelah sampai kami segera menyiapkan tas keril dan memasukkan air serta peralatan lainnya. Di basecamp ini sudah disediakan parkir motor dan mobil. Untuk mobil dikenakan 10 ribu bila tidak menginap dan 15 ribu bila menginap.

Saya langsung melapor dan diterima dengan ramah oleh Pak Syamsudin. Saya isi buku tamu dan meninggalkan informasi berupa nomor telepon dan jumlah anggota yang akan naik. Per orangnya dikenakan 10 ribu rupiah. Harga yang cukup murah dan bersahabat.

Evernote Camera Roll 20160529 035745
Bersama Pak Syamsudin di Base Camp Gunung Lembu

Setelah siap kami segera menuju Pos 1 melalui pintu gerbang dengan spanduk selamat datang.

Evernote Camera Roll 20160529 040314
Medannya tidak jauh sebenarnya, namun sudut elevasinya sekitar 45 derajat dengan kondisi licin bila hujan. Nyamuk hutan juga perlu diwaspadai sehingga membawa lotion anti nyamuk sangat disarankan. Menggunakan tongkat gunung cukup membantu untuk melangkah. Jangan menyerah sebelum mencapai Pos 1.

Menjelang sampai pos 1 hujan turun cukup lebat, dan mengingat waktu sudah mendekati maghrib kami memutuskan untuk mendirikan tenda dekat warung dan rumah pohon di pos 1. Pemandangannya bagus, mengarah ke waduk Jatiluhur.

Evernote Camera Roll 20160529 040423
Setelah makan malam, sekitar pukul sembilan kami mulai tidur. Saya terbangun sekitar pukul 3 pagi menikmati terang bulan dan keindahan lampu Sukabumi dan lampu tambak sungai yang mengalir ke waduk Jatiluhur. Keindahan yang luar biasa dan kesempatan kita mengagungkan kekuasaan Ilahi.

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan, agar kamu mendapat petunjuk,” – (QS.16:15)

Udara di sini tidak sedingin Ciwidey – Bandung atau Guci – Tegal. Suhunya lebih kurang sama dengan di Sukamantri – Bogor, atau Cidahu – Sukabumi. Tidak panas juga, sehingga cukup nyaman untuk camping tanpa perlu jaket dingin.

Wisata Gunung Lembu ini menurut penjual di pos 1 ini baru mulai digalakkan sekitar dua tahun terakhir. Sebagian besar wisatawan datang dari Jakarta. Wisatawan asing yang pernah datang di antaranya dari Jerman, Jepang, Korea, dan Inggris.

Sinyal di Pos 1 ini tidak terlalu bagus. Internet sangat sulit, menelpon sesekali bisa. Komunikasi di daerah ini tergantung provider telko Anda.

Hal yang jarang dibahas di tulisan catatan perjalanan pendakian Gunung Lembu ini adalah:
– Di Pos 1 ini ada sumber mata air. Jadi jangan takut untuk kehabisan air jika nge-camp di sini
– Ada dua warung indomie dengan minuman botol, kelapa muda, dengan balai-balai untuk istirahat. Jadi tidak perlu terlalu banyak membawa cadangan air minum untuk dibawa dari bawah. Lebih menghemat tenaga, bukan? Semangkuk indomie cuma bayar goceng!
– Ada rumah pohon dari bambu yang bisa digunakan untuk selfie dan mengambil gambar waduk Jatiluhur yang indah

Pagi harinya setelah sarapan dan berdoa kami bergerak ke Pos 2. Kami bawa barang berharga dan meninggalkan keril dan tenda di Pos 1. Perjalanan pagi itu sangat menyenangkan karena cuaca sangat cerah. Burung berkejaran di angkasa, beberapa hewan melata dari golongan mollusca seperti cacing berkepala palu dan kelabang raksasa sesekali tampak melewati bebatuan di kaki kami. Saya selalu mengingatkan rombongan di belakang agar jangan sampai mereka terinjak. Kita tidak ingin sebagai tamu menyakiti hewan-hewan yang tidak bersalah yang menjadi tuan rumah gunung ini.

Perjalanan ke Pos 2 tidak semengerikan dari  base camp ke Pos 1. Ada beberapa bonus berupa jalan landai atau menurun. Ini bagian yang disukai pendaki untuk mengambil nafas hehehe..

me2
Bidikan Azhari – Jalan menanjak
WhatsApp-Image-20160530 (2)
Bidikan Azhari – di Pos 2

Ada dua petilasan keramat yang harus dihormati namun tidak dikultuskan agar tidak jatuh ke dosa syirik. Minta hanya kepada Allah SWT, jangan ke tempat keramat. Jaga akidah jangan sampai rusak.

Tidak berapa lama kemudian kami sampai di Pos 3 dan puncak Gunung Lembu di mana tenda bisa didirikan meski jumlahnya tidak sebanyak di Pos 1 (atau di Rompang Ceria).

WhatsApp-Image-20160529 (2)
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan? Dikasih pemandangan indah, harus dijaga ya!
WhatsApp-Image-20160531 (3)
Puncak Lembu 792 MDPL
WhatsApp-Image-20160531
Senangnya berfoto bersama anak naik gunung bersama
IMG_6036
Indahnya Waduk Jatiluhur dari Puncak Lembu
IMG_6035
Berdua bersama Rayyan

 

 

IMG_6034
Indahnya Indonesiaku

Tips mendaki Gunung Lembu

  • Gunung Lembu relatif mudah dinaiki oleh siapa saja, dari usia 10 tahun ke atas mestinya tidak mengalami masalah yang berarti
  • Olah raga jalan atau lari seminggu dua kali selama sebulan akan membantu memperkuat stamina
  • Istirahat yang cukup di malam sebelumnya juga penting untuk melewati tanjakan terutama di Pos 1
  • Tidak perlu bawa makanan dan minuman terlalu banyak karena di setiap pos ada warung indomie dan berbagai minuman, termasuk kelapa muda segar
  • Bawa lotion anti nyamuk, lebih baik yang semprot karena lebih mudah dipakai
  • Tongkat gunung lumayan membantu jika ada
  • Gunakan sendal gunung atau sepatu gunung yang tidak licin. Berhati-hati mendaki jika habis turun hujan
  • Matikan HP bila hujan. Di kuartal awal tahun 2016 ada seorang anak SMP meninggal dunia membawa HP tanpa alas kaki dalam keadaan hujan di dekat puncak. Beberapa orang temannya tidak tersambar karena HP dalam keadaan mati
  • Jangan remehkan gunung serendah apapun. Kesombongan menyebabkan kelengahan, dan kelengahan sumber malapetaka
  • Sebagai tamu, jangan kotori bebatuan dan pepohonan dengan guratan atau tulisan apapun. Jaga keindahan alam dengan tidak merusak dan meninggalkan sampah apapun
  • Membawa kompor kecil dan alat masak bisa menghemat dan memakan sesuai selera kita, namun tidak mandatori karena ada warung

Bonus: jika memungkinkan pulang dari sini bisa singgah ke tempat wisata Resort Tirta Kahuripan yang memiliki edgeless swimming pool di atas awan. Baca ulasannya di artikel selanjutnya. Stay tuned!

Kembali ke Sembalun

Tulisan ini adalah bagian keempat dari Expedisi ke Rinjani. Bagian ketiga bisa dilihat di sini. Setelah lelah turun dari puncak Rinjani, kami beristirahat dan tidur pulas sampai pagi. Paginya setelah sholat subuh saya berkeliling mengambil gambar Segara Anak di pagi hari dan keindahan Plawangan Sembalun yang terletak di atas awan itu.

Satu hal yang saya prihatin adalah banyaknya sampah di Plawangan Sembalun. Seharusnya ada tempat sampah diletakkan di sana sehingga memudahkan untuk mengumpulkan sampah dan dibawa turun. Akan lebih baik jika ada pos petugas untuk komunikasi di bawah dan adanya MCK yang cukup bersih untuk menjaga sanitasi dan keindahan di Plawangan Sembalun itu sendiri. Saya bungkus beberapa sampah plastik untuk dibawa turun. Semoga pemerintah daerah sana lebih memperhatikan masalah kebersihan di Plawangan Sembalun ini.

Pemandangan menuju Sembalun

Karena kami tidak ke Danau Segara Anak, kami turun kembali ke Sembalun melalui bukit kenangan yang menawarkan keindahan luar biasa. Negeri ini begitu indah, patut disyukuri dan dijaga kelestariannya.

Kami istirahat di setiap pos. Di pos 2 kami mengantri untuk mengisi botol dengan air dari mata air di sana. Lumayan untuk bekal perjalanan sampai ke bawah. Setelah pos 1 kami melihat penjual semangka yang manis dan terenak yang pernah saya rasakan (karena dimakan dalam keadaan lapar dan haus hehehe). Minum sebotol minuman mineral yang dijual di sana. Alhamdulillah nikmatnya.

Sampai di Sembalun mobil pick up siap menjemput kami ke Senaru, base camp Pak Nur Saat. Akhirnya kami kembali bisa menikmati segarnya mandi air bersih, gosok gigi, keramas, dan wanginya sampo serta sabun mandi. Alhamdulillah. Pengalaman yang luar biasa. Keesokan harinya kami berencana mengunjungi air terjun Sendang Gila dan Tuk Kelep yang konon begitu indah. Sore ini saya dan teman-teman menikmati makan siang buatan Chef Bu Saat dengan sambalnya yang lezat.

Marilah kita nikmati slideshow yang diambil dari kamera Marvin:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bersambung

Menuju Plawangan Sembalun – Kaki Rinjani

Tulisan ini merupakan bagian kedua, sambungan dari postingan sebelumnya yang merupakan Bagian Pertama.

Salah satu hal yang paling indah adalah sarapan pagi di Pos 2 karena matahari belum terik dan bisa berfoto dengan latar belakang Gunung Rinjani, 3726 mdpl. Sewaktu kami pulang dan melewati pos 2 pas tengah hari bolong, semua orang hanya berkonsentrasi pada air dan berteduh di bawah tenda atau fly sheet. Sulit menikmati keindahan sabana dengan latar belakang mayestik dengan suhu panas menyengat dan kekurangan air. Bila kekurangan air, pastikan isi kantong air Anda (botol, hydro water, dsb) di sini.

Berikut ini adalah video penampakan Pos 2 di pagi hari:

Setelah kami selesai packing, kami melanjutkan perjalanan melewati sabana dengan tujuan ke arah pos 3. Pada awalnya jalanan agak mendatar dan tanjakan tidak berasa. Namun setelah pos 3, mental para pendaki harus disiapkan karena di sinilah letak perjuangan sebelum puncak.

Inilah penampakan sabana yang indah dan sulit ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tujuh bukit penyesalan. Sebenarnya ini tergantung dari kita. Mau dikasih nama bukit rasa syukur, bukit tantangan, atau bukit yang pasti berakhir, itu semua tergantung kita. Bagaimana cara pandang kita saja. Yang jelas, kalau naik gunung kita harus bermental positif. Setiap kami kelelahan, saya dan Donny Ari Surya dan Saeng, saling menguatkan. Kami saling meneriakkan kata-kata penuh semangat. Dari man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya), Inna ma’al usri yusraa (sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan), tidak ada bukit yang menyentuh langit (setiap bukit pasti ada ujungnya), dan sebagainya. Setiap kali kami saling mengingatkan dengan kata-kata positif, seakan kami mendapat suntikan energi untuk maju lagi. Salah satu hal yang biasa saya lakukan kalau lari pagi di kompleks perumahan juga saya terapkan. Agar tidak sering berhenti kalau berlari, saya melihat sesuatu yang mencolok sekitar 50 – 100 meter di depan dan mengatakan pada diri sendiri, ayo lari lagi sampai tiang yang ada spanduk merahnya itu. Demikian seterusnya saya menipu otak bahwa saya sedang tidak menuju goal yang sangat sulit, namun goal sederhana setiap waktunya. Pada saat menanjak, saya melihat satu pohon kecil, saya bilang ayo jalan terus, istirahat di pohon kecil itu. Istirahat sebentar atur nafas, baru melanjutkan lagi mencari mile stone berikutnya.

Hal seperti ini kadang memang ada ujiannya. Pernah dulu pas lari di kompleks mengatakan saya akan istirahat sebentar di mobil merah di depan sana. Eh pas mau sampai, mobilnya jalan. Masak harus mengejar? Pas mau naik di bukit penye.. eh bukit rasa syukur, tidak ada pohon yang cukup dekat untuk beristirahat. Ya sudah jalan sekuatnya saja hahaha..

Ada satu hal yang saya lupa waktu berjalan ke Pos 3, yaitu melakukan pemanasan. Hasilnya di tengah jalan saya mengalami kram. Alhamdulillah waktu itu membawa krim luar untuk memanaskan otot sehingga tidak lama bisa kembali berjalan. Lesson learn: jangan lupa melakukan pemanasan sebelum memulai pendakian. Best practice: bawa selalu krim pemanas favorit Anda dan selalu siap di kantong celana.

Sesampainya di Plawangan Sembalun, satu kemenangan, satu kepuasan, satu kebahagiaan dirasakan oleh semua pendaki. Perjuangan dari base camp hingga pos 2, dari pos 2 hingga pos 3, dan dari pos 3 hingga bukit yang aduhai, digantikan dengan kepuasan tak terkira melihat awan berarak ditiup angin di bawah kaki para pendaki. Awan yang dulu kami lihat dengan cara menengadahkan kepala, kini bisa kami lihat dengan cara sebaliknya.

Berdiri di atas awan
Berdiri di atas awan

Persis di atas pertigaan Plawangan Sembalun, ada penjual minuman dingin yang dihargai gila-gilaan. Pulpy orange kecil, mizone, pocari, coca-cola kaleng kecil dihargai 40 ribu rupiah. Bir bintang yang haram itu dibandrol 90 ribu rupiah, yang membuat para bule-bule tertawa mendengar tawaran gila itu. Namun tetap saja ada yang membelinya sebagai hadiah kecil atas separuh kemenangan sebelum puncak itu.

Minuman berharga fantastis
Minuman berharga fantastis

Mari kita lihat slideshow indahnya pemandangan ketika sampai di Plawangan Sembalun. Hadiah setengah perjuangan sebelum Puncak.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jika Anda penasaran dengan tim kami yang ingin merayakan kemenangan kecil ini, mari silakan dilihat kecentilan kami berpose melupakan penat dan asam laktat yang menyerang seluruh urat-urat.

Setelah makan malam kami bersiap tidur untuk mempersiapkan setengah perjuangan berikutnya yaitu ke puncak. Pukul 2 pagi nanti kami akan mencoba summit attack. Keril ditinggal di tenda, hanya membawa makanan kecil dan minuman. Angin sudah bertiup kencang dengan bunyi menderu. Di luar tenda tanpa jaket kami akan kedingingan. Tempat nyaman hanya di dalam tenda. Pastikan tenda yang dipakai mampu menangani suhu dingin. Jangan gunakan summer tent di Plawangan. Sengsara.

Sekitar pukul dua pagi dengan kondisi masih mengantuk dan lelah kami bangun untuk menuju puncak. Beberapa orang tampak sudah menuju puncak dari kilatan lampu senter di punggung Rinjani. Kami berdoa sebelum berangkat dan membawa perbekalan seperlunya. Saya membawa sebotol air, kamera HP, Sony Action Camera, kurma, lotion anti kram, selimut kertas anti hipothermia, dan snicker. Kamera DSLR tidak perlu dibawa. Tentu saja trekking pole wajib hukumnya untuk meringankan lutut dan membantu naik atau turun nanti.

Dan perjalanan menuju puncak Rinjani dimulai….

Bersambung

Jalan-jalan ke Lombok dan Mendaki Puncak Rinjani

Setelah kurang dari dua tahun lalu saya dan teman-teman pencinta alam di kantor naik Gunung Gede, kami mencoba untuk mendaki Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa ikut pendakian ke Gunung Ceremai dan Gunung Pangrango.

Setelah memesan tiket sekitar bulan Maret 2015, maksudnya supaya memastikan tiket sudah di tangan, kami pun merencanakan perjalanan ke sana. Diskusi via WhatsApp dan email kami lakukan untuk membahas:

  • Tanggal keberangkatan
  • Posisi base camp dan jumlah porter yang akan disewa untuk membawa tenda, membawa logistik, dan memasak untuk kami di sana
  • Rute yang akan ditempuh karena menuju puncak ada beberapa rute dengan perbedaan kondisi alam dan tingkat kesulitan
  • Barang-barang yang akan dibawa termasuk jumlah tas (keril, tas untuk ke puncak, dan untuk jalan-jalan di pantai)

Setelah beberapa kali diskusi dan bertukar informasi dari internet akhirnya diputuskan kami akan terbang pada tanggal 12 Agustus 2015 ke Lombok dan kembali di 18 Agustus 2015.

Posisi base camp dipilih di rumah Pak Nur Saat yang terletak di Senaru. Kami memutuskan untuk menyewa 4-5 porter untuk membawa perbekalan dan untuk memasak di puncak.

Peta Rinjani (Gambar dari http://semuthitam.org/?p=214)
Peta Rinjani

Rencananya adalah:

  • Sampai di basecamp sekitar jam 16:00 WITA
  • Mulai jalan pukul 23:00 WITA dari Sembalun (tidak lewat pos 1, karena lebih singkat meski rute lebih menantang)
  • Camping di pos 2 sekitar pukul 01:00 dini hari
  • Sarapan di pos 2, lalu jalan ke Plawangan Sembalun
  • Makan siang di Plawangan Sembalun, istirahat, lalu jam 2 pagi Summit Attack
  • Turun ke Danau Segara Anak dan menginap di sana
  • Besoknya ke Plawangan Senaru dan turun ke Senaru
  • Jalan-jalan di Senggigi

Sayang karena kelelahan muncak dan waktu tidak cukup ke danau, akhirnya kami kembali menginap di Plawangan Sembalun dan besoknya turun ke Sembalun lagi dan ke basecamp di Senaru dengan mobil pick up.

Berikut adalah foto-foto dan video hasil perjalanan ke sana.

Di Bandara Soekarno Hatta

Malam sebelum berangkat saya pesan taksi Blue Bird dengan tujuan bandara. Dari Serpong rute terdekat adalah via Tangerang tanpa lewat tol baru. Saya tidak berani pesan Uber atau pesan taksi mendadak kalau akan pergi ke bandara. Terlalu beresiko karena bisa terlambat. Teman-teman yang lain ada yang naik damri dan bahkan ojek 🙂 Dadang yang kesiangan bangun nyaris tertinggal pesawat. Donny Ari Surya yang mengalami kemacetan di daerah Ciputat juga sempat ketar-ketir tertinggal pesawat. Alhamdulillah semuanya bisa kumpul boarding on time. Setiap mau pergi biasanya saya agak tegang sehingga kurang tidur. Jam 2 pagi baru bisa tidur dan bangun jam setengah lima. Kelelahan ini membuat kinerja saya cukup rendah karena malamnya langsung mendaki. Jangan ditiru ya.. selalulah cukup tidur sebelum mendaki untuk menghemat tenaga.

Di Pesawat dan di Bandara Lombok Praya

Menjelang pukul 12 waktu setempat kami tiba di Lombok Praya dan langsung mengambil tas keril yang harus masuk bagasi karena terlalu besar. Cuaca cukup terik dan mobil ELF sudah siap menjemput kami menuju base camp Pak Nur Saat di Senaru. Kami mampir makan siang di sebuah restoran tidak jauh dari bandara. Karena kelaparan makanan tadi tandas dalam waktu cepat. Setelah sholat dzuhur dan ashar di jamak, kami menuju Senaru.

Tiba di Lombok dan menuju Basecamp Pak Nur Saat Senaru

Pak Nursaat menyambut kami dengan sangat ramah dan penuh canda tawa. Istrinya memasak dengan penuh cinta dan selalu menjadi rebutan para pendaki yang singgah di tempatnya. Biasanya dia memasak sayur sawi atau sup, ayam goreng potong, mie goreng, udang cabe, dan sambal dadaknya yang khas Lombok. Maknyus tenan. All you can eat cuma dibandrol 13 ribu rupiah. Makan sampai kenyang. Kami bebas mandi di kedua toilet yang tersedia di sana meski harus mengantri. Pak Nur Saat mengandalkan penjualan makanan dan minuman serta kaos yang ada di sana. Dia mempersilakan kita untuk bernegosiasi langsung dengan para porter dan tidak menjadi calo. Sungguh keikhlasan dan ketulusan terpancar dari wajah dan senyumnya. Sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mendaki ke Rinjani dengan biaya yang sangat terjangkau. Jangan bandingkan dengan base camp lainnya yang berjuta-juta per orang yang mentargetkan para bule manca negara. Dengan kesederhanaan ini justru kami seperti merasakan rumah yang tak pernah kami miliki. Seolah kami tidak berada di tanah asing. Karena di mana ada kehangatan dan keramahan di situlah kita menemukan makna rumah. Untuk transportasi, makan, dan biaya porter sebelas orang hanya patungan sekitar 600 ribu rupiah saja selama lima hari di sana.

Akhirnya, malam pun tiba. Sekitar pukul sebelas malam, kami bersebelas dan porter dibawa ke Sembalun dengan mobil pick up selama lebih kurang satu jam.

Setelah berdoa kami berangkat menuju pos 2 langsung, mengambil rute singkat namun cukup menantang. Memang lebih berat, tetapi jauh lebih pendek daripada melalui pos 1 yang lebih landai. Udara cukup dingin, mungkin sekitar 15-18 derajat celcius. Dua plastik tolak angin aku minum untuk menghangatkan badan. Hydro bag milikku bocor sehingga airnya harus dibuang agar tidak membanjiri tas. Mesti beli hydro bag yang anti bocor nih. Penting.

Sampai di pos 2 Andra dan Febru memasak air untuk jahe dan cereal. Lumayan menghangatkan badan sebelum bobo. Akhirnya setelah tidur hanya 2 jam kemarin, aku bisa tertidur pulas sampai pagi menjelang.

Pos 2 Sembalun, 13 Agustus 2015

Pagi hari setelah subuh kami berfoto di sana berlatar belakang Rinjani yang menjulang tinggi. Para porter memasak sarapan pagi yang memuaskan rasa lapar kami. Menunya nasi goreng dengan buah nanas. Maknyus.

Setelah sarapan kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos 3 menuju Plawangan Sembalun. Perjalanan melintasi sabana dan bukit curam yang dikenal dengan Bukit Penyesalan. Tujuh bukit penyesalan adalah ciri khas Gunung Rinjani di Lombok Nusa Tenggara Barat. Mengapa dinamakan seperti itu? Karena pendaki Rinjani setelah pos 3 Pada Balong harus melewati tujuh bukit tersebut sebelum mencapai Plawangan Sembalun. Dan jalur tersebut sangat menyiksa raga pendaki, tujuh bukit yang harus dilalui yang kesemuanya adalah tanjakan berat! Maka pos 3 digunakan pendaki untuk mengumpulkan stamina dan mental sebelum melewati tujuh bukit penyesalan.

Bersambung

Phoneography Challenge, the Phone as Your Lens: Nature (Mount Slamet)

This first Monday challenge is Nature. This picture I took from my old man’s graveyard. His last journey has a beautiful view, a mount in Central Java, Indonesia, which he has climbed for about three times. The mount is called Gunung Slamet. Gunung means mount, and Slamet is a Javanese word, means safe. I took the picture using my S4 and edited a bit the saturation using Fotor.

Nature - Mount SlametNature - Mount Slamet
Nature – Mount Slamet

Pendakian Perdana ke Gunung Gede

Pada tanggal 9 November 2013 yang lalu saya dan 11 teman kantor pergi mendaki Gunung Gede. Mungkin buat rekan-rekan pembaca hal ini bukan sesuatu yang ajaib. Tapi buat saya di usia menjelang 40 tahun, berat badan overweight, dan bukan penggemar olah raga, hal ini cukup sesuatu banget 🙂

Sebenarnya pada awalnya tidak pernah terlintas untuk mendaki gunung. Saya dan kolega saya, Doni Alpha, menyukai petualangan outdoor, namun paling banter camping ceria. Pengalaman camping saya bisa dibaca di sini dan di sini. Suatu siang ketika ingin mengajak rekan lain untuk pergi camping, dia mengajak kami untuk sekalian hiking. Tentu saja tawaran ini langsung kami sambar. Ketika bertanya lebih rinci ternyata hiking ke Gunung Gede!!! Haaaaaaah??? Kami sontak saling berpandangan satu sama lain. Naik gunung????? Haaaaaaaaah??? Terus terang buat saya pribadi naik gunung tidak ada bayangan sama sekali. Almarhum ayah dulu sering naik gunung dan beliau tidak pernah mengajak anaknya untuk ikut serta. Karena sudah kepalang basah ingin camping, akhirnya kami membulatkan tekad untuk ikut. Kebetulan dua bulan terakhir ini kami ikut fitness dekat kantor, sehingga kami mulai berlatih untuk mempersiapkan diri naik gunung.

Latihan fisik yang kami lakukan adalah cardio, khususnya elliptical training, untuk melatih daya tahan (endurance) dan pernafasan. Saya juga berjalan di treadmill dengan elevasi maksimal dengan membawa beban. Terakhir sebelum berangkat saya berjalan dari rumah ke stasiun Rawa Buntu dan kembali ke rumah sekitar 15 km dengan kecepatan 4 – 5 km / jam dengan membawa tas gunung.

Sebelum berangkat tentu saja kami menyiapkan barang-barang perbekalan untuk dibawa. Karena belum berpengalaman jadi pendekatannya adalah sebanyak mungkin yang penting dibawa 🙂 Tentu saja ini pendekatan yang kurang bijaksana.

Menurut saya yang wajib di bawa adalah:

  1. Tas Gunung. Pastikan tidak terlalu besar. Kebetulan saya punya tas gunung yang lama tidak dipakai di gudang, volumenya 75 liter. Untuk ke Gunung Gede seharusnya sekitar 40-50 liter sudah cukup. Karena ingin menghemat jadi saya paksakan menggunakan tas tersebut. Ternyata barang yang masuk juga akhirnya ikut banyak dan menghambat proses pendakian. Setelah pos 1, saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa porter untuk membawakan tas saya. Total berat badan dan tas gunung sekitar 1 kuintal. Bukan berat yang ringan untuk pemula naik gunung. Jika saya paksakan membawa tas gunung itu sendiri saya akan tertinggal jauh di belakang dengan resiko kemalaman atau cedera pundak. Menentukan volume tas dan beratnya sudah merupakan strategi tersendiri. Saran saya, jangan bawa terlalu besar dan isinya jangan terlalu berat agar kita mudah untuk mendaki. Pilih tas yang ada pemisah di bagian belakang agar ada udara masuk sehingga tidak membuat panas punggung. Untuk mengantisipasi hujan, pastikan lengkapi tas dengan rain cover yang sesuai volume tasnya.
  2. Sleeping bag. Kantung tidur ini wajib dibawa bila akan menginap di gunung. Ada banyak sekali kantung tidur di pasaran, sebaiknya kalau suhunya rendah (di Gunung Gede suhunya bisa mencapai 5 derajat C), bahannya pilih yang dari polar, atau pastikan ketahanan suhunya menyesuaikan dengan suhu tempat kita akan menginap. Saya mengambil kantung tidur dari Ace Hardware yang bisa menahan hingga suhu titik beku. Karena harganya relatif murah maka sleeping bagnya jadi besar dan berat, sekitar 1.6 kg. Nah yang paling tepat kalau ada anggaran, cari yang ringan (di bawah 1 kg), volume kecil, dan tahan suhu rendah.
  3. Matras. Matras yang baik sebaiknya yang bisa digunakan untuk membentuk kerangka berbentuk silinder di dalam tas punggungnya. Jadi matras bisa membentuk tas punggung agar lebih kompak. Matras berguna menjaga suhu tubuh agar sleeping bag tidak langsung menyentuh tanah atau alas tenda.
  4. Untuk alas kaki ada dua pendapat, yang satu menyukai sandal gunung, yang lain sepatu gunung. Buat saya lebih suka menggunakan sepatu gunung yang melindungi mata kaki dan bila suhu dingin lebih hangat. Pastikan solnya cukup menggigit agar tidak licin sewaktu turun gunungnya.
  5. Baju hangat untuk menginap saya pilih long john two pieces. Baru mengenakan jaket tebal hangat, sarung tangan, kaus kaki, dan celana panjang lapangan. Baru masuk sleeping bag. Suhu 5 derajat di lembah Surya Kencana bisa diatasi dengan baik.
  6. Senter saya menggunakan head lamp, yang diikat di kepala, sehingga kalau berjalan tangan kita bebas.
  7. Jas hujan saya membawa ponco dan juga yang two piece. Kebetulan punya dari Eiger yang biasa saya pakai naik motor. Sangat membantu waktu di puncak yang beresiko hujan namun terkena angin dingin. Kalau menggunakan baju hangat, beresiko basah. Akhirnya saya pakai two piece di puncak yang bisa menahan dingin sekaligus mengantisipasi hujan.
  8. Alat makan. Untuk piring saya gantikan dengan tupperware kecil (bisa diisi mie gelas) dan sendok garpu yang menyatu dengan swiss army.

Hal-hal lain yang menurut saya penting namun opsional adalah:

  1. Tongkat gunung. Waktu turun sangat membantu menahan cedera lutut karena bisa memindahkan berat badan dan tas hingga 40%
  2. Tempat air minum yang bisa menampung sekitar 1 – 2 liter, ditaruh di tas dan ada selang untuk meminumnya.
  3. Buff Headwear, berguna untuk menutup hidung dari debu atau udara dingin, menahan radiasi panas di tengkuk, menahan panas di kepala, dan sebagainya
  4. Kompas untuk mengetahui arah mata angin. Kalau Gunung Gede rutenya sudah sangat jelas, sehingga tanpa kompas pun sebenarnya peluang tersesat kecil. Namun bila gunungnya tidak semudah Gunung Gede, kompas akan sangat membantu kalau kita tersesat atau untuk menunjukkan arah kiblat
  5. Topi gunung atau topi rusia sangat membantu menahan panas, mencegah terkena duri, dan melindungi dari suhu rendah

Ok sekarang kita bicara tentang perjalanan. Setelah izin pendakian diurus oleh Marvin dan Melky, kami berdua belas menggunakan tiga mobil menuju villa milik Marvin di daerah Cibodas pada Jumat malam sepulang kantor. Sampai di villa kami melakukan repacking agar mudah dan enak dibawa paginya. Selesai packing sekitar jam 2 pagi, tidur, bangun lagi jam 4 pagi untuk persiapan mandi, sarapan, dan sholat. Setelah berdoa kami berangkat menuju Cibodas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Sebelum Naik
Sebelum Naik

Peta Gede Pangrango

Peta Gede Pangrango

Kami mulai naik dari Cibodas sekitar jam 7 pagi menuju Kandang Batu. Perjalanan mulai menunjukkan tangga yang bagaikan tak berakhir… Menuju pos 1 kami melewati Telaga Biru di sebelah kiri lalu melewati rawa Gayonggong yang memiliki jembatan. Jembatan ini dibuat karena rawa sering digenangi air dan akhirnya dibuat untuk mempermudah melewati rawa ini.

Jembatan di Rawa Gayonggong
Jembatan di Rawa Gayonggong

Telaga Biru yang kami temui begitu indah, dan ada ikan besar berenang, sepertinya ikan mas. Entah siapa yang meletakkan ikan tersebut di sana.

Di Telaga Hijau
Di Telaga Biru

Karena Air Terjun Cibeureum tidak sejalur dengan arah pendakian kami memutuskan tidak mampir ke sana. Kami berencana untuk mampir sewaktu turun ke bawah. Di pos 1 beban yang saya bawa semakin merepotkan. Kalau saya tetap memaksakan diri untuk membawa beban ini saya khawatir akan menjadi paling belakang dan ditemani sweeper. Akhirnya saya meminta Dadang untuk mencari porter untuk membawakan tas gunung saya yang terlalu berat dan terlalu besar. Seperti orang pindahan, kata porternya. Hahaha. Maklum pemula di gunung, jadi masih tidak paham mengenai pentingnya membawa tas gunung yang kompak dan tidak berat. Belakangan saya menyadari keputusan saya untuk membawa porter adalah keputusan yang sangat tepat. Saya bisa mendaki dengan kecepatan penuh, konsentrasi mengambil video dan gambar, dan bisa sampai di puncak waktu masih terang. Teman-teman lain yang kewalahan membawa tas gunungnya tidak sempat berfoto karena sampai sudah maghrib dan gelap.

Setelah berjalan lama akhirnya sampailah di air panas, yang konon suhunya mencapai 70 derajat C. Di sinilah untungnya menggunakan sepatu anti air 🙂 Kalau tidak berhati-hati kaki bisa melepuh. Sebelah kanan juga jurang menganga, jadi pastikan hati-hati dan merapat di kiri. Sweeper kami menggunakan sepatu biasa dan kakinya terendam air panas, sol sepatunya langsung copot. Dia harus membuang sepatunya dan pinjam sendal teman.

Air Panas
Air Panas

Pukul 10:35 sampailah saya di Kandang Batu. Di sana ada tiga teman yang sudah sampai dan kami beristirahat sekitar 1 jam karena menunggu teman yang lainnya. Tepat pukul 11:45 siang kami berangkat menuju Kandang Badak dan sampai dalam tempo kurang dari 1 jam. Di sana saya beristirahat sekaligus sholat Dzuhur dan Ashar dijamak. Setelah makan nasi uduk dari penjual yang lalu lalang dengan harga 10 robu rupiah, saya melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Setelah beberapa lama sampailah saya di Tanjakan Setan. Dinamakan Tanjakan Setan karena jalannya cukup terjal sehingga dibantu tali dan pancang beton. Sebenarnya ada jalan alternatif yang berupa tangga mendaki, namun sepertinya tidak menantang kalau tidak mencoba Tanjakan Setan ini. Ternyata jalan setelah Tanjakan Setan ini justru semakin berat sampai ke puncak. Namun semua lelah musnah begitu melihat keindahan puncak ciptaan Allah SWT…

Di depan Puncak Pangrango
Di depan Puncak Pangrango

Setelah puas berfoto di puncak, rombongan pertama segera menuju lembah Alun-alun Surya Kencana untuk mendirikan tenda. Ternyata jarak dari puncak ke Surya Kencana lumayan jauh juga, dan harus berhati-hati agar tidak jatuh. Lebih kurang satu jam kami sampai ke bawah dan langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda yang cukup terlindung dari kencangnya angin.

Surya Kencana
Surya Kencana

Setelah tenda selesai didirikan, saya berganti pakaian, mengganti kaos yang basah, memakai long john, jaket tebal, sarung tangan, dsb. Setelah makan malam yang dimasakkan oleh porter, saya sholat maghrib dan isya lalu tidur meringkuk dalam kantung tidur yang hangat. Angin bertiup kencang, suhu mencapai 5 derajat C.Paginya kami berfoto-foto di Alun-alun Surya Kencana, mengambil air minum dari mata air, lalu turun menuju Gunung Putri. Karena lelah, kami tidak jadi naik ke puncak lagi pada pagi harinya untuk mengambil sunrise. Insya Allah lain kali kalau mencoba Pangrango, akan menginap di Badak, lalu mengambil foto sunrise di puncak.Alhamdulillah selama naik hingga turun tidak turun hujan sama sekali, bahkan gerimis pun tidak. Sesampainya di desa Sukatani, Cipanas, kami mampir di warung makan untuk makan siang dan melepas lelah. Saya memesan air panas dicampur air garam untuk kaki saya di dalam ember. Alhamdulillah terasa nikmaaat!!Kami mencarter angkot untuk mengantar kami kembali ke Cibodas mengambil mobil yang kami parkir di sana. Kami pulang dengan bahagia karena bertambah pengalaman yang luar biasa. Jadi ketagihan untuk mendaki gunung lainnya. Insya Allah tahun depan mau mencoba Gunung Papandayan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ingin melihat trailer dari perjalanan kami? Tengok saja di sini:

Pernah naik gunung? Ceritakan pengalamanmu di komentar ya…