Pendakian Perdana ke Gunung Gede


Pada tanggal 9 November 2013 yang lalu saya dan 11 teman kantor pergi mendaki Gunung Gede. Mungkin buat rekan-rekan pembaca hal ini bukan sesuatu yang ajaib. Tapi buat saya di usia menjelang 40 tahun, berat badan overweight, dan bukan penggemar olah raga, hal ini cukup sesuatu banget 🙂

Sebenarnya pada awalnya tidak pernah terlintas untuk mendaki gunung. Saya dan kolega saya, Doni Alpha, menyukai petualangan outdoor, namun paling banter camping ceria. Pengalaman camping saya bisa dibaca di sini dan di sini. Suatu siang ketika ingin mengajak rekan lain untuk pergi camping, dia mengajak kami untuk sekalian hiking. Tentu saja tawaran ini langsung kami sambar. Ketika bertanya lebih rinci ternyata hiking ke Gunung Gede!!! Haaaaaaah??? Kami sontak saling berpandangan satu sama lain. Naik gunung????? Haaaaaaaaah??? Terus terang buat saya pribadi naik gunung tidak ada bayangan sama sekali. Almarhum ayah dulu sering naik gunung dan beliau tidak pernah mengajak anaknya untuk ikut serta. Karena sudah kepalang basah ingin camping, akhirnya kami membulatkan tekad untuk ikut. Kebetulan dua bulan terakhir ini kami ikut fitness dekat kantor, sehingga kami mulai berlatih untuk mempersiapkan diri naik gunung.

Latihan fisik yang kami lakukan adalah cardio, khususnya elliptical training, untuk melatih daya tahan (endurance) dan pernafasan. Saya juga berjalan di treadmill dengan elevasi maksimal dengan membawa beban. Terakhir sebelum berangkat saya berjalan dari rumah ke stasiun Rawa Buntu dan kembali ke rumah sekitar 15 km dengan kecepatan 4 – 5 km / jam dengan membawa tas gunung.

Sebelum berangkat tentu saja kami menyiapkan barang-barang perbekalan untuk dibawa. Karena belum berpengalaman jadi pendekatannya adalah sebanyak mungkin yang penting dibawa 🙂 Tentu saja ini pendekatan yang kurang bijaksana.

Menurut saya yang wajib di bawa adalah:

  1. Tas Gunung. Pastikan tidak terlalu besar. Kebetulan saya punya tas gunung yang lama tidak dipakai di gudang, volumenya 75 liter. Untuk ke Gunung Gede seharusnya sekitar 40-50 liter sudah cukup. Karena ingin menghemat jadi saya paksakan menggunakan tas tersebut. Ternyata barang yang masuk juga akhirnya ikut banyak dan menghambat proses pendakian. Setelah pos 1, saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa porter untuk membawakan tas saya. Total berat badan dan tas gunung sekitar 1 kuintal. Bukan berat yang ringan untuk pemula naik gunung. Jika saya paksakan membawa tas gunung itu sendiri saya akan tertinggal jauh di belakang dengan resiko kemalaman atau cedera pundak. Menentukan volume tas dan beratnya sudah merupakan strategi tersendiri. Saran saya, jangan bawa terlalu besar dan isinya jangan terlalu berat agar kita mudah untuk mendaki. Pilih tas yang ada pemisah di bagian belakang agar ada udara masuk sehingga tidak membuat panas punggung. Untuk mengantisipasi hujan, pastikan lengkapi tas dengan rain cover yang sesuai volume tasnya.
  2. Sleeping bag. Kantung tidur ini wajib dibawa bila akan menginap di gunung. Ada banyak sekali kantung tidur di pasaran, sebaiknya kalau suhunya rendah (di Gunung Gede suhunya bisa mencapai 5 derajat C), bahannya pilih yang dari polar, atau pastikan ketahanan suhunya menyesuaikan dengan suhu tempat kita akan menginap. Saya mengambil kantung tidur dari Ace Hardware yang bisa menahan hingga suhu titik beku. Karena harganya relatif murah maka sleeping bagnya jadi besar dan berat, sekitar 1.6 kg. Nah yang paling tepat kalau ada anggaran, cari yang ringan (di bawah 1 kg), volume kecil, dan tahan suhu rendah.
  3. Matras. Matras yang baik sebaiknya yang bisa digunakan untuk membentuk kerangka berbentuk silinder di dalam tas punggungnya. Jadi matras bisa membentuk tas punggung agar lebih kompak. Matras berguna menjaga suhu tubuh agar sleeping bag tidak langsung menyentuh tanah atau alas tenda.
  4. Untuk alas kaki ada dua pendapat, yang satu menyukai sandal gunung, yang lain sepatu gunung. Buat saya lebih suka menggunakan sepatu gunung yang melindungi mata kaki dan bila suhu dingin lebih hangat. Pastikan solnya cukup menggigit agar tidak licin sewaktu turun gunungnya.
  5. Baju hangat untuk menginap saya pilih long john two pieces. Baru mengenakan jaket tebal hangat, sarung tangan, kaus kaki, dan celana panjang lapangan. Baru masuk sleeping bag. Suhu 5 derajat di lembah Surya Kencana bisa diatasi dengan baik.
  6. Senter saya menggunakan head lamp, yang diikat di kepala, sehingga kalau berjalan tangan kita bebas.
  7. Jas hujan saya membawa ponco dan juga yang two piece. Kebetulan punya dari Eiger yang biasa saya pakai naik motor. Sangat membantu waktu di puncak yang beresiko hujan namun terkena angin dingin. Kalau menggunakan baju hangat, beresiko basah. Akhirnya saya pakai two piece di puncak yang bisa menahan dingin sekaligus mengantisipasi hujan.
  8. Alat makan. Untuk piring saya gantikan dengan tupperware kecil (bisa diisi mie gelas) dan sendok garpu yang menyatu dengan swiss army.

Hal-hal lain yang menurut saya penting namun opsional adalah:

  1. Tongkat gunung. Waktu turun sangat membantu menahan cedera lutut karena bisa memindahkan berat badan dan tas hingga 40%
  2. Tempat air minum yang bisa menampung sekitar 1 – 2 liter, ditaruh di tas dan ada selang untuk meminumnya.
  3. Buff Headwear, berguna untuk menutup hidung dari debu atau udara dingin, menahan radiasi panas di tengkuk, menahan panas di kepala, dan sebagainya
  4. Kompas untuk mengetahui arah mata angin. Kalau Gunung Gede rutenya sudah sangat jelas, sehingga tanpa kompas pun sebenarnya peluang tersesat kecil. Namun bila gunungnya tidak semudah Gunung Gede, kompas akan sangat membantu kalau kita tersesat atau untuk menunjukkan arah kiblat
  5. Topi gunung atau topi rusia sangat membantu menahan panas, mencegah terkena duri, dan melindungi dari suhu rendah

Ok sekarang kita bicara tentang perjalanan. Setelah izin pendakian diurus oleh Marvin dan Melky, kami berdua belas menggunakan tiga mobil menuju villa milik Marvin di daerah Cibodas pada Jumat malam sepulang kantor. Sampai di villa kami melakukan repacking agar mudah dan enak dibawa paginya. Selesai packing sekitar jam 2 pagi, tidur, bangun lagi jam 4 pagi untuk persiapan mandi, sarapan, dan sholat. Setelah berdoa kami berangkat menuju Cibodas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Sebelum Naik

Sebelum Naik

Peta Gede Pangrango

Peta Gede Pangrango

Kami mulai naik dari Cibodas sekitar jam 7 pagi menuju Kandang Batu. Perjalanan mulai menunjukkan tangga yang bagaikan tak berakhir… Menuju pos 1 kami melewati Telaga Biru di sebelah kiri lalu melewati rawa Gayonggong yang memiliki jembatan. Jembatan ini dibuat karena rawa sering digenangi air dan akhirnya dibuat untuk mempermudah melewati rawa ini.

Jembatan di Rawa Gayonggong

Jembatan di Rawa Gayonggong

Telaga Biru yang kami temui begitu indah, dan ada ikan besar berenang, sepertinya ikan mas. Entah siapa yang meletakkan ikan tersebut di sana.

Di Telaga Hijau

Di Telaga Biru

Karena Air Terjun Cibeureum tidak sejalur dengan arah pendakian kami memutuskan tidak mampir ke sana. Kami berencana untuk mampir sewaktu turun ke bawah. Di pos 1 beban yang saya bawa semakin merepotkan. Kalau saya tetap memaksakan diri untuk membawa beban ini saya khawatir akan menjadi paling belakang dan ditemani sweeper. Akhirnya saya meminta Dadang untuk mencari porter untuk membawakan tas gunung saya yang terlalu berat dan terlalu besar. Seperti orang pindahan, kata porternya. Hahaha. Maklum pemula di gunung, jadi masih tidak paham mengenai pentingnya membawa tas gunung yang kompak dan tidak berat. Belakangan saya menyadari keputusan saya untuk membawa porter adalah keputusan yang sangat tepat. Saya bisa mendaki dengan kecepatan penuh, konsentrasi mengambil video dan gambar, dan bisa sampai di puncak waktu masih terang. Teman-teman lain yang kewalahan membawa tas gunungnya tidak sempat berfoto karena sampai sudah maghrib dan gelap.

Setelah berjalan lama akhirnya sampailah di air panas, yang konon suhunya mencapai 70 derajat C. Di sinilah untungnya menggunakan sepatu anti air 🙂 Kalau tidak berhati-hati kaki bisa melepuh. Sebelah kanan juga jurang menganga, jadi pastikan hati-hati dan merapat di kiri. Sweeper kami menggunakan sepatu biasa dan kakinya terendam air panas, sol sepatunya langsung copot. Dia harus membuang sepatunya dan pinjam sendal teman.

Air Panas

Air Panas

Pukul 10:35 sampailah saya di Kandang Batu. Di sana ada tiga teman yang sudah sampai dan kami beristirahat sekitar 1 jam karena menunggu teman yang lainnya. Tepat pukul 11:45 siang kami berangkat menuju Kandang Badak dan sampai dalam tempo kurang dari 1 jam. Di sana saya beristirahat sekaligus sholat Dzuhur dan Ashar dijamak. Setelah makan nasi uduk dari penjual yang lalu lalang dengan harga 10 robu rupiah, saya melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Setelah beberapa lama sampailah saya di Tanjakan Setan. Dinamakan Tanjakan Setan karena jalannya cukup terjal sehingga dibantu tali dan pancang beton. Sebenarnya ada jalan alternatif yang berupa tangga mendaki, namun sepertinya tidak menantang kalau tidak mencoba Tanjakan Setan ini. Ternyata jalan setelah Tanjakan Setan ini justru semakin berat sampai ke puncak. Namun semua lelah musnah begitu melihat keindahan puncak ciptaan Allah SWT…

Di depan Puncak Pangrango

Di depan Puncak Pangrango

Setelah puas berfoto di puncak, rombongan pertama segera menuju lembah Alun-alun Surya Kencana untuk mendirikan tenda. Ternyata jarak dari puncak ke Surya Kencana lumayan jauh juga, dan harus berhati-hati agar tidak jatuh. Lebih kurang satu jam kami sampai ke bawah dan langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda yang cukup terlindung dari kencangnya angin.

Surya Kencana

Surya Kencana

Setelah tenda selesai didirikan, saya berganti pakaian, mengganti kaos yang basah, memakai long john, jaket tebal, sarung tangan, dsb. Setelah makan malam yang dimasakkan oleh porter, saya sholat maghrib dan isya lalu tidur meringkuk dalam kantung tidur yang hangat. Angin bertiup kencang, suhu mencapai 5 derajat C.Paginya kami berfoto-foto di Alun-alun Surya Kencana, mengambil air minum dari mata air, lalu turun menuju Gunung Putri. Karena lelah, kami tidak jadi naik ke puncak lagi pada pagi harinya untuk mengambil sunrise. Insya Allah lain kali kalau mencoba Pangrango, akan menginap di Badak, lalu mengambil foto sunrise di puncak.Alhamdulillah selama naik hingga turun tidak turun hujan sama sekali, bahkan gerimis pun tidak. Sesampainya di desa Sukatani, Cipanas, kami mampir di warung makan untuk makan siang dan melepas lelah. Saya memesan air panas dicampur air garam untuk kaki saya di dalam ember. Alhamdulillah terasa nikmaaat!!Kami mencarter angkot untuk mengantar kami kembali ke Cibodas mengambil mobil yang kami parkir di sana. Kami pulang dengan bahagia karena bertambah pengalaman yang luar biasa. Jadi ketagihan untuk mendaki gunung lainnya. Insya Allah tahun depan mau mencoba Gunung Papandayan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ingin melihat trailer dari perjalanan kami? Tengok saja di sini:

Pernah naik gunung? Ceritakan pengalamanmu di komentar ya…

Iklan

Posted on November 22, 2013, in Fotografi, Lain-lain, Ulasan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. Memory SMP sampai kuliah …. sekarang musti coba latihan fisik lagi ah … target 3676

  2. Oww… itu toh gunanya mendaki ke rawa buntu… gak ke bromo aja, di situ naik gunungnya enak lho, tinggal duduk trus sampe, hehe.

  3. Mau tanya, logistik untuk porter (tenda dan makan) kita sediakan? atau porter satu tenda dengan kita? Trims

  4. Cukup detil mas ceritanya, sewa porter berapa ya mas?

  5. Gunung Gede pendakian pertama saya, Mas.
    Tapi saya naik lewat gunung putri lebih dekat dibanding jalur cibodas. Karenanya saya salut sama mas Wisnu yang naik dari jalur cibodas. Jalurnya lebih panjang.
    Saya juga camp di Suryakencana, cuacanya kebetulan lagi ekstrim alhasil saya kena hypo. Saya bingung padahal lahir di daerah dingin tapi masih kena hypo jg.
    Saat terbangun di pagi hari tenda sudah penuh dengan es batu. Serasa di kutub utara. 😀

  1. Ping-balik: Weekly Photo Challenge: Unexpected | Untold Contemplation

  2. Ping-balik: Man of Steel Syndrome and Losing My Weight | Untold Contemplation

  3. Ping-balik: Everest (2015) | Untold Contemplation

  4. Ping-balik: Camping di TNGP Cibodas | Untold Contemplation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: