Nanjak ke Gunung Munara dan Gunung Gede

Dalam waktu seminggu, saya mendaki dua gunung berbeda. Dua minggu lalu saya mengajak anak yang masih kelas 4 SD untuk trekking ke Situs Gunung Munara di dekat Rumpin. Buat saya dan anak saya yang SMA kelas 2, ini perjalanan kami yang kedua. Perjalanan sebelumnya pernah saya tuliskan di Ekspedisi Gunung Munara. Tapi buat si kecil dan istri, ini adalah pengalaman mereka yang pertama kali. Saya sengaja mengajak si kecil untuk mengenal dunia trekking. Rencana berikutnya akan saya ajak ke gunung lainnya, insya Allah. Perjalanan kali ini juga ditemani oleh Mas Heru, rekan dari sesama pengguna Quora.

Video Perjalanan ke Munara

Alhamdulillah setelah sempat masuk angin karena sarapan seadanya, Aila si kecil, bisa disemangati untuk melanjutkan perjalanan. Kakaknya dan Mas Heru kami persilakan untuk jalan duluan, dan kami menyusul.

Setelah sempat menikmati Pop Mi dan rujak buah, semangat kami bertambah, dan makin semangat jalan menuju puncak. Sungguh menyenangkan bisa kembali ke Situs Gunung Munara ini untuk pemanasan sebelum ke Gunung Gede.

Makan rujak buah segar sekali!
Di puncak bersama istri dan anak

Seminggu berikutnya, saya dan anak pertama, Rayyan, beserta 18 orang lainnya nanjak ke Gunung Gede via Gunung Putri dan turun melalui jalur yang sama. Dulu saya dan teman kantor nanjak via Cibodas dan turun di Putri sekitar beberapa tahun yang lalu. Sekarang baru pertama kali nanjak dari Putri dan lumayan menantang juga jalurnya.

Trailer Perjalanan

Perjalanan dimulai dari Senayan, sekitar pukul 11 malam dengan menggunakan sebuah Elf carteran dan sebuah Grand Max. Penumpang naik Elf, kerilnya diletakkan di Grand Max. Kami tiba di basecamp Gunung Putri (dekat terminal) sekitar pukul 2:30 pagi dini hari karena agak macet yang disebabkan karena ada perbaikan jalan sebelum Puncak.

Sebelum berangkat

Setelah sampai, ada insiden dengan hilangnya dua tas milik dua orang anggota kami. Kami tidak tahu siapa yang mengambilnya, kedua tas ini raib ketika kami baru pada bangun tidur setelah sampai di basecamp. Untung saja teman-teman yang lain bisa meminjamkan semua barang yang hilang dan mereka tetap bisa naik. Di sini memang rasa persahabatan dan kekompakan tim diuji.

Di basecamp

Tidak ada yang berani mandi karena suhu bak mandi sudah seperti es batu mencair. Setelah sarapan yang disediakan Ibu pemilik base camp, kami mulai nanjak sekitar jam 7:45 pagi. Briefing diberikan oleh Oniel dan kami berdoa bersama sebelum bergerak ke Pos 1.

Berdua bersama Rayyan

Enaknya nanjak dari Putri, setiap pos dan pos bayangan ada warung yang menjual Pop Mi, semangka, gorengan, energen, kopi, dan minuman mineral. Tidak perlu takut kehabisan bekal, asal bawa uang secukupnya. Air mineral 600 cc dibandrol 15 ribu, Pop Mi 15 ribu, energen/kopi 7 ribu, dan gorengan unyu 2 ribuan.

Sampai di Surken sudah waktu ashar. Kami disambut kabut yang dingin. Kami berjalan menuju tenda yang sudah disiapkan oleh porter.

Sampai di Surken

Malamnya setelah makan kami tidur, dan bangun pukul 4:30 untuk menuju puncak Gede. Meski masih mengantuk namun kami tetap semangat menuju puncak.

Beramai-ramai berfoto bersama
Gembira di puncak

Suhu yang dingin saya lawan dengan pop mi yang hangat dan tersedia di Puncak Gede 🙂

Sebelum turun kami berfoto bersama dengan seluruh tim.

Berfoto bersama di pagi yang cerah

Alhamdulillah kami sampai di Senayan dengan selamat sekitar pukul 9 malam. Setelah unloading barang-barang, kami berpamitan satu sama lain untuk kembali ke rumah masing-masing.

Gede, kau selalu kami rindu!

Jalan-jalan ke Surabaya dan Museum Angkut Malang

Bertepatan dengan Hari Pahlawan tahun lalu, kami sekeluarga terbang ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan teman kantor dan bersilaturahim dengan beberapa sahabat yang tinggal di Surabaya. Kesempatan ini juga kami ambil sekalian berlibur ke Malang.

Lokasi pernikahan terletak di Gedung Minangkabau (Gebu Minang) di daerah Kebonsari.

Gebu Minang

Kami menginap di hotel dekat lokasi, yaitu di Hotel Best Western Papilio. Hotel ini selain dekat dengan lokasi acara juga memiliki kolam renang edgeless yang cukup tinggi.

Berfoto bersama penganten

Seterusnya ada di laman 2.

Aplikasi Penting buat Para Petualang

Saya suka sekali berpetualang, mengunjungi daerah yang baru, terutama yang menarik untuk dikunjungi. Namun dalam proses perencanaan perjalanan, panduan selama perjalanan, sampai di tempat tujuan, hingga kembali ke rumah, semuanya membutuhkan aplikasi. Nah izinkan saya berbagi kepada kalian, wahai petualang zaman now, aplikasi yang saya sukai dan saya sering gunakan untuk berpetualang. Saya terinspirasi tulisan kawan blogger Mas Febriyan Lukito dalam salah satu tulisannya tentang travel blogger profesional mengenai hal ini.

Ceritakan juga di komentar aplikasi apa yang kalian pakai namun tidak saya sebutkan di sini ya. Siapa tahu saya tertarik juga untuk menggunakannya.

Menentukan Tujuan Wisata

Sebelum pergi, saya biasa mencari informasi tujuan wisata mana yang ingin dikunjungi. Apakah wisata pantai atau gunung. Di dalam atau luar negeri. Berkemah atau di hotel. Backpacking atau tidak, dan seterusnya. Ada beberapa aplikasi yang biasa saya gunakan.

googleAplikasi Google for Mobile. Apa saja yang biasa saya lakukan dengan aplikasi ini?

  1. Bisa mencari dengan fitur suara (OK Google, ….)
  2. Mencari ulasan tempat yang ingin dikunjungi
  3. Melihat gambar-gambar yang tujuan wisata
  4. Dan banyak lagi lainnya

Setelah tujuan wisata positif ditentukan, kini menentukan jarak tempuh ke sana. Untuk mengetahui jarak dua titik, saya menggunakan Google Maps.

google Maps

Setelah tahu jarak dan rute alternatifnya, kini menentukan aplikasi untuk menuju lokasi. Lanjutkan membaca Aplikasi Penting buat Para Petualang

Berpetualang ke Kandang Godzilla di Tebing Koja

Kandang Godzilla

Sudah beberapa lama saya penasaran dengan Kandang Godzilla yang terletak di Tebing Koja, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. Akhirnya secara spontan ketika tidak ada kegiatan, saya mengajak anak dan istri ke sana. Toh lokasi hanya sekitar 1,5 jam dari rumah.

peta

Sebenarnya tempat yang menarik untuk dijadikan objek wisata ini dulunya tempat untuk menggali pasir dan bebatuan. Setelah lama ditinggal karena sudah tidak lagi menghasilkan, seorang fotografer yang tersesat di sini mengabadikan pemandangannya dan akhirnya viral di Internet.

me

Tanah milik Pak Njen Jaelani ini tadinya bebas untuk umum tanpa dipungut biaya masuk, namun beberapa pengunjung justru mengusulkan agar dipungut biaya, mungkin maksudnya untuk setidaknya menyediakan beberapa fasilitas untuk pengunjung.

Banyak yang bertanya, di mana Godzilla-nya? Lanjutkan membaca Berpetualang ke Kandang Godzilla di Tebing Koja

Accidentally in Vacation Part 3 at The Paseban

Hari Jumat kemarin, pas long weekend, kami sekeluarga mendapatkan serendipity. Jadi ceritanya gini. Seminggu sebelumnya, saya lumayan galau, mau ke mana pas liburan panjang itu. Ada beberapa pilihan yang terlintas di pikiran, yaitu:

  • Berkemah bersama K3I bersama teman kantor, Dony Alpha  di BuPer Cijalu, Purwakarta
  • Camping di Ranca Upas, Ciwidey seperti yang sudah pernah kami lakukan sebelumnya
  • Camping di Curug Panjang, daerah Mega Mendung bersama teman kantor, Marvin Sigar
  • Camping di Sawarna

Persiapan Packing
Persiapan Camping

Setelah packing dan melakukan beberapa pertimbangan, saya ingin menghindari tol Cikampek, yang saat ini sering macet karena pembangunan, apalagi pas liburan panjang. Jadi Cijalu dan Ranca Upas saya coret dari pilihan. Sawarna menarik, karena kami belum pernah sejauh itu berpetualang. Namun memikirkan hawa yang panas untuk berkemah (di pinggir pantai) dan jauhnya perjalanan, bisa 5-8 jam perjalanan, dengan kondisi jalan yang mungkin kurang begitu bagus, akhirnya Sawarna saya coret untuk saat ini. Dengan longsornya daerah Puncak dan ditutupnya jalur Gunung Mas sampai Ciloto, saya berpikir seharusnya volume kendaraan akan berkurang karena yang akan ke Puncak dan Cianjur akan mengambil jalur Jonggol. Jadi saya putuskan untuk camping di Curug Panjang.

Lanjutkan membaca Accidentally in Vacation Part 3 at The Paseban

Camping di TNGP Cibodas

Minggu lalu kami sekeluarga pergi berkemah di Cibodas Golf Camping Ground dekat Cimacan. Lokasinya setelah Puncak Pass kalau dari Jakarta. Kalau mau ke sini pakai angkutan umum, naik saja elf atau bis dari Bogor, arah Cianjur. Nanti tinggal turun di pertigaan Cibodas, naik angkot sekitar 2 km ke Taman Nasional Gede Pangrango.

Img7

Ridwan, teman saya sekantor juga membawa keluarganya untuk camping bersama. Winny Marlina, teman blogger lama, ikutan bersama juga. Sayang dua temannya tidak bisa ikutan karena ada aktivitas dadakan terkait pekerjaan.

Ini kali ketiga saya datang ke TNGP. Pertama kali bersama rekan-rekan sekantor untuk mendaki Gunung Gede sekitar empat tahun silam. Yang kedua, tadinya mau naik ke Pangrango namun karena ada sesuatu hal, kami hanya trekking ke Curug Cibeureum sekitar dua tahun yang lalu. Nah kali ini kami membawa keluarga, dan ingin mengenalkan indahnya kawasan TNGP Cibodas, sambil camping dan trekking ke air terjun Cibeureum.

Berkemah di Cibodas Golf Camping Ground sangat direkomendasikan. Mengapa?

Lanjutkan membaca Camping di TNGP Cibodas

Wisata ke Keraton Solo dan Candi Borobudur

Setelah mengalami hari yang penuh petualangan dan silaturahim, paginya kami check out dari hotel untuk mengeksplorasi Solo sebelum mengunjungi Yogyakarta.

Kuliner pilihan kami sebelum ke Yogya adalah soto langganan Pak Jokowi, Soto Gading. Judulnya penasaran hehehe. Seistimewa apakah sotonya. Buat saya, rasanya biasa saja, mirip soto Kudus yang biasa saya santap dekat Blok M. Beginilah penampakannya.

Setelah makan soto, kami mengunjungi Keraton Solo sebelum ke Jogja. Untuk ke sana harus mengenakan sepatu. Jika mengenakan sandal harus dilepas. Jadi kami nyeker masuk ke sana hahaha..

Banyak pohon rindang di pelataran keraton, sehingga lumayan memberikan kesan adem. Mungkin di sinilah para raja berkejaran dengan para selirnya di kala senggang. Sungguh romantis membayangkannya. Seandainya saya yang jadi raja, maka… tiba-tiba lamunan saya sirna berada di dekat istri. Memang ini kejadian magis hahaha..

Di dalam museum di sekitar keraton banyak terdapat pusaka dan senjata yang dipamerkan. Kereta kuda dan gendongan buat permaisuri juga ada. Di beberapa tempat aura mistis dan bau debu terasa mendominasi atmosfir ruangan. Bisa dibayangkan jika berada di sini antara jam 12 malam hingga pukul 4 pagi, berpakaian serba hitam, tanpa alas kaki, berjalan sendiri ambil menyentuh berbagai ornamen benda yang dipamerkan. Musik Conjuring dinyalakan dari smartphone sambil membakar dupa. Berapa kira-kira peluang kita akan menjumpai sesuatu yang gaib? Hiiiy…. Lanjutkan membaca Wisata ke Keraton Solo dan Candi Borobudur