Arsip Blog

Dilan (2018): Sebuah Review dan Kenangan Zaman Old

Minggu lalu, pas ada kondangan di daerah Pejaten bersama bujangku yang kelas 3 SMP, kami menyempatkan nonton Dilan di Pejaten Village. Biasanya saya gak demen nonton teen flick ginian. Tapi bujang kelihatannya pengen nonton karena sudah baca novelnya. Saya baca reviewnya sekilas kok lagi happening, semua orang sibuk membahas tentang film ini. Dan konon, hingga tulisan ini diposting, penontonnya sudah tembus 1 juta. Angka yang fantastis, bukan? Dan faktor lain yang membuat saya penasaran adalah setting ceritanya di tahun 1990. Ini sedikit banyak akan mengingatkan masa SMP-SMA saya dulu hehehe…

Saya sendiri belum baca bukunya, yang berjumlah tiga jilid. Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Dari akhir film ada keterangan: “Sampai Jumpa di Dilan 1991”, itu berarti akan ada sekuelnya dan hampir mustahil tidak dibuat sampai yang ketiganya. Untungnya belum baca buku sebelum nonton adalah kita tidak perlu sibuk membandingkan dan mengkhawatirkan apakah filmnya sesuai bukunya atau tidak. Gak perlu protes pemainnya sesuai imajinasi kita atau enggak, dst. Menurut Pidi Baiq, bukunya ditulis dari kisah nyata seseorang yang bernama Milea. Jadi ini bukan murni fiksi.

Kesan apa saat dan setelah menontonnya?

  • Dari kubu pemain, banyak wajah baru yang fresh. Ganteng-ganteng dan cantik-cantik.

Lia Waroka memerankan bundanya Dilan

Ridwan Kamil nongol sebagai cameo yang memerankan salah seorang guru. Hahaha.. ada yang kampanye duluan nih wkwkwkwk..

  • Dari sisi cerita, sebagai seseorang yang belum membaca kisahnya, secara umum puas. Filmnya menghibur, banyak dialog yang mengundang geli-geli lucu karena gombalnya si Dilan dalam merayu Milea. Well, mungkin gak semua orang suka dengan rayuan gombal begini. Tapi saya bisa menghargai kegombalan si Dilan karena mungkin saya suka ngegombal. Hahaha.. Sebenarnya ngegombal dan pas plus lucu itu susah loh.. Gak gampang ngegombal yang bikin cengar-cengir.
  • Dari kemampuan akting, pemeran Dilan yang juga penyanyi Cowboy Junior, Iqbal Dhiafakhri, bermain cukup bagus. Maklumlah udah lima film ia bintangi sebelumnya. Vanesha Prescilla berperan sebagai Milea. Cantik dan sebagai aktris yang pertama kali bermain dalam sebuah film, bisa dibilang lumayan lah. Gak malu-maluin.
  • Intinya, secara film meski berasa agak khawatir film ini berusaha ngelucu tanpa tujuan jelas di sepertiga akhirnya, namun bisa dimaklumi. Karena gaya ngegombal Dilan yang hampir selalu muncul ketika dia dapat adegan itu bisa-bisa boring kalau kebanyakan. Berbeda dengan Catatan Si Boy yang alim, Dilan justru digambarkan bandel, tukang berkelahi, bahkan panglima geng motor. Nah kalau pas adegan tengil dan ngegombal, Iqbal sih cocok. Tapi pas mimpin geng motor, terus terang memang kurang meyakinkan. Kalau segahar Anhar justru lebih pas memerankan bad boy. Banyak yang bilang, film ini adalah the next AADC. Saya gak protes. Terus terang, menghibur kok. Tonton gih!

Meskipun demikian, tidak semua yang ada di film ini patut ditiru. Ada adegan Dilan melawan gurunya ketika ditampar di sekolah. Meski guru salah, memukul balik juga tidak memecahkan masalah. Gampang memukul teman hanya karena pacar kita disakiti juga tidak baik untuk ditiru. Meski di buku karakter Dilan memang demikian, jangan ditiru yang tidak baiknya. Termasuk ngesun, boncengan motor berdua, dan sebagainya. Ambil positifnya, filter yang buruk. Jadilan penonton yang cerdas.

Naaah… selain bercerita tentang film Dilan, saya juga mau bercerita berbagai hal yang pernah dulu saya alami pas SMA dan kuliah, di tahun 1990-an, yang anak zaman now tidak mengalaminya. Coba ya, yang sekolah SMP-SMA sekitar tahun 90-an awal, tunjuk tangaan!

  • Di salah satu adegan di rumah Dilan, kita melihat banyak poster dari Majalah Hai. Majalah Hai ini dulu adalah bacaan anak SMP-SMA tahun 90-an, terutama buat anak cowok. Sejak tahun 2017 majalah tersebut berganti media, dari cetak menjadi online. Nah dulu saya suka banget majalah ini. Melihat majalah ini muncul di Dilan, ada perasaan seolah bisa menghirup atmosfir SMP-SMA dulu

  • Telepon umum koin dan kartu plus wartel. Anak 90-an pasti pernah ngalamin pacaran via telepon umum koin dan kartu. Pas ngekos dulu di Depok, kami dah nyetok koin 100 biji untuk nelpon ke kos-kosan pacar. Aduh indahnya mendengar suara si dia di ujung sana. Dan ketika bunyi nada peringatan koin sudah harus dimasukkan kembali, terdengar bunyi denting koin untuk memperpanjang nyawa komunikasi. Bila koin sudah tak ada, maka durasi terakhir biasanya digunakan untuk mengatakan betapa rindunya diriku padanya, dan tak mau tahu bahwa besok kan berjumpa lagi. Tidak hanya itu, telepon umum koin juga digunakan untuk mengirim pesan via pager. Cara kerjanya adalah kita telpon call center provider pagernya, lalu dia akan menanyakan ID tujuan, dan meminta pesannya apa. Kalau lagi marahan ya pesannya bisa galak, dan operatornya cengar-cengir. Kebayang aja dia tahu kalau orang mau nagih utang, kangen, berantem, dan sebagainya.

Telepon umum koin

Nah, ini dia pager yang booming sebelum HP terjangkau secara luas

Nah ini hp pertamaku duluuuuu – Nokia 3210 – Providernya XL, baru bisa di kota besar saja hehehe.. naik kereta langsung blank spot

 

Dulu kursus Lotus 123, Word Star, Word Perfect, dan dBase III+ pake PC XT ini

Ini Lupus, karya Hilman, yang ngehit pas SMA dulu

Yah itulah mengapa banyak yang menonton film Dilan. Generasi zaman now penasaran gimana bokap nyokapnya dulu sekolah dan pacaran, sementara bapak dan ibu zaman now ingin bernostalgia kenangan zaman old. Persis kaya dulu film Warkop. Bapaknya nganter anak nonton Warkop karena ehem hahaha..

Demikianlah curhatan generasi yang smp/smanya tahun 90’an. Ketahuan dah umurnya wkwkwk…

Kalau kalian dah nonton filmnya, share ya pengalaman kalian, apa kesan terhadap filmnya dan apa ada kenangan yang terlintas setelah menonton filmnya.

 

Iklan

Review Film Pengabdi Setan (2017)

Impian Joko Anwar untuk membesut film Pengabdi Setan puluhan tahun silam tercapai sudah. Inilah film horor yang menginspirasikan dirinya untuk membuat film. Sutradara yang terkenal dengan Pintu Terlarangnya ini merayu Rapi Film yang memiliki hak ciptanya agar diperkenankan menjadi sutradaranya. Akhirnya film yang juga dibiayai oleh CJ Entertainment ini tayang juga di bioskop.

Beberapa teman saya mengatakan, film asli Pengabdi Setan yang dibintangi Ruth Pelupessy dan HM Damsjik dulu adalah salah satu film menakutkan di masa kecil mereka. Saya sendiri sudah menonton versi lamanya dan penasaran dengan versi Joko Anwar ini.

Dibandingkan film dulunya, film yang dibesut Mas Joko ini cukup berbeda. Meski intinya sama namun beberapa detail diubah, termasuk ada twist ending di film ini, tipikal Joko Anwar. Lebih kurang konon ada setidaknya 9 hal yang berbeda antara film dulu dengan remake-nya ini. Apa saja? Ah nanti malah spoiler. Pokoknya kalau kamu dulu sudah pernah nonton, jangan takut bosen nonton filmnya karena bedaaaaaaaa…

Kisahnya sebenernya sederhana. Ada sebuah keluarga muslim yang jauh dari ajaran agama, terdiri dari sepasang suami istri dan empat orang anak. Sang Ibu sedang sakit keras, dan beberapa anggota keluarga sering menjumpai penampakan di kamar ibunya. Ketika ibunya meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan, masalah mereka justru semakin bertambah pelik. Teror makhlus halus yang menyerupai ibunya muncul terus-menerus. Berhasilkah mereka melawan makhluk gaib ini? Saksikan sendiri ya di bioskop kesayangan Anda!

Img1

Terus terang saya menyukai film ini. Bahkan ini film Joko Anwar yang paling menarik menurut saya. Castingnya penuh wajah segar tapi aktingnya bagus-bagus! Menurut Joko Anwar, castingnya gak sembarangan. Tiap karakter memiliki 30-40 orang kandidat. Hasilnya memang terlihat luar biasa. Anak-anak keluarga itu, dari yang remaja sampai ke yang paling kecil, mainnya bagus dan natural. Endi Arfian yang blasteran Jawa Jerman bisa memerankan peran untuk usianya dengan pas.

Img2

Adik yang paling bungsu yang paling nggemesin. Mainnya natural sekali. Namanya M. Adhiyat. Baru kelas 1 SD tapi sudah main film dengan bagus.

Img3

Dari sisi setting dan properti semuanya dibuat sesuai jamannya di tahun 80-an. Sangat teliti dan rinci, seperti kostum, gaya rambut, aksesoris rumah, dan transportasi umumnya.

Faktor horornya sendiri ada setidaknya dua jump scares yang membuat saya berteriak di bioskop. Karakter dan pendalaman cerita dibeberkan perlahan dan kengerian dibangun dari awal hingga puncaknya. Joko Anwar terlihat sangat serius dan bisa dibilang cukup berhasil membuat penonton ketakutan.

Meskipun film ini wajib ditonton bagi mereka para pencinta horor, film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Ada beberapa plot hole yang tampak di sana-sini dan ending yang terlalu luas untuk diinterpretasikan, kecuali sebagai sinyal akan adanya sequel.

Dua anak bungsu keluarga ini yang diperankan oleh Nasar Annuz dan M. Adhiyat bisa menghidupkan film dengan baik

Secara overall saya beri nilai 8/10. Puas!! Lebih seram dari Gerbang Neraka dan Jaelangkung yang dibesut Mantovani.

Review Film Firegate a.k.a Gerbang Neraka

Rizal Mantovani kembali menghasilkan film horor berbalut petualangan dalam film yang ia besut, yang berjudul Firegate atau Gerbang Neraka. Film ini terlihat dibuat dengan cukup ambisius dari jajaran pemain utamanya, Reza Rahadian (Habibie dan Ainun), Julie Estelle (Headshot), dan Dwi Sasono (Pocong) – serta aktor gaek yang sedang naik daun, Ray Sahetapy (The Raid). Penggunaan bintang tenar dan digunakannya CGI di banyak adegan, menunjukkan keseriusan Rizal dengan film yang mulai digarap di 2016 tahun lalu, sekaligus harapan mendulang rupiah dalam pemasukan tiket.

Img1

Jajaran pemain dan kreator – sumber Bintang.com

Ide ceritanya sendiri bukan semata-mata fiksi, namun dari penelitian arkaelogi yang benar-benar terjadi di situs Gunung Padang, Cianjur. Temuan sementara tim yang dipimpin Danny Hilman Natawidjaja, geolog di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, itu menunjukkan bahwa Gunung Padang adalah selimut yang menutupi sebuah bangunan tempat pemujaan purba berupa punden berundak. Punden itu terkubur akibat suatu bencana besar yang melumat penduduknya.

Jelas sekali film ini berusaha tidak mengekor dengan film horor yang banyak beredar di pasaran, yang biasanya mengandalkan legenda urban masyarakat atau tipikal rumah berhantu yang biasa jadi andalan film horor barat besutan James Wan. Rizal, dalam sebuah wawancara dengan Kompas menegaskan hal ini.

“Kami dapat inspirasinya dari Gunung Padang di Jawa Barat, itu adalah sebuah situs (berbentuk piramida) yang masih ditutup oleh pohon-pohon, tapi sejak sepuluh tahun yang lalu ini sudah mulai dilakukan penyelidikan,” ucap Rizal.

“Setelah dicek ternyata ada bangunan di dalam ini (Gunung Padang) ini secara fakta. Diambil sampelnya ternyata disitu ditemukan benda-benda dan bahan-bahan buatan manusia, jadi bukan alami, setelah dicek oleh tim arkeologi Indonesia, ternyata itu lama sekali, akhirnya cek di Amerika, itu ternyata sangat tua sekali, bahkan lebih tua dari Piramida Mesir,” tambahnya menjelaskan.

Film Gerbang Neraka atau Firegate ini berkisah tentang Tomo Gunadi (Reza Rahadian) seorang wartawan tabloid mistis yang ditugaskan meliput Piramida Gunung Padang.  Tomo yang tadinya memandang sebelah mata akhirnya harus bekerja sama dengan paranormal bernama Guntur Samudra (Dwi Sasono) dalam mengungkapkan misteri situs tersebut.

Arni Kumalasari (Julie Estelle) kepala tim arkeologi yang ditunjuk Presiden Indonesia, setelah profesor Theo Wirawan mengalami kematian misterus, pada awalnya menolak kehadiran serta bantuan dari Tomo maupun Guntur. Arni yang selalu percaya dengan ilmu pengetahuan dan menolak segala sesuatu yang berbau klenik akhirnya harus mengakui bahwa terlalu banyak kejadian mistis yang terjadi di situs itu yang membawa korban jiwa.

Pada saat ketiganya menemukan fakta bahwa piramida ini adalah ‘penjara’ untuk sebuah kekuatan kuno yang bisa menghancurkan dunia. Mau tidak mau ketiga orang yang mempunyai latar belakang dan tujuan berbeda ini harus bekerjasama untuk mencegah malapetaka sebelum terlambat.

Img3

Dari sisi akting, Reza jelas sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia bermain prima seperti biasanya sebagai seorang wartawan bagus yang kehilangan idealismenya, dan mengejar berita semata-mata demi uang. Julie Estelle bermain agak kaku dan kurang luwes sebagai seorang ilmuwan yang tidak percaya dunia klenik. Dwi Sasono dengan gaya khasnya, menjadi paranormal yang memiliki ilmu kanuragan, tanpa kehilangan sense of humor, seperti yang biasa ia perankan di film lainnya.

Dari sisi cerita, masih banyak yang bisa diperkuat sebenarnya. Jika dibandingkan The Mummy-nya Brendan Frasser, sangat jelas apa yang diingkan Mummy ketika bangkit. Mengapa mummy membunuhi korbannya, dan seterusnya, penonton diajak menikmati tanpa harus menerka-nerka mengapa begini dan mengapa begitu. Juga dari sisi penyelesaian, terasa sang aktor tahu begitu saja bagaimana mengakhiri potensi bencananya, tanpa rujukan apapun, tidak seperti The Mummy, yang merujuk pada buku suci yang ditemukan.

Dari sisi spesial FX, masih perlu suntikan dana agar semua tampak natural dan tidak terlalu terlihat fake.

Img4.jpg

Namun demikian, film garapan Legacy Pictures ini patut diacungi jempol karena mencoba tampil beda dan tidak mau membebek film lainnya yang hanya itu-itu saja dalam dunia horor. Ke depannya, kualitas cerita dan story telling, ditambah CGI yang mumpuni akan membuat film kita tidak kalah dengan film buatan luar negeri.

Saya memberi nilai 7 skala 10 secara umum, selamat menikmati di bioskop kesayangan Anda, mulai 20 September 2017.

Berkemah di Situ Gunung

Halo, outdoor lovers! Kali ini saya akan berbagi pengalaman berkemah di tempat baru buat kami, di Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Seperti biasa saya akan ndongeng, cerita ngalor-ngidul selama kami melakukan perjalanan, so bear with me aja lah ya.

Oh ya, buat kalian yang baru pertama kali mampir dan pengen kepo pengalaman berkemah saya sebelumnya, monggo dibaca di pranala berikut ini:
1. Ranca Upas Ciwidey, Bandung,
2. Sukamantri, Bogor
3. Gunung Lembu, Purwakarta
4. Cipamingkis, Bogor
5. Guci, Tegal
6. Tambang Ayam, Anyer
7. Cidahu, Sukabumi

Berangkat dari Serpong hari Jum’at (12 Mei 2017) sekitar jam 11 siang. Akhirnya berhenti untuk sholat Jum’at dan makan siang dulu di Masjid Al Madinah sebelah Rumah Sehat Dompet Dhuafa di daerah Parung, Bogor. Masjidnya bagus, cukup luas dengan bentuk memanjang, dan toiletnya wangi banget! Ah keputusan tepat untuk singgah dan sholat di masjid ini.

Kami berangkat meninggalkan masjid untuk menuju Sukabumi sekitar pukul 2 siang. Berhenti untuk sholat ashar, sholat maghrib, dan makan nasi goreng kambing dengan total istirahat sekitar dua jam. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 8 malam. Itu berarti total di jalan dari Parung ke Sukabumi sekitar 4 jam, sudah termasuk kemacetan di beberapa titik di Sukabumi.

Buat kamu-kamu yang males kena macet atau tidak ada kendaraan pribadi, saya sarankan bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Paledang Bogor yang berdekatan dengan Stasiun Bogor. Ada kereta ekonomi AC dan juga eksekutif Pangrango. Turun saja di Stasiun Cisaat, lalu sewa angkot ke lokasi. Memang kalau berkemah rempong ala kami agar ribet juga kalau sewa angkot. Bawaannya banyak. Tenda tidur dua (salah satunya turbo tent yang segede gaban), satu tenda payung untuk masak, flysheet, alas tenda, dua kompor, dua kasur pompa, bantal, selimut, jaket, pakaian ganti, berbagai bahan makanan seperti kentang, mie, sosis, roti, dan alat makan seperti mangkok, piring, gelas, dan sebagainya. Lebih cocok backpackeran kalau mau naik kereta api.

Img4.jpg

Kereta Pangrango

Nah karena sampai di sana sudah malam dan banyak perabotan yang kami bawa, akhirnya kami putuskan malam itu tidak langsung berkemah di area wisata. Untungnya, sekitar 10 meter sebelum pintu masuk ada penginapan, Villa Cemara. Dari salah satu teman pencinta outdoor, kabarnya villa ini pemiliknya cukup ramah (Ibu Tuti), dan memang benar adanya. Buat kalian yang ingin menikmati indahnya Situ Gunung dan Curug Sawer tanpa ingin berkemah, bisa memilih untuk menginap di sini. Saya sarankan untuk booking sebelum datang, karena bisa saja penuh. Untung saja waktu itu kami masih mendapatkan dua kamar kosong di rumah bata. Dua kamar kosong yang tersisa berisi masing-masing tiga dan dua tempat tidur dengan kamar mandi di dalam. Air panas tersedia lho. Biaya menginap di kamar dengan tiga tempat tidur pada malam itu adalah 500 ribu semalam dan yang dua kamar 300 ribu semalam. Karena kami berlima bersama asisten RT, saya mengambil kedua kamar itu, agar kata anak pertama kami, saya dan istri bisa mendapatkan quality time. Hahaha.. dasar bocah kelas 2 SMP sekarang udah ngerti aja.. Sebenarnya bisa sih kami menginap dalam 1 kamar berlima dengan menggelar kasur pompa, namun ya itu.. saya dan istri tidak bisa mendapatkan “quality time”. 

Kebetulan kami juga membawa Wifi Portable dengan Kartu XL dengan kekuatan sinyal yang sangat kuat. Maklum saja di dekat situ ada tower XL. Sinyal Telkomsel kurang begitu kuat di daerah Situ Gunung. Jadi malam itu kami tetap bisa berkomunikasi dengan Whatsapp secara nyaman.

Pagi setelah sarapan kami bersiap-siap dengan memasukkan semua perabotan lenong ke dalam mobil, lalu pergi ke tempat wisata.

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM

Ini tiket masuk di pintu gerbang

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.26 AM

Tarif sesuai Peraturan Pemerintah RI

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM (1)

Nah, tarif 29 ribu, namun kami bayar 35 ribu

Meski bandrol tertulis 29 ribu rupiah, namun kami diharuskan membayar 35 ribu rupiah dengan alasan untuk uang kebersihan dan sebagainya. Well, baiklah. Kami berlima hanya empat yang harus bayar, Aila yang masih kelas 1 SD gratis.

Setelah urusan administrasi beres, kami segera bergegas menuju danau. Dari pintu gerbang jaraknya sekitar 700 meter. Bisa naik ojek ke sana, namun kami memutuskan untuk berjalan kaki membakar kalori sambil menikmati sejuknya alam.

Perjalanan menuju danau berbatu-batu seperti terlihat pada gambar di atas. Anak saya yang kelas 1 SD sangat menikmati perjalanan dan tidak memberatkan dia sama sekali.

Begitu sampai di danau, kami semua takjub akan keindahan alam ciptaan Ilahi. Begitu sempurna.

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.38.38 AM

Ada rakit yang bisa digunakan dengan tarif 15 ribu per orang

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.38.36 AM

Mentari baru saja naik dari peraduannya – begitu indah dipandang mata

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.20.13 AM (1)

Pepohonan begitu menghijau tampak asri dipandang mata

Ada toilet dekat danau, jadi jangan kuatir kalau nature calls semua aman 🙂 Warung makanan dan gorengan juga banyak. Termasuk cinderamata juga dijual di situ. Oh  ya dilarang berkemah di sekitar danau. Jangan coba-coba kalau tidak mau diusir hehehe..

Pada awalnya saya berpikir, kenapa sih gak boleh bikin tenda dekat danau? Kan viewnya bagus. Setelah dipikirkan kembali, bayangkan jika ada 100 tenda yang ada di sekitar danau. Maka bila ada yang pagi-pagi sakit perut dan toilet penuh, maka akan banyak ditemui ranjau di rumput dekat danau. Ini sangat mengesalkan bila kamu menginjaknya, kan? Belum lagi kalau malamnya membakar api unggun, maka bekas sisa pembakaran akan mengotori daerah dekat danau. Keputusan yang baik juga sih kalau dipikir-pikir.

Oh ya, gambar di atas ada gambar Pak Miftah, orang tua yang mengenakan ikat kepala. Dia yang mengoperasikan rakit bambu dengan tarif 15 ribu per orang. Kalau mengambil foto di atas rakitnya, kasihlah barang sedikit uang untuk keluarganya.

Nah, pulangnya kami mengambil mobil di Vila Cemara, lalu memarkir mobil di dalam tempat wisata untuk mendirikan tenda. Kalau tidak salah ada sekitar 5 atau 6 camping ground dengan 6 pintu toilet untuk tiap lokasinya. Lahannya bukan luas seperti di Ranca Upas atau di Sukamantri, namun bertingkat-tingkat atau berterasering. Berikut ini adalah penampakan tenda yang kami buat.

Kami membawa dua kasur pompa sehingga punggung tidak sakit. Dingin-dingin empuk hehehe.. Kalau mau pasang listrik, tinggal bayar 100 ribu, dapat lampu penerangan, dan extension. Saya sendiri bawa beberapa kabel extension termasuk lampu USB. Kalau malas masak, bisa order dari warung bawah. Kalau kesulitan membawa perabotan, ada porter kok.

Saya mendapat bantuan dari Mas Yandi yang bisa dihubungi di 0856-60-99-77-17. Silakan hubungi dia kalau mau berkunjung ke Situ Gunung, dia akan bantu semuanya. Saya sangat terbantukan dengan pelayanan dia selama di sana. Mau pisang goreng panas di pagi hari, tinggal SMS, langsung datang. Mau api unggun, tinggal sms, udah tersedia. Asyik deh, berasa di hotel bintang semilyar hehehe..

WhatsApp Image 2017-05-23 at 4.00.27 PM

Yandi —085759976870

Ada makanan apa aja sih di sana? Banyak kok. Jangan kuatir. Seblak, karedok, nasgor, pisgorcokju, dsb.

Malamnya kami makan malam dan membaca buku ditemani api unggun.

WhatsApp Image 2017-05-23 at 4.16.40 PM

Suasana sangat hening, syahdu, dan ada kesempatan untuk menjalin hubungan dengan anggota keluarga. Tidak hanya mal, mal, dan mal.

Pagi harinya, setelah packing, kami mengunjungi wisata air terjun Curug Sawer yang jauhnya sekitar 2 km. Jalannya naik turun, menantang buat mereka yang tidak pernah olah raga. Tapi tenang saja, jika malas jalan dan keringetan, ada jasa ojek sampai ke air terjun seharga 35 ribu per orang. Kalau kami memilih jalan ke sana sambil menikmati udara segar dari pepohonan yang menghijau. Kalau bisa pakai sepatu outdoor agar tidak lecet kena batu.

situgunung-71

Gimana? Udah ngebet belum wisata ke Situ Gunung? Asyik yaaa..

Gini. Kalau alasan gak punya tenda, bisa sewa, bisa pinjam.
Kalau alasan gak punya mobil atau takut macet, bisa naik kereta. Tol langsung ke Sukabumi sedang digarap. Jangan kuatir ya.
Kalau gak suka berkemah tapi ingin ke sana, bisa nginap di villa.
Kalau gak mau nginep, bisa datang pagi sekali, pulang sore. Tapi disarankan menginap, karena danau itu cakep banget pas sunrise.
Tips:

  • Usahakan menginap, minimal semalam
  • Suhu tidak terlalu dingin, tidak membawa jaket hangat tidak apa-apa. Selimut tetap lah
  • Tidak ada nyamuk, namun membawa lotion anti nyamuk bisa berguna untuk mengusir hewan atau serangga kecil lain
  • Warung banyak, mau masak sendiri bisa, mau makan di warung bisa
  • Pakai sepatu hiking lebih asyik daripada pakai sendal jepit ke air terjun
  • Bawa kamera, karena pemandangannya ciamik

Have fun ya!

Review Film Labuan Hati

Semalam kami mendapatkan kesempatan untuk nobar film terbaru Lola Amaria, Labuan Hati. Terima kasih kepada Gilang dari NontonJKT atas undangan nontonnya.


Film ini menawarkan pemandangan spektakuler baik di dataran tinggi maupun di bawah laut di kawasan Labuan Bajo, NTT. Namun sayang konflik yang ditulis Titien Wattimena kurang plausible, cenderung dipaksakan. Kita ingat film 5 cm dulu memang dibuat untuk mengenalkan keindahan Gunung Semeru, namun cerita dan konfliknya mengalir renyah untuk diikuti. Film ini jelas terlihat untuk mempopulerkan wisata di Labuan Bajo, namun cerita yang ditempelkan cenderung memaksakan. Konflik di antara ketiga wanita yang baru bertemu demi seorang lelaki diving master terasa kurang masuk akal.
Layakkah untuk ditonton? Jelas. Jangan terlalu fokus dengan ceritanya. Lihat pemandangan alam yang digeber spektakuler. Alam yang ditunjukkan begitu mengagumkan. Tidak mengherankan Labuan Bajo menjadi lirikan turis lokal maupun mancanegara. Saya harus membuat rencana ke sana nih.. Amazing!


Gambar dari Lepirate.com

Ramon yang bermain sebagai Mahesa sang Dive Master menunjukkan latihan intensifnya untuk menurunkan berat badan dan mengambil sertifikasi menyelam yang lebih tinggi membuat iri penonton.


Gambar dari Bintang.com

Dari sisi akting, Kelly Tandiono (Bia) bermain lebih natural daripada Nadine Chandrawinata (Indi) dan Ully Triani (Maria).
Dari sisi sudut pandang saya sebagai lelaki, Nadine jelas keluar sebagai pemenang (subyektif ini mah) wkwkwkwk..
Overall 6.8 / 10.

Nobar Labuan Hati Bersama NontonJkt

Film-film yang Kutonton bersama NontonJkt akan mengadakan acara nonton bareng film Nadine Chandrawinata yang terbaru, Labuan Hati.

Img3

Untuk mengetahui sinopsisnya, intip di sini, ya.

Eh ada 4-10 tiket gratis nih buat nobar, besok tanggal 7 April 2017 di Blok M Square XXI, jam 19:00. Cara mendapatkannya mudah,  share link artikel ini di Fesbuk (akses publik) , Twitter, atau Instagram kamu dan bagikan link postingan kamu di komentar di bawah ini, beserta email atau nomor HP untuk dihubungi. Kalau lebih dari 1 orang, setiap orang wajib melakukan hal ini ya. Siapa cepat dia dapat!

Ayo, kita ramaikan film Indonesia!

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Berkemah di Cipamingkis – Bogor

Pengen liburan berkesan bersama teman atau keluarga yang terjangkau dan menarik? Yuk camping ceria di Cipamingkis Bogor! Rekreasi asyik itu tidak harus ke luar negeri, lho. Di Indonesia, begitu banyak tempat wisata menarik yang mudah dan murah dijangkau.

Berikut ini saya sampaikan lima alasan mengapa kamu yang tinggal di kawasan Jabodetabek harus berkemah di sini.

Alasan #1 – Dekat dari Jakarta

Di mana sih Cipamingkis ini? Tempat wisata ini terletak di Desa Wargajaya, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Lat Longnya adalah 6° 38′ 24.65″ S  107° 0′ 41.40″ E. Untuk navigasi ke sana bisa menggunakan Waze atau Google Maps, dengan destinasi Curug Cipamingkis. Dari Depok lebih kurang 60 km. Tidak jauh, kan?

Img2

Alasan #2 – Murah Meriah

Tarif masuk tanpa menginap cuma 10 ribu rupiah saja. Kalau menginap 31 ribu per orang dewasa. Parkir motor 2000 rupiah, dan mobil 4000 rupiah. Boleh membawa tenda sendiri atau menyewa dari mereka. Tinggal bilang mau kapasitas berapa orang, akan langsung didirikan, diberi matras dan fly sheet. Kapasitas empat orang cukup membayar 150 ribu semalam. Saya sendiri sudah memiliki 4 tenda sehingga ketika berkemah di sini dengan total 15 orang, saya tinggal mendirikan tenda dan fly sheet.

Mobil atau Motor bisa diparkir di samping tenda. Jadi tidak perlu kesulitan membawa barang untuk dibawa keluar masuk mobil. Listrik kalau mau bisa sewa. Saya sendiri membawa kasur pompa dan menggunakan pompa listrik dengan ikut memompa di warung terdekat.

Alasan #3 – Fasilitas Lengkap

Di sekitar tenda banyak warung yang bisa melayani tamu untuk makan dan minum 24 jam! Dari minuman susu jahe, teh, hingga kopi semua siap! Anda membawa sendiri? Bisa minta air panas. Indomie telur siap, dengan berbagai rasa. Nasi putih dan nasi goreng ada. Gorengan tinggal comot.

cipamingkis (6 of 125)

Warung Makan Berjejer

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.03.30 PM

Memompa kasur tiup di warung

Toilet? Ada 12 pintu. Tinggal pilih saja. Kalau sudah membayar untuk menginap tidak lagi perlu bayar 2000 rupiah per ke kamar mandi.

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.03.29 PM (1)

12 pintu toilet jongkok dengan ember dan air yang mengucur 24 jam nonstop

Musholla? Lengkap dengan sajadah, sarung, dan mukena.

Alasan #4 – Banyak Instagrammable Spot

Ada beberapa spot yang bagus untuk dijadikan tempat selfie:

  • Air terjun

waterfall-1

 

  • Patung kuda

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.21.32 PM

  • Geladak kapal di atas sungai

cipamingkis (65 of 125)

  • Rumah Pohon

cipamingkis (115 of 125)

Alasan #5 – Cocok untuk Segala Usia

Banyak tempat wisata yang hanya cocok untuk pendaki gunung. Tempat ini cocok untuk segala usia. Kami menginap di sini total 14 orang, 9 dewasa, 3 anak, dan 2 balita. Berkemah melatih anak untuk mandiri, tidak takut dengan alam luas, terbiasa menghadapi segala cuaca, memecahkan masalah bersama secara gotong-royong, mengikatkan hubungan batin sesama anggota keluarga, mensyukuri karunia Ilahi akan keindahan alam dan berusaha terus menjaganya, dan banyak lagi alasan positif lainnya.

Nah, tunggu apa lagi? Ayoooo jangan mager! Cuma butuh niat aja kok buat ke sana.

Tips ke sana:

  • Jangan lupa bawa perlengkapan camping jika punya, jika tidak bisa sewa
  • Membawa kompor portable dan bahan makanan akan lebih menghemat
  • Membawa kendaraan dengan CC besar akan membantu karena banyak tanjakan terjal (30 derajat)
  • Lampu tenda akan membantu menghemat listrik (bohlam usb, dsb)
  • Payung dan jas hujan sebaiknya dibawa
  • Sendal gunung akan membantu ke air terjun, jangan sandal jepit biasa
  • Karena tidak ada sinyal provider saat tulisan ini ditulis di area camping, pastikan orang rumah atau keluarga tahu agar tidak khawatir. Semoga provider telko segera memberi akses buat warga setempat dan pengunjung yang datang.

Selamat berlibur dan terima kasih sudah mampir di sini. Oh ya kalau ada pertanyaan jangan ragu tanyakan di kolom komentar di bawah, ya!

WPC: Something Rare on Indonesian Independence Day Celebration

This week’s challenge is Rare.

All Indonesian people celebrate their Independence Day every 17th of August with many fun sporty games. In my neighborhood, the competitions not only happen during the D Day, but also from one week before until one week later. And two weeks later we will have a special ceremonial day to announce the winners and celebrate the happiness with live music and bazaar.

Here are the games we have:

  • Futsal
  • Volley Ball
  • Badminton
  • Chess
  • Kids Quiz Contest
  • Put Eels in a Bottle Contest
  • Bring marble on spoon
  • Walking on Bamboo Stilts (egrang)
  • Eating Hanging Snacks (hands free)
  • Sack race
  • Tug of war
  • Healthy environment competition
  • Pillow Fight on Swimming Pool
  • Coloring for kids

Here are some collections of rare pictures of events for the sake of this week’s challenge.

pillowfightsmall2

Pillow Fight

makankrupuk

Eating Hanging Snack

tariktambang

Tug of War

 

Are you Indonesian? Share your great rare moment link below!

You are not? Tell me about similar event that worth sharing here!

Weekly Photo Challenge – Pure

WhatsApp-Image-20160529 (2)

This week’s challenge is Pure. This is the view from almost the top of Mount Lembu, Purwakarta, West Java, Indonesia.

From around 800 meters above sea level, you can see something pure. Something that we need to conserve, to keep it pure as long as possible.

Air Terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep dan Pantai Senggigi Lombok

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian terakhir Ekspedisi Rinjani yaitu Kembali ke Sembalun.

Setelah beristirahat cukup di Base Camp Pak Nur Saat, termasuk pesan urut setelah sholat isya supaya pegelnya hilang semua, kami segera packing untuk esok paginya, jalan-jalan ke air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep dan ke pantai Senggigi. Supaya lengkap kami tidak hanya menikmati keindahan gunung Rinjani namun juga melihat keindahan air terjun dan pantainya.

Pagi hari setelah sarapan kami menuju lokasi air terjun yang dicapai hanya sekitar 30 menit dari base camp Pak Nur Saat dengan jalan kaki. Ada dua air terjun besar di sana, Sendang Gila dan Tiu Kelep. Kalau hanya untuk melihat air terjun besar Sendang Gila lebih dekat. Tiu Kelep butuh perjalanan sedikit menyeberangi sungai dan lebih ke atas. Tiu Kelep ada bagian yang cukup dalam, dan disarankan tidak berenang tanpa ditemani guide atau porter.

Air terjunnya bersih, dan satu hal yang patut diacungi jempol adalah adanya tempat sampah dekat air terjun sehingga kita bisa membuang sampah ke dalamnya tanpa harus pusing membuang ke mana. Ini patut ditiru oleh penyedia wisata di seluruh Indonesia. Jika memang tidak ingin ada yang buang sampah sembarangan, sediakanlah tempat sampah, karena tidak semua orang mau membawa sampah di dalam tasnya.

Air sungainya begitu bersih dan airnya dimanfaatkan untuk minum warga setempat. Kami sempat mengambil foto dan memasak minuman hangat setelah berendam air dingin di sana. Lelah empat hari di gunung dihapuskan oleh mandi bersama dalam semangat kekeluargaan di sini. Sangat menyenangkan sekali.

Jika Anda pergi ke Lombok dan menyukai air terjun, jangan lewatkan untuk mengunjungi kedua air terjun ini. Begitu indah dan menyenangkan. Terutama ketika menuju Tiu Kelep yang mengharuskan kita menyeberangi sungai berbatu. Tingkat kesulitannya masih bisa diatasi oleh anak-anak TK atau SD.

Setelah puas bermain air di sini kami kembali ke base camp untuk pergi ke Senggigi. Kami telah memesan hotel dua malam di sana sebelum kembali ke Jakarta. Berenang dan kuliner adalah dua hal yang kami lakukan untuk beristirahat menghilangkan lelah mendaki Rinjani.

Karena di Lombok, saya mencari ayam taliwang yang paling enak di Mataram. Setelah bertanya pada penduduk lokal, taliwang yang juicy ada di Taliwang Irama, sedangkan yang lebih kering ada di Kania. Karena kami lebih suka yang lebih juicy, akhirnya dengan bantuan Waze kami berhasil mencari rumah makan lesehan tersebut. Beberuk dan Plecing Kangkungnya segar dan nikmat. Alhamdulillah nikmatnya.

Untuk oleh-oleh setelah melihat perbandingan harga di beberapa toko, kami menuju Phonix seperti usulan teman saya yang asli Lombok. Harganya memang beda dibandingkan toko lainnya, terutama yang di Senggigi karena toko-toko itu kebanyakan memberi komisi kepada supir yang membawa turis ke sana. Saya membeli dodol rumput laut, terasi lombok, kacang mede yang enak sekali, baju batik tenun motif rangrang untuk saya, istri, dan mom tercinta. Beberapa kaos Lombok juga saya beli di sana. Hehehe mumpung ke Lombok 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berenang di hotel

Pemandangan di pantai

Selesailah sudah ekspedisi Rinjani yang diakhiri dengan jalan-jalan nikmat di Lombok. Insya Allah jika ada rezeki dan kesempatan ingin berlibur bersama keluarga di sini.

Selesai