Tak Kan Pernah Sama


Pengajian Ustad Nuzul Dzikri.

Apakah sama orang yang berilmu dengan orang tak berilmu? Tak akan pernah sama..

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar : 9)

Sudah fitrah manusia melakukan sesuatu yang menguntungkan buat kita. Termasuk ketika kita mengaji, kita beribadah, kalau tahu itu menguntungkan, pasti akan kita lakukan. Dan tahu tidaknya menguntungkan itu karena kita menuntut ilmu.

Sudah fitrah manusia jika ingin pergi ke suatu tempat yang kita ingini kita ingin segera sampai. Jika kita semua ingin ke surga sudah tentu kita akan menyiapkan segala sesuatunya untuk segera ke sana.

Jika seseorang jatuh cinta kepada orang lain, maka jika orang yang ia cintai mengirimkan surat, sudah fitrahnya kita akan segera buka surat cinta itu. Allah SWT telah mengirimkan surat cintanya berupa Kitab Al Quran, Ar Rahmah. Cintakah kita pada Allah? Sudahkah kita baca surat cinta dari Allah? Sudahkah kita paham maknanya? Jika kita nggak ngerti, sudahkah kita bertanya kepada yang ngerti? Cintakah kita pada Allah SWT? Sudah hapalkah   Asmaul Husna? Sudah berapa tahun kita menjadi hamba Allah? Padahal siapa yang menghapal keseluruhan 99 nama Allah dan mengerti makna dan mengimplementasikan konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari akan dijamin masuk surga. Sudah berapa lama jadi umat Rasul? Apa makanan kesukaan beliau? Katanya cinta? Kok gak kepo?

Kita bisa bilang kita cinta pada Allah SWT namun cinta butuh bukti. Jangan sampai mulut kita berkata cinta namun didustakan Allah di hadapanNya kelak.

Salah satu tolak ukur kecintaan kita pada Allah SWT adalah seberapa dekat kita dengan Al Quran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Al Mujadilah : 11

Sudah berapa banyak persiapan kita belajar untuk akherat kita? Apakah cuma mengandalkan khutbah Jum’at? Apakah cuma Youtube sekali-sekali? Kalau untuk sukses di dunia belajar 6 tahun ilmu dunia saja susah sekali, bagaimana untuk ilmu akherat yang lamanya tak terhingga?

Dari Abu Umama, Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa pergi ke masjid dan ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya maka pahala baginya adalah seperti orang yang naik haji yang sempurna hajinya.”

Pertanyaan: bolehkan seorang ustazah mengambil kuliah sampai s3 dan memberikan tauziah ilmu agama dengan menelantarkan suami dan anaknya meski suaminya ridho?

Jawab:

Islam agama yang proporsional. Prioritaskan yang fardhu ‘ain ketimbang yang fardhu kifayah. Pendidikan Anak jangan diserahkan sepenuhnya kepada pondokan atau pesantren saja atau apalagi kepada pembantu. Ibu rumah tangga adalah pemimpin bagi anak dan urusan rumah tangga yang nanti akan ditanya oleh Allah SWT mengenai tanggungjawabnya. Urusan pesantren harus melihat kesiapan anak. Jangan pukul rata kepada semua anak karena belum tentu si anak ridho. Bahkan bisa merasa dibuang.. Kalau cocok silakan namun harus dikomunikasikan dengan anak, jangan korbankan anak karena obsesi orang tua.

Iklan

Posted on Desember 2, 2015, in Kontemplasi, Ulasan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: