Arsip Blog

Berbuat Baiklah, Meski Pada Akhirnya Semua Orang Akan Menyesal

Saya punya teori. Boleh percaya boleh tidak. Tapi saya yakin semua orang akan menyesal. Terutama dalam kepercayaan yang saya anut sebagai seorang muslim. Loh kok? Semua orang? Bukannya yang jahat saja? Tidak. Yang baik juga.

regret

Ok kita kembali kepada Al Qur’an, Al An’am ayat 31.

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.

Coba kita lihat lagi di Al Fajr 15-26.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim,

dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut,

dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.

Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”.

Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya.

dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.

Nah, di Surat Saba juga disebutkan di ayat 31-33.

Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Quran ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya”. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”.

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”.

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Bagaimana dengan orang yang baik? Mari kita simak cerita salah satu sahabat Rasul berikut seperti yang ada di artikel islami tentang penyesalan ini.

Hari itu ada seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jika ada sahabat meninggal dunia, Rasulullah pasti menyempatkan diri mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, Rasulullah menyempatkan diri singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musbah itu. Begitupun terhadap keluarga sahabat yang satu ini.

Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”

Sang istri yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”

Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah lagi.

Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…. Andaikata yang masih baru… Andaikata semuanya….’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai….”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian agar tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan hanya istri almarhum saja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai. “Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya. Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan pahala amal shalihnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya adalah andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.”

Semua anggota keluarga itu sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran saja.

Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat Subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suaminya membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang tengah dikenakannya dan diberikan kepada si lelaki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”

“Kemudian, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” tanya sang istri lagi.

Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingkatkah engkau ketika pada suatu waktu suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberi hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda pula.’”

Sekarang, semua anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka ketika akan menjelang wafatnya. Kelapangan telah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk menolong dan memberi.

Nah, sekarang tinggal pilih. Penyesalan mana yang kita inginkan? Menyesal karena tidak berbuat baik sama sekali, ataukah menyesal karena kurang banyak berbuat baik?

Setiap kali kita akan memasukkan uang ke kotak masjid, mari kita bayangkan, akankah kita menyesal melewatkannya? Akankah kita menyesal hanya uang seribuan yang kita masukkan, sementara minuman kopi kita berkali-kali lipat?

Setiap kali kita ada teman yang kesusahan, akankah kita meminta maaf tidak dapat menolongnya, ataukah kita menyesal hanya sedikit yang kita bisa bantu?

Setiap kali adzan terdengar, akankah kita menyesal tidak datang memenuhi panggilanNya, ataukah kita menyesal terlambat datang, ataukah menyesal tidak sholat sunnah rawatib? Bayangkan ketika kita di alam kubur dan diperlihatkan pahala sholat kita, sementara sholat sunnah sering kita tinggalkan. Menyesalkah kita?

Setiap kali ada kesempatan untuk berbuat baik, akankah kita menyesal tidak melakukannya, ataukah menyesal kurang banyak yang bisa kita lakukan?

Tulisan ini ditujukan untuk diri sendiri, semoga tidak menyesal dalam kepedihan, namun menyesal dalam kebahagiaan.

Semoga ada manfaatnya.

Iklan

Weekly Photo Challenge: Admiration

This week’s challenge is Admiration.

I always admire, salute, and have full respect to all the people who work hard to make a living for their family. You can see passion, perseverance, and hope. There is a beauty in it.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا فَيَسْأَلَهُ أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ

By him in whose hand is my soul, if one of you were to carry a bundle of firewood on his back and sell it, that would be better for him than begging a man who may or may not give him anything.

Source: Sahih Bukhari 1401, Grade: Muttafaqun Alayhi 

admiration

Selling goods

981845_10200575156234152_1050242770_o

Water scavenger

379714_10200575089432482_32766103_n

Fishing

These pics were taken using my Canon 550D and 70-200 mm f/2.8 non IS lens.

Kondangan Tanpa Mempelai

Beberapa menit yang lalu, setelah membayar seporsi sate padang Ajo Ramon di depan Pasar Santa, saya memesan GO-JEK untuk membawa saya ke Stasiun Palmerah. Saya lirik foto pengemudinya di aplikasi, sebut saja Tono, berbadan cukup gempal dan berewokan. Mirip Syeh Puji. 

Telepon genggam saya tidak lama kemudian berdering dengan ring tone Mission Impossible edisi Banana Minion.

“Pak, saya sudah di Pasar Santa”, katanya.

“Saya di depan Sate Padang Ajo Ramon, Mas. Ke sini ya!”, jawab saya.

Tak lama kemudian ia muncul tanpa mengenakan jaket kebesaran Gojek yang berwarna hijau itu. Tanp disangka wajahnya tidak mirip dengan yang ada di foto dan tubuhnya jauh lebih kecil. 

“Loh, kok beda dengan di foto Mas?”, tanya saya.

“Saya anaknya Pak Tono, Pak.”

“Loh.. Bapaknya ke mana?”

“Beliau sakit Pak. Demam karena kehujanan dan biasanya ambil sewa malam. Saya menggantikan beliau.”

Entah kenap di titik itu saya tidak melihat seseorang melanggar aturan perusahaan Gojek. Saya yakin manajemen Gojek tidak akan mengizinkan ID pengemudi digunakan oleh orang lain, meski itu anak kandungnya. Jika ada masalah, reputasi Gojek dipertaruhkan oleh orang yang mungkin tidak layak menjadi pengemudi Gojek karena untuk menjadi pengemudi atas nama perusahaan besar seperti ini pasti ada pelatihan dan syaratnya. Saya bisa menolak order kali ini dan bisa mengancam untuk melaporkannya kepada pihak manajemen Gojek. Entah kenapa nurani saya melihatnya sebagai seorang anak yang berbakti dan mencoba menyambung hidup untuk sedikit membantu dapur ibunya dan membeli obat untuk ayahnya. Saya teringat diri saya waktu SMA dulu. Mulai bekerja mencari uang tambahan buat kos dan makan dengan memberikan les kepada anak SD. Kuliah dulu nyambi ngajar Visual Basic di Nurul Fikri Mampang, dekat si pengemudi ini tinggal.

“Pak, saya tidak tahu jalan ke sana”

“Sudah gak papa. Kita pakai Waze saja.”

“Bisa ya, Pak?”

“Iya..saya juga tidak terlalu hapal.”

Suara Septi dalam Bahasa Indonesia mulai cerewet memberi tahu kapan mesti belok kanan dan kiri. 

Tiba-tiba di lampu merah depan Bundaran Senayan seorang polisi menghentikan kami. 

“Mas, ini jalur cepat. Harusnya ambil sebelah kiri di jalur lambat. Parkir dulu motornya di depan lalu masuk ke kantor dulu”, kata Polisi tadi.

Saya menunggui motor sementara anak itu masuk pos. Beberapa waktu kemudian dia muncul.

“Ditilang, Mas?”, tanya saya penuh selidik.

“Nggak Pak. Kondangan saja”.

Oh ini toh istilah lain dari salam tempel atau damai itu indah.. Kondangan tapi tanpa mempelai.

“Kena berapa?”, tanya saya.

“Tadinya dia sebutkan semua pasal pelanggaran saya Pak. Lalu dia bilang bayar saya seratus ribu, nanti dibantu. Saya keluarkan dompet saya, dan saya bilang kalau baru keluar, dan cuma ada 35 ribu rupiah. Saya gak percaya semuanya diambil Pak. Saya minta maaf ya Pak. Karena saya gak tahu jalan Bapak jadi terhambat seperti ini”, katanya dengan penuh hormat dan penyesalan.

Dinamika ibukota. Semua butuh uang. Ada yang berusaha dengan cara membantu orang lain, dan ada juga yang menyusahkan orang lain. Semua akan mendapatkan balasannya.

Diam-diam saya kagum kepadanya. Tidak ada umpatan. Tidak ada makian. Tetap berusaha melayani saya sebaik mungkin. Kami pun melanjutkan perjalanan. Mbak Septi kembali memberikan navigasi. Seandainya dia tahu masalah ini, dia mungkin akan minta maaf memberikan kami petunjuk untuk mobil, bukan untuk motor. Kami memaafkanmu, Septi. It is Ok.

Sesampainya di Stasiun Palmerah dia berkata dengan senyumnya, “Jadi 12 ribu rupiah Pak!”

Saya berikan uang 50 ribu rupiah, “Mas, kembalinya ambil untuk tips.”

Dia menolak, “Jangan, Pak! Tidak usah, ini salah saya”.

“Ambillah, Mas. Tidak apa-apa. Salam saja untuk Bapak, bilang semoga cepat sembuh.”

Dia begitu berterima kasih dan mendoakan saya untuk berhati-hati saat melangkahkan kaki menuju tangga stasiun.

Saya teringat QS Al Fatir ayat 2 yang tadi pagi dibahas di salah satu group WA saya.

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ketika langkah kaki saya menaiki anak tangga, saya doakan ia menjadi anak sholeh yang berbakti kepada orangtuanya sembari memberikan bintang 5 kepada Pak Tono dengan pesan : Semoga cepat sembuh, ya Pak.

  

Tak Kan Pernah Sama

Pengajian Ustad Nuzul Dzikri.

Apakah sama orang yang berilmu dengan orang tak berilmu? Tak akan pernah sama..

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar : 9)

Sudah fitrah manusia melakukan sesuatu yang menguntungkan buat kita. Termasuk ketika kita mengaji, kita beribadah, kalau tahu itu menguntungkan, pasti akan kita lakukan. Dan tahu tidaknya menguntungkan itu karena kita menuntut ilmu.

Sudah fitrah manusia jika ingin pergi ke suatu tempat yang kita ingini kita ingin segera sampai. Jika kita semua ingin ke surga sudah tentu kita akan menyiapkan segala sesuatunya untuk segera ke sana.

Jika seseorang jatuh cinta kepada orang lain, maka jika orang yang ia cintai mengirimkan surat, sudah fitrahnya kita akan segera buka surat cinta itu. Allah SWT telah mengirimkan surat cintanya berupa Kitab Al Quran, Ar Rahmah. Cintakah kita pada Allah? Sudahkah kita baca surat cinta dari Allah? Sudahkah kita paham maknanya? Jika kita nggak ngerti, sudahkah kita bertanya kepada yang ngerti? Cintakah kita pada Allah SWT? Sudah hapalkah   Asmaul Husna? Sudah berapa tahun kita menjadi hamba Allah? Padahal siapa yang menghapal keseluruhan 99 nama Allah dan mengerti makna dan mengimplementasikan konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari akan dijamin masuk surga. Sudah berapa lama jadi umat Rasul? Apa makanan kesukaan beliau? Katanya cinta? Kok gak kepo?

Kita bisa bilang kita cinta pada Allah SWT namun cinta butuh bukti. Jangan sampai mulut kita berkata cinta namun didustakan Allah di hadapanNya kelak.

Salah satu tolak ukur kecintaan kita pada Allah SWT adalah seberapa dekat kita dengan Al Quran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Al Mujadilah : 11

Sudah berapa banyak persiapan kita belajar untuk akherat kita? Apakah cuma mengandalkan khutbah Jum’at? Apakah cuma Youtube sekali-sekali? Kalau untuk sukses di dunia belajar 6 tahun ilmu dunia saja susah sekali, bagaimana untuk ilmu akherat yang lamanya tak terhingga?

Dari Abu Umama, Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa pergi ke masjid dan ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya maka pahala baginya adalah seperti orang yang naik haji yang sempurna hajinya.”

Pertanyaan: bolehkan seorang ustazah mengambil kuliah sampai s3 dan memberikan tauziah ilmu agama dengan menelantarkan suami dan anaknya meski suaminya ridho?

Jawab:

Islam agama yang proporsional. Prioritaskan yang fardhu ‘ain ketimbang yang fardhu kifayah. Pendidikan Anak jangan diserahkan sepenuhnya kepada pondokan atau pesantren saja atau apalagi kepada pembantu. Ibu rumah tangga adalah pemimpin bagi anak dan urusan rumah tangga yang nanti akan ditanya oleh Allah SWT mengenai tanggungjawabnya. Urusan pesantren harus melihat kesiapan anak. Jangan pukul rata kepada semua anak karena belum tentu si anak ridho. Bahkan bisa merasa dibuang.. Kalau cocok silakan namun harus dikomunikasikan dengan anak, jangan korbankan anak karena obsesi orang tua.

Weekly Photo Challenge: Trio

Trio

Trio Seashells

A seashell or sea shell, also known simply as a shell, is a hard, protective outer layer created by an animal that lives in the sea. The shell is part of the body of the animal. Empty seashells are often found washed up on beaches by beachcombers. The shells are empty because the animal has died and the soft parts have been eaten by another animal or have rotted out or change a new home, perhaps?

Those shells are located inside my table in the living room as accessories. We see the beauty of the shape while realizing that living organisms has dwelt those solid shells for a period of time.

Just like our body, our shell of our soul, someday we will leave it, we don’t know when. Our skeleton will remain six feet under, our soft tissues will be gone, and our soul will return to The Creator.

Every soul will taste death, and you will only be given your [full] compensation on the Day of Resurrection. So he who is drawn away from the Fire and admitted to Paradise has attained [his desire]. And what is the life of this world except the enjoyment of delusion.

 

Img2.jpg

Qur’an, Ali Imran:185.

 

Allah Maha Baik

Pengajian malam ini bersama Aa Gym di Masjid Daarut Tauhid.
Selalulah berprasangka baik kepada Allah SWT.  

 Contoh:

Ada ajudan yg selalu berpikir semua yg terjadi adalah yang terbaik dari Allah SWT. Suatu ketika raja sedang berburu jempolnya digigit sampai buntung ama macan. Ajudan bilang ini pasti yang terbaik. Raja kesal ajudan dimasukkan ke dalam penjara. Beberapa waktu kemudian Raja berburu lagi tapi tertangkap suku kanibal. Pas mau dipersembahkan raja ketahuan buntung jempolnya lalu dilepas karena dianggap cacat. Saat itulah raja menyadari buntungnya jempolnya adalah yang terbaik dari Allah. Dia kembali ke istana mengeluarkan ajudanny dan mengaku salah. Dia bertanya bagusnya apa buatmu masuk penjara? Ajudannya bilang kalau gak di penjara ia akan menemani raja dan mati dibunuh suku kejam itu.

Alhamdulillah kita jadi manusia.
Coba jadi penguin. Jadi lelaki nungguin telor tiga bulan. Coba jadi nyamuk. Cari nafkah jiwanya selalu terancam. Belum makan kadang sudah mati. Udah makan dikejar karena dendam.

Fa bi ayyi alaa i rabbi kumaa tukadzdzibaan.. Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan.

Termasuk waktu kejadian dulu gonjang-ganjing Aa nikah lagi. Kejadian itu justru menambah kedekatan Aa dengan Allah SWT. Kota di mana DT sedang dibangun masjid yang bagus. Bisnis lebih profesional dst.

Contoh lain ttg permainan sepakbola. Masalah goal mah biasa. Itu masalah takdir. Yang indah adalah bagaimana para pemain memiliki koordinasi tinggi, kombinasi tekanan darah, adrenalin, jantung, motorik, dst. Itulah keindahan yang sebenarnya.

Alkisah ada orang kaya yang tanahnya luas, tinggal sepetak milik kakek miskin. Si kaya hidupnya sengsara karena mikirin rumah kecil itu. Pas dikunjungi si kakek lagi bersyukur alhamdulillah. Diucapkan salam sama si kaya, si kakek menjawab salam sambil alhamdulillah. Karena berarti dia memiliki telinga yg bisa mendengar. Bersyukur bisa melihat tamunya. Akhirnya si kaya sadar kesengsaraannya karena ia kufur nikmat.

Meskipun hujan, datang ke majelis taklim insya Allah banyak manfaatnya. Malaikat datang mengampuni dosa-dosa, sesuatu yang mungkin tidak didapat ketika kita hanya baca via internet, radio, dan remote distance learning lainnya.

Weekly Photo Challenge: Wall

This week’s challenge is WALL. My wall in my living room has three calligraphs that say: Allah SWT, Muhammad SAW, and Ayatul Kursi (Al Baqarah: 255).

My Wall

Here is the meaning of Ayatul Kursi:

“Allah! There is no god but He – the Living, The Self-subsisting, Eternal. No slumber can seize Him Nor Sleep. His are all things In the heavens and on earth. Who is there can intercede In His presence except As he permitteth? He knoweth What (appeareth to His creatures As) Before or After or Behind them. Nor shall they compass Aught of his knowledge Except as He willeth. His throne doth extend Over the heavens And on earth, and He feeleth No fatigue in guarding And preserving them, For He is the Most High. The Supreme (in glory).”

Here is a youtube video contains 10 different qiraat of the ayat:

2015 – New Year

Al Ashr

Al Ashr

Demi waktu

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.

 

Captured from Quran.com

Exodus (2014) – Kisah Nabi Musa yang Miskin Mukjizat

Akhirnya setelah “cuti menulis” selama lebih kurang dua bulan karena satu dan lain hal, kini saatnya kembali berbagi apa yang saya rasakan setelah menonton film Exodus (2014) besutan Ridley Scott yang berjaya dengan banyak film, salah satunya Gladiator yang dibintangi Russell Crowe.

Sewaktu kecil, saya menonton film The Ten Commandments yang dibuat pada tahun 1956, dan merasa bahwa film ini lebih patuh dan lebih menggambarkan isi kitab suci daripada versi yang sekarang. Untuk membahas tentang film ini dari sudut pandang Alquran (karena saya muslim), dan setahu saya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Injil, maka saya ingatkan bahwa tulisan berikut ini bisa mengganggu buat Anda yang belum menontonnya. (Spoiler Warning yaa…)

Musa dalam Exodus tidak menggunakan tongkat panjang seperti di Quran, namun justru membawa pedang. Musa digambarkan layaknya jenderal perang yang jago main pedang. Dalam film tidak ada adegan Musa mendapat mukjizat melempar tongkat menjadi ular yang memakan ular-ular milik penyihir Firaun.

QS Al Qashash (28:31)

dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.

Ayat berikutnya, 32, juga tidak ada di dalam film

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Tidak ada adegan Musa membunuh manusia sebelum ia melarikan diri dari Memphis seperti di ayat 15

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Di surat Al A’raaf 160:

Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.

Ini juga tidak ada sama sekali. Tongkat yang menjadi perantara mukjizat dari Allah, tidak digambarkan di film sama sekali. Hanya untuk menggembala hewan ternak.

Harun, yang seharusnya menjadi juru bicara Musa, hanya tampak bagai asisten belaka di film ini.

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku”.  (Al Qashash : 34)

Dan yang paling parah adalah kisah populer Musa membelah lautan. Dalam film ini, Tuhan tidak bicara apapun kepada Musa, Musa hanya melihat ada meteor jatuh, paginya laut surut. Jadi mukjizat Musa membelah lautan atas izin Allah dan dilihat kaumnya agar percaya kepada Musa, tidak digambarkan. Laut digambarkan surut, seolah-olah ini peristiwa alam biasa.

Padahal jelas dalam Al Baqarah (2:50):

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.

Saya tidak mengerti dari mana keempat penulis cerita Exodus ini mendapatkan ilham untuk menggambarkan kisah mulia Nabi Musa yang berulang-ulang diceritakan dalam Al Quran. Musa digambarkan frustasi dengan Tuhannya, berteriak tanpa rasa hormat, jauh seperti yang ada dalam Quran. Musa dalam Quran digambarkan sangat santun.

Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  (Al Qashash : 16)

Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”.  (Al Qashash : 17)

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.  (Al Qashash : 21)

Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”. (Al Qashash : 22)

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Al Qashash : 24)

Lihat, betapa santunnya Musa yang diceritakan dalam Al Quran. Berbeda dengan karakter yang dimainkan oleh Christian Bale. Musa digambarkan pemarah, jago tempur, dan tidak sopan terhadap Tuhannya.

Well, orang bisa berkata, ini kan cuma hiburan. Sayangnya, hiburan ini kalau sepenuhnya fiksi, sah-sah saja. Kisah yang diceritakan yang harusnya dari agama, justru diselewengkan. Buat kita yang merujuk pada kitab suci yang kita percayai, seharusnya tidak ada masalah. Namun akan menjadi bahaya ketika orang-orang yang belum membaca kitab suci, atau anak-anak, menonton film ini. Tanpa filter yang kuat dan kemampuan analisis yang kritis, kita bisa menganggap bahwa Musa hanyalah dongeng belaka dengan Tuhan yang tidak tahu sebenarnya ada atau tidak, atau hanya karangan Musa belaka. Mukjizat diberikan Tuhan kepada nabi pilihanNya bukan sembarangan. Mukjizat diberikan agar manusia biasa tahu bahwa ada kekuatan superpower di belakangnya. Agar manusia sadar bahwa mereka hanyalah ciptaan Tuhan semata, dan punya kewajiban untuk mematuhi Tuhan agar hidupnya selamat di dunia (dan kelak di akhirat). Nabi adalah superhero wakil Tuhan di muka bumi. Kalau kelebihan superhero dicabut, maka dia hanya manusia belaka, yang tidak punya kemampuan meyakinkan sesama manusia lainnya. Bahkan mereka yang melihat dengan jelas kekuatan superpower ini saja berteriak ini cuma sihir. Apalagi yang tidak menunjukkan apa-apa.

Kesimpulannya, film Exodus adalah film dengan visual efek canggih yang lebih banyak fiksinya daripada patuh kepada kitab suci, yang seharusnya menjadi landasan ceritanya. Kalau mau fiksi, sekalian ngawur seperti Lord of The Ring atau Hobbit. Jangan buat cerita agama tapi miskin pesan. Kisah kebaikan Nabi Musa dalam Al Quran agar manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi yang tidak membuat kerusakan kurang tersampaikan. Yang ditekankan justru mengenai Musa melawan perbudakan, yang ujung-ujungnya hanya masalah HAM. Padahal inti ceritanya bukan hanya masalah membebaskan Bani Israil dari jajahan Firaun, namun membebaskan manusia dari menghamba ke manusia lainnya, yaitu hanya patuh kepada Allah SWT, Tuhan Maha Pencipta. Firaun yang kejam justru digambarkan lemah dan patut dikasihani. Kena azab malah hidup pula. Sebagai film agama, bisa dikatakan film ini gagal total untuk mencapai hal tersebut. Ini mungkin kisah Nabi Musa yang hidup di alam mimpi para penulis ceritanya. Atau mungkin mereka mencoba menuliskan ulang sejarah dengan visual efek canggih agar berkesan nyata. Ah seandainya saja Tony Scott, saudara kandung Ridley Scott yang sudah mati bunuh diri itu bisa bercerita tentang alam kubur, mungkin kisahnya akan berbeda 🙂

Silakan kalau menonton, namun tetap kritis!

Exodus

Exodus

Pak Jokowi, Kami Memilih Bapak, tapi….

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb..

Pak Jokowi, izinkanlah saya menuliskan sebuah tulisan yang terinspirasi dari tulisan Ustad Salim A. Fillah,  yang tulisannya bisa dibaca di sini.  Mengapa saya menulis tulisan yang sumbernya dari kubu Pak Prabowo, semata-mata karena ada banyak nasehat yang bagus  yang sangat baik dan sebenarnya tepat buat muslim siapapun yang akan memimpin Indonesia, sehingga sebagian tulisan  beliau saya kutip dan saya gabungkan dengan perasaan saya kepada Bapak dalam tulisan ini. Ada juga tulisan beliau  yang saya juga keberatan, saya bahas juga di surat ini.

Terus terang, keislaman saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Ustad Salim. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya, bila saya yang imannya masih seujung kuku ini berani-beraninya menulis tauziah kepada Pak Jokowi, yang sudah naik haji.
Apa alasan saya yang dengan lancangnya menulis tulisan ini?
1. ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan  saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).
2. Salah satu sifat Bapak yang saya sukai adalah Bapak mendengarkan rakyatnya. Karena itu saya berani bicara lewat  tulisan ini, dengan harapan Bapak sudi mendengar dengan membaca tulisan ini.

Bicara masalah haji, saya sendiri belum diberi kesempatan pergi ke Mekah, masih menabung menunggu lunas di salah satu bank Syariah  agar dapat jatah berangkat menjadi tamu Allah SWT. Ketika lunas nanti pun, tidak tahu tahun berapa bisa berangkat.  Saya berharap bila nanti cicilan haji saya sudah lunas dan Bapak yang terpilih menjadi Presiden RI,  Bapak bisa memberantas mafia haji dan Al Quran, sehingga tidak ada lagi:
1. Kitab suci dikorupsi
2. Kasus keracunan makanan di Mekah
3. Penyelewengan dana umat
4. Kuota haji diprioritaskan bagi pejabat dan keluarganya, namun rakyat diharuskan mengantri. Ayah saya yang sudah saya tabungkan hajinya,  sudah keburu meninggal dunia dipanggil Allah SWT sebelum bisa berangkat. Bapak bisa bayangkan perasaan kami dan keluarga, terutama Ibu saya  yang berharap bisa berhaji berdua, kini hilang harapan itu. Saya yakin kalau manajemen haji dibereskan, kuota haji  yang ada akan diberikan secara adil kepada seluruh rakyat, dan tidak hanya memprioritaskan pejabat saja atau yang berharta banyak. Nantinya  untuk berangkat haji tidak perlu menunggu terlalu lama. Haji diprioritaskan bagi yang belum pernah ke Mekah,  kemudian yang pernah umroh tapi belum pernah berhaji, baru kalau sudah tidak ada lagi yang belum pernah berhaji maka  dipersilakan bagi mereka yang ingin mengulang. Toh berhaji itu minimal sekali karena kewajiban telah ditunaikan.

Semoga tulisan ini berkenan di hati Bapak karena simpati saya terhadap Pak Jokowi, sebagaimana Ustad Salim simpati kepada Pak Prabowo.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Bapak, Pak Jokowi, adalah sebuah kesadaran bahwa Bapak bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Bapak ada yang menganggap Bapak lah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Bapak adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Bapak adalah “yang lebih ringan di antara dua mudharat”.

Sebagian rekan-rekan saya yang memilih Pak Prabowo keberatan dengan koalisi yang mengusung Bapak, salah satunya PDIP, yang dianggap mudharatnya tidak bisa dimaafkan. Hal-hal yang tidak dapat dimaafkan itu adalah:
1.  Masalah penghapusan kolom agama di KTP
Pertama, sebenarnya bukan hanya kubu Pak Jokowi yang mendukung penghapusan kolom agama di KTP seperti yang bisa kita baca di  http://www.sayangi.com/politik1/read/24370/bila-terpilih-jokowi-akan-hapus-kolom-agama-di-ktp
namun Rachel Maryam dan Pak Basuki, keduanya dari Gerindra (partai Pak Prabowo), juga setuju dengan penghapusan ini.  http://metro.sindonews.com/read/817789/31/penghapusan-kolom-agama-di-ktp-jangan-dipermasalahkan
Jadi seharusnya Ustad Salim dan pendukung Pak Prabowo tidak semata-mata mengatakan hanya Bapak dan Pak Kalla yang setuju dengan  penghapusan ini.

Bagaimana menurut pendapat saya? Kalau saya lihat di Internet, alasan penghapusan kolom agama di KTP itu karena banyak orang  mendapatkan diskriminasi ketika melamar pekerjaan. Orang tidak jadi diterima begitu ketahuan di KTP agamanya beda dengan yang merekrut.
Sesungguhnya hal ini tidak masuk akal, karena meskipun kolom agama dihapuskan, kalau memang majikannya rasis,
diskriminasi tetap akan terjadi. Saya berikan dua contoh:
1. Anak saya yang bernama Muhammad Rayyan Ramadhan tetap akan dianggap muslim, meski kolom agama KTPnya kosong. Kalau dia melamar  ke perusahaan yang bossnya rasis, dengan melirik nama saja sudah akan ditolak. Terbukti mengosongkan kolom agama tidak efektif  untuk menghilangkan diskriminasi.
2. Nama lengkap saya adalah Harso Ricto Murwoko Hiksma Wisnu Widiarta. Kenapa kok bisa panjang begitu? Tiga kata di depan pemberian  kakek dari Ibu saya, tiga kata di belakangnya diberikan oleh guru ayah saya. Harso Ricto Murwoko itu nama yang Jawa banget, seperti  halnya nama Bapak, Joko Widodo. Bapak saking Solo, inyong wong Tegal. Kalau Wisnu Widiarta itu seperti nama orang Hindu.  Kebetulan beberapa orang menganggap wajah saya mirip keturunan Tionghoa, meskipun saya Jawa asli. Jika saya melamar pekerjaan yang majikannya tidak suka agama Islam, maka pada waktu wawancara saya aman. Ah ini pasti orang Cina blasteran Jawa Bali. Gak mungkin  muslim. Apakah dengan menghilangkan kolom agama Islam di KTP lantas saya aman dari diskriminasi? Tidak, Pak. Hari pertama saja sudah ketahuan saya itu muslim. Pas meeting jam 15:30, saya minta izin untuk sholat Ashar kepada boss saya. Pak, saya izin sholat dulu. Mau ashar. In shaa Allah saya segera kembali setelah sholat. Nah, hari kedua saya bisa langsung dipecat dengan alasan mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan kantor. Terbukti penghapusan kolom agama untuk menghindari diskriminasi di tempat kerja,  tidak efektif.
Sekarang kita bahas, mengapa saya mau kolom agama tetap ada di KTP:
1. Saya bangga dan bersyukur agama saya Islam. Saya bangga menjadi seorang muslim. Saya tidak ada masalah mencantumkan identitas saya  sebagai seorang muslim. Saya tidak takut terkena diskriminasi dalam tempat kerja, karena yang memberi rezeki itu Allah SWT.  Ditolak di satu kantor, bukanlah kiamat. Masih banyak yang mau menerima saya sebagai seorang muslim di tempat kerja.
2. Bapak bayangkan kalau saya misalnya pergi ke sebuah daerah, misalnya ke Manado. Seandainya di sana saya mendapat musibah lalu  meninggal dunia di perjalanan, masyarakat setempat yang menemukan saya waktu akan menguburkan saya pasti akan mencari  informasi di KTP agama saya apa. Kalau agama saya Islam ya saya minta dimakamkan secara muslim.  Buat orang lain yang meninggalnya dikremasi, ya pasti pengen dikremasi. Bayangkan ketika kolom agama dihapus, bisa-bisa saya  dikremasi karena saya dianggap orang Tionghoa.
3. Waktu saya mau menikah dulu, mertua saya yang muslim tentu hanya mau menikahkan anaknya dengan sesama muslim. Nah mereka bisa tahu  segera dengan melihat KTP saya. (Sebenarnya tidak perlu juga. Wong mau masuk saja bilang Assalamu ‘alaikum, hehehe).
4. Agama dalam KTP bisa mengingatkan saya untuk menjaga integritas saya sebagai seorang muslim. Saya tidak mau dianggap agama saya  ISLAM KTP. Artinya, agama ngakunya Islam, tapi kewajiban dalam Islam tidak dipenuhi. Dengan melihat identitas di KTP ini, saya  bisa selalu diingatkan, bahwa saya itu muslim, maka menjadilah muslim yang baik.

Ok, sekarang saya punya usulan jalan tengah. Jangan hapuskan kolom agama di KTP, tapi dibuat opsional saja.
Artinya buat yang mau menuliskan agamanya apa, silakan ditulis di Kelurahan. Yang takut kena diskriminasi, pas waktu ngurus KTP,  bisa minta dikosongkan. Dengan demikian, yang ingin mencantumkan agamanya tetap senang, yang tidak mau juga senang.  Bagaimana pendapat Bapak?

Hal lain sebenarnya seperti kolom tanggal lahir bisa menimbulkan diskriminasi usia. Kolom jenis kelamin bisa menimbulkan  diskriminasi gender. Ada lho Pak orang yang cowok atau cewek gak bisa dibedakan kecuali telanjang. Nah dia bisa menghilangkan kolom gender  demi membebaskan diri dari diskriminasi gender. Terus seperti yang tadi saya sebut masalah nama anak saya. Kalau  namanya bisa mengidentifikasi muslim, dia bisa minta kolom nama dihapus karena bisa ketahuan agamanya apa.  Jadi sebenarnya yang perlu dihilangkan bukan kolom di KTP Pak. Tapi diskriminasinya. Bisa habis nanti kolom KTP dihapusin semua.  Bagaimana pendapat Bapak?

2.  Mengenai Perda Syariah. Saya tidak mengerti mengapa penolakan terhadap Perda Syariah dibebankan menjadi dosa dengan memilih Pak Jokowi  dan Pak Kalla. Mari kita kesampingkan terlebih dahulu apakah Perda Syariah itu bisa diterapkan atau tidak. Jika ada orang PDIP  menolak keras Perda Syariah, maka sebenarnya mungkin saja ada dari partai koalisi Pak Prabowo yang juga tidak setuju.  Perda Syariah sebenarnya kan produk legislatif. Artinya, belum tentu juga saudara kita dari PKS, PKB, dan lainnya akan setuju dengan  pendapat PDIP. Negara kita sudah ada aturannya, bahwa tim legislatif yang akan menentukan apakah Perda Syariah bisa diterapkan atau  tidak. Perda Syariah sunggulah kompleks. Saya sebagai muslim tidak masalah kalau Syariat Islam akan diterapkan di Indonesia sekalipun.
Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang nonmuslim? Apakah mereka harus tunduk aturan yang sama atau tidak? Berlakunya nanti  di semua propinsi atau sebagian saja? Isi Perda Syariah itu apa saja sih?
Sungguh banyak pertanyaan mengenai Perda Syariah ini, namun tergesa-gesa mengkafirkan tim Pak Jokowi dan Pak Kalla hanya gara-gara ini  sesungguhnya kurang tepat. Baik tidaknya Perda Syariah dan bisa tidaknya diterapkan selain di Aceh, kita serahkan saja pada tim  DPR/MPR yang harus membahasnya secara adil dan memikirkan kemaslahatan seluruh Rakyat Indonesia. PDIP bukan mayoritas, semua punya hak yang sama dalam membahas undang-undang ini secara adil.

3.  Pernikahan sejenis. Ini juga undang-undang yang harusnya diproduksi oleh DPR/MPR. PDIP bukanlah mayoritas. Berbeda dengan kasus Perda Syariah, pernikahan sejenis sebaiknya juga dilarang. Pernikahan sejenis itu tidak natural. Jika dilegalkan bisa memusnahkan umat manusia. Coba kalau semuanya lesbian atau homoseksual. Mana ada manusia yang akan terlahir? Karena kita diciptakan lelaki  dan perempuan untuk berpasang-pasangan melahirkan keturunan. (Hewan saja mengerti). Menurut saya, Bapak jadi Presiden atau tidak,  mohon disampaikan kepada rekan-rekan PDIP bahwa lebih penting memberikan hukuman yang super berat kepada koruptor ketimbang  memikirkan undang-undang yang zalim ini. Sekali lagi, saya heran mengapa ada orang PDIP setuju pernikahan sejenis terus  Bapak yang jadi korban? Kebetulan saja memang Bapak diusung oleh PDIP. Jadi Bapak dianggap akan sama dengan PDIP atau disetir oleh
PDIP. Saya percaya Bapak yang muslim akan ingat ayat Quran berikut:

Allah berfirman : Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [QS Al-A’raf:80-84].

Allah menggambarkan Azab yang menimpa kaum nabi Luth : “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim” [Hud : 82-83]

Bahkan jika saya tidak salah kutip di Internet, dalam agama Kristen juga dilarang.

Dalam Perjanjian Baru, Roma 1:26-27, Rasul Paulus mengingatkan, bahwa praktik homoseksual adalah sebagian dari bentuk kebejatan moral dunia kafir, dari mana orang-orang kristen sebenarnya telah dibebaskan dan disucikan oleh Kristus.

Dalam Imamat 20:13 berbunyi : ”Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri”. Yang melakukannya diancam dengan hukuman mati.

Saya tahu Pak Jokowi dan Pak Kalla bukan yang menentukan undang-undang ini, namun Bapak berdua bisa memanfaatkan kharisma Bapak  untuk menyampaikan masukan kepada tim legislatif. Saya juga tahu tidak mungkin DPR/MPR meloloskan undang-undang ini, kecuali  Indonesia mau kiamat kena azab Allah SWT. Sekali lagi, saya heran kenapa ada orang nyleneh mengusulkan hal ini, lalu  dosanya ditimpakan kepada Bapak. Ini seperti Pak Jokowi numpang mobil orang lain dari Solo ke Jakarta, ada penumpang yang merokok,  Pak Jokowi yang disalahkan hanya karena satu mobil. Ini tidak adil. Memang banyak teman saya yang menyayangkan mengapa Bapak salah naik mobil. Teman saya bilang, kalau Bapak naik mobil PKS, mereka akan langsung memilih. Hehehe.. padahal semua mobil setahu saya ada masalahnya. Ada yang bau sapi, ada yang bau lumpur, ada yang bau bangunan olah raga, dst. Memang sulit naik mobil jaman sekarang  kalau tidak naik mobil sendiri. Tapi apa daya, syarat ke Istana sekarang harus naik mobil, ya Pak?

4.  Pengalaman masa lalu penjualan aset-aset bangsa. Saya juga bingung kenapa Bapak yang disalahkan. Lha wong bukan Bapak yang  menjualnya. Urusan saat ini adalah bagaimana kita sebagai negara memiliki banyak aset, termasuk kekayaan alamnya. Setahu saya  Bapak berjanji untuk membereskan korupsi, meningkatkan ekspor, dan mengurangi impor. In shaa Allah dengan hal ini, aset kita  yang dilepas lambat laun bisa kita ambil kembali. Man jadda wa jada. Optimis!

5.  Mengenai pencabutan tata izin pendirian rumah ibadah, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang  tangannya berlumuran darah ummat, saya tidak tahu yang dimaksud Ustad Salim itu detailnya bagaimana, tapi saya tetap tidak mengerti mengapa Bapak yang jadi korbannya. Kalau masalah undang-undang, sudah ada yang mengurusnya. Intinya kalau UUnya ngawur pasti tidak  akan lolos di DPR/MPR, kecuali semuanya ngawur. Kalau mengenai purna prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat, bagaimana  dengan pihak Pak Prabowo? Dulu Pak Amien Rais kan mendesak agar Pak Prabowo disidang agar jelas siapa yang salah pas kasus 1998. Sekali lagi, ini juga salah alamat kalau ditujukan kepada Bapak, karena Bapak punya track record welas asih di Solo, mengutamakan dialog,  dan tidak pernah menculik orang lain – entah korbannya hidup atau mati.
Bapak lebih suka dialog dan makan siang ketimbang pakai kekerasan. BTW, saya kepengen banget makan siang sama Bapak.  Saya yang traktir deh Pak. Saya sebenarnya juga kepengen makan siang sama Pak Prabowo, tapi terus terang saya takut. Kalau sama Bapak saya tidak takut. Bapak bisa menjadi ayah angkat saya karena ayah saya sudah meninggal.
Saya butuh belajar banyak dengan Bapak mengenai teknik komunikasi tanpa emosi. Itu ilmu yang sulit loh Pak.
Saya mau kursus sama Bapak. Oh ya, kalau Bapak butuh bantuan teknologi informasi, saya kebetulan lulusan dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Jadi kalau Bapak butuh masukan tentang IT dari saya, silakan hubungi saya Pak. In shaa Allah, jika itu  untuk Bangsa Indonesia, saya akan GRATISKAN. Saya akan sedekahkan ilmu saya untuk negara Indonesia. Saya ingin turun tangan,  bukan urun angan (seperti kata Pak Anis Baswedan). Sekedar informasi, saya suka membuat aplikasi gratis buat masyarakat Indonesia. Sudah ada aplikasi yang saya buat, lalu saya sedekahkan gratis di Internet. Pertama aplikasi SISURAT (Sistem Informasi Persuratan), alhamdulillah sudah didownload ratusan kali, dulu saya buat untuk membantu istri saya di kantornya di Departemen Pendidikan Nasional, tapi tidak jadi dipakai istri saya akhirnya saya taruh di Internet. Saya juga membuat aplikasi Posyandu gratis yang sudah diunduh  ratusan kali di seluruh Indonesia. Saya ingin memberikan sesuatu buat bangsa sebagai amal ibadah saya. Kalau saya meninggal kelak,
saya berharap saya masih dapat pahalanya dari sedekah ilmu. Nah untuk membangun Bangsa Indonesia, jika Bapak butuh masukan tentang  IT, Bapak bisa dapat konsultasi gratis dari saya. Saya tidak janji bisa selesai dalam waktu 2 minggu ya Pak, kita mesti bahas speknya  dulu. Karena saya takut kalau speknya luas, bisa jadi 2 minggu terlalu singkat. Kan software itu setidaknya harus melalui tahap:
1. Pembahasan ruang lingkup project
2. Perancangan teknis sistemnya (arsitektur, diagram alur, algoritma, basisdata, dst)
3. Pengembangan aplikasinya (programming dan unit testing)
4. Validasi program (System Integration Test dan User Acceptance Test)
5. Perbaikan kesalahan program
6. Uji coba program (piloting)
7. Implementasi
8. Evaluasi dan pengawasan
9. Manajemen Pengubahan (pengembangan ke versi berikutnya, penyempurnaan, perbaikan bugs, dsb)
Kebetulan saya pengalaman jadi Project Manager sekitar 10 tahun. Kalau Bapak kan pengalaman blusukan dan komunikasi.  Saya yakin banyak yang mau membantu Bapak di bidangnya masing-masing untuk
mewujudukan Indonesia Hebat, Indonesia Bermartabat, Indonesia Cerdas, Indonesia Berakhlak Mulia, dan Indonesia Merdeka.  Acara Gerak Cepat dan konser GBK adalah salah satu bentuk niat kami untuk bekerja bersama-sama dengan Bapak membenahi Indonesia.  Bismillah, man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, in shaa Allah akan mendapatkannya.

Kembali kepada rencana Bapak menjadi Presiden RI…

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Bapak, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia.  Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari penghargaan dan track record Bapak. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Bapak adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql (Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Jokowi, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Jokowi, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Bapak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Jokowi, kami memilih Bapak sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Bapak. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Bapak. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Bapak, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Bapak, belajarlah dari mereka; hingga Bapak kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Jokowi, kami memilih Bapak, tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggan memangsa domba. Pak Jokowi, sekali lagi, kami memilih Bapak bukan semata karena diri pribadi Bapak. Maka pilihlah untuk membantu urusan Bapak nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Bapak di akhirat.

Tapi kalaupun Bapak tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tidak harus menjadi Presiden. Tetaplah bekerja untuk Jakarta dengan segala yang Bapak bisa, sejauh yang Bapak mampu, bersama Pak Ahok, meskipun akan sulit kalau Pak Prabowo yang jadi Presiden 🙂 Bapak bisa mati gaya.
Tapi niatkan ibadah ya Pak. Tidak jadi Presiden, yang penting bisa menginspirasikan Rakyat Indonesia untuk berubah. Untuk berhijrah.  Untuk melakukan revolusi mental. Mental korupsi menjadi mental amanah. Kalau Bapak kembali jadi Gubernur, tawaran saya untuk membangun  Jakarta melalui IT secara gratis, tetap berlaku Pak. Adalah suatu kehormatan buat saya bisa bekerja untuk negara bersama Bapak.  Bersama Pak Anis Baswedan. Bersama Pak Jusuf Kalla. Kami rindu memeras otak dan keringat buat negara bersama orang-orang hebat seperti Bapak.  Orang-orang yang ikhlas dikuyo-kuyo. Orang yang tabah difitnah dan dizalimi. Ayuk Pak, kita bangun bangsa ini. Dari Istana atau Balikota.
Tidak masalah banyak digagalkan oleh mentri dan kepala pemerintahan daerah lain. Tugas kita adalah menyempurnakan ikhtiar.  Allah SWT yang akan mencatat semua amal perbuatan kita, berhasil atau gagal. Mari kita ikhlaskan demi negara.

Sungguh Bapak terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Bapak terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Bapak berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Bapak terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Bapak. Sibuk mengingatkan Bapak tentang janji Bapak. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Bapak jika bengkok. Sibuk menuntut Bapak jika berkelit. Jika perlu kami akan turun ke jalan, menurunkan Bapak dari kursi kepresidenan, jika Bapak yang sudah duduk, lupa berdiri.  Lupa blusukan. Lupa melakukan revolusi mental, tapi malah revolusi gagal.

Inilah kami. Kami memilih Bapak, Pak Jokowi, tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Bapak, Pak Jokowi.
Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”