Exodus (2014) – Kisah Nabi Musa yang Miskin Mukjizat


Akhirnya setelah “cuti menulis” selama lebih kurang dua bulan karena satu dan lain hal, kini saatnya kembali berbagi apa yang saya rasakan setelah menonton film Exodus (2014) besutan Ridley Scott yang berjaya dengan banyak film, salah satunya Gladiator yang dibintangi Russell Crowe.

Sewaktu kecil, saya menonton film The Ten Commandments yang dibuat pada tahun 1956, dan merasa bahwa film ini lebih patuh dan lebih menggambarkan isi kitab suci daripada versi yang sekarang. Untuk membahas tentang film ini dari sudut pandang Alquran (karena saya muslim), dan setahu saya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Injil, maka saya ingatkan bahwa tulisan berikut ini bisa mengganggu buat Anda yang belum menontonnya. (Spoiler Warning yaa…)

Musa dalam Exodus tidak menggunakan tongkat panjang seperti di Quran, namun justru membawa pedang. Musa digambarkan layaknya jenderal perang yang jago main pedang. Dalam film tidak ada adegan Musa mendapat mukjizat melempar tongkat menjadi ular yang memakan ular-ular milik penyihir Firaun.

QS Al Qashash (28:31)

dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.

Ayat berikutnya, 32, juga tidak ada di dalam film

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Tidak ada adegan Musa membunuh manusia sebelum ia melarikan diri dari Memphis seperti di ayat 15

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Di surat Al A’raaf 160:

Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.

Ini juga tidak ada sama sekali. Tongkat yang menjadi perantara mukjizat dari Allah, tidak digambarkan di film sama sekali. Hanya untuk menggembala hewan ternak.

Harun, yang seharusnya menjadi juru bicara Musa, hanya tampak bagai asisten belaka di film ini.

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku”.  (Al Qashash : 34)

Dan yang paling parah adalah kisah populer Musa membelah lautan. Dalam film ini, Tuhan tidak bicara apapun kepada Musa, Musa hanya melihat ada meteor jatuh, paginya laut surut. Jadi mukjizat Musa membelah lautan atas izin Allah dan dilihat kaumnya agar percaya kepada Musa, tidak digambarkan. Laut digambarkan surut, seolah-olah ini peristiwa alam biasa.

Padahal jelas dalam Al Baqarah (2:50):

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.

Saya tidak mengerti dari mana keempat penulis cerita Exodus ini mendapatkan ilham untuk menggambarkan kisah mulia Nabi Musa yang berulang-ulang diceritakan dalam Al Quran. Musa digambarkan frustasi dengan Tuhannya, berteriak tanpa rasa hormat, jauh seperti yang ada dalam Quran. Musa dalam Quran digambarkan sangat santun.

Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  (Al Qashash : 16)

Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”.  (Al Qashash : 17)

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.  (Al Qashash : 21)

Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”. (Al Qashash : 22)

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Al Qashash : 24)

Lihat, betapa santunnya Musa yang diceritakan dalam Al Quran. Berbeda dengan karakter yang dimainkan oleh Christian Bale. Musa digambarkan pemarah, jago tempur, dan tidak sopan terhadap Tuhannya.

Well, orang bisa berkata, ini kan cuma hiburan. Sayangnya, hiburan ini kalau sepenuhnya fiksi, sah-sah saja. Kisah yang diceritakan yang harusnya dari agama, justru diselewengkan. Buat kita yang merujuk pada kitab suci yang kita percayai, seharusnya tidak ada masalah. Namun akan menjadi bahaya ketika orang-orang yang belum membaca kitab suci, atau anak-anak, menonton film ini. Tanpa filter yang kuat dan kemampuan analisis yang kritis, kita bisa menganggap bahwa Musa hanyalah dongeng belaka dengan Tuhan yang tidak tahu sebenarnya ada atau tidak, atau hanya karangan Musa belaka. Mukjizat diberikan Tuhan kepada nabi pilihanNya bukan sembarangan. Mukjizat diberikan agar manusia biasa tahu bahwa ada kekuatan superpower di belakangnya. Agar manusia sadar bahwa mereka hanyalah ciptaan Tuhan semata, dan punya kewajiban untuk mematuhi Tuhan agar hidupnya selamat di dunia (dan kelak di akhirat). Nabi adalah superhero wakil Tuhan di muka bumi. Kalau kelebihan superhero dicabut, maka dia hanya manusia belaka, yang tidak punya kemampuan meyakinkan sesama manusia lainnya. Bahkan mereka yang melihat dengan jelas kekuatan superpower ini saja berteriak ini cuma sihir. Apalagi yang tidak menunjukkan apa-apa.

Kesimpulannya, film Exodus adalah film dengan visual efek canggih yang lebih banyak fiksinya daripada patuh kepada kitab suci, yang seharusnya menjadi landasan ceritanya. Kalau mau fiksi, sekalian ngawur seperti Lord of The Ring atau Hobbit. Jangan buat cerita agama tapi miskin pesan. Kisah kebaikan Nabi Musa dalam Al Quran agar manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi yang tidak membuat kerusakan kurang tersampaikan. Yang ditekankan justru mengenai Musa melawan perbudakan, yang ujung-ujungnya hanya masalah HAM. Padahal inti ceritanya bukan hanya masalah membebaskan Bani Israil dari jajahan Firaun, namun membebaskan manusia dari menghamba ke manusia lainnya, yaitu hanya patuh kepada Allah SWT, Tuhan Maha Pencipta. Firaun yang kejam justru digambarkan lemah dan patut dikasihani. Kena azab malah hidup pula. Sebagai film agama, bisa dikatakan film ini gagal total untuk mencapai hal tersebut. Ini mungkin kisah Nabi Musa yang hidup di alam mimpi para penulis ceritanya. Atau mungkin mereka mencoba menuliskan ulang sejarah dengan visual efek canggih agar berkesan nyata. Ah seandainya saja Tony Scott, saudara kandung Ridley Scott yang sudah mati bunuh diri itu bisa bercerita tentang alam kubur, mungkin kisahnya akan berbeda 🙂

Silakan kalau menonton, namun tetap kritis!

Exodus

Exodus

Iklan

Posted on Desember 17, 2014, in Kontemplasi, Ulasan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. Tanpa banyak berkomentar panjang lebar, karena intinya saya setuju sekali dengan pendapat Mas Wisnu, maka review ini meski mengandung spoiler, saya kasih 5 Bintang alias Excellent / Outstanding. Sempurna dalam menyampaikan penyimpangan dalam film Exodus.

  2. Tulisannya bagus sekali….good job!

    Kok bisa bebas tayang yah padahal efeknya bisa berbahaya buat anak2 abg labil. Berpotensi menambah kaum atheis nih..

    • Ini mungkin karena judulnya yang menipu bang..sama media yang tidak terlalu gembar gembor sama film ini. Coba tulisan Pak Wis ini masuk detik/kompas pasti MUI dkk akan mengeluarkan Fatwa untuk menolak film ini…Kalo Pak Wis masukin ke Kaskus bakal rame nih…

    • Mungkin BSF diprotes keras gara-gara ngeban Noah. Atau ada hal lain yang kita tidak tahu, Bro Dony. Meski ada Gods dan God disebutkan dalam film, tapi film ini justru tidak mengagungkanNya. Tuhan bisa dianggap gak jelas maunya apa.

  3. saya pernah baca review dari yang non muslim juga sama, mas. enggak menggambarkan apa yang ada di kitab suci mereka

  4. salam kenal mas wisnu…

    nuhun atas reviewnya.
    da saya memang gak minat nonton film ini. ngeliat posternya aja udah bikin males. mending nonton The Hobbit 3. hehe 😀

  5. Eh maap… dari namanya gak ketahuan gendernya hahaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: