Arsip Blog

Dilan (2018): Sebuah Review dan Kenangan Zaman Old

Minggu lalu, pas ada kondangan di daerah Pejaten bersama bujangku yang kelas 3 SMP, kami menyempatkan nonton Dilan di Pejaten Village. Biasanya saya gak demen nonton teen flick ginian. Tapi bujang kelihatannya pengen nonton karena sudah baca novelnya. Saya baca reviewnya sekilas kok lagi happening, semua orang sibuk membahas tentang film ini. Dan konon, hingga tulisan ini diposting, penontonnya sudah tembus 1 juta. Angka yang fantastis, bukan? Dan faktor lain yang membuat saya penasaran adalah setting ceritanya di tahun 1990. Ini sedikit banyak akan mengingatkan masa SMP-SMA saya dulu hehehe…

Saya sendiri belum baca bukunya, yang berjumlah tiga jilid. Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Dari akhir film ada keterangan: “Sampai Jumpa di Dilan 1991”, itu berarti akan ada sekuelnya dan hampir mustahil tidak dibuat sampai yang ketiganya. Untungnya belum baca buku sebelum nonton adalah kita tidak perlu sibuk membandingkan dan mengkhawatirkan apakah filmnya sesuai bukunya atau tidak. Gak perlu protes pemainnya sesuai imajinasi kita atau enggak, dst. Menurut Pidi Baiq, bukunya ditulis dari kisah nyata seseorang yang bernama Milea. Jadi ini bukan murni fiksi.

Kesan apa saat dan setelah menontonnya?

  • Dari kubu pemain, banyak wajah baru yang fresh. Ganteng-ganteng dan cantik-cantik.

Lia Waroka memerankan bundanya Dilan

Ridwan Kamil nongol sebagai cameo yang memerankan salah seorang guru. Hahaha.. ada yang kampanye duluan nih wkwkwkwk..

  • Dari sisi cerita, sebagai seseorang yang belum membaca kisahnya, secara umum puas. Filmnya menghibur, banyak dialog yang mengundang geli-geli lucu karena gombalnya si Dilan dalam merayu Milea. Well, mungkin gak semua orang suka dengan rayuan gombal begini. Tapi saya bisa menghargai kegombalan si Dilan karena mungkin saya suka ngegombal. Hahaha.. Sebenarnya ngegombal dan pas plus lucu itu susah loh.. Gak gampang ngegombal yang bikin cengar-cengir.
  • Dari kemampuan akting, pemeran Dilan yang juga penyanyi Cowboy Junior, Iqbal Dhiafakhri, bermain cukup bagus. Maklumlah udah lima film ia bintangi sebelumnya. Vanesha Prescilla berperan sebagai Milea. Cantik dan sebagai aktris yang pertama kali bermain dalam sebuah film, bisa dibilang lumayan lah. Gak malu-maluin.
  • Intinya, secara film meski berasa agak khawatir film ini berusaha ngelucu tanpa tujuan jelas di sepertiga akhirnya, namun bisa dimaklumi. Karena gaya ngegombal Dilan yang hampir selalu muncul ketika dia dapat adegan itu bisa-bisa boring kalau kebanyakan. Berbeda dengan Catatan Si Boy yang alim, Dilan justru digambarkan bandel, tukang berkelahi, bahkan panglima geng motor. Nah kalau pas adegan tengil dan ngegombal, Iqbal sih cocok. Tapi pas mimpin geng motor, terus terang memang kurang meyakinkan. Kalau segahar Anhar justru lebih pas memerankan bad boy. Banyak yang bilang, film ini adalah the next AADC. Saya gak protes. Terus terang, menghibur kok. Tonton gih!

Meskipun demikian, tidak semua yang ada di film ini patut ditiru. Ada adegan Dilan melawan gurunya ketika ditampar di sekolah. Meski guru salah, memukul balik juga tidak memecahkan masalah. Gampang memukul teman hanya karena pacar kita disakiti juga tidak baik untuk ditiru. Meski di buku karakter Dilan memang demikian, jangan ditiru yang tidak baiknya. Termasuk ngesun, boncengan motor berdua, dan sebagainya. Ambil positifnya, filter yang buruk. Jadilan penonton yang cerdas.

Naaah… selain bercerita tentang film Dilan, saya juga mau bercerita berbagai hal yang pernah dulu saya alami pas SMA dan kuliah, di tahun 1990-an, yang anak zaman now tidak mengalaminya. Coba ya, yang sekolah SMP-SMA sekitar tahun 90-an awal, tunjuk tangaan!

  • Di salah satu adegan di rumah Dilan, kita melihat banyak poster dari Majalah Hai. Majalah Hai ini dulu adalah bacaan anak SMP-SMA tahun 90-an, terutama buat anak cowok. Sejak tahun 2017 majalah tersebut berganti media, dari cetak menjadi online. Nah dulu saya suka banget majalah ini. Melihat majalah ini muncul di Dilan, ada perasaan seolah bisa menghirup atmosfir SMP-SMA dulu

  • Telepon umum koin dan kartu plus wartel. Anak 90-an pasti pernah ngalamin pacaran via telepon umum koin dan kartu. Pas ngekos dulu di Depok, kami dah nyetok koin 100 biji untuk nelpon ke kos-kosan pacar. Aduh indahnya mendengar suara si dia di ujung sana. Dan ketika bunyi nada peringatan koin sudah harus dimasukkan kembali, terdengar bunyi denting koin untuk memperpanjang nyawa komunikasi. Bila koin sudah tak ada, maka durasi terakhir biasanya digunakan untuk mengatakan betapa rindunya diriku padanya, dan tak mau tahu bahwa besok kan berjumpa lagi. Tidak hanya itu, telepon umum koin juga digunakan untuk mengirim pesan via pager. Cara kerjanya adalah kita telpon call center provider pagernya, lalu dia akan menanyakan ID tujuan, dan meminta pesannya apa. Kalau lagi marahan ya pesannya bisa galak, dan operatornya cengar-cengir. Kebayang aja dia tahu kalau orang mau nagih utang, kangen, berantem, dan sebagainya.

Telepon umum koin

Nah, ini dia pager yang booming sebelum HP terjangkau secara luas

Nah ini hp pertamaku duluuuuu – Nokia 3210 – Providernya XL, baru bisa di kota besar saja hehehe.. naik kereta langsung blank spot

 

Dulu kursus Lotus 123, Word Star, Word Perfect, dan dBase III+ pake PC XT ini

Ini Lupus, karya Hilman, yang ngehit pas SMA dulu

Yah itulah mengapa banyak yang menonton film Dilan. Generasi zaman now penasaran gimana bokap nyokapnya dulu sekolah dan pacaran, sementara bapak dan ibu zaman now ingin bernostalgia kenangan zaman old. Persis kaya dulu film Warkop. Bapaknya nganter anak nonton Warkop karena ehem hahaha..

Demikianlah curhatan generasi yang smp/smanya tahun 90’an. Ketahuan dah umurnya wkwkwk…

Kalau kalian dah nonton filmnya, share ya pengalaman kalian, apa kesan terhadap filmnya dan apa ada kenangan yang terlintas setelah menonton filmnya.

 

Iklan

Hugh Jackman kembali bersinar di The Greatest Showman (2017)

Abang Jackman yang asli Australia ini bukan hanya seorang aktor handal, namun juga seorang penyanyi, penari, dan produser. Lengkap kali ya Bang. Kerjaan beberapa orang diborong sekaligus. Setelah diganjar nominasi Oscar tahun 2013 di film musikal Les Miserables sebagai aktor utama dan pemenang Golden Globe untuk film dan peran yang sama, kini dia kembali memerankan kisah nyata Phineas Taylor Barnum, seorang jawara perintis di dunia penghibur, politisi handal, dan pebisnis yang sukses.

Lahir sebagai anak orang miskin, Barnum jatuh cinta dengan anak majikannya, yang akhirnya ia nikahi, Charity.

Ketika perusahaan di mana ia bekerja bangkrut, akhirnya ia meminjam uang ke bank untuk memulai bisnis. Dia merintis usaha hiburan, dari museum lalu merekrut orang -orang dengan keadaan, kepribadian atau kemampuan unik yang jarang ditemui. Dia menemui banyak hambatan pada awalnya, hingga akhirnya ia bisa merangkak naik dan dikenal khalayak ramai.

01-the-greatest-showman-hugh-jackman-vogue-september-issue-2017

Ujian mulai datang ketika ketenaran ia dapatkan. Berhasilkah Barnum melewati ujian yang membuatnya harus memilih antara kejayaan dunia dan keluarga yang ia cintai?

Img6

Apa sih yang membuat film yang dibesut Michael Gracey ini menarik untuk dilihat?

  1. Lagu-lagunya yang keren abis! 
    Gimana enggak? Yang bikin liriknya Benj Pasek dan Justin Paul yang kemarin berjaya di film musikal La La Lands!
  2. Koreografinya ajib!
    Adegan Zac Effron (Bay Watch) dan Zendaya (Spiderman Homecoming) begitu luar biasa. Mereka menari, bernyanyi, dan melakukan adegan dengan tali sirkus yang luar biasa mengagumkan!
  3. Pesan moral yang positif. Kita bisa sukses jika mengejar renjana dan mengubah kedukaan menjadi energi positif untuk sukses. Dan bila sukses telah diraih, janganlah menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Tetaplah utamakan keluarga di atas ketenaran dunia yang melenakan!
Img5

Jackman dan Effron

Film berdurasi 105 menit ini bisa menggoyang keluarga Anda di liburan menjelang akhir tahun. Hugh Jackman sudah memimpikan film ini sejak tahun 2009, dan impiannya menjadi kenyataan. Meski lagu yang ditampilkan tidak menyesuaikan jamannya, namun spirit bahwa Barnum adalah seorang visioner memaksa kita memaafkan kelancangan yang di sengaja ini. Filmnya tampil gegap gempita, penuh extravaganza, meski belum tentu sejarah aslinya seperti yang digambarkan dalam film yang singkat ini.

Bila Anda tidak bermasalah dengan film musikal, Greatest Showman yang mendapat tiga nominasi Golden Globe (so far) ini bisa menjadi pilihan tonton keluarga.

Img7

Saya memberinya nilai 8 skala 10, dengan pertimbangan lagu, koreografi, dan sinematografinya yang memanjakan mata!

 

5 Alasan Kamu Mesti Nonton Coco (2017)

Pas nonton trailernya di bioskop, sempat was-was, “Duh, Pixar Disney nyontek Book of Life yang dibiayai oleh Guillermo del Toro tahun 2014 yang lalu?”

Gimana gak mau parno coba. Keduanya mengusung tema kultur Meksiko dengan sombrero dan churrosnya, dengan Día de los Muertos, yaitu Day of the Dead, festival untuk mengenang mereka yang sudah meninggal agar tidak terlupakan dan musnah di The Land of The Remembered. Ada lagi? Oh ya..  dengan seorang anak lelaki dan gitarnya, musiknya, dan nilai kekeluargaannya yang kental.

Akhirnya saya sempat cari info apakah Coco mengekor Book of Life atau memberikan sesuatu yang baru. Setelah googling, saya baru tahu kalau Coco akan mengusung tema yang berbeda. Dan selepas menontonnya, ternyata benar!

Inilah 5 alasan mengapa kamu kudu nonton Coco…

  1. Coco menghadirkan kisah yang mengingatkan dua hal, mengejar renjana (passion) dan pentingnya keluarga. Tidak ada artinya hidup bila tidak mengejar renjana kita atau mengejarnya dengan meninggalkan keluarga. Itu yang coba diajarkan dalam film ini. Dikisahkan Coco begitu menyukai musik, namun sayangnya, karena trauma pada kakek moyangnya yang meninggalkan keluarga demi musik, akhirnya musik diharamkan dari keluarga besar Coco.
    Hingga pada suatu ketika, Coco terjebak di Land of the Remembered, semesta afterlife di mana mereka akan ada di sana jika ada orang yang masih hidup ada yang mengenangnya. Coco hanya punya waktu sehari untuk kembali ke dunia nyata sebelum ia mati selamanya. Tiket untuk kembali hidup hanya jika ia mendapat restu dari keluarganya yang telah mati.

    coco1
    Celakanya, keluarganya yang sudah mati semuanya mengharamkan musik, sehingga ia hanya punya dua pilihan, kembali hidup asal melupakan musik, atau tetap keukeuh menyukai musik dan tak bisa kembali hidup. Berhasilkan Coco keluar dari buah simalakama ini?

  2. Kesempatan mengenal budaya Meksiko. Pembuat film ini benar-benar menghadirkan kehidupan sehari-hari di sana dan digambarkan dengan begitu indah.

    coco2

    Mereka bahkan menyewa konsultan budaya untuk memastikan apa yang mereka gambarkan sesuai dengan kenyataan.

  3. Musiknya, seperti di Book of Life, benar-benar akan membuat kamu suka, terutama yang Remember Me. Pastikan membawa tissue atau sapu tangan pas adegan Coco menyanyikan lagu ini untuk buyutnya. Dada langsung gerimis!

    coco3

    Ternyata tim pembuat lagu ini juga yang dulu membuat lagu di Frozen. Terang aja keren!

  4. Animasinya keren abis! Book of Life was something, but this is Pixar Disney! Standar gambarnya aja udah keren. Di sini gambarnya begitu berkilau dan indah.

    coco4

    Fantasi di negeri Land of the Remembered begitu dahsyat dan memukau kita semua. Kelopak bunga marygold begitu bersinar dan mengagumkan. Rincian budaya dan makanannya tergambarkan dengan baik.

  5. Yang terakhir, jangan datang telat pas nonton, karena ada film mini spin off Frozen, tentang Petualangan Olaf mencari tradisi dalam keluarga mereka. Lagunya juga keren!
    olaf

Seperti biasa, kita mempelajari budaya bangsa lain bukan untuk menelannya mentah-mentah. Ambil yang baik, buang yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kita sendiri. Di film ini nilai positif adalah pentingnya mengejar renjana tanpa harus mengorbankan keluarga.

Selamat menonton!

 

Review Film Pengabdi Setan (2017)

Impian Joko Anwar untuk membesut film Pengabdi Setan puluhan tahun silam tercapai sudah. Inilah film horor yang menginspirasikan dirinya untuk membuat film. Sutradara yang terkenal dengan Pintu Terlarangnya ini merayu Rapi Film yang memiliki hak ciptanya agar diperkenankan menjadi sutradaranya. Akhirnya film yang juga dibiayai oleh CJ Entertainment ini tayang juga di bioskop.

Beberapa teman saya mengatakan, film asli Pengabdi Setan yang dibintangi Ruth Pelupessy dan HM Damsjik dulu adalah salah satu film menakutkan di masa kecil mereka. Saya sendiri sudah menonton versi lamanya dan penasaran dengan versi Joko Anwar ini.

Dibandingkan film dulunya, film yang dibesut Mas Joko ini cukup berbeda. Meski intinya sama namun beberapa detail diubah, termasuk ada twist ending di film ini, tipikal Joko Anwar. Lebih kurang konon ada setidaknya 9 hal yang berbeda antara film dulu dengan remake-nya ini. Apa saja? Ah nanti malah spoiler. Pokoknya kalau kamu dulu sudah pernah nonton, jangan takut bosen nonton filmnya karena bedaaaaaaaa…

Kisahnya sebenernya sederhana. Ada sebuah keluarga muslim yang jauh dari ajaran agama, terdiri dari sepasang suami istri dan empat orang anak. Sang Ibu sedang sakit keras, dan beberapa anggota keluarga sering menjumpai penampakan di kamar ibunya. Ketika ibunya meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan, masalah mereka justru semakin bertambah pelik. Teror makhlus halus yang menyerupai ibunya muncul terus-menerus. Berhasilkah mereka melawan makhluk gaib ini? Saksikan sendiri ya di bioskop kesayangan Anda!

Img1

Terus terang saya menyukai film ini. Bahkan ini film Joko Anwar yang paling menarik menurut saya. Castingnya penuh wajah segar tapi aktingnya bagus-bagus! Menurut Joko Anwar, castingnya gak sembarangan. Tiap karakter memiliki 30-40 orang kandidat. Hasilnya memang terlihat luar biasa. Anak-anak keluarga itu, dari yang remaja sampai ke yang paling kecil, mainnya bagus dan natural. Endi Arfian yang blasteran Jawa Jerman bisa memerankan peran untuk usianya dengan pas.

Img2

Adik yang paling bungsu yang paling nggemesin. Mainnya natural sekali. Namanya M. Adhiyat. Baru kelas 1 SD tapi sudah main film dengan bagus.

Img3

Dari sisi setting dan properti semuanya dibuat sesuai jamannya di tahun 80-an. Sangat teliti dan rinci, seperti kostum, gaya rambut, aksesoris rumah, dan transportasi umumnya.

Faktor horornya sendiri ada setidaknya dua jump scares yang membuat saya berteriak di bioskop. Karakter dan pendalaman cerita dibeberkan perlahan dan kengerian dibangun dari awal hingga puncaknya. Joko Anwar terlihat sangat serius dan bisa dibilang cukup berhasil membuat penonton ketakutan.

Meskipun film ini wajib ditonton bagi mereka para pencinta horor, film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Ada beberapa plot hole yang tampak di sana-sini dan ending yang terlalu luas untuk diinterpretasikan, kecuali sebagai sinyal akan adanya sequel.

Dua anak bungsu keluarga ini yang diperankan oleh Nasar Annuz dan M. Adhiyat bisa menghidupkan film dengan baik

Secara overall saya beri nilai 8/10. Puas!! Lebih seram dari Gerbang Neraka dan Jaelangkung yang dibesut Mantovani.

Review Film Firegate a.k.a Gerbang Neraka

Rizal Mantovani kembali menghasilkan film horor berbalut petualangan dalam film yang ia besut, yang berjudul Firegate atau Gerbang Neraka. Film ini terlihat dibuat dengan cukup ambisius dari jajaran pemain utamanya, Reza Rahadian (Habibie dan Ainun), Julie Estelle (Headshot), dan Dwi Sasono (Pocong) – serta aktor gaek yang sedang naik daun, Ray Sahetapy (The Raid). Penggunaan bintang tenar dan digunakannya CGI di banyak adegan, menunjukkan keseriusan Rizal dengan film yang mulai digarap di 2016 tahun lalu, sekaligus harapan mendulang rupiah dalam pemasukan tiket.

Img1

Jajaran pemain dan kreator – sumber Bintang.com

Ide ceritanya sendiri bukan semata-mata fiksi, namun dari penelitian arkaelogi yang benar-benar terjadi di situs Gunung Padang, Cianjur. Temuan sementara tim yang dipimpin Danny Hilman Natawidjaja, geolog di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, itu menunjukkan bahwa Gunung Padang adalah selimut yang menutupi sebuah bangunan tempat pemujaan purba berupa punden berundak. Punden itu terkubur akibat suatu bencana besar yang melumat penduduknya.

Jelas sekali film ini berusaha tidak mengekor dengan film horor yang banyak beredar di pasaran, yang biasanya mengandalkan legenda urban masyarakat atau tipikal rumah berhantu yang biasa jadi andalan film horor barat besutan James Wan. Rizal, dalam sebuah wawancara dengan Kompas menegaskan hal ini.

“Kami dapat inspirasinya dari Gunung Padang di Jawa Barat, itu adalah sebuah situs (berbentuk piramida) yang masih ditutup oleh pohon-pohon, tapi sejak sepuluh tahun yang lalu ini sudah mulai dilakukan penyelidikan,” ucap Rizal.

“Setelah dicek ternyata ada bangunan di dalam ini (Gunung Padang) ini secara fakta. Diambil sampelnya ternyata disitu ditemukan benda-benda dan bahan-bahan buatan manusia, jadi bukan alami, setelah dicek oleh tim arkeologi Indonesia, ternyata itu lama sekali, akhirnya cek di Amerika, itu ternyata sangat tua sekali, bahkan lebih tua dari Piramida Mesir,” tambahnya menjelaskan.

Film Gerbang Neraka atau Firegate ini berkisah tentang Tomo Gunadi (Reza Rahadian) seorang wartawan tabloid mistis yang ditugaskan meliput Piramida Gunung Padang.  Tomo yang tadinya memandang sebelah mata akhirnya harus bekerja sama dengan paranormal bernama Guntur Samudra (Dwi Sasono) dalam mengungkapkan misteri situs tersebut.

Arni Kumalasari (Julie Estelle) kepala tim arkeologi yang ditunjuk Presiden Indonesia, setelah profesor Theo Wirawan mengalami kematian misterus, pada awalnya menolak kehadiran serta bantuan dari Tomo maupun Guntur. Arni yang selalu percaya dengan ilmu pengetahuan dan menolak segala sesuatu yang berbau klenik akhirnya harus mengakui bahwa terlalu banyak kejadian mistis yang terjadi di situs itu yang membawa korban jiwa.

Pada saat ketiganya menemukan fakta bahwa piramida ini adalah ‘penjara’ untuk sebuah kekuatan kuno yang bisa menghancurkan dunia. Mau tidak mau ketiga orang yang mempunyai latar belakang dan tujuan berbeda ini harus bekerjasama untuk mencegah malapetaka sebelum terlambat.

Img3

Dari sisi akting, Reza jelas sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia bermain prima seperti biasanya sebagai seorang wartawan bagus yang kehilangan idealismenya, dan mengejar berita semata-mata demi uang. Julie Estelle bermain agak kaku dan kurang luwes sebagai seorang ilmuwan yang tidak percaya dunia klenik. Dwi Sasono dengan gaya khasnya, menjadi paranormal yang memiliki ilmu kanuragan, tanpa kehilangan sense of humor, seperti yang biasa ia perankan di film lainnya.

Dari sisi cerita, masih banyak yang bisa diperkuat sebenarnya. Jika dibandingkan The Mummy-nya Brendan Frasser, sangat jelas apa yang diingkan Mummy ketika bangkit. Mengapa mummy membunuhi korbannya, dan seterusnya, penonton diajak menikmati tanpa harus menerka-nerka mengapa begini dan mengapa begitu. Juga dari sisi penyelesaian, terasa sang aktor tahu begitu saja bagaimana mengakhiri potensi bencananya, tanpa rujukan apapun, tidak seperti The Mummy, yang merujuk pada buku suci yang ditemukan.

Dari sisi spesial FX, masih perlu suntikan dana agar semua tampak natural dan tidak terlalu terlihat fake.

Img4.jpg

Namun demikian, film garapan Legacy Pictures ini patut diacungi jempol karena mencoba tampil beda dan tidak mau membebek film lainnya yang hanya itu-itu saja dalam dunia horor. Ke depannya, kualitas cerita dan story telling, ditambah CGI yang mumpuni akan membuat film kita tidak kalah dengan film buatan luar negeri.

Saya memberi nilai 7 skala 10 secara umum, selamat menikmati di bioskop kesayangan Anda, mulai 20 September 2017.

Review Film Escape Room (2017)

IEG kembali hadir menayangkan film terbaru di CGV dan Cinemaxx di Jakarta dengan film berjudul Escape Room. Film yang dibesut oleh Will Wernick ini berdurasi 81 menit.

Img1

Ceritanya cukup sederhana, namun menegangkan. Enam sahabat setelah merayakan pesta ulang tahun salah satu dari mereka, mencoba permainan baru yang membuat penasaran. Mereka ditantang untuk masuk ke sebuah ruangan, tanpa boleh membawa handphone dan dompet, memecahkan teka-teki agar bisa keluar dari ruangan.

Img2

Pada awalnya mereka dituntun ke dalam ruangan dalam keadaan ditutup matanya dengan kain. Setelah mereka membuka tutup mata, mereka terbagi dalam beberapa kamar terpisah, ada yang sendiri, ada juga yang berpasangan. Kecerdasan mereka dituntut agar dapat memecahkan semua teka-teki dalam waktu 1 jam.

Escape-Room-movie

Ketegangan tiba-tiba memuncak setelah satu demi satu mereka mendapatkan ajalnya dengan mengenaskan. Berhasilkah mereka keluar dari ruangan yang misterius itu? Ataukah kesemuanya terpaksa harus menyerahkan nyawa dengan sia-sia?

Film ini sebenarnya sangat menjanjikan begitu mereka berada dalam ruangan yang terisolasi. Penonton dipaksa terpaku dan merasakan ketegangan yang mereka rasakan dalam memecahkan masalah sambil bertahan hidup. Agak disayangkan di bagian akhir film ini terasa agak dipaksakan dan terburu-buru. Seandainya endingnya dibuat lebih jelas, film ini akan menjadi film suspence thriller yang cukup enak dinikmati.

Karena ada adegan kekerasan dan ciuman, sebaiknya hanya ditonton bagi yang usianya minimal 17 tahun. Jangan bawa anak di bawah umur ya, gaes!

Yang jelas, film ini membuat saya ingin mencoba Escape Room yang sudah mulai menjamur di Jakarta.

Beranikah Anda mencoba?

Edit:

Akhirnya saya mencoba Escape Room Pandora di Teraskota BSD. Seru juga ya permainannya! Dalam waktu satu jam kita diharuskan memecahkan beberapa teka-teki agar bisa keluar dengan sukses.

Mengetuk Nurani Melalui Film Drone (2017)

Film terbaru yang diimpor Indonesia Entertainment Group berjudul Drone yang dibintangi oleh Sean Bean (Lord of The Rings, Game of Throne). Film ini mengingatkan pada film serupa, Eye in the Sky (Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman). Meskipun temponya tidak secepat Eye in the Sky, Drone tetap mengingatkan kita akan arti kemanusiaan.

drone.jpg

Drone di kedua film di atas bukanlah drone yang menyenangkan. Kita mungkin sehari-hari familiar dengan drone untuk mengambil video atau foto kegiatan outdoor. Drone dalam film ini digunakan untuk memantau dan jika perlu membunuh sasaran tertentu, baik akan mencelakai orang tidak berdosa di sekitarnya atau tidak. Para korban tak berdosa yang sering disebut collateral damage, membuat kita berpikir, sesungguhnya kita tengah mencegah korban jiwa yang lebih besar dengan cara yang baik atau tidak. Teroris sering berkilah bahwa korban sipil yang terjadi akibat aksi mereka adalah collateral damage, demi menghentikan kezhaliman yang lebih besar. Di sini kita bertanya, sebenarnya pelaku penembak dengan drone ini berprinsip sama dengan teroris atau tidak? Jika untuk mengatasnamakan pembasmian teroris lalu memakan korban rakyat jelata yang tak berdosa, maka apakah kita tidak sekejam teroris itu sendiri? Mengapa kita tidak mengambil langkah yang lebih jantan? Tantang langsung, dan usir yang tidak berkepentingan, agar tidak menjadi korban tak berdosa.

drone_control

Sean Bean berperan sebagai seorang kontraktor CIA yang mengendalikan drone untuk menjadi algojo dari jarak jauh. Cukup mengendalikan joy stick dan kamera resolusi tinggi, siapapun yang harus mati, akan dibumihanguskan dari jarak jauh, dari ruangan berAC, kursi empuk, dan kantor yang nyaman.

Bagaimana apabila rudal yang kita tembakkan secara tidak sengaja, membunuh orang yang tak bersalah? Apa perasaan kita, kalau korban tak berdosanya adalah anak atau pasangan hidup kita? Paginya masih bercengkerama, sorenya hanya menemukan serpihan tubuhnya?

Img3

Bagaimana apabila korbannya anak sekaligus pasangan kita, dan kita tahu siapa yang melakukannya? Akankah kita akan membalas dendam kesumat ini secara penumpahan darah ataukah menghancurkan kehidupan rumah tangganya seperti halnya dengan pelaku yang menghancurkan kehidupan kita?

Img5

Sean Bean yang berperan sebagai Neil Wistin bermain sangat bagus dan menjiwai perannya sebagai pilot drone, yang akan jauh lebih memukau seandainya saja deretan para penulis dan sutradaranya, Jason Borque, membuat cerita yang lebih ringkas sebelum klimaksnya datang. Bagian introduksi tokoh antagonis berjalan cukup lambat, dan agak membuat penonton geregetan, kapan ketegangan itu tiba. Konflik rumah tangga yang dihadapi Wistin juga kurang bisa digali akhirnya akan ke mana.

Pembaca yang budiman, jika Anda adalah orang yang bertugas menekan tombol neraka di bumi, dan berpotensi membunuh manusia tak bersalah, akankah Anda melakukan hal ini atas nama perlindungan terhadap kemanusiaan?

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Film seperti Eye in the Sky dan Drone adalah film yang mencoba mengingatkan sisi kemanusiaan kita, akankah kita bertindak menghalalkan segala cara asalkan tujuan kita benar? Boleh merampok asal untuk memberi makan keluarga? Film ini menyindir kehidupan kita, agar kita berani jujur terhadap diri sendiri dan nurani, apakah kita sedang menegakkan kebenaran, atau justru menumbuhsuburkan dendam yang akhirnya kontraproduktif dengan tujuan kita mencegah terorisme.

Selamat menonton dan berkontemplasi!

5 Hal Mengapa Spiderman Homecoming Seru Banget untuk Ditonton

Spiderman ke-6 ini adalah reboot yang kedua dari franchise Spiderman. Setelah tiga Spiderman pertama yang dibesut Sam Raimi sukses besar, film keempatnya batal dipiloti oleh beliau. Kata rumor sih ada ketidakcocokan deadline yang diminta produser sehingga Raimi mengundurkan diri dari kursi sutradara. Walhasil semua kru lainnya ikutan solider dengan Sam Raimi, sehingga akhirnya direboot. Sayang, film berikutnya yang dibintangi Andrew Garfield tidak sesukses sebelumnya. Begitu Marvel diakuisisi Disney dan MCU (Marvel’s Cinematic Universe) sukses besar, maka Avengers ketinggalan Spiderman. Akhirnya Sony yang memegang hak filmnya bekerja sama dengan Disney untuk mereboot dengan tokoh Spiderman baru, tokoh termuda dibandingkan lainnya, yaitu Tom Holland. Hal ini merupakan hal yang bagus karena kontrak Spiderman bisa memakan waktu lebih dari 1 dekade, sehingga Holland yang muda ini masih akan tetap OK memerankan Spiderman bahkan hingga 10 tahun yang akan datang.

Berikut ini mengapa reboot kedua kali Spiderman masih tetap asoy untuk dinikmati para moviegoers, khususnya superhero movies fans (tenang, no major spoiler).

Pertama – Filmnya kocak abis! Dari awal hingga akhir, bahkan hingga dua extra scenes after credit, filmnya masih aja ngocol! Nggak selucu Guardians of Galaxy, tapi lebih lucu sedikit dari Ant Man dan sebelas dua belas dengan Avengers. Nggak konyol juga kaya DeadPool.

Spiderman Homecoming

Kedua – Super Villainnya keren! Michael Keaton yang pernah menjadi Batman dan memerankan tokoh dalam Bird Man, kini benar-benar menjadi manusia burung, Vulture. Gadgetnya malah kelihatan lebih bad ass ketimbang punya  Falcon (Avengers).

Vulture

Ketiga – Kostum Spiderman baru kali dalam sepanjang sejarah Spiderman difilmkan, memiliki fitur paling canggih, thank’s to Mas Tony Stark yang penampakannya kali ini sangat menunjang film Spiderman. Iron Man masih menjadi mentor yang melihat potensi Peter Parker untuk menjadi superhero yang masih mencari jatidirinya.

Spiderman Gadget

Keempat – Manusiawi namun tetap orisinil! Setelah Christopher Nolan membesut trilogi Batman yang dark dan manusiawi, kini film Superhero diarahkan ke sana semua. Spiderman kali ini pun tidak tinggal kalah dibentuk dengan pendekatan yang sama. Bagaimana ABG tiba-tiba punya kekuatan super dan merasa penting, seringkali jadi bumerang dengan tindakannya yang justru menimbulkan masalah. Ia tidak sempurna, banyak kerusakan yang justru dibuatnya alih-alih membuat dunia menjadi lebih baik. Film ini menggambarkannya dengan baik, tanpa bercerita hal yang sama dengan dua seri pendahulunya. Ini yang membuat filmnya terasa fresh, dan tidak membosankan. Bahkan cewek-cewek yang naksir dia juga dibuat semanusiawi mungkin. Terasa believable!

Tom Holland as Spiderman

Kelima – Ada twist tak diduga di sepertiga akhir film. Kejutan ini benar-benar tidak disangka penonton, dan menambah menarik story telling yang dibesut oleh Jon Watts dan juga menjadi co writernya. Film ini juga langsung masuk daftar 245 film terbaik sepanjang sejarah versi IMDB!

Poster

Tips menonton film yang durasinya sekitar 2 jam seperempat:

  • Bawa logistik buat menemani nonton
  • Pipis sebelum masuk bioskop
  • Jangan pulang setelah selesai, karena ada dua extra scenes setelah film berakhir

Film ini saya beri rating 8/10. Recommended! Kalau kamu sudah nonton, ceritakan kesanmu tanpa memberikan spoiler di kolom komentar yaaa…

Review Film The Hatton Garden Job (2017) aka One Last Heist

Film ini sedang tayang di CGV dengan judul One Last Heist. Pada awalnya cukup membingungkan karena ketika saya cari di IMDB film ini tidak ditemukan! Ternyata masuk ke Indonesia filmnya berganti judul. Hal ini memang kerap terjadi kok. Misalnya film terbaru dari franchise Pirates of Caribbean di Amerika lebih dikenal dengan Dead Man Tell No Tales, sementara di Indonesia populer dengan Salazar’s Revenge.
Film yang berdurasi 93 menit ini dibuat berdasarkan kisah nyata perampokan dengan nilai terbesar sepanjang sejarah Inggris, sekitar 200 juta poundsterling. Yang menjadi pusat perhatian masyarakat pada perampokan yang terjadi di April 2015 ini adalah para pelakunya yang sudah uzur. Empat perampok uzur yang ditemani seorang perampok muda bekerja sama untuk mengejar renjana mereka, membobol bank sekali lagi sebelum mati. Alih-alih bertaubat, mereka justru bergairah dengan adrenalin dan kesempatan untuk membobol bank sekali lagi. Jangan ditiru ya pembaca! Boleh tiru semangatnya, namun bukan pada kejahatannya.
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.01 PM.png
Film yang disutradarai oleh Ronnie Thompson ini sebenarnya menawarkan premis thriller yang menarik, namun porsi terbesar justru pada persiapan perampokan, bukan pada perampokan itu sendiri. Beberapa adegan dalam film mengundang tawa penonton dengan humor khas Inggris.
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.15 PM
Ada beberapa hal yang kalau kita pikirkan bisa kita bawa pulang:
1. Untuk melakukan prestasi yang hebat, usia bukanlah halangan
2. Dalam merencanakan sesuatu, rencanakanlah dengan matang. Jika perlu buat beberapa rencana cadangan, jika rencana utama mengalami kendala
3. Hargailah orang yang lebih tua, karena mereka menjalani hidup lebih lama daripada kita dengan segala pengalamannya
Screen Shot 2017-05-20 at 7.40.41 PM
Berikut ini adalah para pelaku aslinya:
Screen Shot 2017-05-20 at 7.59.44 PM
Dan yang ini adalah trailernya:
Selamat menonton!

5 Alasan Kudu Nonton Guardians of Galaxy Vol. 2 dan The Autopsy of Jane Doe

Akhirnya setelah menunggu sekitar tiga tahun, sekuel Guardians of Galaxy tayang juga dengan sukses dan lumayan heboh. Film ini bukan sekedar film superhero biasa. Pada intinya apa yang dijual di Fast Furious 8, di sini juga menjadi tema sentral, yaitu KELUARGA.

Alasan kenapa kamu harus nonton film ini, adalah:

  1. Ada REUNI KELUARGA. Ada anak yang bertemu dengan ayah kandungnya, dan ada yang bertemu dengan saudaranya, ada juga yang tadinya dianggap penjahat namun dikenang sebagai orang yang terdekat dalam hidupnya.
  2. Lagu-lagu klasik yang menghiasi film ini sangat keren dan enak dinikmati, terutama Fathers and Son karya Yusuf Islam yang dulu dikenal sebagai Cat Stevens. Adegannya sangat pas diiringi lagu ini. Mengharukan.
  3. Humornya benar-benar nonstop dari awal hingga akhir. Siapkan perut kamu agar tidak kram selama nonton!
  4. Visual FXnya dijamin keren abis. Delapan perusahaan visual FX dikerahkan untuk mengerjakan semua visual FX yang keren abis. Lihat saja Groot yang jadi super unyu di film ini setelah berkorban di film pertama.
  5. Ada bonus adegan tambahan setelah film berakhir. Ada L I M A. Jangan buru-buru pulang yaa..

James Gunn sebagai sutradara berhasil dengan baik mengolah emosi penonton, dari bahagia, tercengang, hingga sedih. Semua digabungkan dengan pas dan tidak membosankan. Alurnya cepat, penonton dibuat menunggu dan penasaran dengan adegan berikutnya.

Saya menonton film ini hingga 3 kali di bioskop, sekali karena dapat tiket gratis 🙂

Filmnya panjang, jangan lupa bawa cemilan dan cemolan sebelum nonton ya!

Naaaah… sekarang kita ngomongin film horor. Buat kamu pencinta film horor, The Autopsy of Jane Doe jangan dilewatkan. Nih coba lihat trailernya:

Ceritanya, ada pembunuhan di sebuah rumah, dengan empat jenazah. Tiga ditemukan tewas secara brutal, satu ditemukan telanjang bulat tanpa luka terkubur setengah badan di lantai dasar. Nah Tommy yang diperankan Brian Cox (Red, X-Men 2) dan anaknya Austin yang diperankan Emile Hirsch (Into the Wild, Milk) mendapatkan kiriman jenazah wanita tak dikenal yang kalau di sini disebut si Fulanah, di sana dikenal dengan Jane Doe.

Mulanya autopsi berjalan dengan lancar di rumah mereka yang memang dilengkapi fasilitas krematorium dan autopsi ini. Namun berbagai keanehan muncul dan meneror mereka. Apakah mereka berhasil mencari tahu siapa gerangan si Jane Doe itu?

Film ini berhasil membuat para penonton merasa ngeri dengan suasana ruangan autopsi itu sendiri. Bayangkan kalian berada di rumah besar, di ruangan bawah tanahnya ada ruang autopsi, hanya berdua saja mengautopsi jenazah di dalam keadaan hujan badai di luar sana. Penonton selalu  dibuat penasaran apa lagi yang akan muncul berikutnya..

Sangat fresh idenya, tidak boleh dilewatkan buat pencinta horor. Visual FXnya bagus, membuat kita bergidik dan ngeri melihat proses autopsinya. Musiknya begitu mencekam, sangat cocok dengan adegannya yang membuat kita mengkeret di kursi.

Beda banget deh sama Conjuring dan Insidious! 8/10 aku kasih.