Captain Marvel (2019)

Ketika orang-orang pada ribut masalah SJW terkait dengan Captain Marvel, ya saya tetap mencoba netral dengan menilai film ini setelah menontonnya. Sebagai pencinta karya seni, salah satunya film, saya akan menilai film ini setelah menonton dan memahami ceritanya. Kalau memang ada propaganda feminisme dan LGBT, akan saya sampaikan juga apakah porsinya mengganggu atau tidak.

Captain Marvel – gambar dari sini

Film Captain Marvel yang saat tulisan ini ditulis menguasai bioskop bersama film Dilan 1991, secara singkat, cukup layak tonton. Masih enak dinikmati meski latar belakangnya sekitar tahun 1990-an, zaman Google belum lahir dan orang mencari di Internet menggunakan situs Altavista. Saya sendiri termasuk generasi yang dulu selalu menggunakan Altavista untuk mencari di dunia maya.

Situs Pencarian di dunia maya, gambar dari sini

Film ini menceritakan bagaimana Carol Danvers menjadi Captain Marvel, salah satu tokoh superheroine terkuat di dunia. Pada awalnya, kita disuguhi seorang prajurit alien bangsa Kree dari Planet Hala bernama Vers sering mendapatkan mimpi tentang wanita tua. Dalam sebuah misinya, Vers tertangkap oleh bangsa Skrull dan otaknya diobok-obok untuk mencari sebuah informasi.

Gambar dari sini

Vers berhasil kabur dan mendarat di bumi untuk kemudian bertemu tanpa sengaja dengan Nick Fury. Kisah selanjutnya adalah perjuangan Vers untuk mencari jati dirinya yang dibantu Nick Fury, apakah ia berasal dari bumi atau bukan.

Gambar dari sini

Film ini tampak membawa pesan buat kaum feminis, bahwa wanita harus bangkit dan tidak boleh lemah meski dirundung oleh kaum lelaki. Menurut saya tidak ada salahnya dengan hal ini. Wanita bisa kok berjuang untuk meningkatkan martabatnya dia sendiri, tanpa menghina dan menginjak kaum lelaki. Saling menghargai dan bekerja sama tanpa melupakan kodratnya sebagai wanita adalah sah-sah saja.

Dari sisi visual FX, film ini jelas top markotop. Artinya sesuai standar film zaman sekarang yang melibatkan banyak perusahaan visual FX. Hasilnya sudah jelas ciamik. Adegan laga di kereta juga sangat mengesankan.

Dari sisi akting, Bree Larson cukup baik memerankan karakter Carol Danvers meski tidak sampai bisa disebut istimewa. Peran Judd Law sebagai bangsa Kree juga cukup memuaskan rasa rindu dari perannya akhir-akhir ini yang begitu-begitu saja. Samuel L. Jackson juga cukup segar memerankan Nick Fury. Dia pernah menangani ular di film lain, kini saksikan bagaimana Jackson mengatasi seekor kucing. Tokoh Agent Coulson juga digambarkan dengan cukup baik di film ini.

Gambar dari sini

Film ini banyak menyelipkan unsur humor sehingga tidak kering dari awal sampai akhir. Banyaknya nostalgia terhadap teknologi tahun 1990-an juga akan menarik para penonton dari generasi pengguna Internet pertama kali.

Namun demikian, satu hal yang mengganggu adalah justru dari kehebatan Captain Marvel itu sendiri. Ia begitu perkasa layaknya Superman dari DC World. Melihat seorang jagoan yang tanpa cacat dan kelemahan sepertinya tidak memberikan sebuah tantangan yang menarik karena terlalu powerful.

Film ini jelas digunakan oleh Disney dan Marvel untuk memperkenalkan tokoh Captain Marvel sebelum ia menjadi solusi di End Game yang akan tayang bulan depan.

Saksikan trailernya yang keren ini

Skor saya untuk film ini adalah 8/10. Menghibur kok. Dan jangan buru-buru pulang karena ada dua tambahan ekstra adegan setelah film berakhir. Yang pertama super penting, yang paling akhir biasa saja (opsional untuk ditinggal kalau sudah kebelet pipis).

Alita: Battle Angel (2019)

Film terbaru besutan Robert Rodriguez yang diangkat dari Manga karya Yukito Kishiro ini akhirnya tayang di Indonesia. Komik aslinya berjudul Gunnm, dikenal juga dengan Battle Angel Alita.

Kisahnya cukup sederhana. Alita adalah nama yang diberikan oleh dokter cyborg yang bernama Dyson Ido, diperankan oleh Christoph Waltz (yang sukses dengan Inglorius Bastards dan Django Unchained), kepada cyborg yang berhasil ia hidupkan kembali dari puing-puing sisa perang tiga abad sebelumnya.

Alita rupanya diambil dari nama anak Ido yang sudah meninggal dulu. Setelah beberapa saat Ido mengajari berbagai hal tentang dunia saat itu, Alita berkawan dengan manusia bernama Hugo. Mereka akhirnya dekat satu sama lain. Hugo memperkenalkan permainan Motorball, di mana para cyborg bertarung sampai mati di arena untuk memenangkan pertandingannya.

Hugo dan Alita

Alita akhirnya mengetahui bahwa ia adalah seorang tentara perang khusus yang pernah bertarung tiga abad silam dan menguasai ilmu bela diri Panser Kuntz yang sudah lama hilang. Setelah Alita mendapati Ido adalah juga seorang Hunter Warrior (tentara bayaran yang membunuh cyborg untuk membiayai klinik cyborgnya), Alita akhirnya diam-diam ingin menjadi seorang Hunter Warrior juga. Ia tanpa disangka berhasil membunuh dua cyborg dan melukai Grewishka yang disuruh membunuh Ido.

Grewishka

Seiring konflik berkembang, Alita kini menyadari bahwa musuh sesungguhnya adalah Nova, penguasa Zalem, kota terapung yang melayang di atas kota mereka. Untuk bisa mengalahkan Nova, Alita perlu mengikuti lomba Motorball yang hadiahnya bisa membawanya ke Zalem.

Perbandingan Manga dan Film

Berhasilkah Alita menjadi pemenang Motorball? Bagaimana hubungannya dengan Hugo? Apakah ia berhasil mengalahkan Nova? Saksikan film yang super seru dengan visual efek bikinan Weta Digital di bioskop kesayangan Anda.

Film ini merupakan kolaborasi James Cameron (Titanic, Avatar, Aliens) dengan Robert Rodriguez (Sin City, Spy Kids). Karena kesibukan Cameron membesut sekuel Avatar akhirnya impiannya ia persilakan kepada Robert Rodriguez untuk menggarapnya. Mereka berkorespondensi dan saling bertukar informasi hingga akhirnya sebuah masterpiece bisa terwujudkan. Jika film ini berhasil mereka mengindikasikan akan ada setidaknya dua sekuel Alita.

Saksikan trailernya berikut ini

Buat pencinta fiksi ilmiah, film ini akan menghibur Anda dengan visual FX-nya yang super ciamik. 8/10.

Ketika Kafir Melawan Sebelum Iblis Menjemput

Tahun ini merupakan tahun yang membahagiakan bagi para pencinta film bergenre horor. Begitu banyak film horor lokal yang membanjiri gedung bioskop di tahun 2018 ini, di antaranya Kafir – Bersekutu dengan Setan (KBS) dan Sebelum Iblis Menjemput (SIM).

Secara singkat buat Anda yang ingin tahu secara cepat, saya bisa katakan baik KBS maupun SIM keduanya menarik untuk ditonton. Keduanya masuk jajaran Pengabdi Setannya Joko Anwar, dengan kata lain bisa masuk jajaran horor lokal yang sayang untuk dilewatkan.

Mari kita bahas keduanya.

Lanjutkan membaca Ketika Kafir Melawan Sebelum Iblis Menjemput

5 Alasan Kudu Nonton Mission Impossible – Fallout

 

Akhirnya film Tom Cruise yang lama ditunggu-tunggu para moviegoers ini tayang juga. Setelah menonton pada hari pertama semalam, saya menyimpulkan bahwa film dengan durasi 147 menit ini tidak boleh dilewatkan karena begitu menarik untuk ditonton.

Inilah 5 alasan mengapa kamu kudu nonton film ini.

Lanjutkan membaca 5 Alasan Kudu Nonton Mission Impossible – Fallout

Hereditary (2018) – Horor Klasik Mencekam yang Menyiksa Anda Perlahan-lahan

Inilah film horor terbaru yang ramai dibicarakan netizen beberapa bulan terakhir ini dan ditunggu-tunggu oleh para penggemar genre horor. Film horor yang dibesut oleh sutradara jebolan American Film Institute yang bernama Ari Aster ini sempat dipuji di akun Twitter sutradara Pengabdi Setan, Kang Joko Anwar.

joko_anwar

Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga yang baru saja ditinggal mati oleh nenek dari pihak Ibu. Anggota keluarga tersebut adalah:

  • Sang ayah (Steve) diperankan oleh Gabriel Byrne (The Usual Suspects, In Treatment),
  • ibu (Annie) oleh Toni Collette (The Sixth Sense (nominasi Oscar sebagai aktris pembantu terbaik), Little Miss Sunshine)
  • putra pertama (Peter), diperankan oleh Alex Wolff (Jumanji: Welcome to the Jungle)
  • putri bungsu (Charlie), diperankan oleh Milly Shapiro (Broadway Kids Against Bullying: I Have a Voice)

family
Keluarga Steve

Ulasan saya ini mungkin akan Anda anggap memiliki SPOILER, namun percayalah, saya tidak akan merusak kesenangan Anda menonton dengan memberitahu hal penting dalam film ini. Meskipun demikian, jangan lanjutkan membaca jika Anda sangat sensitif dengan petunjuk sekecil apapun.

Lanjutkan membaca Hereditary (2018) – Horor Klasik Mencekam yang Menyiksa Anda Perlahan-lahan

A Quite Place (2018) – Horor Tanpa Hantu yang Mengguncang Bioskop

Ketika trailernya dibagikan via whatsapp di Group Movie Lover oleh sesama moviegoer, saya langsung tertarik untuk menontonnya. Premisnya menarik, if they hear you, they hunt you. Eh, kamu dah lihat trailernya belum sih?

Orang awam banyak yang mengira kalau film horor itu film berhantu. Banyak yang salah kaprah. Film horor itu ya film yang menakutkan, bukan hanya karena hantu atau hal supranatural, tetapi apapun yang menimbulkan kengerian dan membuat kita takut, masuk kategori film horor. Nah, A Quiet Place adalah salah satu film horor terbaik dalam lima tahun terakhir yang tidak mengandung hantu seekorpun. Iya. Gak ada Valak, gak ada badut rese yang muncul suka-suka, atau orang kesurupan ketekuk-tekuk badannya. Nggak. Nggak ada itu semua.

ghostbusters-animated-movie
Dijamin, gak ada hantu sama sekali di film ini

Teyyusss, adanya apa dong? Lanjutkan membaca A Quite Place (2018) – Horor Tanpa Hantu yang Mengguncang Bioskop

Steven Spielberg Menggebrak Box Office Melalui Ready Player One

 

Akhirnya Steven Spielberg, sutradara kawakan langganan Box Office, kembali mendulang dollar yang menembus 300 juta USD, sebuah rekor yang baru pecah setelah Tintin di 2011 lalu. Ready Player One yang diangkat dari novel Ernest Cline ini digarap Spielberg begitu megah, bahkan terlihat jelas hanya dari trailer-nya saja.

Ada setidaknya 5 alasan kenapa kamu gak boleh melewatkan film ini. Lanjutkan membaca Steven Spielberg Menggebrak Box Office Melalui Ready Player One