A Quite Place (2018) – Horor Tanpa Hantu yang Mengguncang Bioskop

Ketika trailernya dibagikan via whatsapp di Group Movie Lover oleh sesama moviegoer, saya langsung tertarik untuk menontonnya. Premisnya menarik, if they hear you, they hunt you. Eh, kamu dah lihat trailernya belum sih?

Orang awam banyak yang mengira kalau film horor itu film berhantu. Banyak yang salah kaprah. Film horor itu ya film yang menakutkan, bukan hanya karena hantu atau hal supranatural, tetapi apapun yang menimbulkan kengerian dan membuat kita takut, masuk kategori film horor. Nah, A Quiet Place adalah salah satu film horor terbaik dalam lima tahun terakhir yang tidak mengandung hantu seekorpun. Iya. Gak ada Valak, gak ada badut rese yang muncul suka-suka, atau orang kesurupan ketekuk-tekuk badannya. Nggak. Nggak ada itu semua.

ghostbusters-animated-movie
Dijamin, gak ada hantu sama sekali di film ini

Teyyusss, adanya apa dong? Lanjutkan membaca A Quite Place (2018) – Horor Tanpa Hantu yang Mengguncang Bioskop

Steven Spielberg Menggebrak Box Office Melalui Ready Player One

 

Akhirnya Steven Spielberg, sutradara kawakan langganan Box Office, kembali mendulang dollar yang menembus 300 juta USD, sebuah rekor yang baru pecah setelah Tintin di 2011 lalu. Ready Player One yang diangkat dari novel Ernest Cline ini digarap Spielberg begitu megah, bahkan terlihat jelas hanya dari trailer-nya saja.

Ada setidaknya 5 alasan kenapa kamu gak boleh melewatkan film ini. Lanjutkan membaca Steven Spielberg Menggebrak Box Office Melalui Ready Player One

Review Game “Papers, Please” dan Kenapa Wajib Coba

Jadi ceritanya gini. Ada teman ngeshare link Youtube tentang short movie. Paling sepuluh menitan gitu lah. Pas aku tonton, filmnya digarap dengan bagus sekali. Penasaran nanya ke temenku, itu dari game apa? Aku bilang filmnya keren, tapi penasaran sama gamenya, ceritanya gimana sih, kok bisa sampai begitu?

Nah kalian gimana? Kepo ama film pendeknya? Penasaran? Nyoooh (ala Bu Dendy)..

Akhirnya karena penasaran dengan premisnya yang sederhana namun menarik, aku cari di Steam. Eh ternyata pas diskon 50 persen, cuma 30 rebuan gitu jadinya. Ya udah langsung purchase dan install game indie ini. Dan setelah dicoba, emang keren bingit. Simple, tapi melatih kita untuk teliti dan menjadi orang yang bekerja di bagian imigrasi, di mana terkadang kita dibenturkan antara kemanusiaan dan aturan ketat demi keamanan negara yang kita jaga.

Premis ceritanya simple banget.

Lanjutkan membaca Review Game “Papers, Please” dan Kenapa Wajib Coba

Dilan (2018): Sebuah Review dan Kenangan Zaman Old

Minggu lalu, pas ada kondangan di daerah Pejaten bersama bujangku yang kelas 3 SMP, kami menyempatkan nonton Dilan di Pejaten Village. Biasanya saya gak demen nonton teen flick ginian. Tapi bujang kelihatannya pengen nonton karena sudah baca novelnya. Saya baca reviewnya sekilas kok lagi happening, semua orang sibuk membahas tentang film ini. Dan konon, hingga tulisan ini diposting, penontonnya sudah tembus 1 juta. Angka yang fantastis, bukan? Dan faktor lain yang membuat saya penasaran adalah setting ceritanya di tahun 1990. Ini sedikit banyak akan mengingatkan masa SMP-SMA saya dulu hehehe…

Saya sendiri belum baca bukunya, yang berjumlah tiga jilid. Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Dari akhir film ada keterangan: “Sampai Jumpa di Dilan 1991”, itu berarti akan ada sekuelnya dan hampir mustahil tidak dibuat sampai yang ketiganya. Untungnya belum baca buku sebelum nonton adalah kita tidak perlu sibuk membandingkan dan mengkhawatirkan apakah filmnya sesuai bukunya atau tidak. Gak perlu protes pemainnya sesuai imajinasi kita atau enggak, dst. Menurut Pidi Baiq, bukunya ditulis dari kisah nyata seseorang yang bernama Milea. Jadi ini bukan murni fiksi.

Kesan apa saat dan setelah menontonnya?

Lanjutkan membaca Dilan (2018): Sebuah Review dan Kenangan Zaman Old

Hugh Jackman kembali bersinar di The Greatest Showman (2017)

Abang Jackman yang asli Australia ini bukan hanya seorang aktor handal, namun juga seorang penyanyi, penari, dan produser. Lengkap kali ya Bang. Kerjaan beberapa orang diborong sekaligus. Setelah diganjar nominasi Oscar tahun 2013 di film musikal Les Miserables sebagai aktor utama dan pemenang Golden Globe untuk film dan peran yang sama, kini dia kembali memerankan kisah nyata Phineas Taylor Barnum, seorang jawara perintis di dunia penghibur, politisi handal, dan pebisnis yang sukses.

Lahir sebagai anak orang miskin, Barnum jatuh cinta dengan anak majikannya, yang akhirnya ia nikahi, Charity.

Ketika perusahaan di mana ia bekerja bangkrut, akhirnya ia meminjam uang ke bank untuk memulai bisnis. Dia merintis usaha hiburan, dari museum lalu merekrut orang -orang dengan keadaan, kepribadian atau kemampuan unik yang jarang ditemui. Dia menemui banyak hambatan pada awalnya, hingga akhirnya ia bisa merangkak naik dan dikenal khalayak ramai.

01-the-greatest-showman-hugh-jackman-vogue-september-issue-2017

Ujian mulai datang ketika ketenaran ia dapatkan. Berhasilkah Barnum melewati ujian yang membuatnya harus memilih antara kejayaan dunia dan keluarga yang ia cintai?

Img6

Apa sih yang membuat film yang dibesut Michael Gracey ini menarik untuk dilihat? Lanjutkan membaca Hugh Jackman kembali bersinar di The Greatest Showman (2017)

5 Alasan Kamu Mesti Nonton Coco (2017)

Pas nonton trailernya di bioskop, sempat was-was, “Duh, Pixar Disney nyontek Book of Life yang dibiayai oleh Guillermo del Toro tahun 2014 yang lalu?”

Gimana gak mau parno coba. Keduanya mengusung tema kultur Meksiko dengan sombrero dan churrosnya, dengan Día de los Muertos, yaitu Day of the Dead, festival untuk mengenang mereka yang sudah meninggal agar tidak terlupakan dan musnah di The Land of The Remembered. Ada lagi? Oh ya..  dengan seorang anak lelaki dan gitarnya, musiknya, dan nilai kekeluargaannya yang kental.

Akhirnya saya sempat cari info apakah Coco mengekor Book of Life atau memberikan sesuatu yang baru. Setelah googling, saya baru tahu kalau Coco akan mengusung tema yang berbeda. Dan selepas menontonnya, ternyata benar!

Inilah 5 alasan mengapa kamu kudu nonton Coco… Lanjutkan membaca 5 Alasan Kamu Mesti Nonton Coco (2017)

Review Film Pengabdi Setan (2017)

Impian Joko Anwar untuk membesut film Pengabdi Setan puluhan tahun silam tercapai sudah. Inilah film horor yang menginspirasikan dirinya untuk membuat film. Sutradara yang terkenal dengan Pintu Terlarangnya ini merayu Rapi Film yang memiliki hak ciptanya agar diperkenankan menjadi sutradaranya. Akhirnya film yang juga dibiayai oleh CJ Entertainment ini tayang juga di bioskop.

Beberapa teman saya mengatakan, film asli Pengabdi Setan yang dibintangi Ruth Pelupessy dan HM Damsjik dulu adalah salah satu film menakutkan di masa kecil mereka. Saya sendiri sudah menonton versi lamanya dan penasaran dengan versi Joko Anwar ini. Jadi gini…

Lanjutkan membaca Review Film Pengabdi Setan (2017)