Ketika Kafir Melawan Sebelum Iblis Menjemput


Tahun ini merupakan tahun yang membahagiakan bagi para pencinta film bergenre horor. Begitu banyak film horor lokal yang membanjiri gedung bioskop di tahun 2018 ini, di antaranya Kafir – Bersekutu dengan Setan (KBS) dan Sebelum Iblis Menjemput (SIM).

Secara singkat buat Anda yang ingin tahu secara cepat, saya bisa katakan baik KBS maupun SIM keduanya menarik untuk ditonton. Keduanya masuk jajaran Pengabdi Setannya Joko Anwar, dengan kata lain bisa masuk jajaran horor lokal yang sayang untuk dilewatkan.

Mari kita bahas keduanya.

Kafir – Bersekutu dengan Setan

kafir

Azhar Kinoi Lubis mampu menyutradarai film ini dengan pendekatan berbeda dengan kebanyakan film horor favorit masyarakat luas pada umumnya. Ketika film horor berlomba menayangkan adegan yang membuat jantung mau copot dengan jump scares, film ini lebih fokus dengan alur cerita yang kuat, perlahan namun pasti memberikan penjelasan demi penjelasan hingga titik puncaknya. Banyak yang mengaitkan jenis horor yang diberikan di KBS  serupa dengan yang ditawarkan di Rosemary’s Baby atau Hereditary dengan formula slow burner. Bukan berarti kualitas keduanya sama,

Sebuah keluarga terdiri dari sepasang suami istri dengan dua orang anak yang sudah menginjak dewasa muda tiba-tiba mendapatkan bencana beruntun. Sang ayah mati terkapar muntah darah campur beling di meja makan. Sejak saat itu anggota keluarga mendapatkan teror iblis, terutama sang ibu. Penonton diajak menerka-nerka siapa dan apa motivasi pelakunya namun baru bisa ditebak sepertiga akhir cerita. Penceritaannya halus dan sabar, menguak kisah kelam yang terungkap di adegan puncaknya.

Rangga-Azof-Teddy-Syach-Nadya-Arina-Putri-Ayudya-

Casting yang baik, akting mumpuni, dan penuturan yang menarik dan tidak semata-mata mengandalkan jump scare semata menjadi kekuatan KBS. Putri Ayudya yang biasa bermain teater menunjukkan kemampuan aktingnya yang meyakinkan. Dari sisi para pemain muda, Nadya Arina, Indah Permatasari, dan Rangga Azof bermain natural di sini dan mampu mengimbangi aktor yang lebih senior.

Meski diakui ada beberapa elemen Pengabdi Setan yang sepertinya diikuti di film ini, dari setting rumah, musik klasik, dsb. Namun hal ini tidak mengurangi orisinalitas cerita yang diangkat. Upi yang diminta pihak produser (Chand Parwez) untuk menulis kisah Kafir yang dibuat ulang sempat menolak pada awalnya. Ia mengaku bosan jika membuat ulang film yang belum terlalu lama. Akhirnya ia menggandeng Azhar Kinoi Lubis sebagai sutradara dan Rafki Hidayat sebagai penulis naskah untuk menuliskan kisah baru namun memiliki benang merah dukun Jarwo sebagai penghubung kisahnya.

Sebelum Iblis Menjemput

sim

Timo Tjahjanto yang sering dikenal bersama saudaranya dengan julukan The Mo Brothers, membesut film Sebelum Iblis Menjemput sekaligus menjadi penulis naskahnya. Timo yang sudah memiliki banyak jam terbang membesut film bertemakan gore ini rupanya ingin melakukan hal yang sama dengan genre horor. Masih ingatkah Anda dengan film Rumah Dara, Killer, dan Headshot? Seperti di ketiga film tersebut, Timo juga menghadirkan banyak darah di film horor ini. Di beberapa adegan ada yang mengingatkan kita pada film horor The Witch yang mungkin sekali menjadi inspirasi Timo dalam film ini.

Kisahnya cukup sederhana. Seorang wanita muda dihubungi keluarganya yang mengabarkan ayahnya sakit keras di rumah sakit. Tidak lama berjumpa, ayahnya meninggal dunia dengan memberikan begitu banyak pertanyaan pada keluarga yang ditinggalkan. Ketika mereka mencoba mencari harta peninggalan sang ayah di sebuah rumah tua, mereka menemukan begitu banyak teror dari makhluk gaib. Dalam waktu singkat, mereka tidak lagi peduli dengan harta yang ditinggalkan, dan hanya berusaha bertahan hidup dari teror yang tak kunjung berhenti sepanjang malam sembari diperlihatkan mengapa ini semua terjadi.

Ray Sahetapi bermain sebagai sang ayah yang pesakitan, bermain khas dirinya. Di film ini Chelsea Islan beradu akting dengan Pevita Pearce. Keduanya bermain cukup baik, meski Chelsea terkadang ada kekakuan di beberapa adegan, secara ini film horor pertamanya.

Film yang berdurasi sekitar 100 menit ini mengandalkan unsur jump scares dan gore khas Timo. Berbeda dengan Kafir yang berusaha selama mungkin menunjukkan penyebab semua bencana terjadi, SIM langsung memberikan kisah balik kepada penonton apa yang sebenarnya terjadi. Kisah berikutnya hanyalah kita survival dari para pemain utama terhadap makhluk gaib yang lama mendiami rumah itu. Beberapa setting juga mengingatkan kita pada pengaruh kuat Pengabdi Setan, yang sudah mendunia dan menjadi pembicaraan hangat di mana-mana.

Di bagian akhir, solusi yang ditawarkan kedua film sangat mirip. Sungguh sayang keduanya yang tayang di bioskop pada waktu yang sama, mengemukakan kisah tentang perdukunan dan ilmu hitam, mengambil penyelesaian yang mirip. Namun demikian, keberanian kedua tim sineas patut diacungi jempol karena berani serius menggarap film horor, dan tidak menghina kecerdasan penonton seperti banyak film horor kacangan lainnya. Dulu kita pesimis dengan horor Indonesia yang ceritanya super klise, seks diumbar, akting buruk, dialog culun, dan spesial FX yang menggelikan. Pengabdi Setan mengawali revolusi ini dan diikuti dengan baik oleh kedua film ini.

Salut sekali lagi buat keduanya, semoga semakin banyak sineas Indonesia yang berani menggarap film horor berkualitas dan memberikan kegembiraan bagi penontonnya, terlepas eksekusinya mau memberikan kengerian implisit ataukah roller coaster experience.

Selamat menonton.

2 respons untuk ‘Ketika Kafir Melawan Sebelum Iblis Menjemput

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s