Hereditary (2018) – Horor Klasik Mencekam yang Menyiksa Anda Perlahan-lahan


Inilah film horor terbaru yang ramai dibicarakan netizen beberapa bulan terakhir ini dan ditunggu-tunggu oleh para penggemar genre horor. Film horor yang dibesut oleh sutradara jebolan American Film Institute yang bernama Ari Aster ini sempat dipuji di akun Twitter sutradara Pengabdi Setan, Kang Joko Anwar.

joko_anwar

Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga yang baru saja ditinggal mati oleh nenek dari pihak Ibu. Anggota keluarga tersebut adalah:

  • Sang ayah (Steve) diperankan oleh Gabriel Byrne (The Usual Suspects, In Treatment),
  • ibu (Annie) oleh Toni Collette (The Sixth Sense (nominasi Oscar sebagai aktris pembantu terbaik), Little Miss Sunshine)
  • putra pertama (Peter), diperankan oleh Alex Wolff (Jumanji: Welcome to the Jungle)
  • putri bungsu (Charlie), diperankan oleh Milly Shapiro (Broadway Kids Against Bullying: I Have a Voice)
family
Keluarga Steve

Ulasan saya ini mungkin akan Anda anggap memiliki SPOILER, namun percayalah, saya tidak akan merusak kesenangan Anda menonton dengan memberitahu hal penting dalam film ini. Meskipun demikian, jangan lanjutkan membaca jika Anda sangat sensitif dengan petunjuk sekecil apapun.

Setelah kematian sang nenek, terjadilah sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa salah seorang anggota keluarga tadi. Kejadiannya begitu tragis, begitu mengerikan, bahkan para penonton tidak percaya dengan apa yang terjadi di layar. Ketika bencana itu terjadi, kamera sengaja tidak menampakkan secara jelas kejadiannya, hanya suara keras dan anggota keluarga lain yang kebetulan berada di dekatnya yang ditampakkan di layar. Penonton diajak merasakan kengerian luar biasa hanya dengan melihat ekspresi anggota keluarga tadi yang begitu hancur, sehancur-hancurnya. Kami yang ada di bioskop hanya bisa terpana .. WTF! Apa yang terjadi? Kenapa bisa? Kenapa sampai terjadi?

Inilah salah satu kekuatan visual yang dilakukan sang sutradara. Adegan kecelakaan, penonton dibiarkan berimajinasi. Namun begitu badai mereda, sutradara menyerang secara visual dengan gambar final yang sangat mengerikan! Saya yakin ini adalah penggalan tubuh paling mengerikan yang pernah Anda lihat dalam film bioskop selama beberapa tahun terakhir.

Sejak bencana besar tersebut, keluarga Steve berada dalam badai perang dingin. Mereka tampak saling menyalahkan dan begitu frustasi dengan kecelakaan tragis ini. Masalah bertambah kacau ketika salah satu anggota keluarga memanggil arwah yang barusan mati tadi setelah diajari seseorang cara memanggilnya. Bukannya kedamaian yang datang, justru bencana demi bencana dan rahasia gelap keluarga Steve terkuak satu demi satu.

Ibarat kodok yang dimasak dalam panci hangat, penonton tidak menyadari bahwa mereka menonton sesuatu yang lama-lama akan membuat mereka tak bisa lari dari siksaan horor ini. Kodok pada awalnya menikmati hangatnya air dalam panci, hingga suatu saat, sang kodok tak bisa keluar dari panci hidup-hidup, karena matang dengan sukses. Rahasia demi rahasia diceritakan dengan baik oleh sutradara sehingga kita selalu menunggu fakta apa lagi sebenarnya yang belum kita ketahui. Inilah yang membuat kita penasaran akan ujung filmnya.

Bedakan dengan pengalaman menonton film horor yang sempat merajai bioskop macam Conjuring, Insidious, dan Annabelle. Film-film James Wan sebagian besar menggantungkan pada jump scare atau adegan yang mengagetkan kita. Film ini bukan tipikal seperti itu. Film ini akan menyiksa batin kita secara perlahan, karena semua kesialan para tokohnya yang bertubi-tubi, mengerikan, dan membuat semua orang frustasi. Film ini tidak menjual gimmick adrenaline. Tidak. Teror psikologis ala Get Out dan Rosemary Baby yang sepertinya dipilih oleh Ari Aster. Pada akhirnya, Anda akan melihat hal yang sering Anda lihat di film lain di penghujung film ini. Begitu adegan yang tipikal itu muncul, Anda tahu film ini akan segera berakhir. Agak sedikit kecewa karena kita berharap mendapat sesuatu yang baru seutuhnya.

Karena film seperti ini cukup langka di bioskop dalam beberapa tahun terakhir, penonton akan mendapati film ini cukup “berbeda”. Tidak salah kalau kritikus film di Rotten Tomatoes memberikan tomat segar, dengan tingkat persetujuan sekitar 90 persen. IMDB mengapresiasi di level 7.7 ketika ulasan film ini ditulis.

Dari sisi akting, kinerja Toni Collette yang menjadi ibu Haley Joel Osment di The Sixth Sense sangat luar biasa. Ia bisa menunjukkan performa seorang ibu yang dilanda depresi, di mana ia sudah mulai tak lagi bisa membedakan antara mimpi dan realita. Peter sang anak lelaki, diperankan Alex begitu natural, sebagai seorang remaja yang rapuh dan lemah. Charlie yang misterius dan seperti selalu sedih ini juga menjadi kesayangan penonton.

Tips untuk menonton film ini:

  • Jangan bawa anak kecil. Pokoknya JANGAN. Please..
  • Bawa cemolan dan cemilan karena filmnya dua jam lebih. Sudah ngeri, kelaparan dan kehausan pula. Tambah seram nanti!
  • Jangan harap adegan mengagetkan yang banyak ala Conjuring. Sabar saja, banyak adegan mengerikan yang membuat Anda stress
  • Selalu terbuka dengan adegan akhir dari film ini. Resapi dan renungkan baik-baik. Belajarlah menerima fakta yang mungkin tidak Anda sukai di akhir film yang berbeda dengan dugaan Anda di awal atau pertengahan film ini…
  • Minum kopi bisa bermanfaat agar tidak mengantuk, karena tempo film ini lambat.

Direkomendasikan buat mereka yang menyukai film horor, khususnya horor klasik, dan bukan horor kacangan yang sudah membosankan.

Saya memberikan nilai 8 skala 10 untuk film ini. Sebagai debut pertama sang sutradara, Ari Aster layak diacungi jempol.

Saksikan teror terbaru di bioskop CGV atau Cinemaxx kesayangan Anda.

Trailer film ini:

4 respons untuk ‘Hereditary (2018) – Horor Klasik Mencekam yang Menyiksa Anda Perlahan-lahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s