Arsip Blog

Mengetuk Nurani Melalui Film Drone (2017)

Film terbaru yang diimpor Indonesia Entertainment Group berjudul Drone yang dibintangi oleh Sean Bean (Lord of The Rings, Game of Throne). Film ini mengingatkan pada film serupa, Eye in the Sky (Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman). Meskipun temponya tidak secepat Eye in the Sky, Drone tetap mengingatkan kita akan arti kemanusiaan.

drone.jpg

Drone di kedua film di atas bukanlah drone yang menyenangkan. Kita mungkin sehari-hari familiar dengan drone untuk mengambil video atau foto kegiatan outdoor. Drone dalam film ini digunakan untuk memantau dan jika perlu membunuh sasaran tertentu, baik akan mencelakai orang tidak berdosa di sekitarnya atau tidak. Para korban tak berdosa yang sering disebut collateral damage, membuat kita berpikir, sesungguhnya kita tengah mencegah korban jiwa yang lebih besar dengan cara yang baik atau tidak. Teroris sering berkilah bahwa korban sipil yang terjadi akibat aksi mereka adalah collateral damage, demi menghentikan kezhaliman yang lebih besar. Di sini kita bertanya, sebenarnya pelaku penembak dengan drone ini berprinsip sama dengan teroris atau tidak? Jika untuk mengatasnamakan pembasmian teroris lalu memakan korban rakyat jelata yang tak berdosa, maka apakah kita tidak sekejam teroris itu sendiri? Mengapa kita tidak mengambil langkah yang lebih jantan? Tantang langsung, dan usir yang tidak berkepentingan, agar tidak menjadi korban tak berdosa.

drone_control

Sean Bean berperan sebagai seorang kontraktor CIA yang mengendalikan drone untuk menjadi algojo dari jarak jauh. Cukup mengendalikan joy stick dan kamera resolusi tinggi, siapapun yang harus mati, akan dibumihanguskan dari jarak jauh, dari ruangan berAC, kursi empuk, dan kantor yang nyaman.

Bagaimana apabila rudal yang kita tembakkan secara tidak sengaja, membunuh orang yang tak bersalah? Apa perasaan kita, kalau korban tak berdosanya adalah anak atau pasangan hidup kita? Paginya masih bercengkerama, sorenya hanya menemukan serpihan tubuhnya?

Img3

Bagaimana apabila korbannya anak sekaligus pasangan kita, dan kita tahu siapa yang melakukannya? Akankah kita akan membalas dendam kesumat ini secara penumpahan darah ataukah menghancurkan kehidupan rumah tangganya seperti halnya dengan pelaku yang menghancurkan kehidupan kita?

Img5

Sean Bean yang berperan sebagai Neil Wistin bermain sangat bagus dan menjiwai perannya sebagai pilot drone, yang akan jauh lebih memukau seandainya saja deretan para penulis dan sutradaranya, Jason Borque, membuat cerita yang lebih ringkas sebelum klimaksnya datang. Bagian introduksi tokoh antagonis berjalan cukup lambat, dan agak membuat penonton geregetan, kapan ketegangan itu tiba. Konflik rumah tangga yang dihadapi Wistin juga kurang bisa digali akhirnya akan ke mana.

Pembaca yang budiman, jika Anda adalah orang yang bertugas menekan tombol neraka di bumi, dan berpotensi membunuh manusia tak bersalah, akankah Anda melakukan hal ini atas nama perlindungan terhadap kemanusiaan?

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Film seperti Eye in the Sky dan Drone adalah film yang mencoba mengingatkan sisi kemanusiaan kita, akankah kita bertindak menghalalkan segala cara asalkan tujuan kita benar? Boleh merampok asal untuk memberi makan keluarga? Film ini menyindir kehidupan kita, agar kita berani jujur terhadap diri sendiri dan nurani, apakah kita sedang menegakkan kebenaran, atau justru menumbuhsuburkan dendam yang akhirnya kontraproduktif dengan tujuan kita mencegah terorisme.

Selamat menonton dan berkontemplasi!

Bridge of Spies (2015)

Saya tidak menyangka akan terharu dan menitikkan air mata menonton film besutan Spielberg tentang pertukaran tawanan Amerika dengan Soviet di kala perang dingin sekitar 60 tahun silam. Karena ini film sejarah, maka apa yang saya akan tuliskan di sini tentu saja sudah bisa diketahui semua orang lewat internet.

Film ini menceritakan tentang seorang pengacara dalam bidang asuransi bernama James B. Donovan, yang tiba-tiba diminta untuk membela Rudolf Abel, seseorang yang dianggap KGB dan tertangkap di Amerika.
Img3

Rudolf Abel yang diperankan Mark Rylance

 

Karena ini permintaan pemerintah dan pemerintah tidak mau dunia memandang Amerika tidak menjunjung tinggi keadilan dengan memberikan pengacara yang pantas buat siapapun terdakwanya, maka Donovan yang diperankan Tom Hanks ini sulit untuk menolaknya, termasuk firma di mana ia bekerja.

Img6

Abel dan Donovan

Hal ini menyebabkan buah simalakama buat dirinya. Secara profesional dia tidak mau didikte oleh siapapun dan dikontrol siapapun, termasuk pemerintah, dalam kasus yang sudah dilimpahkan padanya. Ia ingin mempertahankan integritasnya sebagai pengacara dengan tidak mau membeberkan rahasia client dan pengacara, termasuk kepada CIA sekalipun. Hakim, firma ia bekerja, bahkan istri dan anak-anak Donovan mengharapkannya bekerja setengah hati saja, toh ia membela mata-mata yang bisa menghancurkan Amerika itu sendiri. Bahkan rumahnya ditembaki orang di malam hari, nyaris membunuh salah seorang anaknya.

Img5

Donovan dan istrinya

Meskipun Donovan bekerja mati-matian, ia tidak mampu membujuk juri dan hakim untuk membebaskan Rudolf Abel yang diperankan oleh aktor Inggris, Mark Rylance. Nah setelah menerima bahwa Abel bersalah, usaha berikutnya adalah mencegah agar ia tidak dihukum mati. Donovan sengaja datang ke rumah hakim untuk memberikan pandangan agar ia tidak dihukum mati karena apabila Amerika juga punya mata-mata yang ditangkap Soviet, mereka akan berharap mata-mata mereka juga tidak dikukum mati, dan bisa dibuat modal untuk pertukaran tawanan. Ternyata usulan ini diterima hakim yang secara mengejutkan hanya memberikan hukuman penjara kepada Abel.

Img2

Di persidangan

Beberapa waktu kemudian, seorang pilot Amerika yang sedang memotret kawasan Soviet dari udara ditembak jatuh dan ditangkap. Francis Gary Powers yang masih muda itu tertangkap setelah berhasil keluar dari pesawatnya dengan bantuan parasut. Pada waktu yang hampir sama, seorang pelajar Amerika Frederick Pryor ditangkap ketika ia berusaha mengunjungi kekasihnya di Berlin Timur ketika tembok Berlin sedang dibuat. Ia didakwa mata-mata Amerika ketika berusaha mengajak kekasihnya ke Berlin Barat.

Donovan ditugaskan kembali menjadi negosiator untuk pertukaran tawanan Abel dengan Powers namun pemerintah lepas tangan dan tidak akan mengakui kalau ia ditugaskan resmi oleh pemerintah. CIA hanya meminta Donovan fokus pada pertukaran tawanan Abel dengan Powers. Namun hati nurani Donovan berbicara lain. Ia ingin juga mendapatkan Pryor yang masih mahasiswa itu. Jadi 2 orang ditukar 1. CIA berang karena Donovan tidak perlu mengurusi Pryor, karena fokus mereka menyelamatkan Powers. Tapi Donovan membayangkan asistennya yang usianya hampir sama dengan Pryor dan tidak tega ia tertinggal di Berlin Timur, bukan wilayah Soviet. Dalam kondisi ini akan lebih mudah jika Pryor ditangkap di Soviet. Tapi ia ditangkap di Berlin Timur yang tidak diakui pemerintah Amerika Serikat. Situasinya jadi kompleks karena negosiasi kini melibatkan 3 pihak.

Img4

Donovan dalam tugas ke luar negeri

Donovan menghubungi kedua negosiator, dari sisi Soviet dan dari sisi Berlin. Masing-masing dijanjikan Abel, dengan tawanan dari masing-masing wilayah. Situasi menjadi pelik karena negosiator Berlin tersinggung dengan menganggap Amerika menjual satu barang ke dua orang yang berbeda. Berlin menolak keras.

Namun rasa kemanusiaan Donovan dan kekeraskepalaan dirinya membuatnya ia tidak mau diatur oleh pihak lain. dengan kharismanya ia bermain negosiasi dengan piawai dan konsisten meminta Soviet mengatur agar Abel bisa ditukar Powers dan Pryor, meski Pryor ditawan bukan di daerah Soviet. Tapi Donovan berhasil meyakinkan bahwa ia yakin Soviet bisa mengupayakannya. Hal ini sebenarnya sangat beresiko alih-alih 2 ditukar 1 malah bisa membuyarkan keseluruhan negosiasi.

Ketegangan cerita thriller ini begitu baik diatur oleh Spielberg berpadu dengan kematangan akting Tom Hanks yang sudah pernah meraih Oscar di Philadelphia dan Forrest Gump ini. Inilah film keempat di mana mereka berdua berkolaborasi menghasilkan sebuah masterpiece (Terminal, Catch Me If You Can, dan Saving Private Ryans). Ini juga kali kedua Spielberg bekerja sama dengan penulis skenario, Coen Brothers, dalam membuat film (sebelumnya Spielberg jadi produser dalam film True Grit, Coen Brothers menjadi sutradara dan penulisnya). Setting yang dibuat dalam film ini juga sulit dibuat. Dari kostum, fashion style, telepon, mobil, pesawat, dan seluruh bangunan dibuat semirip mungkin jaman dahulu. Sebuah pekerjaan yang sangat mengagumkan.

Img7

Tom Hanks dan Steven Spielberg

Donovan harus bisa membela negara, mempertahankan integritasnya sebagai pengacara dan negosiator, sekaligus merahasiakannya dari keluarga karena apa yang ia lakukan di luar negeri itu tidak diakui pemerintah dan harus dirahasiakan.

Proses pertukaran tawanan itu begitu mengharukan dan terasa sangat heroik, melebihi kepahlawanan dari seluruh film Marvel. Donovan mengingatkan saya bahwa menyelamatkan nyawa manusia itu sangat mulia, seperti dalam Al Quran Al Maidah 32: barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.. Di sinilah saya menitikkan air mata.

Donovan adalah contoh manusia biasa yang menjadi seorang pahlawan sejati dengan mempertahankan integritasnya sebagai seorang pengacara dan negosiator handal, menjadi warga negara yang membela negaranya dengan sepenuh hatinya, sapu tangan, dan tas koper jinjingnya. Film ini berhasil menangkap chemistry antara Donovan dan Abel yang sudah sangat dekat dan bagaimana Abel sangat berterima kasih atas usaha maksimal Donovan kepadanya.

Img1

James Donovan yang asli

James Bond menawarkan ketegangan aksi, sementara film ini menawarkan ketegangan negosiasi di tengah perang dingin Blok Barat dan Timur. Saya sangat merekomendasikan film ini kepada pecinta film yang rindu film berkualitas dan mengandung hikmah moral positif yang bisa menginspirasikan kita sebagai manusia.

Puas menonton film ini dan saya beri nilai 8 skala 10.

Gravity (2013)

Menurutku ini adalah film terbaik so far di 2013. Well, Anda boleh punya pendapat lain, tapi saya pribadi sangat menyukai film ini! Gravity menceritakan kisah astronot yang sedang bertugas di ruang angkasa dan mendapat musibah yang dikarenakan adanya serpihan satelit Rusia yang diledakkan dengan misil. Sandra Bullock (Speed, The Blind Side) dan George Clooney (Ocean Eleven, The Descendants), para bintang peraih Oscar, bermain sangat ciamik sebagai astronot-astronot yang berjuang mempertahankan nyawa mereka di luar atmosfer…

Mengapa saya begitu menyukai film ini? (Saya memberikan score 10/10).

  1. Naskah yang ditulis langsung oleh sang sutradara, Alfonso Cuaron (Great Expectations, Y Tu Mama Tambien)  bersama anaknya, Jonas Cuaron, begitu menarik, cerdas, ada twist kecil, humor, dan pada adegan puncak, sangat mengharukan! Tidak ada kalimat cheesy dalam 90 menit ketegangan yang disuguhkan!
  2. Masalah yang timbul selama film berlangsung begitu bertubi-tubi dan membuat kita enggan beranjak dari kursi karena tidak ingin kehilangan momen sedikitpun!
  3. Sinematografi dan visual efek yang luar biasa. Seluruh adegan berbahaya adalah hasil efek komputer yang sangat realistis, dengan aktor-aktornya disyuting dengan aman! Bumi digambarkan begitu indah dari luar angkasa sana, termasuk aurora borealis yang begitu indah.
  4. Film ini mengingatkan kita bahwa Tuhan YME telah memberikan banyak karunia kepada manusia. Dari bumi yang indah, atmosfir untuk bernafas sekaligus pelindung dari bencana luar angkasa, dan kenikmatan berupa kesempatan hidup dan untuk bermanfaat bagi sesama. Film religius yang tidak berusaha menggurui. Sekilas mengingatkan pada semangat The Grey yang diperankan Liam Neeson. Intinya adalah mempertahankan kehidupan itu wajib dilakukan manusia. Tidak boleh putus asa dengan rahmat Allah SWT seberapapun kecil peluang yang kita punya. Toh bagi manusia yang menjalankan perintah Tuhannya, meninggalpun akan memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan bertemu dengan Sang Pencipta. Bagaimana hubungan Quran dengan benda langit yang begitu teratur dan indah? Anda bisa membacanya di sini.
  5. Film ini juga memberikan gambaran yang jarang dilihat di film lain mengenai ketiadaan bunyi di luar angkasa karena tidak ada udara yang bisa menghantarkan gelombang suara, kondisi tanpa bobot, stasiun ruang angkasa, dan berbagai istilah dalam percakapan antara Houston dan para astronot.

Tips menonton:

  1. Imax 3D adalah best experience yang bisa dipilih untuk menonton film ini. Jika tidak, tonton 3Dnya. Awas kelilipan. Pakai kacamata selama menonton. Banyak serpihan beterbangan. Sayangi mata Anda 🙂
  2. Kencing terlebih dahulu sebelum menonton, jangan minum terlalu banyak. Anda tidak mau kehilangan semenitpun menonton film ini.
  3. Filmnya cuma 90 menit, jadi tidak punya kesempatan untuk membosankan. Jangan terlalu kenyang biar tidak ngantuk. Banyak adegan gelap diiringi musik yang enak. Buat yang menonton di Premier, jangan bobo yaa..

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mama (2013)

Mama menurutku adalah film horor terbaik sejak aku menonton Insidious. Film yang baru saja memenangkan Palm Springs International Film Festival ini membawa nama besar Guilllermo del Toro sebagai Executive Producernya. Dua kali aku tonton di bioskop tidak membuatku bosan dan tetap menikmati jalan ceritanya.

Film ini bercerita mengenai dua orang anak, kakak beradik keduanya perempuan, bernama Victoria dan Lily. Keduanya dibawa pergi oleh ayahnya ke sebuah kabin di tengah hutan di sebuah musim dingin. Ayahnya berencana untuk membunuh mereka setelah ia membunuh dua rekannya dan istrinya. Namun di dalam kabin itu sesuatu menyelamatkan kedua anak itu dan membunuh ayah mereka. Sejak saat itu mereka berdua tumbuh besar dirawat makhluk itu. Lima tahun berlalu, paman mereka yang tak pernah berhenti berusaha mencari keberadaan mereka akhirnya berhasil membawa mereka pulang. Namun demikian, makhluk yang memelihara mereka juga ikut bersama kedua anak kecil tersebut. Bagaimanakah paman mereka dan pasangannya bisa bertahan dari makhluk yang juga menyayangi kedua anak itu? Akankah mereka menjadi korban dari makhluk itu? Saksikan film yang menyeramkan dan banyak memberikan kekagetan dalam beberapa adegannya.

Yang saya suka dari film ini adalah:

  1. Casting yang baik. Semua pemainnya bermain bagus dan meyakinkan, termasuk pemeran Victoria dan Lily
  2. Cerita yang menyentuh hati sekaligus menimbulkan ketegangan
  3. Tempo yang pas, tidak lambat dan tidak terlalu cepat, sehingga pendalaman karakter tokoh pentingnya cukup pas buat penonton

Bagi mereka yang kecewa dengan film yang ditulis Guillermo del Toro sebelumnya, Don’t Be Afraid of the Dark, jangan khawatir, film ini akan dicintai penggemar film horor. 8/10, recommended for horror lover!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

The Cabin in the Woods (2011)

Film ini disutradarai oleh Drew Goddard, yang terlahir sebagai Andrew Goddard. Siapa sih dia?

  1. Menulis naskah film ini bersama Joss Whedon yang menyutradarai The Avengers
  2. Menulis beberapa episode serial TV terkenal, Lost, Buffy Vampire Slayer, dan Alias
  3. Menulis naskah Cloverfield
  4. Didapuk sebagai penulis skenario Robopocalypse, film robot teranyar dari Spielberg

Di usianya yang baru menginjak 37 tahun ini, prestasinya sudah cukup baik di kancah dunia perfilman. Ketika akan menonton sebuah film, mengenali jajaran penulis cerita dan sutradara bisa membantu kita memperkirakan seperti apa hasil karyanya nanti. Portofolio tidak bohong. Mengenali jajaran kru di belakang layar bisa membantu kita menentukan perlu menonton filmnya atau tidak.

Dari divisi akting, Chris Hemworth (pemeran Thor) menjadi leader dari 5 remaja yang berlibur ke sebuah rumah di tengah hutan. Tidak ada yang menyadari kalau mereka berlima sebenarnya diamati oleh sekelompok orang dalam sebuah organisasi dari sebelum berangkat hingga mereka tinggal di sana. Yang tadinya bersenang-senang, tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk undead yang tinggal di sekitar rumah itu.

Pertanyaannya adalah, apa maksud mereka diamati dan seolah-olah dijebak tinggal di rumah angker itu? Makhluk apa saja yang mengintai mereka?

Dari sisi originalitas cerita, film ini mendapat tanggapan bagus dari Rottentomatoes yang mengganjar dengan tomat merah segar di tingkat 90%. Artinya 9 dari 10 kritikus sangat menyukai film ini sebagai film horor yang tidak kacangan, dengan script yang cerdas, memberikan kesan lucu, aneh, dan menakutkan secara bersamaan.

Buat Anda penggemar horor yang digabung dengan teori konspirasi sekaligus mitologi, film ini cocok buat Anda. Jangan hiraukan endingnya, nikmati adrenalin dalam mengendarai rollcoaster filmnya.

Tips: jangan bawa anak-anak, karena sebelum horornya dimulai, banyak adegan yang kurang pantas dilihat anak di bawah umur. Cocok untuk 17 tahun ke atas saja.

7/10, cocok buat pecinta film horor. Nggak klise cenderung nyentrik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Modus Anomali (2012)

Film terbaru Joko Anwar ini membuatku penasaran. Setelah puas dengan besutannya di Pintu Terlarang, tentu saja aku tergerak untuk mencicipi karyanya yang paling gres. Iklannya ada di mana-mana, bahkan posternya dipasang di KRL Commuter Line yang aku naiki setiap hari.

Filmnya bercerita mengenai seorang lelaki yang bangun dari timbunan tanah di tengah hutan. Ia lupa akan jati dirinya dan berusaha mencari tahu siapa dia dan mengapa ia ada di sana. Satu demi satu petunjuk ia ikuti hingga akhirnya ia mengetahui siapa dirinya.

Filmnya tergolong suspense thriller, dengan pengambilan gambar yang shaky agar penonton diajak merasakan kepeningan si tokoh yang kebingungan di tengah hutan. Film yang idenya cukup cerdas ini bukannya tanpa anomali. Sebenarnya akan lebih baik kalau tidak ada telepon sama sekali dalam cerita ini. Adanya telepon justru menjadi plot hole yang bisa merusak cerita. Hal lain adalah penggunaan bahasa Inggris yang kurang luwes diucapkan para pemainnya. Dengan tampang Asia, semua pemainnya jadi terlihat kagok menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin Joko mempersiapkan film ini di kancah dunia internasional agar tanpa perlu dibuat subtitlenya. Hasilnya justru kurang believable buat penonton Indonesia.

Idenya sekali lagi menarik, menyimpan twist di belakang, namun story tellingnya bisa dibuat lebih baik. Beberapa adegan di dalam gudang dan cara bercanda Marsha Timothy dan Surya Saputra kurang meyakinkan. Syuting yang cuma dua minggu seperti dikejar setoran. Pintu Terlarang jauh lebih meyakinkan dan membuat penasaran.

Buat saya 6/10, berasa sangat pendek, lumayan untuk tontonan alternatif.

Poster Modus Anomali

Black Swan (2010)

Kalau Anda menyukai Requiem for A Dream dan Wrestler, film ini adalah salah satu masterpiece besutan Darren Aronofski. Natalie Portman diganjar best actress di pelbagai penghargaan, termasuk Golden Globe! Beautifully Dark!

Filmnya bercerita tentang balerina bernama Nina yang terpilih sebagai Ratu Balerina dan menjadi tokoh utama pementasan Swan Lake. Ia yang sangat menjiwai memerankan White Swan merasa tertantang ingin menjadi sempurna dengan sekaligus memerankan sebagai Black Swan yang kepribadiannya gelap. Lambat laun ia mengalami halusinasi seiring kemampuannya membawakan peran Black Swan! Tekanan dari ibunya yang sangat protektif dan atasannya yang menghendaki kesempurnaan dirinya membuatnya ia sulit membedakan antara realita dan halusinasi…

9/10. Luv this movie a lot. Jagoin Natalie buat Oscar 2011!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Devil (2010)

Film yang ide ceritanya berasal dari otak M. Night Shyamalan ini bercerita mengenai setan yang menyaru menjadi salah seorang penumpang lift yang macet di sebuah gedung bertingkat. Di dalam lift ada 3 lelaki dan 2 wanita yang terjebak. Satu demi satu mereka tewas dan yang masih hidup saling mencurigai satu sama lainnya. Apakah motivasi pembunuhan ini? Mengapa setan membunuhi mereka? Siapakah di antara mereka yang merupakan setan?

Apapun alasannya, setan tidak punya hak untuk datang ke lift dan main bunuh-bunuh orang seenaknya. Sudah ada yang mengatur peradilannya. Di dunia atau di akherat.

Penonton memang dibuat penasaran dan menebak-nebak siapa yang jadi setannya. Sulit untuk ditebak, tetapi setelah ketahuan tetap kurang masuk akal setan main bunuh-bunuh orang di lift seenak jidatnya.

Skor 6/10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Buried (2010)

Ini bukan film untuk semua orang. Kebanyakan orang mungkin akan kesal dengan film ini. Beberapa memuji luar biasa, sisanya akan memaki habis. Bagaimana tidak? Film ini dari awal hingga akhir hanya menampilkan 1 orang peran utama. Ryan Renolds memerankan supir truk yang diculik dan dikubur dalam sebuah peti dalam tanah oleh penculiknya. Di dalamnya dia dibekali handphone, sebuah pemantik api, senter, dan lampu fluoresence. Penculiknya minta dia merekam dirinya dan mengirimkannya ke youtube untuk meminta uang tebusan agar ia bisa dibebaskan. Ia menelpon FBI dan tempatnya ia bekerja untuk memberi petunjuk agar ia bisa dilacak posisinya dan ditemukan. Berhasilkah ia pada akhirnya diselamatkan dan berkumpul bersama keluarganya ataukah ia akan tetap terbaring selamanya kembali pada Sang Pencipta?

Ryan Renolds bermain sangat total di film ini. Ia harus menampilkan sosok orang yang frustasi, ketakutan, marah, takut, sedih, dan sebagainya bercampur aduk menjadi satu. Film ini mengingatkan pada Moon, film yang juga diperankan oleh satu orang di sebagian besar waktunya, yang diperankan dengan baik oleh Sam Rockwell. Kemudian film ini juga mengingatkan pada Open Water, dua pasang suami istri yang menyelam di tengah laut dan tertinggal oleh kelompoknya.

Film ini akan membawa Anda pada perasaan claustrophobia dan membuat Anda shocked jika membayangkan Anda yang diculik dan dikubur hidup-hidup!

Score 7/10. (Idenya menarik namun ada beberapa adegan yang kurang masuk akal atau bisa dianggap flaw / plot hole).

The Crazies (2010)

Film ini mengingatkan pada 28 Days Later, cuma bedanya wabah yang melanda daerah ini tidak menjadikan korbannya menjadi zombie. Mereka hanya bertindak gila dengan membunuhi orang-orang di sekitarnya. Wabah yang tersebar karena senjata biologis yang menyebar di sungai karena pesawat yang membawanya jatuh ini mencemari air minum dan mulai membuat gila warga.

Timothy Olyphant yang jadi musuh Di Die Hard 4 dan pemeran Hitman ini menjadi sheriff di sebuah kota kecil yang terpaksa harus berjuang agar tidak terbunuh oleh korban yang meminum racun atau oleh tentara Amerika Serikat yang tidak segan membunuh siapapun di tempat yang menunjukkan gejala kegilaan.

Filmnya cukup menegangkan namun tidak ada hal baru. Mengingatkan thriller klasik beberapa tahun silam, persis seperti film aslinya di tahun 1973. Ya, film ini adalah remake karya George A. Romero yang suka film tipikal zombie dan wabah. Mendapatkan rated R, sangat tidak cocok untuk anak-anak untuk darah dan kekerasan yang ada.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Skala 10 cukup 7 saja. Mengingatkan pada film aslinya. Yang suka nonton 28 Days Later dan sejenisnya bolehlah nonton film ini.