Berkemah di Gunung Papandayan

Beberapa waktu yang lalu di awal bulan Oktober 2019, saya sekeluarga dan 30 orang lain yang sebagian besar adalah teman kantor, pergi berkemah ke Gunung Papandayan di Garut. Teman-teman di kantor menyewa bus sementara saya dan satu keluarga lain membawa mobil sendiri karena pergi bersama keluarga. Dari Serpong kami berangkat sekitar pukul setengah sebelas malam dan sampai di Garut menjelang subuh. Jalanan cukup lancar, tidak ada kemacetan yang berarti. Panduan kami hanya Waze saja sampai ke Camp David Papandayan.

Di Sumedang, selepas tol Cileunyi, kami mampir makan tahu Sumedang yang masih hangat dan tahunya baru keluar dari pabrik. Jam menunjukkan sekitar pukul tiga pagi dini hari. Sungguh nikmat sekali. Azan subuh berkumandang ketika kami sudah dekat Garut dan kami memenuhi panggilan untuk menunaikan kewajiban sholat subuh berjamaah di Masjid Al Kholil.

Kami menikmati pemandangan indah daerah Garut dan sekitarnya. Ketika melewati daerah Mekarbakti, saya berhenti dulu di tengah jalan sambil mengambil gambar.

Sebuah bukit di pagi hari di daerah Mekarbakti Garut

Perjalanan menuju Camp David Papandayan cukup menanjak dan membuat mesin mobil terkadang harus bertahan di gigi satu. Di kiri dan kanan jalan semakin lama semakin jauh dari perumahan warga. Akhirnya kami tiba di Camp David yang memiliki lahan parkir beraspal halus dan sangat luas. Saya yakin campur tangan pemerintah daerah setempat yang memungkinkan fasilitas yang membanggakan ini bisa tersedia.

Gerbang Selamat Datang

Bila kita pergi ke base camp gunung lain, keindahan mungkin baru bisa dinikmati setelah kita mendaki. Ini tidak berlaku bagi Gunung Papandayan. Dari lahan parkirnya saja keindahannya sudah terlihat. Toilet bersih berjajar. Warung makan dan penyewaan mendaki gunung banyak tersedia. Tempat untuk berfoto-foto ada.

Lahan parkir yang super luas dengan latar belakang gunung nan indah

Board Game: War of the Words

Hi everybody!

This posting will be dedicated to announce and discuss about my first board game : War of the Words. This game was elected as one of 20 official board games which eligible to be displayed in Essen Spiel 2019 Board Game Yearly Exhibition in Germany.

I will update the components, rule book, and the mechanic of the game soon! Consider this posting as a teaser 🙂

Read the story here.

Berkemah (lagi) di Curug Cipamingkis dengan Suasana Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman kantor memutuskan untuk berkemah di Curug Cipamingkis. Ada beberapa keluarga yang ikut, total sekitar 30-an orang, dengan berbagai usia. Ini adalah kunjungan kami yang kedua, setelah kunjungan bersama mertua sebelumnya yang pernah saya bahas di artikel tentang Curug Cipamingkis ini dua tahun lalu. Kali ini tiap orang harus membayar 60 ribu rupiah untuk menginap semalam (sewa lahan), berenang di dua kolam renang, dan ke air terjun.

Acara kali ini dihadiri beberapa keluarga teman saya di kantor dan di Quora. Total ada sekitar 30-an orang yang memeriahkan acara kali ini.

Ada banyak perubahan yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Warung tenda yang masih beratapkan kayu kini sudah diganti yang lebih resmi dengan atap baja ringan.

Sebelah kiri, dua tahun lalu, masih terpisah per warung. Kini sudah menyambung dengan toilet umum di tengah

Begini penampakan warung yang terletak di samping water park buat anak-anak.

Warung dan Water Park

Di samping warung dan di tepi sungai, dulu masih bisa mendirikan tenda persis di tepi sungai tanpa harus menyeberang. Sekarang harus menyeberang sungai. Di tempat saya mendirikan tenda kini menjadi lahan parkir berbatu koral yang dipecah-pecah, dan di tepi sungai diberi villa berbentuk tenda dalam tiga warna.

Perbedaan yang cukup signifikan

Berikut penampilan lebih dekat ketiga villa yang berwarna ngejreng dan beratap seperti tenda itu.

Saat kami ke sana, air sungai masih kering karena sudah cukup lama tidak hujan. Meskipun demikian pasokan air untuk mandi dan kolam renang sangat aman.

Sungai dan Jembatan Cinta di Cipamingkis

Saya dan Dony Alpha membawa masing-masing lima tenda untuk dipergunakan kawan lain yang belum memiliki tenda. Tenda berbagai jenis warna dan ukuran semuanya bisa digunakan dengan baik untuk tidur. Mau lihat penampakannya?

Tenda Beramai-ramai dan Keceriaan Anak-anak

Inilah penampakan tenda-tenda kami.

Mau lihat kolam renangnya seperti apa? Nih monggo…

Kolam renang baru di Curug Cipamingkis

Meskipun dingin, tapi lama-lama tubuh kita akan menyesuaikan kok. Saya sendiri sengaja membawa baju renang one piece agar tidak terlalu dingin. Sangat menyenangkan dan bisa mengisi waktu dengan olahraga ketika berkemah di Curug Cipamingkis ini.

Setelah sorenya berenang, malamnya ibu-ibu memasak dan anak-anak menonton film, bermain Nintendo Switch, dan bermain board games.

Menonton film bersama

Ibu-ibu memasak, dipimpin oleh Mbak Sum dari keluarga Ridwan yang sudah terkenal pembuat nasi kebuli enak.

Tenda tidak perlu boring. Dengan sedikit sentuhan lampu, bisa menyegarkan suasana menjadi lebih meriah
Memasak di depan tenda kerlap-kerlip

Bagaimana dengan keseruan lainnya?

Kami juga berfoto di rumah pohon dan air terjun. Secara ringkas, trailer version dari acara ini bisa dilihat di video berikut.

Video Trailer Camping Bareng

Oh ya, meski masih tidak ada sinyal semua provider, tapi ada Wifi di dekat kantor Pos Depan Cipamingkis. Silakan serahkan gadget Anda, nanti password wifinya diisikan 🙂 Gratis kok.

Demikian yang bisa saya sampaikan kali ini mengenai kunjungan kedua ke Curug Cipamingkis. Sangat menyenangkan sekali karena yang ikut sangat ramai dan semua berpartisipasi dalam menyemarakkan acara seru ini. Board game dari Splendor, Exploding Kitten, Donuts for Go Nuts, hingga Werewolf semuanya dimainkan dengan semangat.

Saya merekomendasikan tempat ini untuk berlibur bersama keluarga dan menyatu dengan alam.

Hereditary (2018) – Horor Klasik Mencekam yang Menyiksa Anda Perlahan-lahan

Inilah film horor terbaru yang ramai dibicarakan netizen beberapa bulan terakhir ini dan ditunggu-tunggu oleh para penggemar genre horor. Film horor yang dibesut oleh sutradara jebolan American Film Institute yang bernama Ari Aster ini sempat dipuji di akun Twitter sutradara Pengabdi Setan, Kang Joko Anwar.

joko_anwar

Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga yang baru saja ditinggal mati oleh nenek dari pihak Ibu. Anggota keluarga tersebut adalah:

  • Sang ayah (Steve) diperankan oleh Gabriel Byrne (The Usual Suspects, In Treatment),
  • ibu (Annie) oleh Toni Collette (The Sixth Sense (nominasi Oscar sebagai aktris pembantu terbaik), Little Miss Sunshine)
  • putra pertama (Peter), diperankan oleh Alex Wolff (Jumanji: Welcome to the Jungle)
  • putri bungsu (Charlie), diperankan oleh Milly Shapiro (Broadway Kids Against Bullying: I Have a Voice)

family
Keluarga Steve

Ulasan saya ini mungkin akan Anda anggap memiliki SPOILER, namun percayalah, saya tidak akan merusak kesenangan Anda menonton dengan memberitahu hal penting dalam film ini. Meskipun demikian, jangan lanjutkan membaca jika Anda sangat sensitif dengan petunjuk sekecil apapun.

Lanjutkan membaca “Hereditary (2018) – Horor Klasik Mencekam yang Menyiksa Anda Perlahan-lahan” →

A Quite Place (2018) – Horor Tanpa Hantu yang Mengguncang Bioskop

Ketika trailernya dibagikan via whatsapp di Group Movie Lover oleh sesama moviegoer, saya langsung tertarik untuk menontonnya. Premisnya menarik, if they hear you, they hunt you. Eh, kamu dah lihat trailernya belum sih?

Orang awam banyak yang mengira kalau film horor itu film berhantu. Banyak yang salah kaprah. Film horor itu ya film yang menakutkan, bukan hanya karena hantu atau hal supranatural, tetapi apapun yang menimbulkan kengerian dan membuat kita takut, masuk kategori film horor. Nah, A Quiet Place adalah salah satu film horor terbaik dalam lima tahun terakhir yang tidak mengandung hantu seekorpun. Iya. Gak ada Valak, gak ada badut rese yang muncul suka-suka, atau orang kesurupan ketekuk-tekuk badannya. Nggak. Nggak ada itu semua.

ghostbusters-animated-movie
Dijamin, gak ada hantu sama sekali di film ini

Teyyusss, adanya apa dong? Lanjutkan membaca “A Quite Place (2018) – Horor Tanpa Hantu yang Mengguncang Bioskop” →

5 Alasan Kamu Mesti Nonton Coco (2017)

Pas nonton trailernya di bioskop, sempat was-was, “Duh, Pixar Disney nyontek Book of Life yang dibiayai oleh Guillermo del Toro tahun 2014 yang lalu?”

Gimana gak mau parno coba. Keduanya mengusung tema kultur Meksiko dengan sombrero dan churrosnya, dengan Día de los Muertos, yaitu Day of the Dead, festival untuk mengenang mereka yang sudah meninggal agar tidak terlupakan dan musnah di The Land of The Remembered. Ada lagi? Oh ya..  dengan seorang anak lelaki dan gitarnya, musiknya, dan nilai kekeluargaannya yang kental.

Akhirnya saya sempat cari info apakah Coco mengekor Book of Life atau memberikan sesuatu yang baru. Setelah googling, saya baru tahu kalau Coco akan mengusung tema yang berbeda. Dan selepas menontonnya, ternyata benar!

Inilah 5 alasan mengapa kamu kudu nonton Coco… Lanjutkan membaca “5 Alasan Kamu Mesti Nonton Coco (2017)” →

Camping di TNGP Cibodas

Minggu lalu kami sekeluarga pergi berkemah di Cibodas Golf Camping Ground dekat Cimacan. Lokasinya setelah Puncak Pass kalau dari Jakarta. Kalau mau ke sini pakai angkutan umum, naik saja elf atau bis dari Bogor, arah Cianjur. Nanti tinggal turun di pertigaan Cibodas, naik angkot sekitar 2 km ke Taman Nasional Gede Pangrango.

Img7

Ridwan, teman saya sekantor juga membawa keluarganya untuk camping bersama. Winny Marlina, teman blogger lama, ikutan bersama juga. Sayang dua temannya tidak bisa ikutan karena ada aktivitas dadakan terkait pekerjaan.

Ini kali ketiga saya datang ke TNGP. Pertama kali bersama rekan-rekan sekantor untuk mendaki Gunung Gede sekitar empat tahun silam. Yang kedua, tadinya mau naik ke Pangrango namun karena ada sesuatu hal, kami hanya trekking ke Curug Cibeureum sekitar dua tahun yang lalu. Nah kali ini kami membawa keluarga, dan ingin mengenalkan indahnya kawasan TNGP Cibodas, sambil camping dan trekking ke air terjun Cibeureum.

Berkemah di Cibodas Golf Camping Ground sangat direkomendasikan. Mengapa?

Lanjutkan membaca “Camping di TNGP Cibodas” →

Jalan-jalan ke Jawa Tengah

Sekitar 10 Agustus 2017 silam, kami sekeluarga pulang kampung ke Tegal untuk mengantar Mom berangkat ke tanah suci via embarkasi Solo. Kebetulan, seorang sepupu dari almarhum ayahku juga minta dibawakan laptop yang dibeli di Jakarta via Tokopedia. Ya sudah, sekali merengkuh dayung, tiga hari capeknya gak ilang-ilang. Hehehe.. Maksudnya sekali jalan, dapat kesempatan silaturahim juga, secara belum pernah bertemu secara langsung dengan mereka.

Img1

Perjalanan menuju Tegal cukup lancar, meski tol Cikampek masih banyak pembangunan. Sampai di Tegal pagi hari, aku langsung bobo membayar tidur yang kurang semalaman.

Sorenya acara pelepasan para calon jemaah haji dari desa kampung halaman, dimulai. Alhamdulillah begitu banyak yang berdatangan ke rumah Mom untuk mendoakan beliau. Semoga beliau menjadi hajjah mabruroh… aamiin Yaa Rabb..

DGRH9602.jpg

Setelah berdoa bersama di masjid bersama segenap pengurus masjid, warga setempat, dan keluarga calon jemaah haji, kami semua berangkat ke Kantor Pemda Kab. Tegal di Slawi untuk berangkat dengan bus bersama-sama sesuai kloter masing-masing.

AYMU2288

Setelah selesai mengantar Mom di pendopo kabupaten, kami berempat melanjutkan perjalanan dari Slawi ke Tegal, sebelum mengarah ke Solo. Seperti ritual setiap mudik, mencicipi kuliner di Warung Senggol dekat Masjid Agung Tegal tidak dilupakan.

GRTV2630
Sate Kambing Muda yang Maknyuss

LCCG5964
Sup Kaki Kambing yang AMAZING

Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Jawa Tengah” →

5 Alasan Kudu Nonton Guardians of Galaxy Vol. 2 dan The Autopsy of Jane Doe

Akhirnya setelah menunggu sekitar tiga tahun, sekuel Guardians of Galaxy tayang juga dengan sukses dan lumayan heboh. Film ini bukan sekedar film superhero biasa. Pada intinya apa yang dijual di Fast Furious 8, di sini juga menjadi tema sentral, yaitu KELUARGA.

Alasan kenapa kamu harus nonton film ini, adalah:

  1. Ada REUNI KELUARGA. Ada anak yang bertemu dengan ayah kandungnya, dan ada yang bertemu dengan saudaranya, ada juga yang tadinya dianggap penjahat namun dikenang sebagai orang yang terdekat dalam hidupnya.
  2. Lagu-lagu klasik yang menghiasi film ini sangat keren dan enak dinikmati, terutama Fathers and Son karya Yusuf Islam yang dulu dikenal sebagai Cat Stevens. Adegannya sangat pas diiringi lagu ini. Mengharukan.
  3. Humornya benar-benar nonstop dari awal hingga akhir. Siapkan perut kamu agar tidak kram selama nonton!
  4. Visual FXnya dijamin keren abis. Delapan perusahaan visual FX dikerahkan untuk mengerjakan semua visual FX yang keren abis. Lihat saja Groot yang jadi super unyu di film ini setelah berkorban di film pertama.
  5. Ada bonus adegan tambahan setelah film berakhir. Ada L I M A. Jangan buru-buru pulang yaa..

James Gunn sebagai sutradara berhasil dengan baik mengolah emosi penonton, dari bahagia, tercengang, hingga sedih. Semua digabungkan dengan pas dan tidak membosankan. Alurnya cepat, penonton dibuat menunggu dan penasaran dengan adegan berikutnya.

Saya menonton film ini hingga 3 kali di bioskop, sekali karena dapat tiket gratis 🙂

Filmnya panjang, jangan lupa bawa cemilan dan cemolan sebelum nonton ya!

Naaaah… sekarang kita ngomongin film horor. Buat kamu pencinta film horor, The Autopsy of Jane Doe jangan dilewatkan. Nih coba lihat trailernya:

Ceritanya, ada pembunuhan di sebuah rumah, dengan empat jenazah. Tiga ditemukan tewas secara brutal, satu ditemukan telanjang bulat tanpa luka terkubur setengah badan di lantai dasar. Nah Tommy yang diperankan Brian Cox (Red, X-Men 2) dan anaknya Austin yang diperankan Emile Hirsch (Into the Wild, Milk) mendapatkan kiriman jenazah wanita tak dikenal yang kalau di sini disebut si Fulanah, di sana dikenal dengan Jane Doe.

Mulanya autopsi berjalan dengan lancar di rumah mereka yang memang dilengkapi fasilitas krematorium dan autopsi ini. Namun berbagai keanehan muncul dan meneror mereka. Apakah mereka berhasil mencari tahu siapa gerangan si Jane Doe itu?

Film ini berhasil membuat para penonton merasa ngeri dengan suasana ruangan autopsi itu sendiri. Bayangkan kalian berada di rumah besar, di ruangan bawah tanahnya ada ruang autopsi, hanya berdua saja mengautopsi jenazah di dalam keadaan hujan badai di luar sana. Penonton selalu  dibuat penasaran apa lagi yang akan muncul berikutnya..

Sangat fresh idenya, tidak boleh dilewatkan buat pencinta horor. Visual FXnya bagus, membuat kita bergidik dan ngeri melihat proses autopsinya. Musiknya begitu mencekam, sangat cocok dengan adegannya yang membuat kita mengkeret di kursi.

Beda banget deh sama Conjuring dan Insidious! 8/10 aku kasih.

5 Hal Positif dari film The Last Word (2017)

Nonton film ini semalam atas undangan dari Mbak Angela Ponggeng, Movie Distribution and Marketing Indonesia Entertainment Group di CGV Grand Indonesia. Saya sangat senang mendapat kesempatan menonton film yang berisi harta karun. Harta apa sih? Pesan moral yang bagus, yang bisa memotivasi diri kita agar lebih baik. Ada banyak jenis film, dari yang hanya buat seru-seruan gak ada isinya, tapi menghibur, sampai ke film yang bisa memberikan pencerahan hidup kita. Kamu tipe apa? Penikmat film asal “rame”, atau bisa menerima segala macam bentuk film yang beragam? Saya sendiri suka hampir semua genre film. Bring it on. Semakin aneh, semakin unik, semakin nge-twist, saya makin suka.

Img2

Film The Last Word termasuk film yang bila kita serius nikmati, akan membawa pesan yang sangat-sangat dalam. Film ini menceritakan tentang Harriet Lauler (diperankan Shirley MacLaine, saudara perempuan Warren Beatty), seorang wanita usia lanjut yang sempat meraih kesuksesan sebagai pebisnis di bidang periklanan yang kesepian. Ia mencoba bunuh diri dengan pendekatan OD, namun gagal. Ketika anggurnya tumpah di meja makan membasahi koran, tak sengaja ia melihat tulisan obituari orang lain yang baru meninggal. Ia membayangkan dirinya yang mati, namun ia tak dapat menemukan hal-hal positif yang dapat dituliskan untuknya. Akhirnya ia mencoba meminta Anne Sherman (diperankan Amanda Seyfried), wartawan “Bristol Gazette”, yang biasa menulis obituari, untuk menuliskan obituarinya selagi ia masih bernafas!

Img3

Ternyata menuliskan obituari buat seseorang yang masih hidup macam Harriet yang control freak dan menyebalkan ini bukan pekerjaan trivial. Dari mantan suami, kolega, anak, dan semua temannya tidak ada yang memberikan komentar positif akan kehidupan Harriet.

Dari sinilah titik balik kehidupan Harriet dimulai. Ia tahu bahwa obituari yang bagus harus berisi tentang kenangan indah keluarga dan koleganya terhadap dirinya. Ia juga harus punya pengaruh positif dalam kehidupan seseorang dan ia harus punya sesuatu yang positif yang menggambarkan dirinya untuk dikenang selamanya. Nah di sinilah kita harus belajar. Usia seseorang tak pernah kita ketahui. Kita tak tahu kapan harus pergi meninggalkan dunia ini. Obituari apakah yang kita inginkan orang tulis ketika kita meninggal nanti? This is the very JLEB moment for each of us. Kita mau dikenang sebagai orang yang baik? Jahat? Tidak amanah? Menyebalkan? Adakah legacy yang kita tinggalkan buat masyarakat? Adakah ilmu yang bermanfaat? Banyakkah manfaat kita buat sesama? Film bergenre drama komedi ini seakan menampar kita, woy sampai detik ini kamu nyebelin apa ngangenin sih orangnya? Apakah kamu mau menunggu jadi renta baru mau taubat?

Img4

Harriet akhirnya mendapatkan realita pahit sebagai titik tolak dalam hidupnya untuk mencoba mengisi sisa hidupnya dengan kenangan yang indah. Berhasilkah dia untuk mendapatkannya di akhir hidupnya? Ataukah justru dia semakin terpuruk dan tenggelam dalam kesinisan perangainya?

Film dengan durasi 108 menit ini tidak hanya menampilkan sisi drama, namun juga komedi. Beberapa adegan akan membuat kita terbahak atau tersenyum dan seakan sesekali menertawakan diri kita sendiri.

Ada setidaknya 5 hal positif yang bisa saya bawa pulang setelah menonton film ini:

1 – Jangan takut mengambil resiko

Salah satu favorit quotes dalam film ini adalah:

“Are you willing to take a risk to do something stupid?”  …. or…..

“Are you willing to take a risk to do something great?”

2 – Hidup adalah saat kita menuliskan cerita yang akan dibaca orang lain ketika kita mati kelak

Tuliskan jalan cerita hidup kita sepositif mungkin, mulai sekarang, jangan menunggu tua.

3 – Beranilah untuk gagal

Jangan takut gagal, karena dari kegagalan kita belajar. Belajar menjadi lebih baik, belajar mencari cara lain untuk mencapai mimpi kita, dan belajar keluar dari zona nyaman.

4 – Bersikaplah santun kepada sesama

Mengumpat dan berkata yang buruk akan menimbulkan aura negatif. Berkata sopan dan baik lebih mulia untuk menyampaikan hal yang sama daripada memilih kata-kata kotor yang menyakiti orang lain.

5 – Pada akhirnya, bukan harta yang membuat kita bahagia, namun orang terdekat kita, yaitu keluarga

Harriet mencoba bunuh diri di usia tua jauh dari suami dan anak kandungnya. Semua terjadi karena pilihan hidupnya. Akankah kita membiarkan kita berlaku semaunya asal kita happy? Mentang-mentang : ini diri saya kok. Saya ya emang begini. Ini alasan saja sebenarnya agar kita tidak mengubah tingkah laku buruk kita. Jangan dong ah. Kalau buruk ya kita perbaiki. Bisa kok, meski sulit di awalnya.

Saksikan film yang tayang di CGV dan Cinemaxx mulai Rabu depan, 19 April 2017, sebagai tontonan alternatif selain film seru yang  mulai tayang pada hari ini, The Fate of The Furious. Film horor asyik, film kebut-kebutan juga asyik. Tapi hidup kita bukan cuma yang asyik-asyik. Kita butuh pencerahan dalam hidup, untuk meningkatkan kualitas hidup kita.

Selamat menonton!