Allah Maha Baik

Pengajian malam ini bersama Aa Gym di Masjid Daarut Tauhid.
Selalulah berprasangka baik kepada Allah SWT.  

 Contoh:

Ada ajudan yg selalu berpikir semua yg terjadi adalah yang terbaik dari Allah SWT. Suatu ketika raja sedang berburu jempolnya digigit sampai buntung ama macan. Ajudan bilang ini pasti yang terbaik. Raja kesal ajudan dimasukkan ke dalam penjara. Beberapa waktu kemudian Raja berburu lagi tapi tertangkap suku kanibal. Pas mau dipersembahkan raja ketahuan buntung jempolnya lalu dilepas karena dianggap cacat. Saat itulah raja menyadari buntungnya jempolnya adalah yang terbaik dari Allah. Dia kembali ke istana mengeluarkan ajudanny dan mengaku salah. Dia bertanya bagusnya apa buatmu masuk penjara? Ajudannya bilang kalau gak di penjara ia akan menemani raja dan mati dibunuh suku kejam itu.

Alhamdulillah kita jadi manusia.
Coba jadi penguin. Jadi lelaki nungguin telor tiga bulan. Coba jadi nyamuk. Cari nafkah jiwanya selalu terancam. Belum makan kadang sudah mati. Udah makan dikejar karena dendam.

Fa bi ayyi alaa i rabbi kumaa tukadzdzibaan.. Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan.

Termasuk waktu kejadian dulu gonjang-ganjing Aa nikah lagi. Kejadian itu justru menambah kedekatan Aa dengan Allah SWT. Kota di mana DT sedang dibangun masjid yang bagus. Bisnis lebih profesional dst.

Contoh lain ttg permainan sepakbola. Masalah goal mah biasa. Itu masalah takdir. Yang indah adalah bagaimana para pemain memiliki koordinasi tinggi, kombinasi tekanan darah, adrenalin, jantung, motorik, dst. Itulah keindahan yang sebenarnya.

Alkisah ada orang kaya yang tanahnya luas, tinggal sepetak milik kakek miskin. Si kaya hidupnya sengsara karena mikirin rumah kecil itu. Pas dikunjungi si kakek lagi bersyukur alhamdulillah. Diucapkan salam sama si kaya, si kakek menjawab salam sambil alhamdulillah. Karena berarti dia memiliki telinga yg bisa mendengar. Bersyukur bisa melihat tamunya. Akhirnya si kaya sadar kesengsaraannya karena ia kufur nikmat.

Meskipun hujan, datang ke majelis taklim insya Allah banyak manfaatnya. Malaikat datang mengampuni dosa-dosa, sesuatu yang mungkin tidak didapat ketika kita hanya baca via internet, radio, dan remote distance learning lainnya.

Menuju Puncak Rinjani

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari Ekspedisi ke Rinjani, bagian pertama bisa dilihat di sini, dan bagian ke dua dapat dibaca di sini.

14 Agustus 2015 02:00 WITA

Pukul dua dini hari, Oniel dan Marvin sudah bersemangat berkeliling tenda berteriak sahuur-sahurr.. membangunkan tim untuk persiapan Summit Attack. Pak Kumis sudah menyiapkan roti bakar untuk disantap sebelum berangkat. Tas kecil yang sudah kami siapkan sebelum tidur kami ambil dan diisi kebutuhan kami. Air nomor satu. Saya membawa kurma dan snicker untuk di jalan. Jaket tebal segera dipakai, buff dipasang menutupi hidung dan leher untuk mencegah dingin, kupluk saya pakai untuk menutupi telinga dan kepala. Trekking pole aku sambar dan kamera HP + kamera Action aku masukkan ke tas. Looking good.

Setelah membaca doa dan briefing dipimpin Kombes Dadang, kami bergerak dengan head lamp menyinari jalan yang gelap dan dihembus angin dingin. Perjalanan menuju puncak dibagi menjadi tiga bagian:

  • Bagian awal terdiri atas tanah berpasir dan kerikil di mana setiap kita naik dua langkah gravitasi menarik kita kembali satu langkah
  • Bagian tengah tanahnya relatif lebih padat dan tidak terlalu terjal, bonus setelah perjuangan di sepertiga pertama yang sangat melelahkan
  • Bagian ketiga adalah bagian tersulit di mana banyak pendaki yang balik kanan di sini. Medannya mirip dengan sepertiga pertama, namun beberapa batu ukurannya lebih besar. Naik dua langkah, selangkah turun kembali.

Menjelang fajar menyingsing saya mengambil tayammum dan sholat subuh di tengah deru angin dingin. Saya ingin melihat sunrise, namun kewajiban harus ditegakkan. Jangan sampai kita menjadi hamba sunrise 🙂 Setelah sholat kami terus bergerak karena puncak masih jauh. Kecepatan saya berjalan tidak secepat Oniel, Marvin, dan Nanang. Tapi semangat tidak boleh putus.

Febru matanya kemasukan pasir kuarsa dan lumayan mengganggu pemandangan ke depan. Karena dia sudah pernah mencicipi Puncak Rinjani dia memutuskan untuk kembali ke base camp. Andra yang sempat kram kakinya turun bersama Febru. Pak Yakob yang kelaparan karena salah memasukkan tisue dianggap roti. Karena beliau dulu juga sudah pernah ke puncak akhirnya turun juga.

Saya berjalan pelan bersama Saeng, Erik, dan Dadang. Erik merasa kelelahan dan dia ingin turun. Dadang dan Saeng sempat memikirkan kemungkinan untuk turun juga, namun saya merasa tanggung untuk pulang sekarang. Puncak sudah menggapai di depan mata. Usaha untuk turun hampir sama melelahkannya dengan naik. Saya memutuskan untuk terus. Akhirnya Saeng dan Dadang menemani saya ke puncak, Erik turun ke base camp. Terkadang ketika lelah kami istirahat sebentar sambil menikmati indahnya alam. Saat ini saya begitu sadar bahwa keindahan Rinjani di foto masih kalah ketika dilihat langsung. Udaranya yang sejuk, warna yang begitu indah dipandang mata, semuanya menimbulkan rasa syukur kepada Ilahi atas karunia bumi pertiwi yang indah ini.

Perjalanan begitu panjang, angin begitu kencang, otot lelah terguncang. Tiga langkah jalan, saya mengambil nafas. Memandang puncak, maju lagi. Teringat akan almarhum ayah yang meninggal tahun 2013 yang lalu. Beliau dulu wadalah pencinta alam dan mendaki banyak gunung di usia mudanya. Jika aku bisa mencapai puncak, keberhasilan ini akan kudedikasikan untuk beliau. Doa kupanjatkan terus pada Ilahi. Mohon diberi kekuatan dan keselamatan sampai puncak.

Mendekati puncak aku berpapasan dengan Oniel dan Nanang. Marvin entah lewat mana tak berpapasan dengannya. Akhirnya setelah berjalan dan diselingi istirahat sekitar 8 jam sampailah ke puncak.

Syukur Alhamdulillah
Syukur Alhamdulillah
Donny, Me, Saeng, dan Dadang
Donny, Me, Saeng, dan Dadang

Tidak terasa saya menangis terharu. Lelah begitu panjang dan kebahagiaan bisa mencapai puncak, ingatan kepada almarhum ayah, semua bercampur aduk menjadi satu. Tidak peduli saya dianggap pendaki cengeng. Biarlah orang berkata apa. Tapi saya tidak kuasa menahan gejolak dalam dada. Saya ingin menumpahkan segalanya. Lelah dan bahagia. Dan kerinduan pada ayahanda.

Donny Ari Surya juga menyampaikan perasaannya ketika mencapai puncak:

Inilah sambutan Kombes Dadang di atas Puncak Rinjani:

Beginilah pemandangan ketika turun:

Ketika turun kami hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam termasuk berhenti istirahat di beberapa tempat untuk makan kurma dan snicker. Di beberapa tempat kami juga mengambil foto. Saya tidak tergoda untuk mengambil eidelweiss karena pendaki sejati tidak mengambil apapun kecuali foto, tidak meninggalkan apapun kecuali jejak dan kenangan.

Begitu sampai saya langsung minum pocari dua botol langsung dari sachet yang saya bawa dari rumah. Badan alhamdulillah terasa segar dan langsung disambut mie goreng telur ceplok Pak Kumis. Nikmat sekali.

Karena waktu untuk ke danau Segara Anak sudah tidak ada karena menurut porter agak berbahaya jalan malam ke sana, akhirnya diputuskan kami tidak jadi ke Segara Anak, langsung turun kembali ke Plawangan Sembalun, tidak jadi dari Plawangan Senaru. Untung sekali kami mengambil jalan ini karena sepatu saya juga jebol ketika menuju pos 1 Sembalun.

Malam itu kami beristirahat di Plawangan Sembalun yang kedua kali sebelum besok mengucapkan selamat tinggal kepada Rinjani. Tempat indah karunia Ilahi yang begitu mempesona. Kewajiban kita untuk menjaga kebersihannya. Semoga dibuat tempat sampah untuk menampung sampah di Plawangan Sembalun atau Senaru, sehingga memudahkan pengumpulan sampah untuk dibawa kembali turun ke bawah. Bintang begitu indah. Semua menjadi saksi kebahagiaan kami mencapai puncak Rinjani. Malam ini kami harus cukup istirahat agar besok bisa pulang lebih awal menuju Sembalun.

Bersambung

Menuju Plawangan Sembalun – Kaki Rinjani

Tulisan ini merupakan bagian kedua, sambungan dari postingan sebelumnya yang merupakan Bagian Pertama.

Salah satu hal yang paling indah adalah sarapan pagi di Pos 2 karena matahari belum terik dan bisa berfoto dengan latar belakang Gunung Rinjani, 3726 mdpl. Sewaktu kami pulang dan melewati pos 2 pas tengah hari bolong, semua orang hanya berkonsentrasi pada air dan berteduh di bawah tenda atau fly sheet. Sulit menikmati keindahan sabana dengan latar belakang mayestik dengan suhu panas menyengat dan kekurangan air. Bila kekurangan air, pastikan isi kantong air Anda (botol, hydro water, dsb) di sini.

Berikut ini adalah video penampakan Pos 2 di pagi hari:

Setelah kami selesai packing, kami melanjutkan perjalanan melewati sabana dengan tujuan ke arah pos 3. Pada awalnya jalanan agak mendatar dan tanjakan tidak berasa. Namun setelah pos 3, mental para pendaki harus disiapkan karena di sinilah letak perjuangan sebelum puncak.

Inilah penampakan sabana yang indah dan sulit ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tujuh bukit penyesalan. Sebenarnya ini tergantung dari kita. Mau dikasih nama bukit rasa syukur, bukit tantangan, atau bukit yang pasti berakhir, itu semua tergantung kita. Bagaimana cara pandang kita saja. Yang jelas, kalau naik gunung kita harus bermental positif. Setiap kami kelelahan, saya dan Donny Ari Surya dan Saeng, saling menguatkan. Kami saling meneriakkan kata-kata penuh semangat. Dari man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya), Inna ma’al usri yusraa (sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan), tidak ada bukit yang menyentuh langit (setiap bukit pasti ada ujungnya), dan sebagainya. Setiap kali kami saling mengingatkan dengan kata-kata positif, seakan kami mendapat suntikan energi untuk maju lagi. Salah satu hal yang biasa saya lakukan kalau lari pagi di kompleks perumahan juga saya terapkan. Agar tidak sering berhenti kalau berlari, saya melihat sesuatu yang mencolok sekitar 50 – 100 meter di depan dan mengatakan pada diri sendiri, ayo lari lagi sampai tiang yang ada spanduk merahnya itu. Demikian seterusnya saya menipu otak bahwa saya sedang tidak menuju goal yang sangat sulit, namun goal sederhana setiap waktunya. Pada saat menanjak, saya melihat satu pohon kecil, saya bilang ayo jalan terus, istirahat di pohon kecil itu. Istirahat sebentar atur nafas, baru melanjutkan lagi mencari mile stone berikutnya.

Hal seperti ini kadang memang ada ujiannya. Pernah dulu pas lari di kompleks mengatakan saya akan istirahat sebentar di mobil merah di depan sana. Eh pas mau sampai, mobilnya jalan. Masak harus mengejar? Pas mau naik di bukit penye.. eh bukit rasa syukur, tidak ada pohon yang cukup dekat untuk beristirahat. Ya sudah jalan sekuatnya saja hahaha..

Ada satu hal yang saya lupa waktu berjalan ke Pos 3, yaitu melakukan pemanasan. Hasilnya di tengah jalan saya mengalami kram. Alhamdulillah waktu itu membawa krim luar untuk memanaskan otot sehingga tidak lama bisa kembali berjalan. Lesson learn: jangan lupa melakukan pemanasan sebelum memulai pendakian. Best practice: bawa selalu krim pemanas favorit Anda dan selalu siap di kantong celana.

Sesampainya di Plawangan Sembalun, satu kemenangan, satu kepuasan, satu kebahagiaan dirasakan oleh semua pendaki. Perjuangan dari base camp hingga pos 2, dari pos 2 hingga pos 3, dan dari pos 3 hingga bukit yang aduhai, digantikan dengan kepuasan tak terkira melihat awan berarak ditiup angin di bawah kaki para pendaki. Awan yang dulu kami lihat dengan cara menengadahkan kepala, kini bisa kami lihat dengan cara sebaliknya.

Berdiri di atas awan
Berdiri di atas awan

Persis di atas pertigaan Plawangan Sembalun, ada penjual minuman dingin yang dihargai gila-gilaan. Pulpy orange kecil, mizone, pocari, coca-cola kaleng kecil dihargai 40 ribu rupiah. Bir bintang yang haram itu dibandrol 90 ribu rupiah, yang membuat para bule-bule tertawa mendengar tawaran gila itu. Namun tetap saja ada yang membelinya sebagai hadiah kecil atas separuh kemenangan sebelum puncak itu.

Minuman berharga fantastis
Minuman berharga fantastis

Mari kita lihat slideshow indahnya pemandangan ketika sampai di Plawangan Sembalun. Hadiah setengah perjuangan sebelum Puncak.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jika Anda penasaran dengan tim kami yang ingin merayakan kemenangan kecil ini, mari silakan dilihat kecentilan kami berpose melupakan penat dan asam laktat yang menyerang seluruh urat-urat.

Setelah makan malam kami bersiap tidur untuk mempersiapkan setengah perjuangan berikutnya yaitu ke puncak. Pukul 2 pagi nanti kami akan mencoba summit attack. Keril ditinggal di tenda, hanya membawa makanan kecil dan minuman. Angin sudah bertiup kencang dengan bunyi menderu. Di luar tenda tanpa jaket kami akan kedingingan. Tempat nyaman hanya di dalam tenda. Pastikan tenda yang dipakai mampu menangani suhu dingin. Jangan gunakan summer tent di Plawangan. Sengsara.

Sekitar pukul dua pagi dengan kondisi masih mengantuk dan lelah kami bangun untuk menuju puncak. Beberapa orang tampak sudah menuju puncak dari kilatan lampu senter di punggung Rinjani. Kami berdoa sebelum berangkat dan membawa perbekalan seperlunya. Saya membawa sebotol air, kamera HP, Sony Action Camera, kurma, lotion anti kram, selimut kertas anti hipothermia, dan snicker. Kamera DSLR tidak perlu dibawa. Tentu saja trekking pole wajib hukumnya untuk meringankan lutut dan membantu naik atau turun nanti.

Dan perjalanan menuju puncak Rinjani dimulai….

Bersambung

Belajar Berenang

Setelah bertahun-tahun ingin belajar berenang, alhamdulillah setelah mengambil kursus di sini, dalam 4 kali pertemuan, Sabtu-Minggu-Sabtu-Minggu, akhirnya mengerti juga teknik berenang dengan gaya dada. Selama ini sebenarnya sudah bisa meluncur ke ujung namun nafasnya selalu berantakan, dan ngos-ngosan. Baru setelah dibimbing Mas Kurniawan, instruktur renang yang melatihku, akhirnya bisa mengatur nafas dengan baik.

Yang membedakan materi renang yang diajarkan dengan materi renang dari pelatih lain adalah masalah survival. Di sini murid tidak difokuskan untuk menguasai gaya tertentu, tetapi bagaimana bisa bertahan selama mungkin di air. Gaya dada dipilih karena pertimbangannya paling sedikit usaha yang dilakukan,  karena fokus pada tangan, meluncur, dan kaki secara berulang-ulang. Peserta renang diajak untuk betah di air, meskipun dalam. Dalam empat pertemuan saja, saya banyak sekali mendapatkan ilmu. Izinkan saya untuk berbagi apa yang sudah saya pelajari dalam empat pertemuan yang digaransi uang kembali bila kita tidak bisa berenang, atau diganti dua pertemuan tambahan.

Pertemuan pertama sebelum mulai dilakukan sessi wawancara. Saya ditanya mengenai motivasi mengapa belajar berenang. Saya jawab karena sunnah rasul.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i).

Panjang ceritanya mengapa sudah setua ini baru belajar berenang. Tapi saya tidak pernah mau putus asa. Saya harus bisa berenang. Jika saya mau berusaha sekuat tenaga. Man jadda wa jada. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkannya. Mas Kurniawan mengatakan bahwa motivasi saya cukup baik untuk belajar berenang. Motivasi bisa merupakan katalis untuk kita bisa belajar dan tidak mudah menyerah. Setelah menanyakan berbagai hal, dijelaskan bahwa kursus berenang ini adalah survival atau bertahan hidup. Bayangkan bila kapal karam, bantuan tercepat datang dua jam, bagaimana caranya bertahan selama mungkin di air, tanpa kehabisan nafas. Inilah goal dari latihan berenang ini.

Pertemuan pertama masuk ke kolam dangkal. Diajari untuk mengambil konsep dasar berenang : ambil nafas dengan mulut, buang dengan hidung. Kita diminta berdiri, ambil nafas, tenggelamkan kepala ke dalam air, buang semua nafas dengan hidung, naik lagi, ambil nafas dengan mulut, buang dengan hidung. Hal ini dilakukan per siklus yaitu diulang selama 10 kali. Latihan dilakukan dengan 5 siklus tanpa henti. Setelah itu diajarkan konsep buoyancy. Semakin banyak lemak dan gendut, buoyancynya cenderung positif, artinya lebih mudah mengambang di air. Yang menarik di pertemuan ini adalah kita diajarkan masuk ke dasar kolam dengan jalan mengambil nafas lalu buang sebagian sebelum masuk ke dalam air. Ternyata dengan demikian bisa dengan mudah ke bawah kolam. Jika nafas tidak dibuang maka paru-paru akan penuh udara dan kita berat sekali untuk masuk ke dalam air karena ditolak oleh air untuk mengapung. Setelah itu diajari juga mengambil nafas lalu buang perlahan sambil mengapung saja di permukaan air.

Pertemuan berikutnya mengulang yang diajarkan pada pertemuan pertama, sambil belajar meluncur, belok, dan kembali lagi. Mulailah gaya dada diajarkan. Masuk ke kolam dalam mulai diperkenalkan. Masuk ke dalam kolam dengan nafas dibuang sebagian, masuk ke paling dasar, jongkok seperti gaya bersiap aba-aba, lalu ketika nafas mau habis, menolak ke atas untuk mengambil nafas. Setelah itu diajarkan juga ambil nafas, masuk ke dalam kolam dalam, tangan dikembangkan seperti huruf T, badan akan terangkat, sesaat sebelum keluar dari air buang nafas sedikit, kepakkan kedua tangan untuk mengeluarkan kepala, ambil nafas, lalu masuk kembali. Lakukan 1 siklus. Sempat panik karena takut tenggelam, untung bisa diraih pelatih. Inilah pentingnya belajar berenang di kolam dalam dengan pengawasan tim profesional. Tapi ini tidak menjadikan trauma, namun saya anggap sebagai proses belajar.

Pada pertemuan ketiga goalnya adalah bisa berenang dengan gaya dada hingga ke ujung kolam. Sulit sekali karena reflek saya adalah berenang dengan gaya katak. Masuk air ke mulut sudah biasa hehehe.. Namun pantang menyerah. Setiap sebelum mulai berenang saya berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi kemudahan dalam belajar.

Radhitu billahi rabba.. wa bil islami diina wa bil Muhammadin Nabiyya Warasullah Rabbi zidni ilma, war zuqni fahma….

Menjelang akhir sesi ketiga saya ditantang untuk gaya dada tepi ke tepi.. Mental saya belum siap.

Pertemuan terakhir, tadi pagi, saya memutuskan untuk fokus di kolam dangkal, memperbaiki nafas, dan memastikan bisa dari tepi ke tepi kolam dangkal tanpa berhenti di tengah-tengah, nafas tidak terengah-engah, menggunakan kaki hanya sekali, tangan sekali, meluncur sekali. Alhamdulillah akhirnya bisa bolak-balik tanpa berhenti di tengah. Saatnya mencoba di kolam dalam. Pertama saya tidak ada keberanian sama sekali untuk mencoba. Akhirnya saya pemanasan dulu. Saya masuk ke dasar kolam, naik ke atas, saya lakukan beberapa kali. Saya mencoba nyaman di bawah sana. Lalu saya mencoba gaya survival, masuk buat T, buang nafas sedikit sesaat sebelum keluar, kepakkan tangan, ambil nafas, dan seterusnya. Lalu saya mencoba meluncur dari tepi ke tepi siku-siku lainnya. Barulah setelah itu saya punya keberanian untuk mencoba dari tepi ke tepi di kolam dalam. Bismillah.. alhamdulilah setelah menenangkan diri dan membiasakan di kolam dalam, timbullah keberanian itu, dan akhirnya bisa bolak-balik dengan gaya dada di kolam dalam. Saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kefahaman dalam berenang ini. Saya juga berterima kasih sekali kepada Mas Kurniawan yang sabar dan terus memberikan semangat dalam melatih berenang. Saya tidak menyangka bahwa akhirnya saya bisa juga. Meski usia sudah hampir 40 tahun, saya tidak malu belajar berenang karena saya ingin sekali bisa.

Jika Anda belum bisa berenang, percayalah, tidak perlu waktu lama untuk belajar, kalau niat kita benar-benar kuat.

If you want to learn to swim, you have throw your self in the water. -Bruce Lee-

Tips belajar berenang:

– Pilih guru profesional. Belajar harus didampingi orang yang ahli agar bisa menjaga kita dan memberikan rasa nyaman
– Gunakan kacamata renang agar mata tidak perih
– Gunakan sun block sebelum berenang untuk mencegah iritasi, pakai ulang setiap jam. Lebih baik jika menggunakan pakaian renang agar tidak belang kulitnya

Cara Saya Menikmati Film (Apa Saja)

Tulisan ini saya buat setelah berulang kali mendengar komentar teman yang frustrasi setelah menonton sebuah film yang menurut saya berbobot, menarik, berkualitas, atau minimal ada sesuatu yang bisa kita ambil di dalamnya. Saya berusaha tidak memberikan akhir cerita dari film yang saya ambil contohnya di bawah ini. Jika Anda sangat sensitif, skip saja tulisan ini.

“Bro, udah nonton film Whiplash?”

“Udah.. kagak suka saya film itu.. akhirnya kok nggantung gitu…”

“Bro udah nonton film English Patient?”

“Ah ngantuk.. ngomong doang…”

“Eh.. Truman Show udah nonton?”

“Ah filmnya aneh.. lima menit aku tonton trus ku tinggal pergi..”

“Birdman udah liat?”

“Eh itu endingnya kok enggak jelas sih? Sebenarnya dia itu ke atas atau ke bawah?”

Tapi kalau film action, komentarnya hampir seragam..

“Transformers udah nonton?”

“Gileee keren abisss!!”

“Kingsman udah nonton?”

“Wah seru bingits!”

Saya tahu bahwa setiap orang punya kesukaan filmnya sendiri-sendiri. Ada yang gak suka drama, gak suka horor, gak suka India, Korea, Thailand, dst. Ada yang sudah mencoba film drama tapi masih gak ngerti juga, dan bingung kenapa ada orang yang menghargainya. Dipuji kritikus di Rotten Tomatoes (RT) atau IMDB, tetapi ternyata kok filmnya biasa saja.

Saya akan mencoba menjelaskan mengapa saya bisa menikmati film drama, dan hampir selalu bisa sependapat dengan mayoritas para kritikus di RT. Berikut ini adalah algoritma saya ketika mau menonton sebuah film pada umumnya:

1. Cek filmnya di Rotten Tomatoes atau IMDB, atau minimal tonton trailernya

Misal saya mau menonton Birdman. Langsung Google: Rotten Tomatoes Birdman

Birdman
Birdman

Kalau dilihat di Tomatometer, film Birdman mendapat rating kritikus CERTIFIED FRESH. Artinya para kritikus film yang memberikan acungan jempol dan menyukai film Birdman di atas 60%. Jika kurang dari 60% masuk kategori ROTTEN alias busuk. Apakah FRESH pasti “bagus” dan “ROTTEN pasti “jelek”? Seringnya demikian dalam sudut pandang tertentu, meski tidak selalu. Kritikus sendiri ada yang berbeda pendapat. Contoh di atas menunjukkan bahwa ada sekitar 7% yang tidak menyukai film ini. Namun mayoritas kritikus menyukainya. Ini salah satu indikasi bahwa ada sesuatu yang menarik bagi para kritikus film, orang-orang yang setiap hari kerjanya mengulas film, yang jelas tidak bisa dipandang remeh. Kalau filmnya dianggap busuk maka gambarnya tomat hijau pecah seperti dilempar ke tembok.

Kita lihat gambar popcorn merah di bagian Audience Score, artinya dilihat dari para penonton awam yang memberikan ulasannya di situs ini. Popcorn merah artinya penonton awam suka. Kalau tidak suka gambarnya popcorn hijau yang tumpah.

Mari kita lihat contoh film yang dianggap buruk atau tidak menarik:

KKN
KKN

Per Februari 2015, ada lebih dari 2.5 juta film yang tersimpan di IMDB. Film terus diproduksi tiap hari. Semakin lama, ide baru yang menarik semakin berharga. Saya melihat kecenderungan bahwa semakin unik suatu film, semakin sulit mencari film yang sejenis yang sebelumnya beredar, maka filmnya semakin FRESH (idenya segar) di RT. Semakin klise sebuah film, terlalu banyak film serupa yang sebelumnya diputar, maka semakin ROTTEN (busuk atau membosankan) dia. Maka untuk bisa memahami mekanisme ini, jam terbang nonton Anda sangat penting. Jika Anda melihat sebuah film yang menurut Anda menarik namun dinilai busuk oleh para kritikus, mungkin film serupa jarang Anda tonton sebelumnya. Kalau hal ini terjadi, mungkin rating dari penonton awam akan membantu (popcorn meter). Biasanya rating sebelah kanan lebih menunjukkan rata-rata kepuasan penonton awam terhadap suatu film. Jika keduanya tinggi maka semua sepakat filmnya menarik, dan layak untuk ditonton. Jika rating kritikus tinggi namun rating penonton rendah, biasanya gagasannya menarik tapi eksekusinya tidak umum atau melelahkan penonton pada umumnya. Jika kritikus memandang rendah tapi penonton memberi rating tinggi, biasanya filmnya klise atau sudah banyak yang serupa, namun eksekusinya menarik hati penonton pada umumnya. Dan jika kritikus dan penonton sama-sama memberikan nilai rendah seperti halnya film TMNT di atas, maka film ini bisa dihindari atau jika Anda terpaksa harus menontonnya karena alasan tertentu, siapkan ekspektasi Anda. Yakinkan dalam hati, saya mau menonton yang dicap jelek. Saya mempersiapkan diri saya untuk tidak kecewa. Sering kali seseorang mengatakan JELEK setelah menonton sebuah film dikarenakan ekspektasi sebelum menonton dengan setelah menonton terdapat jurang yang cukup lebar. Intinya, untuk mengurangi efek kejutan seperti ini, biasakan sebelum menonton sebuah film kita lihat dahulu ratingnya di Rotten Tomatoes atau IMDB. Jika Anda tidak terlalu khawatir dengan trailer sebuah film, menonton trailernya di Youtube mungkin bisa membantu sekilas apa yang bakalan Anda dapatkan sebelum menonton filmnya. Seiring bertambahnya jam terbang film Anda, Anda akan hampir selalu benar dalam memprediksi kualitas sebuah film hanya dengan melihat trailernya.

2. Lihat portfolio orang yang terlibat dalam filmnya

Terkadang sebuah film diputar di bioskop kita, sementara di Amerika sendiri belum diputar. Hal ini biasanya dikarenakan sebuah film diprediksi meledak di pasaran sehingga negara yang pembajakannya tinggi didahulukan agar banyak orang sudah menontonnya di bioskop, dan bukan mendapatkan salinan bajakannya. Tanggal tayang sebuah film di berbagai negara bisa dilihat di IMDB.COM. Jika kasus ini yang terjadi, kita bisa memprediksi sebuah film dari:

  • Siapa dalangnya. Dalang di sini berarti sutradara, produser, atau penulis naskah cerita aslinya. Lihat sutradaranya pernah membintangi film apa saja. Ini bisa dilihat di IMDB. Jika sutradaranya pernah membuat film yang kita sukai, maka besar pula kemungkinan kita juga akan menyukainya. Produser atau penulis naskah cerita juga bisa memberikan petunjuk filmnya layak tonton atau tidak. Biasanya kalau sutradaranya masuk dalam daftar favorit, saya tidak segan-segan untuk menontonnya. Masing-masing sutradara punya ciri khasnya masing-masing.
  • Siapa para aktor dan aktrisnya. Jika tidak ada yang terkenal (dengan asumsi Anda cukup mengenal banyak aktor dan aktris), maka belum tentu filmnya bagus. Periksa lagi aktor/aktris utamanya pernah membintangi film apa saja. Aktor kaliber kelas Meryl Streep tidak akan memainkan film kacangan. Dia dan agennya pasti pilah-pilih film untuk diperankan.

3. Untuk film drama, cobalah membayangkan Anda menjadi karakter utamanya

Untuk film aksi atau film dengan visual efek, you can say it is all about you. Anda boleh memaki kalau visual efeknya hancur-hancuran. Anda boleh menggerutu kalau aksinya cemen atau sangat buruk. Itu sudah resiko pembuat filmnya. Anda ingin dihibur dan dimanjakan oleh sutradaranya. Jika ada film perang terus actionnya memble, wajar Anda kecewa. Jika Anda menonton film visual efeknya sangat kentara buatan komputer, Anda akan mudah mencibirnya. Intinya pembuat film lebih bertanggungjawab untuk memuaskan Anda. Untuk menghibur Anda. Namun menurut saya, berbeda halnya dengan film drama. Untuk film drama, it is all about the character or the story telling. Film drama itu dibuat agar kita bisa menyelami perasaan karakter utamanya atau bagaimana sebuah cerita digulirkan. Jika ia mengalami sesuatu yang tragis, kita diajak ikut sedih bersamanya. Kita diajak berempati. Kita diajak berdiskusi, seandainya kita jadi dia, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita lebih kuat? Atau lebih lemah? Film seperti ini mungkin tidak menghibur kita, namun memberikan pelajaran dalam kehidupan bagi kita. Kita diajak berpikir. Kita diajak berkontemplasi. Saya sedih kalau mendengar orang yang mengatakan: ah saya tidak suka nonton yang membuat saya berpikir. Waduh.. kita kan dikaruniai otak untuk berpikir. Film itu jenisnya banyak. Tidak semua ditujukan untuk menghibur. Ada film yang ditujukan untuk kita berpikir, untuk belajar dalam kehidupan, untuk mengenal sejarah, budaya, perasaan manusia, dan seterusnya. Semakin kaya kita akan perbendaharaan emosi, budaya, sejarah, dan perasaan manusia, kita akan semakin menghargai sesama. Kita akan mudah bertoleransi kepada sesama. Terkadang kita disentil atau disindir tentang hubungan kita dengan orang tua, pasangan hidup, anak, atau sesama kita. Lewat film drama lah biasanya ini semua kita dapatkan.

Dalam film Birdman, kita diajak menyelami menjadi seorang aktor tua yang dulu mudanya sukses sebagai superhero, kini mempertaruhkan segalanya untuk bisa kembali diterima dalam dunia hiburan melalui panggung Broadway. Castingnya kebetulan tepat sekali. Michael Keaton adalah aktor gaek yang dulu membintangi Batman, dan kini mencoba kembali tampil dengan kualitas akting yang lebih prima.

Dalam film Life is Beautiful, Roberto Benigni mengajarkan cinta kasih seorang Ayah yang begitu besar kepada anaknya hingga ia mengorbankan hidupnya.

Dalam film Whiplash, kita melihat bagaimana seseorang mengejar renjananya begitu keras sehingga ia mengorbankan cinta dan waktunya demi karis sepenuhnya. Kita juga melihat seseorang yang begitu ingin orang lain mengejar renjananya semaksimal mungkin dengan mengorbankan hubungan sesama manusia untuk saling menghargai dan menghormati.

Dalam film The Grand Budapest Hotel kita belajar tentang nilai-nilai persahabatan yang dijunjung tinggi hingga akhir hayat.

Dan seterusnya, dan seterusnya…

4. Menonton film (drama) butuh kesabaran

Cara penuturan sebuah film, antara seorang sutradara dengan sutradara lainnya berbeda-beda. Ada yang di awal temponya lambat, berangsur cepat ke belakang, ada yang konstan lambat, ada yang suka temponya cepat, ada yang menyukai twist atau kejutan di belakang, dan seterusnya. Jika kita yakin sebuah film mendapatkan rating tinggi dari kritikus, pastikan Anda siapkan semangkok kesabaran dalam menontonnya.

Kita lihat Truman Show contohnya. Jika Anda tidak sabar, dalam 5 menit mungkin Anda matikan DVDnya atau ganti channel TV Kabel atau Anda tinggalkan bioskopnya. Birdman juga demikian. Di awal tampaknya tidak menarik, namun seiring berjalannya waktu, kita melihat karakter utamanya bagaimana, dan konflik apa yang sedang ia hadapi. Memento besutan Christopher Nolan menggunakan alur mundur maju yang sangat kompleks, di mana Anda mungkin harus menonton lebih dari sekali untuk memahaminya, atau menggunakan DVD dan memajumundurkan filmnya. Quentin Tarrantino di film Pulp Fiction juga menggunakan alur maju mundur yang tidak biasa, yang akan membingungkan buat penonton yang tidak fokus atau tidak sabaran.

5. Menonton film butuh fokus

Selain kesabaran, Anda juga harus fokus untuk menikmati sepenuhnya karya seni. Itulah mengapa menonton di bioskop lebih menarik daripada menonton di rumah yang banyak gangguannya. Semakin kompleks sebuah film, semakin dibutuhkan kefokusan dalam menontonnya.

6. Belajar ikhlas menerima akhir sebuah film

Jika Anda menonton Basic Instinct, adegan terakhirnya yang menggantung harus bisa Anda terima secara ikhlas. Adegan film menggantung tidak mengharuskan kita mengatakan PASTI AKAN ADA SEKUELNYA. Bisa ya, bisa tidak. Namun kita harus belajar menerima dengan ikhlas akhir sebuah film atau bagaimana sutradara mengakhiri filmnya. Fokus pada apa yang ingin disampaikan sutradaranya, bukan pada sekedar bagaimana film berakhir. Film drama adalah film untuk belajar. It is about the message that is being conveyed by the director. It is about the main character. It is not about you, Dear Audience! Jangan terlalu dipusingkan dengan bagaimana film berakhir, namun fokus pada pesan apa yang ingin disampaikan sutradaranya. Film adalah dongeng adalah sebuah tutur sebuah kisah. Dalangnya pasti punya maksud dalam menuturkan kisahnya itu. Itulah yang wajib kita cari, wajib kita pikirkan, wajib kita renungkan. Keindahan atau harta karun dari hikmah sebuah film jauh lebih berharga daripada akhir sebuah film. Memang ada film yang endingnya memuaskan, tapi ada juga yang menggantung. Untuk yang menggantung, ada yang memang sutradaranya mengembalikan kepada kita, akhirnya mau bagaimana. Apakah akhirnya A atau B, tergantung kita aliran optimis atau pesimis. Tergantung kita ingin cerita itu berakhir bagaimana. Inilah film yang sutradaranya melibatkan kita menentukan akhir ceritanya. Sebut saja film Shutter Island karya Martin Scorsese yang memberikan akhir yang ambigu. Apakah Leonardo waras atau gila. Tentu saja beberapa petunjuk diberikan dalam film untuk kita temukan. Lihat saja film Inception karya Nolan, apakah Leonardo bermimpi sepanjang film, atau sadar di akhir film. Para sineas film itu menikmati karyanya diperdebatkan dan dipergunjingkan di media sosial oleh banyak penggemarnya. Semakin ramai dibicarakan dan diperdebatkan, semakin senang sutradaranya. Peluang filmnya makin laku makin besar. Intinya, nikmati proses sebuah film, cari hikmah dan pesan yang ingin disampaikan, dan ikhlas menerima akhir filmnya. Jangan berikan nilai akhir yang rendah hanya karena akhir filmnya tidak sesuai dengan yang Anda inginkan. Berikan nilai sesuai dengan the whole experience, termasuk nilai yang terkandung di dalamnya.

Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata Kong Fu Tse (Confusius) :

Everything has its own beauty, but not everyone sees it

Selamat menonton, selamat menjadi penonton cerdas.

Exodus (2014) – Kisah Nabi Musa yang Miskin Mukjizat

Akhirnya setelah “cuti menulis” selama lebih kurang dua bulan karena satu dan lain hal, kini saatnya kembali berbagi apa yang saya rasakan setelah menonton film Exodus (2014) besutan Ridley Scott yang berjaya dengan banyak film, salah satunya Gladiator yang dibintangi Russell Crowe.

Sewaktu kecil, saya menonton film The Ten Commandments yang dibuat pada tahun 1956, dan merasa bahwa film ini lebih patuh dan lebih menggambarkan isi kitab suci daripada versi yang sekarang. Untuk membahas tentang film ini dari sudut pandang Alquran (karena saya muslim), dan setahu saya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Injil, maka saya ingatkan bahwa tulisan berikut ini bisa mengganggu buat Anda yang belum menontonnya. (Spoiler Warning yaa…)

Musa dalam Exodus tidak menggunakan tongkat panjang seperti di Quran, namun justru membawa pedang. Musa digambarkan layaknya jenderal perang yang jago main pedang. Dalam film tidak ada adegan Musa mendapat mukjizat melempar tongkat menjadi ular yang memakan ular-ular milik penyihir Firaun.

QS Al Qashash (28:31)

dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.

Ayat berikutnya, 32, juga tidak ada di dalam film

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Tidak ada adegan Musa membunuh manusia sebelum ia melarikan diri dari Memphis seperti di ayat 15

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Di surat Al A’raaf 160:

Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.

Ini juga tidak ada sama sekali. Tongkat yang menjadi perantara mukjizat dari Allah, tidak digambarkan di film sama sekali. Hanya untuk menggembala hewan ternak.

Harun, yang seharusnya menjadi juru bicara Musa, hanya tampak bagai asisten belaka di film ini.

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku”.  (Al Qashash : 34)

Dan yang paling parah adalah kisah populer Musa membelah lautan. Dalam film ini, Tuhan tidak bicara apapun kepada Musa, Musa hanya melihat ada meteor jatuh, paginya laut surut. Jadi mukjizat Musa membelah lautan atas izin Allah dan dilihat kaumnya agar percaya kepada Musa, tidak digambarkan. Laut digambarkan surut, seolah-olah ini peristiwa alam biasa.

Padahal jelas dalam Al Baqarah (2:50):

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.

Saya tidak mengerti dari mana keempat penulis cerita Exodus ini mendapatkan ilham untuk menggambarkan kisah mulia Nabi Musa yang berulang-ulang diceritakan dalam Al Quran. Musa digambarkan frustasi dengan Tuhannya, berteriak tanpa rasa hormat, jauh seperti yang ada dalam Quran. Musa dalam Quran digambarkan sangat santun.

Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  (Al Qashash : 16)

Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”.  (Al Qashash : 17)

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.  (Al Qashash : 21)

Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”. (Al Qashash : 22)

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Al Qashash : 24)

Lihat, betapa santunnya Musa yang diceritakan dalam Al Quran. Berbeda dengan karakter yang dimainkan oleh Christian Bale. Musa digambarkan pemarah, jago tempur, dan tidak sopan terhadap Tuhannya.

Well, orang bisa berkata, ini kan cuma hiburan. Sayangnya, hiburan ini kalau sepenuhnya fiksi, sah-sah saja. Kisah yang diceritakan yang harusnya dari agama, justru diselewengkan. Buat kita yang merujuk pada kitab suci yang kita percayai, seharusnya tidak ada masalah. Namun akan menjadi bahaya ketika orang-orang yang belum membaca kitab suci, atau anak-anak, menonton film ini. Tanpa filter yang kuat dan kemampuan analisis yang kritis, kita bisa menganggap bahwa Musa hanyalah dongeng belaka dengan Tuhan yang tidak tahu sebenarnya ada atau tidak, atau hanya karangan Musa belaka. Mukjizat diberikan Tuhan kepada nabi pilihanNya bukan sembarangan. Mukjizat diberikan agar manusia biasa tahu bahwa ada kekuatan superpower di belakangnya. Agar manusia sadar bahwa mereka hanyalah ciptaan Tuhan semata, dan punya kewajiban untuk mematuhi Tuhan agar hidupnya selamat di dunia (dan kelak di akhirat). Nabi adalah superhero wakil Tuhan di muka bumi. Kalau kelebihan superhero dicabut, maka dia hanya manusia belaka, yang tidak punya kemampuan meyakinkan sesama manusia lainnya. Bahkan mereka yang melihat dengan jelas kekuatan superpower ini saja berteriak ini cuma sihir. Apalagi yang tidak menunjukkan apa-apa.

Kesimpulannya, film Exodus adalah film dengan visual efek canggih yang lebih banyak fiksinya daripada patuh kepada kitab suci, yang seharusnya menjadi landasan ceritanya. Kalau mau fiksi, sekalian ngawur seperti Lord of The Ring atau Hobbit. Jangan buat cerita agama tapi miskin pesan. Kisah kebaikan Nabi Musa dalam Al Quran agar manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi yang tidak membuat kerusakan kurang tersampaikan. Yang ditekankan justru mengenai Musa melawan perbudakan, yang ujung-ujungnya hanya masalah HAM. Padahal inti ceritanya bukan hanya masalah membebaskan Bani Israil dari jajahan Firaun, namun membebaskan manusia dari menghamba ke manusia lainnya, yaitu hanya patuh kepada Allah SWT, Tuhan Maha Pencipta. Firaun yang kejam justru digambarkan lemah dan patut dikasihani. Kena azab malah hidup pula. Sebagai film agama, bisa dikatakan film ini gagal total untuk mencapai hal tersebut. Ini mungkin kisah Nabi Musa yang hidup di alam mimpi para penulis ceritanya. Atau mungkin mereka mencoba menuliskan ulang sejarah dengan visual efek canggih agar berkesan nyata. Ah seandainya saja Tony Scott, saudara kandung Ridley Scott yang sudah mati bunuh diri itu bisa bercerita tentang alam kubur, mungkin kisahnya akan berbeda 🙂

Silakan kalau menonton, namun tetap kritis!

Exodus
Exodus