Arsip Blog

Dilan (2018): Sebuah Review dan Kenangan Zaman Old

Minggu lalu, pas ada kondangan di daerah Pejaten bersama bujangku yang kelas 3 SMP, kami menyempatkan nonton Dilan di Pejaten Village. Biasanya saya gak demen nonton teen flick ginian. Tapi bujang kelihatannya pengen nonton karena sudah baca novelnya. Saya baca reviewnya sekilas kok lagi happening, semua orang sibuk membahas tentang film ini. Dan konon, hingga tulisan ini diposting, penontonnya sudah tembus 1 juta. Angka yang fantastis, bukan? Dan faktor lain yang membuat saya penasaran adalah setting ceritanya di tahun 1990. Ini sedikit banyak akan mengingatkan masa SMP-SMA saya dulu hehehe…

Saya sendiri belum baca bukunya, yang berjumlah tiga jilid. Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Dari akhir film ada keterangan: “Sampai Jumpa di Dilan 1991”, itu berarti akan ada sekuelnya dan hampir mustahil tidak dibuat sampai yang ketiganya. Untungnya belum baca buku sebelum nonton adalah kita tidak perlu sibuk membandingkan dan mengkhawatirkan apakah filmnya sesuai bukunya atau tidak. Gak perlu protes pemainnya sesuai imajinasi kita atau enggak, dst. Menurut Pidi Baiq, bukunya ditulis dari kisah nyata seseorang yang bernama Milea. Jadi ini bukan murni fiksi.

Kesan apa saat dan setelah menontonnya?

  • Dari kubu pemain, banyak wajah baru yang fresh. Ganteng-ganteng dan cantik-cantik.

Lia Waroka memerankan bundanya Dilan

Ridwan Kamil nongol sebagai cameo yang memerankan salah seorang guru. Hahaha.. ada yang kampanye duluan nih wkwkwkwk..

  • Dari sisi cerita, sebagai seseorang yang belum membaca kisahnya, secara umum puas. Filmnya menghibur, banyak dialog yang mengundang geli-geli lucu karena gombalnya si Dilan dalam merayu Milea. Well, mungkin gak semua orang suka dengan rayuan gombal begini. Tapi saya bisa menghargai kegombalan si Dilan karena mungkin saya suka ngegombal. Hahaha.. Sebenarnya ngegombal dan pas plus lucu itu susah loh.. Gak gampang ngegombal yang bikin cengar-cengir.
  • Dari kemampuan akting, pemeran Dilan yang juga penyanyi Cowboy Junior, Iqbal Dhiafakhri, bermain cukup bagus. Maklumlah udah lima film ia bintangi sebelumnya. Vanesha Prescilla berperan sebagai Milea. Cantik dan sebagai aktris yang pertama kali bermain dalam sebuah film, bisa dibilang lumayan lah. Gak malu-maluin.
  • Intinya, secara film meski berasa agak khawatir film ini berusaha ngelucu tanpa tujuan jelas di sepertiga akhirnya, namun bisa dimaklumi. Karena gaya ngegombal Dilan yang hampir selalu muncul ketika dia dapat adegan itu bisa-bisa boring kalau kebanyakan. Berbeda dengan Catatan Si Boy yang alim, Dilan justru digambarkan bandel, tukang berkelahi, bahkan panglima geng motor. Nah kalau pas adegan tengil dan ngegombal, Iqbal sih cocok. Tapi pas mimpin geng motor, terus terang memang kurang meyakinkan. Kalau segahar Anhar justru lebih pas memerankan bad boy. Banyak yang bilang, film ini adalah the next AADC. Saya gak protes. Terus terang, menghibur kok. Tonton gih!

Meskipun demikian, tidak semua yang ada di film ini patut ditiru. Ada adegan Dilan melawan gurunya ketika ditampar di sekolah. Meski guru salah, memukul balik juga tidak memecahkan masalah. Gampang memukul teman hanya karena pacar kita disakiti juga tidak baik untuk ditiru. Meski di buku karakter Dilan memang demikian, jangan ditiru yang tidak baiknya. Termasuk ngesun, boncengan motor berdua, dan sebagainya. Ambil positifnya, filter yang buruk. Jadilan penonton yang cerdas.

Naaah… selain bercerita tentang film Dilan, saya juga mau bercerita berbagai hal yang pernah dulu saya alami pas SMA dan kuliah, di tahun 1990-an, yang anak zaman now tidak mengalaminya. Coba ya, yang sekolah SMP-SMA sekitar tahun 90-an awal, tunjuk tangaan!

  • Di salah satu adegan di rumah Dilan, kita melihat banyak poster dari Majalah Hai. Majalah Hai ini dulu adalah bacaan anak SMP-SMA tahun 90-an, terutama buat anak cowok. Sejak tahun 2017 majalah tersebut berganti media, dari cetak menjadi online. Nah dulu saya suka banget majalah ini. Melihat majalah ini muncul di Dilan, ada perasaan seolah bisa menghirup atmosfir SMP-SMA dulu

  • Telepon umum koin dan kartu plus wartel. Anak 90-an pasti pernah ngalamin pacaran via telepon umum koin dan kartu. Pas ngekos dulu di Depok, kami dah nyetok koin 100 biji untuk nelpon ke kos-kosan pacar. Aduh indahnya mendengar suara si dia di ujung sana. Dan ketika bunyi nada peringatan koin sudah harus dimasukkan kembali, terdengar bunyi denting koin untuk memperpanjang nyawa komunikasi. Bila koin sudah tak ada, maka durasi terakhir biasanya digunakan untuk mengatakan betapa rindunya diriku padanya, dan tak mau tahu bahwa besok kan berjumpa lagi. Tidak hanya itu, telepon umum koin juga digunakan untuk mengirim pesan via pager. Cara kerjanya adalah kita telpon call center provider pagernya, lalu dia akan menanyakan ID tujuan, dan meminta pesannya apa. Kalau lagi marahan ya pesannya bisa galak, dan operatornya cengar-cengir. Kebayang aja dia tahu kalau orang mau nagih utang, kangen, berantem, dan sebagainya.

Telepon umum koin

Nah, ini dia pager yang booming sebelum HP terjangkau secara luas

Nah ini hp pertamaku duluuuuu – Nokia 3210 – Providernya XL, baru bisa di kota besar saja hehehe.. naik kereta langsung blank spot

 

Dulu kursus Lotus 123, Word Star, Word Perfect, dan dBase III+ pake PC XT ini

Ini Lupus, karya Hilman, yang ngehit pas SMA dulu

Yah itulah mengapa banyak yang menonton film Dilan. Generasi zaman now penasaran gimana bokap nyokapnya dulu sekolah dan pacaran, sementara bapak dan ibu zaman now ingin bernostalgia kenangan zaman old. Persis kaya dulu film Warkop. Bapaknya nganter anak nonton Warkop karena ehem hahaha..

Demikianlah curhatan generasi yang smp/smanya tahun 90’an. Ketahuan dah umurnya wkwkwk…

Kalau kalian dah nonton filmnya, share ya pengalaman kalian, apa kesan terhadap filmnya dan apa ada kenangan yang terlintas setelah menonton filmnya.

 

Iklan

Review Film Labuan Hati

Semalam kami mendapatkan kesempatan untuk nobar film terbaru Lola Amaria, Labuan Hati. Terima kasih kepada Gilang dari NontonJKT atas undangan nontonnya.


Film ini menawarkan pemandangan spektakuler baik di dataran tinggi maupun di bawah laut di kawasan Labuan Bajo, NTT. Namun sayang konflik yang ditulis Titien Wattimena kurang plausible, cenderung dipaksakan. Kita ingat film 5 cm dulu memang dibuat untuk mengenalkan keindahan Gunung Semeru, namun cerita dan konfliknya mengalir renyah untuk diikuti. Film ini jelas terlihat untuk mempopulerkan wisata di Labuan Bajo, namun cerita yang ditempelkan cenderung memaksakan. Konflik di antara ketiga wanita yang baru bertemu demi seorang lelaki diving master terasa kurang masuk akal.
Layakkah untuk ditonton? Jelas. Jangan terlalu fokus dengan ceritanya. Lihat pemandangan alam yang digeber spektakuler. Alam yang ditunjukkan begitu mengagumkan. Tidak mengherankan Labuan Bajo menjadi lirikan turis lokal maupun mancanegara. Saya harus membuat rencana ke sana nih.. Amazing!


Gambar dari Lepirate.com

Ramon yang bermain sebagai Mahesa sang Dive Master menunjukkan latihan intensifnya untuk menurunkan berat badan dan mengambil sertifikasi menyelam yang lebih tinggi membuat iri penonton.


Gambar dari Bintang.com

Dari sisi akting, Kelly Tandiono (Bia) bermain lebih natural daripada Nadine Chandrawinata (Indi) dan Ully Triani (Maria).
Dari sisi sudut pandang saya sebagai lelaki, Nadine jelas keluar sebagai pemenang (subyektif ini mah) wkwkwkwk..
Overall 6.8 / 10.

#Prompt 135: Antara Aku, Kau, dan Dia

Namanya Bagus. Kelahiran Semarang. Aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu di sebuah rumah makan. Aku masih bekerja di sana sebagai pramusaji. Ia adalah pelanggan tetapku. Setiap makan siang ia selalu datang sekitar pukul 12:15 siang. Menu kesukaannya adalah soto ayam dan tempe mendoan. Akhirnya aku tertarik padanya.

Kencan pertama kami adalah di Plaza Senayan XXI. Ia mengajakku menonton film romantis. Aku tidak begitu peduli dengan filmnya. Aku hanya teringat betapa lembut kata-katanya. Betapa manis senyumannya. Kokoh genggaman tangannya. Hari terindah hidupku setelah bertahun-tahun tak pernah kurasakan kebaikan seorang lelaki.

Setelah tiga bulan kami berpacaran, Bagus mengajakku ke tepi pantai Ancol. Ia mengajakku menikah di bawah tangan. Lagi-lagi aku hanya tersenyum menuruti sihir sorotan matanya. Ia tidak menjanjikan janji surga seperti kebanyakan lelaki sebelumnya. Hatiku yang kering kerontang sebelum pertemuan kami, kini bagaikan oase yang indah dan bukan sebatas fatamorgana belaka.

Suatu sore, setelah kami bercinta di Hotel Mulia Senayan yang megah itu, ia menawariku pekerjaan. Pekerjaan yang akan membuat kami lebih sering bertemu. Tidak seperti sekarang harus mencuri-curi waktu, karena Bagus sudah berumah tangga. Tapi aku tak peduli. Aku hanya tahu kami saling mencintai satu sama lain. Titik. Dan kini ia menawariku pekerjaan agar aku selalu dekat dengannya. Aku tak peduli dengan besar gaji yang ia tawarkan. Selama kami bisa selalu bertemu, itu sudah lebih dari cukup.

Aku dibawa ke rumahnya di daerah Kemang. Banyak sekali rumah megah kulihat dekat rumahnya. Hatiku berdegup kencang memikirkan pertemuan pertamaku dengan istrinya. Apakah akan terjadi pertumpahan darah? Perang dunia ketiga? Aksi bela rumah tangga? Entahlah. Bagus memintaku untuk tetap tenang dan memintaku berpura-pura bahwa kami tidak saling kenal. Ia juga memintaku berbicara dengan logat Jawa yang kental. Berpura-pura belum lama datang ke Jakarta, tidak ada pengalaman di kota lain, dan seterusnya. Semua permintaannya aku turuti. Demi cinta kami.

“Mah, ini pembantu yang kubicarakan kemarin. Marni adalah tetangga kampung teman sekantorku,” kata Bagus pada istrinya.

“Halo, selamat datang! Saya Fiona,” sambut istrinya dengan senyum hangat. Cantik sekali.

“Saya Marni, dari Pemalang, Bu,” jawabku.

“Saya sudah siapkan kamar di atas untukmu Marni. Anggap saja rumah sendiri ya. Dibetah-betahkan. Kami sungguh berterima kasih atas kesediaan Marni untuk membantu keluarga kami.”

“Baik Bu, terima kasih.”

Aku cukup berhasil menjadi perempuan lugu demi Bagus. Fiona tidak mencurigaiku sama sekali. Kalian tentu bertanya-tanya bagaimana hubungan cinta kami. Bagus mempertahankan hubungan cinta kami hampir tiap malam. Jam setengah dua pagi ia akan naik ke kamarku dan kami melepaskan hasrat kami di sana. Meski hubungan kami hanya sesaat setiap malamnya, itu sudah lebih dari cukup.

Suatu malam Fiona memanggilku dari kamarnya.

“Marni, tolong pijit punggung saya. Sepertinya saya kelelahan.”

“Baik, Bu.”

Kami bercakap-cakap dengan akrab, layaknya dua orang sahabat kental. Dari masalah sinetron, gosip ibu-ibu tetangga, hingga menu masakan sehari-hari.

Tiba-tiba Fiona mencium lembut bibirku. Aku merasa bingung. Ada yang bergetar dalam dadaku. Ada perasaan aneh yang menjalar di seluruh kulitku.

“Teruskan,” tiba-tiba Bagus muncul mengenakan piyama.

love-triangle-494178_1280

Sejak malam itu kami mengeksplorasi cinta bersama. Tidak ada yang tahu. Seluruh dunia hanya tahu, aku adalah Marni, pembantu dari Jawa yang rajin bekerja.


Cerita ini adalah kontribusi untuk Prompt #135, dengan topik Hubungan Sesaat. Jumlah kata tidak lebih dari 500. Gambar dari Pixabay.

 

#FFKamis – Cintaku Pupus di Waru Doyong

“Dek, sudah tak tahan Mas untuk meminang dirimu” kata Tanto dengan mupeng.

“Sabar ya Mas. Inilah mengapa aku mengajakmu pulang kampung sekarang. Sudah saatnya keluargaku mengenalmu, Mas sayang..” timpal Rianti dengan penuh kelembutan.

“Tapi.. apa ayahmu mau menerimaku yang supir bus ini sebagai menantunya? Apalagi Mas sudah punya istri.”

“Jangan kuatir Mas. Cinta kita akan menaklukan kekerasan ayahku. Percayalah padaku.”

“Dek, kok kita berhenti di sini?” tanya Tanto keheranan.

“Ini kampungku, Mas. Biarpun rumah di sini sempit-sempit tapi kami saling berdekatan satu sama lain.”Img3

Keesokan harinya warga kampung menemukan Tanto tergeletak pingsan di sebuah tempat pemakaman umum Desa Waru Doyong.


Kontribusi Flash Fiction Kamis  berjumlah 100 kata dengan topik Kampung. Gambar dari sini.

6 + 1 Alasan Kamu Wajib Nonton Finding Dory

Alasan #1: Finding Dory dibuat oleh Pixar yang sukses besar membuat film-film legendaris berikut ini. Jika sebuah perusahaan film sukses besar dengan membuat banyak cerita yang orisinil dan mencerahkan, peluang karya terbarunya berkualitas tinggi tentunya sangat besar, bukan?

Alasan #2: Ada banyak karakter baru yang keren, lucu, imut, dan menggemaskan yang tidak ada di Finding Nemo!

Alasan #3: Finding Dory diawali dengan film pendek berjudul Piper yang visualisasinya sangat REALISTIS. Perhatikan kualitas deburan ombaknya. SUPER DETAIL! Jangan sampai telat masuk bioskop agar tidak kelewatan film pendek ini.

piper

Alasan #4: Seperti halnya The Good Dinosaurs yang didistribusikan juga dalam bahasa Indonesia (Dinosaurus yang Baik), Finding Dory juga memiliki distro dalam bahasa Indonesia di beberapa bioskop (Mencari Dory). Silakan cari di situs bioskop kesayangan Anda, pastikan judulnya Mencari Dory.

Perilisan dalam versi bahasa Indonesia ini merupakan salah satu misi Walt Disney Indonesia agar Finding Dory dapat diterima luas oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan dan membuat film ini dekat dengan anak-anak.

dubber1

Raffi Ahmad dan Syahrini ikut bergabung dengan dubber profesional dalam mengisi sulih suara bahasa Indonesia. Mereka mengisi dua tokoh baru dari film Finding Dory, Bailey dan Destiny. Bailey adalah seekor paus bluga, sedangkan Destiny adalah seekor hiu paus. Kedua ikan ini akan membantu Dory untuk membantu menemukan keluarganya.

Alasan #5: Peringkat Finding Dory di IMDB dan Rotten Tomatoes sangat tinggi. Kita tahu bahwa kedua situs tersebut sering dijadikan parameter untuk menentukan sebuah film layak tonton atau tidak.

Img5

Rotten Tomatoes memberikan CERTIFIED FRESH

Img6

IMDB memberikan rating di atas 8 dari 16 ribu penonton yang memberikan suaranya

Alasan #6: Banyak pesan moral yang bagus untuk keluarga, bukan hanya untuk anak-anak saja.

  1. Just Keep Swimming. Teruslah berenang. Teruslah bergerak. Apapun kesulitan yang kau hadapi dalam hidup ini, jangan berhenti berenang. Jangan berhenti bergerak. Hanya dengan berenang -> bergerak -> berusaha kita bisa mendapatkan solusi dari masalah yang kita punya. Menyerah hanya untuk mereka yang kalah.
  2. There’s always another way. Selalu ada jalan keluar. Man jadda wa jada. Kita mungkin perlu mundur selangkah untuk maju beberapa langkah dan mencapai apa yang kita inginkan. Siapa yang bersungguh-sungguh ia akan mendapatkannya.
  3. Loyalty. Dulu, Dory membantu Marlin menemukan anaknya, Nemo. Sekarang Marlin dan Nemo gantian menolong Dory menemukan orang tuanya. Meskipun Marlin dan Nemo tahu kalau Dory punya ingatan jangka pendek dan peluang untuk menemukan kedua orang tuanya sangatlah kecil, namun kesetiaan persahabatan merekalah yang membuat mereka tidak berhenti berusaha agar sahabatnya menemukan keluarganya.
  4. Trust among family member. Kepercayaan dalam keluarga. Baik Dory maupun orang tuanya saling percaya satu sama lain bahwa mereka adalah satu keluarga, dan mereka tidak menyerah satu sama lain. Masing-masing berupaya agar mereka bisa bertemu kembali. Orang tua belajar bahwa mereka harus mempercayai kemampuan anaknya, bagaimanapun kondisi anaknya itu.

Sebenarnya 6 alasan di atas sudah cukup buat Kamu nonton film keluarga ciamik ini. Tapi sebagai bonus karena Kamu sudah membaca sampai sini, jadi inilah bonus alasan supaya Kamu tidak cari alasan lain untuk tidak menonton film ini.

Anak-anak di bawah umur 13 tahun tidak cocok menonton film horor. Masak anak TK dan SD diajak nonton film Conjuring 2 sih?

valak

Selamat menonton yaaa!

#FF Kamis – Jones

Malam minggu ini aku mau membunuh nama julukanku. Kau pasti pernah mendengarnya. Jones. Jomblo ngenes. Julukan ini disematkan padaku setelah kegagalan cintaku yang berulang. Ada yang bertahan sebulan dan ada yang seminggu (ini yang paling sering). Aku sudah siap tempur untuk menembak Rani, pujaan hatiku, malam ini.

Img4

 

“Halo, Andi?” suara Rani di seberang telepon.

“Ya, Ran? Tumben nelpon?” kataku tidak percaya ditelpon Rani.

“Aku mau ngajakin kamu nonton Conjuring 2. Mau gak?”

OMG. “What??? Yes!” pekikku dalam hati.

“Nanti malam?” tanyaku.

“Iya, aku ajak pacarku, kamu ajak juga pacarmu ya. Kita double date!”

Mataku berkunang-kunang dan lidahku mendadak terasa kelu.


Tulisan ini adalah kontribusi Flash Fiction yang sedianya dibuat setiap hari Kamis. Temanya adalah Rencana. Jumlah kata  harus tepat 100 kata. Gambar dapat dari sini.

Prompt #113 – Sepotong Cinta dalam Sekuntum Mawar Peach

Perfect fresh orange rose

“Selamat Siang Pak Agus. Boleh minta izin untuk wawancara?”

“Siang. Anda siapa?” tanya Agus setengah kaget di tempatnya beristirahat di siang yang cukup panas itu.

“Saya Randi dari Jawa Pos tertarik dengan kisah Bapak. Kalau Bapak tidak berkeberatan saya ingin memuat kisah Bapak di kolom khusus media kami.”

“Baiklah. Saya mulai dari mana ya?”

“Terserah Pak Agus saja, nanti kalau ada yang ingin saya tanyakan akan langsung saya tanya saja.”

“Ceritanya bermula bertahun-tahun yang lalu, ketika saya dan Yunita sedang mendapat pelajaran mengarang dari guru Bahasa Indonesia ketika kami masih duduk di bangku SMA. Karangan kami berdua menjadi karangan terbaik di kelas waktu itu. Selama satu bulan penuh karangan kami dipasang di majalah dinding sekolah dan menjadi pembicaraan semua murid dan guru. Sejak saat itu saya bertambah dekat dengannya dan mulai berpacaran. Setahun setelah lulus SMA kami berdua menikah dan dikarunia seorang anak. Dua tahun kemudian Yunita mulai bekerja, dan sejak saat itu masalah mulai timbul.”

“Apakah ada keterlibatan orang ketiga, Pak?” sela Randi.

“Oh tidak. Justru Yunita sangat setia kepada saya. Dia mulai sakit-sakitan. Dokter sampai kebingungan mendiagnosa penyakitnya. Saya bolak-balik mencari pengobatan alternatif berbulan-bulan. Puluhan kota sudah saya datangi. Akhirnya Allah SWT memiliki kehendak lain. Istri saya dipanggilNya dalam usia yang masih muda.”

“Saya mendapat kabar bahwa Bapak mengunjungi makam Yunita setiap hari Jumat sore. Apakah benar?”

“Benar Mas. Saya begitu mencintainya. Meski hubungan kami bisa diibaratkan bagai dongeng semusim, namun kesetiaan dia yang begitu besar tidak akan pernah bisa saya lupakan. Saya selalu bawa sekuntum mawar berwarna peach kesukaannya dulu. Makamnya selalu saya bersihkan. Doa selalu saya panjatkan agar ia diampuni dari segala dosa dan diterima semua amal ibadahnya.”

“Setiap minggu, Pak? 52 kali dalam setahun?” tanya Randi.

“Iya, Mas. Setiap minggu saya tidak pernah absen. Sebagaimana dia tak pernah absen ketika dia melayani saya.”

“Apa kenangan indah bersamanya sewaktu Yunita masih hidup, Pak?” tanya Randi.

Agus terdiam sejenak. Tampak di sudut matanya ada setitik air mata menunjukkan kesedihannya yang mendalam.

“Saya pernah kesulitan modal untuk dagang. Yunita tanpa ragu menawarkan seluruh perhiasan dan tanah warisan dari ayahnya untuk dijual untuk menambah modal saya. Nyaris saya masuk hotel prodeo difitnah rekan dagang saya, namun dia yang meyakinkan banyak orang bahwa saya tidak bersalah. Dia bagaikan purnama yang sempurna bagi hidup saya. Namun Allah SWT lebih menyayanginya, sehingga dia kembali pada Sang Pencipta mendahului saya.”

Randi dapat merasakan betapa besar cinta Agus kepada Yunita. Ia mulai mencoret-coret di buku kecil yang ia bawa.

“Oh ada tamu rupanya?” seorang wanita cantik muncul dari dalam rumah.

“Oh.. Bu.. ini kenalkan Mas Randi, wartawan dari Jawa Pos,” kata Agus memperkenalkan.

Randi menatap Agus. Kebingungan.

“Ini istri kedua saya. Setahun setelah Yunita pergi, saya menikah lagi dengan Riana.”

“Saya ambil minum dulu ke dalam ya Mas” ijin Riana pada Agus.

“Istri ketiga saya sedang mengantar anak Yunita belanja di mal.”

“Ja.. jadi Mas Agus sekarang berpoligami?”

“Ya, Mas.”

Randi sontak menjadi salah tingkah. Ia bingung artikel apa yang ia mesti tulis. Suami yang begitu mencintai istrinya atau contoh lelaki yang sukses berpoligami.


Tulisan ini adalah kontribusi untuk Prompt #113 : Tiga untuk Seratus Tiga Belas. Untuk lebih rincinya, silakan baca di sini. Gambar diambil dari sini.

Novel Terbaru Andrea Hirata : Ayah (2015)

Setelah sukses besar menerbitkan 8 novel edisi bahasa Indonesia (Laskar Pelangi, Sang pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan, Cinta di Dalam Gelas, Sebelas Patriot, Laskar Pelangi Song Book), Andrea Hirata kembali menggebrak dengan novel terbarunya yang berjudul Ayah.

Novel ini menceritakan kisah cinta abadi Sabari kepada Marlena dan cinta Sabari kepada anaknya, Zorro. Dituliskan dengan gaya khas Andrea Hirata yang humoris, yang bisa membuat pembacanya terkena penyakit gila nomor 40, yaitu sindrom membaca bacaan kocak di tempat umum, tertawa atau terkekeh sambil memegang novel. Kisah ini berlatar belakang awal tahun 1990-an, salah satu di antaranya sekitar tahun 1993 ketika Lady Diana berkunjung ke Nepal. Kalau Anda pernah mendengar istilah cinta tidak harus memiliki, novel ini adalah salah satu contoh baik yang menggambarkan istilah tersebut. Cinta yang cukup dirasakan asalkan yang dicintai merasa bahagia, atau cukup bisa memandang wajahnya. Cinta yang selalu memberikan pengharapan, meski bagaikan pungguk merindukan bulan. Inilah cinta Sabari kepada Marlena. Suatu cinta yang tak bakal sanggup diriku memikulnya. Suatu perasaan yang demikian besar dan berat, hingga seolah-olah menjunjung bumi di atas kepala dan dada.

Seperti halnya Laskar Pelangi, novel ini juga terinspirasi dari kisah nyata yang diceritakan oleh seorang sahabat Andrea Hirata dan menceritakan kehidupan di Belitong. Ditulis setelah melakukan riset selama enam tahun, buku ini hampir mencapai 400 halaman yang dibagi ke dalam 67 bab. Terkadang babnya cukup pendek sehingga berkesan terlalu sedikit yang diceritakan. Saya merasakan bahwa begitu banyak yang akan dicurahkan dalam novel ini, namun ada beberapa poin penting di mana pembaca merasa suatu cerita bisa lebih menarik ketika dibuat lebih rinci, namun hanya singkat dikisahkannya. Mungkin karena ketagihan dengan cara menulis Andrea, pembaca merasa tidak puas ada bagian yang sangat rinci namun ada bagian lain yang penting dan butuh didetailkan tidak terjadi. Bagian akhir sebenarnya bisa diceritakan lebih rinci setelah pembaca bersabar mengikuti petualangan para tokoh utama dalam mengejar impiannya. Mungkin penyuntingan novel ini bisa dibuat lebih baik. Meskipun demikian, novel ini tetap menghibur pembacanya dengan humor-humor khas Andrea dan beberapa bisa membuat dada pembacanya basah karena terharu.

Kisah cinta dalam novel ini mengingatkan saya kepada film Love in the Time of Cholera yang dibintangi oleh Javier Bardem. Sedangkan kisah cinta ayah kepada anaknya mengingatkan saya pada film Kramer vs Kramer yang dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Meryl Streep dan film The Pursuit of Happyness yang dibintangi Will Smith dan anak kandungnya.

Ayah

Ayah

Novel ini saya ganjar dengan nilai 8 / 10. Wajib baca buat penggemar tetralogi Laskar Pelangi.

5 cm (2012)

Film 5 cm adalah film nasional yang aku tonton di penghujung tahun 2012. Diangkat dari novel berjudul sama karya Donny Dhirgantoro sekitar 5 tahun yang lalu, film ini lumayan laris manis di pasaran. Dibesut oleh Rizal Mantovani, secara mengejutkan film yang ringan ini sangat menghibur. Mungkin kita sudah lama tidak menonton film lokal yang bisa membuat kita berkali-kali tertawa lepas ala Nagabonar atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap, sehingga film yang sebenarnya cukup sederhana, pada beberapa adegan membuat kita terpingkal-pingkal.

Alkisah ada lima orang sahabat yang bernama Genta, Zafran, Riani, Arial, dan Ian. Genta diperankan oleh Ferdi Nuril (Ayat-ayat Cinta), Zafran diperankan oleh Mahbub Herjunot Ali (Realita, Cinta dan Rock’n Roll), Riani diperankan oleh Raline Shah (MC Kitchen Beib dan favorit Putri Indonesia 2008), Arial diperankan Denny Sumargo (pebasket), dan Ian diperankan oleh Igor Saykoji (rapper). Mereka sudah tujuh tahun bersahabat dan pas pada ngumpul-ngumpul di rumah Arial, mereka sepakat agar mereka tidak ketemuan selama 3 bulan. Harapannya akan ada banyak hal baru yang masing-masing akan dapatkan dan mereka tidak bosan satu sama lain. Genta yang dianggap menjadi “leader” mereka menawarkan kejutan ketika mereka ketemuan nanti.

Yang menarik dari film ini adalah beberapa dialognya yang polos dan menggambarkan remaja yang jatuh cinta membuat kita terpingkal-pingkal, mungkin menertawakan diri sendiri yang mungkin pernah mengalaminya. Been there done that. Visualisasi dari pemandangan alam yang indah yang ditawarkan film ini sangatlah indah, dan membuat kita semua jadi ingin mengunjungi tempatnya. Kisah cinta menurut saya adalah sekedar bumbu saja untuk menciptakan konflik menarik dalam cerita.

5 cm adalah film yang mengingatkan kita untuk mencintai Indonesia, yang meski penuh carut-marut nyaris bangkrut karena korupsi, namun masih menawarkan keindahan dan kekayaan alam yang patut dijaga, dihormati, dan dihargai. Film ini juga menginspirasi kita untuk fokus pada cita-cita, agar bisa mencapainya, seberapapun sulitnya cita-cita itu.

”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kamu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu” 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

7.5 dari skala 10. Menghibur deh pokoknya!

Gambar dari KapanLagi.com.

Sebingkai Tanya Seorang Anak Kepada Ayah dan Ibunya

Seorang anak duduk diam di depan pintu rumahnya

Memandang sayu ke jalan yang ramai kendaraan lalu lalang

Bertanya ia mengapa lengan kokoh ayahnya tak lagi memeluk dirinya

Bertanya ia mengapa cium dan manja ibunya tak lagi ada

Bertanya ia mengapa cinta mereka berubah menjadi petaka

Bertanya ia mengapa ayahnya bersama ibu yang tak melahirkannya

Bertanya ia mengapa ibunya bersama ayah yang tak pernah ia tahu namanya

Bertanya ia apa salahnya mengapa mereka tak lagi di sampingnya

Mengalir sebentuk air mata penuh tanya dari sudut mata polosnya

Menetes membasahi pipi meninggalkan gegar dalam hatinya yang penuh luka

Galau membadai dalam jiwanya…

…berharap cinta yang tak kunjung tiba.

Jakarta, 29 Maret 2012

-Didedikasikan bagi semua anak korban perceraian orang tuanya-