Santiku Sayang Santiku Pulang (2011)


Santi menyuapkan potongan siomaynya yang terakhir ke dalam mulutnya. Ia ambil selembar tisu di depannya dan menyeka ujung mulutnya. Aku masih tak menyentuh piringku dari tadi. Kupandangi wajahnya yang cantik. Lama sekali.

“Mas, kita harus mengakhiri hubungan kita”, Santi memecah kebisuan di antara kami.

“Santi.. Apa tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku? Aku tahu aku telah menyakiti hatimu. Tapi setelah hubungan kita selama ini, tidakkah kau mau memaafkanku sepenuhnya?”, pintaku sayu sambil menatap matanya.

“Sayangnya aku tak dapat memaafkanmu. Setidaknya untuk saat ini. Aku pamit. Selamat tinggal, Mas!”, Santi berdiri dari kursinya, menatap mataku sejenak, lalu pergi meninggalkanku keluar dari restoran favorit kami. Di sinilah kami bertemu untuk pertama kalinya secara tak sengaja dan di sini pulalah aku kehilangan cintanya.

Satu tahun yang lalu sahabat dekatku, Budi, berulang tahun dan mengajakku dan teman kantornya makan di restoran ini. Santi, salah satu koleganya, mengenakan kaos pink, rambutnya dikuncir, dan mengenakan kacamata. Senyumnya, kawan, aah manis sekali. Ketika Budi memperkenalkan semua temannya termasuk Santi, hatiku berdegup kencang ketika menyalaminya. Aku duduk berseberangan dengannya dan bercakap-cakap untuk pertama kalinya.

Minggu depannya aku main ke rumahnya. Demikian juga malam minggu demi malam minggu berikutnya. Teman-teman kosku mulai protes karena aku tak lagi kluyuran bersama mereka. Jodi protes karena selama ini aku yang paling getol menemaninya menonton film-film di bioskop, kini aku selalu mengajak Santi nomat sepulang kantor. Randy yang biasa kuajak hunting foto untuk melampiaskan hobi fotografi kami, tak lagi pernah kuajak. Akhirnya dia mencari partner lain untuk berburu objek foto. Aku sendiri punya objek baru. Setiap aku dan Santi pergi jalan-jalan aku menjadikannya sebagai objek foto. Wajahnya yang fotogenic, membuatku tergila-gila mengolah Canon kesayanganku untuk mengabadikan kecantikannya. Tak perlu banyak sentuhan olah digital, fotonya selalu dipuji di account facebookku.

Hal yang kusuka darinya selain kecantikan lahiriahnya adalah kebaikan hatinya. Ia aktif dalam kegiatan sosial. Dari palang merah, bakti sosial ke panti jompo dan panti asuhan, hingga menyelenggarakan kegiatan untuk mencerdaskan anak-anak tak bersekolah dengan mengajarkan berbagai hal dasar untuk bekal di masa depan. Aku sering menemani kegiatannya sambil menjadi seksi dokumentasi untuk acara yang ia ikuti. Jadi aku bisa mengasah kemampuan fotografiku sambil tetap dekat bersamanya. Mengabadikan senyumnya dalam bentuk digital yang tersimpan rapi dalam kartu memoriku.

Aku begitu mencintainya sehingga perpisahan di restoran favorit kami menghancurkan diriku. Memang kuakui aku salah, kawan. Tapi semua orang pasti pernah berbuat salah. Aku kedapatan menonton film bersama mantan pacarku, Windi. Aku tak sengaja bertemu Windi dalam sebuah acara, dan kenangan indah kami bersemi kembali. Aku mencoba menjelaskan padanya bahwa aku hanya menemaninya menonton film, tidak lebih.

Ribuan sms kukirimkan tanpa dibalas. Telpon selalu diputuskan. Ia tak lagi mau menemuiku. Aku dihapus dari daftar kontaknya. Yahoo accountnya tak pernah aktif. Sepertinya ia mengatur agar aku tak lagi bisa melihatnya online. Aku hanya bisa tahu dia keluar dari Yahoo tanpa aku bisa sempat berbincang-bincang dengannya. Semua pesanku di YMnya hanya menjadi pesan offline tak terbalas.

Aku mulai murung. Tak bergairah lagi pergi dari kamar kosku. Semua ajakan teman-temanku aku tolak. Aku menyalahkan diriku sendiri atas kebodohanku. Tidak seharusnya aku mengkhianati kepercayaan Santi padaku. Dua bulan lamanya aku tak dapat menghubunginya. Kupasang semua fotonya yang kucetak di tembok di belakang laptopku untuk membunuh rindu dalam dada ini. Coba kawan, bila hal ini memimpamu, apa lagi yang bisa kau lakukan?

Siang itu matahari bersinar terik sekali. Kuambil jaket dan helm lalu kubawa motorku ke restoran kesukaan kami. Aku begitu rindu padanya, sehingga aku berharap jika aku makan di restoran itu, dan ia merasakan hal yang sama dan pergi ke sana, kami bisa bertemu untuk memulai kembali segalanya. Aku ingin dia tahu hidupku hancur tanpa dirinya, dan berjanji tak akan mengulangi kebodohan yang sama untuk kedua kalinya. Aku mampir ke sebuah toko bunga untuk membeli setangkai mawar peach kesukaannya juga sebatang coklat favoritnya, isi almond.

Di tikungan dekat restoran aku mendengar suara keras sekali. Sebuah truk menghantam sebuah motor hingga terpental. Aku melihat korbannya parah sekali. Digotong-gotong oleh beberapa orang. Semoga ia selamat, doaku dalam hati. Aku terus melanjutkan perjalananku ke restoran yang sudah dekat. Kuparkir motorku dekat tukang tahu bulat, lalu kumasuk dan memesan siomay. Menu favoritnya. 1 jam lebih aku di sana. Dia tak datang. Kubuka iPhoneku dan kulihati semua foto-fotonya. Kulihat jam, pintu masuk, fotonya, begitu terus hingga 3 jam. Akhirnya aku menyerah pulang.

Kulakukan hal ini setiap Sabtu sore. Sudah kulakukan selama 6 bulan, tanpa absen! Aku selalu duduk di meja yang sama pertama kali kami bertemu. Meja yang paling tersembunyi, jarang dipilih pengunjung, namun sangat kami sukai.

Sabtu sore ini aku sudah duduk di meja favorit kami. Sudah satu jam aku amati pintu masuk restoran itu. Tiba-tiba Santi masuk. Sendirian. YESSSSSSSSS!!!!!!!!!!!!!!! Kawan, keajaiban bersama orang yang sabar. Man shabara zhafira, kata orang Arab. Yang bersabar ia akan beruntung. Sabar subur, kata orang Jawa. Hmm.. Benar sekali. Ia menuju mejaku dan tersenyum manis sekali.

“Mas, aku kangen kamu”, katanya.

Ingin kupeluk dirinya. Aku tak dapat berkata-kata.

“Santi, maafkan aku. Aku pun rindu sekali padamu..”, kataku perlahan.

“Mas, aku juga salah. Aku terlalu marah kepadamu sehingga aku tak memedulikanmu untuk kembali padaku. Maukah kau juga memaafkanku dan kita kembali bersama? Selamanya?”, sambil ia tersenyum manis.

“Tentu saja sayang. Aku tak akan mengulang kebodohanku. Aku janji aku kan selalu bersamamu dan setia kepadamu”, kataku dengan yakin.

Beberapa hari kemudian, aku masuk ke kamar Jodi. Laptopnya terbuka, ia masih tidur. Iseng kubaca facebooknya. Ia menulis sesuatu di wallku.

Sob, kuharap kamu bahagia di sana bersama Santi. Selamanya.

Di bawahnya ada komentar Randy.

Jod, tragis banget ya? Setelah kecelakaan motor 8 bulan yang lalu, kini giliran Santi nyusul kena demam berdarah. Semoga mereka bersama kembali sekarang.

Aku tercekat. Kulihat tubuhku masih mengenakan jaket. Kuraba kepalaku, basah oleh darah. Lamat-lamat kudengar lagu mp3 kesukaanku dari laptop si Jodi. Lagu The Man Who Can’t Be Moved sedang dimainkan di Real Playernya.

..cause if one day you wake up and find that you’re missing me, and your heart starts to wonder where on this earth I could be, thinkin’ maybe you’ll come back here to the place that we’d meet, and you’d see me waiting for you on the corner of the street..
Serpong, akhir Februari 2011.

Iklan

Posted on Februari 26, 2011, in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink. 22 Komentar.

  1. awal romantis, akhirnya bikin merinding, mas

    • Aku terinspirasi lagu The Man Who Can’t be Moved. Pernah dengar lagunya? Kalau diperhatikan liriknya, akhir merinding terpaksa dibuat agar sesuai dengan chorus lagu itu. Cause a living person simply just won’t do that. Won’t you agree? 🙂

  2. andy garcia zulfikar

    keren bgt bro….
    di ilhami dari lagu yg keren juga…
    begitu mendalam…menyedihkan….
    hehehehhe..(lebay bgt ya..)

    bikin lg dund cerpennya….

  3. andy garcia zulfikar

    tambahan dikit..
    endingnya mirip sixth sense salah satu film yg q suka bro..

  4. Good story…. tapi kok sepertinya endingnya aku pernah baca tapi dimana yach ……

  5. klo saya, yg terakhir jd inget film the illusionist..

  6. iyaahh betul.. lupa juga sih ceritanya.. tp inget ada ilusi2nya dan romanticnya juga.. klo sixth sense kan lebih ke horor..

  7. itu satu film yg saya suka, Mas.. scene dan endingnya sempet bikin “mikir” sesaat.. hehe.. persis di cerpen ini juga.. kemudian terbelalak sambil bilang “HHaHHHH??!!” hehe..

    iya cucok.. bikin yg keren yaa.. 😀

  8. butuh model ga? *mesammesem hahhahha :p

  9. figuran yg ini bayarannya lebih tinggi dr pemeran utama.. ckckck.. sanggupkah?

  10. jiaaahhh.. dibilangin beda sama pemeran utama.. klo jd pemeran Santi boleh lah.. makan somay sekalian pas syutingnya gpp :p

  11. jiaaahh.. dibilangin lebih mahal.. klo pemeran utama cukup siomay saat syuting.. saya bisa siomay dan kawan2nya ( yg jualan di sebelah2nya ).. hahha

  12. sebelahnya showroom mobil, Mas.. wkwkwkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: