Museum Taman Prasasti

Sepulang dari hunting foto di Pelabuhan Sunda Kelapa, aku dan teman-teman mencoba mengambil gambar di Museum Taman Prasasti di daerah Tanah Abang. Talent yang bersedia jadi model adalah teman kantor, Nittha. Untuk koreografer dan penata busana dipercayakan pada suhu Hans. Sementara suhu Oniel memberikan petunjuk pada custom picture style. Wah gak rugi deh belajar sama suhu-suhu di kantor. Aku dan Panji (meski dia seorang Nikoner) menjadi murid yang gembira dengan hunting bersama seperti ini. Awesome dude..

Memotret di sini dikenai biaya 350 ribu. Tidak tahu mengapa begitu mahal, dan uangnya lari ke mana. Seharusnya pemerintah memberikan tanda bukti pembayaran dan menyatakan tarif ini resmi atau tidak. Bandingkan di Singapur yang bebas mengambil gambar hampir di mana saja (kecuali di dalam mal).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Hari Sabtu kemarin aku mencoba mengambil gambar untuk pertama kalinya di Pelabuhan Sunda Kelapa. Ditemani suhu Oniel dan Panji kami bertiga berangkat pagi-pagi dan sampai di sana sekitar pukul 9. Aku memarkir mobil di dekat Tourist Information yang dijaga oleh Pak Tumpu asli Makasar. Kami memanggilnya Daeng. Ia telah kawin cerai tujuh kali dan sudah lima tahun terakhir ini menjaga Tourist Information sambil berjualan minuman dan kerajinan tangan.

Orangnya hangat dan ramah, wajahnya mengguratkan kerasnya kehidupan di pelabuhan. Tidak banyak yang kami gali darinya karena tak lama kemudian ia tertidur kelelahan di atas kursi panjang.

Kunjunganku kali ini juga sekaligus ingin menerapkan teknik-teknik di buku yang aku beli, The A-Z of Creative Photography, yang pernah aku posting sebelumnya di sini. Topik pertama dalam buku yang aku coba rekam dengan EOS 550Dku adalah tentang seni abstrak. Lee Frost mengatakan dalam bukunya bahwa seni abstrak menjadi sesuatu yang menarik karena gambar yang dihasilkan bersifat abstrak, yaitu objek-objek yang tidak terhubung secara langsung dengan objek yang sudah sering kita lihat pada umumnya. Elemen yang membentuk objek abstrak adalah warna, bentuk, pola, dan tekstur yang unik, yang setidaknya membuat kening kita berkerut mencoba mencari referensi objek aslinya dalam kepala kita. Semakin tidak realistik objeknya, semakin menarik gambar abstraknya. Gambar abstrak dapat dicari dengan fokus pada bentuk dan warna.

Berikut ini adalah gambar-gambar yang mewakili kesibukan dan karakter pelabuhan Sunda Kelapa di Sabtu pagi.

Kapal Rahim Jaya Abadi

Kait

Kapal dalam Perspektif

Mengangkut Semen

Musim Janda

Tambatan Kapal

Kapal Berjajar

Cleaning Tool

Santai Beristirahat

Nangkring

Simpul

Jembatan Kayu

Nyendal Jepit

Manggul Beras

Menunggu Penumpang

Berboncengan

Kapal Mainan

Bukan Iklan

Oniel di antara 2 botol

Botol kosong di depan kapal

Anyaman

Vespa

Kelelahan

Me and My Canon EOS 550D in reflection

Mang Engking – UI – Depok

Ini kedua kalinya aku ke Mang Engking. Sebelumnya ke sana waktu Aila masih di dalam kandungan mamahnya, sekitar 2 tahun silam. Hampir tidak ada yang berubah, kecuali tambah ramai dan tambah ngantri 🙂

Tips:

  • Menu andalan adalah Udang Super Bakar Madu (jangan lewatkan)
  • Kalau ke sana sebaiknya pesan tempat lebih dulu agar dapat tempat di saung, karena lebih relaks dan santai daripada di meja ((021) 9956 9150, 081-61117751)
  • Untuk rute banyak pilihan. Bisa naik KRL trayek Jakarta Bogor (turun di stasiun UI). Pastikan masuk ke UI kalau bawa mobil, putar balik ke arah asrama UI
  • Anggarkan 50 – 100 ribu per orangnya. Rata-rata 75 ribu
  • Sambal tidak default, jadi pastikan PESAN
  • Puding yang ditawarkan agak mahal secara price over performance

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Informasi lain bisa dilihat di sini, di sini, dan di sini.

Mesi agak mahal, tapi puas dan tempatnya menyenangkan dinikmati bersama keluarga. Airnya cukup jernih, ikan bisa diberi makan dan banyak sekali.

Blog vs Blog Mikro

Aku tergerak menulis postingan ini setelah membaca postingan kawan lama di Multiply, Rifky si Jampang. Dia tergerak untuk menulis postingannya untuk mengikuti kontes “Blogger Return Contest”. Postingan ini sendiri tidak aku maksudkan untuk ikut kontes tersebut. Ada beberapa alasan mengapa aku tidak berminat mengikuti kontesnya (tak perlulah aku tulis di sini 🙂 ), namun aku tertarik untuk menulis issue yang diangkat dalam kontes tersebut yang mengklaim bahwa semakin populernya microblogging seperti Tumblr dan Twitter atau jejaring sosial seperti Facebook dengan statusnya maka  kecenderungan netters untuk menulis dalam blog menjadi menurun. Klaim ini seharusnya dibuktikan dengan penelitian yang serius, melibatkan banyak data yang tepercaya agar meyakinkan.

Agar tidak terjebak dengan hanya klaim, aku melakukan penelitian kecil-kecilan untuk mencari informasi di internet apa memang benar blog mikro akan membunuh blog? Salah satu situs hasil pencarian di Google, membawaku ke sini. Dalam grafik yang ditampilkan pada suatu kurun waktu tertentu di tahun 2009, pengunjung unik WordPress melonjak tajam ketika jumlah pengunjuk unik Twitter membentuk suatu garis datar. Artinya, kebutuhan orang untuk mencari informasi lengkap dan lebih tepercaya melalui situs blog, masih tetap tinggi. Jika sebuah blog memang menarik dan memiliki konten yang bermutu, maka ia akan punya penggemarnya sendiri. Orang juga cenderung untuk melakukan penelitian yang bersumber dari blog, bukan dari blog mikro. Mengapa? Karena blog menawarkan informasi yang lebih lengkap dan banyak referensi yang mendukung argumentasi dari artikelnya. Dengan blog, informasi yang diperoleh jauh lebih lengkap.

Apakah blogging lebih baik daripada mikroblogging? Tidak juga! Mereka sebenarnya saling bersimbiosis. Keduanya punya kekuatan yang berbeda dan saling dapat menunjang. Mari kita lihat karakteristik keduanya.

Blog biasa:

  1. Pada umumnya tidak ada batasan dalam jumlah karakter yang ditulis
  2. Membutuhkan waktu khusus untuk sengaja menulisnya dan untuk membacanya
  3. Lebih lengkap dalam mengekspresikan gagasan atau lebih lengkap dalam memberikan informasi atau pengetahuan untuk dibagikan kepada masyarakat dunia. Biasanya ditulis dengan lebih cermat dan membutuhkan pemikiran yang cukup dalam sebelum menuliskannya

Mikroblog:

  1. Pada umumnya terbatas dalam jumlah karakter yang ditulis
  2. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sengaja menulisnya dan untuk membacanya
  3. Informasi yang diberikan lebih bersifat responsif dan merupakan lintasan dalam benak penulisnya pada saat informasinya ditulis

Dari karakteristiknya, keduanya tidak saling menggantikan. Siapa sih yang suka microblogging?

  1. Orang yang memang tidak suka atau merasa tidak bisa menuangkan gagasannya atau berbagi ilmu via tulisan panjang,
  2. tidak punya banyak waktu untuk duduk meluangkan waktu menuliskan sesuatu
  3. Putus asa merasa telah menulis panjang lebar namun tidak ada yang membaca tulisannya. Ingat film Julie and Julia?

Untuk yang pertama, sebenarnya bisa karena memang tidak berbakat, atau memang tidak punya minat untuk belajar melakukannya (baca: malas belajar). Mungkin memang budaya menulis kurang dikembangkan di sekolah dasar. Untuk yang kedua, tanpa kedisiplinan memang sulit untuk sengaja menulis artikel panjang. Dengan kesibukan yang luar biasa orang cenderung tergoda untuk aktif di blog mikro dan tidak mengasah kemampuan untuk menulis panjang. Untuk yang ketiga sebenarnya Multiply adalah salah satu jejaring sosial yang menarik, karena setiap kita posting ada Message Board yang menuliskan semua postingan yang baru ditulis di antara sesama bloggers atau yang aktif diberikan komentar. Aku sendiri sempat menggunakan Multiply selama sekitar 4 tahun. Namun karena adanya bugs, tampilan yang kurang menarik, dan sempat dihentikannya akunku sementara karena dituduh menyebarkan konten yang mengandung hak cipta (padahal aku sendiri yang membuatnya), dan menyebabkan terhapusnya semua kontak, akhirnya aku berpindah ke WordPress. Untuk tetap menarik teman membaca postinganku di sini, aku mengatur agar setiap kali posting di sini bisa otomatis muncul di Facebook, Twitter, dan Yahoo!. Memang jumlah komentar yang muncul tidak sebanyak yang aku dapatkan di Multiply, tapi aku tidak mau dibatasi keinginan menulisku karena jumlah komentar. Motivasiku menulis di blog adalah berbagi. Mottoku adalah sharing is knowing how to love, and loving is knowing how to share. Dalam agama Islam, perintah pertama kepada Nabi Muhammad adalah iqra, artinya bacalah! Kita membaca karena ada sesuatu untuk dibaca (baik yang tersirat maupun yang tersurat). Tulisan mengabadikan apa yang ingin kita baca dan membuat kita bisa berbagi apa yang bisa dibaca itu kepada sesama. Tulisan yang panjang tentu saja berpotensi memberikan lebih banyak informasi daripada tulisan singkat, bukan?

Sekarang mari kita lihat karakteristik blog mikro.  Blog mikro cocok untuk:

  1. ngobrol ngalor ngidul
  2. sekedar saling menyapa antara netters
  3. berbagi tips
  4. berbagi cerita yang sedang trend
  5. curhat cepat
  6. humor singkat
  7. sastra singkat seperti pantun
  8. jualan
  9. sebagai tautan ke Blog!

Bagaimana dengan blog sendiri? Apa saja yang cocok?

  1. Tulisan karya sastra panjang, seperti cerpen, cerber, puisi panjang
  2. Artikel argumentatif atau persuasif
  3. Berita yang lengkap
  4. Tutorial lengkap tentang hobi (fotografi, pemrograman, masak, dsb)
  5. Ulasan tentang berbagai hal yang biasanya mengandung tips dan saran
  6. Jualan

Bagaimana membuat orang lain membaca blog kita? Salah satunya dengan melempar tautannya ke mikroblog! Postinganku di WordPress ini aku link ke Twitter dan Facebook. Sekali posting di WordPress maka otomatis tautan dan sedikit bagian awal dari blog akan muncul di Facebook dan muncul dalam tautan mini di Twitter. Dalam situs ini, disebutkan bahwa 3.5 milyar konten (blog, berita, dan sebagainya) diposting di Facebook setiap minggunya. Terbukti bahwa blog mikro menjadi sarana efektif untuk membagikan informasi yang lebih lengkap!

Jadi sebenarnya blog dan mikroblog tidak saling membunuh, tapi bisa saling membutuhkan, dan punya tujuan yang berbeda. Bahwa semakin sibuk seseorang, biasanya akan lebih produktif dengan blog mikro. Dalam lima hari terakhir aku lembur di kantor sampai pagi tapi aku tetap melakukan blogging  untuk menulis ulasan film yang aku tonton pada saat makan siang atau malam hari. Memang postingan microblogging untuk menuliskan apa yang terlintas dalam pikiran atau hati secara cepat frekuensinya lebih banyak. Biasanya memang informasi yang tidak ingin aku rincikan aku lempar ke Facebook. Misal kuliner dengan menampilkan foto yang resolusinya tidak terlalu tinggi (menggunakan kamera Blackberry) dan memberikan ulasan singkat. Berbeda ketika aku meniatkan untuk dituliskan dalam blog. Aku akan membawa kamera SLRku untuk memfoto objek yang akan aku posting. Kualitas gambar bisa lebih bagus, dan biasanya aku berikan sentuhan tone dengan Adobe Lightroom. Film yang hanya ingin aku ulas ratingnya, aku hanya lempar via GetGlue yang terkait langsung dengan Facebook. Untuk film yang benar-benar ingin aku ulas, aku akan tuliskan lebih panjang di WordPress.

Kesimpulan akhir, menurutku blog dan blog mikro berjalan beriringan, saling bersimbiosis, dan memiliki fungsi uniknya sendiri-sendiri yang diperlukan oleh semua manusia yang ingin tetap eksis di dunia maya 🙂 Keduanya juga dijadikan sarana untuk komersial dengan cara yang berbeda.

Selamat menulis, blog panjang ataupun yang mikro!

Source Code (2011)

Kali ini saya tidak akan membahas tentang Delphi Programming. Meskipun judulnya Source Code, tidak ada potongan program whatsoever yang akan dibahas di postingan kali ini. Source Code adalah sebuah film yang disutradarai oleh Duncan Jones, putra David Bowie. Duncan sebelumnya menyutradarai film fiksi ilmiah thriller yang sangat aku sukai yang berjudul Moon. Kali ini ia menggandeng Ben Ripley, jenius lulusan University of Southern California’s School of Cinema-Television, yang menulis ide cerita film ini. Okelah, sekarang kita bahas filmnya.

Versi tanpa Spoiler

Jake Gylenhaal memerankan Colter Stevens, seorang pilot Angkatan Udara Amerika yang bertugas di Kandahar, Afghanistan. Suatu pagi ia terbangun dari tidurnya dalam tubuh yang sama sekali asing dalam sebuah kereta yang berjalan.8 menit kemudian ia dan seluruh penumpang keretanya tewas karena aksi terorisme. Setelah meledak ia terbangun dalam sebuah ruangan sempit di mana ia menerima tugas melalui video, untuk mencari tahu siapa pelaku terorisme itu. Setiap ia kembali ke kereta, ia masih mengingat proses sebelumnya, sehingga ia semakin familiar dengan isi di kereta tersebut. Pertanyaannya, apakah ia dapat menemukan siapa pelaku aksi terorisme itu?

Versi dengan Spoiler (Jangan membaca jika belum menonton)

Ide ceritanya menarik. Namun mengandung hal yang tidak masuk akal yang sering disebut dengan plot hole. Jake Gylenhaal terbangun dalam realita ingatan 8 menit terakhir kehidupan Sean Fentress, korban aksi terorisme dalam kereta. Apa yang dilihat oleh Jake adalah Virtual Reality yang dikonstruksi oleh program. Plot hole terbesar adalah ketika Jake bisa pindah gerbong, bisa berkomunikasi dengan terorisnya, dan sebagainya. 8 menit terakhir hanyalah informasi visual dengan sedikit informasi audio korban dalam kereta api. Tanpa melakukan scanning isi otak semua penumpang, mustahil menyimulasikan atau mengetahui isi kepala terorisnya. Plot hole ini persis dengan film Blade Runner yang memotret sebuah foto dan dari fotonya bisa bergerak ke arah manapun.  Nah sebenarnya film bisa dipotong pada adegan ia berciuman dengan Christina (Michelle Monaghan), tanpa diteruskan mereka hidup bahagia berdua. Singkat cerita, setelah ia berhasil menemukan terorisnya, ia memohon agar ia tetap bisa mencoba 8 menit sisa hidupnya, agar ia mati membawa memori yang indah. Setelah adegan ciuman yang berhenti, tanda Jake telah mati, film kembali bergulir. Nah potongan film berikutnya, yang ini menurutku adalah imajinasi penulis ceritanya, salah satu alternatif kehidupan yang mungkin saja terjadi oleh sebab apapun.


Menarik, lumayan lah 8/10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Stone (2010)

Dengan dibintangi oleh Robert deNiro dan Edward Norton, aku berharap filmnya minimal sekelas The Score, di mana deNiro dan Norton bermain bersama. Ini reuni yang gagal. Bukan karena akting mereka, tetapi kekuatan ceritanya yang lemah. Tempo lambat dengan ending yang tidak kuat. Benar-benar sia-sia talenta mereka dengan kekuatan cerita yang lemah.
Ceritanya Norton dipenjara dan sudah hampir selesai masa hukumannya. DeNiro berperan sebagai psikiater penjara yang bertugas menganalisis kejiwaan si napi apakah ia sudah bisa dilepas atau tidak. Ingin segera keluar, Norton meminta istrinya yang cantik di luar penjara (Mila Jovovich) untuk mempengaruhi DeNiro dalam membuat laporan. Cerita bertambah kompleks seiring jatuh hatinya Mila kepada DeNiro dan pengalaman spiritual Norton dan istri deNiro yang tambah membuat film ini tidak jelas mau dibawa ke mana.

5/10, totally boring.

Talenta yang Sia-sia
DeNiro dan Norton - Talenta yang Sia-sia

Faster (2010)

Dwayne as The Driver
Dwayne as The Driver
Film Dwayne “The Rock” Johnson dan Billy Bob “Ex Jolie’s Husband” Thornton ini merupakan film aksi dengan tempo cepat yang mengetengahkan topik balas dendam. Dwayne benar-benar cocok untuk main film bergenre keras ini. Disajikan dengan style dan sentuhan religi, Dwayne tidak hanya mengamuk tetapi juga meneteskan air mata.

Dwayne memerankan tokoh The Driver (tanpa nama aslinya). Ketika saudara The Driver mati karena dikhianati dalam sebuah perampokan dan membuatnya dipenjara, ia bersumpah akan membalas dendam kematian saudaranya itu. Namun balas dendamnya tidak semulus yang ia perkirakan karena dia dikejar oleh polisi yang mau pensiun dan seorang pembunuh bayaran yang egois.

Berhasilkah ia membalaskan dendam saudaranya atau justru ia mati terbunuh dalam keadaan penuh dendam kesumat?

Like this movie, 8/10. (Mungkin terlalu dermawan, but what the heck).

Pemancingan Pondok Rizky

Setelah tadi pagi olah raga 73 menit bermain space glider di kala hujan dan sarapan ketoprak, mataku ngantuk berat. Bangun-bangun sudah siang, lalu sholat dzuhur dan berniat mengajak keluarga makan siang di luar. Pilihanku jatuh ke Pemancingan Pondok Rizky yang kemarin ingin dikunjungi kolegaku, Dony Alpha. Berbekal informasi di internet aku ke sana, dan ternyata cuma 10 menit saja dari rumahku.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Untuk yang berminat ke sana, rutenya adalah sebagai berikut:
1. Bawa mobil via tol, keluar di Serpong / BSD City / Parung (paling ujung). Ambil yang ke kiri (arah Serpong/Parung). Pertigaan (lurus ke perempatan Victor – ke kanan ke Taman Tekno), ambil ke kanan. Mentok ketemu pertigaan (ke kiri arah Muncul – ke kanan arah Stasiun Serpon), ambil ke kiri. Setelah melewati pompa bensin, ada jalan HK, ambil kanan. Ada pertigaan (ke kiri arah Muncul – ke kanan arah Pemancingan), ambil kanan. Tidak jauh ada gang sebelah kanan dengan plang Pemancingan Rizky.
2. Dari arah Pamulang lurus terus sampai perempatan Muncul, ambil lurus terus sampai ketemu pertigaan (lurus ke Pemancingan – kanan ke jalan HK), ambil lurus lagi. Sebelah kanan ada plang Pemancingan.

OK. Sekarang ulasannya.
1. Mengenai variasi makanan, tidak banyak. Yang ditawarkan hanya ayam, ikan gurame dan mas. Nila tidak ada. Udang, cumi, dsb tidak ada.
2. Mengenai harga, so so. Gak murah, gak mahal. Rata-rata per orang menghabiskan 40 – 50 ribu.
3. Mengenai rasa, so so. Masih kalah sama dCost, jauh tertinggal dibandingkan Mang Engking, Depok. Mang Engking tempat lebih bagus, air kolam lebih bersih, makanan lebih bervariasi, namun harga lebih mahal. Rata-rata per orang bisa menghabiskan 70 – 80 ribuan.
4. Mengenai jalan menuju ke sana, begitu masuk gang, hati-hati berpapasan dengan mobil lain, karena gangnya tepat dilewati 1 mobil saja. Mesti sabar mengantri karena tidak ada orang yang mengatur lalu-lintasnya. Beda dengan Mang Engking yang sangat mudah di dalam kawasan UI.

Apakah mau balik lagi ke sana? Sepertinya tidak. Berbeda dengan Mang Engking yang jelas mau banget balik ke sana. Mungkin lebih enak buat Anda yang gemar memancing. Kalau memancing di sini mungkin bisa betah ditemani air kelapa muda. Kalau hanya datang untuk makan, so so dan tidak ngangenin.

Untuk yang mau mencoba, klik di sini untuk melihat petanya di Foursquare.

Kursus Fotografi Gratis

Digital Photography School
Digital Photography School

Bagi Anda pecinta fotografi yang ingin kursus fotografi GRATIS, bisa mengunjungi situs http://digital-photography-school.com/. Di sana Anda bisa belajar trik dan teknis fotografi di lapangan, mengerjakan PR mingguan, mencari tahu sebuah gambar bagaimana mengambilnya, kompetisi, berbagi teknis dengan sesama, dan sebagainya.

Apa perlu kamera canggih untuk ikutan fotografi? Tidak. Salah satu pemenang kompetisi mengambil gambar dengan kamera HP, seperti bisa dilihat di sini.

I think a photography class should be a requirement in all educational programs because it makes you see the world rather than just look at it. (Unknown)