Source Code (2011)


Kali ini saya tidak akan membahas tentang Delphi Programming. Meskipun judulnya Source Code, tidak ada potongan program whatsoever yang akan dibahas di postingan kali ini. Source Code adalah sebuah film yang disutradarai oleh Duncan Jones, putra David Bowie. Duncan sebelumnya menyutradarai film fiksi ilmiah thriller yang sangat aku sukai yang berjudul Moon. Kali ini ia menggandeng Ben Ripley, jenius lulusan University of Southern California’s School of Cinema-Television, yang menulis ide cerita film ini. Okelah, sekarang kita bahas filmnya.

Versi tanpa Spoiler

Jake Gylenhaal memerankan Colter Stevens, seorang pilot Angkatan Udara Amerika yang bertugas di Kandahar, Afghanistan. Suatu pagi ia terbangun dari tidurnya dalam tubuh yang sama sekali asing dalam sebuah kereta yang berjalan.8 menit kemudian ia dan seluruh penumpang keretanya tewas karena aksi terorisme. Setelah meledak ia terbangun dalam sebuah ruangan sempit di mana ia menerima tugas melalui video, untuk mencari tahu siapa pelaku terorisme itu. Setiap ia kembali ke kereta, ia masih mengingat proses sebelumnya, sehingga ia semakin familiar dengan isi di kereta tersebut. Pertanyaannya, apakah ia dapat menemukan siapa pelaku aksi terorisme itu?

Versi dengan Spoiler (Jangan membaca jika belum menonton)

Ide ceritanya menarik. Namun mengandung hal yang tidak masuk akal yang sering disebut dengan plot hole. Jake Gylenhaal terbangun dalam realita ingatan 8 menit terakhir kehidupan Sean Fentress, korban aksi terorisme dalam kereta. Apa yang dilihat oleh Jake adalah Virtual Reality yang dikonstruksi oleh program. Plot hole terbesar adalah ketika Jake bisa pindah gerbong, bisa berkomunikasi dengan terorisnya, dan sebagainya. 8 menit terakhir hanyalah informasi visual dengan sedikit informasi audio korban dalam kereta api. Tanpa melakukan scanning isi otak semua penumpang, mustahil menyimulasikan atau mengetahui isi kepala terorisnya. Plot hole ini persis dengan film Blade Runner yang memotret sebuah foto dan dari fotonya bisa bergerak ke arah manapun.  Nah sebenarnya film bisa dipotong pada adegan ia berciuman dengan Christina (Michelle Monaghan), tanpa diteruskan mereka hidup bahagia berdua. Singkat cerita, setelah ia berhasil menemukan terorisnya, ia memohon agar ia tetap bisa mencoba 8 menit sisa hidupnya, agar ia mati membawa memori yang indah. Setelah adegan ciuman yang berhenti, tanda Jake telah mati, film kembali bergulir. Nah potongan film berikutnya, yang ini menurutku adalah imajinasi penulis ceritanya, salah satu alternatif kehidupan yang mungkin saja terjadi oleh sebab apapun.


Menarik, lumayan lah 8/10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Iklan

Posted on Mei 16, 2011, in Ulasan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: