Arsip Blog

Review Film Firegate a.k.a Gerbang Neraka

Rizal Mantovani kembali menghasilkan film horor berbalut petualangan dalam film yang ia besut, yang berjudul Firegate atau Gerbang Neraka. Film ini terlihat dibuat dengan cukup ambisius dari jajaran pemain utamanya, Reza Rahadian (Habibie dan Ainun), Julie Estelle (Headshot), dan Dwi Sasono (Pocong) – serta aktor gaek yang sedang naik daun, Ray Sahetapy (The Raid). Penggunaan bintang tenar dan digunakannya CGI di banyak adegan, menunjukkan keseriusan Rizal dengan film yang mulai digarap di 2016 tahun lalu, sekaligus harapan mendulang rupiah dalam pemasukan tiket.

Img1

Jajaran pemain dan kreator – sumber Bintang.com

Ide ceritanya sendiri bukan semata-mata fiksi, namun dari penelitian arkaelogi yang benar-benar terjadi di situs Gunung Padang, Cianjur. Temuan sementara tim yang dipimpin Danny Hilman Natawidjaja, geolog di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, itu menunjukkan bahwa Gunung Padang adalah selimut yang menutupi sebuah bangunan tempat pemujaan purba berupa punden berundak. Punden itu terkubur akibat suatu bencana besar yang melumat penduduknya.

Jelas sekali film ini berusaha tidak mengekor dengan film horor yang banyak beredar di pasaran, yang biasanya mengandalkan legenda urban masyarakat atau tipikal rumah berhantu yang biasa jadi andalan film horor barat besutan James Wan. Rizal, dalam sebuah wawancara dengan Kompas menegaskan hal ini.

“Kami dapat inspirasinya dari Gunung Padang di Jawa Barat, itu adalah sebuah situs (berbentuk piramida) yang masih ditutup oleh pohon-pohon, tapi sejak sepuluh tahun yang lalu ini sudah mulai dilakukan penyelidikan,” ucap Rizal.

“Setelah dicek ternyata ada bangunan di dalam ini (Gunung Padang) ini secara fakta. Diambil sampelnya ternyata disitu ditemukan benda-benda dan bahan-bahan buatan manusia, jadi bukan alami, setelah dicek oleh tim arkeologi Indonesia, ternyata itu lama sekali, akhirnya cek di Amerika, itu ternyata sangat tua sekali, bahkan lebih tua dari Piramida Mesir,” tambahnya menjelaskan.

Film Gerbang Neraka atau Firegate ini berkisah tentang Tomo Gunadi (Reza Rahadian) seorang wartawan tabloid mistis yang ditugaskan meliput Piramida Gunung Padang.  Tomo yang tadinya memandang sebelah mata akhirnya harus bekerja sama dengan paranormal bernama Guntur Samudra (Dwi Sasono) dalam mengungkapkan misteri situs tersebut.

Arni Kumalasari (Julie Estelle) kepala tim arkeologi yang ditunjuk Presiden Indonesia, setelah profesor Theo Wirawan mengalami kematian misterus, pada awalnya menolak kehadiran serta bantuan dari Tomo maupun Guntur. Arni yang selalu percaya dengan ilmu pengetahuan dan menolak segala sesuatu yang berbau klenik akhirnya harus mengakui bahwa terlalu banyak kejadian mistis yang terjadi di situs itu yang membawa korban jiwa.

Pada saat ketiganya menemukan fakta bahwa piramida ini adalah ‘penjara’ untuk sebuah kekuatan kuno yang bisa menghancurkan dunia. Mau tidak mau ketiga orang yang mempunyai latar belakang dan tujuan berbeda ini harus bekerjasama untuk mencegah malapetaka sebelum terlambat.

Img3

Dari sisi akting, Reza jelas sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia bermain prima seperti biasanya sebagai seorang wartawan bagus yang kehilangan idealismenya, dan mengejar berita semata-mata demi uang. Julie Estelle bermain agak kaku dan kurang luwes sebagai seorang ilmuwan yang tidak percaya dunia klenik. Dwi Sasono dengan gaya khasnya, menjadi paranormal yang memiliki ilmu kanuragan, tanpa kehilangan sense of humor, seperti yang biasa ia perankan di film lainnya.

Dari sisi cerita, masih banyak yang bisa diperkuat sebenarnya. Jika dibandingkan The Mummy-nya Brendan Frasser, sangat jelas apa yang diingkan Mummy ketika bangkit. Mengapa mummy membunuhi korbannya, dan seterusnya, penonton diajak menikmati tanpa harus menerka-nerka mengapa begini dan mengapa begitu. Juga dari sisi penyelesaian, terasa sang aktor tahu begitu saja bagaimana mengakhiri potensi bencananya, tanpa rujukan apapun, tidak seperti The Mummy, yang merujuk pada buku suci yang ditemukan.

Dari sisi spesial FX, masih perlu suntikan dana agar semua tampak natural dan tidak terlalu terlihat fake.

Img4.jpg

Namun demikian, film garapan Legacy Pictures ini patut diacungi jempol karena mencoba tampil beda dan tidak mau membebek film lainnya yang hanya itu-itu saja dalam dunia horor. Ke depannya, kualitas cerita dan story telling, ditambah CGI yang mumpuni akan membuat film kita tidak kalah dengan film buatan luar negeri.

Saya memberi nilai 7 skala 10 secara umum, selamat menikmati di bioskop kesayangan Anda, mulai 20 September 2017.

Iklan

Weekly Photo Challenge: Escape

This week’s challenge is Escape. Last week, I took two days on leave to accompany my father whose got heart disease to get an alternative medication in Cibeber, West Java, Indonesia. Actually, I could just take one day leave, but I decided to “escape” one more day to visit my uncle (my dad’s brother) who lives 28 km from the medication center. The medication is called pashod, or fashdu, in western is common with phlebotomy or venesection (a vein is opened and a large volume of blood collected and discarded). The phlebotomist also asked my father to consume Sembung leaves (Blumea Balsamifera). The leaves taste spicy, slightly bitter, warm and smelled like spices. Nutritious as antibacterial, blood circulation, eliminate blood clots and swelling. After three times going there, my father is feeling better.

We went there on last Monday, the trip took around 4 hours to get there. My uncle, Teddy, waited there with his motorcycle and after the medication we went to his home, Sukanegara village. He’s living with his wife’s family. We met with his parents in law who welcome us with warm hospitality. His mother in law is a very good cook. She prepared wonderful traditional meals.

We arrived around 5 PM. The water was really cold. I forced myself to endure during showering. Sukanegara is located 900 meters from sea level. So yeah, trust me the water was really cold. The temperature was around 19-24 degree Celsius. Not too cold.

In 2010 the population was around 6000 with the ratio men and women was about fifty-fifty. The population density was around 15 per km square. It has a traditional market and some grocery stores. Wherever I saw, I could see tea plants everywhere. The people own around 15 hectares of tea plant, and government owns 550 hectares. The rice from this area (Cianjur) is quite famous.

Tuesday morning, my uncle took me for sightseeing with his bike. I took some pictures to capture my “escape”.

A woman is cutting tea plant

A woman is cutting tea plant

River flow under the bridge

River flow under the bridge

A spider - abdoment view

A spider – abdomen view

How about you, dear fellow reader? When was the last escape you had? Got some stories or pictures to share?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.