Listrik Gundala (2019) Menyengat Bioskop Nusantara

Semalam menonton Gundala, film tentang superhero Indonesia yang diangkat dari komik karya Harya Suraminata (Hasmi). Film yang dibesut oleh Joko Anwar ini menjadi pembuka waralaba sinematik Jagad Bumi Langit.

Saya mencoba tidak menuliskan hal-hal yang bisa mengganggu Anda yang belum menonton film ini. Meski demikian, untuk pengalaman yang maksimal silakan baca ulasan ini setelah Anda menontonnya.

——————————————————————————

Film dibuka dengan Sancaka kecil yang kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu berdekatan. Sancaka yang akhirnya menjadi gelandangan itu akhirnya menjadi jago bela diri setelah dibantu seorang gelandangan lain yang menolongnya dari kekerasan di jalanan.

Dari kecil, petir sepertinya selalu mengincar Sancaka, sesuatu yang ia takuti namun akhirnya justru menjadi kekuatan dirinya. Ia juga tak pernah bisa hidup tenang bila melihat ketidakadilan di depan matanya.

Musuh bebuyutan Sancaka kali ini adalah Pengkor yang memiliki masa depan kelam. Orang tuanya mati difitnah, rumahnya dibakar, dan ia menjadi cacat karenanya. Pengkor muda terbiasa mengerahkan kawan-kawan sependeritaannya untuk melawan dan membasmi orang-orang yang merundung mereka. Akhirnya ia tumbuh dewasa menjadi mafia yang menguasai kejahatan terorganisasi. Bront Palarae, aktor Malaysia langganan Joko Anwar, memerankan karakter Pengkor dengan baik. Film ini juga menjadi reuninya dengan Tara Basro dan Asmara Abigail sejak Pengabdi Setan.

Masalah nasional timbul ketika Pengkor menyebarkan bencana yang bisa menimbulkan rusaknya generasi yang terlahir dari ibu-ibu yang sedang hamil. Sancaka yang menjadi satpam itu membantu pemerintah yang sedang berusaha mengatasi bencana nasional ini.

Di film ini, superhero wanita yang diperkenalkan adalah Sari Asih yang dibintangi Pevita Pearce. Inilah foto-foto yang menggambarkan rencana besar waralaba Jagad Bumi Langit ini.

Beberapa catatan setelah menonton film ini:

  • Adegan awal film memberikan gambaran yang bagus mengenai Sancaka kecil. Namun jika ditambahkan karakternya ketika remaja dan pra dewasa, akan lebih membuat kita mengenal karakter Sancaka lebih kuat
  • Visual FX yang berjumlah 683 shot memang lumayan. Anggaran sekitar 30 milyar ini ya sesuai lah dengan apa yang didapat. Ingat anggaran Avengers itu trilyunan. Kita tidak bisa membandingkannya karena tidak adil. Masih bisa ditingkatkan lagi kok untuk selanjutnya
  • Akting para pemainnya cukup mumpuni, termasuk adanya tokoh anak-anak yang sudah pintar bermain peran
  • Di bagian tengah banyaknya penjahat asuhan Pengkor agak mengganggu jalan cerita agar tidak terlalu “ramai”. Beberapa penjahat ini kurang berperan besar, malah ada yang mengganggu dan bisa dibuang dari film tanpa filmnya terganggu jalan ceritanya
  • Beberapa humor yang muncul di film juga patut diapresiasi karena menambahkan unsur hiburan
  • Pendekatan aksi laga jarak dekat sudah saya duga akan lebih banyak dipilih Joko Anwar layaknya The Raid yang digarap Gareth Evans. Memang koreografi dan pengambilan gambar adegan laganya tidak segahar The Raid yang berdarah-darah itu. Mungkin juga ini strategi Joko Anwar agar lebih banyak penonton yang bisa menikmatinya di bioskop
  • Secara umum saya menyukai film ini. Saya berikan 8/10 sebagai film pembuka superhero Indonesia ini. Semoga banyak sutradara hebat lain yang mau menyutradarai film lainnya sehingga banyak film berkualitas muncul dengan tonal berbeda namun tetap terintegrasi dan menghibur penontonnya

Selamat menonton film yang berdurasi 123 menit ini, selamat kepada Joko Anwar dan semua kru film Gundala.

Review Film Pengabdi Setan (2017)

Impian Joko Anwar untuk membesut film Pengabdi Setan puluhan tahun silam tercapai sudah. Inilah film horor yang menginspirasikan dirinya untuk membuat film. Sutradara yang terkenal dengan Pintu Terlarangnya ini merayu Rapi Film yang memiliki hak ciptanya agar diperkenankan menjadi sutradaranya. Akhirnya film yang juga dibiayai oleh CJ Entertainment ini tayang juga di bioskop.

Beberapa teman saya mengatakan, film asli Pengabdi Setan yang dibintangi Ruth Pelupessy dan HM Damsjik dulu adalah salah satu film menakutkan di masa kecil mereka. Saya sendiri sudah menonton versi lamanya dan penasaran dengan versi Joko Anwar ini. Jadi gini…

Lanjutkan membaca Review Film Pengabdi Setan (2017)