Arsip Blog

Dilan (2018): Sebuah Review dan Kenangan Zaman Old

Minggu lalu, pas ada kondangan di daerah Pejaten bersama bujangku yang kelas 3 SMP, kami menyempatkan nonton Dilan di Pejaten Village. Biasanya saya gak demen nonton teen flick ginian. Tapi bujang kelihatannya pengen nonton karena sudah baca novelnya. Saya baca reviewnya sekilas kok lagi happening, semua orang sibuk membahas tentang film ini. Dan konon, hingga tulisan ini diposting, penontonnya sudah tembus 1 juta. Angka yang fantastis, bukan? Dan faktor lain yang membuat saya penasaran adalah setting ceritanya di tahun 1990. Ini sedikit banyak akan mengingatkan masa SMP-SMA saya dulu hehehe…

Saya sendiri belum baca bukunya, yang berjumlah tiga jilid. Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Dari akhir film ada keterangan: “Sampai Jumpa di Dilan 1991”, itu berarti akan ada sekuelnya dan hampir mustahil tidak dibuat sampai yang ketiganya. Untungnya belum baca buku sebelum nonton adalah kita tidak perlu sibuk membandingkan dan mengkhawatirkan apakah filmnya sesuai bukunya atau tidak. Gak perlu protes pemainnya sesuai imajinasi kita atau enggak, dst. Menurut Pidi Baiq, bukunya ditulis dari kisah nyata seseorang yang bernama Milea. Jadi ini bukan murni fiksi.

Kesan apa saat dan setelah menontonnya?

  • Dari kubu pemain, banyak wajah baru yang fresh. Ganteng-ganteng dan cantik-cantik.

Lia Waroka memerankan bundanya Dilan

Ridwan Kamil nongol sebagai cameo yang memerankan salah seorang guru. Hahaha.. ada yang kampanye duluan nih wkwkwkwk..

  • Dari sisi cerita, sebagai seseorang yang belum membaca kisahnya, secara umum puas. Filmnya menghibur, banyak dialog yang mengundang geli-geli lucu karena gombalnya si Dilan dalam merayu Milea. Well, mungkin gak semua orang suka dengan rayuan gombal begini. Tapi saya bisa menghargai kegombalan si Dilan karena mungkin saya suka ngegombal. Hahaha.. Sebenarnya ngegombal dan pas plus lucu itu susah loh.. Gak gampang ngegombal yang bikin cengar-cengir.
  • Dari kemampuan akting, pemeran Dilan yang juga penyanyi Cowboy Junior, Iqbal Dhiafakhri, bermain cukup bagus. Maklumlah udah lima film ia bintangi sebelumnya. Vanesha Prescilla berperan sebagai Milea. Cantik dan sebagai aktris yang pertama kali bermain dalam sebuah film, bisa dibilang lumayan lah. Gak malu-maluin.
  • Intinya, secara film meski berasa agak khawatir film ini berusaha ngelucu tanpa tujuan jelas di sepertiga akhirnya, namun bisa dimaklumi. Karena gaya ngegombal Dilan yang hampir selalu muncul ketika dia dapat adegan itu bisa-bisa boring kalau kebanyakan. Berbeda dengan Catatan Si Boy yang alim, Dilan justru digambarkan bandel, tukang berkelahi, bahkan panglima geng motor. Nah kalau pas adegan tengil dan ngegombal, Iqbal sih cocok. Tapi pas mimpin geng motor, terus terang memang kurang meyakinkan. Kalau segahar Anhar justru lebih pas memerankan bad boy. Banyak yang bilang, film ini adalah the next AADC. Saya gak protes. Terus terang, menghibur kok. Tonton gih!

Meskipun demikian, tidak semua yang ada di film ini patut ditiru. Ada adegan Dilan melawan gurunya ketika ditampar di sekolah. Meski guru salah, memukul balik juga tidak memecahkan masalah. Gampang memukul teman hanya karena pacar kita disakiti juga tidak baik untuk ditiru. Meski di buku karakter Dilan memang demikian, jangan ditiru yang tidak baiknya. Termasuk ngesun, boncengan motor berdua, dan sebagainya. Ambil positifnya, filter yang buruk. Jadilan penonton yang cerdas.

Naaah… selain bercerita tentang film Dilan, saya juga mau bercerita berbagai hal yang pernah dulu saya alami pas SMA dan kuliah, di tahun 1990-an, yang anak zaman now tidak mengalaminya. Coba ya, yang sekolah SMP-SMA sekitar tahun 90-an awal, tunjuk tangaan!

  • Di salah satu adegan di rumah Dilan, kita melihat banyak poster dari Majalah Hai. Majalah Hai ini dulu adalah bacaan anak SMP-SMA tahun 90-an, terutama buat anak cowok. Sejak tahun 2017 majalah tersebut berganti media, dari cetak menjadi online. Nah dulu saya suka banget majalah ini. Melihat majalah ini muncul di Dilan, ada perasaan seolah bisa menghirup atmosfir SMP-SMA dulu

  • Telepon umum koin dan kartu plus wartel. Anak 90-an pasti pernah ngalamin pacaran via telepon umum koin dan kartu. Pas ngekos dulu di Depok, kami dah nyetok koin 100 biji untuk nelpon ke kos-kosan pacar. Aduh indahnya mendengar suara si dia di ujung sana. Dan ketika bunyi nada peringatan koin sudah harus dimasukkan kembali, terdengar bunyi denting koin untuk memperpanjang nyawa komunikasi. Bila koin sudah tak ada, maka durasi terakhir biasanya digunakan untuk mengatakan betapa rindunya diriku padanya, dan tak mau tahu bahwa besok kan berjumpa lagi. Tidak hanya itu, telepon umum koin juga digunakan untuk mengirim pesan via pager. Cara kerjanya adalah kita telpon call center provider pagernya, lalu dia akan menanyakan ID tujuan, dan meminta pesannya apa. Kalau lagi marahan ya pesannya bisa galak, dan operatornya cengar-cengir. Kebayang aja dia tahu kalau orang mau nagih utang, kangen, berantem, dan sebagainya.

Telepon umum koin

Nah, ini dia pager yang booming sebelum HP terjangkau secara luas

Nah ini hp pertamaku duluuuuu – Nokia 3210 – Providernya XL, baru bisa di kota besar saja hehehe.. naik kereta langsung blank spot

 

Dulu kursus Lotus 123, Word Star, Word Perfect, dan dBase III+ pake PC XT ini

Ini Lupus, karya Hilman, yang ngehit pas SMA dulu

Yah itulah mengapa banyak yang menonton film Dilan. Generasi zaman now penasaran gimana bokap nyokapnya dulu sekolah dan pacaran, sementara bapak dan ibu zaman now ingin bernostalgia kenangan zaman old. Persis kaya dulu film Warkop. Bapaknya nganter anak nonton Warkop karena ehem hahaha..

Demikianlah curhatan generasi yang smp/smanya tahun 90’an. Ketahuan dah umurnya wkwkwk…

Kalau kalian dah nonton filmnya, share ya pengalaman kalian, apa kesan terhadap filmnya dan apa ada kenangan yang terlintas setelah menonton filmnya.

 

Iklan