#FfKamis – Kereta Terakhir

Aku berlari menaiki tangga stasiun di depanku. Jantungku berdegup kencang. Semoga kereta terakhir masih ada. Rapat berjam-jam membuatku lupa akan waktu.

Peron menuju Serpong sudah sepi. Penumpang sudah habis. Hanya petugas kebersihan yang kulihat masih sibuk mengepel lantai.  

Kuambil gawaiku untuk melihat pemberitahuan di media sosial hingga tak terasa tiba-tiba keretaku datang. Senang rasanya bisa duduk. Karena penat, aku jatuh tertidur. Pulas. 

Ketika aku bangun, semua tampak hening. Tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang. 

“Mas, turun mana?” seseorang bertanya.

Aku balikkan badan, mataku terbelalak tanpa mampu menjawab.

“Mas, ini Stasiun Tanah Kusir. Serpong masih jauh!” kata pocong itu sambil meloncat pergi.


______

Cerita fiksi ini ditulis ketika melewati Kuburan Tanah Kusir di atas kereta yang melaju di malam Jumat sebagai kontribusi Flash Fiction tiap hari Kamis dengan topik Hening. Jumlah kata tepat 100, termasuk pocong.

Diganggu Jin (lagi)

Anakku diganggu jin (lagi) ketika kami lagi di mobil. Kami semua baca ayat suci Al Quran, terutama ayat Qursi. Handphone distel Al Baqarah. Anakku menjerit keras, menangis tanpa air mata, mencakar, dan sempat membisikkan ke telinga istriku: Dengerin tuh. Bilang amiiin! Kami tak berhenti membaca ayat qursi, membacakan al fatehah ke aqua dan membasuh mukanya dan meminumkannya. Anakku menjerit dan sempat bilang mamah peluk ke kursi belakang yang kosong. Sepertinya si jin menyerupakan istriku. Alhamdulillah, setelah berkali-kali menyebut asma Allah dan ayat qursi tiada henti, jin itu pergi. Sesampai di rumah orang tuaku, Aila bilang: Aila takuut. Kami semua memeluknya dan kami langsung sholat berjamaah bersyukur jin itu telah pergi.

Aila, menurut tukang urutnya dari masih di kandungan, iganya jarang-jarang, sehingga ia dikaruniai kemampuan bisa melihat jin. Berbeda dengan kakaknya, Rayyan, yang tidak pernah mengalami hal ini. Ia termasuk indigo, dan kami menerima takdir Allah ini. Setiap serangan itu tiba, hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’mannashiir… Hanya Allahlah pelindungku, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Kepunyaan Allahlah langit dan bumi, tak ada yang bisa terjadi tanpa izinNya. Dia hidup terus menerus kekal abadi, tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur. Kami sadar bumi ini tempat berbagi dengan makhluk ghaib lainnya. Kadang kami dizalimi sesama manusia, kadang oleh jin. Apapun itu, hanya Allahlah pelindung kami…

-Sent using Wishberry-