Arsip Blog

Mengetuk Nurani Melalui Film Drone (2017)

Film terbaru yang diimpor Indonesia Entertainment Group berjudul Drone yang dibintangi oleh Sean Bean (Lord of The Rings, Game of Throne). Film ini mengingatkan pada film serupa, Eye in the Sky (Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman). Meskipun temponya tidak secepat Eye in the Sky, Drone tetap mengingatkan kita akan arti kemanusiaan.

drone.jpg

Drone di kedua film di atas bukanlah drone yang menyenangkan. Kita mungkin sehari-hari familiar dengan drone untuk mengambil video atau foto kegiatan outdoor. Drone dalam film ini digunakan untuk memantau dan jika perlu membunuh sasaran tertentu, baik akan mencelakai orang tidak berdosa di sekitarnya atau tidak. Para korban tak berdosa yang sering disebut collateral damage, membuat kita berpikir, sesungguhnya kita tengah mencegah korban jiwa yang lebih besar dengan cara yang baik atau tidak. Teroris sering berkilah bahwa korban sipil yang terjadi akibat aksi mereka adalah collateral damage, demi menghentikan kezhaliman yang lebih besar. Di sini kita bertanya, sebenarnya pelaku penembak dengan drone ini berprinsip sama dengan teroris atau tidak? Jika untuk mengatasnamakan pembasmian teroris lalu memakan korban rakyat jelata yang tak berdosa, maka apakah kita tidak sekejam teroris itu sendiri? Mengapa kita tidak mengambil langkah yang lebih jantan? Tantang langsung, dan usir yang tidak berkepentingan, agar tidak menjadi korban tak berdosa.

drone_control

Sean Bean berperan sebagai seorang kontraktor CIA yang mengendalikan drone untuk menjadi algojo dari jarak jauh. Cukup mengendalikan joy stick dan kamera resolusi tinggi, siapapun yang harus mati, akan dibumihanguskan dari jarak jauh, dari ruangan berAC, kursi empuk, dan kantor yang nyaman.

Bagaimana apabila rudal yang kita tembakkan secara tidak sengaja, membunuh orang yang tak bersalah? Apa perasaan kita, kalau korban tak berdosanya adalah anak atau pasangan hidup kita? Paginya masih bercengkerama, sorenya hanya menemukan serpihan tubuhnya?

Img3

Bagaimana apabila korbannya anak sekaligus pasangan kita, dan kita tahu siapa yang melakukannya? Akankah kita akan membalas dendam kesumat ini secara penumpahan darah ataukah menghancurkan kehidupan rumah tangganya seperti halnya dengan pelaku yang menghancurkan kehidupan kita?

Img5

Sean Bean yang berperan sebagai Neil Wistin bermain sangat bagus dan menjiwai perannya sebagai pilot drone, yang akan jauh lebih memukau seandainya saja deretan para penulis dan sutradaranya, Jason Borque, membuat cerita yang lebih ringkas sebelum klimaksnya datang. Bagian introduksi tokoh antagonis berjalan cukup lambat, dan agak membuat penonton geregetan, kapan ketegangan itu tiba. Konflik rumah tangga yang dihadapi Wistin juga kurang bisa digali akhirnya akan ke mana.

Pembaca yang budiman, jika Anda adalah orang yang bertugas menekan tombol neraka di bumi, dan berpotensi membunuh manusia tak bersalah, akankah Anda melakukan hal ini atas nama perlindungan terhadap kemanusiaan?

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Film seperti Eye in the Sky dan Drone adalah film yang mencoba mengingatkan sisi kemanusiaan kita, akankah kita bertindak menghalalkan segala cara asalkan tujuan kita benar? Boleh merampok asal untuk memberi makan keluarga? Film ini menyindir kehidupan kita, agar kita berani jujur terhadap diri sendiri dan nurani, apakah kita sedang menegakkan kebenaran, atau justru menumbuhsuburkan dendam yang akhirnya kontraproduktif dengan tujuan kita mencegah terorisme.

Selamat menonton dan berkontemplasi!

Iklan

Zero Dark Thirty (2012)

Film yang disutradarai oleh Kathryn Bigalow ini diangkat dari kisah nyata pengejaran manusia terheboh sepanjang sejarah, yakni Osama Bin Laden. Film dibuka dari rekaman suara telepon para korban aksi terorisme 9/11, pengejaran Osama, dan diakhiri pembantaian Osama Bin Laden dan beberapa orang keluarganya.

Mengenai film, secara teknis filmnya berupaya keras menuturkan untuk mencoba netral dan memberikan informasi sepenting mungkin ala dokumenter. Di awal film, temponya berjalan cukup lambat di bagian penyiksaan tawanan. Jessica Chastain berperan sebagai Maya, agen CIA yang sangat besar kemungkinannya bukan tokoh nyata. Maya mungkin mewakili karakter bernama Jen dari sebuah buku yang berjudul No Easy Day: The Firsthand Account of the Mission that Killed Osama Bin Laden. Dalam buku itu, bekas anggota Navy SEAL Matt Bissonnette, yang menerbitkan buku dengan nama “Mark Owen,” menyebutkan bahwa Jen direkrut sejak lulus kuliah dan bekerja di bagian Bin Laden selama lima tahun, dan dia yang merangkaikan potongan puzzle menjadi utuh.

Film yang menyangkut aksi CIA ini memiliki banyak kemungkinan. Pikiran saya adalah:

  1. Tidak ada yang tahu apakah film ini jujur atau tidak, kecuali Sutradara atau pemerintah AS yang bekerja sama dengan Kathryn
  2. Tak ada yang pernah tahu seberapa besar dari cerita itu yang benar
  3. Jika memang Osama Bin Laden benar-benar pelaku terorisme, apakah pembantaian yang dilakukan tentara AS / CIA juga dapat dibenarkan?
  4. Tidakkah setiap pelaku kriminal berhak untuk diadili secara wajar di depan hukum?
  5. Saya membenci terorisme, tetapi saya juga membenci ketidakadilan dan standar ganda pemerintah AS
  6. Tindakan sewenang-wenang dari Pemerintah AS bisa jadi akan memaksa timbulnya sequel dari film ini…

Sepertinya film ini dibuat untuk:

  1. Memberikan kelegaan bagi korban terorisme 9/11
  2. Menaikkan rating Obama – ketika film ini akan diluncurkan, menjelang pilpres AS
  3. Menutup malu pemerintah AS yang bertahun-tahun tidak dapat mencari Osama (masih ingat film Where in the World is Osama Bin Laden?)

Melihat adegan pembantaian Osama dan keluarganya, mengingatkan saya pada adegan G 30 S/PKI, ketika pasukan Cakrabirawa membunuhi satu demi satu jendral yang dianggap terlibat dalam Dewan Jendral.

Saya hanya berharap:

  1. terorisme lenyap dari muka bumi ini
  2. Amerika tidak menjadi polisi dunia yang menerapkan standar gandanya
  3. keadilan dikedepankan dalam tindak kriminal

Menonton film ini, siapkan minuman dan makanan ringan yang cukup mengingat durasinya 157 menit atau 2 jam 37 menit.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Terlepas dari pro kontra film ini, hal yang menarik adalah:

  1. Kegigihan dan keuletan Maya (10 tahun mencari jejak Osama) menunjukkan persistensi akan membuahkan hasil
  2. Teknologi yang dimiliki Amerika benar-benar canggih. Sangat berbeda dengan yang dimiliki TNI 🙂
  3. Ada salah satu petinggi CIA yang beragama Islam. Entah dia benar-benar muslim ataukah seperti Snouck Hurgronje, untuk memahami pikiran musuh caranya adalah berpikir dan bertindak seperti musuh. Wallahu ‘Alam