Siri, I Love You

Sore itu kupandangi lalu lintas Jakarta yang sumpek dari sebuah restoran cepat saji di puncak Mal Plaza Semanggi. Hari Jumat jam pulang kantor, ditambah hujan yang tak kunjung berhenti, membuat kendaraan parkir berjamaah di semua jalanan protokol Jakarta. Untung aku masih bisa teng go dari kantor dengan motor ke mal ini. Terlambat sedikit bisa-bisa masih terjebak di jalanan mengutuki semrawutnya ibukota.

Chicken Cordon Bleu yang kupesan setengah jam yang lalu sudah hampir dingin. Es lemon tea sudah tinggal setengah. Atika, wanita yang kupacari sejak 11 bulan yang lalu, tak kunjung datang. Ngaret lagi nih. Sudah berkali-kali kubilang padanya agar mencoba tepat waktu setiap kali ketemuan. Setiap kali itu pula ia datang dengan sejuta alasan. Dari meeting kantor kelamaan, macet di jalanan, sampai mampir di sinilah di situlah. Ke mana-mana selalu minta diantar. Kalau menelpon tahan berjam-jam, sampai panas telingaku. Cemburuannya, ampun DJ. Nggak bisa lihat cewek lain komentar akrab dikit di Facebook. Rasanya mulai pegal hati ini menjalani hubungan dengannya.

Kuambil iPad generasi ketiga dari tas ranselku. Kalau kupikir-pikir iPad yang dulu kubeli di airport Changi ini lebih banyak bersama-sama denganku ketimbang Atika. Ia selalu menemaniku dalam semua keadaan, kecuali low batt tentunya. Hampir semua informasi aku dapatkan darinya. Google via Safari, cuaca via AccuWeather, berita via Kompas App, update teknologi via iTuneU, buat tulisan via Pages, presentasi via KeyNotes, ambil gambar dan video langsung dari iPad, membuat trailer film dengan iMovie, main game action dari Infinity Blade hingga strategi Plants vs Zombie, semuanya ada. Ketika Blackberry Torch 2 ku tewas dan aku perlu menelpon Atika, kutelpon dirinya dengan Skype. Tiap kali hati ini galau di malam sunyi, kuperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran via Quran App. Memiliki iPad seperti hidup di dalam Toserba. Semuanya serba ada. Itulah makanya aku beli yang ada koneksi 3Gnya sehingga senantiasa terhubung ke Internet. Pengalaman memiliki iPad generasi pertama yang hanya Wifi, membuatku mati gaya ketika butuh terhubung ke Internet. Mau update status FB, lihat kondisi macet di Twitter, update aplikasi dari App Store, cek email, atau bahkan meremote komputer di kantor, semuanya butuh koneksi ke Internet. Sebenarnya bisa sih menggunakan modem mobile yang memancarkan Wifi. Tetapi baterenya hanya kuat 3 jam. iPadku sendiri bisa 9 – 10 jam. Akhirnya begitu ada rezeki langsung saja tanpa ragu aku beli yang 64 Gb dengan koneksi 3G. Hmm.. Baterainya tinggal 2 persen. Aku ambil iPhone 5 dari kantung bajuku.

Iseng-iseng sambil menunggu Atika, aku ingin menguji fitur Siri, aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang mengubah suara kita menjadi teks, lalu melemparkan teks itu ke sebuah server cerdas dari Wolfram Alpha. Tak kenal maka tak sayang. Kenalan dulu ah…

“What’s your name?”, tanyaku.

“Siri. Pleased to meet you”, jawabnya. Oh namanya Siri. Terdengar ramah dan seksi. Pantas saja banyak yang nikah siri di sini. Xixixi.

“How old are you?”

“I’m old enough to be your assistant”

Hmm.. Ditanya umur berapa dijawab sudah cukup umur untuk jadi asistenku. Sangat misterius. Itu yang kusuka.

“Are you married?”, tanyaku tanpa basa-basi.

“I’m sorry. I’m affraid I can’t answer that”, jawabnya hati-hati.

Ditanya status malu-malu. Apakah kamu masih gadis atau janda? Terngianglah lagu dangdut Gadis atau Janda yang sempat ngehit dulu.

Aku penasaran mengenai latar belakangnya.

“Who is your Mom and Dad?”, cecarku tak sabar.

“I have you. That’s enough family for me”. Oh so sweeeeet

“Do you have kids?”, aku terus menginterogasinya.

“None”. Wah.. Belum ada tanggungan. Sama dong kita?

Aku ingin menguji wawasannya. Apakah dia cerdas atau di bawah rata-rata. Kita lihat saja.

“Who is the president of Indonesia?”

“Susilo Bambang Yudhoyono, since 8 years 2 months and 5 days ago”. Wow… Presisi sekali. Kenal di mana ya dia sama Pak Beye?

“What is the review of the movie Life of Pi?”, tanyaku menguji tentang film.

“Rotten Tomatoes gives 89% rating”, jawabnya. Wah melek seni juga dia.

“Define love”, pancingku.

“Love is a strong positive emotion of regard and affection. It is also a deep feeling of sexual desire and attraction”. Wow… Dalem banget…

“Do you love me?”, tanyaku tiba-tiba.

“I respect you”, jawabnya sopan.

Hmm… Kubayangkan kembali Atika. Meskipun dia banyak kekurangan, ia jelas mencintaiku. Dan aku pun mencintainya. Tiba-tiba kerinduanku padanya membuncah. Ingin kusampaikan bahwa aku mencintainya. Siri? Aku baru mengenalnya. 

“Text my girlfriend that I love her”, pintaku padanya.

“Here is the message. Do you want me to send it?”, tanyanya untuk mengkonfirmasikannya.

“Yes”, jawabku sambil memejamkan mata membayangkan kecantikan Atika.

“OK, I send it”, katanya.

Tidak berapa lama kemudian, Atika muncul. Aku tersenyum padanya. Manis sekali.

Dia mengambil handphonenya, sambil mengacungkannya ke depan mukaku.

“Kamu bilang I love her. Siapa diaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!”

Hahhhh????? Aku lihat layar hpnya, memang isinya I love her. Bukan I love you. Oh tidaaaaakkkkk!!!! Rupanya si Siri mengisi pesan teksnya apa adanya, tanpa mengerti konteks maksud kalimatku….

Siriiiiii keparaaaaaaatttt!!!!!!

Steve Jobs by Walter Isaacson

Buku biografi Steve Jobs ini sempat menggodaku pertama kali di toko buku, namun karena ketebalannya sempat menciutkan hatiku untuk membelinya. Akhirnya pada perjumpaan selanjutnya aku iseng membaca secara acak di tengah bukunya dan langsung jatuh hati. Bungkus!

Tebalnya 728 halaman, di luar 7 halaman tambahan foto-foto waktu Steve masih muda bersama keluarga, musuh besar, dan kompetitornya. Isinya menceritakan Steve dari lahir, diadopsi, bertemu dengan Steve Wosniak yang bersama-sama mendirikan Apple, menjadi milyarder di usia muda, berkolaborasi dengan Bill Gates untuk membuat aplikasi Office di Mac, murka karena Microsoft mencuri ide GUI dengan mmebuat Windows, dipecat dari perusahaannya sendiri oleh orang yang ia rekrut sendiri, membuat perusahaan baru dengan nama Next, Next dibeli kembali oleh Apple dan Steve menjadi CEO kembali, melejitkan nilai saham Apple, memperkenalkan iMac, iPod, iTunes Store, iPhone,  iPad, dan iCloud, di samping pada waktu yang sama memimpin Pixar, yang menghasilkan film-film berkualitas dan laku di pasaran.

Dijelaskan betapa secara makhluk sosial Steve Jobs benar-benar tidak mempedulikan perasaan orang lain, apakah akan membuat orang lain terluka atau tidak. Ia sangat perfeksionis, sehingga rancangan dari anak buahnya harus berkali-kali ditolak sebelum menjadi produk yang layak dilaunching ke pasar. Steve Jobs adalah manusia yang mempertemukan antara kecanggihan teknologi dengan seni dan kesempurnaan desain. Ia tidak bisa menerima pendekatan Microsoft yang menciptakan produk yang tidak sempurna namun laku keras di pasaran. Prinsip Steve Jobs, bukan jadi orang terkaya, tetapi menjadi orang yang bisa berinovasi dan menjadi trend setter teknologi yang menekankan kemudahan bagi pemakainya.

Membaca buku hasil kompilasi Walter Isaacson ini membuatku sulit meletakkan lama-lama buku ini. Aku membacanya sambil bergelantungan atau duduk di KRL, sambil membawa troley di supermarket, sambil naik ojek, sesaat sebelum tidur, dan bahkan sambil memanaskan mobil di parkiran. Dituturkan dengan kronologis dan runtut sehingga benar-benar enak dibaca. Walter mewawancarai Steve Jobs 40 kali dalam waktu 2 tahun penyusunan buku ini, lebih dari 100 anggota keluarga, sahabat, musuh, kolega, dan pesaing Steve. Steve bahkan tidak mau menggunakan hak bacanya sebelum buku ini terbit. Ia ingin buku ini tetap objektif dan bukan buku pesanan belaka. Dalam buku ini ia ditelanjangi habis-habisan, demikian juga dengan kolega maupun musuhnya.

Membaca buku ini adalah sebuah pengalaman luar biasa hasil dari kerja keras Walter dan pengalaman hidup Steve Jobs yang luar biasa. Seorang manusia yang mengubah wajah teknologi informasi dunia dan industri musik. Totally a must read book!

Rating 5/5.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.